Bab 2
Putriku sakit, jadi aku meminta izin cuti dari kantor dan membawanya ke rumah sakit.
Saat memesan taksi, aku terbiasa menyebutkan sebuah alamat.
Begitu turun, baru kusadari itu adalah rumah sakit milik keluarga David.
Putriku sedang menjalani proses pengambilan darah di samping, wajah mungilnya meringis kesakitan. Aku mengusap lembut kepalanya dengan hati pilu, sambil menenangkannya.
Tiba-tiba, rumah sakit mendadak ramai.
Aku menoleh dan melihat sosok yang sangat familiar berjalan ke arahku.
Itu David.
Aku baru teringat, beberapa hari lalu Elvy sempat kecelakaan dan ibu David langsung memutuskan agar dia masuk rumah sakit lebih awal untuk beristirahat.
Dan sekarang, dia ada di lantai atas.
David tampak baru saja menyadari keberadaan kami berdua, matanya pun membelalak.
“Stella kenapa? Kenapa nggak bilang ke aku?”
Aku mendengus dingin, lalu mengeluarkan ponsel dan membuka ruang obrolan kami, menunjukkan pesan yang kukirim tiga jam yang lalu.
David terlihat canggung dan tidak berkata apa-apa.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia mengalihkan topik,
“Kebetulan, ibuku menyuruhmu naik ke atas.”
Aku menggendong putriku, memberi isyarat agar David menunjukkan jalan.
Kamar Elvy berada di lantai teratas, kamar tunggal khusus keluarga David.
Begitu masuk, aku langsung melihat Elvy sedang menahan perut besarnya dengan susah payah untuk turun dari ranjang.
David segera menghampiri, memapahnya dengan wajah penuh kasih sayang.
Tatapan ibu David menusuk ke arahku, penuh dengan ketidakpuasan seperti biasanya.
Sejak awal, orang tua David memang tidak pernah mengakui keberadaanku.
Meski aku sudah menjelaskan kalau nikah tanpa ikatan resmi adalah adat di daerahku, mereka tetap bersikeras menuduhku tak punya tanggung jawab dan wanita yang murahan.
Begitu menoleh melihat Elvy, sikap ibu David langsung berubah total. Senyumannya begitu lebar.
“Beberapa waktu lalu Elvy sempat trauma, untung saja ibu dan bayinya nggak apa-apa.”
“Kalau begitu, semuanya sudah harus diputuskan.”
Dia menepuk pundak putranya, lalu melirikku dengan pandangan yang jijik.
“Putri dari wanita murahan juga tak mungkin jadi benih yang baik, hanya akan merusak nama keluarga.”
“Di luar, cukup akui anak dalam kandungan Elvy itu anakmu.”
David langsung mengernyit, “Ibu, ini keterlaluan. Bagaimanapun juga, Lily….”
Aku menarik napas dalam, lalu menggendong putriku dan berjalan ke depan David.
“Stella, ingat ya. Mulai sekarang panggil dia om, jangan panggil ayah lagi.”
Lalu aku menoleh melihat ibu David dan berkata pelan, “Seperti keinginanmu.”
David pun terdiam dan menatapku dengan panik.
Stella yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa memonyongkan bibirnya dan menangis.
Aku tidak melihat ke arah David, hanya mencubit pipi Stella dan mencoba menenangkannya.
Elvy tersenyum malu-malu dan menoleh padaku.
“Kak Lily, waktu itu aku benar-benar takut, bayi ini hampir saja nggak selamat.”
Dia menyeka ujung matanya, tampak begitu menyedihkan.
“Aku dengar David bilang gelangmu itu bisa menenangkan dan menjaga kandungan, kamu juga memakainya waktu melahirkan Stella dulu.”
Tatapan Elvy jatuh pada pergelangan tanganku, maksudnya jelas.
Itu adalah hadiah peringatan hubungan kami yang ketiga dari David untukku.
Bab 3
Aku tak berkomentar dan melepas gelang itu, tapi masih menggenggamnya erat di telapak tanganku.
Seketika, suasana membeku.
Lalu tiba-tiba aku tersenyum tipis, mengangkat gelang giok itu, lalu menyerahkan pada Elvy.
David hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun sejak tadi.
Menyedihkan sekali.
Barusan aku masih berharap dia akan mengenali gelang ini, lalu menghentikan Elvy.
Ternyata aku yang terlalu banyak berharap.
Aku tersenyum dan berkata, “Kamu pasti terlihat cantik memakainya.”
Kemudian aku menggendong Stella lebih erat, berbalik dan melangkah pergi.
“Eh, Lily….” panggil David menahanku, tapi langsung dipotong oleh ibunya.
“Biar saja dia pergi! Wanita seperti itu nggak ada gunanya di sini, malah nggak baik untuk si bayi….”
Di sampingnya, Elvy terkejut dan berkata, “David, sepertinya bayinya gerak!”
“Apa? Biar kurasakan….”
Aku berjalan cepat, suara mereka makin lama makin jauh, hingga akhirnya tak terdengar lagi.
Sampai di rumah, Stella masih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya sudah kehilangan sosok ayahnya. Wajah mungilnya tetap mengerut, air mata masih menempel di ujung mata, pipinya memerah karena terlalu banyak menangis.
Dia menarik tanganku, berbicara dengan suara yang serak bercampur tangis, “Aku mau ayah merayakan ulang tahunku….”
Hatiku ikut perih mendengarnya. Aku menyibakkan poni basahnya ke samping telinga, lalu menggendongnya ke pangkuanku. Kemudian, dengan lembut aku mengoreksi, “Stella, kamu harus panggil om sekarang. Dia bukan ayahmu lagi.”
“Ikut ibu pulang ke rumah, ya?”
“Tapi, bukannya ini rumah Stella?” tanya putriku dengan suara yang hampir serak karena menangis.
“Ini rumah Om David, bukan rumah ibu dan Stella.”
“Tunggu sebentar lagi, ibu membawamu pulang ke rumah, ya.”
Mata Stella yang masih basah menoleh ke sudut ruang tamu, ke arah piano hitam. Itu adalah hadiah ulang tahunnya tahun lalu dari David.
Saat itu, Stella begitu gembira. Seharian penuh berlarian sambil bersorak, merengek ingin diajari bermain piano oleh ayahnya. Lalu berkata dirinya adalah putri Stella paling bahagia di dunia.
Saat itu, David tertawa dan terlihat tatapan matanya yang penuh kasih sayang seorang ayah untuk putrinya.
Namun, semua itu sudah berlalu.
“Bolehkah aku merayakan ulang tahun bersama ayah sekali lagi?”
Dia masih begitu kecil, belum bisa memaksanya untuk mengganti panggilan.
Aku pun tidak memarahinya, hanya mengusap lembut kepalanya dan menjawab, “Iya, nanti ibu bilang pada Om David.”
Stella sudah ikut terseret ke dalam pertikaian orang dewasa yang penuh air mata.
Yang bisa kulakukan hanyalah sebisanya memberi dia sedikit kebahagiaan yang utuh.
Bab 4
Stella bangun lebih pagi dari biasanya di hari ulang tahunnya, lalu memilih gaun putri kesayangannya.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pada David sejak tiga hari sebelumnya, tapi tidak ada balasan sama sekali.
Stella baru saja selesai memainkan sebuah lagu di piano, lalu menoleh padaku dengan penuh harap.
Dia sudah menyiapkan diri untuk memainkan lagu twinkle twinkle little star yang diajarkan David tahun lalu padanya dan beberapa hari ini dia selalu beratih berkali-kali.
Namun, hanya satu tatapan di antara kami, seolah dia pun mengerti semuanya.
Bocah kecil itu pun menunduk, lalu perlahan menutup tutup piano.
“Ayah sibuk, nggak sempat datang.”
Stella membuka kotak kue, memotong sepotong kue kecil.
“Ibu, nggak apa-apa. Kita bisa dapat lebih banyak kalau hanya makan berdua.”
Ketegaran hatinya yang dipaksakan itu, serasa menusuk dadaku dalam-dalam.
Tiba-tiba, aku merasa begitu tak berguna. Bahkan tak mampu memenuhi satu keinginan kecil putriku.
Aku menarik napas, lalu kembali membuka ruang obrolanku dengan David.
[Stella hanya ingin merayakan ulang tahun sekali ini saja bersamamu.]
[Kamu bahkan nggak bisa memenuhi keinginan sekecil ini?]
Lima menit kemudian, terdengar suara notifikasi.
[Kalian mulai saja dulu, aku bakal rayakan ulang tahun susulan untuk Stella.]
Belum sempat aku marah, pesannya langsung ditarik, kemudian dia mengirim satu pesan baru.
[Aku ke sana sekarang.]