Bab 1

Istriku punya penyakit migrain bawaan dan setelah tiga tahun menikah, akhirnya aku berhasil mengembangkan obat khusus untuknya.

Sambil membawa kotak makan siang, aku bersiap pergi ke kantor istriku untuk mengantarkan obat ini langsung kepadanya.

Namun, setibanya di sana, aku malah disangka selingkuhan oleh sekretarisnya.

Dia menumpahkan isi kotak makanan di atas kepalaku, lalu merobek bajuku di depan umum, bahkan menginjak satu-satunya obat khusus yang aku punya.

"Seorang sopir, berani sekali memakai pakaian yang nggak pantas begini."

"Hari ini, aku akan tunjukkan padamu nasib yang pantas diterima oleh seorang selingkuhan."

Lalu dengan bangga dia melapor kepada istriku.

"Bu Nadya, aku sudah menyingkirkan sopir yang ingin menggodamu, apa hadiah yang akan kamu kasih padaku?"

Istriku punya penyakit migrain bawaan dan setelah tiga tahun menikah, akhirnya aku berhasil mengembangkan obat khusus untuknya.

Sambil membawa kotak makan siang, aku bersiap pergi ke kantor istriku untuk mengantarkan obat ini langsung kepadanya.

Namun, setibanya di sana, aku malah disangka selingkuhan oleh sekretarisnya.

Dia menumpahkan isi kotak makanan di atas kepalaku, lalu merobek bajuku di depan umum, bahkan menginjak satu-satunya obat khusus yang aku punya.

"Seorang sopir, berani sekali memakai pakaian yang nggak pantas begini."

"Hari ini, aku akan tunjukkan padamu nasib yang pantas diterima oleh seorang selingkuhan."

Lalu dengan bangga dia melapor kepada istriku.

"Bu Nadya, aku sudah menyingkirkan sopir yang ingin menggodamu, apa hadiah yang akan kamu kasih padaku?"

....

Aku dan tokoh utama perempuan sudah berteman sejak kecil. Dia menderita migrain yang diwariskan sejak kecil, dan demi dia, aku meninggalkan perusahaan keluarga dan memilih untuk belajar kedokteran.

Akhirnya, di tahun ketiga pernikahan kami, aku berhasil mengembangkan obat khusus untuknya.

Begitu sampai di rumah, aku tak bisa menahan kegembiraan. Aku langsung memasak dan menyiapkan makan siang spesial untuk istriku, dan akan memberitahunya secara langsung berita baik ini.

Sambil membawa kotak makan siang itu, aku berjalan lancar tanpa hambatan menuju gerbang utama Grup Suwandi.

Saat aku hendak membuka pintu kantor istriku, seorang pria tampan mencegatku.

"Siapa kamu?"

Dia berbicara dengan nada dingin dan memandangku dengan tidak bersahabat.

Aku mengangkat kotak makan siang yang aku bawa untuk menunjukkan padanya. "Aku membawa makan siang untuk Nadya."

Di depan orang lain, aku tidak suka menyebut Nadya sebagai istriku.

Dia menarik napas lega, dengan nada mengejek berkata, "Oh, ternyata sopirnya. Aku Jerry, sekretaris utama Bu Nadya."

"Berikan makanannya, dan kamu bisa pergi sekarang."

Aku menggeleng, dengan serius sambil berkata, "Aku bukan sopirnya, dan aku ingin menyerahkan makan siang ini langsung pada Bu Nadya. Tolong biarkan aku masuk."

Begitu aku selesai berbicara, pria itu malah marah, dan merampas kotak makan siang dari tanganku.

"Kamu ini siapa? Seorang sopir saja, berani-berani menggoda Bu Nadya."

"Dan pakaianmu juga nggak pantas. Hari ini aku akan ajarkan kamu cara berpakaian yang benar."

Setelah berkata demikian, dia segera menarikku masuk ke ruang rapat dan menutup pintunya. Sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah meninju wajahku.

Pipiku langsung bengkak dan aku terjatuh ke lantai.

Belum sempat aku bangkit, lagi-lagi sebuah tendangan mengenai kepalaku.

Obat khusus itu!

Tanpa memikirkan hal lainnya, aku membungkuk dan melindungi kantongku dengan sangat hati-hati.

"Aku mau lihat apa yang kamu bawa untuk Bu Nadya."

Jerry membuka kotak makan siang itu, lalu menumpahkan isinya di atas kepalaku.

Sup iga yang aku masak selama tiga jam. Kuahnya yang sangat panas, mengalir di rambutku dan menetes ke lantai.

Kulit kepalaku terasa panas sekali.

Namun, aku tidak berani mengubah posisiku, takut obat khusus di kantongku rusak.

Meskipun aku tahu cara membuat obat khusus ini, ada satu bahan yang sangat langka dan sudah punah, hampir tidak mungkin untuk mendapatkannya lagi.

"Wah, ada ayam kecap juga."

"Aku rasa kamu sendiri yang seperti ayam murahan ini!"

Pria itu mencengkeram kuat daguku, jarinya sedikit menekan, memaksaku membuka mulut.

"Kamu sangat ingin jadi ayam, ya? Makan saja ayam ini!"

Ayam kecap yang pedas itu dihantamkan ke wajahku.

Mata dan hidungku langsung terasa pedih, aku memekik kesakitan.

Jerry menepuk tangannya dengan ringan sambil merasa muak. "Benar-benar menjijikkan, terlalu berminyak. Hampir saja merusak jam tangan yang aku beli."

Lalu dia melihatku dengan tatapan menghina. "Kamu nggak benar-benar percaya kalau untuk mendapatkan hati wanita, kamu harus mulai dari perutnya, 'kan?"

"Orang seperti kamu, kenapa bisa suka sama Bu Nadya?"

Aku ingin menjelaskan, tetapi begitu membuka mulut, aku langsung terbatuk-batuk karena kepedasan.

Cabe itu masuk ke saluran pernapasanku sampai aku tidak bisa bicara sama sekali.

Tiba-tiba, pintu ruang rapat diketuk.

"Kak Jerry, ada suara apa di dalam?"

Bab 2

Aku menghela napas lega, berpikir aku sudah selamat.

Namun, Jerry hanya tersenyum sinis dan dengan santai membuka pintu.

"Pria ini berusaha merayu Bu Nadya, aku sedang memberinya pelajaran."

Beberapa sekretaris lain di depan pintu menatap dengan hina.

"Bu Nadya memang sangat luar biasa, makanya pria-pria hina ini terus berusaha merayunya."

"Tapi tenang saja, Kak Jerry, kamu sudah mendampingi Bu Nadya selama lima tahun, di hatinya cuma ada kamu."

Jerry mendengus dingin, "Itu sudah pasti."

Sambil berbicara, dia menatapku yang tergeletak malang di lantai, dengan penuh kebencian sambil mengejek, "Ada orang yang nggak perlu cari malu sendiri."

Dengan gemetaran aku mengeluarkan ponsel, berniat menelepon istriku.

Tiba-tiba Jerry menatap tajam ke ponselku.

Seketika, ponselku direbut.

Jerry melihat bagian belakang ponselku dengan mata penuh kebencian.

"Kamu terang-terangan sekali ya, beraninya pakai casing ponsel pasangan dengan Bu Nadya secara sembunyi-sembunyi."

Ponselku dihantamkan ke lantai, pecah berantakan.

"Pria penggoda!"

Bagaikan singa yang marah, satu tangan Jerry menarik rambutku, sementara satu tangan lainnya terus menghujaniku dengan pukulan.

"Awalnya aku mau melepaskanmu, tapi sekarang aku berubah pikiran."

"Orang seperti kamu, kalau nggak dikasih pelajaran, nggak akan ingat."

Aku tergeletak di tanah seperti kain lap yang tidak berguna.

"Teman-teman, pria ini berusaha merayu Bu Nadya, bagaimana kalau kita buka pakaiannya?"

Sekretaris-sekretaris lain langsung setuju, siap untuk melakukannya.

Aku merangkak dengan susah payah menuju pintu.

Tiba-tiba ada rasa sakit di telapak tanganku, ternyata Jerry menginjak tangan kiriku.

Rasa sakitnya begitu dalam sampai membuat aku menjerit kesakitan.

Beberapa pria lainnya segera maju dan menahanku.

Jerry berjongkok, memandang wajahku dengan penuh kebencian sekaligus puas, "Wajahmu memang tampan, tapi tenang saja, aku nggak akan menggores wajahmu sekarang."

"Karena sebentar lagi kamu akan dilucuti, aku akan foto dan sebarkan di internet."

"Kalau wajahmu sampai rusak tergores, orang lain nggak bisa mengenali kamu, si pria penggoda, itu nggak bagus."

Tubuhku gemetar. Akhirnya aku sadar dan berhati-hati mengeluarkan obat dari saku dan menyembunyikannya di sudut ruangan.

Jerry mengeluarkan gunting dan mulai memotong celanaku.

Aku melawan dengan sekuat tenaga, tetapi beberapa pria lainnya ikut memegangiku dengan keras.

Waktu terasa sangat lama, dan aku mulai putus asa.

Tidak lama kemudian, celanaku sudah terkoyak menjadi potongan-potongan, memperlihatkan pahaku yang ramping.

"Pria penggoda, pantas saja berani merayu Bu Nadya, ternyata memang ada sedikit modal."

Entah sejak kapan, banyak orang sudah berkumpul di luar pintu.

Meskipun sebagian besar hanya menonton dengan tatapan dingin, ada satu atau dua orang yang berani menegur Jerry.

"Kak Jerry, sudah cukup. Kalau sampai ada korban jiwa, Bu Nadya pasti akan sulit menjelaskannya."

Jerry tidak peduli. Dia menunjuk dahiku dengan jarinya. "Dia cuma seorang sopir, berusaha merayu Bu Nadya. Aku sebagai sekretarisnya harus menyelesaikan masalah ini. Bukankah itu tanggung jawabku?"

Orang itu masih ingin berbicara, tetapi Jerry dengan tegas menatapnya.

"Apa kamu yakin ingin berdiri di pihak laki-laki murahan ini dan melawan aku, orang yang dekat dengan Bu Nadya?"

Mendengar itu, orang tersebut ragu dan akhirnya tidak berani berbicara lagi.

"Kak Jerry, ini apa?"

Tiba-tiba, seorang sekretaris yang matanya tajam, berteriak sambil menunjuk obat yang aku sembunyikan.

Dengan tatapan tajam Jerry berjalan cepat ke depanku. Matanya terpaku pada obat yang tergeletak di tanah, seakan ingin membelah obat itu dengan pandangannya.

"Haha."

Jerry tiba-tiba tertawa, tetapi di balik tawanya itu, tatapannya yang kejam seakan-akan merobek tubuhku dalam sekejap.

"Nggak disangka, aku waspada terhadap wanita-wanita penggoda di perusahaan ini, tapi aku nggak bisa menghentikan sopir rendahan kayak kamu."

"Kalau kamu masih punya niat memberi obat kepada Bu Nadya, kamu benar-benar berani."

Dia menjenggut rambutku, namun kali ini dia bukan hanya menampar, tetapi membenturkan kepalaku ke dinding.

"Mati saja kamu!"

"Pria-pria yang berani merebut Bu Nadya dariku, harus mati."

Jerry kelelahan dan melemparkanku ke lantai.

Belum sempat aku bernapas, kepalaku mulai terasa sakit luar biasa.

Tanpa sadar aku membungkuk, tetapi tidak ada efeknya.

Telingaku mulai mendenging, pandanganku kabur, darah yang hangat mengalir dari pipi dan menetes ke lantai.

Di saat aku sudah tidak bisa bertahan lagi, aku berteriak.

"Aku suaminya Nadya!"

Bab 3

Ruangan menjadi sunyi sejenak.

"Plak!"

Namun, yang menyambutku bukanlah penyelamatan, melainkan tamparan lain dari Jerry.

"Kamu bilang kamu suaminya Bu Nadya, lalu aku ini siapa?"

"Aku sudah bersama Bu Nadya selama lima tahun, sudah mengenalnya sepuluh tahun, dan nggak pernah dengar kabar tentang pernikahannya."

"Dasar penipu, masih berani membohongiku?"

Aku meludahkan darah dari mulutku dan berusaha menjelaskan, "Kami berteman sejak kecil, aku benar-benar suaminya."

Mendengar nama Nadya disebut, beberapa sekretaris tampak khawatir dan hendak menghentikan Jerry.

Namun, Jerry malah mengangkat tangannya dengan acuh tak acuh.

"Tenang saja, aku orang yang paling mengenal Bu Nadya."

Dia memandangku dari atas ke bawah dengan penuh penghinaan.

Pakaianku yang robek tergeletak di lantai, seperti lap kotor.

Tidak ada jam tangan mahal di tubuhku, bahkan pakaian bermerek pun tidak.

Tas tempat aku membawa bekal makan siang pun hanya kantong kain yang biasa.

Jerry mencibir, "Lihat saja orang miskin di depan kita ini. Nggak ada satu pun barang bermerek yang dia pakai. Mana mungkin dia suami Bu Nadya?"

Aku berusaha menarik napas, tetapi melihatnya mengambil obat khusus yang aku bawa.

Perasaan tak enak mulai timbul di hatiku.

"Darah, dia muntah darah!"

Salah satu sekretaris mundur ketakutan.

Jantungku berdetak cepat, aku panik. Walaupun darah terus mengalir dari mulut, mataku tetap tertuju pada obat di tangannya.

"Kembalikan .…"

Aku mengangkat tangan dengan lemah, mencoba meraih apa pun, tetapi hanya merasakan darah yang makin deras keluar dari mulutku.

Jerry melirik ringan, sambil menegur sekretaris itu, "Kenapa panik? Cuma sedikit darah, nggak usah takut!"

Semua orang terdiam, tidak ada yang berani membelaku lagi.

Aku berusaha menopang tubuhku, dan berkata sambil memohon, "Tolong, kembalikan obat itu."

"Itu obatku … obat …."

Tidak ada yang bergerak untuk membantuku. Mereka semua hanya memandang dengan dingin, seakan ada rasa kepuasan tersembunyi dalam tatapan mereka.

Jerry memandangku diam-diam selama sepuluh menit, hingga aku tak sanggup lagi, dan terjatuh lagi ke lantai.

Baru setelah itu, dia mengambil telepon dan menelepon seseorang.

Aku pikir dia akan memanggil ambulans, tetapi yang terdengar malah suara Nadya.

"Ya, ada apa?"

Suaranya terdengar singkat dan datar, tanpa ekspresi.

"Bu Nadya, ada pria yang datang ke kantor untuk mengantarkan makan siang untukmu."

Ketika berhadapan dengan Nadya, sikap Jerry sangat berbeda dengan saat dia memukuliku. Suaranya dalam dan tenang, hampir terdengar seperti merayu.

Nadya terdengar tidak sabar, "Hal kecil seperti ini pun kamu laporkan, untuk apa aku menggajimu?"

"Urus saja sendiri."

Kemudian dia menutup telepon tanpa ragu.

Jerry tersenyum penuh kemenangan sambil melirik semua orang, "Dengar 'kan, Bu Nadya minta aku untuk mengurus ini."

Aku membuka mulut, berusaha meminta tolong, tetapi sudah terlalu lemah hingga tak bisa mengeluarkan suara.

Jerry melangkah mendekatiku dengan sepatu beralas tebalnya.

Tumitnya menginjak wajahku dan menekannya. "Dengan kondisi berdarah seperti ini, fotomu akan dianggap kekerasan berdarah oleh platform."

"Bersyukurlah, kali ini kamu lolos."

"Tapi sekarang, giliran wajahmu."

"Tanpa wajah ini, aku penasaran apa kamu masih bisa merayu Bu Nadya atau nggak."

Sambil berbicara, dia mengeluarkan cutter dari laci dan mendekatkannya ke wajahku.

Di tengah keputusasaanku, telepon Jerry tiba-tiba berdering.

Telepon Itu dari Nadya.

Jerry menjawab telepon.

"Aku butuh dokumen proyek Nandara yang dulu. Segera siapkan sekarang."

"Baik, Bu Nadya."

"Aku akan segera ke kantor ...."

Ketika Dendam Berbicara

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya