Bab 1

Setelah mendaki sampai ke puncak gunung, aku mengalami hipotermia.

Kedua teman masa kecilku yang pernah bersumpah untuk melindungiku dengan nyawa mereka malah sama sekali tidak melirikku. Yang satu sibuk mengeluarkan semua pakaian untuk membungkus tubuh Lucia, yang satu lagi sibuk menggunakan tubuhnya untuk menghangatkan Lucia.

Aku kedinginan sampai penyakit jantungku kambuh. Ketika aku memohon pada mereka untuk menolongku, mereka malah langsung murka.

“Chloe Winata! Kenapa kamu masih saja cemburu di saat-saat seperti ini! Kalau dingin, ya lari beberapa putaran sana!”

“Setelah pulang nanti, kami akan belikan kamu 100 jaket bulu. Tapi sekarang, kamu nggak boleh rebutan sama Lulu!”

Untungnya, ketika tim penyelamat tiba, aku berhasil diselamatkan meskipun nyawaku sudah di ujung tanduk.

Selama seminggu aku diopname di rumah sakit, mereka tidak datang menjengukku. Dari postingan sosial media, aku baru tahu bahwa mereka sibuk merayakan pesta ulang tahun Lucia.

Persahabatan belasan tahun ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan senyuman seorang putri sopir.

Aku pun menelepon ayahku. “Ayah, aku bersedia nikah sama putra Keluarga Januar.”

Baru saja aku selesai berbicara, pintu kamar rawatku tiba-tiba dibuka. Theo dan Jared yang sudah tidak muncul selama seminggu berjalan masuk.

“Pernikahan apa?”

Mereka berdua terlihat sangat garang. Sangat jelas bahwa mereka sudah mendengar percakapanku dengan ayahku.

Namun, aku malas menjelaskannya pada mereka. “Itu bukan urusan kalian.”

Aku membawa koperku dan hendak pergi. Namun, Theo dan Jared malah menghalangi jalanku. Theo yang memiliki temperamental meledak-ledak terlebih dahulu bersuara.

“Chloe, kamu lagi menggila? Dulu, kamu bilang kamu nggak mau menikah demi kepentingan keluarga. Demi mendukungmu dan tinggal di sisimu, kami bahkan menyinggung orang tuamu, juga melepaskan masa depan yang cerah. Sekarang, kamu mau berubah pikiran begitu saja?” bentak Theo tanpa menunjukkan belas kasihan.

Jared yang biasanya selalu bersikap lembut terhadapku malah tidak bersuara dan membiarkan Theo melampiaskan amarahnya.

“Kamu jangan diam saja! Macam kami yang lagi menindasmu! Kamu harus kasih kami penjelasan soal ini!”

Aku melirik Jared, tetapi dia malah menghindari tatapanku.

Dulu, situasi seperti ini sering terjadi. Theo memiliki sifat yang meledak-ledak. Begitu marah, dia akan langsung berteriak. Namun, setiap kali, Jared akan selalu mengadang di depanku dan membentak Theo dengan kasar. Setelahnya, Theo juga akan langsung menunduk dan minta maaf padaku.

Sekarang, Jared tidak bersuara, sedangkan Theo juga tidak menunduk.

Aku menarik napas dalam-dalam dan berujar, “Atas dasar apa aku harus kasih kamu penjelasan? Terserah aku mau menikahi siapa. Itu urusanku sendiri. Minggir, jangan halangi jalanku.”

Dalam sekejap, suasana di dalam kamar rawatku langsung menjadi sangat hening. Ketika Theo membelalak terkejut, Jared menoleh untuk menatapku.

“Chloe, apa kamu masih menyimpan dendam pada kami gara-gara kami memberikan semua pakaian kepada Lulu? Kamu sengaja ngomong begitu untuk buat kami marah?”

Aku pun tercekat.

Gara-gara mengalami hipotermia di puncak gunung, nyawaku berada di ujung tanduk. Setelah dirawat di rumah sakit dan kehilangan kesadaran selama tiga hari, nyawaku baru terselamatkan.

Namun, mereka malah hanya menyederhanakan masalahnya dan mengatakan bahwa aku mendendam pada mereka yang memberikan pakaian kepada Lucia.

Sebelum aku sempat berbicara, Theo sudah berseru marah, “Bukannya cuma beberapa pakaian? Ayo jalan! Kami akan belikan 100 dan bahkan 1000 pakaian untukmu sekarang juga!”

Theo menarik lenganku dan menyeretku keluar. Tubuhku yang masih belum pulih total pun bergerak dengan terhuyung-huyung. Baru saja dia menyeretku berjalan beberapa langkah, wajahku sudah langsung pucat pasi.

“Theo, lepaskan dia!” Jared tiba-tiba bersuara untuk menyela Theo.

Aku awalnya mengira dia akan menegur Theo dan melindungiku seperti dulu. Tak disangka, dia malah mengeluarkan sebuah kotak yang sangat kecil dari belakang tubuhnya.

“Kamu tahu Lulu punya latar belakang yang menyedihkan, ‘kan? Betapa sedihnya dia kalau kami nggak melindunginya pada waktu itu? Lihat, sekarang kamu juga baik-baik saja. Buat apa kamu permasalahkan hal sepele itu? Kami masih ingat ulang tahunmu. Ini kue yang kami belikan untukmu.”

Begitu kotak itu dibuka, terlihat sebuah kue murahan. Itu seharusnya adalah produk lama yang dijual dengan harga diskon di entah toko mana. Bahkan warna buahnya juga sudah berubah.

Sementara itu, di foto-foto yang diposting Lucia sehari lalu, kedua orang ini terlihat sedang memegang kue besar yang dipesan secara khusus dan memberikannya kepada Lucia dengan wajah penuh senyuman.

Selain kue ulang tahun, di belakang mereka juga terdapat 22 kotak hadiah. Itu adalah hadiah yang mereka siapkan untuk menggantikan hadiah yang tidak pernah diterima Lucia selama 22 tahun hidupnya.

Hatiku terasa hampa. Aku menepis tangan Theo, lalu mendorong kue yang disodorkan Jared.

“Terima kasih kalian masih ingat ulang tahunku. Aku sudah terima niat kalian.”

Aku alergi terhadap krim. Di setiap ulang tahunku sebelumnya, mereka selalu mengingat hal ini dan akan memesankan kue buah yang sangat besar tanpa menaruh krim sedikit pun. Mereka baru merayakan ulang tahun Lucia sekali, tetapi sudah sepenuhnya melupakan hal ini.

Tiba-tiba, ponsel Theo berdering. Setelah menjawabnya beberapa detik, dia melirik Jared dan berkata, “Lulu bilang dia mens dan perutnya sakit ....”

Bab 2

Jared membuang kue itu dan langsung pergi. Dia menoleh dan melihat wajahku yang pucat pasi.

“Chloe, kamu perlu waktu untuk introspeksi diri. Mau ngambek juga ada batasannya.”

Aku memang perlu mengintrospeksi diri. Dalam belasan tahun terakhir, apa aku sudah terlalu mementingkan kedua pria ini?

Perjalanan dari rumah sakit ke rumah terasa sangat panjang.

Sepertinya, sejak aku mulai memahami dunia, Theo dan Jared sudah berada di sisiku. Tidak peduli ke mana pun aku pergi, mereka tidak pernah meninggalkanku. Aku tidak pernah tinggal di rumah sakit sendiri selama seminggu penuh, apalagi pulang sendiri ke rumah.

Baru saja aku tiba di rumah dan membuka pintu, kesunyian yang menyambutku membuat hatiku tenggelam lagi.

Sejak umur 18 tahun, aku sudah pindah ke vila ini. Bayang-bayang mereka ada di mana saja.

Aku suka memelihara ikan. Ada sebuah akuarium besar yang cantik di dalam rumah. Aku menamai semua ikan yang ada di dalam akuarium tersebut. Dulu, Theo dan Jared selalu menertawakanku dan mengatakan aku seperti anak-anak. Namun, mereka tetap akan mencarikan ikan yang kuinginkan.

Ketika aku tidak berada di rumah, mereka yang akan sengaja datang untuk membantuku merawat ikan-ikan itu. Sekarang, belasan ikan kecil itu mengambang di air dengan perut menghadap ke atas. Mereka sudah mati.

Aku berdiri di depan akuarium dan menatap bangkai-bangkai ikan itu sambil termenung. Hatiku terasa sangat sakit.

Lima belas tahun. Sejak aku menginjakkan kaki di gerbang SD, aku sudah mengenal Theo dan Jared. Mereka memujiku secantik boneka dan mengatakan dengan kekanak-kanakan bahwa mereka ingin menjadi kesatriaku.

Konon, ucapan anak-anak tidak bisa dipercaya. Namun, waktu yang kami habiskan selama 15 tahun ini tidak bisa dipalsukan. Mereka benar-benar memperlakukan aku layaknya seorang putri raja.

Ketika aku ditindas orang di sekolah, Theo yang merupakan jagoan sekolah akan diam-diam berkelahi dengan orang yang menindasku di gang kecil belakang sekolah.

Meskipun seluruh tubuhnya dipenuhi luka, dia akan tetap berseru dengan arogan, “Coba saja kalau kalian berani menindas Chloe lagi! Aku akan hajar kalian sampai babak belur! Kalau nggak percaya, coba saja!”

Ketika aku gagal masuk di universitas yang sama dengan mereka dan menangis sejadi-jadinya, Jared yang merupakan siswa unggul rela melepaskan kesempatan untuk masuk ke universitas terbaik.

Dia memelukku sambil menghibur, “Dasar bodoh! Ke mana pun kamu pergi, kami juga akan ke sana. Mana mungkin kami tega meninggalkanmu sendirian?”

Aku kira, mereka benar-benar tidak akan mencampakkanku selamanya. Tak disangka, kemunculan Lucia setengah tahun lalu malah menghancurkan semua angan-anganku.

Ayahnya Lucia adalah sopirku. Setengah tahun lalu, ketika hendak menjemputku dari kampus, gejala dari penyumbatan pembuluh darah otaknya kambuh dan dia langsung meninggal di tempat.

Sejak kecil, Lucia sudah tidak memiliki ibu. Setelah kehilangan ayahnya, dia pun menangis hingga pingsan di aula rumah duka.

Aku merasa iba pada hal yang dialaminya. Aku pun memberinya sejumlah besar uang, juga mengizinkannya tinggal bersamaku. Aku membawanya ke berbagai tempat, menanggung semua biaya hidupnya, bahkan membawanya bergaul dengan Theo dan Jared.

Aku juga pernah memperingati Theo dan Jared untuk tidak menindas Lucia. Aku mengira Lucia adalah gadis yang kasihan dan lemah. Tak disangka, dia bagaikan sel kanker yang mematikan. Seperti parasit, dia melekat padaku dan menggerogoti semua yang kumiliki.

Aku memandang ke sekeliling dan ingin membuang semua barang Lucia. Namun, aku malah dikejutkan karena semua barangku di rumah ini telah digantikan.

Dari hal besar seperti latar belakang dinding sampai hal kecil karpet depan pintu. Semuanya sudah diganti dengan model yang tidak kusukai, seolah-olah aku barulah tamu di rumah ini.

Aku pun tersenyum pahit. Sudah saatnya aku menyingkirkan orang yang keberadaannya bagaikan virus ini.

Pada larut malam, tiba-tiba terdengar percakapan dari luar pintu.

Lucia berkata dengan nada menangis, “Aku iri banget sama Chloe. Dia punya kasih sayang dan perhatian kalian, sedangkan aku nggak punya apa-apa ....”

Theo menjawab, “Lulu, jangan berpikir begitu! Kami mengalah padanya karena kami sudah kenal terlalu lama. Kalau kami mengenalmu dulu, kami pasti memilihmu! Kamu lembut dan baik hati, sedangkan dia? Dia cuma bisa ngambek setiap hari! Dia kalah jauh darimu!”

Setelah terdiam sejenak, Jared juga berkata, “Lulu, dia nggak bisa dibandingkan denganmu.”

Bab 3

Setiap patah kata itu bagaikan pisau yang menyayat hatiku. Ternyata, rasa sakit bisa mencapai tingkat setinggi ini. Dalam sekejap, hatiku seperti sudah mati.

“Chloe, kenapa kamu ada di sini?”

Begitu membuka pintu dan melihatku, Lucia terlihat terkejut, seolah-olah aku barulah tamu tak diundang di rumah ini.

“Ini rumahku. Memangnya aku harus lapor sama kamu waktu aku pulang?”

“Bukan itu maksudku ....”

Lucia langsung menangis dan terlihat sangat kasihan.

Aku langsung melempar tas usangnya ke sisi kakinya. “Bawa barang-barangmu ....”

“Ah! Sakit sekali ....”

Dia tiba-tiba membungkuk dan menutupi jari kakinya.

Theo langsung melangkah maju dan mendorong bahuku dengan kuat. “Chloe Winata! Jangan keterlaluan kamu! Nggak peduli seberapa marah pun kamu, kamu nggak seharusnya menghantamnya dengan tas!”

Ketika aku terdesak mundur dengan terhuyung-huyung, Jared mengadang di depan mereka.

“Chloe, kalau kamu marah, lampiaskan amarahmu padaku dan Theo. Jangan targeti Lulu. Dia sudah cukup kasihan.”

Dia kasihan? Bagaimana denganku?

Apa yang mereka lakukan ketika aku mengalami hipotermia di puncak gunung? Ketika aku merasa kedinginan sampai penyakit jantungku kambuh. Ketika seluruh tubuhku terasa sakit sampai aku tidak berhenti gemetar. Ketika aku memohon pada mereka.

Mereka hanya terpikirkan untuk memeluk Lucia yang wajahnya merona merah dan terlihat segar.

Ketika aku tidak sadarkan diri di rumah sakit, Lucia tidak berhenti memosting foto di akun media sosialnya. Semuanya adalah foto mereka menemaninya makan dan bersenang-senang.

Kata-kata yang ditulis dalam setiap postingan Lucia itu juga sangat menusuk mata, seperti berterima kasih atas perhatian mereka, berterima kasih atas perlakuan istimewa mereka, berterima kasih atas segala sesuatu yang diberikan mereka.

Sebelumnya, semua itu adalah milikku.

“Lucia, kamu bukan cuma bergantung hidup padaku, tapi kamu akhirnya juga merebut orang-orang di sekitarku. Selanjutnya, apa kamu juga mau merebut orang tuaku?”

Aku yang baru keluar dari rumah sakit masih tidak sanggup menanggung guncangan seperti ini. Jantungku lagi-lagi terasa nyeri. Aku pun menutupi dadaku dan jatuh ke lantai.

Jared langsung membelalak. “Chloe!”

Theo juga menerjang ke arahku. “Chloe!”

Namun, sebelum mereka sampai ke hadapanku, Lucia sudah berseru sambil menangis, “Maaf! Aku nggak seharusnya muncul! Aku pantas mati! Aku bersalah! Siapa suruh ayahku itu cuma sopirmu! Dia mati karena nasibnya yang buruk. Itu bukan salah keluarga kalian!”

Lucia menangis tersedu-sedu sambil menutupi wajahnya.

Gerakan Jared yang mengulurkan tangannya ke arahku pun terhenti. Dia berbalik dan langsung memeluk Lucia dengan sakit hati. Dia yang jarang terlihat marah pun meledak.

“Chloe, kamu terlalu jahat! Kamu memang kaya dan punya latar belakang kuat. Tapi, itu juga bukan alasanmu untuk lukai Lulu seperti ini! Kamu cuma kedinginan sekali, sedangkan Lulu kehilangan ayahnya!”

Theo juga berseru marah ke arahku, “Cepat minta maaf sama Lulu!”

Jantungku terasa makin sakit. Rasa sakit itu membuatku hampir kehilangan akal sehat. Aku hanya bisa mengulurkan tangan ke arah Theo dengan terhuyung-huyung.

Theo dan Jared tahu aku mengidap penyakit jantung. Setiap kali penyakitku kambuh dulu, mereka akan merasa sangat cemas. Mereka bahkan pernah bersumpah tidak akan membuatku marah selamanya. Sekarang, Theo malah menepis tanganku dan menatapku dengan penuh waspada.

“Aku suruh kamu minta maaf, tapi kamu malah mau pukul orang?”

Jared memeluk Lucia yang gemetar ketakutan dan berujar, “Chloe, jangan pura-pura lagi. Meski dalam keadaan begini, Lulu juga cuma memarahi dirinya sendiri. Dia sama sekali nggak ngomong apa-apa tentang kamu. Jadi orang itu harus lebih baik hati.”

Aku tidak seharusnya mencoba untuk meminta tolong pada mereka.

Keinginan untuk bertahan hidup membuatku merangkak sampai ke depan sofa dengan susah payah. Aku membuka botol obat jantungku dan baru menyadari isinya kosong. Ketika pulang dari rumah sakit hari ini, aku lupa mengambil obat.

Aku meringkuk sambil menutupi dadaku. Sampai saat ini, kedua orang itu baru menyadari bahwa aku bukan sedang bersandiwara. Mereka hendak melangkah maju, tetapi Lucia malah menangis lagi. Ekspresi mereka pun seketika berubah.

Theo menunjukku dan berseru, “Mampus kamu! Kalau kamu nggak berhati sempit, jantungmu juga nggak akan sakit setiap harinya! Ini semua karmamu!”

Ketika Cinta Telah Mati dan Harapan Pupus

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya