Bab 2
Delon mengambilkan udang untukku.
"Makanlah. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat."
Melihatku mencemaskan ibu mertua yang tersungkur di lantai, Delon menjelaskan kepadaku dengan sabar.
"Ibu sudah membuat kesalahan, dia pantas dihukum. Tenang, ibuku sudah terbiasa. Kalau ayah nggak menghukumnya, ibu akan mengulangi kesalahannya lagi. Jangan khawatir, nanti ada dokter pribadi keluarga datang mengobatinya …."
Delon berbicara seolah-olah wanita yang dihajar habis-habisan di depannya bukanlah ibu kandungnya, melainkan hanya seorang manusia yang tidak berharga. Selain itu, dia juga menganggap sikap ayah mertua menghukum ibu mertua hanya karena masalah jahe adalah hal yang lumrah.
Orang tuaku sering menasihatiku untuk menghormati dan patuh kepada mertua dan suami. Hanya istri yang lemah lembut dan patuh yang bisa mempertahankan cinta suaminya.
Orang tuaku mengajarkanku buat patuh, tetapi aku melihat ayah mertua hendak memukul ibu mertua dengan piring kaca. Jika ibu mertua dipukul dengan piring kaca, antara dia kehilangan nyawanya atau mengalami cedera parah.
Tanpa pikir panjang, aku segera menahan ayah mertua dengan sekuat tenaga.
Bubur panas tumpah ke lenganku. Seketika itu juga, kulitku melepuh.
Aku menahan sakit sambil membujuk ayah mertua dengan lembut.
"Ayah alergi jahe? Ibu tadi pagi sibuk di dapur, dia nggak sengaja melakukannya."
Awalnya, aku ingin mendamaikan mereka. Siapa sangka, ternyata situasi makin parah.
Ayah mertua tertegun sejenak karena dia tidak menyangka aku berani menghalanginya. Dia menatapku beberapa saat, kemudian melirik ke arah Delon.
Delon terlihat kesal padaku, tetapi dia menahan emosinya.
Delon menarikku, lalu membujukku dengan sabar, "Sayang, aku sudah bilang kamu tenang saja. Cara ayahku menghukum ibuku selama bertahun-tahun memang seperti itu. Ini masalah rumah tangga mereka berdua, kita jangan ikut campur."
"Kita baru menikah. Ini juga pertama kalinya kamu tinggal di Keluarga Kuncoro, kamu harus membiasakan diri melihat hal seperti itu."
Apakah harus memakai cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah rumah tangga?
Aku juga berasal dari keluarga yang kolot, di mana suami bekerja, sedangkan istri mengurus rumah, ayahku juga sosok kepala keluarga yang otoriter, tetapi ayahku tidak pernah main tangan.
Mereka juga tidak pernah mengajariku cara menghadapi situasi suami memukul istri.
Melihat sikap Delon, sepertinya dia tidak keberatan dengan cara kekerasan ini.
Namun, aku merasakan ada keanehan.
Ayah mertua tidak berkomentar. Entah apakah maksudnya adalah dia setuju dengan pendapat Delon atau karena tidak suka dengan sikapku yang ikut campur.
Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, ibu mertua yang dari tadi diam dan gemetaran, akhirnya membuka mulut.
"Diam! Makan sana!"
Bukannya berterima kasih padaku, ibu mertua justru terlihat marah. Tatapan ibu mertua penuh kebencian, seolah-olah bantuanku ini memalukan baginya.
Ternyata bantuanku ini justru sebuah beban bagi ibu mertua.
"Anggun, mungkin kamu belum tahu. Aku yang berhak membuat peraturan di rumah ini. Yang paling kuat, dialah yang punya otoritas."
"Awalnya, kukira kamu adalah gadis yang sopan. Aku nggak menyangka bahwa kamu berani melawanku di hari pertama kamu tinggal di sini. Apa seperti ini orang tuamu mendidikmu?"
Ayah mertua mengutarakan kekesalannya. Aku teringat kata- kata "Yang terkuat, dialah yang memiliki otoritas di sini" yang diucapkan ayah mertua tadi.
Kata-kata itu terus muncul di kepalaku. Aku bertanya ulang, "Maksud ayah adalah kami harus tunduk pada orang yang terkuat di sini?"
Mendengar ucapanku, ayah mertua dan Delon saling memandang, kemudian tertawa. Ayah mertua berkata, "Betul. Dalam ajaran Keluarga Kuncoro, kami selalu menundukkan orang dengan cara kekerasan, apalagi pria adalah simbol kekuatan!"
Bab 3
Sebenarnya, ada alasan lain orang tuaku mendidikku dengan keras.
Alasan kuatnya adalah aku terlahir memiliki kekuatan super. Di samping itu, aku juga sulit mengendalikan kekuatanku.
Ketika berumur 5 tahun, ada seorang pria dari tetangga sebelah mencoba menganiayaku. Pada akhirnya, aku menghajar pria itu sampai dia mengalami lumpuh setengah badan.
Saat itu, orang tuaku merinding melihat kondisinya di rumah sakit.
Sejak itu, mereka takut padaku, terutama ayahku. Dia menganggapku adalah monster. Aku pernah mendengar ayahku menghina ibu.
"Kenapa kamu melahirkan anak monster? Jangan sampai ada yang mengetahui kekuatannya yang mengerikan itu. Kalau nggak, aku yang malu!"
Aku sudah tahu ibuku tidak menyukaiku, aku juga tahu ayahku takut padaku. Oleh karena itu, aku memaksakan diri menjadi anak patuh.
Aku selalu menuruti semua kemauan mereka. Meskipun bertentangan dengan keinginanku, aku tetap menuruti mereka karena aku menginginkan kasih sayang dari mereka.
Ternyata benar. Ketika aku patuh, orang tuaku menjadi sayang padaku walaupun kakak laki-lakiku tetap menjadi anak kesayangan mereka.
Oleh karena itu, ketika ayah mertua menyebutkan bahwa menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan adalah tradisi Keluarga Kuncoro, aku merasa sangat gembira.
Setelah mendengar pernyataan ayah mertua, keinginan untuk melepaskan kekuatan yang sudah tersimpan lama ini muncul. Aku tidak fokus mendengarkan teriakan ibu mertua yang masih dipukuli oleh ayah mertua.
Mungkin karena aku tidak bergeming terlalu lama, ayah mertua mengira aku takut.
Ayah mertua memberikan tamparan terakhirnya dengan ekspresi puas, kemudian dia kembali sarapan.
Setengah jam kemudian, aku dan Delon pergi ke bandara.
Di perjalanan, Delon masih menasihatiku, "Sayang, lain kali jangan menyela saat ayah sedang bicara. Ayah punya caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah, kita sebaiknya menghormati keputusannya."
Delon terus mengoceh tanpa henti. Dia menekankan bahwa di dalam Keluarga Kuncoro, pria yang memegang otoritas.
"Sayang, apa maksud ayah adalah kita boleh pakai cara kekerasan?
Aku menyelanya.
"Artinya, kita harus tunduk pada orang yang lebih kuat. Kalau ibu lebih kuat dari ayah, artinya kita semua tunduk pada ibu, 'kan?
Mendengar pernyataanku, Delon tertegun sejenak. Beberapa saat kemudian, Delon tertawa sinis dan memandangku sebelah mata.
"Ucapanmu benar, tapi pria dan wanita berbeda. Jadi, kamu juga harus patuh padaku, oke? Kalau nggak, aku juga menghukummu dengan cara sama."
Aku tidak menanggapinya. Seandainya tidak terbiasa menunjukkan ekspresi datar selama bertahun-tahun, aku pasti sudah tertawa terbahak-bahak sekarang.
Delon mengatakan akan menghajarku jika aku melawan.
Jika dia berani main tangan, aku punya alasan kuat mengeluarkan kekuatanku.
Aku tidak sabar bisa memukulnya. Oleh karena itu, selama perjalanan, aku tidak lagi menjadi "istri patuh".
Aku tidak lagi murah senyum dan mengabaikan nasihat Delon.
Namun, ada perasaan bersalah karena tidak lagi menerapkan semua ajaran orang tuaku selama ini.
Ketika kejadian tadi pagi terbayang lagi di benakku, perlawananku muncul lagi dan rasa bersalah itu pun lenyap.
Pada awalnya, Delon masih berbicara dengan nada lembut. Lama-kelamaan, kesabarannya habis dan wajahnya menjadi serius.
Sesampainya di hotel, Delon baru meluapkan emosinya.
"Kenapa kamu pesan hotel bobrok? Nggak ada tukang parkir, hotel macam apa ini?"
"Ada, tapi tukang parkirnya masih membantu mobil lain parkir."
"Lihat, kamar ini jelek sekali! Nggak ada pemandangan laut! Aku nggak mau menginap di hotel ini, pesan hotel lain!"
"Sekarang musim liburan, masih untung kita dapat hotel."
…
Delon terlihat bingung. Padahal sebelumnya, sikapku masih patuh dan lembut. Di hari kedua setelah menikah, tiba-tiba aku berubah menjadi sosok yang berbeda dan selalu melawan perkataannya.
Delon menatapku sambil mengernyit. Dari tatapan matanya, amarahnya terlihat jelas.
Di sisi lain, aku membereskan barang di koper dengan santai sambil terus berdebat dengannya.
"Sayang, ini bukan kesalahan hotel. Kamu yang terlalu banyak permintaan, jadi letak masalahnya ada pada dirimu."
"Kalau kamu mau pindah hotel, pesanlah sendiri. Jangan selalu menyuruhku, oke? Aku ini istrimu, bukan pelayanmu. Bersikaplah seperti pria sejati!"
Delon marah. Sambil mengepalkan tangan, Delon bersiap-siap menyerangku.
Meskipun aku sedang membereskan barang, aku terus memperhatikan suamiku.
Ekspresi wajah Delon berubah menjadi garang. Dia mendekatiku dengan mengepalkan tangan.
"Anggun, kamu harus kuhukum!"