Bab 1
Setelah delapan tahun kuliah di Jerman, akhirnya aku berhasil lulus dan siap kembali untuk mengambil alih perusahaan ayah.
Ketika tiba di lantai bawah Cakra Group, aku membuat pembaruan status.
"Kamu memang se spesial itu, baru pulang pun aku langsung menemuimu."
Namun, sesaat setelah sampai di perusahaan, rambutku dijambak oleh seorang perempuan, bahkan aku mendapat tamparan di wajah.
"Dasar wanita penggoda! Saat SMA kamu merayu pacarku, sekarang pacarku sudah jadi wakil presdir, kamu mendekatinya dengan nggak tahu malu!"
"Pukul dia! Aku akan bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu."
Aku digosipkan menggoda Bakti Rahadi, seorang direktur di Cakra Group. Beberapa orang yang lain memandangku dengan sorot dingin, bahkan bicara yang tidak-tidak tentangku.
Tas edisi terbatas tergores dan segel berharga yang diberikan ayah kepadaku dirusak olehnya.
"Dasar wanita mata duitan! Kamu beli barang palsu, aku bisa ganti rugi kalau cuma beberapa ratus ribu saja!"
Namun, dia tidak tahu bahwa semua barang milikku adalah asli.
Dia dan pacarnya yang seorang direktur tidak akan mampu memberikan ganti rugi meskipun mereka bekerja seumur hidup.
"Ayah, jangan khawatir, aku akan langsung menemuimu di kantor setelah turun dari pesawat."
Dua tahun yang aku habiskan untuk belajar meraih gelar master di Jerman adalah lima tahun yang paling tidak terlupakan dalam hidupku. Namun, aku akhirnya lulus dan kembali ke negaraku.
Melihat ke lantai 88 Cakra Group, ini adalah gunung yang dibangun ayah untukku.
Aku mengeluarkan ponsel dan memotretnya. Aku menambahkan lokasi, baru mengirimkannya ke statusku.
"Kamu memang se spesial itu, baru pulang pun aku langsung menemuimu."
Baru masuk ke aula, tiba-tiba aku mendengar ada laki-laki yang memanggilku.
"Lucia."
Aku menoleh, melihat sosok yang cukup familier. Namun, aku tidak ingat siapa orang itu.
"Kamu ...."
Wajahnya dingin dan nada bicaranya tidak menyenangkan.
"Nggak disangka sekarang kamu jadi seperti ini. Kamu datang jauh-jauh ke mari karena ingin menemuiku, tapi kamu malah pura-pura nggak mengenalku."
"Kalau aktingku berlebihan, nanti orang jadi nggak suka."
Setelah mengatakan itu, dia memiringkan kepalanya dan dengan percaya diri menyibakkan poni di dahinya.
Itu adalah gerakan yang familier dan aku langsung ingat siapa dia.
"Bakti?"
Seorang anak laki-laki yang sering menggodaku saat SMA.
Aku tidak ambil pusing dan hanya tersenyum tipis sebagai bentuk kesopanan, lalu bersiap untuk pergi.
Namun, dia malah menggandeng lenganku.
"Kamu tahu kalau aku sekarang sudah kaya, jadi kamu ingin kembali padaku, 'kan?"
Aku sedikit bingung, mencoba melepaskan lengannya yang menggandeng tanganku. Namun, dia menggandengku dengan erat dan menolak untuk melepaskannya.
Sebelum aku sempat memakinya, seorang wanita berambut panjang dan pakaian bagus mendorong pintu dan melangkah masuk.
Dia meneriakkan namaku, "Lucia, dasar wanita penggoda! Menjauh dari pacarku!"
Setelah mengatakan itu, dia mengayunkan tasnya ke wajahku.
Tanganku digandeng oleh Bakti, jadi aku tidak bisa menghindar dan hanya bisa menerima pukulan dari sisi kiri wajahku ini.
"Kamu ngapain, sih?"
Logam pada tas itu mengenai alisku dan hampir melukai mataku.
Entah kenapa aku jadi marah karena dipukul tanpa alasan begini.
Aku menginjak kaki Bakti, melepaskan diri dari pengekangannya dan langsung berteriak marah.
"Kenapa marah-marah nggak jelas begitu? Apa aku mengenal kalian? Yang satu bicara nggak jelas yang satunya lagi suka main tangan!"
Wanita di depanku terlihat lebih marah dariku. Dia berpakaian modis, tetapi wajahnya langsung muram karena tidak bisa berkata-kata.
"Mau pura-pura amnesia? Siapa yang nggak tahu kalau aku sudah beberapa tahun pacaran sama Bakti? Sekarang, kamu bilang nggak kenal denganku? Sekarang, aku akan tunjukkan kegigihanku dalam mempertahankan cintaku."
Dia melambaikan tangannya, membuat komplotan di belakangnya mendekat. "Teman-teman, sudah tiba waktunya untuk mempertahankan cintaku. Aku ingin memberitahu orang ketiga ini bahwa aku, Kinan, nggak sendirian dalam pertarungan ini."
Kinan?
Aku merasa nama ini sedikit familier, seperti nama temanku saat SMA.
Mendengar perintahnya, beberapa perempuan di belakangnya mulai menyingsingkan lengan baju dan mengepalkan tinju mereka.
"Ayo kita bantu Kinan mempertahankan cintanya."
Petugas keamanan dan karyawan yang ingin meredakan situasi pun menghentikan langkah mereka. Mereka berbisik, menatapku dengan sorot meremehkan.
"Cantik, sih, tapi dia wanita simpanan."
"Kamu nggak tahu saja, wanita yang berpenampilan cantik seperti inilah yang menghancurkan hubungan orang lain."
"Bikin malu orang tuanya saja!"
"Cepat rekam! Wajah wanita nggak tahu malu sepertinya harus disebarkan di media sosial biar tabiatnya terungkap. Dengan begitu, dia nggak akan bisa mengangkat kepalanya lagi dengan berani."
Perlahan, mereka mulai mengeluarkan ponsel dan merekam wajahku secara langsung.
Bab 2
Aku berteriak dengan sedikit cemas, mencoba membuktikan bahwa aku tidak bersalah.
"Aku nggak kenal mereka dan mereka menyebarkan rumor nggak berdasar!"
Kinan melangkah maju dan tidak mau kalah. "Mana mungkin ada wanita simpanan yang mau ngaku!"
Kinan menatapku dengan sombong, seolah-olah dia berada di tempat yang tinggi dan paling benar dalam menghakimiku.
"Semuanya, kalian dengar sendiri. Wanita simpanan akan dibenci oleh semua orang! serang dia!"
Di belakangnya, ada seorang perempuan yang melangkah maju dan menampar wajahku.
Aku menghindar secara refleks, tetapi perutku ditinju oleh Kinan.
Rasa sakitnya membuatku membungkuk dan mataku berkunang-kunang.
"Berani sekali kamu menghindar! Kenapa kamu nggak menghindar saat dirayu laki-laki?"
Aku menutupi perutku dan bertumpu pada lutut. "Pasti ada kesalahpahaman di sini. Hari ini aku datang ke Cakra Group karena ...."
Plak!
Kinan menjambak rambutku dan menampar sisi kanan wajahku.
"Nah, gini baru simetris! Puas sekali!"
Cengkeramannya pada rambutku cukup keras, memaksaku untuk menatapnya. "Hari ini kamu datang ke Cakra Group karena Bakti, 'kan? Sekarang, Bakti sudah jadi direktur di Cakra Group."
Matanya yang penuh amarah tertuju pada kalung yang melingkar di leherku.
"Sepertinya kamu bukan cuma wanita yang nggak tahu diri, tapi kamu juga wanita mata duitan."
Setelah itu, dia menarik kalung safir dari leherku dengan paksa.
"Pacarku nggak pernah kasih hadiah semahal ini untukku, tapi dia kasih kamu ini!"
Bakti memalingkan wajahnya dengan kikuk, tidak mencoba menjelaskan apa pun.
Tetesan darah keluar dari sudut mulutku dan pakaianku acak-acakan.
"Ini hadiah ulang tahun dari ibuku ...."
Kinan mendengkus marah, "Mana mungkin Ibumu yang tukang sapu jalanan itu mampu membelikanmu hadiah semahal ini ...."
Tubuhku terluka, aku bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berdebat.
Petugas keamanan merasa khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, jadi dengan hati-hati menarik Bakti ke pojok, mencoba membujuknya, "Pak Bakti, kalau sampai terjadi sesuatu yang nggak diinginkan di dalam gedung Cakra Group, Bapak juga akan repot sendiri nanti."
