Bab 1
Di tengah malam, aku berlutut lemas di ambang jendela, terengah-engah dengan napas berat, dan air liurku menetes tanpa bisa kucegah.
Di belakangku, teman sekelas anakku dari sekolah olahraga itu merobek stoking hitamku dengan kasar, lalu meraba pantatku yang bulat dan montok.
Dia mencengkeram rambutku erat dan berbisik dengan nada menggoda, "Tante, apa anakmu tahu, kalau kamu seliar ini?"
Tepat saat itu, ayahnya juga masuk. "Nak, kamu masih kecil, banyak hal yang belum kamu pahami. Ayah akan mengajarimu..."
Namaku Indri Pangestu, seorang ibu yang mendampingi anaknya selama masa sekolah.
Pelajaran akademis anakku sangat buruk, dia tidak berhasil masuk SMA. Namun, dia memiliki sedikit bakat di bidang olahraga. Setelah berdiskusi dengan suamiku, kami memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah olahraga.
Sekolah olahraga tentu tidak seketat SMA biasa. Khawatir anak kami terpengaruh hal-hal buruk, suamiku memintaku untuk mendampingi anak kami selama sekolah.
Selama dua tahun mendampingi anakku, saat siang hari aku mencuci pakaian dan memasak untuknya. Hidupku terasa penuh makna. Namun, setiap malam terasa sangat berat.
Awalnya, aku dan suamiku melakukan panggilan video. Kami saling menghibur diri lewat layar, setidaknya bisa sedikit meredakan kerinduan.
Namun, suatu kali, saat kami sedang begitu larut dalam keintiman, anakku terbangun di malam hari dan hampir memergoki kami.
Sejak saat itu, kami berhenti melakukannya dan beralih ke komunikasi secara emosional.
Namun, bagi diriku yang sedang berada di usia penuh gairah, itu tidak ada artinya.
Keinginan akan hal itu bukannya hilang, malah makin menjadi.
Untuk meredakannya, aku membeli sebuah mesin kecil.
Di malam yang panjang, aku harus melampiaskan hasratku dengan penuh gairah agar bisa memejamkan mata.
Hari itu, seperti biasa, aku membuka kakiku di depan cermin dan membiarkan mesin kecil itu memuaskan diriku...
Tiba-tiba, suara pintu dibuka terdengar dari ruang tamu. Aku terkejut dan langsung berhenti.
Bukankah anakku menginap di rumah temannya malam ini? Kenapa tiba-tiba pulang?
Aku buru-buru merapikan diri, lalu membuka pintu untuk melihat.
Tidak kusangka, di samping anakku berdiri seorang anak laki-laki.
"Halo, Tante. Saya teman sekolah Bima, juga sahabat baiknya. Nama saya Daren Hermanta."
Ternyata dia teman anakku.
Selama ini anakku terbiasa menyendiri. Melihat dia memiliki teman dekat membuatku ikut merasa senang.
Aku pun dengan ramah mempersilakan Daren untuk duduk.
Anak muda ini tidak hanya bertubuh tinggi besar, tapi juga tampan dan ceria.
Mulutnya juga manis, dia terus saja memujiku. Tante cantik sekali. Tante punya tubuh yang bagus. Tante kelihatan masih muda sekali.
Aku sampai mabuk pujian, hatiku senang sekali. Aku pun langsung memutuskan untuk memasak sendiri demi menjamu teman baik anakku ini.
Tidak kusangka, anak ini sangat pengertian. Daren mengikutiku ke dapur dan berkata ingin membantuku.
Aku bilang padanya bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah kami, jadi dia bisa bebas bermain gim bersama anakku.
Namun, dia tetap bersikeras ingin membantu. Aku pun akhirnya membiarkannya.
Dapur yang biasanya sudah sempit untuk satu orang, jadi makin sesak dengan kehadirannya.
Saat kami berdua sibuk di sekitar kompor, sentuhan fisik pun tidak terhindarkan.
Ditambah lagi suasana dapur yang panas, kami sama-sama melepas jaket dan hanya mengenakan kaus lengan pendek, sehingga kulit tangan kami kerap bersentuhan langsung.
Bahkan terkadang, dia tanpa sengaja menyenggol pantatku yang montok. Aku pun juga tidak sengaja merasakan ukurannya yang besar.
Sudah lebih dari enam bulan aku tidak berhubungan badan, tubuhku pun menjadi sangat sensitif.
Tubuhnya yang keras dan kokoh itu membuat jantungku berdebar kencang. Terlebih saat aku kembali teringat namanya, Daren, entah kenapa, langsung terbayang aura kuatnya.
Dia begitu kekar dan berotot, apakah dia juga sangat perkasa di atas ranjang?
Daren sedang berada di usia muda yang penuh gairah. Bagaimana jika dia tidak bisa menahan diri, lalu mendorongku ke meja dapur dan mengangkat kakiku...
Bab 2
Berhenti! Apa aku sudah gila? Daren itu seumuran dengan anakku!
Hatiku dipenuhi rasa malu dan bersalah, tapi tubuhku tidak bisa dikendalikan. Aku bahkan sengaja menggesekkan tubuhku padanya dan mengangkat pinggulku lebih tinggi.
Diam-diam aku melirik ke arahnya, aku ingin tahu apakah Daren menyadari maksud tersembunyiku. Ternyata dia juga diam-diam sedang menatapku.
Begitu tatapan kami bertemu, wajahnya langsung memerah, Daren buru-buru memalingkan muka dan pura-pura mencuci sayur.
Aku pun berpikir, mungkinkah tadi dia juga membayangkan sesuatu yang tidak pantas diucapkan? Bahkan, gerakan terakhirnya yang tampak tidak disengaja itu, bisa jadi dilakukan dengan sengaja?
Makan malam selesai dengan cepat. Daren mengatakan masakanku sangat enak dan berterima kasih atas jamuanku.
Seusai makan, anakku tiba-tiba menunjuk sebotol arak putih di lemari dan bertanya apakah boleh minum dua gelas kecil.
Arak itu sebenarnya hadiah dari poin belanja di supermarket. Arak itu belum pernah dibuka karena di rumah ini hanya ada aku dan anakku.
Melihat wajah mereka berdua penuh harap, aku pun tidak tega menolaknya dan menyetujui.
Namun, aku berpesan, hanya boleh minum sedikit, tidak boleh berlebihan, apalagi sampai mabuk.
Tidak kusangka, mereka malah mengeluarkan tiga gelas. Melihat ajakan mereka yang begitu antusias, akhirnya aku pun ikut minum bersama.
Entah kenapa, aku mulai merasa bahwa alkohol juga bisa membuat orang ketagihan seperti rokok. Makin diminum, makin terasa memabukkan. Yang semula hanya berniat minum sedikit, perlahan berubah menjadi seolah-olah tidak akan berhenti sebelum benar-benar mabuk.
Makin lama minum, anak-anak pun jadi makin banyak bicara.
Kami saling terbuka dan bicara banyak hal. Mata anakku memerah, dia mengatakan bahwa semua ini salahnya hingga aku harus berjauhan dengan ayahnya.
Melihat anakku begitu pengertian, aku sangat terharu dan memeluknya erat-erat.
Saat itu, Daren yang duduk di samping tiba-tiba mulai terisak.
Aku langsung bertanya kenapa.
Daren mengatakan, dia sangat iri pada anakku. Dia juga ingin dipeluk oleh ibunya.
Ternyata, saat Daren masih kecil, ibunya meninggalkannya karena menganggap ayahnya miskin, lalu menikah dengan pria asing dan pindah ke luar negeri.
Katanya, dia sering memimpikan ibunya. Di dalam mimpinya, sosok sang ibu secantik dan selembut diriku.
Makin Daren bercerita, makin dia larut dalam kesedihan. Pemuda setinggi seratus delapan puluh sentimeter itu menangis seperti anak kecil.
Melihatnya begitu menyedihkan, naluri keibuanku pun tidak bisa kutahan, aku pun tanpa sadar memeluknya erat.
"Selama kamu nggak keberatan, kamu boleh sering datang ke rumah Tante. Mulai sekarang anggap saja Tante sebagai ibumu. Tante juga akan menyayangimu seperti adiknya Bima."
Mereka berdua menangis tersedu dalam pelukanku.
Terutama Daren, tubuhnya terguncang, wajahnya menempel erat di dadaku, dan cambang halusnya yang menyentuh kulitku justru menimbulkan rasa yang tidak biasa.
Alih-alih mendorongnya menjauh, aku malah memeluknya makin erat. Bahkan keberadaan anakku pun sempat kulupakan.
Akhirnya, kami menghabiskan sebotol penuh arak itu sampai habis.
Tengah malam, aku bermimpi. Adegan dalam mimpi itu persis seperti saat siang tadi di dapur.
Kami sama-sama paham tanpa perlu bicara. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi panas. Daren mendorongku ke meja dapur, lalu menundukkan wajahnya ke dadaku dan menghisapnya dengan liar.
Aku membuka lebar kakiku. Aku sepenuhnya menjadi wanita jalang yang tidak tahu malu...
Namun, tepat di saat yang paling genting, aku tiba-tiba terbangun.
Dalam kegelapan, nafsuku masih belum terpuaskan. Gatal yang tidak tertahankan membuatku secara refleks ingin mengatupkan paha, tapi ada sesuatu yang menghalangi. Aku pun menunduk.
Tepat pada saat itu, pandanganku bertemu dengan sepasang mata hitam yang berkilat.
"Ah!"
Seketika aku menjerit karena terkejut. Ternyata itu Daren!
Bab 3
Begitu aku terbangun, dia menatapku dengan pandangan mengejek sambil melihat ke arah kakiku. "Tante, tadi bermimpi yang nggak-nggak, ya?"
Aku mengikuti arah pandangannya, bagian bawah tubuhku ternyata sudah basah kuyup. Rasa malu yang luar biasa membuat wajahku memerah. "Kamu, kamu jangan ngomong sembarangan! Kamu lagi mabuk. Cepat, cepat keluar!"
"Nggak mau! Tante tadi bilang akan menganggapku seperti anak sendiri, 'kan?"
"Kalau begitu, bukankah wajar kalau seorang anak memenuhi kebutuhan ibunya?"
Setelah mengatakannya, Daren tiba-tiba duduk dengan posisi berlutut. Dalam sekejap, otot dadanya yang kekar serta perut kotak-kotaknya yang menggoda tampak jelas di hadapanku.
Aku terkejut dan segera menutup mata dengan tangan. "Kamu, kamu gila, ya?"
Namun, aku tidak bisa menahan diri untuk mengintipnya lewat sela-sela jari. Aku melihat garis rambut yang cukup lebat di bagian bawah perutnya, membentang dari pinggang hingga ke pusar. Pemandangan itu, seketika membuat hasratku memuncak.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa ringan yang menggoda. "Tante sedang memikirkan apa?"
Aku segera tersadar dan memalingkan wajah. "Kamu, kamu jangan macam-macam."
Namun, Daren malah menarik tanganku dan menekannya ke bagian terkuat di bawah perutnya. "Suka nggak? Hmm?"
Aku seperti tersengat dan langsung menjauh dengan panik. "Kamu benar-benar sudah mabuk! Anakku dengan baik hati mengundangmu, bagaimana bisa kamu berbuat seperti ini? Kalau kamu sungguh menganggap Tante ibumu, bagaimana bisa kamu melakukan hal seperti ini pada Ibu..."
Daren mencibir sambil mendekat. "Justru karena aku menganggap Tante sebagai ibuku, aku harus membantu Tante memenuhi kebutuhan. Aku nggak tega melihat Ibu menderita."
"Nggak! Nggak boleh! Cepat keluar, anakku ada di kamar sebelah, dia bisa mendengar..."
Aku panik dan mencoba lari ke ujung tempat tidur, tapi Daren menarikku kembali dengan mudah. "Ternyata Tante khawatir tentang itu?"
Setelah mengatakannya, Daren mengangkat tubuhku dengan mudah. Aku berusaha mendorongnya sekuat tenaga, tapi tenaganya terlalu besar. Usahaku melawannya terasa sia-sia. Sampai akhirnya, dia mendorong pintu terbuka dan menekanku berlutut di ambang jendela lorong, aku tetap tidak berhasil melepaskan diri.
Ini lorong apartemen, ada banyak penghuni yang tinggal di sini. Selain itu, juga ada kamera pengawas di pojok dinding.
Aku mulai panik, bahkan suaraku terdengar seperti hendak menangis. "Daren, Tante mohon, jangan. Tante sudah punya suami, Tante nggak mau mengkhianati ayahnya Bima."
Alih-alih sadar, Daren malah merobek stoking hitamku dengan kasar.
Tangannya mencengkeram rambutku, lalu berbisik di telingaku, "Pakai tangan nggak dianggap selingkuh, 'kan?"
Setelah mengatakannya, sepasang tangan kasar penuh kapalan itu menyelusup masuk.
Hanya dengan sekali sentuhan, pertahananku langsung runtuh. Aku mencoba merangkak menjauh, tapi tubuhku lemas tidak berdaya.
Aku menegakkan punggungku, berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, tapi itu sia-sia. Pada akhirnya, seluruh tubuhku kehilangan tenaga dan jatuh lemas, hanya menyisakan pantat montokku yang terangkat tinggi.
Rupanya ini makin membangkitkan nafsu Daren. Dengan gerakan kasar, lima jarinya menyelam dalam-dalam.
Seketika, kepalaku seperti tersambar petir. Gelombang kenikmatan nyaris melenyapkan kesadaranku. Air mata dan air liurku mengalir tanpa bisa kutahan.
Dengan sisa kesadaran terakhir, aku merintih. "Nggak. Pakai tangan juga tidak boleh. Cepat keluarkan..."
Tidak kusangka, Daren benar-benar menghentikannya.
Akhir yang datang tanpa peringatan, justru membuatku hampa, seolah ada yang mengganjal.
Kemudian, aku mendengar suara resleting dibuka. "Tante sendiri yang bilang pakai tangan nggak boleh!"
Setelah itu, Daren mencengkeram pinggangku dengan kasar, lalu mendorong tubuhnya ke depan dengan penuh tenaga...