Bab 1

Ada pertanyaan di forum, "Bagaimana rasannya menikah dengan orang yang nggak kita cintai?"

Suamiku menjawab, "Berhubungan seks dengannya seperti rutinitas dan setiap hari rasanya hanya ingin bercerai."

Wanita yang menempati hati Sendra Wijayanto, Kirana Larasati, sudah kembali dari luar negeri. Keduanya beradu adegan panas di tempat tidur.

Kirana bersikap sok di depanku dan ingin aku mundur. Aku melemparkan surat cerai dengan dingin ke arahnya. "Kalau bisa, buat dia menandatangani surat cerai ini. Kalau nggak, aku hanya akan meremehkanmu."

Terbangun di tengah malam, aku memberikan susu formula kepada putriku dan menidurkannya lagi. Tiba-tiba, aku mendapati ponsel milik suamiku berdering.

Aku takut suara dering ponsel akan membangunkan putriku, jadi mengambil ponsel itu dan ingin mematikannya. Namun, aku secara tidak sengaja melihat layar yang menunjukkan salah satu laman.

Ada sebuah unggahan di forum yang menuliskan, "Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang nggak kita cintai?"

Suamiku menjawab, "Berhubungan seks dengannya seperti rutinitas dan setiap hari rasanya hanya ingin bercerai."

Ada banyak komentar lain di bawah unggahan ini.

"Wah, kamu keren banget. Akunmu nggak pakai anonim, apa nggak takut ketahuan istri?"

Suamiku menjawab, "Nggak, dia sibuk ngurus anak, nggak bakal punya waktu buat lihat hal beginian."

Di bawahnya, banyak komentar yang menganggap suamiku keren.

Melihat laki-laki yang tertidur di tempat tidur itu, entah kenapa aku jadi sedikit bingung.

Apa laki-laki yang menjelek-jelekkan istrinya di media sosial apakah laki-laki yang sama, yang memperlakukanku dengan lembut dan penuh perhatian?

Namun, aku cukup yakin bahwa itu memang dia.

Karena foto profil Sendra adalah foto perempuan yang selama ini selalu mengisi relung hatinya.

Dulu, aku pernah bercanda dengan memintanya memasang foto profil yang sepasang denganku. Saat itu, dia tiba-tiba jadi marah.

Setelah itu, Sendra menjelaskan kepadaku, mengatakan bahwa itu adalah foto yang sangat dia sukai dan dia tidak punya maksud lain. Dia ingin aku tidak berpikir macam-macam.

Namun, dia tidak pernah membahas masalah ganti foto profil dan terus memberikan komentar positif di berbagai platform media sosial dengan menggunakan foto profil ini.

"Ting!"

Ada pesan lain yang masuk.

Aku membuka pesan itu, yang ternyata pesan grup teman sekelas Sendra. Seseorang meneruskan komentar suamiku, membuat diskusi di grup ini jadi ramai.

"Sendra kenapa? Apa dia belum melupakan Kirana?"

"Haha, Sendra kamu bisa diberkati. Besok Kirana bakal kembali dari luar negeri dan kami akan menyambut kepulangannya dengan mengadakan pesta. Kamu mau datang nggak?"

...

Kirana?

Aku menggenggam ponsel dengan kedua tangan, menatap nama itu dan otakku langsung berdengung.

Ketika kami akan menamani anak perempuan kami, suamiku bersikeras akan memberinya nama Kirana. Dia berulang kali mengatakan di depan semua orang bahwa dia hanya mencintai Kirana dalam hidupnya.

Mungkinkah asal usul nama putri kami adalah karena Kirana itu?

Entah kenapa rasanya seperti ada pisau tajam yang sedikit demi sedikit mengiris hatiku.

Aku kesakitan, tetapi tidak punya tempat untuk berteriak.

Melihat laki-laki yang tertidur di sampingku, aku akhirnya memilih untuk meletakkan ponsel itu kembali dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.

Bagaimanapun juga, Sendra adalah laki-laki yang aku cintai selama lima tahun, ayah dari anak perempuanku. Aku ingin memberinya kesempatan kepadanya untuk menjelaskan semuanya.

Aku berbaring di tempat tidur dengan perasaan campur aduk, menatap cahaya bulan yang terang di luar jendela, tidak bisa merasakan kehangatan sedikit pun.

Kirana ... dua kata ini seperti sangkar yang dingin, menelanku sedikit demi sedikit.

Keesokan paginya ketika aku bangun, Sendra sudah bangun dan sudah pergi ke kantor. Terlihat ada sarapan di atas meja yang sudah dia siapkan untukku.

Suhunya pas, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.

Aku tersenyum lega.

Benar saja, aku tahu kalau Sendra bukan laki-laki seperti itu.

Ketika aku sedang menghibur diri bahwa apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi, sebuah kotak hadiah di atas meja menarik perhatianku.

Suamiku benar-benar pandai memberi kejutan. Ini bukan hari yang spesial, kenapa dia malah bersikap romantis begini?

Aku membuka kotak itu dengan antusias.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang mahal, lengkap dengan sepucuk kertas yang menuliskan "hanya untuk seseorang".

Senyumku makin terkembang bahagia. Namun, senyum di wajahku langsung menegang saat membaca isi kartu itu dengan jelas.

Untuk Kirana tersayang.

Kirana, Kirana lagi!

Hatiku tenggelam untuk sekali lagi.

Putriku baru saja lahir, jadi dia tidak bisa memakai cincin. Tanganku juga cukup besar, jadi cincin ini bukan ukuranku.

Bab 2

Jadi, untuk siapa cincin ini?

Mungkinkah memang ada perempuan di hati Sendra yang bernama Kirana, yang selalu dia sukai hingga hari ini, sampai Sendra bahkan tidak peduli lagi dengan istri dan anaknya?

Saat aku tenggelam dalam khayalanku, Sendra kembali lagi.

Melihat cincin di tanganku, raut wajah Sendra tiba-tiba berubah. Dia mengabaikan kondisiku yang baru saja melahirkan, mendorongku menjauh setelah merebut kotak hadiah di tanganku.

"Minggir! Siapa yang bolehin kamu pegang cincin ini?"

Aku menekan perutku yang terbentur meja dengan keras. Luka jahitan yang masih belum kering, kini mulai terasa sakit lagi.

Namun, Sendra hanya menyeka cincin itu dengan hati-hati, mengabaikan teriakan kesakitan yang aku serukan.

Setelah darah keluar dari perutku, dia baru memperhatikanku.

"Jelita, kamu berdarah!"

Bibir Sendra bergetar dan dia buru-buru membantuku berdiri.

"Perutku sakit, bawa aku ke rumah sakit."

Aku menarik Sendra, rasa sakit di perutku makin parah seiring dengan setiap kata yang aku ucapkan.

"Ya, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang."

Sendra baru akan mengantarku ke rumah sakit, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering.

"Sendra, bukannya kamu pulang lagi buat ambil hadiah? Kenapa kamu masih belum kemari? Kirana sudah mau sampai."

Sendra menatapku, kemudian merendahkan suaranya, "Ada sedikit masalah di rumah. Kalau sudah selesai, aku akan langsung ke sana."

Mendengar kata-kata itu, hatiku terasa sakit dan dipenuhi oleh rasa pahit yang tak terhitung jumlahnya.

Masalah.

Sekarang, bahkan di hati Sendra aku tidak dianggap sebagai manusia?

Tepat pada saat ini, suara manis seorang wanita tiba-tiba terdengar dari ujung telepon.

"Maaf sudah menunggu lama. Lama nggak bertemu kalian, apa kalian baik-baik saja? Eh, kenapa Sendra nggak kelihatan?"

...

Begitu suara ini terlontar, aku melihat tubuh Sendra sedikit bergetar, seolah-olah dia telah berubah menjadi orang yang berbeda. Bahkan terlihat ada binar cahaya yang meledak dari bagian bawah matanya.

Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dia alami ketika bersama denganku.

"Jelita, ada sedikit masalah di perusahaan dan aku harus segera ke sana. Kamu pikirkan cara buat pergi ke rumah sakit sendiri."

Sendra dengan paksa melepaskan cengkeramanku, mengambil cincin berlian dan bergegas keluar. Dia meninggalkanku dan hanya menyisakan punggungnya yang perlahan mengecil.

Hari itu, tidak ada yang tahu kalau aku, seorang wanita yang habis melahirkan, berhasil pergi ke rumah sakit sendiri dan kembali dengan menggendong bayi seberat tiga setengah kilo.

Yang aku tahu ketika aku kembali, hari sudah larut malam.

Rumah masih dalam keadaan gelap.

Sendra belum pulang.

Namun, ada status terbaru di media sosialnya.

Aku membuka status itu.

Hadiah termahal, "Hanya mencintai satu orang."

Tulisan itu dibarengi dengan unggahan foto tangan yang mengenakan cincin berlian.

Itulah cincin yang diambil Sendra pagi ini, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, tepat di tangan wanita itu.

Ada berbagai macam komentar di bawah unggahan ini.

"Apa ini Kirana? Kenapa kamu pakai ponsel Sendra buat mengunggah status seperti ini?"

"Haha, Ricky nggak tahu, ya? Hari ini Sendra mabuk, menarik tangan Kirana dan nggak mau melepaskannya. Dia bilang akan pergi ke mana pun Kirana pergi dan nggak akan pernah berpisah dengannya."

"Mereka memang pasangan sejati. Sudah terpisah lama, tapi masih saja saling mencintai. Bikin iri sekali!"

Melihat komentar-komentar itu, aku tidak bisa mengatakan apa yang aku rasakan di dalam hati.

Jika mereka adalah pasangan sejati, lalu aku ini apa? Bagaimana dengan putriku?

Aku menghubungi nomor Sendra. Ketika panggilan tersambung, aku mendengar suara erangan laki-laki dan perempuan yang saling beradu.

"Kirana, jangan tinggalkan aku."

"Selama ini aku sangat menderita karena merindukanmu."

"Dalam hidup ini, kamulah orang yang paling ingin aku nikahi."

...

Aku langsung menutup telepon tanpa ragu.

Aku tahu kalau hubunganku dan Sendra sudah berakhir.

Keesokan harinya, Sendra pulang ke rumah dengan wajah lelah.

"Maafkan aku, sayang. Kemarin malam ada urusan di kantor, jadi aku pulang larut."

"Benarkah?"

Aku duduk di sofa dan menatap Sendra dengan dingin, tidak menyambutnya saat melihat kedatangannya seperti sebelumnya. Aku membuka ponselku.

"Sendra, dulu kamu nggak pernah membohongiku."

Di ponselku ada pesan dari Kirana, yang entah dari mana bisa mendapatkan Line milikku dan mengirimkan video berdurasi beberapa menit.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B33182" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B33182
Salin

Kirana, Cinta Sejatiku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya