Bab 1

Setelah Cassia menjadi sekretaris, sekaligus kekasih Navish selama tujuh tahun, kini pria itu malah bertunangan dengan wanita lain. Cassia merasa hatinya hancur dan berniat mengundurkan diri. Namun pada saat itu, Navish malah membatalkan pertunangannya di hadapan umum.

Di sebuah acara lelang, ketika semua orang mengira Navish akan melamar Cassia, sosok wanita yang disebut "cinta sejatinya" muncul.

Melihat wajah Cassia dan wanita itu yang sangat mirip, semua orang sontak berbisik menggunjingkannya. Pada saat itulah, Cassia akhirnya menyadari ... ternyata selama ini, dia hanyalah seorang pengganti.

"Cassia, kamu sudah 30 tahun, bukan anak muda lagi. Apa kamu benar-benar mau bekerja di perusahaan itu seumur hidupmu? Kalau belum mau menikah juga, pulanglah untuk ikut kencan buta. Tantemu mau ngenalin pria yang lumayan baik, bulan depan dia pulang dari luar negeri. Temui saja dulu, ya?"

Menjelang jam pulang kantor, Cassia menerima telepon dari ibunya.

Bukan pertama kali ini ibunya menelepon untuk mendesaknya menikah. Biasanya Cassia selalu ragu-ragu menjawabnya. Namun kali ini, dia langsung menyetujuinya.

"Baik, setelah aku mengundurkan diri, aku akan pulang tepat waktu."

Di seberang sana, ibunya terdengar terkejut. "Kamu pulang?"

"Iya, aku akan pulang."

Setelah menutup telepon, Cassia mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Namun saat itu, telepon internal di mejanya berdering.

"Masuk."

Begitu membuka pintu kantor, Cassia langsung melihat pria itu berdiri di depan jendela kaca besar.

Siluet tubuhnya sangat tinggi dan tegap. Hanya dengan berdiri saja, dia bisa memancarkan tekanan yang membuat orang terintimidasi.

Cassia melangkah mendekat dan Navish pun berbalik, lalu membisikkan kata-kata di dekat telinganya, "Malam ini, aku ke tempatmu."

"Aku nggak bisa malam ini," ucap Cassia sambil mundur selangkah.

Navish langsung menangkap pergelangan tangannya. "Menstruasimu masih sepuluh hari lagi."

"Aku ada janji bertemu klien." Cassia kembali menolak.

Pria itu mengulurkan tangan dan menarik lepas syal dari lehernya. Di balik syal, tampak bekas-bekas kemerahan, satu demi satu.

"Kamu tahu, aku nggak suka wanita yang nggak patuh."

Begitu kalimat itu dilontarkan, ciumannya jatuh bertubi-tubi. Cassia mengangkat tangan, tapi tidak mampu menolak. Dia membiarkan Navish mencium dirinya, tetapi hatinya terasa hampa.

Kemarin, saat dia mengantarkan dokumen ke bar tempat Navish berada, Cassia mendengar percakapan pria itu dengan sekelompok pria sosialita.

"Navish, dengar-dengar nenekmu mau menjodohkanmu. Jadi pacarmu itu gimana, dong?"

Navish menjawab santai, "Bagaimana lagi? Cuma teman tidur. Menurut kalian, apa aku harus menikahinya?"

Semua orang tahu, Cassia mencintai Navish dengan sepenuh hati. Saking cintanya, dia rela muncul kapan dan di mana saja saat Navish memanggilnya.

Namun, Cassia tidak pernah menyangka bahwa dirinya hanyalah seorang teman tidur di mata Navish. Di saat itulah, Cassia akhirnya sadar.

Navish mengantarnya pulang. Begitu pintu terbuka, dia langsung menekannya ke dinding dan menguasai setiap inci tubuhnya dengan paksa. Malam yang seharusnya menjadi malam penuh gairah itu, justru berubah menjadi siksaan batin.

Usai semuanya, Navish memeluknya dari belakang sambil duduk di tepi ranjang. Napasnya yang hangat dan berat menyapu telinga Cassia.

"Aku akan bertunangan."

"Mm." Cassia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia sudah tahu sebelumnya, apa lagi yang bisa dia katakan?

"Kamu nggak marah?"

Navish sudah terbiasa dengan reaksi Cassia yang seperti itu. Sejak hari pertama wanita itu bersamanya, dia tidak pernah melihat Cassia menunjukkan emosi. Dia selalu tenang hingga nyaris seperti robot. Seolah-olah semua hal dan orang tidak pernah menyentuh hatinya.

Cassia tahu batasan dan tahu kapan harus mundur. Yang paling penting, wajah dan tatapan matanya ... mirip dengan "orang itu". Itulah alasan utama Navish memilihnya.

"Nggak. Tidurlah. Aku capek." Cassia membalikkan badan dan menjauh darinya.

Navish memandang punggungnya yang kurus, lalu mengulurkan tangan dan kembali menariknya ke pelukan. Tubuh Cassia menegang. Dia menutup mata, tetapi tidak bisa tidur semalaman.

Pagi harinya.

Saat Navish bangun, Cassia sudah tidak ada di sisinya. Dia turun ke bawah, tetapi tidak melihat sarapan yang biasa disiapkan untuknya.

Biasanya setiap kali dia bermalam di sini, Cassia selalu menyiapkan pakaian kerja dan dasi yang akan dipakai ke kantor. Navish adalah orang yang pilih-pilih soal makanan. Steik untuk sarapannya harus berasal dari potongan daging yang paling segar.

Cassia biasanya bangun lebih pagi dan pergi ke pasar memilih daging sendiri, lalu buru-buru kembali dan memasak sebelum dia bangun. Namun pagi ini, Cassia tidak menyiapkan pakaian ataupun sarapan.

Bab 2

Saat Navish turun, Cassia sedang menyiram bunga di halaman. Dia mengenakan setelan kerja berwarna hitam dengan rambut tergerai rapi. Tangannya memegang penyiram tanaman dan di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis yang jarang terlihat.

Navish jarang melihat Cassia berpakaian seformal ini. Dia selalu lebih suka melihat Cassia memakai gaun. Sebab, ketika Cassia mengenakan gaun, rambut panjangnya berayun lembut dan penampilannya mirip sekali dengan "wanita itu".

Namun, Cassia tidak pernah tahu semua itu. Navish berjalan ke arahnya dan bertanya, "Sarapannya mana?"

Mendengar suaranya, Cassia meletakkan alat penyiram. Senyum di bibirnya langsung lenyap. "Aku nggak masak."

"Kenapa nggak masak? Kamu tahu 'kan, yang paling aku nantikan tiap pagi adalah sarapan buatanmu."

Navish mengernyit. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Cassia hari ini.

"Aku harus pergi ketemu klien. Nggak sempat. Minta saja pembantu yang masakkan." Cassia berbalik hendak pergi, tapi Navish menahan lengannya.

"Kamu pergi pakai baju ini?"

"Kenapa? Ada masalah?"

Cassia menoleh dan memandangnya. Dia tahu betul Navish tidak suka.

Namun, dia tidak peduli lagi. Yang penting baginya sekarang adalah dirinya sendiri. Dia tidak suka memakai gaun. Menurutnya, untuk kerja seharusnya berpakaian rapi dan profesional.

Hanya saja, Navish suka melihatnya memakai gaun, berdandan rapi, dan berpenampilan seperti boneka. Namun sekarang, dia tidak akan lagi menuruti Navish.

"Ada apa denganmu?"

Melihat perubahan sikap Cassia, nada bicara Navish mulai melembut.

"Kamu nggak suka aku mau tunangan, ya? Kamu tahu itu permintaan keluarga dan aku juga belum setuju, 'kan?"

"Kamu salah paham, Pak Navish. Kamu mau menikah dengan siapa itu hakmu. Lagian, dari awal kamu sudah bilang jelas, hubungan kita cuma soal seks, tanpa cinta." Dia menepis tangan Navish dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Sesampainya di kantor, Cassia mendapati sebuah kotak hadiah tergeletak di meja kerjanya. Seorang rekan kerja lewat sambil menggoda, "Bu Cassia, ada pengagum baru lagi nih yang kirim hadiah?"

Cassia tetap tenang saat membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah tas edisi terbatas. Itu adalah tas ketiga yang dia terima dalam beberapa waktu terakhir. Dia tahu pasti siapa pengirimnya. Hanya Navish yang bisa memberi hadiah tanpa pertimbangan seperti itu.

Setiap kali selesai tidur dengannya, hadiah-hadiah dari Navish akan muncul tepat waktu di meja kerjanya. Dia pernah mengatakan bahwa dia suka tas. Sejak itu, semua hadiah dari Navish hanya tas.

Entah beda warna dalam satu model, atau beda varian dari satu seri. Bahkan, tas yang sama persis juga dikirim berulang kali.

Dulu, Cassia selalu senang menerima hadiah darinya. Meski tahu Navish tidak pernah memilihkan hadiah dengan tulus, dia tetap merasa bahagia. Akan tetapi sekarang, dia sudah tidak peduli.

"Kamu mau nggak? Aku kasih ke kamu aja." Cassia memberikan tas itu ke temannya yang langsung girang dan memakainya dengan bangga.

"Serius? Ini edisi terbatas, lho! Bu Cassia, kamu royal banget, ya!" Dengan penuh semangat, rekan kerjanya memamerkan tas itu ke seluruh kantor.

Tepat saat itu, Navish keluar dari lift. Melihat tas yang diberikannya dipakai sembarangan oleh orang lain, darahnya langsung terasa mendidih.

Navish menarik Cassia ke dalam kantor. "Cassia, kamu ini kenapa? Waktu kita mulai hubungan ini, aku sudah bilang, orang yang akan kunikahi bukan kamu."

"Aku tahu." Cassia menjawab dengan datar, "Pak Navish, aku tahu semuanya."

"Kalau tahu, kenapa kamu bersikap begini?"

"Bukan apa-apa. Hanya saja ... tas yang sama persis, aku sudah punya tiga. Aku bosan. Nggak mau lagi."

Navish terdiam. Apa dirinya benar-benar memberikan tiga tas yang sama persis? Padahal semua itu tas terbaru, edisi terbatas, dan mahal. Dia mengira Cassia pasti akan menyukainya.

"Kalau begitu, lain kali aku kasih kamu yang lain."

"Nggak usah. Nggak akan ada lain kali lagi."

Cassia melirik jam tangannya. "Pak Navish, sekarang jam sembilan. Waktunya rapat."

Kemudian, dia melangkah keluar. Navish memandangi punggungnya yang menjauh dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Bab 3

Saat sedang menyiapkan dokumen rapat untuk Navish, Cassia merasa perutnya mulai sakit. Dulu, kalau sudah dalam kondisi seperti ini, dia akan terus menahannya.

Namun kali ini, dia langsung membuka aplikasi rumah sakit untuk membuat janji. Dia memutuskan untuk mengambil cuti dan pergi ke dokter.

Di ruang rapat, Navish sudah tidak bisa fokus.

Pikirannya dipenuhi oleh Cassia. Tatapannya yang tajam terus mengarah pada Cassia. Namun, sejak awal hingga akhir rapat, Cassia bahkan tidak melirik ke arahnya sekali pun.

Usai rapat dan memasuki waktu makan siang, Navish berniat mengajaknya keluar makan. Namun begitu mencarinya, Cassia ternyata sudah tidak ada di kantor.

"Mana Cassia?"

"Pak Navish, Bu Cassia nggak bilang ya? Dia ambil cuti siang ini."

"Cuti? Pergi ke mana?"

Cuti? Selama bertahun-tahun bersamanya, Cassia tidak pernah mengambil cuti sekali pun. Bahkan saat demam tinggi dan nyaris pingsan pun, dia tetap berada di posisinya dan tetap bekerja. Lalu sekarang tiba-tiba minta cuti? Selain itu, Cassia bahkan tidak memberi tahu dirinya?

"Nggak tahu, Pak."

"Selidiki. Cari tahu dia ke mana."

Di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Cassia mengalami gangguan lambung karena tidak makan dengan teratur dalam jangka waktu panjang.

Benar juga, selama bertahun-tahun menjadi budak kerja bagi Navish, dia hampir melupakan bagaimana rasanya makan dengan tenang.

Selesai dari rumah sakit, Cassia tidak langsung kembali ke kantor. Dia memilih mencari tempat untuk duduk santai sejenak.

Matahari siang menyinari jendela dengan hangat dan terik. Cassia duduk di dekat jendela sambil menyeruput kopi perlahan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia bisa menikmati secangkir kopi dan memandangi dunia luar dengan tenang.

Selama ini, dia telah menguras dirinya habis-habisan dengan mengikuti langkah Navish. Yang paling menyedihkan adalah, semua pengorbanan itu tidak berarti apa pun bagi Navish. Kalau begitu, mungkin memang sudah waktunya untuk mulai hidup demi dirinya sendiri.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Navish terpampang di layar. Cassia hanya meliriknya sekilas, lalu membiarkannya berdering tanpa menjawab.

Navish panik. Dia menelepon Cassia berkali-kali. Cassia merasa terganggu, lalu langsung mematikan ponselnya.

"Berani-beraninya dia menolak panggilanku! Cassia, kamu makin berani saja!" Begitu tahu ponselnya tidak bisa dihubungi, Navish hampir melempar ponsel ke dinding karena marah.

Selama tujuh tahun ini, ponsel Cassia tidak pernah dimatikan. Kali ini, ada apa sebenarnya?

Cassia menghabiskan sepanjang sore di kafe. Untuk pertama kalinya, dia merasa waktu sepenuhnya miliknya sendiri.

Saat hari mulai gelap, barulah dia menyalakan kembali ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan memenuhi layar.

[ Kamu ke mana? ]

[ Aku tunggu di rumahmu. Segera pulang. ]

[ Cassia, aku kasih waktu setengah jam. Segera kembali sekarang juga. ]

Pesan terakhir dikirim pukul tiga sore. Sekarang sudah jam enam.

Cassia memandangi pesan-pesan itu sambil tersenyum sinis. Hanya dari kata-kata itu saja, dia sudah bisa membayangkan betapa marahnya Navish sekarang. Dia berjalan-jalan sebentar, makan makanan kesukaannya, lalu pulang dengan santai ke apartemennya.

Ruangan apartemennya gelap gulita. Setelah menunduk untuk mengganti sepatu, Cassia menyalakan lampu dan melihat pria itu duduk di sofa.

Melihat Cassia baru pulang selarut ini, Navish langsung meledak.

"Kamu ke mana saja? Tahu nggak, sudah berapa lama aku menunggumu di sini?"

Tidak pernah ada yang berani membuatnya menunggu selama itu. Cassia adalah yang pertama dan ini adalah pertama kalinya terjadi.

Cassia tidak menjawab. Dia berjalan ke arah bar kecil dan menuang segelas air untuk dirinya sendiri.

Dulu, orang yang selalu duduk menunggu di sana adalah dirinya. Selarut apa pun Navish mengatakan dia akan datang, Cassia pasti akan selalu duduk menunggu di sofa.

Kalau dia bilang akan datang jam sepuluh, Cassia sudah mulai menunggu sejak jam enam. Kalau dia bilang akan datang esok hari, Cassia akan mengganti seprai dan bahkan menjemur selimut di luar sebelum meletakkannya kembali.

Namun sekarang, Cassia sudah lelah. Dia tidak akan menunggu Navish lagi.

Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya