Bab 2
Setelah merasakan kebencian Ibu terhadapku, Jessica pun tersenyum. Setelah itu, dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan sok polos, “Ibu, kalau aku yang diculik. Apa yang akan kamu lakukan?”
Begitu mendengar pertanyaan itu, Ibu segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan berjalan ke hadapan Jessica. Dia menjawab dengan ekspresi serius, “Ibu nggak akan biarkan hal seperti itu terjadi padamu. Kalau benar terjadi, percayalah pada Ibu. Ibu pasti akan langsung gambar wajah penculiknya dan menyelamatkanmu.”
Jessica merangkul lengan Ibu, lalu berkata dengan manja, “Ibu paling baik! Tapi, gimanapun juga, Kakak itu juga putrimu. Kita maafkan saja kebohongan dia kali ini. Oke?”
Ekspresinya terlihat sangat tulus, seperti 3 tahun yang lalu. Aku akan berkompetisi di sebuah lomba piano yang sangat penting dan ingin Ibu menemaniku. Sebab, aku ingin menunjukkan padanya keunggulanku dan membuktikan bahwa aku juga bisa membuatnya bangga. Aku bukanlah orang pembawa sial.
Aku berulang kali menyusun kata, lalu menelepon ke rumah dan mengajukan permintaan ini dengan hati-hati. Ibu menyetujuinya. Aku pun menggenggam ponselku sambil melompat gembira.
Namun, pagi hari itu, Ibu tiba-tiba menelepon dan mengatakan tidak bisa hadir.
“Jessica lagi sakit. Aku khawatir sama dia. Kamu pergi saja sendiri ke lomba apa itu.”
Di dalam panggilan video, Jessica yang berwajah pucat menatapku dengan dan berkata dengan perasaan bersalah, “Kak, maaf. Aku nggak enak badan .... Kamu sudah terbiasa mandiri, tapi aku nggak bisa tanpa Ibu. Kak, semangat ya lombanya!”
Aku menatap anak lain yang ditemani orang tua mereka, lalu tiba-tiba meneteskan air mata. Mereka memegang sebuket bunga dan tersenyum gembira. Itu adalah harapan dan dukungan terhadap anak mereka.
Namun, ibuku bahkan tidak ingat lomba apa yang akan kuhadiri. Di hatinya, aku tidaklah penting. Setelah lomba berakhir, aku mengeluarkan ponsel dan kebetulan melihat postingan yang diunggah Jessica ke media sosialnya.
[ Sebenarnya, aku cuma flu ringan, tapi Ibu sangat khawatir padaku dan menjagaku dengan baik. Aku benar-benar gembira! ]
Foto yang diunggahnya itu adalah punggung Ibu yang sedang memasakkan sup untuknya.
Rasa sakit mulai menyelimuti hatiku. Jessica sepertinya selalu bisa mendapatkan kasih sayang “ibu” yang kudambakan dengan mudah. Sementara itu, meskipun sudah berusaha seumur hidup, aku tetap tidak mampu mendapatkan sedikit pun kasih sayang itu. Aku selalu menjadi orang yang tidak dicintai.
Bab 3
Jessica menyimpan kado itu ke kamarnya, lalu mengajukan permintaan pada Ibu, “Ibu, boleh temani aku pergi berlibur demi merayakan kelulusanku?”
Jessica membuka sebuah agenda dari ponselnya yang berisi daftar kota-kota yang ingin dikunjunginya. Dia sibuk memperkenalkan setiap kota dengan semangat. Namun, Ibu malah melamun dan menatap ponselnya lekat-lekat dengan kening berkerut.
Jessica memanggilnya beberapa kali, tetapi Ibu tidak merespons. Jessica pun mulai berlinang air mata dan berkata dengan suara tercekat, “Maaf, Ibu. Aku yang kurang pengertian. Kakak masih marah. Mana boleh aku mengajakmu pergi berlibur bersamaku di waktu seperti ini.”
Ibu akhirnya tersadar dari lamunannya. Saat melihat putri bungsunya yang menangis, dia pun merasa sakit hati. Dia buru-buru memeluk Jessica dan berkata, “Ini bukan salahmu. Janice sendiri yang terlalu keras kepala. Tapi, aku baru terima pemberitahuan ....”
Ibu lanjut berkata dengan agak ragu, “Katanya, ada mayat wanita yang ditemukan di tong sampah 10 kilometer dari sini. Dari pemeriksaan awal, dia sepertinya diculik dan disiksa sebelum dibunuh. Menurutmu, apa mungkin itu kakakmu ....”
Jessica menggenggam tangan Ibu, lalu bertanya dengan agak ragu, “Gimana kalau kita telepon Kakak?”
Sebelum Jessica selesai berbicara, Ibu sudah meneleponku. Setelah berdering beberapa detik, panggilan itu langsung ditolak. Ibu pun berseru marah, “Ternyata dia memang bohong soal dia diculik!”
Jessica tersenyum sinis untuk sesaat, lalu menghibur, “Ibu, jangan marah. Mungkin Kakak masih marah.”
“Jangan pedulikan dia lagi! Meski dia mati di luar sana, itu juga nggak ada hubungannya dengan kita.”
Aku menoleh ke arah Ibu dan mengamati ekspresinya dengan cermat. Aku mencoba untuk menemukan sedikit perhatian dari raut wajahnya, tetapi tidak menemukan apa-apa.
Aku yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi hanya membuatnya marah dan benci. Dia merasa aku sengaja mau merusak hari ulang tahun Jessica dengan segala cara dan menganggapku orang yang suka berbohong.
Aku jelas-jelas hanyalah arwah, tetapi ternyata masih bisa menangis. Aku berkata sembari tersenyum getir, “Ibu, kamu benar-benar nggak pernah menyayangiku? Kalau begitu membenciku, kenapa kamu melahirkanku?”
Bab 4
Sebenarnya, aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama sekali. Pada saat itu, aku baru masuk SMP kelas 3. Itu adalah tahun belajar yang sangat intens.
Ibu jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan puluhan juta. Demi meringankan bebannya, aku tidak berhenti mengikuti lomba di berbagai kota untuk memenangkan hadiah. Setelah itu, aku juga bolak-balik antara sekolah dan rumah sakit untuk menjaganya. Aku pun menjadi sangat kurus karena kelelahan.
Ibu juga sepertinya terharu dan tersenyum padaku untuk yang pertama kalinya. Saat bertemu dengan tetangga, dia akan memujiku dan mengatakan aku sangat berbakti. Aku yang berdiri di belakangnya menarik lengan bajunya dengan hati-hati sambil tersenyum malu nan bahagia.
Itu adalah pertama kalinya aku merasa aku bisa mendekati Ibu, juga mendapatkan sedikit rasa sayang dan kelembutannya dengan usahaku. Semuanya juga terasa seperti perlahan-lahan berkembang ke arah yang baik.
Sampai sore hari itu, Jessica memeluk celengannya yang terbuka, lalu berjalan ke hadapanku dan berkata sambil menangis, “Kak, aku ngerti kamu perhatian sama Ibu. Aku bahkan bisa memberimu semua uang jajanku. Tapi kenapa setelah mengambil uangku, kamu bohongi Ibu itu uang yang kamu menangkan dari lomba?”
Aku langsung menoleh ke arah Ibu. Sinar matahari yang masuk dari jendela menerangi sepasang mata ibu yang sudah memiliki kerutan halus. Kemudian, aku melihat mata yang awalnya memandangku dengan lembut itu perlahan-lahan berubah menjadi dingin seperti biasa.
“Bukan begitu. Ibu, aku nggak ambil uang Jessica ....” Aku pun spontan panik dan hanya berpikiran untuk menjelaskannya. Namun, sebelum sempat melakukannya ....
“Plak!” Suara tamparan yang nyaring memenuhi seluruh ruangan.
Ibu memandangku dengan penuh kebencian dan berkata, “Kamu memang jahat! Kenapa aku bisa melahirkan anak sepertimu!”
Setelah ibu pergi, aku menatap Jessica dengan berlinang air mata dan bertanya, “Kenapa kamu fitnah aku?”
Setelah memastikan Ibu sudah masuk ke kamar, dia akhirnya menunjukkan sifat aslinya. Dia yang baru genap berumur 10 tahun masih tetap tersenyum. Namun, kata-kata yang diucapkannya sangat menyakitkan.
“Kamu itu cuma anak kasihan yang nggak disayang. Mau nyenangin Ibu? Jangan mimpi! Karena kelahiranmu, Kakak baru mati dan Ayah cerai sama Ibu!” Dia menatapku sambil menggertakkan giginya, “Janice, orang pembawa sial sepertimu nggak seharusnya hidup!”
Malam itu, rasa sakit hati dan kebingungan merajalela dalam hatiku. Aku menggunakan jangka untuk menusuk pergelanganku beberapa kali. Namun, bahkan rasa sakit seperti itu juga tidak mampu menyelamatkanku dari jurang putus asa dan kegelisahan.
Pada akhirnya, aku masuk ke kamar Ibu dan bertanya, “Ibu, kalau kamu nggak sayang sama aku, untuk apa kamu melahirkanku?”
Dia memejamkan matanya tanpa menjawab. Namun, aku tahu dia belum tidur. Saat aku masih hidup, dia tidak sudi memberiku jawabannya. Setelah aku mati, dia tidak dapat mendengar pertanyaanku dan lebih tidak mungkin menjawabnya lagi.