Bab 1

Selama tiga tahun pernikahan, Claire Nolan merawat Julian Westwood yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya dengan cermat. Namun, Julian justru sangat membencinya.

Hanya karena Claire menyentuh kakinya, dia langsung mengusir Claire keluar rumah, bahkan menguncinya di luar selama 99 hari.

Ironisnya, pada hari ketika Julian akhirnya pulih dan bisa berdiri lagi, hal pertama yang dia lakukan adalah pergi ke bandara untuk menjemput kekasih pertamanya.

Bertahun-tahun pengorbanan dan kasih sayang Claire tetap tidak bisa menandingi sang cinta sejati di hati Julian.

Sambil menahan rasa sakit di dada, Claire akhirnya menelepon seseorang, "Kontrak sudah selesai. Aku ingin bercerai darinya."

Namun setelah Claire pergi, barulah Julian menyesal.

"Amber, kakiku sudah sembuh. Pulanglah. Aku sendiri yang akan menjemputmu di bandara!"

Melihat nama dan foto yang sangat dikenalnya itu, senyum Claire yang semula penuh kebahagiaan tiba-tiba membeku di wajahnya. Dia memang sudah lama tahu bahwa Julian tidak pernah mencintainya.

Sedari awal, orang yang dicintai Julian hanyalah kekasih pertamanya, Amber.

Tiga tahun lalu, setelah lulus dari universitas, Julian dan Amber memilih jalan hidup yang berbeda. Julian tinggal di dalam negeri untuk meneruskan bisnis keluarga, sementara Amber pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya. Mereka pun berpisah.

Namun dalam hati Julian, Amber tak pernah benar-benar pergi.

Kemudian, kabar mengejutkan datang. Amber menikah diam-diam di luar negeri. Julian yang tidak bisa menerima kenyataan itu, nekat mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju bandara dan berencana terbang ke Amerika untuk merebut kembali cintanya.

Namun, takdir berkata lain. Dalam perjalanan menuju bandara, Julian mengalami kecelakaan parah. Kedua kakinya lumpuh dan dia tidak bisa lagi berdiri sejak itu.

Saat itu, Claire masih menjadi dokter magang. Dia bekerja sama dengan kepala dokter untuk menyelesaikan operasi besar pada kaki Julian.

Namun setelah operasi itu, Julian yang dulunya angkuh, tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini adalah seorang penyandang disabilitas. Dia menjadi sosok yang pemarah dan temperamental. Jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan membentak atau merusak barang.

Para dokter dan perawat di rumah sakit pun takut mendekatinya. Akhirnya, mereka mendorong Claire yang paling junior untuk menghadapinya.

Wajah Claire yang lembut dan bersahabat, ditambah kepribadiannya yang ramah serta kemampuannya yang mumpuni, membuatnya menjadi satu-satunya orang di rumah sakit yang bisa mendekati Julian.

Setelah beberapa saat, Julian pun diizinkan pulang. Namun tak lama kemudian, ibu Julian datang menemui Claire.

Wanita itu menawarkan 10 miliar kepadanya, dengan syarat agar dia mendekati Julian dan merawatnya sepenuh waktu, serta menikahinya.

Saat itu, Claire tengah terdesak mencari biaya pengobatan untuk ibunya yang sakit keras. Tanpa berpikir panjang, dia menyetujui tawaran itu. Dia pun mengundurkan diri dari rumah sakit dan selama tiga tahun penuh, dia perlahan-lahan mendekati dunia Julian.

Saat Julian marah dan temperamental karena rasa sakit di kakinya, Claire selalu menerima semua amarahnya tanpa keluhan. Saat lukanya terasa menyiksa, Claire rela berjaga semalaman dan memijatnya tanpa henti.

Setiap kali Julian jatuh saat menjalani fisioterapi, Claire akan segera menjatuhkan diri lebih dulu untuk menahan tubuhnya agar tidak terbentur lantai.

Banyak orang bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis muda yang tiba-tiba muncul ini? Kenapa dia begitu tulus dan sabar menghadapi Julian?

Namun, hanya Claire yang tahu jawabannya. Biaya kuliahnya selama empat tahun di universitas semuanya ditanggung oleh Julian.

Julian adalah ketua yayasan amal kampus dan Claire hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa tidak mampu yang pernah dibantunya, bahkan bisa dibilang yang paling tidak menonjol.

Jarak mereka selama ini begitu jauh, Claire bahkan tidak pernah berani berharap lebih. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali dalam keadaan Julian telah kehilangan fungsi kakinya.

Sejak saat itu, Claire memilih mendekat. Dia menyerahkan segalanya tanpa pamrih untuk menemani Julian dalam masa tergelap hidupnya.

Dulu, Claire percaya bahwa jika dia terus bertahan dan memberikan segalanya dengan tulus selama bertahun-tahun, suatu hari nanti Julian pasti akan menyadari ketulusannya.

Namun sekarang, melihat Julian membagikan kabar bahagianya kepada Amber begitu cepat tanpa memikirkan perasaannya, Claire merasa sangat lelah.

Sudah tiga tahun mereka menikah. Namun Claire merasa, dia sama sekali belum pernah masuk ke dalam hati suaminya.

Setiap tahun, tepat di hari Valentine, Julian selalu menghilang tanpa kabar. Tak peduli seberapa cemas dan paniknya Claire mencarinya, Julian tetap tidak muncul.

Hingga akhirnya Claire mengetahui bahwa Valentine adalah hari jadi Julian dan Amber.

Meski kini tidak lagi bisa bersama Amber, Julian tetap mengingat setiap momen yang pernah mereka lalui, bahkan menyiapkan hadiah khusus setiap tahun.

Julian bahkan memiliki sebuah ruang kerja yang selalu terkunci. Suatu kali, Claire tidak sengaja masuk ke dalam saat hendak bersih-bersih. Akibatnya, dia diusir lalu dibiarkan kehujanan semalaman di luar pintu.

Hanya karena ruangan itu penuh dengan foto-foto Amber.

Saat itu, Claire sadar bahwa dia tidak akan pernah benar-benar bisa menyentuh hati Julian. Akan tetapi, tidak apa-apa. Kini Julian sudah bisa berdiri lagi, itu artinya tugasnya telah selesai.

Saat Julian sibuk menelepon Amber untuk berbagi kebahagiaan, Claire pun berjalan menjauh ke sudut ruangan dan menekan nomor di ponselnya. "Bu, Julian sudah bisa berdiri lagi. Tugasku sudah selesai. Aku juga akan menceraikannya."

Bab 2

Keluarga Westwood mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kesembuhannya. Sejak pagi, Claire sudah berada di hotel untuk membantu Lorraine, ibu Julian, mengurus segala persiapan.

Di balkon, kedua wanita itu berdiri saling berhadapan dengan ekspresi berbeda di wajah masing-masing.

Setelah lama terdiam, Lorraine menghela napas panjang. "Claire, kamu benar-benar ingin bercerai?"

"Kamu sudah merawat Julian dengan sepenuh hati selama tiga tahun. Kakinya baru saja sembuh, dia pasti akan ingat kebaikanmu. Seharusnya kalian menjalani hidup yang baik bersama."

"Amber akan kembali."

Claire hanya mengucapkan satu kalimat itu, ekspresi Lorraine langsung berubah. Dari keterkejutan, menjadi kekhawatiran, lalu berakhir dengan ekspresi pasrah. "Ah ... baiklah. Kalau begitu, Ibu hormati keputusanmu."

Lorraine akhirnya mengalah.

Mendengar hal itu, Claire merasakan hawa dingin menjalar dalam hatinya. Baru saja Lorraine berusaha menahannya, tetapi begitu mendengar nama Amber, dia langsung menyerah. Jadi, ternyata mereka semua tahu betapa pentingnya Amber di mata Julian.

Sementara dia sendiri .... Meskipun sudah merawat Julian selama tiga tahun, dirinya hanyalah seorang pengasuh di hati Julian.

"Claire, kamu punya rencana apa setelah cerai nanti? Setelah ibumu meninggal, kamu sebatang kara di dunia ini. Kamu sudah mengurus Julian selama tiga tahun. Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Kalau ada yang bisa Tante bantu, jangan sungkan, katakan saja."

Ucapan penuh kasih yang jarang terdengar itu membuat mata Claire memerah.

Lorraine benar. Tiga tahun lalu, Claire menerima 10 miliar dari Lorraine dengan harapan uang itu bisa menyembuhkan ibunya. Namun siapa sangka, hanya tiga bulan kemudian, kondisi ibunya memburuk drastis dan akhirnya meninggal dunia.

Ibunya sudah tiada, tetapi Claire tetap menerima uang itu. Jadi, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Keluarga Westwood dan melanjutkan tugasnya merawat Julian.

Namun kini, sudah waktunya dia mulai memikirkan dirinya sendiri.

Setelah berpikir sejenak, Claire berkata dengan tenang, "Tante, aku ingin melanjutkan studi ke luar negeri dan mengambil program doktor. Aku dulu memang belajar kedokteran, sekarang saatnya aku kembali ke jalur itu."

Lorraine mengangguk mantap, "Tenang saja, Tante akan bantu urus semuanya untukmu."

Claire menatap Lorraine dengan rasa terima kasih yang tulus. Namun, dia tidak lupa menambahkan, "Tante, soal perceraian ... biar aku yang bicara langsung dengan Julian. Nggak usah repotin tante."

Lorraine kembali mengangguk, tatapan matanya pada Claire kini dipenuhi rasa iba.

Kini, Amber sudah akan kembali dan Claire juga akan mengajukan perceraian, anaknya pasti akan menyambutnya dengan gembira. Dia tidak perlu lagi ikut campur urusan mereka. Hanya saja, dia merasa sangat menyayangkan gadis sebaik Claire yang tidak berjodoh dengan keluarga mereka.

Tamu-tamu mulai memenuhi ruangan. Lorraine mengajak Claire ikut bersamanya untuk menyambut para undangan. Namun ketika waktu pesta dimulai, Julian masih belum juga muncul.

Lorraine mengerutkan dahi dan melambaikan tangan memanggil putrinya, Patricia.

"Pat, bukannya Ibu suruh kamu jemput kakakmu? Di mana dia?"

Patricia tersenyum penuh misteri. "Tenang saja, Bu. Kakak pasti datang sebentar lagi. Bahkan aku jamin, kali ini Ibu akan dapat kejutan besar!"

Setelah berbicara, Patricia menoleh pada Claire dan melemparkan pandangan penuh ejekan. Dia mendekat lalu berbisik di telinganya, "Dasar gadis kampung, hari-hari indahmu sudah habis!"

Patricia memang tidak pernah menyukai Claire. Di matanya, Claire hanyalah wanita oportunis yang mendekati Julian demi uang. Selama bertahun-tahun, dia tak henti-hentinya merendahkan Claire, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.

Saat itu juga, pintu aula terbuka.

Julian muncul dalam balutan setelan jas hitam yang elegan, menawan, dan berwibawa.

Di sampingnya, berjalan seorang wanita cantik dengan gaun malam merah marun yang mencolok. Orang itu adalah Amber. Mereka bergandengan tangan dan tersenyum satu sama lain sambil melangkah masuk perlahan, seolah seluruh dunia hanya milik mereka berdua.

"Eh, itu ... Amber? Pacar pertama Pak Julian?" seru seseorang di tengah kerumunan.

"Benar! Selain Amber, kapan lagi Pak Julian pernah memandang wanita lain dengan tatapan seperti itu?"

"Luar biasa setia ya .... Dulu sampai kakinya lumpuh karena Amber. Sekarang baru bisa berdiri, langsung jemput Amber pulang!"

"Iya, benar. Sayangnya ... ada orang yang nggak tahu diri, masih saja ngotot numpang hidup di Keluarga Westwood!"

Suasana jadi ramai. Bisikan tajam mulai menggema di segala penjuru. Tatapan para tamu pada Claire pun berubah menjadi penuh sindiran dan ejekan.

Di tengah keramaian itu, Patricia tertawa pelan lalu mendekati Claire sambil berbisik dengan nada menghina, "Gimana, gadis kampung? Terpukau sama kecantikan Kak Amber, ya?"

"Sekarang kamu pasti sadar, 'kan? Jadi pembantu yang kerja keras dan setia bukan berarti kamu bisa menaklukkan hati seorang pria! Sekarang Kak Amber sudah kembali. Cepat bungkus barang-barangmu dan enyahlah dari sini!"

Claire yang berdiri di bawah sorotan lampu, merasa tatapan di sekitarnya bagaikan pisau tajam yang menancap di dirinya dengan kejam.

Ya, dia memang tidak pantas berada di sini.

Di mata semua orang, dirinya hanyalah seorang pengasuh dan pembantu. Tidak pernah ada seorang pun yang menganggap dirinya dan menghargainya.

Mungkin, dia memang sudah seharusnya pergi dari dulu.

Bab 3

Julian menggandeng tangan Amber, lalu berjalan ke arah Lorraine dengan wajah penuh semangat. "Bu, Amber sudah kembali!"

Lorraine memandang Amber dengan dahi mengernyit. "Kalau kamu sudah menikah, kenapa kembali ke negara ini?"

Amber tampak tersentak, bibirnya mengerucut menahan tangis dan air mata langsung mengalir di pipinya. "Tante, dulu semua salahku. Aku minta maaf ...."

Mendengar ucapannya, hati Julian langsung merasa tersayat. Dia segera merangkul Amber ke dalam pelukannya. "Bu, Amber sudah bercerai. Suaminya itu bajingan yang suka mukul istri!"

"Masa lalu biarlah berlalu. Aku nggak peduli. Jadi Ibu jangan bersikap begitu pada Amber."

Meski Lorraine tahu betul bahwa putranya tidak pernah melupakan Amber, tetap saja dia merasa kesal saat disinggung dan dipermalukan langsung di depan umum oleh putranya sendiri. Dia mengibaskan tangan dan pergi dengan jengkel.

Julian dan Amber lalu menoleh, tatapan mereka kini tertuju pada Claire.

Julian tidak merasa perlu memberi penjelasan apa pun. Dengan nada datar dan penuh perintah, dia berkata, "Amber baru saja kembali ke negara ini, belum ada tempat tinggal. Kamu pulang dulu dan bersihkan kamar."

Suaranya penuh otoritas seperti biasa. Claire sempat tercengang. "Dia mau tinggal di rumah pernikahan kita?"

Julian menaikkan alisnya. "Tentu saja. Kalau bukan di sana, dia harus tinggal di mana lagi?"

Dari samping, Patricia tidak bisa menahan tawa. "Rumah pernikahan? Kamu kira kamu benaran Nyonya Keluarga Westwood?"

Terdengar suara tawa dari sekitarnya, membuat hati Claire terasa dingin.

Tiga tahun lalu, setelah mengalami kecelakaan mobil, Julian jatuh dalam keputusasaan. Dia mabuk-mabukan setiap hari hingga tak sadarkan diri. Suatu hari, rumah tempatnya tinggal terbakar. Claire yang nekat menerobos kobaran api dan menggendongnya keluar dengan sekuat tenaga.

Namun, dirinya sendiri tertimpa lampu gantung yang patah dan mengalami cedera di kepala. Dia terbaring di rumah sakit selama sebulan. Saat sadar, Julian duduk di samping ranjangnya dan melamarnya.

Julian kemudian membeli kembali rumah itu untuk dijadikan rumah pernikahan mereka dan berjanji bahwa tempat itu akan menjadi rumah masa depan mereka. Namun kini begitu Amber kembali, dia langsung masuk dan tinggal di rumah pernikahan itu.

Saat Claire terdiam, Amber sudah lebih dulu menatap Julian dengan wajah penuh kepiluan. "Julian, Bu Claire nggak setuju aku tinggal di rumah kalian, ya? Kalau begitu, aku menginap di hotel saja. Jangan sampai membuatnya nggak senang."

"Mana bisa!" Julian langsung menolak dengan tegas. "Hotel itu nggak aman!" Dia lalu menatap Claire dan berkata, "Claire, Amber cuma tinggal sementara. Jangan terlalu perhitungan."

Claire tiba-tiba tersenyum. "Kamu benar, aku memang nggak seharusnya sekecil hati itu. Aku akan kembali dan membereskan kamar. Kalian silakan saja."

Claire berbalik dengan tegas dan meninggalkan ruang pesta yang kini terasa penuh ejekan dan penghinaan.

Lagi pula, hanya sebuah rumah, apa yang perlu dipedulikan? Cepat atau lambat, rumah itu juga akan menjadi milik Amber.

Begitu tiba di rumah yang kini terasa kosong, Claire segera mengosongkan kamar tidurnya. Dia selalu hidup hemat dan Julian juga tidak pernah memberinya hadiah apa pun. Jadi, setelah tiga tahun tinggal di sana, barang-barangnya bahkan tidak sampai memenuhi satu koper.

Namun, mungkin itu bagus juga. Dia bisa pergi tanpa beban.

Saat semua sudah dibereskan, ponselnya tiba-tiba berdering. Seseorang mengunggah sebuah video ke linimasa. Video itu memperlihatkan Julian dan Amber berdiri di samping menara sampanye dan bersulang dengan gelas yang saling berangkulan.

Tatapan mereka penuh kasih dan mesra, seperti sepasang kekasih yang serasi dan tak terpisahkan.

Suara latar dalam video itu bahkan terdengar seseorang berseru, "Cium dong!"

Claire tidak sanggup melihat lebih jauh, dia segera menutup video tersebut.

Tak lama kemudian, Julian kembali bersama Amber. Keduanya pulang dalam keadaan mabuk dan tercium bau alkohol menyengat dari tubuh mereka. Saat melihat Claire secara sukarela menyerahkan kamar tidurnya kepada Amber, Julian tampak sangat puas.

Setelah Amber naik ke atas untuk mandi, Julian yang jarang bersikap lembut, duduk di samping Claire dan mengulurkan tangan hendak mengelus kepalanya.

"Claire, aku tahu kamu memang paling pengertian."

Claire mundur selangkah menghindari sentuhan itu. Tangan Julian menggantung kaku di udara dan sorot matanya pun perlahan menjadi redup. "Sudahlah, aku 'kan sudah bilang, Amber cuma tinggal sementara."

"Mm, nggak apa-apa. Nona Amber mau tinggal selama apa pun juga nggak masalah." Claire mengambil setumpuk dokumen dan menyerahkannya pada Julian. "Rumah sakit lama dulu pernah meminta sejumlah bantuan alat medis. Coba lihat, bisa nggak diberikan atas nama Grup Westwood?"

Julian menerima dokumen itu dan tersenyum samar. "Kamu pintar negosiasi juga, ya."

Claire tidak menanggapi, dia hanya menatap dokumen itu dengan sedikit gugup.

Julian menganggap ini sebagai kompensasi atas Amber yang tinggal di rumah pernikahan mereka, jadi dia menandatangani semuanya tanpa membaca isinya. Dia tentu tidak sadar, di tumpukan paling bawah, tersembunyi selembar surat perjanjian cerai.

Saat kembali ke kamar dan melihat surat cerai yang telah ditandatangani Julian, Claire tidak tahu harus menangis atau tertawa.

Menangis ... karena tiga tahun pengorbanannya ternyata memang tidak membuahkan hasil. Tertawa ... karena akhirnya dia akan pergi dari semua ini dan memulai hidup yang baru.

Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya