Bab 4
Lunara tidak mengangkat kepala. Dia tidak tahu bahwa raut wajah Kayden saat ini terlihat sangat buruk. Dia hanya merasakan tatapan Kayden yang membuat seluruh otot tubuhnya menegang dan ingin segera melarikan diri dari tempat itu.
Setelah berkata demikian, dia langsung berbalik dan keluar dari ruang pantri.
Sambil menatap punggung Lunara yang terlihat seperti baru saja terbebas dari beban berat, Kayden menggenggam erat cangkir kopi di tangannya. Dulu, Lunara tidak pernah minum es americano. Dia selalu mengeluh pahit dan asam.
Sekarang, wanita itu malah meminumnya.
Kayden menatap ke arah Lunara menghilang. Mata yang memerah dipenuhi emosi yang rumit. Dia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu semua perasaan itu akhirnya berubah menjadi umpatan kasar yang tertahan di ujung bibirnya.
Setelah kembali ke kantor, Kayden mengeluarkan ponsel dan menelepon Theron.
"Kak Kay, kenapa?"
"Lunara menikah sama siapa?"
Di seberang telepon, Theron terdiam sejenak. Dia benar-benar tidak paham maksud pertanyaan itu, tetapi tetap menjawab jujur, "Nggak tahu."
"Dia menikah di luar negeri. Katanya ... karena ketahuan hamil, jadi sekalian menikah. Aku juga belum pernah melihat suaminya."
"Kapan itu terjadi?"
Theron terdiam. Setelah bergumam tak jelas beberapa saat, dia akhirnya mengertakkan gigi dan berkata, "Itu ... setelah kamu putus dengannya. Katanya Lunara pergi ke luar negeri bersama suaminya."
Setelah itu, Theron tidak berani melanjutkan. Baru putus lalu langsung menikah dan hamil. Sekalipun dulu Kayden tidak mencintai Lunara, tetap sulit untuk tidak memikirkan apakah dirinya sudah diselingkuhi.
Theron masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Kayden sudah lebih dulu memutus sambungan telepon.
Mendengar nada sibuk dari seberang, Theron malah menghela napas lega. Kalau Kayden terus bertanya, dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Setelah berpikir sejenak, Theron akhirnya mengirim pesan pada Lunara.
[ Kak Kay menanyai aku soal suamimu. ]
Balasan Lunara datang dengan cepat.
[ Maaf, sepertinya suamiku bukan gay. ]
Theron terdiam. 'Yang benar saja, bukan itu intinya kali ....'
Theron sebenarnya ingin bertanya bagaimana kedua orang itu bisa bertemu lagi. Namun setelah dipikir-pikir, dia memilih tidak ikut campur dalam urusan yang berpotensi jadi ranjau itu.
Hingga jam pulang kerja, suasana tetap tenang setelah Kayden menerima email tersebut. Mengingat kejadian semalam, Lunara masih merasa waswas. Dia pun memutuskan pulang tepat waktu.
Gaia melihat Lunara menutup komputer dan tampak terkejut. "Hari ini kamu nggak lembur?"
"Nggak. Aku mau pulang menemani anakku."
Keduanya berbincang ringan sambil masuk ke lift. Tak disangka, setelah seharian tidak bertemu Kayden, kini dia malah bertemu dengan pria itu di dalam lift.
Gaia dan Lunara spontan menghapus senyum di wajah mereka dan berdiri kaku di satu sisi.
Untungnya, Kayden tidak memperhatikan mereka. Earphone bluetooth terpasang di telinganya, dia sedang menelepon.
"Aku tahu. Malam ini pasti pulang menemanimu makan."
"Ya. Tenang saja, aku ingat akan membelikanmu bunga."
Nada bicaranya lembut dan penuh perhatian. Jelas terasa betapa Kayden menghargai lawan bicaranya.
Tiga tahun lalu, Lunara hanya pernah mendengar suara Kayden yang sehangat itu saat mereka berada di ranjang. Kemungkinan besar, orang di seberang telepon itulah yang meninggalkan bekas di lehernya.
Puluhan detik di dalam lift berlalu cepat. Kayden lebih dulu melangkah keluar.
Gaia menepuk dadanya sendiri. Dengan nada iri, dia berkata, "Tadi Pak Kayden sedang menelepon pacarnya, ya? Lembut sekali. Ternyata setegar apa pun pria, kalau bertemu wanita yang dia cintai, tetap bisa selembut itu."
Lunara terdiam sejenak, lalu tanpa sadar menjawab, "Sepertinya begitu." Dia menolak tawaran Gaia untuk diantar pulang, lalu berdesakan masuk ke kereta bawah tanah.
Di dalam gerbong, ada banyak orang yang hilir mudik. Lunara teringat pada pesan Theron. Mungkin saat Ignas memperkenalkan data karyawan, dia sekilas menyebut kondisi keluarga.
Sebelumnya, mereka pernah punya atasan yang melihat Lunara cantik dengan aura dingin khas, mengira dia berasal dari keluarga berada dan tidak kekurangan uang, sehingga kesempatan promosi dan kenaikan gaji bahkan tidak pernah dipertimbangkan untuknya.
Ignas-lah yang membantu memperjuangkannya. Lunara sangat berterima kasih.
Namun, Kayden sampai menanyakan soal suaminya, itu membuat Lunara cukup terkejut. Suami Lunara sebenarnya tidak pernah ada. Saat dulu membawa Orion ke luar negeri untuk berobat, mereka bertemu keluarga pasien lain di pesawat.
Keinginan terakhir kedua pihak orang tua kala itu hanyalah satu, yaitu melihat anak-anak mereka menikah.
Lunara dan putra dari keluarga pasien itu akhirnya berjanji untuk bersama di depan ranjang rumah sakit demi memenuhi permintaan kedua ayah mereka.
Tak lama kemudian, kedua orang tua itu meninggal dunia. Setelah itu, Lunara dan pria tersebut pun lama tidak saling menghubungi. Soal status pernikahan, itu hanyalah ucapan Lunara semata. Ke luar, dia selalu menyebut dirinya sebagai wanita yang sudah menikah.
Pada masa itulah, Lunara melahirkan Daisy.
Di masyarakat ini, wanita yang sudah menikah tetapi suaminya tidak bertanggung jawab dan tidak mengurus anak masih bisa mendapat simpati. Namun, wanita yang hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa ayah anaknya, hanya akan menuai cibiran.
Lunara tidak peduli dengan omongan tentang dirinya. Akan tetapi, dia tidak ingin putrinya ikut dipandang dengan mata penuh prasangka. Seorang anak tetap membutuhkan sosok ayah secara formal.
Apa pun yang terjadi, Lunara tidak akan membiarkan Kayden mengetahui keberadaan Daisy.
Jika keluarga seperti Keluarga Narasoma itu mengetahui keberadaan Daisy, mereka pasti akan merebut anak itu dari tangan Lunara, atau menghina ibu dan anaknya, lalu memperlakukan Daisy dengan kejam.
Semua itu sangat mungkin terjadi.
Daisy adalah seorang anak perempuan. Sekalipun direbut kembali, Keluarga Narasoma belum tentu akan benar-benar menghargainya.
Lunara sudah terlalu sering melihat kisah perebutan anak di kalangan keluarga kaya. Luka itu pun tertanam dalam di hatinya.
Apa pun tujuan Kayden, Lunara tidak peduli. Yang dia pedulikan hanyalah putrinya.
....
Rumah Keluarga Narasoma.
Dengan sebuket mawar yang sedang mekar indah di tangannya, Kayden menyerahkannya kepada Saphira yang sudah menunggu di meja makan. Dengan kata-kata singkat, dia berkata, "Nih, yang kamu minta. Bunga."
Saphira menerimanya dengan wajah berseri, mulutnya tetap mengeluh, "Apa maksudmu yang aku minta? Sejak kamu pulang ke negara ini, kamu hampir nggak pernah pulang ke rumah. Jangan-jangan kamu sudah lupa aku ini ibumu?"
"Aku cuci tangan dulu," jawab Kayden. Dia berbalik dan masuk ke kamar mandi.
"Anak bandel." Saphira mendengus pelan, lalu kembali tersenyum. Dia menyerahkan bunga itu kepada Maeris yang duduk di sampingnya. "Nih, bunga yang dibeli Kayden. Aku berikan ke kamu saja. Bunga segar seperti ini lebih cocok untuk anak muda. Aku ini sudah tua."
Wajah Maeris yang cantik tampak dipenuhi rasa malu dan gembira.
Tangannya tidak langsung menerima bunga itu. Sudut mata dan alisnya malah tertuju pada Kayden yang baru keluar dari kamar mandi. Sambil menggigit bibir, dia berkata lembut, "Tante, bagaimanapun ini bunga yang dibeli Kak Kay untuk Tante. Nggak pantas kalau aku yang menerimanya. Lagi pula, Tante masih begitu anggun dan memesona, mana terlihat tua?"
Kerutan di sudut mata Saphira hampir ikut tersenyum lebar.
Cara bicara Maeris memang menyenangkan dan menenangkan hati, jauh lebih enak didengar dibandingkan kata-kata Kayden yang selalu dingin.
"Ambil saja. Memang dibelikan untukmu."
Mendengar Maeris akan datang untuk makan malam, Saphira mendadak memutuskan Kayden harus membawa pulang sebuket bunga. Kayden itu baik dalam segala hal, hanya saja urusan perasaan benar-benar kosong. Dia terlihat sama sekali tidak tertarik soal cinta. Hal itu membuat Saphira cukup cemas.
Kayden adalah putra sulung sekaligus cucu sulung Keluarga Narasoma. Dia juga satu-satunya anak laki-laki dari keluarga utama. Kakeknya memiliki tiga putra, dengan total empat cucu laki-laki dan satu cucu perempuan. Namun, belum ada satu pun yang menikah.
Yang masih sangat muda mungkin bisa dimaklumi. Namun yang usianya sudah cukup dewasa, semuanya beralasan bahwa selama Kak Kay belum menikah, mereka tidak berani mendahului.
Saphira hanya memiliki satu orang anak, tentu berharap Kayden segera berkeluarga dan punya keturunan.
Tatapan Maeris selalu tertuju pada Kayden.
Aura pria itu begitu menonjol. Setelah melepas jasnya, rompi yang dikenakannya menegaskan bentuk tubuhnya yang sempurna. Setiap gerakannya memancarkan keanggunan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Kak Kay, boleh nggak aku menerima bunga ini?" tanya Maeris pelan.
"Jangan manggil sembarangan."
Kayden mengangkat pandangan dan bertemu dengan wajah Maeris yang memerah. "Bunga itu bukan untukmu. Kalau kamu mau, beli sendiri."
Maeris menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi menyedihkan. Tiba-tiba dia bertanya, "Kak Kay, kamu masih ingat Lunara?"
Bab 5
Saat kuliah dulu, Maeris cukup sering datang ke Universitas Andara untuk mencari Kayden. Setiap kali, dia selalu memakai nama kakaknya, Theron, sebagai alasan.
Pada masa itulah dia kerap melihat seorang wanita yang hampir selalu berada di sisi Kayden. Wanita itu bertubuh tinggi, bertubuh seksi, dan berpakaian mencolok. Auranya seperti matahari terik yang terang dan memesona. Sekilas saja sudah terlihat sebagai seseorang yang dibesarkan dengan kemewahan.
Dari mulut Theron, Maeris tahu bahwa wanita itu bernama Lunara, pacar Kayden, mahasiswa akademi seni.
Tak seorang pun menyangka bahwa pria sedingin dan seanggun Kayden yang memiliki aura tenang, akan bersama seorang nona besar yang tampak vulgar dan manja.
Theron pernah berkata, saat itu Kayden miskin. Kemungkinan besar Lunara menghamburkan uang untuknya. Maeris pun memercayainya.
Kemudian, lewat sebuah kerja sama, Maeris baru mengetahui bahwa Kayden sebenarnya adalah putra sulung Keluarga Narasoma dan calon pewaris grup di masa depan. Sejak saat itu, Maeris tahu bahwa hubungan Kayden dan Lunara kemungkinan besar hanyalah main-main.
Belakangan, dia juga mendengar pernyataan serupa langsung dari mulut Kayden sendiri. Namun entah kenapa, Maeris sama sekali tidak merasa senang. Kayden mengangkat mata dan menatapnya dengan dingin.
Maeris bergetar.
Kayden sudah meletakkan sendok di tangannya, lalu berdiri. "Aku naik dulu. Ke depannya, kalau mau kasih bunga, nggak perlu menjadikanku alasan."
Saphira mendengus, raut wajahnya langsung tidak enak dilihat. "Apa maksudmu? Aku kasih Maeris sebuket bunga, lalu kamu malah nggak senang?"
Kayden sudah melangkah ke lantai atas. Maeris menatap punggung Kayden yang menjauh, matanya dipenuhi rasa tidak rela.
Saphira menggenggam tangan Maeris, menenangkannya beberapa patah kata, lalu bertanya, "Maeris, siapa Lunara yang tadi kamu sebut itu?"
Kenapa Saphira sama sekali tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya?
Maeris tahu dia telah salah bicara. Dengan susah payah akhirnya bisa bertemu Kayden, malah membuatnya marah dan pergi.
"Nggak apa-apa. Hanya teman lama. Tante, tadi aku lupa bilang ke Kak Kay kalau aku ingin magang di Grup Narasoma. Dia nggak akan keberatan, 'kan?"
"Ah, itu urusan kecil. Nanti aku bicarakan dengannya."
"Terima kasih, Tante."
....
Di lantai atas, di ruang kerja Kayden.
Di layar komputer, laporan keuangan grup bergulir. Informasi setiap kelompok proyek tersaji dengan jelas. Tanpa sadar, pandangan Kayden tertuju pada kelompok Lunara, yang mencatat kenaikan kinerja paling signifikan.
Saat melihatnya tadi siang, yang dia rasakan hanya satu hal. Lunara jauh lebih kurus. Dulu tubuh Lunara bisa dibilang proporsional. Dia bahkan sering mengeluh ingin menurunkan berat badan. Sekarang, bahu dan punggungnya tampak setipis selembar kertas A4 yang ringkih dan rapuh.
Kayden mengakui, saat pertama kali melihat nama "Lunara" yang tertera sebagai penanggung jawab proyek, hatinya sempat bergetar aneh.
Kenapa bisa ada orang lain yang namanya sama?
Namun, ternyata benar dia orangnya.
Lunara adalah anak seni. Dulu dia tidak suka belajar. Saat kuliah pun sering berkata bahwa kelak dia tidak akan bekerja. Uang keluarganya cukup untuk dia habiskan seumur hidup. Kini, Luanra bukan hanya bekerja, tetapi juga bekerja di Grup Narasoma.
Itu saja sudah cukup mengejutkan Kayden.
Yang lebih mengejutkan lagi, proposal proyek Lunara adalah yang terbaik di antara semua kelompok. Pada awalnya, hubungannya dengan Lunara hanyalah sebuah taruhan. Ditambah lagi Lunara yang terus mengejarnya tanpa menyerah, akhirnya Kayden menyetujuinya.
Saat itu dia berpikir, setelah lulus kuliah dan kembali ke Grup Narasoma, dia akan putus dengan Lunara. Namun perlahan, taruhan itu berubah arah. Kepribadian Lunara hangat dan ceria. Setiap kali melihatnya, sudut bibir Kayden tak kuasa terangkat.
Di depan orang lain, Lunara adalah nona besar Keluarga Angkasa yang angkuh. Namun di hadapannya, Lunara lembut dan patuh. Mereka pun berkali-kali melampaui batas. Kayden bahkan terkejut menyadari bahwa setiap preferensinya dapat dipenuhi Lunara dengan sempurna.
Seperti terkena penyakit kronis, Kayden tak bisa melepaskannya. Dia menyukai Lunara. Dia mulai merencanakan masa depan. Bahkan sempat berpikir, setelah lulus nanti, mereka akan putus lebih dulu, lalu dia akan kembali dengan identitas yang berbeda dan menjelaskan semuanya dengan jujur.
Jika Lunara tidak mau memaafkannya, dia akan memberinya banyak uang dan lebih banyak lagi cinta.
Setiap kali ada masalah, solusi Lunara selalu satu, yaitu uang.
Kalau tidak masuk kelas, tinggal sewa pengganti. Kalau tidak mau buat tugas, tinggal cari penulis bayangan. Bahkan mengambil paket pun menyuruh orang lain. Di matanya, uang bisa membeli segalanya.
Termasuk ketika Lunara berkata ingin berpacaran dengannya, sikap Lunara tampak begitu tinggi hari, seolah-olah dia sedang "membeli" Kayden. Padahal, sepuluh kali lipat harta Keluarga Angkasa pun tak akan menandingi satu tahun dana perwalian Grup Narasoma.
Namun pada akhirnya, malah Kayden yang diputuskan. Lunara pergi tanpa menoleh sedikit pun. Dia memblokir semua kontak Kayden, barang-barangnya dipindahkan, dan putus secara mendadak tanpa bersisa.
Kayden baru tahu setelah bertanya ke sana kemari bahwa Lunara sudah pergi ke luar negeri. Dia pergi begitu saja, tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Bahkan Theron pun tahu soal kepergiannya. Lunara sampai menjual akun gim yang sudah dia top-up habis-habisan dan perlengkapannya kepada Theron.
Kayden sampai tertawa sinis karena marah.
Jelas-jelas Lunara yang terlebih dulu mendekatinya, mengerahkan segala cara untuk menerobos masuk ke dunianya. Sekarang dia bisa pergi sesuka hati?
Benar-benar tidak masuk akal.
Siapa Kayden? Dia ini idola kampus Universitas Andara, pewaris Grup Narasoma. Sejak kecil, hidupnya selalu dikelilingi sanjungan. Dia tidak percaya Lunara akan benar-benar menghilang begitu saja.
Kayden mencarinya. Semua pesan yang dikirim tak pernah mendapat balasan. Dia bahkan sempat mengira Lunara mengalami sesuatu yang buruk, sampai-sampai berencana menggunakan koneksi Keluarga Narasoma untuk mencarinya.
Namun kemudian, dia mendengar Theron yang berbaring di ranjang sebelah, menjawab telepon dengan suara pelan sambil menutup mulutnya.
Telepon dari Lunara.
Pada saat itu, yang tersisa di hati Kayden hanyalah kebencian yang menjalar, nyaris ikut membakar dirinya sendiri dan meluluhlantakkan akalnya. Panggilan telepon itu seolah mengejeknya tanpa ampun. Setelah itu, tidak ada lagi yang menyebut nama Lunara.
Mengambil alih perusahaan memang sudah lama direncanakan. Kayden hanya tidak menyangka Lunara juga bekerja di perusahaannya.
Saat melihatnya, Kayden terpaku. Hidupnya sekarang tidak sebaik dulu. Namun alih-alih merasa puas, hati Kayden justru terasa seperti tertusuk duri, sesak dan tidak nyaman.
Lunara sudah menikah. Waktunya tepat setelah dia putus dengan Kayden.
Kayden bahkan mulai curiga, apakah Lunara terburu-buru memutuskan hubungan karena hendak menikah dengan pria lain? Bahkan sudah punya anak.
Dulu, Lunara sering berkata bahwa dia tidak suka anak-anak. Dia ingin menikmati dunia berdua terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan punya anak. Yang tidak disukai Luanra, mungkin adalah anak Kayden. Begitu hamil dengan benih pria lain, Lunara malah langsung melahirkan.
Hati Kayden seperti ditindih sebongkah batu besar. Yang tersisa hanya rasa sesak tanpa sebab yang jelas. Dia mengangkat kaki dan menendang kaki meja.
"Lunara, kamu memang hebat."
....
Pintu ruang kerja diketuk, Saphira masuk sambil membawa nampan makanan.
Tanpa bertele-tele dia berkata, "Kamu nggak suka Maeris? Aku lihat hubunganmu dengan Theron juga cukup baik. Aku sampai berpikir menjalin hubungan keluarga."
Kayden bahkan sudah berbalik dan pergi tanpa makan terlebih dahulu. Saphira pun merasa kasihan pada putranya. Kalau keluarga lain, banyak yang tidak akan tahan dengan sifat Kayden seperti ini.
Hubungan Saphira dan Kayden memang tidak terlalu dekat.
Sejak kecil, Kayden dibesarkan oleh kakek Keluarga Narasoma. Setelah dewasa, dia sibuk dengan urusan karier. Sejak Kayden memegang kendali selama beberapa tahun terakhir, auranya semakin tajam dan berwibawa. Saphira malah merasa agak segan pada putranya sendiri.
Kayden mengambil sendok dan menyuap satu suapan nasi. "Bukan nggak suka. Aku benci."
Kayden sudah terlalu sering melihat wanita seperti itu. Tatapan mereka penuh hasrat padanya dan begitu terang-terangan, dia merasa muak.
Tanpa sadar, pikirannya melayang pada sepasang mata lain. Tatapan yang dulunya lembut, kini terasa begitu dingin. Hati Kayden ikut mencelos.
"Kalau lain kali ada tamu di rumah, kasih tahu aku dulu."
Kalau ada tamu, dia tidak akan pulang.
"Apa maksudmu? Sekalipun nggak suka, setidaknya kamu hargai sedikit gadis itu!"
Saphira jelas merasa malu jika Kayden pergi begitu saja.
Kayden mengangguk ringan. "Mau pilih tamu atau pilih aku, terserah."
Amarah Saphira memuncak. Dia tidak bisa meluapkannya, juga tidak bisa memendam perasaan itu.
Setelah beberapa saat, dia berkata lagi, "Nggak banyak wanita yang sanggup menerima sifatmu ini. Maeris menyukaimu, kamu malah nggak senang?"
Kayden meletakkan sendok dan mengusap sudut bibirnya. "Ya."
Saphira mengangkat pandangan dan melihat bekas di leher Kayden. "Lehermu itu ...."
Bab 6
Kayden membuka laci dan merobek kemasan aluminium obat, lalu menelan loratadin di tangannya.
"Alergi."
Saphira mengakui, saat melihat bekas di leher Kayden, dia sempat mengira putranya akhirnya punya pacar, hanya saja tidak nyaman dibawa pulang.
Siapa sangka, ternyata alergi.
....
Saphira agak kecewa.
"Kayden, Maeris bilang dia ingin magang di perusahaan. Kamu atur saja."
"Suruh dia ikut prosedur. Kalau lolos wawancara, ya silakan."
Wajah Saphira langsung tidak senang. Dia tak kuasa mengeluh, "Maeris itu lulusan universitas ternama. Magang di perusahaan sendiri masih harus lewat prosedur segala? Kayden, kamu nggak bisa melonggarkan sedikit?"
Kayden mengangkat kelopak mata. "Nggak bisa."
Penampilan Maeris tidak buruk, latar belakang keluarganya juga sepadan. Apalagi dia sudah menyukai Kayden selama bertahun-tahun. Lalu, apa yang salah?
Saphira menatap Kayden. Semakin dilihat, hatinya semakin tidak tenang. Nada bicaranya pun meninggi,
"Kayden, jangan-jangan kamu ... suka laki-laki?"
Kayden menekan pelipisnya dengan lelah dan menahan diri sejenak sebelum berkata, "Aku pernah punya pacar perempuan."
Hati Saphira yang sempat terangkat pun jatuh kembali. Belum sempat dia bertanya lebih jauh, Kayden sudah menambahkan, "Kecenderungan sesama jenis biasanya diturunkan. Kalau kamu curiga sama aku, lebih baik tanya Ayah."
Saphira terdiam.
Apa-apaan ini!
Dengan sikap seperti ini, mau marah juga tidak pas, tidak marah juga rasanya tidak enak. Rasanya benar-benar menyebalkan.
Akhirnya, Saphira memilih untuk tidak ikut campur lagi. Dia merapikan nampan bekas makan Kayden dan pergi. Daripada terus tinggal di sini dan benar-benar dibuat mati kesal olehnya.
....
Keesokan harinya.
Kayden sudah berjanji pada sepupunya untuk menjemput anak hari ini. Baru saja mobilnya berhenti, dia langsung menarik perhatian para orang tua di sekitarnya.
Wajahnya menonjol, sepasang kaki panjangnya bersandar santai di mobil mewah. Posturnya elegan, auranya dingin dan tegas. Ke mana pun dia berdiri, Kayden selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan ada yang bertanya, apakah ada artis yang sedang syuting di sekitar sini.
Belum sempat bertemu keponakannya, yang datang malah seorang guru TK dengan wajah memerah dan malu-malu. "Permisi, apakah Anda wali murid atas nama Rupert? Dia sempat berselisih dengan salah satu murid kami, jadi kami perlu kerja sama dari pihak keluarga."
Kayden melepas kacamata hitamnya dan mengikuti guru itu masuk ke area sekolah.
Di halaman TK, seorang gadis kecil berbaju putih terduduk di tanah. Tangisnya lirih dan terisak pelan. Lengan putihnya dipenuhi goresan-goresan kecil. Keponakannya berdiri di samping, wajah tembamnya penuh keangkuhan.
"Daisy, aku mengajakmu main itu artinya aku menghargaimu! Kenapa kamu berani mengabaikanku? Jangan menangis, jelek sekali!"
Kayden mengerutkan kening dan melangkah cepat. Dengan satu tangan, dia mengangkat keponakannya yang masih berteriak-teriak. Sorot matanya dalam dan dingin. "Rupert, apa yang kamu lakukan?"
Begitu melihat Kayden, sikap garang bocah gendut itu langsung lenyap. Di tangan Kayden, dia tampak gemetaran.
Sebagai putra tunggal sepupu Kayden, Rupert tumbuh dimanjakan semua orang. Namun, satu-satunya orang yang benar-benar dia takuti hanyalah Kayden. Kalau pamannya marah, seluruh keluarga bisa terkena imbas.
Dari guru TK, Kayden mengetahui duduk perkaranya. Tidak lebih dari ulah si pembuat onar Rupert yang ingin bermain bersama Daisy. Daisy menolak, lalu saat jam pulang dia mendorong Daisy sampai bajunya robek.
Kayden membungkuk dan mengangkat Daisy dari tanah. Saat menatap mata beningnya, hatinya tiba-tiba melunak. Entah kenapa, anak ini terasa familier, bahkan menimbulkan rasa dekat yang sulit dijelaskan.
Suaranya pun tanpa sadar melembut, "Sakit nggak? Paman antar kamu ke rumah sakit."
"Mohon hubungi orang tuanya. Semua kerugian akan saya tanggung."
Angin bertiup pelan. Lunara yang bergegas datang, tidak menyadari bahwa orang yang menggendong Daisy adalah Kayden. Di matanya hanya ada putrinya yang sedang menangis.
Entah menurun dari siapa, sifat Daisy sangat pendiam. Bahkan saat menangis pun nyaris tak bersuara. Air matanya mengalir deras, membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba.
Sepasang tangan yang lembut merebut Daisy dari pelukan Kayden dan mendekapnya sambil menenangkan dengan suara halus, "Daisy, sayang, jangan menangis. Mama sudah datang."
Daisy bersandar di bahu Lunara, kedua lengannya melingkari leher ibunya.
Begitu Lunara melihat luka di lengan Daisy, pikirannya langsung terasa kosong.
Sistem imun Daisy jauh lebih lemah dibanding anak-anak lain. Dia terlahir dengan kekurangan trombosit dan gangguan pembekuan darah. Sekali terluka, proses penyembuhannya selalu jauh lebih sulit.
Begitu melihat putrinya terluka, sikap Lunara langsung mengeras. Dia menatap guru TK dan berkata tegas, "Apa yang terjadi sebenarnya? Saya perlu penjelasan dari pihak sekolah!"
Kayden yang berdiri di samping membuka suara, "Ini salah Rupert. Kami akan bertanggung jawab dan memberi ganti rugi."
Lunara bertubuh tinggi, tetapi kini jauh lebih kurus. Daisy tampak seperti boneka porselen di pelukannya.
Ini putrinya. Pantas saja dia merasa anak ini begitu familier.
Namun, ada perasaan aneh lain. Kayden selalu merasa anak ini entah kenapa cocok dengannya.
Melihat Kayden menatap Daisy, jantung Lunara mendadak berdebar keras. Seolah takut ada yang akan merebutnya, dia refleks menutup Daisy lebih rapat dalam pelukannya.
Lunara mengangkat kepala dan bertemu dengan sepasang mata hitam yang dalam. Tulang alis Kayden tampak tegas. Tatapannya tampak dingin dan menekan, tetapi setiap garis wajahnya sebenarnya rapi dan elok.
'Apakah anak laki-laki yang sering menindas Daisy ini anaknya?'
Tidak, anak itu bermarga Kinara. Atau jangan-jangan, Kayden begitu mencintai ibu anak itu sampai tidak peduli soal marga?
Perasaan cemburu menjalar di dadanya. Tangan Lunara bergetar tanpa sadar. Amarah seorang ibu yang melindungi anaknya pun membara. Dia menyahut tajam, "Ganti rugi?"
"Rupert sudah berkali-kali menindas putri saya. Bagaimana Pak Kayden ingin memberi ganti rugi? Dia sudah menimbulkan trauma psikologis yang serius pada anak saya!"
Ini bukan pertama kalinya Rupert mengganggu Daisy.
Kayden melirik keponakannya yang berdiri di sampingnya, menunduk tanpa berani bicara. Dia lalu berjalan lebih dulu ke arah mobil yang terparkir di luar.
"Masuk mobil. Kita ke rumah sakit."
Kayden tahu betul tabiat keponakannya. Melihat Lunara masih memeluk Daisy tanpa bergerak, dia mendesak, "Cepat."
Di dalam pelukan Lunara, Daisy sudah berhenti menangis. Napasnya masih terengah-engah dan wajah kecilnya memerah. Lunara tidak berani menunda. Dia langsung naik ke mobil Kayden dengan cepat.
Setibanya di rumah sakit, Lunara tidak banyak bicara. Sambil menggendong Daisy, dia langsung menuju poli pernapasan. Setelah serangkaian pemeriksaan, dia keluar dengan tangan penuh kantong obat.
Kayden mengikuti dari belakang dan membayar dengan kartunya. Dari sana juga dia tahu, putri Lunara memang benar-benar tidak sehat. Saat membayar, dia sempat melirik lembar rekam medis.
[ Nama pasien: Daisy Wikara. ]
'Nama belakang suaminya Wikara?'
Rupert jelas tidak menyangka. Dia mengira Daisy hanya menangis karena manja saat bermain di TK. Tak disangka, ternyata Daisy benar-benar sakit.
Kayden mengantar mereka pulang. Di perjalanan, setelah ragu beberapa kali, Rupert akhirnya memanfaatkan jeda lampu merah untuk menoleh ke arah Lunara dan Daisy, lalu meminta maaf dengan suara kecil.
"Maaf."
Lunara memalingkan kepala ke samping dan tidak menjawab.
Meski Rupert masih anak-anak, dia tetap marah.
Anak Kayden berharga, tetapi putrinya juga adalah harta karun.
Tubuh Daisy dirawat Lunara dengan penuh kehati-hatian. Jangankan terluka, bahkan menangis pun jarang dibiarkan. Kondisi kesehatan putrinya tidak boleh mengalami emosi yang terlalu bergejolak. Begitu teringat wajah Daisy yang penuh air mata dan mata membengkak saat dia tiba sore tadi, hati Lunara langsung terasa perih.
Melihat Lunara tidak menggubrisnya, Rupert menoleh ke Daisy.
Daisy mengedipkan mata ke arahnya.
Wajahnya cantik, seperti boneka porselen yang dipahat dengan halus. Jika fotonya diunggah, pasti akan dihubungi pencari bakat untuk jadi model anak. Di antara alis dan matanya juga terselip sedikit kesan blasteran.
Dulu, Lunara sempat heran dengan penampilan Daisy. Lalu teringat Kayden pernah mengatakan bahwa ibunya berasal dari luar negeri. Mungkin Daisy mewarisi gen itu secara turun-temurun. Itulah sebabnya raut wajahnya terlihat seperti anak campuran.
Tak jarang pula orang salah mengira ayah Daisy adalah orang asing.