Bab 1
Seorang rekan kerja di kantorku hamil dan memintaku membantunya membelikan teh susu. Tapi dia lalu sakit perut dan keguguran setelah meminumnya.
Dia terbaring menangis di rumah sakit, menuduhku sengaja menyakitinya. Aku diseret keluarganya dan dipukuli, lalu menuntut ganti rugi dua miliar.
Aku lapor polisi dan bersiap mengajukan tuntutan hukum, tapi aku lebih dulu mati dilindas truk karena didorong ibu mertuanya.
Aku membuka mataku lagi. Seluruh tubuhku gemetar. Segalanya masih utuh, tidak ada yang patah. Tidak ada rasa sakit yang tajam karena tulang-tulang yang remuk.
Aku pun menyadari bahwa aku hidup kembali!
Rekan kerjaku yang bernama Jennie datang menghampiriku. "Dewita, ayo beli teh susu! Siang ini panas banget!"
Dia sedang hamil lima bulan dan mudah kepanasan. Dia suka beli minuman dingin hampir setiap hari.
Pengajuan kartu kreditku disetujui minggu lalu. Setiap kali orang-orang di kantor ingin membeli sesuatu bersama-sama, mereka selalu memintaku memesan atas namaku.
Aku juga tidak keberatan membantu. Tapi aku tidak menyangka Jennie sakit perut setelah minum teh susu. Kami langsung melarikannya ke rumah sakit.
Keluarganya lalu datang dan menuduhku bersalah atas hilangnya cucu kesayangan mereka, kemudian memintaku membayar ganti rugi sebesar dua miliar.
Memikirkan kematian tragisku, aku cepat-cepat mengambil ponselku dan menolak. "Aku nggak kepingin minum teh susu. Aku sedang diet, nggak bisa minum minuman manis."
Jennie masih tidak bergeming. "Belikan buat aku saja! Pakai kartu kreditmu!"
"Nggak mau. Aku nggak mau tanggung jawab kalau terjadi sesuatu!"
Aku menolak mentah-mentah. Jennie sedikit tertegun. "Dewita, jangan pelit. Cuma teh susu kok, apa yang bisa terjadi?"
Maura yang duduk di meja kerja di seberangku ikut menimpali. "Iya, Dewita, kamu cuma pelit saja. Kita 'kan teman kerja, apa susahnya membantu sedikit?"
"Kamu tadi baru beli kupon, 'kan? Kenapa nggak kamu saja? Kita 'kan teman kerja!"
Aku melempar balik pertanyaan itu dan wajah Maura tiba-tiba membeku. "Maura, ayo pesan barengan!"
"Aku ...."
Dia terlihat enggan. Aku menatapnya dengan bibir menyeringai. "Kenapa? Nggak mau? Kita 'kan teman kerja, jangan pelit-pelit!"
"K-kuponnya sudah kupakai!"
Maura akhirnya tersadar dan segera menggoyangkan ponselnya. "Maaf! Sudah dipakai semua, Kak Jennie, kamu minta tolong yang lain saja!"
Wajah Jennie terlihat tidak senang. Dia kembali ke meja kerjanya sambil mendengus dingin. Tak lama kemudian, ada driver datang membawakan pesanan teh susu untuknya.
Ternyata dia bisa membelinya sendiri, tidak harus memesan bersama!
Tapi aku jadi penasaran. Jennie di kehidupanku sebelumnya tiba-tiba sakit perut dan keguguran. Apa yang terjadi?
Aku menggelengkan kepalaku. Saat waktu pulang kerja, Jennie menarikku dan berkata, "Dewita, kita pulang bareng yuk? Aku bonceng motormu ya?"
"Nggak bisa! Aku nggak bisa bonceng orang!"
"Kamu kok pelit banget sih! Motor bututmu bisa jalan secepat apa di jam sibuk begini?"
"Memang aku pelit! Nebeng orang lain saja sana!"
Aku menepis tangannya dan bergegas keluar, pergi pulang dengan motorku. Jennie mengentakkan kakinya karena marah.
Aku bingung, kenapa dia selalu menggangguku?
Jennie mengirim pesan kepadaku esok harinya. "Dewita, beliin sarapan, dong. Nasi uduk dekat rumahmu itu enak banget."
Seenaknya saja minta-minta! Aku tidak akan membiarkan dia memerasku!
"Nggak sempat beli!"
Jennie segera meneleponku setelah aku membalas, tapi aku tidak mengangkatnya. Sesampainya di kantor, aku melihat wajahnya cemberut. Dia melotot dan memarahiku. "Dewita, aku lapar! Mana nasi uduknya!"
Aku tertawa dingin. "Kalau lapar ya makan. Aku nggak punya utang apa-apa sama kamu, kenapa kamu suruh-suruh aku terus? Aku bukan bapak anakmu!"
Teriakan kerasku membuatnya tertegun. Matanya Jennie memerah. "Dewita, kenapa kamu bicara begitu? Kalau kamu nggak mau beliin ya nggak usah beliin. Aku bisa beli sendiri."
"Aku nggak ada makanan sekarang. Kamu tega aku kelaparan sampai makan siang?"
Semua orang di kantor pun menoleh padaku. Maura juga ikut menimpali. "Dewita, kamu keterlaluan. Tega banget kamu membuat ibu hamil menderita!"
Aku mendengus dingin dan mengirim riwayat obrolan langsung ke grup perusahaan dan menandai nomor Jennie. "Aku sudah bilang nggak bisa beliin sarapan, kenapa kamu malah sebar fitnah!"
Bab 2
Wajah Jennie memerah, dan orang-orang di kantor tertawa saat melihatnya.
Seseorang mengirim pesan pribadi kepadaku: "Dewita, kamu pemberani!"
Aku membalas: "Kenapa harus takut? Aku bukan suaminya! Buat apa aku memanjakannya?"
"Kamu benar, aku mau tiru kamu saja. Dia berlagak kayak ratu sejak hamil. Kalau di rumah sih silakan, tapi kenapa dibawa sampai ke kantor?"
Aku tersenyum. Ternyata semua orang pernah mengalaminya dan mengerti perasaanku.
Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan Jennie, tapi aku pernah mati tragis karena dia. Aku tidak mau diam saja menelan kemarahanku.
Jennie panik. "Dewita, hapus sekarang!"
Aku merentangkan tanganku. "Waktunya sudah lewat, nggak bisa dihapus!"
Dia menatapku dengan tajam dan berbalik pergi ke ruangan supervisor.
Setelah beberapa menit, supervisor Ruslan memanggilku.
Saat aku tiba, Jennie keluar dari ruangan itu.
"Dewita, tunggu saja!"
Hah? Memangnya aku takut?
Aku mengetuk pintu dan berjalan masuk. Ruslan menatapku dan berkata, "Dewita, yang namanya manusia harus bisa kerja sama yang lainnya. Kamu sudah keterlaluan hari ini!"
"Keterlaluan? Pak Ruslan, saya nggak paham apa yang Bapak maksud. Tolong ajari saya!"
"Saya bisa memperbaiki diri!"
Wajah Ruslan berubah suram. "Dewita!"
"Iya, saya di sini, Pak. Saya beneran nggak paham, apanya yang keterlaluan? Apa salah saya?"
"Tolong jelaskan, pasti saya perbaiki!"
Aku memandangnya dengan tulus dan Ruslan terdiam.
Hal sepele seperti membawakan sarapan untuk rekan kerja bukanlah masalah besar.
Masalah pribadi yang sangat tidak perlu dibesar-besarkan.
Ruslan tentu saja tahu itu, jadi dia terbatuk-batuk pelan. "Jangan pikirkan masalah ini lagi. Kamu yang pegang akun perusahaan sekarang 'kan? Selain akun Universitas Cipta, serahkan akun-akun yang lain ke Jennie, biar dia yang melanjutkan."
Aku benar-benar tercengang mendengar ini. "Maksud Bapak, akun-akun yang saya buat sendiri? Pak Manajer sudah tahu?"
"Dewita, semua akun itu milik perusahaan, patuhi peraturanku!"
Aku mengerti. Ini adalah akibat dari ketidakpatuhanku.
Ruslan menatapku dengan senyuman bangga. "Sudah, keluar sekarang!"
Aku mendengarnya dengan jelas, jadi aku keluar.
Saat berpapasan dengan Jennie, dia mengambil cermin dan memperbaiki riasannya, lalu menceletuk, "Ada orang kok nggak ngaca dulu, tapi sok hebat!"
Dia mengetuk meja kerjaku. "Cepat, jangan tunda pekerjaan. Kamu mau tanggung jawab kalau kerjaan telat?"
"Jangan gugup. Semoga kamu sukses."
Aku memberikan nomor akun dan kata sandi kepadanya dan memintanya tanda tangan sebagai konfirmasi.
Mulai saat ini, akun media sosial perusahaan tidak ada hubungannya denganku.
Jika terjadi sesuatu di masa depan, aku tidak akan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, aku juga sengaja memberikan salinan formulir serah terimanya kepada HRD.
Ditambah dengan menyebut Ruslan di grup perusahaan. "Pak Ruslan, saya sudah serah terima tugas dengan Jennie sesuai perintah Bapak."
Ruslan membalas dengan kata ya, dan aku segera membuat tangkapan layar untuk menyimpannya.
Membuat jejak sebagai bukti!
Melihat ekspresi penuh kemenangan Jennie di seberang sana, aku mencibir dalam hati.
Aku tidak percaya orang seperti Jennie bisa mengalahkanku dalam meningkatkan kepopuleran akun perusahaan.
Aku harus bergadang berhari-hari dari pembuatan akun hingga pemilihan materi ke depan.
Hasil pekerjaannya bukan urusanku. Aku tidak peduli.
Kali ini, Maura menoleh kepadaku. "Kamu harus membuat rencana, Dewita! Orang hebat selalu punya tanggung jawab lebih!"
Jennie tertawa. "Kamu masih terlalu muda dan belum hamil, jadi masih harus banyak cari pengalaman. Penanggung jawab Universitas Cipta itu bos yang ketat dan banyak tuntutan!"
Melihat mereka serempak merendahkanku, aku tersenyum. "Kalian benar. Kak Jennie sedang hamil. Kalau kamu cuti melahirkan nanti, posisinya pasti kosong lagi. Entah siapa yang akan menggantikan!"
Mendengar hal itu, ekspresi Maura tiba-tiba membeku.
Bab 3
Dia bekerja kontrak di sini dan sedang mencari cara untuk menjadi karyawan tetap.
Saat Jennie cuti melahirkan, maka dia punya kesempatan untuk menggantikannya.
Perkataanku memberi pikiran berbeda kepada dua orang itu.
Saat Maura sedang berpikir, Jennie mendengus dan keluar membawa ponselnya.
Aku mengangkat bahu dan bangkit pergi ke kamar mandi.
Tidak lama setelah aku masuk, aku mendengar suara langkah kaki, diikuti suara Jennie.
"Sudah kubilang, dia nggak akan tertipu! Aku harus apa sekarang?"
"Kalau kamu nggak punya uang ya utang! Perempuan sialan itu licik, nggak memberiku celah sama sekali. Susah ditipu!"
Perempuan sialan yang dibicarakan Jennie itu aku?
Aku segera mengeluarkan ponsel dan mendengarnya memelankan suaranya di bilik toilet. "Iya, aku cari kesempatan lagi nanti! Maura jelas kelihatan bodoh. Dia saja!"
"Pokoknya anakku harus seharga dua miliar!"
Mendengar kata-kata itu, hatiku terasa hancur!
Tidak heran dia menggangguku terus, bahkan sampai meminta ganti rugi dua miliar kepadaku.
Ternyata sengaja ingin mendapat uang!
Sungguh wanita yang kejam. Tidak segan-segan menyakiti anaknya sendiri demi uang!
Aku mendengarkan bilik di sebelahku lanjut bicara dan keluar setelah beberapa menit.
Menunggu sampai sepuluh menit berlalu, aku keluar. Sebelum kembali ke ruangan, aku melintasi gedung kantor menuju divisi marketing untuk mengambil data.
Sesampainya di depan pintu, aku mencium bau harum dari dalam kantor. Ada beberapa kotak buah potong di tempat sampah.
Maura berkata dengan nada menyindir, "Loh, baru balik sekarang? Kami lupa menyisakan untukmu!"
Aku pun mengingatkan, "Tapi aku dengar katanya buah potong itu diambil dari buah busuk. Hati-hati sakit perut!"
Tapi Maura mencibir, "Buah yang kubeli itu impor. Buah mahal, mana mungkin ada yang busuk!"
Semua orang di kantor terdiam.
Jennie pergi ke toilet, dan dia menangis saat keluar tidak lama kemudian. "Bagaimana ini, aku pendarahan!"
Dia menangis dan duduk di lantai sambil memegangi perutnya. Orang-orang panik dan bergegas membantu memanggil ambulans.
Jennie memegangi Maura dengan erat. "Tolong, bantu aku ke rumah sakit!"
Aku mengompor-ngompori. "Cepat. Kalian teman dekat, 'kan?"
Maura tidak curiga sama sekali. Saat ambulans datang, dia ikut masuk untuk menemani.
Aku menyaksikan dengan bibir tersenyum.
Lalu meminta izin tidak masuk dan diam-diam mengikuti mereka.
Setibanya di rumah sakit, keluarga Jennie juga datang.
Setelah mengetahui bahwa Jennie keguguran setelah makan buah, ibu mertuanya menyerang Maura dan menamparnya dengan keras!
"Perempuan sialan! Kamu pati sengaja! Cucu kesayanganku hilang gara-gara kamu, pokoknya kamu harus ganti rugi!"
Maura tertegun dan menutupi wajahnya.
"A-aku nggak ngapa-ngapain. Bukan aku."
"Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Jennie bilang kamu yang membeli buah potong itu! Pasti kamu!"
Aku berdiri di tengah kerumunan dan menonton keributan itu.
Wanita tua yang kering dan kurus itu tidak menahan diri sama sekali. Dia menjambak rambut Maura dan menampar wajahnya belasan kali. Wajah Maura merah dan bengkak sampai dia terjatuh ke lantai. Tapi dia tidak sengaja melihatku di tengah kerumunan.
Maura menunjuk ke arahku dan berseru histeris, "Itu dia! Dia pelakunya! Tangkap dia!"
Seketika, seluruh keluarga Jennie menoleh dan mengepungku.
"Sialan, jadi kamu!"
Wanita tua itu sekonyong-konyong menamparku. Aku menjatuhkan diri ke lantai dan berteriak, "Pembunuh! Nenek-nenek ini kabur dari rumah sakit jiwa dan ingin membunuhku!"