Bab 1
Pada ulang tahun pernikahan kami yang ke-7, aku menindih tubuh Lionel, suamiku yang adalah seorang mafia, dan menciumnya dengan penuh hasrat.
Di tengah keintiman yang membara, aku merogoh saku gaun sutra mahalku dan mengenggam test pack yang aku sembunyikan di sana.
Aku berencana untuk memberitahunya kabar kehamilanku tengah malam nanti.
Maryos, tangan kanan Lionel, menatapnya sambil tersenyum menggoda dan bertanya kepadanya dalam bahasa Iltan, "Bos, bidadari kecil barumu itu ... si Sofia .... Gimana rasanya?"
Seketika itu juga, Lionel tertawa dengan begitu kencang, membuat bulu kudukku meremang.
Lionel pun menjawab, tentunya dalam bahasa Iltan, "Rasanya seperti ... seperti buah persik yang belum matang. Segar dan lembut."
Tangannya masih mengelus pinggangku dengan lembut, tetapi tatapannya tidak tertuju padaku.
"Ingat, ini rahasia kita. Kalau istriku sampai tahu, habislah aku."
Para anak buahnya tertawa. Mereka bersulang, berjanji untuk tidak membocorkan apa-apa.
Kesabaranku perlahan menipis, digantikan dengan darahku yang mulai mendidih.
Mereka semua tidak tahu bahwa nenekku berasal dari Pulau Sagara. Aku memahami semua isi pembicaraan mereka.
Aku berusaha menahan emosi, mempertahankan senyum sempurna seorang istri pemimpin keluarga mafia. Meski begitu, aku tetap tak bisa membuat tanganku yang memegang gelas sampanye berhenti gemetar.
Emosiku bisa meledak kapan saja dan aku tidak mau membuat kegaduhan. Jadi, untuk mengalihkan pikiranku, aku menyalakan ponsel, membuka undangan proyek riset medis internasional pribadi beberapa hari lalu, lalu menekan tombol "Terima".
Dalam tiga hari, aku akan menghilang dari dunia Lionel, selamanya.
Pada ulang tahun pernikahan kami yang ke-7, aku menindih tubuh Lionel, suamiku yang adalah seorang mafia, dan menciumnya dengan penuh hasrat.
Di tengah keintiman yang membara, aku merogoh saku gaun sutra mahalku dan mengenggam test pack yang aku sembunyikan di sana.
Aku berencana untuk memberitahunya kabar kehamilanku tengah malam nanti.
Maryos, tangan kanan Lionel, menatapnya sambil tersenyum menggoda dan bertanya kepadanya dalam bahasa Iltan, "Bos, bidadari kecil barumu itu ... si Sofia .... Gimana rasanya?"
Seketika itu juga, Lionel tertawa dengan begitu kencang, membuat bulu kudukku meremang.
Lionel pun menjawab, tentunya dalam bahasa Iltan, "Rasanya seperti ... seperti buah persik yang belum matang. Segar dan lembut."
Tangannya masih mengelus pinggangku dengan lembut, tetapi tatapannya tidak tertuju padaku.
"Ingat, ini rahasia kita. Kalau istriku sampai tahu, habislah aku."
Para anak buahnya tertawa. Mereka bersulang, berjanji untuk tidak membocorkan apa-apa.
Kesabaranku perlahan menipis, digantikan dengan darahku yang mulai mendidih.
Mereka semua tidak tahu bahwa nenekku berasal dari Pulau Sagara. Aku memahami semua isi pembicaraan mereka.
Aku berusaha menahan emosi, mempertahankan senyum sempurna seorang istri pemimpin keluarga mafia. Meski begitu, aku tetap tak bisa membuat tanganku yang memegang gelas sampanye berhenti gemetar.
Emosiku bisa meledak kapan saja dan aku tidak mau membuat kegaduhan. Jadi, untuk mengalihkan pikiranku, aku menyalakan ponsel, membuka undangan proyek riset medis internasional pribadi beberapa hari lalu, lalu menekan tombol "Terima".
Dalam tiga hari, aku akan menghilang dari dunia Lionel, selamanya.
Lionel menoleh ke arahku dan melihat aku belum menyentuh jeruk yang dikupasnya sama sekali. Dia mengangkat tangannya, lalu menyeka dengan lembut bekas anggur di sudut mulutku dengan ibu jarinya.
"Sayang, kenapa? Nggak enak badan?"
Aku menengadah, mataku menatap matanya yang memancarkan kehangatan. Namun, alih-alih senang, yang bisa aku rasakan hanya rasa jijik.
Sebelumnya, dia bisa dengan gamblangnya membahas hal-hal tidak senonoh tentang adikku bersama para cecunguknya. Dan lihatlah sekarang. Dia bertingkah seperti suami teladan yang sangat mencintai istrinya.
Mau sampai kapan dia mempertahankan sandiwaranya ini?
"Nggak kok. Aku cuma penasaran .... Kalian sedang ngomongin apa?"
Lionel mencubit pipiku dengan gemas, lalu tertawa kecil.
"Kami lagi ngomongin soal transaksi senjata. Aku tahu kau pasti nggak suka topik yang kayak begitu, makanya kami ngomongnya pakai bahasa Iltan."
Dia pasti sudah terlalu tenggelam dalam kehidupan liarnya belakangan ini sampai lupa kalau nenekku dari Pulau Sagara dan aku bisa memahami bahasa Iltan sejak kecil.
Bau asap rokok dan alkohol bercampur di udara, membuat dadaku terasa sesak. Aku mendorong Lionel menjauh.
"Lanjutkan saja. Aku mau keluar cari udara segar dulu."
Tanpa menunggu tanggapan Lionel, aku berdiri dan berjalan ke arah teras.
Saat aku berjalan melewati orang-orang, para istri yang lainnya memandangku dengan tatapan iri.
"Lihatlah Nyonya kita, begitu beruntung. Sang bos mengadakan pesta untuknya setiap tahun."
"Ya. Namanya juga ratu Keluarga Mandala. Bikin iri saja."
Kalau dulu, aku pasti akan senang dan bangga mendengar pujian itu.
Saat itu, aku berpikir bahwa aku sudah menemukan suami terbaik di dunia.
Namun sekarang, aku sudah tersadar, dan hatiku sudah tidak lagi tergerak.
Mereka tidak tahu permainan kotor apa yang sudah dilakukan oleh pria yang mereka kira mencintaiku setengah mati di belakangku.
Kemarin, aku diam-diam masuk ke ruang kerja Lionel, berniat untuk meninggalkan hadiah ulang tahun pernikahan yang sudah aku siapkan di sana.
Lionel melarang siapa pun masuk ke sana, tempat di mana banyak rahasia Keluarga Mandala tersimpan, tempat yang bahkan aku sendiri pun jarang bisa masuki.
Namun, saat itu, aku bisa mencium aroma parfum yang biasa dipakai Sofia di sana.
Aku mengendus dan mendapati bahwa aroma parfum menyengat yang bercampur di udara itu berasal dari sofa kulit dan jas milik Lionel.
Dan di saat aku melangkahkan kaki keluar dari ruang kerjanya, satu hal tertanam jelas di hatiku: inilah titik balik kehancuran rumah tanggaku dan Lionel.
Drrr ... drrr .... Suara getar ponselku memecahkan lamunanku.
"Ersa, aku lihat di sistem kalau kau menerima tawaran proyek. Dulu kau rela meninggalkan kariermu demi menikahi pria dari Keluarga Mandala selama bertahun-tahun. Aku senang sekali bisa melihatmu kembali."
"Aku akan suruh seseorang untuk menjemputmu tiga hari lagi."
"Kau gunakan waktu yang ada untuk berpamitan dengan keluargamu."
Begitu mendengar kata "keluargamu", aku tanpa sadar mengencangkan genggaman di ponselku.
Semenjak orang tuaku dibunuh dalam pertikaian berdarah lima tahun lalu, Lionel menjadi satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Namun, setelah mengetahui pengkhianatannya sekarang, dia sudah tak kuanggap sebagai keluarga lagi.
"Profesor, aku nggak perlu berpamitan. Tolong bantu ajukan keamanan tingkat tertinggi untukku dan hapus semua cacatan publik tentangku."
Mentorku pun membalas, suaranya terdengar heran dari ujung telepon.
"Kenapa? Kalau semuanya dihapus, itu sama saja dengan melenyapkan Ersa Vernata dari muka bumi. Lionel bakal gila karena dia nggak bisa menemukanmu."
Aku tertawa getir. "Nggak akan kok. Lagian, dia sudah mengkhianatiku."
Mataku mulai berair setelah mengatakan itu.
Setelah meninggalkan sekolah kedokteran, satu-satunya praktik medis yang kujalani adalah merawat luka-luka Lionel setelah bertarung.
Aku sudah mencurahkan semuanya, tetapi apa yang kudapat? Tidak ada.
Mentorku terdiam. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menghela napas.
"Jujur, aku sempat berpikir kalau kau kenapa-kenapa waktu aku lihat kau menerima tawaran itu. Tapi aku nggak nyangka kalau ternyata ...."
"Ya sudah. Aku akan ajukan keamanan tingkat tertinggi untukmu. Tuntaskan urusanmu dalam waktu tiga hari ini."
Mendengar itu, aku akhirnya bisa menarik napas lega.
Dengan adanya bantuan keamanan dari pihak luar, aku bisa merasa lebih tenang dan tidak perlu lagi memusingkan cara untuk lepas dari Lionel.
"Terima kasih, Profesor."
Aku baru saja selesai mengucapkan itu ketika tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara yang familier dari arah belakang.
"Sayang, siapa yang kau bilang sudah dikhianati?"
Bab 2
Aku sontak berbalik, menatap mata berwarna hijau tua milik Lionel. Dia menatapku curiga, dan aku pun merekahkan senyum lembutku seperti biasa.
"Oh, ini .... Aku barusan ngobrol sama temanku tentang salah satu keluarga di wilayah Lunaris. Kepala keluarganya ketahuan berselingkuh dan sekarang istrinya mengajukan perceraian serta meminta pembagian harta gono-gini."
Jika Lionel sangat gemar berakting, aku akan dengan senang hati memainkan peranku juga.
Lionel menatap wajahku lama, matanya menyipit, berusaha mencari petunjuk dari ekspresiku.
Setelah memastikan bahwa tidak ada yang aneh, barulah ketegangan di dalam hatinya perlahan memudar.
Tangannya yang besar dan penuh bekas luka itu merangkul pinggangku. Dia menunduk dan mengecup pelipisku.
"Bodoh sekali dia. Mengkhianati istrinya sama saja dengan mengkhianati takhtanya sendiri."
"Ratuku, hal yang seperti itu nggak akan pernah terjadi di keluarga kita."
Aku menatap matanya yang dalam seperti jurang, lalu tersenyum tipis.
"Tapi bagaimana kalau ternyata kejadian?"
"Misalnya ...."
"Ersa, nggak ada kata 'kalau'."
Lionel langsung menyela, "Aku, Lionel Mandala, sebagai keturunan Keluarga Mandala yang terhormat, bersumpah nggak akan pernah mengkhianatimu."
"Aku tahu kok. Tadi itu aku cuma berandai-andai saja."
Lionel berdiri diam sejenak, lalu dia memelukku dan menggesekkan dagunya yang agak kasar ke pipiku.
Sungguh ajaib.
Betapa beraninya dia berselingkuh dengan adikku di belakangku, sementara di hadapanku, dia masih menunjukkan sikap posesifnya yang begitu kuat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Kalau itu sampai terjadi, biarlah perpisahan kita yang menjadi hukumanku."
"Tapi, Ersa .... Kau itu adalah hidupku. Kalau nggak ada kau, lebih baik aku mati saja."
Aku tidak merespons, hanya menarik lepas tangannya dari tubuhku.
Tiga hari dari sekarang, aku tak lagi akan merasakan dekapan ini, dekapan yang dulu sangat aku sukai.
Lionel, kata-katamu itu .... Hukumanmu itu akan segera menjadi kenyataan.
Lionel membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu ketika sebuah suara terdengar.
"Bos, semuanya sudah siap."
Lionel mengangguk, senyum misterius merekah di wajahnya saat dia meraih tanganku dan memanduku ke ujung teras.
Dia mengangkat tangan dan menutupi mataku, lalu berbisik di telingaku, "Sayangku, aku punya hadiah spesial untukmu."
"Lima, empat, tiga ...."
Saat hitungan mundur itu selesai, dia menarik kembali tangannya.
Pemandangan di hadapanku begitu memukau.
Lionel sudah menyewa seluruh pelabuhan. Aku menengadah, memandangi ratusan drone yang menari di tengah langit malam.
Drone-drone yang berkelip itu akhirnya bergerak membentuk sebuah formasi ... membentuk namaku.
"Ersa."
Lionel merangkulku dari belakang, suaranya begitu lembut saat mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Cintaku, kita sudah menikah selama tujuh tahun. Hari-hari yang kita lalui bersama terasa sama sempurnanya seperti hari pertama kita bertemu."
Mataku tidak pernah terlepas dari pemandangan di langit malam di hadapanku. Saat itu, aku merasa seakan aku berada di kehidupan yang berbeda.
Ya ... tujuh tahun.
Dari seorang putri Keluarga Vernata menjadi seorang nyonya dari Keluarga Mandala.
Tujuh tahun telah banyak mengubahku.
Cukup untuk mengubah cinta yang mendalam menjadi pengkhianatan, mengubah sumpah menjadi kebohongan.
Lionel membalikkan tubuhku untuk menghadapnya. Dia menatapku lekat dengan sepasang mata berwarna hijau pekat miliknya, begitu lekat hingga rasanya dia bisa melelehkanku dengan tatapan itu.
"Tujuh tahun kita bersama, Sayang. Aku ingin memberikanmu yang terbaik setiap tahunnya."
Lalu, dia perlahan mendekatkan wajahnya, hendak menciumku.
Harus kuakui, dia memang pantas memenangkan piala Oscar untuk sandiwaranya ini. Kalau saja aku tidak mendengar desahannya dan Sofia di kantor kemarin, mungkin aku akan termakan tipu dayanya sampai aku mati.
Tepat ketika bibirnya hampir menyentuh bibirku, ponselnya bergetar.
Aku paham betul ekspresi itu, ekspresi kesal yang selalu dia tunjukkan ketika ada yang mencoba mengganggunya.
Bagus. Dengan begini, aku tidak perlu memikirkan cara untuk menghindar darinya.
"Cih. Padahal sudah jelas-jelas kuperintahkan mereka untuk nggak mengganggu kita malam ini. Aku mau lihat siapa orang bodoh yang berani melanggar perintahku."
Dengan kening bertaut, dia mengeluarkan ponsel. Namun, ketika dia melihat nama peneleponnya, seketika ekspresinya berubah.
Aku melirik ke layar ponselnya dan melihat kata [Bidadari Kecilku].
Aku tahu itu adalah Sofia.
Lionel berdeham, lalu memiringkan ponselnya sedikit saat jari panjangnya menyapu layar.
Aku bisa melihat ekspresi paniknya, jelas sekali dia ingin menjawab panggilan itu.
Dan benar saja, saat dia berbalik menatapku, dia menampakkan ekspresi bersalah yang penuh kepalsuan.
"Ada apa?" tanyaku santai sambil mengepalkan tanganku dengan kuat di kedua sisi.
Betapa bodohnya aku masih berharap kalau Lionel akan memilihku kali ini.
"Ada urusan keluarga penting yang mendesak." Dia menyimpan ponselnya, lalu menatapku dengan penuh rasa bersalah. "Sayang, aku mungkin harus pergi sebentar."
"Sekarang juga?"
"Maaf. Aku tahu ini malam penting untuk kita, tapi ini memang nggak bisa ditunda."
Setelah mengatakan itu, dia mengecup dahiku.
"Masuklah ke kamar dan istirahat. Aku akan segera kembali begitu urusannya selesai."
"Oke. Cepat kau urusi urusan pentingmu itu."
Aku mengangguk, memainkan peran seorang istri penurut di hadapannya.
Begitu melihat aku tidak mencurigai apa pun, Lionel tampak lega.
Dia memelukku sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan berlari menjauh.
Aku masih berdiri di teras, memandangi deretan mobil yang meluncur keluar dari pintu gerbang rumah.
Begitu lampu mobil-mobil itu sudah tidak lagi terlihat, aku berbalik dan berjalan ke arah garasi.
Berhubung dia ada "urusan mendesak" yang harus segera ditangani, aku memutuskan untuk melihat sendiri seberapa mendesaknya urusan itu.
Aku menyalakan mesin dan mengikuti konvoi mobilnya dengan hati-hati.
Bab 3
Aku mengikuti konvoi mobil Lionel ke sebuah klub privat yang ada di bagian timur kota.
Klub itu hanya dibuka untuk anggota Keluarga Mandala. Untungnya, para penjaga di sana mengenali mobilku. Begitu mereka melihatku datang, mereka langsung mengangguk hormat dan mempersilakanku masuk.
Aku memarkirkan mobilku tidak terlalu jauh agar aku bisa melihat semuanya dari kaca mobilku.
Di kejauhan, aku bisa melihat Sofia yang mengenakan gaun merah ketat dan sepatu hak sepuluh sentimeter keluar dari salah satu mobil. Dia berlari kecil dan melompat ke pelukan Lionel seperti seekor kucing yang sedang birahi.
"Sayang, kau menghadiahinya pertunjukan drone itu? Aku cemburu loh."
Lionel menepuk punggungnya dengan pelan, nadanya terdengar lembut saat dia menjawabnya.
"Apa pertunjukan kembang api di hari ulang tahunmu beberapa hari lalu itu belum cukup, hm? Bidadari kecilku sekarang sudah jadi serakah ya?"
"Dasar kau ini. Kau pasti akan mendapatkan apa pun yang kau inginkan. Tapi bukan sekarang saatnya."
"Aku janji, selama kau tetap menjaga sikapmu dan Sasa nggak tahu tentang hubungan kita, semua kekuasaan dan status yang dia miliki sekarang suatu saat akan menjadi milikmu juga."
Deg.... Hatiku terasa begitu sakit ketika mendengar ucapannya itu, seakan ada ribuan belati yang menusuk dadaku.
Aku jadi teringat akan pertunjukan kembang api yang spektakular di bagian barat kota beberapa hari lalu.
Malam itu, Lionel bilang dia mau "membereskan" seorang kerabat yang sudah berkhianat dan tidak pulang sama sekali.
Saat itu, aku begitu khawatir, merasa takut kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi padanya. Aku tidak bisa tidur sama sekali.
Sampai akhirnya sekarang aku tahu. Ternyata "kerabat" yang berkhianat itu tak lain adalah adikku sendiri. Sementara aku tak bisa tidur karena menunggunya dengan resah di rumah, dia malah menghabiskan malam itu dengan tidur di ranjang bersama adikku.
Sebagai istrinya, aku merasa bodoh karena sudah buta dengan semua ini.
Sofia mengeluarkan suara imutnya dan merengek manja sambil menggerakkan jarinya membentuk lingkaran di dada bidang Lionel.
"Memangnya aku nggak boleh cemburu, Sayang?"
"Ya sudah. Kalau sayangku sudah ngomong gitu, aku bisa apa? Omong-omong, aku punya sesuatu yang spesial untukmu malam ini."
Sofia membisikkan sesuatu ke telinga Lionel, lalu menarik dasinya.
Sorot mata Lionel sontak dipenuhi hasrat.
"Apa lagi yang kau tunggu? Cepat katakan apa itu."
"Kau akan tahu saat kita di atas. Kau harus buka sendiri hadiahnya."
Seketika itu juga, tanpa menghiraukan keadaan sekitar, Lionel menggendong Sofia dan berjalan masuk ke klub.
Sofia spontan mengeluarkan desahan menggoda yang segera dibungkam oleh ciuman panas dari Lionel.
Pintu lift tertutup, dan lift itu mengantarkan mereka langsung ke presidential suite di lantai paling atas.
Aku hanya bisa duduk di dalam mobil, menyaksikan semuanya sampai sosok mereka menghilang ke dalam lift.
Tujuh tahun pernikahan, dan itu tidak berarti apa-apa bagi Lionel.
Meski aku sudah mengetahui semuanya, menyaksikannya langsung dengan mata kepalaku sendiri .... Hatiku terasa seperti tertusuk oleh pisau yang sangat tajam, begitu sakit.
Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah juga, mengalir begitu deras di pipiku.
Aku ingat bagaimana Lionel, ketika kami pertama menikah, bersumpah demi kehormatan Keluarga Mandala bahwa dia akan menghabiskan seluruh ulang tahun pernikahan kami bersamaku setiap tahun.
Namun, sekarang, satu pesan dari Sofia saja sudah cukup untuk membuatnya mengingkari sumpah suci itu.
Aku sudah kalah, benar-benar kalah.
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan badai emosi yang berkecamuk di dalam diriku.
Tinggal tiga hari lagi.
Setelah tiga hari, aku akan meninggalkan semua siksaan ini.
Saat aku kembali ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi.
Aku langsung menuju kamar tamu dan mengunci pintunya.
Pada pukul setengah empat, aku dengar Lionel sudah kembali.
"Ersa? Ersa!"
Dia meneriaki namaku dari kamar tidur utama, nada suaranya terdengar panik.
"Sial! Ke mana dia?"
Lalu disusul oleh raungan kemarahannya.
"Dasar kalian nggak berguna! Nyonya kalian nggak ada, tapi kalian malah nggak tahu dia ada di mana?!"
"Tuan, mobil Nyonya nggak ada di garasi. Beliau mungkin sedang keluar," jawab seorang pelayan dengan gemetar.
"Cari dia! Hancurkan kota ini kalau perlu! Pokoknya cari dia sampai dapat!"
Seketika itu juga, bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa semakin mendekat saat dia mulai mencari dari kamar satu ke kamar lainnya.
Ketika dia membuka pintu kamar tamu, aku berpura-pura baru saja terbangun.
Begitu melihatku, kemarahannya langsung lenyap. Dia melangkah masuk, ekspresinya panik bercampur lega, seolah-olah dia baru saja hampir kehilangan segalanya.
"Ya Tuhan, Sasa, kau membuatku takut setengah mati."
"Kenapa nggak bilang kalau kau sudah pulang? Kau tahu nggak, aku hampir mengubrak-abrik rumah ini saking takutnya kehilanganmu?"
Dia bergegas menghampiriku dan memelukku erat, tubuhnya sedikit gemetar.
"Aku nggak bisa tidur, jadi aku pindah kamar." Aku menepuk punggungnya dengan pelan. "Ada apa?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma ketakutan waktu nggak bisa menemukanmu."
Dia mencium rambutku, lalu mengucapkan kalimat itu dengan suara bergetar.
'Kalau kau benar-benar peduli padaku, kau nggak akan menyentuh perempuan lain.'
'Terlebih lagi kalau perempuan lain itu adalah adikku sendiri.' Aku hanya bisa mengatakan itu dalam hati.
"Aku merasa badanku nggak enak, jadi pulang lebih awal untuk istirahat. Aku lupa memberitahumu."
Nyatanya, berbohong tidak sesulit yang kukira. Setelah beberapa kali melakukannya, sekarang aku sudah terbiasa.
Sementara itu, Lionel merasa lega, menarikku jatuh ke atas kasur. Dia sama sekali tidak melepaskan dekapannya sedetik pun, seolah-olah aku adalah harta yang tak ternilai.
"Jangan pernah lakukan ini lagi. Aku bisa gila kalau aku nggak bisa menemukanmu."
"Kau tahu aku bisa melakukan apa saja untukmu."
Aku memejamkan mata, sebuah senyum dingin terlukis di bibirku.
Besok paginya, aku menyiapkan sebuah kotak hadiah yang sangat indah.
Di dalamnya, aku menaruh cincin stempel keluarga, simbol yang melambangkan statusku sebagai seorang nyonya Keluarga Mandala, bersama dengan surat cerai yang telah kubuat dan tanda tangani semalam.
"Lionel, ini hadiah ulang tahun pernikahan kita dariku."
Dia mengangkat alis, tidak menyangka akan diberi hadiah, lalu mengambil kotak itu dariku.
"Boleh kubuka sekarang?"
"Jangan. Tunggu dua hari lagi. Hadiahnya akan lebih berkesan nanti."
Dia mengangguk patuh dan menaruh kotak itu di dalam brankasnya dengan hati-hati.
"Aku jamin, kau pasti akan menyukai hadiahku."
Karena dalam dua hari, aku akan menghilang dari dunianya, untuk selamanya.
Di saat itulah, "hadiah" ini akan mengungkapkan seluruh kebenaran padanya.
Baru saja aku mengatakan itu, bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Pintu dibukakan dan di sana, berdirilah Sofia dengan wajah yang berlinang air mata, tampak begitu menyedihkan.