Bab 1
Aku memohon kepada Rizald Pratama sebanyak 99 kali dan akhirnya dia setuju untuk mengajak putri kami berkemah di pegunungan pada hari ulang tahun putri kami.
Pada saat aku menemukan putriku di kaki gunung keesokan harinya, dia sudah meninggal, tangannya memegang erat sebuah foto keluarga.
Aku berdiri di depan tubuh kaku putriku, hatiku tersayat pedih. Tiba-tiba, aku melihat Rizald memperbarui status di media sosialnya.
Dia menuliskan, "Kamu dan anakku adalah harta berharga dalam hidupku."
Dalam foto tersebut, dia dan teman masa kecilnya menggandeng seorang gadis kecil, tengah melihat matahari terbenam di kejauhan.
Di sudut kiri bawah foto, terlihat sebuah tangan kecil yang merupakan tangan putriku.
Foto yang menyakitkan ini diambil oleh putriku.
"Seharusnya meninggalnya karena jatuh dari ketinggian ...."
Polisi berbicara kepadaku secara langsung, tetapi aku tidak bisa mendengar apa pun.
Yang bisa aku lihat hanyalah putriku, putriku yang masih begitu kecil.
Dia baru berusia 5 tahun dan sangat menggemaskan seperti malaikat. Namun, matanya yang selalu terlihat bersinar itu tertutup rapat dan tidak akan pernah terbuka lagi.
Perlahan-lahan, aku berlutut di depannya dan menangkupkan tangannya yang kecil dan penuh luka. Entah ke mana hilangnya jam tangan yang aku berikan kepadanya.
"Cherin, buka matamu dan lihat Ibu. Ibu membelikanmu boneka yang kamu sukai. Bukankah kamu bilang kamu akan selalu tidur dengan boneka itu di pelukanmu?"
"Bagaimana kamu bisa tidur dengan tenang kalau kamu sendirian?"
Namun, tidak peduli seberapa keras aku memanggilnya, dia tidak merespons perkataanku.
Aku membalik telapak tangannya dan melihat foto keluarga kami yang dia gambar sendiri. Aku tidak tahan lagi dan menangis pilu.
Saat itu pukul tiga pagi, satu jam sebelumnya aku menemukan tubuhnya di kaki bukit tempat dia dan ayahnya, Rizald, berkemah.
Dia masih hidup dan sehat ketika kami meninggalkan rumah sore sebelumnya.
Aku sendiri yang menggendongnya ke kursi belakang mobil Rizald saat itu.
"Cherin, apa kamu senang karena kamu bisa tidur di tenda di atas bukit bersama Ayah?"
Dia mengangguk dengan penuh semangat dan menunjukkan gerakan yang terlihat ketakutan.
Dia tidak bisa bicara, memang sudah tidak bisa bicara sejak dilahirkan.
Aku ingat saat itu aku bicara kepadanya, "Cherin jangan takut, ada Ayah, dia akan melindungimu."
Selama lima tahun sejak Cherin lahir, Rizald selalu punya alasan untuk tidak merayakan ulang tahunnya. Kali ini, setelah aku memohon 99 kali, barulah dia bersedia merayakannya.
Dia menatapku dengan tidak sabar saat masuk ke dalam mobil.
"Sudah selesai? Kalau matahari sudah terbenam sudah nggak perlu pergi lagi."
Dia setuju untuk menemani Cherin berkemah untuk melihat matahari terbenam dengan syarat aku tidak boleh ikut.
Cherin ingin menghabiskan hari ulang tahunnya bersama ayahnya. Itulah yang dia harapkan saat ulang tahunnya tahun lalu.
"Sudah, kok." Aku memeriksa kembali jam tangan Cherin sebelum menutup pintu. "Kalau terjadi sesuatu, jangan lupa untuk menelepon Ibu, ya?"
Meskipun Cherin tidak bisa berbicara, kami memiliki kesepakatan bahwa jika dia dalam bahaya, dia akan meneleponku tanpa berbicara.
Aku merasa bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Aku tidak tahu bahwa wajah kecil yang terpantul di jendela mobil adalah kali terakhir aku bisa melihat wajah itu dalam keadaan hidup.
Keesokan paginya, Rizald tidak membawa Cherin kembali. Cherin pun tidak terlihat.
Aku berlari ke atas bukit untuk mencarinya. Yang tersisa di tempat itu hanyalah tenda yang rusak dan tumpukan sampah.
Aku menelepon Rizald sambil mencari Cherin di atas bukit.
Hari sudah larut malam dan akhirnya Rizald menjawab panggilanku. Yang keluar dari mulutnya hanyalah makian.
"Aliona apa kamu gila? Apa kamu nggak tahu kalau aku baru sampai hotel karena mau dinas kerja? Kamu menelepon terus, kalau kamu nggak mau istirahat, aku masih butuh istirahat!"
Saat itu aku menghela napas lega, "Maaf karena sudah mengganggu tidurmu. Kamu pergi dinas, apa kamu juga bawa Cherin bersamamu?"
Kerendahan hatiku dibalas dengan cibiran dari Rizald.
"Aku sudah menyuruhnya pulang. Apa keteledoranmu bikin dia hilang, jadi kamu malah menyalahkanku? Ibu macam apa kamu ini?"
"Aku tahu. Aliona, kamu pasti melihat statusku, jadi kamu sengaja berbohong, ya?"
"Aku hanya mengajak Wilona dan putrinya berkemah. Wilona ibu tunggal dan anaknya nggak punya ayah. Apa salahnya aku menjaga mereka? Kamu membuatku muak dengan kebohonganmu!"
Aku membuka status media sosialnya..
Aku melihat foto baru yang dia unggah.
Di foto itu ada dia, Wilona dan anak perempuannya. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia.
Aku tahu kalau Cherin sendiri yang mengambil foto ini untuk mereka.
Betapa benar-benar kejam dan menakutkan.
Namun sampai saat itu, aku masih bisa berpikir bahwa dia tidak sejahat itu sampai meninggalkan putrinya sendiri.
Sampai aku melihat tubuh dingin putriku di dasar bukit, bahkan beberapa anjing liar telah menggerogoti tangan dan kakinya hingga berdarah.
Wajahnya sudah memucat, bahkan ada aroma busuk yang menguar.
Pada saat itu, aku merasa hatiku seperti dicabik-cabik.
"Suamimu menelepon, apa kamu mau jawab?"
Suara petugas polisi itu menarikku kembali ke dunia nyata.
Aku melihat kata suami yang terpampang di layar ponsel.
Bab 2
Di depan polisi, aku menolak panggilannya, bahkan memblokir kontaknya.
Polisi itu menatapku dengan heran. "Ibu yakin, nggak mau ayah dari putri Ibu melihatnya?"
Suaraku serak dan patah-patah.
"Pak polisi, apa Bapak akan membiarkan seorang pembunuh datang dan melihat anak Bapak?"
Ketika aku masuk ke dalam ambulans dengan menggendong Cherin, dokter memberi tahuku kalau Cherin meninggal bukan karena jatuh.
Dia telah meninggal karena pendarahan internal dan rasa sakit yang luar biasa. Sebelum dia meninggal, mungkin dia mencoba meminta pertolongan. Dia menggali dengan tangan hingga kukunya terkelupas, bahkan sampai ada darah di kesepuluh ujung jarinya.
Namun, tidak ada seorang pun yang datang menolongnya. Dia meninggal perlahan-lahan dalam keputusasaan.
Aku duduk di kamar mayat sepanjang malam hingga matahari terbit. Dokter menyarankanku untuk memakamkan Cherin sesegera mungkin.
Aku tidak ingin Cherin terbaring di kamar mayat yang dingin ini.
Aku menghubungi rumah duka dan membawa jenazahnya, membawa gambar keluarga yang dia gambar sendiri ke rumah, berniat untuk menyertakannya di pemakaman.
Sesampainya di rumah, aku membeku di tempat.
Mainan di lantai yang tidak sempat aku bersihkan, lukisan yang dia gambar di dinding, buku-buku pelajarannya di atas meja ....
Aku seakan bisa melihatnya berlari ke arahku dengan senyuman di wajahnya, memberiku tanda cinta dengan tangannya.
Cherin pernah bilang kalau dia akan menemaniku sampai tua.
Kenapa dia malah pergi duluan?
Saat aku duduk di sofa sambil memeluk mainan, aku menangis kesakitan. Wilona mengirimiku sebuah pesan, diikuti dengan sebuah foto.
"Bahagia sekali. Dia memperlakukan putriku dengan baik. Aku tahu dia akan menjadi ayah yang baik."
Foto itu pasti diambil di rumahnya, dengan sebuah foto artistik di dinding sebagai latar belakang.
Rizald sedang duduk di meja makan menggendong Nabila, putri Wilona, sambil menyuapinya makan.
Itu adalah pemandangan mengharukan yang membuatku sangat tersentuh.
Selama lima tahun sejak aku melahirkan Cherin, Rizald tidak pernah menyuapinya, mengganti popoknya atau menidurkannya bahkan sekali pun.
Kami dulu saling mencintai. Sebelum melahirkan Cherin, Rizald selalu mencium perutku berulang kali. Dia membayangkan masa depan bersamaku, mengatakan bahwa bayi dalam kandunganku adalah harapannya.
Itulah alasan kenapa dia menamainya Cherin.
Namun, ketika aku melahirkan di rumah sakit, Wilona pulang ke rumah dengan membawa bayinya dan menelepon Rizald sambil menangis.
Setelah Rizald pergi, dia tidak pulang ke rumah selama berhari-hari.
Kemudian saat Rizald pulang, dia menyadari ada yang tidak normal pada pita suara Cherin, yang membuatnya tidak bisa bicara.
Saat itu juga dia bicara kepadaku. "Tidak ada masalah saat tes kehamilan dan sekarang ada masalah. Itu pasti karena kamu makan sembarangan ketika hamil. Kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya atas bayi ini."
"Aku nggak mau anak yang cacat. Kirim saja dia ke orang tuamu di kampung dan kita lahirkan satu anak lagi."
Cherin dikandung olehku selama sembilan bulan, bagaimana mungkin aku tega menyerahkannya kepada orang lain?
Aku berlutut di depan Rizald dan memohon dengan sangat keras hingga luka bekas operasi Caesar-ku terus mengeluarkan darah. Darah tersebut menodai ujung sepatunya, barulah dia setuju untuk mempertahankan Cherin walaupun enggan.
"Kak Aliona, maaf. Barusan aku mau kirim ke temanku, tapi malah mengirimkannya kepadamu."
Sebuah pesan dari Wilona menarik kembali pikiranku.
Aku melihat dia menarik kembali pesan yang baru dia kirim.
Kalau ini terjadi di masa lalu, aku pasti akan langsung menelepon Rizald dan dengan rendah hati bertanya mengapa dia bersama Wilona lagi.
Namun, sekarang putriku sudah pergi dan hatiku remuk.
Aku tidak membalas pesan Wilona dan hanya terdiam.
Tidak lama kemudian, Rizald pulang dengan terburu-buru. Begitu masuk ke dalam rumah, dia langsung menampar wajahku.
"Beraninya kamu nggak jawab teleponku dan memblokirku! Berani sekali kamu melakukan itu!"
"Wilona cuma salah kirim foto dan kamu memakinya, bahkan menyumpahi anaknya mati! Kamu juga punya anak perempuan, kenapa kamu setega itu!"
Bab 3
Wilona berdiri di belakang Rizald, menatapku dengan raut memelas.
"Kak Aliona, hari ini Kak Rizald pulang dinas dan putriku ingin bertemu dengannya. Jadi, aku mengundangnya ke rumah untuk makan bersama. Kamu boleh marah kepadaku, tapi kenapa kamu malah mengutuk anakku sekejam itu?"
Katanya sambil meneteskan air matanya. Tangisannya membuat Rizald tidak tega.
"Wilona, jangan menangis. Dia akan mendapatkan balasannya karena sudah menyumpahi Nabila."
Rizald mencoba menenangkannya.
Wajahku mati rasa dan rasa sakit di hatiku makin menusuk, membuatku tercekat.
Putrinya belum meninggal, bahkan sempat dipangku Rizald dan disuapi makan.
Namun, putriku benar-benar sudah meninggal.
Menikah dengan Rizald barulah pembalasan kejam untukku.
"Aliona, putrimu yang bisu, bukan kamu! Jangan berpura-pura bersikap menyedihkan. Aku muak melihatnya!"
Rizald berteriak ke arahku.
Hatiku kembali tersengat.
Dia bisa memarahiku, tetapi tidak boleh memaki Cherin.
Aku mengangkat tanganku dan menamparnya dengan keras.
"Plak!
Rizald membeku dan memalingkan wajahnya, sorot matanya begitu menakutkan. "Beraninya kamu menamparku!"
"Kamu bisa memukulku, tapi aku nggak boleh memukulmu?"
Aku mencibir.
Rizald terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan bingung.
"Aliona, apa yang ... terjadi padamu hari ini?"
"Kak Aliona! Tadi Kak Rizald bilang kalau emosimu nggak stabil, tapi aku nggak percaya. Ternyata kamu memang benar-benar temperamental. Menakutkan sekali!"
"Kalau mau memukul seseorang, pukul aku saja. Lepaskan semua kemarahanmu kepadaku."
Wilona tiba-tiba menghampiriku sambil menangis, lalu meraih tanganku dan menampar wajahnya.
Aku merasa jijik dan menepis tangannya.
Di sela-sela pergulatan, dia tiba-tiba mengaduh kesakitan dan terjatuh ke lantai sambil menutupi wajahnya.
Sebuah tanda merah panjang dari kuku muncul di wajahnya.
"Aliona! Kamu gila!"
Rizald langsung marah, mendorongku untuk menyingkir.
Tubuhku hampir menabrak meja, membuat semua yang ada di atasnya terjatuh ke lantai.
Terdengar suara berderak yang cukup keras.
Rizald menoleh ke arahku dan mencoba meraihku, tetapi Wilona menahannya.
Dia bertanya pada Wilona, "Sakit nggak?"
Aku jatuh ke atas meja dan tertawa.
Karena harus menjaga Cherin, aku tidak pernah memanjangkan kukukku, bahkan memotongnya sampai sangat pendek, hampir melukai daging tanganku.
Sebaliknya, Wilona memanjangkan kukunya dan ada banyak manik berkilau yang menempel di kukunya.
Sayang sekali Rizald buta mata dan hati.
Perlahan-lahan, aku mulai berdiri dan meringis kesakitan.
"Ah ...."
Setelah melakukan pencarian di pegunungan seharian penuh, aku terjatuh berkali-kali. Kali ini, benturan dengan meja membuat tubuhku makin remuk.
Rizald mendengar suaraku dan menoleh ke arahku, lalu beranjak dan berjalan ke arahku.
"Aliona ...."
Namun detik berikutnya, Wilona menjerit kesakitan.
"Kak Rizald, apa wajahku akan rusak? Aku seorang konselor kecantikan, kalau wajahku rusak, aku nggak akan bisa kerja lagi seumur hidupku."
Dia merintih dan mulai menangis.
Aku masuk ke kamar dan mengambil barang-barang yang sudah aku kemasi sejak tadi, lalu keluar dengan boneka yang baru aku beli.
"Kamu belum minta maaf sama Wilona, sekarang kamu malah bawa barang-barangmu pergi dari rumah? Kamu pikir aku akan percaya dengan tipu muslihatmu?"
Rizald melangkah ke arahku dengan raut tidak senang.
Aku berkata dengan dingin, "Menyingkirlah. Aku akan menemui Cherin, dia sedang menungguku."
Alis Rizald berkerut. "Cherin nggak ada di rumah? Kamu meninggalkannya di suatu tempat, kenapa baru akan menemuinya tengah malam begini?"
Aku menatap Rizald dengan mata merah.
"Kamu tahu di mana dia sekarang?"
Rizald menjawab tidak sabar, "Mana mungkin aku bisa tahu dia ada di mana? Berhenti main-main! Kamu pasti menyuruhnya bersembunyi untuk menakut-nakutiku!"
"Cherin, berhenti bersembunyi, keluarlah. Keluarlah dan lihatlah betapa buruknya sikap ibumu ini!"
Dia meraih lenganku dan membawaku ke kamar Cherin, mencoba membuatku menemukan Cherin.
Saat dia menarik lenganku, sesuatu di dalam sakuku terjatuh ke lantai.
Itu adalah surat kematian Cherin.
Dia memungutnya dan meliriknya, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Ini ...."