Bab 1
Suami dan anakku sama sekali tidak menghargaiku. Mereka malah membawa wanita lain yang baru saja bercerai, pulang ke rumah kami.
Wanita itu licik dan penuh tipu muslihat. Dia terus mengadu dombaku dan suamiku, membuat kami jadi bertengkar.
Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun mengusir wanita itu dari rumah.
Namun, suami dan anakku justru marah.
Suamiku menyebutku cemburu buta dan tidak punya belas kasihan. Dia bahkan menyebutku tidak sebanding dengan wanita itu. Dan kalaupun harus ada yang pergi, akulah yang harus pergi.
Bahkan anak yang sudah kukandung selama sembilan bulan pun lebih memihak wanita itu. Dia juga memaksaku minta maaf, kalau tidak, dia enggan menganggapku ibunya lagi.
Hatiku hancur melihat suami dan anakku lebih memihak wanita lain. Aku pun memutuskan untuk bercerai.
Wanita itu baru menunjukkan dirinya yang sebenarnya di hari aku dan suamiku mau bercerai. Dia sengaja mengunciku di kamar dan meledakkan tabung gas.
Ketika suamiku yang merupakan tim pemadam kebakaran tiba, dia malah sibuk menyelamatkan wanita itu karena menganggapku sudah mati terbakar.
Suami dan anakku sampai kaget ketika kami bertemu lagi, "Kamu bahkan sampai pura-pura mati demi membuat kami menderita ...."
Suami dan anakku sama sekali tidak menghargaiku. Mereka malah membawa wanita lain yang baru saja bercerai, pulang ke rumah kami.
Wanita itu licik dan penuh tipu muslihat. Dia terus mengadu dombaku dan suamiku, membuat kami jadi bertengkar.
Karena sudah tidak tahan lagi, aku pun mengusir wanita itu dari rumah.
Namun, suami dan anakku justru marah.
Suamiku menyebutku cemburu buta dan tidak punya belas kasihan. Dia bahkan menyebutku tidak sebanding dengan wanita itu. Dan kalaupun harus ada yang pergi, akulah yang harus pergi.
Bahkan anak yang sudah kukandung selama sembilan bulan pun lebih memihak wanita itu. Dia juga memaksaku minta maaf, kalau tidak, dia enggan menganggapku ibunya lagi.
Hatiku hancur melihat suami dan anakku lebih memihak wanita lain. Aku pun memutuskan untuk bercerai.
Wanita itu baru menunjukkan dirinya yang sebenarnya di hari aku dan suamiku mau bercerai. Dia sengaja mengunciku di kamar dan meledakkan tabung gas.
Ketika suamiku yang merupakan tim pemadam kebakaran tiba, dia malah sibuk menyelamatkan wanita itu karena menganggapku sudah mati terbakar.
Suami dan anakku sampai kaget ketika kami bertemu lagi, "Kamu bahkan sampai pura-pura mati demi membuat kami menderita ...."
....
Leon Chandra mencengkeram erat tanganku hingga nyaris mematahkan tulangku.
Dia menatapku tajam sambil berkata dengan nada membentak, "Kenapa kamu nggak pulang kalau masih hidup?"
"Apa kamu tahu bagaimana aku dan anak kita menjalani hidup selama tiga tahun ini?"
Leon berkata sambil mendorong Dimas Chandra ke depanku.
Dimas masih memandangiku dengan tatapan kaget. Tapi sedetik kemudian dia langsung memelukku sambil menangis tersedu, "Ibu, ternyata Ibu masih hidup! Syukurlah! Apa Ibu tahu betapa aku merindukanmu, Bu ...."
Jantungku berdebar kencang ketika melihat Dimas sudah tumbuh besar.
Aku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya adalah sehari sebelum aku memutuskan untuk bercerai dengan Leon.
Aku bertanya pada anak itu, apakah dia mau ikut pergi bersamaku. Tapi dia mengernyitkan wajah dan malah mendorongku keras. Dia berteriak marah sambil menyuruhku pergi.
Dia bilang mau menjadikan Marinka Ruslan sebagai ibunya.
Dia bilang kalau Leon menyukai Marinka, dan aku sudah menjadi penghalang kebahagiaan keluarga kecil mereka ....
Aku terpaksa mendorong tubuh Dimas menjauh, sambil berusaha keras menarik tanganku dari genggaman Leon. Aku lalu menatap dingin wajah penuh harapan dari sepasang ayah dan anak itu, "Kalian salah orang."
Dimas segera menghapus air matanya, dia menatapku sambil mengerutkan kening, "Nggak mungkin, kamu pasti ibuku. Aku ingat ada tahi lalat di punggung tangan Ibuku. Sini, biar aku lihat punggung tanganmu!"
Dimas tidak memedulikan ucapanku dan langsung menarik tanganku. Tapi ketika dia melihat tidak ada tahi lalat dan malah ada bekas luka bakar yang memenuhi punggung tanganku, dia pun tertegun, "Ibu, kenapa tanganmu bisa terbakar begini?"
Aku mengikuti tatapannya ke bekas luka yang memenuhi punggung tanganku. Kulit tanganku sampai keriput dan warnanya tidak rata. Kemudian aku mengalihkan pandangan ke arah Leon.
Hari itu, saat aku sedang membereskan barang di kamar, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh bangunan.
Aku pun berusaha lari keluar dalam keadaan panik, tapi pintunya malah terkunci dari luar.
Aku memukul-mukul pintu sekuat tenaga sambil menelepon panggilan darurat. Sayangnya, api di luar makin besar dan menjalar ke dalam kamar.
Kamar itu penuh dengan barang yang mudah terbakar. Begitu api mulai merambat masuk, kobaran api seketika memenuhi ruangan.
Aku yang ketakutan pun hanya bisa berjongkok dalam bak di kamar mandi, sambil menyaksikan api yang siap melahapku kapan saja. Aku terus berusaha mencoba menelepon Leon dengan tangan gemetaran, tapi teleponnya selalu saja sedang sibuk.
Kemudian, aku mendengar suara dari luar. Aku pun berjuang merangkak ke pintu sambil memukul-mukulnya dengan putus asa. Tapi yang kudengar malah suara Leon berkata, "Selamatkan Marinka! Apinya sangat besar, orang di dalam pasti nggak selamat ...."
Aku hanya bisa bersandar di pintu dengan putus asa karena mendengar suara langkah kaki di luar sana makin menjauh.
Lalu, tiba-tiba ada gelombang panas yang menerjang wajahku. Aku refleks mengangkat kedua tangan untuk melindungi diri, tapi tanganku yang harus terbakar parah hingga berdarah.
Aku berusaha merangkak kembali ke kamar mandi sambil menahan rasa sakit. Tapi balok kayu yang terbakar tiba-tiba saja terjatuh menimpa kakiku.
Kaki kananku pun patah, dan hangus terbakar balok yang dilahap api ....
Tubuhku sampai gemetar saat mengingat kejadian itu lagi. Rasa sakit dari masa lalu seolah-olah kembali menyelimuti tubuhku.
Aku mengepalkan tanganku dan menariknya keras, sambil terus menyangkal, "Sudah kubilang, kalian salah orang."
Leon mengerutkan kening dan menatapku tajam, "Jangan menyangkal lagi. Kamu memang Shiren Raharjo."
"Aku janji nggak akan mempermasalahkan kejadian tiga tahun lalu, di mana kamu pura-pura mati setelah membakar rumah karena cemburu pada Marinka. Tapi kamu harus pulang bersama kami."
"Kamu juga harus menerima kenyataan bahwa Marinka tetap akan tinggal bersama kita. Dia depresi berat karena kematianmu, jadi kita harus merawatnya."
Aku muak melihat bagaimana Leon bicara seenaknya. Sambil tersenyum menyeringai, aku pun mengangkat cincin berlian yang melingkari jariku, "Aku sudah menikah dengan orang lain."
Bab 2
Leon menatapku dengan tatapan tidak percaya. Suaranya terdengar kaget, "Kita belum resmi bercerai, bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?"
Dimas yang mendengar perkataan Leon pun segera berlari ke depanku. Dia mendongak marah, "Ibu, apa Ibu sudah nggak menginginkan kami lagi? Kenapa Ibu menikah dengan orang lain? Kenapa Ibu mengkhianati kami?"
Mengkhianati mereka?
Dulu, ayah dan anak ini yang seenaknya saja membawa masuk Marinka ke rumah.
Aku bahkan belum bilang setuju, tapi Leon sudah menyuruhku memberikan kamar utama pada wanita itu.
Aku sudah menolak, tapi Leon malah menatapku tajam sambil menghakimiku, "Kamu ini egois sekali. Marinka dulu menikahi seorang konglomerat dan hidup mewah. Kalau nggak tidur di kamar utama di rumah kita, mau tidur di mana lagi dia?"
"Kamar utama dan kamar tamu kan sama saja, apa salahnya memberikan kamar ini padanya?"
Akhirnya, Marinka yang tidak tahu malu itu pun tinggal di kamar utama. Sedangkan aku, aku terpaksa pindah ke kamar tamu.
Marinka bukan hanya menguasai kamarku, tapi juga menganggapku sebagai pembantunya.
Aku harus membuatkan sarapan untuknya setiap pagi. Kalau masakanku tidak sesuai dengan seleranya, dia tidak perlu repot menggerutu, karena Dimas sudah lebih dulu melakukannya, "Ibu, sebagai orang yang posisinya sedikit lebih tinggi sebagai koki di rumah, seharusnya Ibu bisa merawat Tante Marinka dengan lebih baik. Aku dan Ayah pasti akan marah kalau begini."
Melihat suami dan anakku yang selalu memprioritaskan Marinka seperti ini membuatku naik pitam. Aku pun memorak-porandakan dapur dan mengusir Marinka dari rumah. Tapi Leon dan Dimas malah marah padaku.
Suami dan anak kandungku malah lebih membela orang luar seperti Marinka. Mereka justru menyuruhku yang pergi dari rumah.
Padahal, mereka yang lebih dulu mengkhianatiku, tapi sekarang malah balik menyalahkanku.
Aku mendengus dan melangkah menuju ke seberang jalan, memilih untuk mengabaikan pertanyaan bodoh mereka.
Tapi Leon malah menarik pergelangan tanganku, "Nggak masalah kalau memang kamu sudah menikah. Aku tetap akan menerimamu lagi asal kamu mau menceraikan suamimu yang sekarang. Lagipula, kamu kan ibu kandung Dimas."
Aku menatap kesal Leon, lalu melepaskan tangannya dengan geram, "Aku nggak mau!"
Hari ini sepertinya hari sialku, makanya bisa sampai bertemu dengan Leon dan Dimas begini.
Dulu, waktu aku terkunci di kamar dan berteriak meminta pertolongan, Leon sama sekali tidak peduli. Dia malah sibuk menyelamatkan Marinka yang hanya mengalami luka ringan, dan membiarkanku terbakar hidup-hidup.
Sekarang, saat aku akhirnya bisa hidup tenang setelah selamat dari bencana itu, mereka malah datang menggangguku lagi ....
Aku pun memilih untuk mempercepat langkahku menuju trotoar.
Tapi tiba-tiba terdengar suara klakson yang melengking, hingga membuatku membeku di tempat. Sebuah mobil terlihat melaju kencang ke arahku.
Aku masih terpaku di tempat, kakiku seperti menancap di tanah dan sama sekali tidak bisa bergerak.
Kemudian, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tanganku ke dalam pelukannya. Dia terdengar panik, "Hati-hati ...."
Aku masih syok saat menatap wajah Leon yang terlihat cemas di depanku. Aku refleks ingin mendorongnya, tapi aku malah jatuh ke tanah karena lututku lemas.
Ketika aku terjatuh, Leon akhirnya melihat kaki palsuku dengan jelas.
Dia menatapku dengan kaget, "Kamu ...."
Sebelum aku sempat angkat bicara, Dimas sudah berlari mendekat. Dia memegang kaki palsuku sambil menatapku kaget, "Ibu, mana kaki Ibu? Kenapa Ibu bisa sampai kehilangan satu kaki?"