Bab 1

Suamiku hanya bertahan satu menit setiap kali berhubungan badan. Sebagai wanita dewasa berusia 30 tahun, aku selalu merasa ada yang kurang saat malam hening menjelang.

Sampai suatu saat, aku bertemu dengan seorang montir yang bertubuh kekar. Melihat otot-otot di balik kausnya, hasratku langsung bangkit dalam hati. Sentuhan mesra dengannya membuatku tidak bisa menahan diri. Namun pada akhirnya, aku mendorongnya menjauh agar tidak melakukan kesalahan.

Hanya saja tak kusangka, ternyata suamiku telah berselingkuh dengan wanita hamil di seberang rumahku. Kalau begitu, bagaimana kalau aku juga ....

[ Sayang, mobil di rumah sudah rusak. Kalau kamu ada waktu luang hari ini, bawa ke bengkel untuk perbaiki ya. ]

Saat sedang mengerjakan pekerjaan rumah, aku menerima sebuah pesan dari suamiku, Bernard.

[ Oke, Sayang, kalau begitu aku pulang agak terlambat ya. ]

Setelah mengambil kunci mobil, aku pun meluncur ke bengkel terdekat dari rumah.

"Permisi, ada orang di sini?" tanyaku begitu sampai di bengkel. "Mesin mobilku ada masalah, perlu diperiksa dan diperbaiki."

Tidak ada yang menjawab.

Karena cuaca yang panas, aku mulai kehilangan kesabaran dan bergumam pelan, "Bengkel apa nggak ada orangnya begini ...."

"Siapa yang bilang nggak ada orang? Memangnya aku bukan orang?" Saat aku hendak pergi, tiba-tiba terdengar suara yang berat dari belakangku. Namun saat aku menoleh, tak ada siapa pun di sana.

"Di sini." Suara itu kembali terdengar. Aku melihat seorang pria bertubuh kekar muncul dari bawah mobil yang rusak, bajunya kotor penuh oli.

Wajahku seketika memerah. Bukan karena apa-apa, tapi karena montir ini memancarkan aura maskulin yang luar biasa!

Tampaknya, demi mempermudah kerjanya, pria tampan ini hanya mengenakan kaus dalam putih yang ketat dan menonjolkan otot-ototnya yang jelas terlihat.

Keringat mengalir di kulitnya yang berwarna kecoklatan, meresap ke dalam kaus yang basah di bagian dadanya, hingga menciptakan pemandangan yang menggoda. Dia membuka sebotol air mineral dan meneguknya dengan cepat, membuat jakunnya naik turun setiap kali dia minum.

Mataku bergerak turun melihat celana pendek abu-abunya yang penuh noda oli. Namun, itu tidak bisa menyembunyikan otot-otot kakinya yang besar dan kuat. Penampilannya memberikan kesan bahwa dia adalah tipe pria yang luar biasa di atas ranjang.

Sepertinya jauh lebih baik dibandingkan suamiku, Bernard.

Mungkin karena cuaca yang terlalu panas, atau mungkin karena Bernard sudah lama tidak memenuhi kebutuhanku, entah mengapa saat ini aku malah merasa darahku berdesir di hadapan montir yang kotor ini.

Perasaan menggelitik mengalir ke seluruh tubuhku. Wajahku memerah dan aku hanya bisa berdiri di samping mobil sambil merapatkan kakiku.

"Bu, radiator mesin mobil ini ada sedikit masalah. Coba kucek dulu, ya."

"Oh, iya, silakan," jawabku tergagap.

Saat dia membungkuk mengambil peralatan, bokongnya yang kencang dan berisi terlihat jelas, membuat siapa saja yang melihat ingin menyentuhnya.

Aku mencubit pahaku sendiri keras-keras agar sadar kembali. "Ingat, kamu sudah nikah!"

Sejak menikah dengan Bernard, aku menjadi ibu rumah tangga dan hidup sebagai istri yang dianggap beruntung oleh banyak orang. Namun yang tidak diketahui orang lain, menjadi istri orang kaya juga punya masalah sendiri, yaitu Bernard tidak bisa memuaskanku dalam urusan ranjang.

Ada banyak sekali malam-malam ketika Bernard tidak ada di rumah, aku harus mengandalkan mainan kecil atau merangsang diri sendiri untuk mengatasi hasratku. Kata orang, birahi wanita di usia 30 sampai 40-an memang sangat tinggi. Aku baru saja berusia 30 tahun dan sedang berada di puncak kebutuhanku.

Bab 2

Namun, Bernard hanya pulang seminggu sekali. Selain itu, durasi setiap kali berhubungan juga tidak pernah lebih dari satu menit. Semuanya selalu berakhir dengan tergesa-gesa. Aku tidak pernah merasa nyaman sedikit pun.

Setiap kali, aku harus memikirkan perasaannya dan menjaga egonya dengan sengaja mendesah manja. Aku selalu berpura-pura mencapai klimaks agar tidak melukai harga dirinya.

Setelah kap mesin mobil dibuka, montir itu masuk ke dalam bengkel untuk mengambil alat pemeriksaan.

Sembari menunggu, aku memperhatikan ada sebuah tangki air putih di samping mesin mobil yang tampak mengeluarkan uap panas dan tutupnya juga hampir terangkat. Untuk mendinginkan mesin, aku berjalan ke arah tangki itu dan membuka tutup kecilnya.

"Awas!"

Seketika, sebuah bayangan hitam memelesat ke arahku dan menjatuhkanku ke lantai. Tangki air itu tiba-tiba meledak dan menyemburkan air panas yang mendidih selama hampir satu menit sebelum berhenti.

Aku masih terkejut dengan kejadian mendadak itu. Sampai ketika montir itu membantuku bangun dari lantai, barulah aku tersadar kembali.

Untuk melindungiku, cairan pendingin yang mendidih itu menyembur ke lengannya. Melihat kulit lengannya yang melepuh, aku meminta maaf kepadanya dengan suara yang hampir menangis, "Maaf, aku nggak sengaja .... Aku cuma lihat tutup itu terus mengeluarkan uap ...."

Namun, dia terlihat acuh tak acuh dan berkata, "Luka ringan begini bukan masalah besar. Tapi, aku butuh bantuan untuk mengoleskan obat, Kak."

Pria di depanku tersenyum penuh pesona. Dia terlihat berusia sekitar 20-an. Dilihat dari penampilannya, memang tidak salah jika dia memanggilku kakak.

Aku pun mengikutinya naik ke lantai dua. Yang kulihat adalah sebuah kamar yang tertata rapi dengan udara yang masih memancarkan aroma sabun yang segar. Sepertinya dia tipe pria yang suka kebersihan, dan entah bagaimana aku merasa semakin terkesan padanya. Namun, tanpa aku sadari, pria di belakangku diam-diam mengunci pintu.

"Kak, tanganku terluka, jadi aku nggak bisa mandi sendiri. Apa Kakak mau bantu aku?" Montir itu tiba-tiba mendekat dan membuatku terpojok di tepi ranjang. Napasnya yang panas menyentuh wajahku.

"Kamu ... apa maumu?"

Aku menutupi dada yang berdebar kencang dengan kebingungan. Namun dalam hati, timbul perasaan samar-samar yang menantikannya. Apakah dia benar-benar ingin aku membantunya mandi? Melihat tubuh kekarnya, mungkin aku tidak akan menolak jika saat ini aku masih lajang.

Namun, sebelum aku bisa mengucapkan penolakan, dia malah tertawa terbahak-bahak. "Kak, kamu lucu sekali. aku cuma bercanda, masa kamu serius?"

"Lagi pula, mana mungkin aku nyusahin Kakak untuk melakukan hal seperti itu?" Entah itu hanya perasaanku atau bukan, tapi sepertinya dia sengaja menekankan beberapa kata terakhir.

Aku menghela napas panjang, tidak tahu apakah aku merasa lega atau malah kecewa.

"Namaku Josh, Kakak panggil aku Josh saja." Saat berbicara, Josh tiba-tiba melepaskan kaus ketatnya dan berjalan menuju kamar mandi kecil di samping dengan bertelanjang dada.

Kamar mandi itu hanya dipisahkan oleh tirai setengah transparan. Dari sudut pandangku, tubuh Josh terlihat samar-samar di balik tirai sehingga menambah kesan sensual.

"Kak, aku lupa bawa celana pendek. Bisa tolong ambilkan?" Dengan wajah memerah, aku mengambil sehelai celana pendek yang tergeletak di atas ranjang dan memberikannya.

Entah sengaja atau tidak, Josh menggunakan jarinya untuk menyentuh telapak tanganku. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuh yang tadi sudah berhasil kutenangkan, tiba-tiba kembali bergairah karena ulahnya sehingga membuat dadaku terasa semakin sesak.

Bab 3

Demi meredakan gejolak dalam hatiku, aku mengulurkan tangan dan diam-diam melepaskan pengait bra-ku selagi Josh masih berada di kamar mandi. Namun sebelum aku sempat mengaitkannya kembali, Josh malah sudah keluar.

Yang membuatku semakin canggung adalah, dia malah mengenakan celana dalam yang setengah transparan. Celana dalam itu adalah celana yang kuberikan padanya tadi. Bahkan lebih parah lagi, kejantanannya yang menggunung itu membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan.

"Nggak kusangka Kakak suka tipe yang begini ya." Josh tertawa sambil berjalan ke arahku.

....

"Nggak ... bukan begitu. Aku cuma ambil seadanya dari atas ranjang ...."

Aku benar-benar hanya mengambilnya secara acak dari atas ranjang tanpa berniat buruk sama sekali.

"Kak, saatnya bantu aku olesin obat, ya?"

Josh duduk di kursi sandar dengan kakinya yang terbuka, bagaikan malaikat yang baru saja selesai mandi dan menunggu untuk dieksekusi manusia. Aku mengambil sebuah salep, lalu berjalan ke arahnya dengan wajah merona.

"Mungkin bakal agak sakit, tahan sebentar ya."

Aku membungkukkan tubuh, mengambil sedikit salep putih dengan sendok kecil, lalu perlahan-lahan mengoleskannya di lengannya yang merah dan bengkak.

"Wangi sekali, Kak."

"Wangi ya?" Aku mencium salep itu, tetapi tidak merasa ada wangi yang Istimewa.

"Maksudku, Kakak yang wangi."

Pada saat ini, aku baru menyadari tatapan Josh yang aneh, bahkan ada semacam perasaan agresif, seolah-olah dia ingin menelanku bulat-bulat.

Yang lebih memalukan lagi, aku baru sadar bahwa kait bra-ku lupa dikancingkan. Ditambah dengan gerakanku yang membungkuk, tatapan Josh seakan-akan menyulutkan hasrat ke dalam tubuhku.

Aku merasa wajahku memerah karena malu. Dengan panik, aku berusaha mengaitkan kembali bra-ku. Namun karena gugup, gerakanku semakin kikuk hingga aku tidak berhasil mengaitkannya.

Detik berikutnya, Josh berdiri memegang pundakku, lalu dia membenamkan wajahnya di belakang leherku dan berbisik dengan napas yang terasa panas, "Kak, sini kubantu."

Tangannya meluncur dengan cepat ke punggung dalam bajuku.

"Su ... sudah terkancing?"

Pria itu tidak menjawabku. Namun, gerakan tangannya mulai merajalela. Jemarinya yang dingin menyentuh tulang belikatku dan menyusuri pinggangku.

"Kak, kulitmu mulus sekali."

Sambil menggigit bibirku, otot di punggungku mulai menegang karena berusaha menahan desahan. Saat aku hendak melepaskan diri dari cengkeramannya, dia malah memegang tanganku untuk menyentuh bagian bawahnya.

Sekujur tubuhku bagaikan terbakar. Aku ingin menarik kembali tanganku, tapi dia malah menekannya kembali.

"Kak, kamu tega biarin aku menahannya?" Suaranya terdengar semakin berat. "Lagian, Kakak juga sebenarnya mau, 'kan?"

Josh menyibak rok ketatku hingga ke pinggang, lalu menjulurkan tangannya dengan lincah ke dalam.

"Jangan ...." Akal sehatku sudah hampir hancur.

"Kak, kamu sudah basah, lho." Josh mengeluarkan tangannya dan melambaikannya di hadapanku. Tawanya tampak seperti seekor rubah yang sedang mencari mangsanya.

Rasa malu dan tegang menyelimuti diriku seketika. Namun yang tak kusangka, Josh malah menjulurkan lidahnya untuk menjilat ujung jarinya untuk memprovokasiku.

"Rasanya lumayan."

Suaranya seolah-olah meledak di samping telingaku. Pandanganku seketika menjadi kabur karena terbuai nafsu.

Seakan-akan memahami maksudku, Josh menembus pertahananku yang terakhir sambil tersenyum. Tubuhku juga akhirnya mendapatkan pembebasan ....

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B97840" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B97840
Salin

Kesetiaanku Dibalas Pengkhianatan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya