Bab 1
Setelah cinta pertamanya meninggal, Richard Starling membenciku selama sepuluh tahun.
Aku berusaha bersikap baik padanya, namun ia hanya mencibir dingin, “Kalau kau benar-benar ingin menyenangkan hatiku, lebih baik kau mati saja.”
Hati ini terasa perih, namun saat truk besar melaju ke arahku, justru dia yang mati berlumuran darah demi menyelamatkanku.
Menjelang ajalnya, ia menatapku dalam-dalam dan berkata, “Andai saja... aku tak pernah bertemu denganmu.”
Di pemakamannya, ibu mertuaku menangis pilu.
“Seharusnya dulu aku merestui Richard dan Michelle, bukan memaksanya menikah denganmu!”
Ayah mertuaku memandangku dengan penuh kebencian.
“Richard telah menyelamatkanmu tiga kali. Dia orang sebaik itu, kenapa bukan kau saja yang mati!”
Semua orang menyesal karena Richard menikah denganku, bahkan aku pun demikian.
Aku diusir dari pemakaman dalam keadaan hampa dan kehilangan arah.
Tiga tahun kemudian, mesin waktu akhirnya ditemukan, dan aku kembali ke masa lalu.
Kali ini, aku memilih untuk memutuskan segala takdirku dengan Richard, demi memenuhi semua yang mereka inginkan.
Muncul cahaya terang dari mesin waktu, aku refleks memejamkan mata rapat-rapat. Namun di telingaku tiba-tiba terdengar suara ejekan Richard.
“Orang tuaku memaksa mati-matian agar aku menikahimu, Shella, kau benar-benar hebat. Tapi meskipun kita menikah, apa yang akan kau dapatkan? Kau pikir kita bisa bahagia?”
Aku tiba-tiba membuka mata, dan melihat Richard yang masih hidup berdiri tepat di depanku.
Kedua tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana panjangnya, dan di matanya terpantul ejekan yang tak bisa disembunyikan.
Richard di masa depan memang dewasa dan angkuh, tapi Richard yang sekarang tampak santai dan acuh tak acuh, penuh dengan aura remaja yang sudah lama tak kulihat.
Melihatnya, hidungku perih.
Mesin waktu benar-benar membawaku kembali ke masa lalu. Sayangnya, tampaknya terjadi kesalahan, aku tidak kembali ke saat pertama kami bertemu, melainkan ke sepuluh tahun lalu, tepat di hari ketika aku dan Richard akan menikah.
Untungnya, pada saat ini, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Aku menahan perasaan pedih di hati, menatapnya dengan penuh kerinduan.
“Richard, kau tidak ingin menikah denganku, karena orang yang benar-benar ingin kau nikahi adalah Michelle, kan?”
Entah karena ucapanku tepat mengenai isi hatinya atau tidak, tubuhnya tiba-tiba menegang, lalu menatapku dingin.
“Benar, lalu kenapa? Kita sekarang sudah berdiri di depan kantor catatan sipil, memangnya masih ada ruang untuk menyesal?”
Aku mengangguk dengan jujur. “Ada.”
Richard tertawa sinis. “Aku tak ada waktu untuk bermain tarik-ulur denganmu. Cepat tanda tangan, selesaikan semuanya, ambil akta nikah. Aku tunggu di luar.”
Melihat punggungnya yang perlahan menjauh, hatiku seperti ditusuk jarum, perih dan ngilu.
Di kehidupan ini dan yang sebelumnya, aku mencintai Richard selama bertahun-tahun.
Ia pernah dua kali menyelamatkanku tanpa peduli bahaya. Aku sempat salah mengira bahwa dia juga diam-diam menyukaiku.
Ayah dan ibunya bahkan pernah membujukku,
“Richard itu berhati lembut tapi bermulut tajam. Kalau dia tak mencintaimu, mana mungkin dia dua kali mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanmu?”
Aku mempercayainya. Maka dengan hati penuh kebahagiaan, aku menikah dengannya.
Sampai saat cinta pertamanya meninggal, barulah aku benar-benar sadar bahwa hati Richard ternyata milik orang lain.
Dan kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggal, bahwa dia berharap tidak pernah bertemu denganku, benar-benar menghancurkan segalanya.
Sepuluh tahun cintaku, ternyata adalah sepuluh tahun penderitaannya.
Sebelum mengaktifkan mesin waktu, seorang biksu agung pernah berkata padaku, bahwa aku hanya bisa memutus karma buruk dengan Richard jika aku menyelesaikan tiga penyesalan hidupnya.
Maka, ia tidak akan mati di usia tiga puluh karena aku lagi.
Dan sejak itu, aku dan dia akan memiliki jalan hidup masing-masing yang tenang dan damai.
Aku menunduk, lalu menuliskan nama Michelle Bennet di formulir permohonan pernikahan.
Aku ingat dengan sangat jelas, dalam buku hariannya, Richard menuliskan tiga penyesalan terbesar dalam hidupnya:
"Menyesal menikahi Shella, menyesal tidak melawan kehendak orang tua, dan menyesal tidak bisa menyelamatkan Michelle."
Kini, penyesalan pertamanya bisa dikatakan sudah kuhapuskan.
Aku membawa dua lembar akta nikah dan melangkah keluar. Richard sedang berdiri menunggu di depan pintu.
Ia refleks mengambil akta nikah dari tanganku dan membukanya untuk melihat. Namun, langsung kutahan tangannya dengan tegas.
Bab 2
Aku tersenyum lembut padanya.
“Richard, lihat saja besok, akan ada kejutan.”
Tatapannya jatuh padaku, alisnya berkerut tajam.
“Kau aneh hari ini. Apa karena terlalu senang mau menikah denganku, sampai jadi gila?”
Memang layak untuk disyukuri.
Karena... akhirnya aku bisa melihatmu hidup kembali.
Aku tersenyum. “Menurutku kau adalah orang terbaik di dunia. Siapa pun yang menikah denganmu, pasti akan sangat bahagia.”
Ia tertawa dingin dan langsung berbalik pergi. Kalau saja aku tak tahu dia tidak menyukaiku, aku pasti akan mengira dia sedang malu.
Saat itu, sepasang suami istri muda di dekat kami terdengar berbincang riang.
“Malam ini akan ada hujan meteor yang hanya muncul sekali dalam seratus tahun. Konon katanya, pasangan yang menyaksikan meteor bersama akan hidup langgeng hingga tua. Sayang, kita juga pergi lihat, ya?”
Langkahku seketika melambat.
Aku teringat pada hari yang sama di kehidupan sebelumnya. Dengan harapan kecil agar dia mencintaiku, aku memaksanya menemaniku melihat hujan meteor.
Waktu itu, yang kudapat hanyalah ejekan dinginnya, “Pasangan yang cuma cari formalitas lalu nonton hujan meteor, menurutmu bisa langgeng? Kalau begitu logikanya, seluruh dunia yang nonton meteor bareng, tak akan ada pasangan yang bertengkar? Kau sedang berkhayal apa.”
Kali ini, aku tidak berharap apa-apa lagi.
Tapi Richard tiba-tiba berkata, “Kalau kau ingin lihat meteor, aku bisa temani. Tapi soal bulan madu, lupakan saja. Aku sibuk di kantor, tak ada waktu.”
Aku menatapnya kaget. Tak menyangka dia akan menawarkan diri lebih dulu. Tapi sesaat kemudian aku paham.
Richard memang tajam mulut, tapi hatinya tetap baik. Kalau tidak, dia tak akan rela tiga kali mempertaruhkan nyawanya untukku.
Pertama kali saat kami berusia delapan belas tahun. Aku dirampok di gang kecil, dia menyelamatkanku dan terluka di tangan kanannya. Saraf radialisnya rusak, sejak itu dia tak bisa mengangkat barang berat, dan impiannya menjadi pianis pun sirna.
Kedua, saat gempa bumi. Kami terjebak bersama di bawah reruntuhan. Dia membujukku agar memakan sisa makanan dan air terakhir, menyerahkan harapan hidup padaku. Kalau saja bantuan tak datang tepat waktu, mungkin dia sudah mati di sana.
Ketiga kalinya, saat truk besar melaju ke arah kami. Dia langsung memelukku erat, pecahan kaca menghantam bagian belakang kepalanya, sementara aku yang ada di dalam dekapannya hanya mengalami lecet ringan.
Tiga kali menyelamatkanku dengan nyawanya, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan cinta padanya begitu saja?
Richard tidak menunggu jawabanku, lalu berbicara dengan nada kesal, “Kau mau nonton meteor atau tidak, sih?”
Aku tersadar, lalu tersenyum padanya. “Mau. Malam ini, kita lihat meteor bersama.”
Barulah ekspresi wajahnya melunak. Ia memberhentikan sebuah taksi.
“Aku antar kau pulang dulu. Nanti malam aku jemput ke observatorium untuk lihat meteor.”
Namun pada saat itu, ia menerima telepon, lalu wajahnya langsung berubah tegang.
“Tangan Michelle terluka. Aku harus melihat keadaannya. Kau pulang sendiri, ya.”
Aku mengangguk, “Baik.”
Dia tampak sedikit terkejut. “Biasanya kau paling keberatan kalau aku menemui dia. Kenapa sekarang berubah?”
Aku membuka mulut, belum sempat menjawab, dia sudah menertawakan sinis,
“Yah, wajar saja. Kita sudah menikah. Dia tak mungkin jadi ancaman buatmu lagi. Nanti kalau sudah sampai rumah, kasih kabar. Aku pergi dulu.”
Dia masuk ke dalam mobil dan pergi, tanpa melihat mataku yang dipenuhi kehilangan dan senyum pahit.
Sebenarnya, aku tak pernah melarang kasih sayangnya pada Michelle.
Hanya saja, suatu hari aku, ayah dan ibunya tak sengaja melihat Michelle berciuman dengan pria paruh baya. Setelah diselidiki, ternyata dia sudah lama dipelihara oleh beberapa pria kaya.
Barulah saat itu aku mati-matian mencegah Richard terlalu dekat dengannya.
Namun Richard tak pernah tahu. Setelah kematian Michelle, dia hidup dalam penyesalan selama sepuluh tahun.
Kalau harus memilih, aku lebih rela melihat dia bersama Michelle. Daripada menyaksikan dia menderita begitu rupa, dan akhirnya mati demi aku.
Rasa bersalah dan penyesalan, cukup kuat untuk menghancurkan siapa pun.
Bab 3
Aku menghela napas pelan, lalu pergi ke sekolah untuk mengambil kuota rekomendasi, barulah aku pulang ke rumah.
Ayah dan Ibunya sudah menyiapkan satu meja penuh hidangan. Begitu melihatku kembali, Ibunya langsung menggenggam tanganku dengan gembira.
“Shella, kalian cepat sekali menyelesaikan urusan akta nikanya. Tapi, kenapa Richard tidak pulang bersamamu?”
“Dia ada urusan di kantor, harus kembali bekerja.”
Ibunya langsung mengomel, “Anak itu, ini kan hari pernikahan kalian, masa kerjaannya tidak bisa ditunda sebentar saja?”
Ayahnya tertawa, “Laki-laki yang fokus pada karier itu bagus. Toh sudah menikah, makan malam bersama bisa kapan saja.”
Ibunya masih mendengus tak puas.
Melihat kehangatan di depan mataku, mataku mulai terasa perih.
“Paman, Bibi, aku dan Richard tidak jadi menikah. Aku sudah mengurus semua keperluan studi ke luar negeri. Beberapa hari lagi, aku akan berangkat.”
Ibunya langsung tampak terkejut.
“Kenapa tidak jadi menikah? Apa Richard telah menyakitimu? Anak itu cuma keras kepala, tapi soal kamu, dia itu sangat peduli. Sebenarnya, dia menyukaimu dari hati terdalamnya.”
“Lagipula dulu kamu belajar psikologi sendiri, siang malam menemani dia dan jadi pendampingnya. Ketulusanmu pada dia kami saksikan sendiri. Kalian saling mencintai, tentu seharusnya bersama. Apalagi kamu tahu sendiri, Michelle itu bukan orang baik. Kita tidak bisa membiarkan dia berhasil.”
Ayahnya juga buru-buru menambahkan, “Richard itu cuma keras kepala saja. Kalau kamu tetap mempertahankan pernikahan ini, lama-lama dia pasti akan luluh juga.”
Semua kata-kata ini terdengar familiar. Dahulu mereka juga pernah mengatakan hal yang sama.
Sayangnya, hasil dari memaksakan semuanya… hanyalah penyesalan bagi semua orang.
Aku menggenggam tangan Ibunya, lalu berkata pelan, “Paman, Bibi, jangan terlalu emosi dulu. Dengarkan aku. Meski berat untuk kuakui, tapi buah yang dipaksa matang memang tidak akan manis. Richard... dia sebenarnya tak pernah mencintaiku.”
“Kemarin malam aku bermimpi. Dalam mimpi itu, kami sudah menikah. Tapi dia enggan menemuiku, menghabiskan hari-harinya di kantor sampai jatuh sakit. Aku membuatkan bubur untuknya, tapi dia tidak mau makan. Meski sakit, dia menolak dirawat olehku. Dia bilang, rasa sakit yang kuberikan lebih besar dari kebahagiaan yang pernah kurasa. Bahkan, di usia tiga puluh tahun, dia meninggal tertabrak truk demi menyelamatkanku.”
Saat mengucapkannya, dadaku terasa nyeri sampai sulit bernapas.
Ibunya tertegun. “Itu… itu cuma mimpi, Shella. Richard tidak akan begitu.”
Aku menghirup napas dalam-dalam, memaksakan diri untuk tersenyum.
“Paman, Bibi… mimpi adalah sebuah pertanda. Aku ingin dia tidak menikah denganku. Kami tidak harus menjadi suami istri. Yang aku inginkan hanyalah dia bisa hidup panjang umur dan bahagia.”
“Dan semua ini ada polanya. Richard mencintai musik, dia tidak suka dunia bisnis. Dia juga benci hidup yang ditentukan orang lain. Kalau dulu tangannya tidak cedera, dia pasti takkan masuk ke dunia ini. Sekarang pun sama. Kalau bukan karena paksaan orang tua, dia juga takkan menikah denganku.”
“Segala akar permasalahan dimulai dari aku. Semua salahku. Dan aku tak ingin terus melakukan kesalahan.”
“Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kuliah ke luar negeri. Semua kebaikan Paman dan Bibi akan selalu kuingat. Di masa depan, aku pasti akan tetap berbakti pada kalian.”
Ibunya diam-diam menyeka air matanya.
“Kamu anak baik. Justru Richard yang tak cukup beruntung bisa menikah denganmu.”
Aku memeluknya, tersenyum dengan mata yang memerah.
“Tak masalah. Kalau aku tak bisa menjadi menantu kalian, aku bisa jadi putri kalian. Di masa depan, aku tetap akan menjaga kalian berdua.”
Akhirnya ayah dan ibunya pun ikut tersenyum dalam tangis. Mereka menerima keputusanku.
Aku pun teringat pada catatan harian Richard, di sana tertulis tentang tiga penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ini… sepertinya, bisa dihitung sebagai penyesalan kedua yang berhasil kuperbaiki.
Waktu yang diberikan mesin waktu hanya tersisa 36 jam. Kini, tersisa satu penyesalan terakhir. Bisakah aku menyelesaikannya dengan lancar?
Menjelang malam, aku pergi sendiri ke observatorium.
Itu adalah tempat terbaik untuk menyaksikan hujan meteor. Tanganku bertumpu pada pagar besi, dan entah mengapa… aku merasa sedikit berharap.