Bab 1
Setelah Joey kehilangan penglihatannya, aku rela mendonorkan korneaku padanya tanpa ragu-ragu. Dia bersumpah tidak akan pernah mengecewakanku. Namun, pernikahan kami malah terus diundur sejak kekasih lamanya tiba-tiba pulang dari luar negeri.
Di hari ulang tahunku, dia telat memberiku hadiah. Aku menerima hadiah itu dengan penuh penantian. Namun, yang kuterima ternyata adalah dua lembar tiket bioskop.
Pertanyaanku padanya malah membuatnya kesal.
"Siapa bilang orang buta nggak bisa nonton bioskop? Kamu jadi buta karena keinginanmu sendiri, bukan aku yang mencelakaimu. Jangan asyik ungkit masalah ini!"
Kekasih lamanya bersikap sok lembut. "Maaf ya, Kak. Film itu nggak cocok dengan seleraku. Kalau kamu juga nggak mau pergi, buang saja tiketnya!"
Aku merobek tiket itu, lalu meninggalkan rumah. Namun, aku malah mendengar bahwa Joey jadi kehilangan akal setelah tidak bisa menemukan pengantin di acara pernikahannya.
Saat berjalan keluar dari pintu, aku meremas tiket bioskop yang sudah kusut, lalu merobeknya, dan membuangnya ke tempat sampah. Karena terlalu buru-buru, aku bahkan lupa membawa tongkat putihku.
Tanpa sengaja, aku menabrak pot bunga di pintu dan pecahan keramik yang tajam melukai betisku. Aku mengerang perlahan karena kesakitan. Rachel yang melihatnya lebih dulu bertanya, "Joey, sepertinya dia terluka. Kamu nggak mau keluar untuk lihat keadaannya?"
Joey mendengus tidak sabar, "Besar sekali nyalinya sekarang sampai berani kabur dari rumah! Kalau nggak merasakan sedikit kesulitan, dia nggak tahu seberapa baiknya aku melindunginya selama ini! Biarkan saja, dia harus alami kesulitan dulu baru tahu jalan pulang!"
Rachel menghela napas pelan dan kemudian menawarinya, "Aku sebenarnya lebih suka film ini. Lagian dia nggak bakal nonton film itu lagi, gimana kalau aku yang temani kamu saja?" Joey langsung mengiakan tanpa ragu, sama sekali tidak peduli pada darahku yang mengucur deras.
Aku berjalan tertatih-tatih meninggalkan vila dengan hati tersayat-sayat. Saat berdiri kebingungan di tepi jalan, dinginnya angin malam menembus tubuhku. Pada saat itulah, aku akhirnya menyesal. Seharusnya, aku tidak pernah mendonorkan kornea mataku padanya.
Aku meraba-raba mencari ponselku, lalu mengirim pesan padanya.
[ Kita putus. ]
Betapa ironisnya. Aku merelakan penglihatanku untuk seorang tunangan seperti ini.
....
Kebutaan Joey terjadi karena kecelakaan. Luka permanen pada kedua matanya membuatnya harus menjalani transplantasi kornea agar bisa melihat lagi. Tanpa penglihatannya, Keluarga Cahyadi menganggapnya tidak berguna dan tidak layak lagi untuk mewarisi bisnis besar keluarga itu. Dia dibiarkan terbengkalai di rumah sakit.
Saat itu, bahkan pacarnya, Rachel, juga menghilang tanpa jejak.
Aku yang telah lama memendam perasaan padanya, awalnya hanya merawat Joey di sisi. Hingga pada suatu malam, tiba-tiba dia menyatakan cintanya padaku. Kejutan yang besar itu membuatku terpaku. Aku pikir, dia akhirnya tersentuh olehku dan bersedia menerimaku.
Oleh karena itu, keesokan harinya saat pihak rumah sakit mengabarkan bahwa dia bisa menjalani operasi transplantasi kornea, aku langsung menawarkan diri, "Boleh nggak aku melakukannya?"
Awalnya, dia menolak. Dia berkata, "Yasmin, aku benar-benar nggak mau melibatkanmu."
Namun, aku tetap teguh pada pendirianku. "Benaran nggak ap-apa, kok! Dengan mata ini, kamu bisa melanjutkan memimpin Grup Cahyadi dan meraih mimpimu."
Dia ragu-ragu, "Lalu bagaimana denganmu?"
Hanya karena kata-kata itu, aku semakin mantap dengan keputusanku, "Aku masih punya kamu, 'kan? Nanti kamu bisa membantuku melihat dunia ini!"
Di bawah cahaya bulan, dia mengangkat tangannya dan bersumpah, "Yasmin, aku nggak akan pernah mengecewakanmu seumur hidup."
Setelah transplantasi kornea, dia benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik. Bahkan kedua orang tuanya pun menganggapku sebagai calon menantu mereka.
Perhatian dan kasih sayangnya membuatku hanyut dalam cinta. Aku bahkan berhenti bekerja dan meninggalkan rumahku. Tanpa memedulikan pertentangan dari kedua orang tuaku, aku bersikeras ingin menikah dengannya.
Aku berkata kepada orang tuaku, "Dia nggak akan pernah menyakitiku!"
Namun, kebahagiaanku berhenti saat Rachel kembali. Aroma parfum yang sama mulai tercium di mana-mana. Dia pulang semakin larut malam. Entah sudah berapa banyak hari peringatan yang dilupakannya.
Emosinya semakin meledak-ledak dan tidak sabaran. Tanggal pernikahan kita juga terus-menerus ditunda tanpa kepastian.
Perasaan syukur yang dulu indah, kini terasa seperti beban. Kalimat yang paling menyakitkan yang pernah dia ucapkan padaku adalah, "Yasmin, kapan aku pernah memintamu untuk mendonorkan korneamu padaku?"
"Dulu, kamu sendiri yang memohon sambil menangis untuk memberikannya padaku! Sejak awal, kamu cuma ingin memanfaatkan itu untuk mengikatku, bukan?"
Hari itu, hatiku begitu perih seolah-olah ditusuk dengan jarum. Itulah pertama kalinya aku sadar, mungkin, Joey tidak mencintaiku seperti yang aku kira.
Bab 2
Setelah berusaha keras, aku akhirnya berhasil keluar dari kompleks vila. Namun, aku langsung menyadari bahwa aku tak punya tempat untuk dituju. Tiga tahun lebih bersama Joey, aku kehilangan keluargaku, memutuskan hubungan dengan teman-teman, dan meninggalkan semua kehidupan sosialku, hanya untuk berakhir seperti ini.
Saat aku masih meraba-raba jalan dengan kebingungan, tiba-tiba bau alkohol yang menyengat menerpa wajahku. Detik berikutnya, aku dipeluk erat oleh sepasang tangan kasar yang menjijikkan. Bau alkohol yang memuakkan menyusup di tubuhku dan aku menjerit, "Tolong ...!"
Namun, teriakanku hanya dibalas dengan senyum jahat dari pria itu. Akhirnya, dia menekanku ke lantai semen yang dingin. Tubuhku gemetaran dan aku memohon dengan putus asa, "Jangan ... jangan lakukan ini padaku, aku punya uang ... berapa pun akan kuberikan ...."
Orang itu merasa tertarik. Dia mengeluarkan suara tawa yang menjijikkan, "Benarkah? Berapa pun akan kau berikan?"
"Iya." Aku menelan ludah dengan gugup, lalu menyebutkan nomor telepon Joey sambil memohon, "Telepon dia. Kamu bisa minta berapa pun darinya."
Setelah panggilan itu terhubung, pria itu menyalakan pengeras suara. Dari ujung telepon, terdengar suara film. Joey sedang menonton film bersama Rachel.
"Tolong aku!" Aku berusaha merangkak mendekati ponsel itu dengan suara yang gemetaran, "Jo ... Joey, ada yang mau melecehkanku. Bi ... bisa nggak kamu berikan uang padanya supaya dia melepaskanku?"
Setelah hening sesaat, terdengar dengusan kecil dari Joey. Dia mencemooh, "Kenapa, Yasmin? Sekarang kamu nyesal minta putus sama aku? Kamu bahkan pakai cara begini sebagai alasan? Lihat dulu apa aku mau menerimanya atau nggak."
Pria itu merebut ponselnya dengan marah, "Ternyata cuma mantan pacar? Kukira benaran bisa dapat banyak uang! Jalang sialan, berani-beraninya kamu bohongi aku!" Dia langsung menamparku sehingga membuat kepalaku terasa pusing dan muntah darah.
Namun, Joey malah tertawa semakin lebar. "Akting saja terus."
"Kamu itu cuma orang buta, memangnya bisa sehebat apa kamu? Begitu di luar sana, kamu bahkan nggak akan sanggup beli sebotol air tanpa uang sepeser pun. Kamu baru sadar sekarang, betapa aku memanjakanmu selama ini, 'kan?"
"Ini cara yang kamu pikirkan untuk mendapatkan uang? Membohongiku dengan cara menjijikkan seperti ini?" Cemoohannya yang tanpa belas kasihan membuatku seolah-olah terjatuh dalam jurang es.
Aku menutupi wajahku dan berkata dengan bersusah payah, "Aku nggak bohong ...."
Di seberang telepon, terdengar suara Rachel yang semakin mendekat, "Joey, jangan persulit dia."
"Yasmin, kamu butuh berapa? Gimana kalau aku yang transfer untukmu? Kamu ini seorang gadis dan juga nggak bisa melihat. Kalau benar-benar dilecehkan orang, nanti nggak ada lagi yang mau bersamamu."
Saat aku merasakan tangan kasar pria itu menekan pinggangku dengan kuat, aku bergumam kaku, "Be ... benarkah?"
"Iya, dong!" Rachel terdiam sejenak, lalu terkekeh-kekeh dengan licik, "Asalkan ... kamu mohon sama aku. Gimana?"
....
Tubuhku gemetar hebat. Pria itu semakin mendekat dan dia mulai kehilangan kesabaran, "Jadi, uang itu bisa ditransfer atau nggak?" Dia mendekat ke leherku dengan semakin intim, "Kalau nggak ada uang, paling nggak aku bisa bersenang-senang, 'kan?"
Air mataku mengalir tanpa hent. Harga diriku hancur dan aku berbisik dengan gemetaran, "Aku mohon .... Aku mohon, Rachel, kumohon ...."
"Cukup." Suara Joey tiba-tiba memotong ucapanku. Sejenak, muncul secercah harapan di hatiku. Aku mengira dia akan menghentikan permintaan Rachel yang tidak berdasar itu.
Namun, dia hanya berkata dengan nada tak acuh, "Untuk apa buang-buang uang? Kalau sudah nggak tahan, dia akan kembali sendiri nantinya."
"Nggak berikan uang padanya adalah untuk memberinya pelajaran. Supaya dia tahu, kepada siapa dia bergantung hidup selama ini. Setelah keluar dari sini, dia itu cuma orang buta yang nggak berguna."
Hatiku langsung menjadi beku. Aku membelalakkan mata dengan tak percaya. Sekujur tubuhku gemetaran hebat. Detik berikutnya, terdengar suara tawa Rachel yang manja. "Joey, kamu ini kejam sekali."
Aku memekik dengan emosi yang membeludak, "Joey, aku nggak bohong!" Kemudian, aku mengulurkan tangan hendak merebut ponsel tersebut. Air mataku berderai dengan deras saat aku berteriak.
"Apa kamu sudah lupa? Kamu sudah lupa semuanya? Kalau bukan karena aku mendonorkan korneaku untukmu waktu itu, kamu nggak mungkin bisa mewarisi Grup Cahyadi. Mungkin sekarang kamu sudah jadi pemulung di jalanan!"
Setelah itu, aku menimpali dengan putus asa, "Kenapa kamu tega seperti ini padaku?"
Seketika, di ujung telepon langsung hening. Dalam keheningan itu, Joey tertawa sinis. "Yasmin, kamu masih mau pura-pura?"
Dengan napas berpacu, tebersit raut kebingungan di wajahku.
"Waktu itu, kalau bukan kamu yang merencanakan kecelakaan itu dan membuat dirimu seolah-olah sebagai pahlawan demi menikahiku ... mana mungkin aku akan jadi buta?"
Aku terkejut mendengar hal itu. "Mana mungkin? Aku nggak pernah ...."
"Jangan pura-pura! Kalaupun kamu benar-benar dilecehi orang, itu memang pantas kamu terima!" Setelah melontarkan kata-kata jijik itu, dia langsung menutup telepon.
Pria di samping langsung menamparku dan menerjang ke arahku. "Jalang sialan, nggak seharusnya aku buang-buang waktu mendengarkan omong kosongmu!"
Bab 3
Hari itu, aku dijemput oleh kakakku. Mendengar suara yang tidak asing dari ujung telepon itu, aku menangis histeris.
Padahal dia sedang dirawat di rumah sakit karena pendarahan lambung. Namun begitu mendengar tangisanku, dia langsung mencabut infusnya dan bergegas menemuiku tanpa memikirkan kesehatannya sendiri.
Sambil memeluk diriku yang berada dalam kondisi mengenaskan, kakakku berusaha menenangkanku, "Yasmin, kenapa kamu nggak bilang sama kita kamu diperlakukan begini?"
"Ayah dan Ibu nggak mungkin menyalahkanmu, mereka cuma merasa gengsi kalau harus mencarimu terlebih dulu. Berani-beraninya orang itu menindas keluarga kita, aku akan beri dia pelajaran!"
Meski tidak sekaya Keluarga Cahyadi, keluargaku termasuk kuat secara finansial. Jika tidak, orang tuaku juga pasti tidak akan semarah itu padaku dulu. Mereka tidak mengerti, mengapa aku bisa begitu tergila-gila padahal tidak kekurangan uang ataupun kasih sayang.
Sebenarnya, aku sendiri juga tidak paham dengan diriku yang saat itu. Namun, syukurlah, aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Kakakku mengaturku untuk pergi berlibur dan menyegarkan pikiran untuk sementara. Selama setengah bulan, aku merasakan gejala putus asa yang sangat kuat. Namun, aku tetap teguh mengendalikan diri dan tidak menghubungi Joey sekali pun.
Hingga akhirnya suatu sore, dia teringat padaku kembali.
....
Dia bahkan tidak mengirim pesan suara, hanya teks, seolah lupa bahwa aku tidak bisa melihat apa pun. Di dalam kereta, aku meminta seorang penumpang membacakan pesan itu, "Sudahlah, jangan drama lagi. Kita sudah bersama selama bertahun-tahun, memangnya perlu seperti ini?"
"Beberapa hari lagi adalah pernikahan kita. Kalau kamu mau buat onar, tunggu sampai pernikahan kita selesai!"
Aku tidak membalas. Dia tampak marah lagi, sehingga kembali mengirimkan pesan dengan banyak tanda seru, "Nanti akan ada banyak teman dan kerabat yang hadir. Kamu sengaja mau mempermalukanku, bukan?!!"
Aku tersenyum sinis. Rupanya, Joey sama sekali tidak pernah menganggap serius kata "putus" yang kuucapkan. Sepertinya dia menganggap aku tidak akan mungkin meninggalkannya. Benar juga, mana mungkin orang buta sepertiku bisa bertahan hidup setelah meninggalkannya?
Aku mengucapkan terima kasih kepada orang itu, lalu meraba-raba untuk mengetik balasan.
[ Aku akan datang. ]
Aku bahkan bisa membayangkan ekspresi Joey saat itu. Dia pasti merasa puas, berpikir bahwa si buta ini ternyata mudah sekali dihibur.
....
Pernikahan pun dipersiapkan seperti biasa. Bahkan saat pihak perencana pernikahan menelepon untuk menanyakan jenis bunga yang diinginkan, aku sendiri yang memutuskannya. "Kuning, bunga mawar kuning. Itu favorit Rachel."
Mereka tidak tahu siapa itu Rachel dan hanya mengiakan dengan samar. Menurut cerita kakakku, saat hari pernikahan tiba, Rachel sangat bahagia melihat mawar kuning itu.
Kakakku mendengar Rachel berkata pada Joey dengan gembira, "Joey, aku tahu kamu masih mencintaiku."
"Setelah kamu selesai bersandiwara, menikahinya karena dia telah menolongmu, ceraikan saja dia beberapa tahun kemudian. Aku akan terus menunggumu."
Joey tersenyum sambil sesekali melirik ke arah pintu masuk.
Namun saat waktu pernikahan tiba, aku yang merupakan pengantin wanita dalam acara itu, tidak kunjung menampakkan diri. Wajahnya mulai tampak cemas. Dia mulai meneleponku berulang kali, hanya untuk menemukan bahwa aku telah memblokir nomornya.
Banyak sekali orang yang berdatangan untuk mengucapkan selamat padanya, "Katanya Pak Joey bisa melihat kembali berkat dukungan istri ya? Kalian berdua benar-benar serasi."
"Pak Joey telah memimpin perusahaan sampai sukses, tapi tetap nggak lupa sama istri. Benar-benar panutan bagi kami semua!"
Di tengah maraknya orang yang memberinya ucapan, emosi Joey akhirnya meledak. Dia mencari kakakku dan menanyakannya, "Mana Yasmin?! Keluarga kalian sembunyikan dia ya?"
Wajahnya merah padam dan terlihat sangat marah. Menurut cerita kakakku, baru kali ini dia melihat Joey semarah ini. Aku merasa sangat puas.
Kakakku menikmati kepanikannya ini dan berpura-pura terkejut, "Yasmin? Bukannya kalian sudah putus? Kukira hari ini pernikahanmu dengan Rachel! Lihat saja dekorasinya ini semua mawar kuning!"
....
Suasana langsung menjadi heboh. Bahkan ayah Joey juga langsung menghampirinya dan menamparnya dengan keras.
"Ada apa ini sebenarnya?"
Ibu Joey membentaknya dengan marah, "Keluarga Cahyadi cuma mengakui Yasmin sebagai menantu. Berani-beraninya kamu mengganti pengantinnya dan membiarkan wanita murahan ini masuk ke keluarga kita?"
Semua tamu saling berbisik.
"Maksudnya dia mengganti istri sah sama pelakor ya?"
"Kukira dia itu pria baik yang setia, nggak kusangka ternyata jatuh di tangan wanita juga."
"Sayang sekali, padahal putri Keluarga Yanuar jadi buta demi dia!"
....
Pernikahan yang awalnya berjalan lancar berubah menjadi ajang penghakiman bagi Joey. Di bawah tatapan dari para tamu, wajahnya perlahan memucat dan ekspresinya semakin panik. Karena merasa terdesak, dia pun berubah dari cemas menjadi marah besar. Dia merampas ponsel kakakku, lalu masuk ke ruangan dan meneleponku dengan marah.
"Yasmin, apa-apaan kamu ini? Ini caramu balas dendam padaku?"
Joey sangat kesal hingga napasnya tersengal-sengal. Setelah hening beberapa saat, dia akhirnya menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan tegas, "Sudah cukup, jangan buat onar lagi! Aku minta maaf ya?"
"Cepat kembali. Pernikahan ini masih harus diteruskan. Kalau nggak, reputasi Keluarga Cahyadi akan hancur! Setelah kabur dari rumah dan berpura-pura dilecehkan, kamu mau lari dari pernikahan sekarang? Sudah cukup bukan?!"
Brak! Terdengar suara kakakku mendobrak pintu kamar.
Dengan amarah yang membara, dia merebut ponsel Joey dan membantingnya ke lantai. Kemudian, dia menunjuk Joey dan memakinya, "Joey, kamu ini manusia atau bukan?!"
"Tahu nggak? Malam itu, Yasmin benar-benar dilecehkan orang!"
Joey terpaku di tempatnya dengan ekspresi muram dan terdiam cukup lama.