Bab 6

Setelah makan malam hari itu, Stella baru saja hendak kembali ke kamar tidurnya untuk beristirahat, tapi terdengar suara dari luar pintu.

Tania pun masuk sambil menggandeng lengan Felix, diikuti beberapa pembantu yang membawa koper.

Felix memerintahkan para pembantu untuk membawa koper ke kamar tamu, lalu menatap Stella.

"Tania baru saja kembali dari luar negeri, belum dapat rumah sewaan, jadi aku minta dia tinggal di rumah selama beberapa hari."

Tania mengangkat alisnya, "Aku cuma akan tinggal beberapa hari. Nyonya Sebastian nggak keberatan, kan?"

Wajah Stella tampak tenang, "Aku nggak keberatan, Nona Tania bisa tinggal selama yang kamu inginkan."

Gimanapun juga dia akan pergi setelah tiga hari.

Felix sedikit terkejut, "Kamu nggak marah?"

Stella menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lagian aku sudah mau pindah."

Felix tertegun, "Apa maksudmu?"

Stella melambaikan tangannya, "Aku cuma sembarangan bicara."

Felix merasa ada yang salah dengan Stella dan ingin terus bertanya.

Tapi Tania justru berbicara lebih dulu, "Felix, bukannya kamu bilang mau ajak Debora ke taman bermain?"

Tindakan dan nada bicaranya menunjukkan seolah dia adalah nyonya rumah.

Perhatian Felix langsung teralihkan, "Oke, ayo jemput Debora sekarang"

Setelah selesai bicara, dia menatap Stella, menggerakkan bibirnya, tetapi akhirnya tidak mengatakan apa pun.

Stella pun berkata dengan sangat bijaksana, "Kalian pergilah, anggap saja untuk menyambut kepulangan Debora."

Tania kembali menggandeng lengan Felix, "Ya, bertiga seperti satu keluarga."

Stella menyadari rasa bangga di balik perkataan Tania, namun dia hanya tersenyum sopan dan berbalik.

Setelah makan malam, hari sudah gelap.

Stella baru saja hampir tertidur, tapi dia mendengar suara di luar pintu.

Itu suara manja Tania, "Felix, tidurlah denganku satu malam saja."

Nada bicara Felix terdengar lembut, tapi tegas, "Tania, Stella itu istriku, kalau bertindak seperti ini, terlalu nggak bermoral."

"Akulah istri sah yang tercantum dalam akta nikah, dia itu palsu, jadi kamu tidur denganku itu sah-sah saja."

Stella sedikit melengkungkan jari-jarinya dan memperlambat napasnya.

Setelah beberapa saat, Felix menghela nafas dan berkata tanpa daya, "Kamu itu ibu Debora, jadi aku tetap akan perlakukan kamu dengan baik."

Tania terisak pelan, "Kalau gitu, bisakah kamu janji nggak akan menyentuhnya selama aku tinggal di sini?"

Felix bergumam "Hmm".

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar sebelah dibuka.

Stella perlahan membuka matanya dan tersenyum tanpa suara.

Tiga orang, tiga kamar, masing-masing punya rencana jahatnya.

Keesokan paginya ketika Stella turun ke bawah, Felix dan Tania sudah sedang sarapan.

"Aku melihatmu tidur nyenyak, jadi aku nggak biarkan Felix memanggilmu."

Perkataan Tania jelas ambigu, seolah-olah dia adalah nyonya rumah ini dan Stella cuma seorang tamu.

Tapi Felix justru tidak mengoreksinya.

Stella pun terlalu malas untuk memedulikannya dan langsung duduk.

Tania lalu berdiri dan mengambil semangkuk sup manis lalu menyerahkannya padanya, "Aku masak ini sendiri, cobalah."

Sekilas Stella langsung melihat buah kastanye yang tenggelam ke dasar mangkuk.

Sejak kecil dia alergi pada kastanye, bahkan satu gigitan saja bisa membunuhnya.

Stella mendorong mangkuk itu dan berkata, "Maaf, aku nggak makan kastanye."

Tania tiba-tiba merasa sangat sedih, meneteskan beberapa air mata dan menatap Felix.

"Lebih baik aku pindah saja, bahkan kalau aku harus tidur di jalanan, lebih baik daripada dibenci di sini."

Sambil berkata demikian, dia berdiri dan hendak pergi mengemasi kopernya.

Felix segera menariknya dan membujuknya dengan lembut.

Dia lalu berbalik dan menegur Stella, "Stella, cepat makan, Tania tadi pagi-pagi sudah masakkin."

Stella menatapnya dengan tidak percaya, "Kamu jelas-jelas tahu aku alergi pada kastanye, tapi kamu tetap mau aku hargai kerja kerasnya, apa kamu mau bunuh aku?"

Bab 7

Ekspresi wajah Felix menjadi gelap, "Stella! Sebagai tuan rumah ini, aku perintahkan kamu makan sup itu!"

Tania saat ini sudah membawa kopernya ke bawah dan menuju pintu keluar.

Felix menjadi panik dan bergegas menghampiri Stella.

Dia mengambil semangkuk sup, menekan mulut Stella dan menuangkan sup ke dalamnya.

"Aku nggak percaya, semangkuk sup bisa bunuh orang."

Stella tidak berdaya melawan dan terpaksa makan semangkuk besar sup kastanye manis.

Baru saat itulah Felix berhenti.

Kakinya melemah dan Stella terduduk ke kursi.

Dia tersedak dan hidungnya berair, air mata mengalir dan dia terus batuk.

Tapi Felix bahkan tidak memandangnya dan berbalik mengejar Tania.

Felix membujuk Tania, Tania pun meringkuk dalam pelukannya dengan mata merah.

Sambil melewati Stella, Felix berkata dengan dingin, "Kamu masih aman saja tuh? Ngapain pura-pura lemah?"

Tenggorokan Stella sudah bengkak sehingga dia tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Dia hanya bisa mengucapkan dengan tidak jelas, "Ambulans... Selamatkan aku."

Felix mengerutkan dahi, "Kamu sudah mau jadi ibu, jadi kamu harus lebih bijaksana."

"Cepat minta maaf pada Tania."

Pikiran Stella kacau dan dia akhirnya pingsan karena sesak napas.

Felix tidak menyangka semangkuk sup kastanye manis akan membahayakan nyawa Stella.

Di dalam ambulans, muka Felix tampak pucat dan seluruh tubuhnya gemetar.

"Stella, kamu jangan menakutiku!"

Stella didorong ke ruang gawat darurat dan didorong keluar lima jam kemudian.

Dokter melepas maskernya dan berkata, "Kalau terlambat beberapa menit saja, dia pasti sudah nggak terselamatkan lagi."

"Pasien punya riwayat alergi, apa anggota keluarganya nggak tahu?"

Felix terdiam.

Dia tahu itu, namun dia memaksanya makan semangkuk sup yang cukup untuk membunuhnya.

Felix sangat menyesalinya.

Dia tetap berjaga di samping tempat tidur sampai Stella siuman.

Saat ini tenggorokannya masih bengkak dan sakit.

Felix memegang tangannya dan berkata, "Ternyata akibat dari makan kastanye itu parah banget. Kenapa kamu nggak bilang sejak awal?"

Apa masih perlu dia katakan? Perlu berlutut dan memohon padanya?

Melihat dia menatap lurus ke arahnya, Felix memalingkan kepalanya dengan rasa bersalah.

Saat ini ponselnya berdering, setelah sempat ragu, dia baru mengangkatnya.

"Stella nggak kenapa-napa, jangan salahkan dirimu sendiri, jangan nangis."

Kemudian dia menyerahkan ponselnya kepada Stella, "Tania merasa sangat bersalah dan mau minta maaf padamu secara langsung."

Stella mendekatkan ponsel ke telinganya.

Tania segera mengubah nada bicaranya, "Stella, kudengar kamu hampir mati? Felix cuma sedikit menasehatiku lho, menurutmu siapa yang lebih penting di hatinya?"

"Aku tahu kamu alergi pada kastanye, aku sengaja lakukan itu. Kamu bisa telepon polisi untuk menangkapku, tapi sayangnya kamu nggak punya bukti."

Stella mencengkeram sudut selimut dengan erat dan detik berikutnya dia melemparkan ponselnya ke lantai.

Felix segera berdiri.

"Stella! Tania cuma mau minta maaf, kenapa kamu begitu keras kepala?"

Stella berteriak sekuat tenaga, "Keluar!"

Ekspresi wajah Felix menjadi gelap, "Aku sudah sewa seorang perawat untuk merawatmu, dalam beberapa hari ini tenangkan dirimu."

Setelah berkata demikian, dia memungut ponselnya yang pecah dan meninggalkan kamar pasien.

Stella menandatangani surat pernyataan dan keluar dari rumah sakit hari itu juga.

Dia merasa berat hati saat kembali ke "rumah" yang telah dia kelola dengan susah payah selama lima tahun.

Seluruh vila, dari lokasi dan dekorasinya hingga segala hal mulai dari sofa hingga tempat sampah, dipilih dengan cermat olehnya.

Foto pernikahan dengan Felix tampak tergantung di tengah ruang tamu. Di dalam foto itu, mereka tersenyum manis.

Tetapi jika tanggalnya dihitung dengan cermat, Tania juga sedang hamil selama periode itu.

Stella mengambil vas di meja dan membantingnya ke foto itu.

Prang! bingkai foto besar itu jatuh ke lantai, menimbulkan kepulan debu.

Pembantu bergegas datang setelah mendengar suara itu dan Stella menunjuk, "Aku dan Tuan mau foto ulang, bakar saja yang ini."

"Bakar saja semua fotoku dan Tuan di rumah ini."

Bab 8

Pembantu pun menanggapi dan mulai membereskan, menumpuk semua album foto dan bingkai foto berbagai ukuran di halaman.

Stella membuka beberapa botol koleksi anggur merah Felix dan menuangkannya di atasnya.

Dia menuangkan segelas anggur untuk dirinya sendiri dan memberikan satu gelas kepada pembantunya.

Prang! Suara hancurnya botol anggur itu seolah melambangkan hancurnya hubungan mereka yang telah dibangun selama 5 tahun ini.

Stella menyalakan korek api dan melemparkannya ke tumpukan sampah.

Di bawah cahaya api, dia mengangkat kepalanya, meminum anggur dalam gelas dan air matanya mengalir dari sudut matanya ke kerah bajunya.

Yang tersisa adalah hadiah yang diberikan Felix padanya selama bertahun-tahun ini, ada tas, gaun dan perhiasan.

Stella mengemas semuanya dan mengunggahnya di aplikasi jual barang bekas, lalu menaruh rekening panti asuhan sebagai rekening pembayaran.

Saat ini Felix menerima telepon dari asistennya, "Nyonya jual semua barang yang kamu berikan padanya secara online."

Ekspresi wajahnya langsung berubah dan dia segera mengenakan pakaiannya.

Dalam perjalanan, Felix terus menelepon Stella, tetapi dia tidak menjawab.

Kepanikan dan kecemasan membuatnya ingin bergegas, hingga dia menerobos beberapa lampu merah.

Dia pun bergegas masuk bahkan sebelum mobil berhenti sepenuhnya.

Saat ini Stella sedang duduk di kursi malas dengan gelas anggur di tangannya. Di bawah kakinya, tampak tumpukan botol anggur berantakan.

Pipinya memerah dan dia menyenandungkan lagu yang tidak terkenal.

Hati Felix akhirnya tenang, dia berjalan ke arahnya dan berjongkok di dekat kakinya.

"Stella, kenapa kamu nggak jawab telepon? Aku takut setengah mati."

Stella perlahan menoleh dan menatapnya, "Kenapa kamu takut setengah mati?"

Felix mengulurkan tangan dan membelai wajahnya yang panas, "Tentu saja aku pikir kamu marah padaku, bersembunyi dan nggak mau menemuiku lagi."

Di bawah pengaruh alkohol, Stella bertanya tentang keraguan di hatinya.

"Felix, apa kamu sembunyikan sesuatu dariku?"

Jantung Felix berdetak kencang, dia menundukkan kepalanya, bergulat dalam hati untuk waktu yang lama.

Ketika dia mengangkat kepalanya lagi, ekspresinya polos dan bersih dari rasa bersalah.

"Tentu saja nggak, kita suami istri adalah satu kesatuan dan kita harus perlakukan satu sama lain dengan tulus."

Stella menoleh ke belakang dan menatap abu yang tak jauh darinya.

Percikan api terakhir di hatinya telah padam sepenuhnya saat Felix memilih untuk menyembunyikannya lagi.

Felix saat ini menyadari bekas luka di telapak tangannya, "Stella, kenapa tanganmu bisa terluka?"

Stella ingin mengatakan bahwa itu semua karena dia.

"Digigit anjing."

Felix membawakan kotak obat dengan khawatir dan setengah berlutut di lantai untuk mendisinfeksi dan membalutnya.

"Kamu selalu ceroboh, entah gimana nasibmu kalau aku nggak ada di sisimu."

Stella mencibir dalam hatinya.

Sebelumnya dia mengira pria ini adalah sebuah payung yang dapat melindunginya dari angin dan hujan, tetapi pada akhirnya dia sadar, pria inilah yang datangkan badai.

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari asistenku, kamu jual semua hadiah yang kuberikan padamu?"

Stella menarik kembali pandangannya dan berkata, "Nggak apa-apa, semuanya sudah tua, aku mau ganti."

Felix dengan hati-hati mengikat simpul pada kain kasa dan berkata, "Kalau kamu nggak suka, buang saja. Nanti aku belikan yang baru dan lebih bagus untukmu."

Dia lalu berdiri dan memeluk Stella, napasnya terasa di telinganya.

"Stella, hari Senin aku mau adakan pesta penyambutan untuk Debora."

Melihat Stella tidak mengatakan apa-apa, dia melanjutkan, "Bukannya kamu selalu mau pergi ke Omana di Asia Barat Daya untuk lihat bintang-bintang? Setelah pesta penyambutan, kita bertiga satu keluarga pergi lihat bintang-bintang, oke?"

"Gunung Hijau" di Omana berada lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut dan merupakan tempat pengamatan bintang yang sangat bagus.

Stella selalu ingin pergi ke sana.

Sayangnya, baru kemarin dia menerima email dari Negara Ingdran.

[Nona Stella, dengan berat hati kami sampaikan bahwa menurut pengamatan observatorium, bintang birumu akan jatuh dalam tiga hari.]

Cinta yang dikiranya tak terhancurkan ternyata sudah penuh dengan lubang.

Bintang-bintang yang diperkirakan tidak akan pernah jatuh ternyata akan jatuh juga.

Felix menariknya keluar dari pelukannya, "Stella, kalau kamu nggak senang, pesta penyambutan bisa nggak..."

Stella sadar dari mabuknya, dan berkata dengan santai, "Apa yang sedang kamu bicarakan? Tentu saja kita harus adakan pesta penyambutan. Aku akan urus sendiri."

Mata Felix dipenuhi dengan keterkejutan dan dia memeluknya lagi.

"Aku akan menurutimu, Stella. Aku sudah siapkan kejutan lainnya untukmu."

Felix berencana menyerahkan akta nikah yang sah kepadanya pada hari itu dan ke depannya mereka akan jadi pasangan sungguhan.

Kerinduan Tak Berujung

Bab 6
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya