Logo
Ketika Cinta Tak Memilihku
Ketika Cinta Tak Memilihku

Ketika Cinta Tak Memilihku

39 Bab
Tamat
Dalam novel modern Ketika Cinta Tak Memilihku, kecurigaan muncul saat suami dan kakak ipar pulang dari perantauan dengan gelagat tak wajar. Mengusung genre romance mystery, kisah ini mengungkap pengkhianatan tersembunyi yang bisa Anda temukan saat read novels online di platform kami.
Bab 1 dari Ketika Cinta Tak Memilihku

"Ayo, Buk. Buruan berangkat. Aku dah gak sabar pengen ketemu Bapak," Teriak bocah lelakiku yang masih berusia tiga tahun. Sudah sejak semalam anak itu terus menerus merengek, tak sabar ingin segera menjemput kepulangan Bapaknya di Terminal bus Pacitan.

Sudah dua tahun Mas Tirta merantau ke Malaysia, mengadu nasip untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil kami ini. Sejak Bagas baru berusia satu tahun, anak kecil itu harus rela berjauhan dengan Bapaknya. Mereka hanya sesekali bercengkrama lewat video call.

Lalu, tiga hari lalu. Ketika Mas Tirta mengabarkan kepulangannya, Bagas tiap saat selalu merengek. Bertanya kapan bapaknya akan tiba di rumah. Puncaknya adalah tadi malam, Mas Tirta memjnta kami untuk menjemput di Terminal bus.

Karena kebetulan, ia pulang berbarengan dengan Mbak Kirana, istri kakakku satu-satunya. Mas Catra. Yang setahun belakangan ini bekerja di Ibu kota. Entah karena apa, sebelum ia pergi ke sana, yang kutau sesekali terdengar pertengkaran antara mbak Kirana dan Mas Catra. Mungkin karena keadaan ekonomi yang belum stabil, hingga akhirnya Mbak Kirana memutuskan untuk bekerja di Jakarta.

Karena Mas Catra tidak mungkin Jauh-jauh dari rumah, keahliannya sebagai tukang kayu sering kali membuatnya kewalahan. Akibat saking banyaknya orang memesan meja kursi dan lainnya.

Maka hari ini, aku dan Bagas. Juga Mas Catra dan anaknya telah bersepakat untuk menjemput pasangan kami yang baru pulang dari perantauan. Kami meminta bantuan tetangga yang telah memiliki mobil, untuk mengantarkan kami ke Terminal.

"Ayo, Buk!" Suara Bagas lagi, ketika aku masih memasang cardigan dengan terburu-buru. Lalu segera menyusul bocah yang sudah bersemangat itu, menuju mobil di halaman.

"Pak De udah datang belum?" Tanyaku memastikan.

"Udah, kok. Tuh, Pak De sama Mbak Mega nunguin di depan." Tunjuknya ke arah luar, ketika tangan mungilnya kugandeng melewati pintu depan dan menguncinya.

"Mbak!" Anak lelakiku berseru. Berhambur ke arah Mbaknya yang hanya berselisih satu tahun saja. Sejak kecil mereka terbiasa main bersama karena rumah kami yang memang berdekatan.

Ia mendekat sepupunya yang sudah berlonjak kegirangan. Berebut masuk mobil ketika Pak Anding membuka pintunya.

"Pelan-pelan, masuknya gantian," Ucap Mas Catra. Pria penyabar itu terkadang menemani dua bocah balita ketika aku sedang repot, atau pergi ke pasar. Begitu juga jika Mas Catra sedang ada panggilan kerja, anaknya akan dititipkan di rumahku.

Saking seringnya bersama, membuat anak kami saling menyayangi satu sama lain. Seperti saudara kandung sendiri.

"Apa mereka sudah sampai di Terminal?" Tanya Mas Catra ketika kami sudah berada di dalam mobil yang melaju kencang. Sementara anak-anak kami berceloteh riang.

"Mungkin sudah, Mas. Emang Mbak Kirana ndak ngasih kabar?" Tanyaku pada Mas Catra. Ia hanya menggeleng, "cuma tadi pagi, katanya sekitar jam tiga sore nyampai terminal," Jawabnya langsung menunduk. Aneh sekali, istri pulang kok wajahnya ditekuk? Tanyaku dalam hati. Namun, tak sampai hati menanyakan. Mengingat, pertengkaran yang kerap terjadi di antara mereka.

Pikiranku kembali ketika benda pipih dalam tas berbunyi nyaring. Nama Mas Tirta memenuhi layar. Sebelum menekan tombol hijau, terlebih dahulu kuarahkan layar itu pada Mas Catra. Agar ia tau, yang ditunggu mungkin sudah tiba di terminal.

"Iya, Mas?" Sapaku pada suami di seberang telepon.

"Udah berangkat, belum? Aku sama Mbak Kirana udah di Terminal ini," Suara Mas Tirta timbul tenggelam karena riuhnya suara di sana.

"Iya, Mas. Kami sudah perjalanan, sebentar lagi sampai kok," Jawabku menenangkan Mas Tirta yang sepertinya sudah lelah. Perjalanan jauh mungkin saja membutuhkan untuk segera merebahkan badan.

"Ok. Tak tunggu, ya,"

"Iya, Mas," Jawabku menenangkan sebelum sambungan telepon itu terputus. Lalu menengok ke arah Mas Catra yang memasang muka penuh tanya.

"Mereka sudah sampai, Mas," Ucapku penuh semangat. Jadi tak sabar ingin segera bertemu dengan belahan jiwa yang telah sekian lama berpisah.

Mobil mulai memasuki gerbang tinggi bertuliskan Terminal bus kota Pacitan. Anak-anak langsung meloncat dari tempat duduknya, mengintip keadaan luar melalui kaca jendela mobil. Begitu semangatnya mereka menyebutkan satu persatu mobil dan bus yang dilihatnya. Maklum saja, anak desa yang baru beberapa kali menginjakkan kaki di daerah kota.

Apalagi, ketika mobil berhenti di depan orang dirindukan. Tangan mungilnya melambai-lambai dan berteriak memanggil orang terkasih. Pak Anding membuka pintu mobil, mereka langsung meloncat girang. Berlari menubruk masing-masing orang yang ditunggu kedatangannya selama ini.

Mas Tirta memeluk erat anak lelakinya, serta menciumnya beberapa kali. Lantas menatap ke arahku, ketika aku berjalan mendekat, dengan menerbitkan senyum manis penuh kerinduan mendalam.

"Mas," Ucapku. Mengulurkan tangan, menyalami dan menempelkan punggung tangannya pada hidung dan kening ini. Tak ada kata terucap, hanya memperlama menggenggam tangan kokoh itu. Mewakilkan sejuta ungkapan rindu mengungkung jiwa.

Apalagi melihat senyum pada wajah tegas berhias bulu halus tumbuh di dagu dan bawah hidung mancung. Wajah yang selalu membuat hati ini kian meleleh, enggan melirik yang lain. Ah, mungkin kedengarannya lebay. Tapi inilah aku, wanita setia sehidup semati. Semuanya hanya untuk dia seorang. Semuanya hanya untuk kebahagiaannya.

Iya, meski dari dulu sesekali Mas Tirta memperlihatkan sikap dingin dan datar. Namun, aku selalu luluh dengan rayuan maut ketika ia hendak meminta maaf karena telah membuat kecewa hati ini.

"Kamu, apa kabar?" Tanya Mas Tirta dengan suaranya yang khas di telinga ini.

"Seperti yang Mas lihat, aku baik. Apalagi ketika dengar Mas pulang," Sahutku tak kalah dramatis. Ia mengusap pucuk kepala berambut lurus sebahu ini.

"Kita makan dulu, apa langsung pulang, Mas?" Tanya Mas Tirta pada Mas Catra.

"Langsung pulang saja, kalian pasti butuh segera istirahat," Jawab Mas Catra yang langsung di setujui oleh suamiku.

Setelah membawa seluruh oleh-oleh mereka yang berupa tas besar dan kardus. Kami semua naik kembali ke dalam mobil. Pak Anding membawa kami melaju dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan pulang menuju rumah ini, aku melihat Mas Catra tak banyak bicara dengan istrinya. Meski baru ketemu setelah berpisah setahun lamanya.

Mungkin, mereka tidak terbiasa bermesraan di depan orang lain. Pikirku berusaha tenang. Meski sebenarnya ada yang sedikit mengusik kepala ini. Sejak tadi, Mas Tirta dan Mbak Kirana sesekali saling menatap dan tersenyum tipis, nyaris tak terlihat jika orang belum terbiasa di dekatnya.

Apa itu juga yang membuat Mas Catra enggan berbicara dengan istrinya? Ah, entahlah. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha menepis pikiran buruk yang bisa saja semakin memperkeruh keadaan.

Toh, tatapan mereka wajar. Tak ada yang aneh, mungkin hanya aku saja merasa aneh. Lagipula tak ada salahnya, jika kepada saudara ipar saling bertegur sapa. Tak ada larangan, bukan?

Kami turun ketika mobil berhenti di depan rumah. Lalu kembali berjalan mengantarkan mas istrinya pulang ke rumah yang terletak hanya dua ratus meter dari sini. Jarak lumayan dekat untuk ukuran dua bersaudara yang telah membina rumah tangga masing-masing.

Di sini aku sekarang, bercengkrama bersama anak dan suami tercinta. Setelah membedah semua oleh-oleh yang dibawa Mas Tirta, kami saling berbagi cerita tentang apa saja untuk melepas kerinduan ini.

Apalagi Bagas, jagoan kami. Tak henti-hentinya lengan mungil itu bergelayut manja di leher Bapaknya. Meski telah beberapa kali aku membujuk untuk melepas Bapaknya supaya bisa beristirahat, yang ada anak itu malah merajuk.

"Bagas, Bapak kan capek. Biar istirahat dulu, ya. Bagas main dulu sama robot barunya ini," Bujuk ku dengan menyodorkan robot baru dari Bapaknya. Akhirnya anak itu mengangguk. Melepaskan leher Bapaknya yang segera bangkit.

Gawai tak jauh dariku itu meraung, nampak ada tanda panggilan. Sekilas dapat terbaca tulisan di layar itu, bernama Kiran. Mas Tirta langsung menyambar gawai itu dan meminta ijin ke depan. Menimbulkan rasa penuh tanya dalam benak ini. Jika benar yang memanggil tadi adalah Mbak Kirana untuk apa?

Kenapa Mas Tirta harus menjauh dariku ketika mengangkat telepon darinya? Jika hanya sekedar bertanya kabar, bukankah dari jakarta mereka sudah satu kendaraan? Karena rasa penasaran, badan ini bangkit hendak memastikan apa yang dibicarakan.

***

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Bekas Pacar ( Indonesia )
Bekas Pacar ( Indonesia )
Zetaya trauma mencintai setelah gagal berumah tangga. Namun, Andaru, sang Bekas Pacar masa SMA, kembali muncul menawarkan rasa yang dulu ia hancurkan. Dalam romance novel ini, mampukah Zetaya menolak takdir atau justru terjebak kenangan? Baca selengkapnya di web novel modern ini.
Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
Dalam Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang, Cantika Putri dan Ardi Permana menjalani pernikahan penuh cinta. Namun, kehidupan mereka bersinggungan dengan Reza Dirgantara, seorang konglomerat di billionaire romance novels ini. Simak kisah modern novel ini tentang pilihan dan kesetiaan.
Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan
Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan
Dalam Mantanku yang Berhati Dingin Menuntut Pernikahan, Carrie memilih cerai setelah dikhianati. Namun, sang billionaire Kristopher justru menawarkan 40 miliar demi menikah lagi. Ikuti kisah romance modern ini di platform web novel kami untuk melihat kelanjutan takdir mereka.
Perumahan Bejo 23 The Series
Perumahan Bejo 23 The Series
Dalam modern novel Perumahan Bejo 23 The Series, setiap penghuni menghadapi konflik hidup yang tak terduga. Ikuti perjuangan mereka mengubah nasib dan menyelesaikan masalah dalam kumpulan romance stories ini. Baca selengkapnya di web novel yang penuh inspirasi dan hikmah positif ini.
Rahasia Susu yang Membuat Ayah Gila
Rahasia Susu yang Membuat Ayah Gila
Dalam novel romantis modern Rahasia Susu yang Membuat Ayah Gila, sebuah insiden di taman bermain berujung petaka. Seorang ayah dari teman TK putri protagonis memanfaatkan foto rahasia untuk memerasnya. Baca novel online menegangkan ini yang penuh dengan cerita misteri dan ancaman nyata.
Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan
Dalam novel modern Rahim Satu Miliar Milik CEO Arogan, Arsyana Quinshaa terpaksa menyewakan rahimnya demi melunasi hutang ayahnya. Ia harus mengandung anak Kelvin Daviandra, sang miliarder dingin. Temukan kisah perjuangan hidup penuh pilihan sulit ini dalam romance novel terbaru kami.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

[Dijuluki] Mencuri rasa manis dari masa muda Memetik Kenangan Indah di Masa Muda
[Dijuluki] Mencuri rasa manis dari masa muda Memetik Kenangan Indah di Masa Muda
Empat orang bertemu dalam perjalanan pertumbuhan mereka, menemukan persahabatan, dan bersama-sama mewujudkan impian-impian masa muda mereka dengan dukungan dan dorongan satu sama lain.
Amarah di Balik Duka
Amarah di Balik Duka
Seorang penulis, Sandra, tiba-tiba masuk ke dunia novel yang dia tulis sendiri. Untuk bertahan hidup, dia harus menyelesaikan misi dari sistem. Awalnya dia mengira, sebagai seorang penulis, menyelesaikan misi itu akan mudah. Tapi ternyata, sang tokoh utama pria, Jason, justru bisa mendengar suara hatinya. Sandra yang mau bertahan hidup dan Jason yang mau membongkar kebenaran pun menjalani kehidupan rumah tangga dengan saling adu cerdik.
Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Angin Bulan Punya Rasa, Rindu Tak Pernah Padam
Sepuluh tahun lalu, Iwan diselamatin Wiya. Sepuluh tahun kemudian, demi nolong Iwan, Wiya keturunan dewa ular nikah masuk keluarga Iwan dan melahirkan tiga telur. Tapi Iwan salah kira penyelamatnya itu Aisyah, adik angkatnya. Dia sama Aisyah malah maksa Wiya ikut main tebak telur.
Cinta di Hari yang Penuh Harapan
Cinta di Hari yang Penuh Harapan
Sejak kecil, Jeandra tertekan oleh keluarganya sendiri. Tanpa biaya kuliah dan menghadapi tekanan untuk menikah, dia memutuskan untuk melarikan diri. Dalam pelariannya, dia secara tidak sengaja menaiki mobil mewah milik Azkara, seorang CEO kaya raya. Dari situ, mereka bertemu karena "pertolongan". Kemudian, Jeandra dan Azkara secara tidak sengaja menghabiskan satu malam bersama, dan roda kehidupan kembali menyatukan mereka.
Putriku Tak Tahu Pengasuhnya Adalah Ibunya
Putriku Tak Tahu Pengasuhnya Adalah Ibunya
Nicole kehilangan kebebasan, anak, dan cintanya saat dijebak. Tujuh tahun kemudian, dia kembali sebagai pengasuh di rumah yang menghancurkannya. Ethan, mantan tunangannya, mulai tertarik pada sang pengasuh baru tanpa tahu itu Nicole, sementara Lila, putri mereka, perlahan menyatukan mereka kembali.
Antagonis yang Menggemaskan
Antagonis yang Menggemaskan
Jihan Sanjaya terlempar ke novel 1980-an sebagai mantan istri jahat konglomerat cacat yang tewas tragis. Terikat "Sistem Figuran Antagonis", dia harus kejam untuk pulang. Tak takut, Jihan mulai hidup penuh keangkuhan. Tapi tak sadar, keluarganya mendengar isi hatinya! Malah mereka semakin kompak, dan suaminya yang cacat kini bisa berdiri dan setia padanya!