Bab 1
Putraku meninggal di bilik kamar mandi yang sempit. Kepalanya pecah.
Ketika suamiku yang merupakan kepala sekolah datang, dia malah menggendong putra cinta pertamanya ke ambulans dan pergi begitu saja.
Sebelum meninggal, putraku menghiburku, "Mama, jangan nangis. Nggak apa-apa kalau Papa nggak percaya padaku. Aku sama sekali nggak sedih. Aku cuma butuh Mama percaya padaku ...."
Pada hari pemakaman putraku, aku menelepon Thomas.
Thomas malah membentakku, "Lengan Xander harus dijahit gara-gara dilukai putramu! Kalau terus buat masalah, aku bakal menghabisinya setelah pulang nanti!"
Putramu? Aku menatap kepala putraku yang berlubang dan tidak mengeluarkan darah lagi. Mata putraku terpejam.
Benar, Louis putraku. Jadi, Thomas, karena putraku sudah meninggal, aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa lagi.
"Louis, jangan takut. Mama sudah telepon ambulans. Bertahan sebentar lagi ya!"
Di lantai, terlihat noda darah yang panjang sampai bilik kamar mandi. Mataku sakit melihatnya. Itu adalah darah anakku saat melarikan diri ke kamar mandi.
Entah setakut dan sesakit apa anakku saat itu .... Aku menahan luka di kepala Louis, tetapi darah mengalir keluar tanpa henti. Aku tidak bisa menghentikan darahnya.
Di luar, terdengar sirene ambulans. "Louis, ambulans sudah tiba! Kamu bakal selamat!"
Pada saat yang sama, Thomas menggendong seorang anak laki-laki dan berlari ke arah ambulans dengan cepat. "Xander, jangan takut. Aku nggak bakal membiarkanmu kenapa-napa."
Ambulans datang dan pergi dengan cepat. Aku tidak bisa memercayai penglihatanku. Aku buru-buru berseru, "Jangan pergi! Aku yang panggil ambulans! Thomas, Louis nggak kuat lagi! Cepat kembali! Thomas, kumohon ...."
Tidak ada yang memperhatikan bahwa korban yang sesungguhnya sudah sekarat. Aku menelepon Thomas sekali dua kali, tetapi tidak ada jawaban.
Kali ketiga aku ingin menelepon, tangan Louis yang dipenuhi darah menggenggam pergelangan tanganku. "Mama, nggak usah telepon lagi .... Papa nggak bakal kembali ...."
Air mataku sontak berderai. "Mama nggak telepon dia. Mama telepon ambulans. Ambulans akan segera datang."
"Aku sudah sesak ...." Tangan Louis terasa dingin, lebih dingin daripada ubin. "Maafkan aku, Mama. Kelak aku nggak bisa melindungimu lagi. Di kehidupan selanjutnya, kamu harus jadi mamaku lagi ya? Tapi, aku nggak mau Papa lagi ...."
Usai berbicara, tangan Louis sontak terkulai lemas. Jantungku seolah-olah berhenti berdetak. Saat berikutnya, aku merasakan sakit yang dahsyat di hatiku.
Aku tidak memedulikan darah yang terus mengalir itu. Sambil menggendong Louis, aku berlari ke rumah sakit. Darah Louis mengalir mengenai leherku. Rasanya panas.
"Jangan takut, Louis. Kalau ambulans nggak menunggumu, Mama bakal gendong kamu ke rumah sakit."
Untungnya, ada orang baik yang mengantar kami ke rumah sakit. Aku berlutut dan memohon, tetapi dokter menggeleng kepadaku.
"Anakmu sudah meninggal sejak tadi. Aku turut berduka."
"Sembarangan! Dia nggak mungkin mati! Dia jelas-jelas bicara denganku tadi! Dokter, kumohon .... Selamatkan dia ...."
Pandanganku kabur. Hatiku terasa sakit. Sinar matahari jelas-jelas begitu terik, tetapi pandanganku tiba-tiba menggelap.
....
Pada hari pemakaman Louis, aku menelepon Thomas. Setelah tiga hari berlalu, panggilan akhirnya tersambung.
"Thomas, Louis ...."
"Jangan sebut nama itu di depanku! Anak sialan itu membuat Xander hampir kehilangan lengannya! Gimana Xander bisa main piano lagi? Raya sampai pingsan beberapa kali karena menangis. Entah gimana kamu mendidik anak ...."
Aku tidak ingin mendengar makian Thomas lagi, jadi langsung mengakhiri panggilan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Aku akan membuat mereka merasakan penderitaan Louis berkali-kali lipat! Selain itu, Thomas, sudah saatnya pernikahan konyol ini diakhiri!
Bab 2
Setelah pemakaman Louis berakhir, aku pergi ke rumah sakit. Di bangsal VIP, lengan putra Raya diperban. Anak itu tampak bercerita dengan penuh semangat.
Ketika melihatku, ekspresi Thomas sontak berubah drastis. Dia buru-buru menghampiri. "Siapa yang menyuruhmu kemari? Kondisi Xander baru stabil. Jangan buat masalah di sini!"
"Thomas, anakmu sudah mati, tapi kamu masih sempat meladeni anak orang lain?" bentakku. Anak dan ibu di dalam bangsal pun menatapku dengan terkejut.
Ekspresi Thomas menjadi makin masam. Dia mendorongku supaya lebih jauh dari bangsal, lalu memperingatkanku, "Lillia, hentikan semua ini. Raya membesarkan anak sendirian. Sebagai kepala sekolah, apa salahnya aku membantu dia? Lagian, Louis menindas Xander selama ini. Kali ini, Louis melukai lengan Xander. Atas dasar apa kamu membuat keributan di rumah sakit?"
Aku sudah tahu Thomas akan menjawab begini. Aku sudah menghafal alasannya. Raya dan suaminya telah bercerai, jadi Thomas selalu menjaga mereka. Aku dan suamiku tidak bercerai, tetapi suamiku sibuk melayani wanita lain.
Ayah Xander mencampakkannya, tetapi dia masih mendapat cinta kasih ayah dari Thomas. Adapun anakku, kematiannya seperti bukan masalah besar.
Jendela di rumah rusak. Angin musim dingin berembus masuk. Thomas malah sibuk memasak hidangan yang baru dipelajarinya untuk Raya. Dia menyuruhku mencari tukang untuk memperbaiki jendela. Katanya, dia bukan tukang dan aku tidak boleh terus mengandalkannya.
Suatu hari aku jatuh sakit, tetapi tetap mengajar. Thomas malah membawa Raya menghadiri rapat di provinsi sekaligus jalan-jalan dengan menggunakan uang pemerintah. Dia pun menyuruhku untuk tidak cemburu.
Bahkan dalam hal jabatan, aku tidak boleh berada di atas Raya. Thomas bilang ini karena dia adalah kepala sekolah. Dia harus profesional dan tidak boleh hanya memikirkanku.
Saat pergi dinas, Thomas sering membeli hadiah dan mainan untuk Xander. Anak itu pun selalu memamerkannya di hadapan Louis. Ini membuat Louis kesal sampai menghancurkan satu-satunya mainan yang diberikan Thomas untuknya.
Anak Raya sangat munafik. Dia terlihat seperti anak baik-baik, tetapi nyatanya sering ikut menindas Louis di sekolah. Namun, Thomas tidak percaya. Dia malah dihasut supaya percaya Louis yang telah menindas mereka.
Setiap kali mereka mengadu, Louis akan dipukul sampai terluka. Entah sudah berapa kali masalah seperti ini terjadi. Aku sampai tidak bisa menghitungnya lagi.
Aku menatap wajah marah Thomas dan tiba-tiba merasa lucu. "Nggak masalah kalau aku dilarang datang ke rumah sakit. Kita cerai saja."
Aku menyerahkan surat perjanjian cerai kepadanya. Sebelum hari ini, aku sudah menandatanganinya duluan.
"Lillia, kamu nggak ada habis-habisnya ya! Beraninya kamu mengancamku dengan suara perjanjian cerai!" hardik Thomas.
Thomas mengira aku memaksanya untuk kembali. Padahal, faktanya adalah aku tidak ingin melihat wajahnya meski hanya untuk sedetik.
"Kalau kamu nggak mau tanda tangan, aku cari pengacara ...."
"Papa, lenganku sakit sekali ...."
Thomas langsung berlari ke bangsal. Di dalam sana, terdengar suaranya yang dipenuhi cinta kasih. "Xander, Papa di sini. Jangan takut."
Aku menatap ketiga orang yang berada di bangsal. Seketika, aku ingin tertawa terbahak-bahak. Jika Thomas bersikap selembut ini kepada Louis, Louis tidak mungkin sekecewa itu sebelum mati.
Inilah suami yang kupilih dan ayah anakku. Louis, maafkan Mama. Mama sudah salah karena mencarikanmu papa seperti ini.
Aku mengambil surat perjanjian cerai, lalu melemparkannya ke dalam bangsal. Kemudian, aku pergi tanpa menoleh.
Bab 3
Aku datang ke firma hukum yang sangat terkenal untuk berkonsultasi dengan pengacara tentang perundungan yang dialami di sekolah.
Para anak kurang ajar itu tidak boleh berkeliaran bebas begitu saja setelah Louis meninggal. Jangan sampai mereka mencelakai anak lain lagi.
Sebelum pergi, aku mendengar seseorang memanggil namaku. "Lillia?"
Terlihat wajah Lionel yang dipenuhi senyuman. Lionel masih sama seperti yang ada di benakku. Dia tampan dan ceria.
Aku menggigit bibir, merasa agak malu pada pria yang pernah mengejarku saat kuliah dulu. Lionel menyodorkanku air dan bertanya, "Apa aku boleh tanya kenapa kamu kemari? Apa ada yang bisa kubantu?"
Seolah-olah melihat keraguanku, Lionel tersenyum dan meneruskan, "Aku pengacara di sini. Kamu boleh memberitahuku kalau ada masalah."
Aku mendongak dengan terkejut. Lionel malah tersenyum ramah padaku. Setelah mengobrol cukup lama, Lionel hampir memahami keseluruhan situasi. Namun, dia tidak terlihat bersimpati ataupun kasihan padaku.
Hal ini membuatku merasa lega. Aku seperti sedang mengobrol dengan pengacara profesional dan bukan teman.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Thomas mengirimiku pesan.
[ Sudah jam berapa? Kenapa masih belum pulang? ]
Aku menatap pesan itu sesaat. Ini pertama kalinya aku tidak membalas pesan Thomas. Tanpa ragu sedikit pun, aku langsung mematikan ponselku.
Lionel hanya melihat dan tidak mengatakan apa pun. Ketika kami meninggalkan kafe, di luar turun hujan. Lionel membuka payungnya dan hendak mengantarku pulang.
Setelah aku menolak dengan lembut, sebuah sosok tiba-tiba menyerbu ke arahku. "Lillia! Aku meneleponmu belasan kali! Kamu malah matiin ponsel dan menghilang dariku!"
Ekspresi Thomas tampak murka. Ketika melihat Lionel yang tampan dan cerdas, dia terkekeh-kekeh dan mencela, "Rupanya kamu kencan dengan pecundang ini. Pantas saja, kamu nggak punya waktu untuk urus anak."
"Anak? Kamu masih berani membahas soal anak denganku?" Kalimat Thomas langsung menyakiti hatiku. Aku teringat pada ekspresi kecewa dan tak berdaya Louis sebelum meninggal.
Thomas menunjukku dan membentak, "Ya! Ibu macam apa kamu? Tengah malam masih keluyuran di luar! Anakmu juga nggak ada di rumah! Lihat dulu gimana Raya mendidik anaknya!"
"Ya! Raya sangat pintar mendidik anaknya! Kalau begitu, kamu jadi suaminya dan jadi ayah anaknya saja! Lagian, anaknya memanggilmu papa, 'kan?" timpalku.
Thomas termangu. Suaranya makin lantang. "Lillia, jadi orang jangan perhitungan begini! Dia nggak punya ayah. Apa salahnya dia menganggapku sebagai ayahnya?"
Aku mendongak dan menarik napas dalam-dalam untuk menahan kepedihan dalam hatiku. Aku tidak ingin berbasa-basi dengan bajingan ini lagi.
"Thomas, kamu sudah tanda tangan surat perjanjian cerai itu?" Kemudian, aku menatap Lionel dan berkata, "Ini pengacaraku. Dia yang bertanggung jawab atas kasus perceraianku dan kasus intimidasi Louis."
Kelopak mata Thomas sontak berkedut. "Apa maksudmu? Kamu mau memasukkan putramu ke penjara?"
Lionel yang tidak tahan lagi akhirnya bersuara, "Setahuku, yang ditindas adalah putramu. Selain itu, dia sudah meninggal tiga hari lalu."