Bab 1

Cinta pertama Jovin Liandra terdiagnosis mengidap penyakit HIV dalam pemeriksaannya di rumah sakit kami. Aku pun melanggar kode etik medis untuk memberi tahu masalah ini kepada Jovin.

Jovin mengira aku sedang membohonginya. Dia bukan hanya memfitnahku mencelakai pasien hingga mati, bahkan membuatku dijatuhi hukuman. Kemudian, dia juga menaruh obat aborsi di dalam susuku.

Gara-gara hal itu, kandunganku yang berusia delapan minggu mengalami pendarahan.

Aku meminta pertolongan dari Jovin, tetapi dia malah menendangku. “Akhirnya nggak ada yang menghalangiku untuk bersama Selena.”

Saat aku membuka mataku lagi, aku kembali ke hari di mana cinta pertamanya terdiagnosis penyakit HIV.

Kali ini, aku tidak memberi tahu Jovin, bahkan mengajukan putus dengannya.

Bagaimanapun juga, Jovin sangat mencintai cinta pertamanya. Aku mesti merestui mereka berdua.

Saat terlahir kembali, aku sedang sarapan bersama Jovin Liandra.

Dia dengan pengertian mengupas kulit telur, lalu menyerahkannya kepadaku.

“Lina, apa yang ingin kamu katakan tadi?”

Pada hari ini di kehidupan lampau, aku memberitahunya masalah penyakit HIV yang diidap Selena Wilman. Selena memintaku untuk memeriksa kandungannya.

Saat laporan pemeriksaan darah keluar, aku menyadari dia mengidap penyakit HIV. Selena sendiri tidak tahu bahwa dapat terdiagnosa penyakit HIV dalam pemeriksaan darahnya. Dia bahkan berkata padaku dengan arogan, “Coba kamu tebak siapa ayah dari anak di dalam perutku? Anak suamimu.”

Pikiranku seketika menjadi hampa.

Selena telah berhubungan badan dengan Jovin.

Jovin telah mengkhianatiku.

Namun, Selena mengidap penyakit HIV. Besar kemungkinan Jovin juga akan ketularan. Aku tidak peduli dengan rasa sedihku lagi.

Hal pertama yang kulakukan adalah pulang untuk mencari Jovin, memberitahunya masalah ini, bahkan menyuruhnya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan dan mengonsumsi obat pencegahan.

Namun, Jovin tidak percaya sama sekali. Dia malah menggebrak meja, lalu berkata padaku dengan galak, “Paulina, kenapa kamu sadis sekali? Apa karena belakangan ini aku cukup dekat dengan Selena, makanya kamu memfitnahnya mengidap penyakit HIV?”

“Dengar aku dulu, masalah ini sangat serius ….”

Belum sempat aku menyelesaikan omonganku, Jovin menamparku. “Aku paling memahami Selena. Aku tahu jelas apa dia sakit atau nggak. Kamu jangan bohongi aku!”

Pada waktu itu, demi memberi tahu masalah ini kepada Jovin, aku baru melanggar kode etikku sebagai dokter. Aku bahkan tidak menyalahkan masalah perselingkuhannya. Hanya ada kesehatannya di dalam benakku. Namun, dia malah memperlakukanku seperti ini.

Jadi, kali ini aku akan mengelabui Jovin, biarkan dia bersama dengan cinta pertamanya!

“Oh, nggak kenapa-napa. aku cuma mau beri tahu kamu, belakangan ini pekerjaanku agak sibuk. Aku nggak akan tinggal di rumah untuk sementara waktu ini.”

Kemungkinan besar Jovin yang sekarang telah tertular penyakit HIV. Aku mesti segera menjauhinya.

“Ya sudah, kamu sibuk saja. Aku akan mendukung pekerjaanmu.” Jovin tersenyum padaku.

Begitu melihatnya, aku benar-benar merasa mual. Hanya saja, aku berusaha untuk menahannya, lalu tersenyum paksa. “Terima kasih, Jov.”

Selena baru pulang dari luar negeri bulan ini. Anak di dalam kandungannya juga baru berumur dua minggu.

Sementara, anak di dalam kandunganku baru ada sebelumnya. Setelah itu, lantaran sedang mengandung, aku pun tidak berhubungan tubuh dengan Jovin.

Dari perhitungan waktu, seharusnya aku tidak akan tertular. Hanya saja demi keselamatan, aku pun melakukan pemeriksaan darah di rumah sakit.

Pada akhirnya, hasil menunjukkan bahwa aku tidak bermasalah.

Aku pun merasa lega.

Aku yang di kehidupan lampau miris sekali. Sepertinya Tuhan sedang membantuku. Kali ini, aku pasti akan menggenggam erat kesempatan untuk menjauhi pria berengsek ini, berusaha untuk meniti karierku!

Aku menyewa sebuah rumah di dekat rumah sakit, lalu membeli kembali kebutuhan sehari-hari. Mengenai yang sebelumnya, aku tidak ingin menggunakannya lagi.

Setelah membereskan barang-barang, aku tidak pergi bekerja di rumah sakit, melainkan pulang ke rumah.

Seingatku, saat Jovin keluar tadi pagi, dia tidak mengendarai mobil. Jadi, aku pun berkesempatan untuk mencari bukti perselingkuhannya dari rekaman CCTV mobil.

Bab 2

Aku memutar balik rekaman CCTV, melihat rekaman selama satu bulan ini.

Sesuai dugaan, aku menemukan berkali-kali Jovin membawa Selena pergi bermain dan juga mengungkit masalah kamar hotel. Aku bahkan mendengar suara mereka bermesraan di dalam mobil.

“Jov, apa bagus seperti ini?” Suara Selena kedengaran lembut dan merdu.

Dengar-dengar, dulu Jovin bisa bersama Selena karena suaranya sangat enak didengar.

“Apanya yang nggak bagus? Memangnya kamu nggak ingin bersamaku? Kamu sudah meninggalkanku selama bertahun-tahun, apa kamu nggak merindukanku?”

“Tentu saja rindu …. Emm, Jov, aku merasa nyaman sekali dengan jilatanmu.”

“Masih ada yang lebih nyaman lagi. Tunggu saja.”

Saat mendengar sampai di sana, aku tidak sanggup untuk mendengar lagi. Aku menuruni mobil, lalu mulai muntah parah.

Siapa juga yang bisa menyangka pria seperti itu kucintai selama tujuh tahun … tujuh tahun.

Pada saat ini, api dendam di hatiku semakin membara.

Kejadian di kehidupan sebelumnya sepertinya terbayang di hadapanku.

Waktu itu, setelah aku memberi tahu Jovin mengenai penyakit HIV yang diidap Selena, dia memarahiku, lalu meninggalkan tempat.

Sejak saat itu, Jovin tidak pernah pulang ke rumah dan juga tidak menghubungiku lagi.

Aku hanya pernah melihat di status pertemanannya bahwa setiap harinya dia selalu bersama dengan Selena. Dia bahkan membagikan keseharian ibu hamil di platform sosial media.

Mereka berdua kelihatan sangat bahagia.

Namun, kehidupanku tidaklah bagus. Tidak lama kemudian, seorang pasien operasi usus buntu yang aku tangani sendiri tiba-tiba meninggal dunia.

Kejadian ini menimbulkan kehebohan besar di internet.

Semua orang mengatakan bahwa kelalaianku menyebabkan kematian pasien tersebut.

Keluarga pasien juga datang ke rumah sakit untuk beronar. Aku dihentikan dan sedang dalam pemeriksaan.

Saat dokter forensik melakukan autopsi, ditemukan sebuah gunting di dalam perut pasien. Kebetulan pada saat itu, kamera CCTV ruang operasi sedang rusak. Dokter yang membantuku dalam operasi itu, dokter bius, asisten, dan yang lain mengatakan hanya aku saja yang pernah menyentuh pisau tersebut.

Aku berusaha untuk menyangkal, tetapi aku telah dijatuhkan hukuman.

Hanya saja, berhubung aku adalah ibu hamil, aku baru akan ditahan di penjara setelah aku melahirkan.

Pada saat itu, aku merasa duniaku telah runtuh.

Tidak lama kemudian, Jovin mencariku, lalu membawaku pulang.

Waktu itu, Jovin memperlakukanku dengan sangat baik. Dia bukan hanya membelikanku kue tar yang enak, bahkan juga menghangatkan susu untukku sebelum tidur.

Jovin memelukku ke dalam pelukannya. Suaranya terdengar sangat lembut. “Yang patuh, minum susunya, lalu tidur dengan nyenyak. Mengenai yang lain, aku akan membantumu untuk mengatasinya.”

Aku memercayai Jovin, kemudian meminum susu itu.

Namun tidak sampai 20 menit, bagian bawah tubuhku mulai mengalirkan darah.

Aku terkejut hingga wajahku memucat. Aku berusaha untuk meraih tangan Jovin, menyuruhnya untuk mengantarku ke rumah sakit. Hanya saja, dia malah menendang perutku dengan sadisnya, menendangku berkali-kali.

Jovin tersenyum ringan. “Aku yang membayar orang-orang itu untuk memfitnahmu dalam soal kecelakaan medismu. Paulina, apa kamu tahu, ternyata ada yang rela mati demi uang. Demi uang, orang-orang miskin itu bersedia melakukan apa pun. Hahaha.”

Kedua mataku terbelalak lebar.

Jovin pun tertawa sinis. “Mereka sudah disuap olehku. Sekarang, kamu hanya bisa mati saja. Aku sudah memasukkan obat penggugur kandungan di dalam susumu. Hahaha.”

Satu detik kemudian, Jovin kembali menendang kuat diriku. Setiap tendangannya lebih kuat daripada sebelumnya.

Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, darah merah mengalir deras di pahaku.

Pada saat-saat terakhir, aku mendengar ucapannya. “Akhirnya nggak ada yang bisa menghalangiku untuk bersama Selena.”

