Bab 4
Stella bangun lebih pagi dari biasanya di hari ulang tahunnya, lalu memilih gaun putri kesayangannya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pada David sejak tiga hari sebelumnya, tapi tidak ada balasan sama sekali.
Stella baru saja selesai memainkan sebuah lagu di piano, lalu menoleh padaku dengan penuh harap.
Dia sudah menyiapkan diri untuk memainkan lagu twinkle twinkle little star yang diajarkan David tahun lalu padanya dan beberapa hari ini dia selalu beratih berkali-kali.
Namun, hanya satu tatapan di antara kami, seolah dia pun mengerti semuanya.
Bocah kecil itu pun menunduk, lalu perlahan menutup tutup piano.
“Ayah sibuk, nggak sempat datang.”
Stella membuka kotak kue, memotong sepotong kue kecil.
“Ibu, nggak apa-apa. Kita bisa dapat lebih banyak kalau hanya makan berdua.”
Ketegaran hatinya yang dipaksakan itu, serasa menusuk dadaku dalam-dalam.
Tiba-tiba, aku merasa begitu tak berguna. Bahkan tak mampu memenuhi satu keinginan kecil putriku.
Aku menarik napas, lalu kembali membuka ruang obrolanku dengan David.
[Stella hanya ingin merayakan ulang tahun sekali ini saja bersamamu.]
[Kamu bahkan nggak bisa memenuhi keinginan sekecil ini?]
Lima menit kemudian, terdengar suara notifikasi.
[Kalian mulai saja dulu, aku bakal rayakan ulang tahun susulan untuk Stella.]
Belum sempat aku marah, pesannya langsung ditarik, kemudian dia mengirim satu pesan baru.
[Aku ke sana sekarang.]
Bab 5
Mataku langsung berbinar dan meraih Stella ke dalam pelukanku.
“Om David ingat! Dia bakal datang sebentar lagi!”
Seketika, Stella langsung ceria kembali dan membuka lagi tutup pianonya. Lantunan piano pun mulai terdengar memenuhi ruangan.
“Ayah pernah bilang kalau aku bisa memainkan lagu twinkle twinkle little star, berarti aku anak pintar!”
“Ayah pasti akan sangat terkejut nanti!”
Sejak mendapat kabar itu, Stella terus bergumam penuh semangat, senyuman bahagia terukir di wajahnya.
Setengah jam kemudian, bel rumah berbunyi.
Stella meloncat-loncat kegirangan, berlari membuka pintu dan langsung terjun ke pelukan David.
“Ayah!”
Namun, Elvy berdiri di samping David, sementara di belakang mereka masuk rombongan besar tamu undangan, para tokoh terpandang di kalangan elit.
“Kok ada anak kecil yang asal memanggil orang ayah di rumah pernikahan David?”
“Siapa wanita itu? Bisa-bisanya masuk ke sini?! Cepat usir keluar!”
“Benar-benar sial….”
Satu per satu komentar pedas itu masuk ke telingaku. Tak lama kemudian, beberapa pengawal mendekat dan siap menyeretku pergi.
Hatiku langsung diliputi firasat buruk.
David benar-benar tega menyingkirkan kami dengan cara seperti ini?
Jantungku berdetak kencang. Aku menatapnya lekat-lekat, seolah tak peduli dengan hiruk-pikuk di sekeliling. Dengan suara nyaris berbisik, aku memanggilnya, “David?”
Namun, David reflek menyingkirkan Stella dari pelukannya, lalu menatapnya dengan marah, “Siapa yang menyuruhmu asal panggil begitu?!”
Setelah itu, dia menghindari tatapanku dan berkata pada semua orang, “Kami memang pernah bertemu, tapi nggak kenal. Mereka mungkin hanya sengaja datang untuk cari masalah.”
Entah sengaja atau tidak, Elvy sibuk memainkan gelang giok di pergelangan tangannya.
Dadaku serasa dihantam batu yang keras, seakan seluruh isi tubuhku ikut remuk.
Sembilan tahun kebersamaan dan kini hanya digantikan dengan ‘mencari masalah’.
Stella terdorong ke belakang hingga hampir terjatuh. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia menarik napas tersengal, lalu dengan hati-hati mengganti panggilannya, “Om David….”
Dengan langkah terhuyung, Stella kembali ke arah piano dan duduk di bangkunya. Dia berkata dengan suara pelan, “Ayah… Om David, aku mau mainkan lagu untukmu.”
Stella sangat ingin bisa merayakan ulang tahun bersama ayahnya.
Dan dengan kepolosannya, dia percaya kalau menghidupkan kembali kenangan kecil itu, ayahnya akan kembali seperti dulu.
Namun, belum sempat jarinya menyentuh tuts pertama, sebuah tangan sudah menahan gerakannya. Pergelangan tangan yang putih dan ramping itu seakan mudah sekali dipatahkan.
Elvy tersenyum penuh kemenangan. Dengan sikap layaknya nyonya rumah, dia berkata, “Anak haram jangan mengacau di rumah pernikahan kami.”
Wajah Stella langsung pucat. Air matanya pun jatuh dan menetes ke lantai.
Namun, tidak ada seorang pun yang menunjukkan belas kasihan.
Melihat air mata putriku, tiba-tiba amarahku meledak. Aku berhasil melepaskan diri dari cengkeraman beberapa pengawal bertubuh besar, meraih vas kaca di samping dan menghantamkannya ke arah David.
David tak sempat menghindar, sudut tajam pecahan kaca itu menyayat keningnya, meninggalkan luka berdarah.
“Apa-apaan, berani-beraninya ganggu anak kecil!”
Napasku terengah-engah dan dengan mata berkaca-kaca, aku menatap David tanpa berkedip.
Kebenarannya cukup sederhana. Pesan itu sama sekali bukan dari David.
Itu ulah Elvy yang sengaja ingin memanfaatkan tangan David untuk mempermalukanku habis-habisan di depan semua orang.
Dengan begitu, David pun bisa dipaksa benar-benar memutuskan hubungan dengan kami.
Namun, aku tak berniat ikut dalam drama keluarga ini.
Bab 6
Tiba-tiba, sekeliling menjadi sunyi, semua orang terkejut sampai tak bisa berkata-kata.
Mereka berpikir, berani-beraninya wanita aneh ini menantang putra mahkota ini, benar-benar cari mati.
Sementara David hanya menutup luka di keningnya dan bibirnya terkatup erat.
Elvy panik, sambil menopang perutnya, dia melototiku, tak peduli dengan citra anggunnya, lalu mengibaskan tangan dan berteriak, “Beraninya kamu! Bisa-bisanya memukul David?! Cepat! Hajar dia!”
Para pengawal langsung serempak menyerbu, memukul dan menendangku.
Aku berusaha melawan, tapi tubuh perempuan tak mungkin bisa menahan serangan beberapa pria kekar. Aku ditekan terungkup di lantai, hanya bisa meringkuk erat melindungi bagian tubuh yang vital.
Stella menjerit, lalu menangis keras sambil berlari ke arahku. Dia mencoba menahan hujan pukulan itu dengan tubuh mungilnya.
Aku memanggil namanya dengan lemah, tapi tak punya tenaga untuk mendorongnya. Aku hanya bisa memaksa menggulingkan badan, menutupi tubuh kecilnya dengan tubuhku sendiri.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku membuka mata sedikit, menatap David yang berdiri tak jauh dari sana.
Bibirnya bergetar, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar.
Aku menutup mata dengan pasrah, membiarkan rasa sakit setiap pukulan itu menembus tulangku.
Aku bahkan sudah kehilangan tenaga untuk membenci.
David, mulai sekarang, kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi.
Tangisan Stella yang begitu pilu, seolah menggoyahkan David, membuatnya tersadar dari kebekuannya.
“Cukup! Hentikan! Elvy, suruh mereka berhenti!” bentak David dengan suara tajam.
Barulah setelah itu, Elvy melambaikan tangan, mengisyaratkan mereka untuk berhenti.
Aku terengah-engah, beberapa kali mencoba bangun dari lantai, tapi tak berhasil. Sikut tanganku bergesekan dengan lantai sampai lecet, darah pun mengalir.
Luka itu tampak jauh lebih serius dibanding goresan di kepala David.
Akhirnya, Stella memapahku berdiri.
Untung saja, karena aku melindunginya tadi, dia tidak mengalami luka yang serius.
Elvy berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi banyak orang, tapi wajahnya masih tampak tidak puas.
Seakan-akan dialah yang terluka paling parah.
Seluruh tubuhku terasa kaku, seperti besi berkarat. Tapi, aku tetap berusaha menggenggam erat tangan Stella.
Mulai sekarang, kami hanya bisa hidup saling bergantung satu sama lain.
Aku terakhir kali berinisiatif menatap mata David, tapi yang kulihat hanyalah kehampaan tanpa gelombang.
Aku pun berkata, “Maaf semuanya, kami yang sudah mengganggu.”
Aku menundukkan kepala sedikit sebagai tanda permintaan maaf, lalu menegakkan punggung dan perlahan melangkah keluar dari rumah itu.
Stella tidak melawan kali ini, hanya bertanya padaku dengan pelan, “Ibu, kita nggak ambil koper?”
Aku menggeleng.
“Anggap saja sudah kebakaran dan semuanya habis terbakar.”
Larut malam begini, pilihan untuk bermalam tidak banyak. Jadi, aku terpaksa memesan kamar hotel seadanya.
Untungnya kamarnya cukup bersih.
Kebetulan juga, ulang tahunku dan ulang tahun Stella hanya beda sehari.
Besok adalah ulang tahunku.
Akhirnya, sudah waktunya pulang.
Tiba-tiba, ponselku menyala dua kali.
Aku membuka dan terlihat pesan dari David.
[Beberapa hari ini jangan pulang dulu. Besok Elvy ada jadwal periksa kandungan, aku harus menemaninya.]
[Nanti bakal kujelaskan padamu.]
Aku menatap layar cukup lama, berkali-kali mengetik dan menghapus.
Akhirnya, hanya mengirim satu kalimat.