Bakti mengerutkan kening, hendak mengatakan sesuatu. Namun, Kinan memeluk lengannya dan bersikap manja.
"Sayang, jangan bilang kamu masih suka sama wanita sialan ini?"
"Kemarin kamu sudah janji sama ibuku kalau kamu hanya akan bersikap baik padaku seumur hidupmu."
Mata Bakti bergerak pelan saat mendengar ini, lalu menenangkan Kinan dengan lembut, "Jangan khawatir, sayang, aku nggak akan melupakan janjiku sama Bu Ratna."
"Kalau begitu kamu harus bilang sama Ibu, biar aku bisa naik dua tingkat lagi."
Kinan langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang, lalu menatapku dengan bangga setelah mendapatkan janji dari Bakti.
Bakti berkata kepada petugas keamanan di sampingnya, "Ini pasanganku yang asli. Kalau lain kali ada yang ngaku-ngaku, dia hanya iri dan mengada-ngada."
"Selain itu, apa kamu lupa siapa ibunya?"
Mendengar itu, petugas keamanan tidak bisa berkata-kata lagi.
Kinan berjalan ke arahku dengan bangga, "Nggak ada yang bisa menyelamatkanmu sekarang."
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada tas Chanel kecil yang tersampir di tubuhku. "Kamu beruntung karena aku nggak mempermalukanmu lebih dari ini."
"Ternyata kamu bawa tas palsu."
Tanpa sadar aku membalas, "Ini asli."
Kinan menengadahkan kepalanya dan tertawa, mengejekku sambil melihat teman-temannya di belakang, "Dia bilang ini asli, apa aku nggak salah dengar?"
"Mana mungkin anak tukang sapu jalan bisa punya uang buat beli Chanel."
Wajahnya berubah muram, lalu dia berspekulasi dengan jahat, "Kalaupun asli, kamu pasti bisa punya karena jadi simpanan laki-laki lain yang membelikannya untukmu."
Setelah mengatakan ini, dia hendak mengambil tasku. "Hari ini aku akan membuatmu mendapatkan karma. Aku akan membantu para wanita di luar sana mendapatkan hak mereka kembali karena kamu menggoda laki-laki mereka."
Di dalam tasku ada dokumen, serta hadiah untuk orang tuaku. Jadi, aku berusaha keras untuk melindungi tas itu.
Kinan yang tidak bisa merebut tas itu dariku pun menjadi marah. "Kalian, pegangi dia."
"Tas semahal ini, pasti ini satu-satunya tas mahal yang kamu punya."
"Kita rusak saja, jadi dia nggak akan bisa merayu laki-laki lain."
Sat mengatakan itu, matanya berbinar, seperti serigala lapar yang melihat mangsanya. Dia terlihat kalap.
Aku sendirian, jadi tidak bisa mengalahkan beberapa orang dari mereka, apalagi jumlah mereka sekitar belasan. Tiga orang memegangiku, membuatku hanya bisa melihat tasku direbut tanpa bisa melakukan apa pun.
Sekarang, aku tidak peduli lagi kalaupun bisa membuat ayah malu. Aku berteriak dengan keras.
"Aku putri presdir perusahaan ini."
Bab 3
Suasana jadi hening selama beberapa saat, lalu terdengar tawa penuh ejekan setelahnya.
"Apa aku nggak salah dengar? Dia berani berbohong dengan mengaku kalau dia putri presdir!"
"Apa kamu tahu sekaya apa presdir Cakra Group? Keberadaannya nggak akan bisa disamai oleh orang-orang seperti kamu bahkan dalam sepuluh kali kehidupan."
Bakti mengangkat alisnya ketika mendengar hal ini. Dia berjalan mendekat, memberi isyarat kepada Kinan untuk menyudahi semua ini.
"Lucia, ada batas kalau kamu ingin berbohong. Meskipun nama belakangmu Cakra, bukan berarti kamu jadi bagian dari Cakra Group."
Aku mencengkeram ujung rokku dengan erat dan berbicara dengan acuh, "Aku putri Ayah dan itu fakta. Aku nggak perlu bohong sama orang lain."
"Boleh saja kalau mau bohong sama orang lain, tapi jangan bohong sama diri sendiri."
Tatapan Bakti sedikit menunduk. Dia menunjuk ke arah Kinan, lalu bertanya padaku, "Katamu kamu putri presdir, jadi kamu kenal Kinan?"
Aku tidak tahu apa yang ada di kepala mereka, jadi aku berkata jujur, "Kalian temanku saat SMA."
Ekspresi Bakti langsung mengendur. "Kamu nggak kenal sepupumu sendiri, beraninya kamu bilang kamu putri Keluarga Cakra! Lain kali siapkan semuanya dulu dengan matang sebelum membohongi orang lain."
Aku terdiam. Ibuku anak tunggal, mana mungkin punya sepupu?
Mata Kinan sedikit berkilat, mencoba menghindar.
Seketika, aku paham segalanya.
Kinan berpura-pura tenang, menggenggam tangan Bakti dan berkata, "Bakti, jangan dengarkan omong kosongnya. Apa kamu lupa, ibunya itu tukang sapu jalan, kita lihat sendiri waktu itu."
Sejak tadi, Kinan sangat yakin kalau ibuku seorang tukang sapu. Jadi, aku bertanya, "Kenapa kalian seyakin itu kalau aku anak tukang sapu?"
Kinan mendengkus dingin dan melanjutkan sikap sombongnya.
"Saat liburan kelas 11, aku dan Bakti melihatmu di jalan sedang membantu ibumu menyapu jalan."
"Dia memanggilmu Nak, khawatir kamu akan kelelahan, nggak tega kalau kamu membantu menyapu jalan."
"Kalau bukan ibumu, mana mungkin dia akan sebaik itu kepadamu?"
Kelas 11?
Aku ingat, saat itu adalah tahun dimana ibu mengatakan bahwa aku sudah masuk SMA dan bisa terlibat dalam beberapa kegiatan perusahaan.
Setiap tahun, ibu melakukan kegiatan amal atas nama perusahaan, menyantuni para janda dan yatim piatu, mensponsori anak-anak yatim piatu untuk bersekolah, serta memberikan sarapan dan makan siang gratis kepada para petugas kebersihan.
Hari itu, angin berembus sangat kencang. Ibu-ibu tukang sapu kewalahan dalam menyapu jalan. Aku melihatnya belum makan, jadi aku memintanya untuk makan dulu.
Namun, dia sangat khawatir karena tugasnya membersihkan jalan masih belum selesai, jadi dia belum mau makan.
Jadi, aku mengambil sapu untuk menyapu agar dia bisa makan dulu, sementara aku menggantikannya menyapu jalan.
Awalnya ibu-ibu itu merasa tidak enak. Dia makan dengan lahap, ingin cepat-cepat menghabiskan makannya dan mengambil sapu dari tanganku. Dia juga berkata dengan sedih, "Nak, sudah, jangan diteruskan lagi, taruh saja sapunya di sana. Nanti bajumu kotor."
Sepertinya Kinan dan Bakti melihat kejadian ini, jadi mereka menganggapku sebagai anak tukang sapu.
Aku tertawa marah dan balik bertanya, "Meskipun aku anak tukang sapu, kalian nggak berhak menyerangku secara fisik.”
Tatapanku begitu tajam, menatap lurus ke arah Bakti. "Beginikah caramu bekerja sebagai direktur di Cakra Group? Kamu meremehkan orang miskin, menganggap orang miskin bisa diganggu sesuka hati?"
Dia sedikit lemas saat melihat tatapanku. Namun, dia menjawab dengan ledakan amarah.
"Kamu cuma anak tukang sapu jalanan, beraninya menceramahiku!"
Kinan mengeluarkan alat untuk merapikan alis dari dalam tas. "Beraninya kamu menceramahi pacarku. Hari ini aku akan membuatmu merasakan akibatnya."
"Laki-laki sebaik bakti itu hadiah dari surga."
Setelah mengatakan itu, dia mengedipkan mata memberi isyarat. Beberapa teman-temannya pun melangkah maju dan memegangiku.
"Gores tasnya, lalu gores wajahnya. Dengan begitu, dia nggak akan berani bertemu orang lain lagi."
Dia melangkah ke arahku dengan memegang alat untuk merapikan alis di tangan. Aku ditahan oleh beberapa orang, membuatku tidak bisa bergerak.