Selamanya aku tidak bisa melupakan betapa sakit dan putus asanya aku waktu itu. Aku telah menyalin rekaman CCTV mobil di dalam flashdisk. Kemudian, aku pun langsung menghubungi pengacara untuk menggugat Jovin.

Jovin telah berselingkuh dalam pernikahannya. Aku akan menuntutnya agar dia bercerai dengan kehilangan seluruh hartanya.

Bab 3

Kemudian, aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi aborsi. Seandainya aku melahirkan anak ini, dia tidak akan memiliki keluarga yang utuh. Perbuatanku sama saja dengan tidak bertanggung jawab kepadanya. Jadi, memilih untuk tidak melahirkan adalah pilihan terbaik.

Namun, aku tidak menyangka akan bertemu Jovin dan Selena di rumah sakit. Mereka baru saja keluar dari klinik kebidanan dan kandungan.

Jovin merangkul Selena dengan bersenda gurau. Mereka berdua kelihatannya sangat mesra.

Hanya saja, saat melihatku, Jovin segera melepaskan Selena, lalu menjelaskan kepadaku, “Aku temani Selena untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Lina, kamu tahu sendiri, suaminya sudah meninggal. Dia seorang diri ….”

“Emm, aku tahu. Suamiku, kamu jaga dia dengan baik. Dia sendirian cukup kasihan,” ucapku dengan tersenyum.

Jovin pun membalas dengan tersenyum, “Lina, kamu memang baik hati. Aku nggak salah dalam memilih istri. Nanti malam kamu pulang ke rumah, biar aku masak buat kamu.”

Ketika kepikiran dengan masa lalu, jika aku mendengar dia berbicara seperti itu padaku, aku pun akan merasa sangat gembira. Namun sekarang, aku hanya merasa jijik.

“Nanti malam aku harus lembur. Kamu bawa Selena makan di rumah saja.”

Setelah meninggalkan tempat, tiba-tiba Selena mencariku di ruang kerjaku. Tatapannya kelihatan sangat galak. Dia langsung menutup pintu dengan rapat.

“Apa kamu tahu penyakitku?”

“Apa katamu? Aku nggak mengerti.” Aku menatap Selena sembari berlagak bodoh.

“Setelah aku melakukan pemeriksaan darah hari ini, kata dokter, aku mengidap penyakit HIV.”

“Itu masalahmu. Aku tahu atau nggak juga nggak ada pengaruhnya sama kamu.”

Selena mendengus. “Ternyata kamu tahu diri juga.”

“Asal kamu tahu, jangan sampai kamu bermain intrik. Kalau sampai aku menggila, aku akan menularkan penyakitku kepadamu.” Usai berbicara, Selena membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat.

Tidak lama kemudian, aku berdiri di sisi jendela. Aku melihat di bawah sana, Jovin mencium Selena, kemudian mereka berdua meninggalkan tempat dengan gembira.

Aku merasa, seharusnya Jovin membawa Selena pulang ke rumah. Bagaimanapun, tadi aku sengaja mengatakan aku tidak akan pulang malam ini.

Sesuai dugaan, dari CCTV ruang tamu, aku melihat mereka berdua sedang berpelukan dan berciuman di sofa.

Tatapan Jovin kelihatan linglung. Suaranya terdengar agak terengah-engah. “Selena, bantu aku dengan mulut ….”

Aku sungguh mual ketika melihatnya.

Sebenarnya kamera CCTV ini sudah rusak lama. Itulah sebabnya Jovin berani bersikap kelewatan. Namun saat aku pulang tadi pagi, aku mencari orang untuk memperbaikinya.

Hanya ada suara mereka di dalam rekaman CCTV mobil. Aku masih butuh video tampak muka mereka.

Kali ini, semua barang bukti telah lengkap.

Keesokan paginya, aku menyerahkan video kepada pengacara. Satu minggu kemudian, Jovin mencariku dengan galak. Pada saat ini, aku sedang membereskan barang di dalam ruang rapat.

“Paulina, apa maksudmu?”

Sepertinya pengadilan sudah memberi tahu Jovin untuk menghadiri sidang.

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat Jovin sekilas. “Ini rumah sakit. Harap tenang.”

Jovin tidak menghiraukanku, melainkan berkata dengan menggertakkan giginya, “Kenapa kamu mesti mengajukan cerai? Apa salahku?”

Aku sungguh merasa konyol.

Kenapa Jovin masih punya muka untuk mengucapkan kata-kata seperti itu?

Aku langsung membuka rekaman CCTV mobil untuk didengar Jovin.

Saat mendengar suara di dalam sana, raut wajah Jovin mulai memucat. “Semua itu hanya kecelakaan. Paulina, kamu dengar apa kataku. Aku nggak bisa menahan diriku karena aku nggak bisa menyentuhmu.”

Baru saja ucapan selesai diucapkan, tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. “Dokter, waktu itu aku lupa bertanya sama kamu. Kalau terjangkit penyakit HIV, apa anak juga akan ikut tertular?”

Suara itu adalah suara Selena.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B64577" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B64577
Salin

Kisah Miris Suamiku dan Kekasihnya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya