Bab 1
Demi melindungi Ayah, aku disiksa oleh penculik selama sejam. Namun, Ayah malah sibuk merayakan ulang tahun putri adopsinya yang ke-18.
Sebelum meninggal, aku menelepon Ayah. "Tapi, Ayah, hari ini juga ulang tahunku. Ini terakhir kalinya, Ayah. Bisa nggak Ayah mengucapkan selamat ulang tahun untukku?"
"Kamu benar-benar nggak punya hati! Karena ulang tahun, kamu membunuh ibumu! Kamu masih mau merayakan ulang tahun? Kenapa kamu nggak mati saja?"
Usai berbicara, dia langsung mematikan panggilan.
Keesokan hari, jenazahku ditempatkan di pot bunga depan kantor polisi.
Ayah bertanggung jawab atas otopsi. Dia bisa melihat bahwa pembunuhnya sangat kejam dan tidak takut pada polisi. Namun, dia sama sekali tidak tahu bahwa korban adalah putri yang paling dibencinya.
Setelah dibunuh dan dimutilasi, potongan tubuhku dimasukkan ke beberapa pot bunga. Malam harinya, penculik menaruh pot bunga di depan kantor polisi.
Ketika seorang polisi muda mengambil pot pertama, dia langsung berlari ke samping untuk muntah, lalu berteriak histeris.
Setelah dilakukan pengujian, dipastikan bahwa yang ada di dalam pot itu adalah potongan tubuh manusia. Tony segera menelepon ayahku, Dani.
Dani adalah dokter forensik paling hebat di kota ini. Dia telah membantu polisi memecahkan banyak kasus sulit.
Dani datang dengan terburu-buru. Wajahnya bahkan masih ada krim kue karena tidak sempat dibersihkan. Sambil memakai sarung tangan, dia bertatapan dengan Tony.
Tony berkata, "CCTV sudah diperiksa. Sayangnya, cuaca buruk membuat CCTV rusak. Kita malah melewatkan petunjuk paling penting. Pelaku menaruh potongan tubuh di depan kantor polisi. Ini adalah penghinaan untuk para polisi!"
Keangkuhan penjahat membuat para polisi gusar. Wajah mereka sangat murung sekarang.
"Aku tahu kamu cuti karena Candice ulang tahun. Tapi, kasus ini sangat penting. Kalau bukan kamu, kita harus cari siapa lagi?"
Ketika mendengar namaku, ekspresi ayahku menjadi sangat suram. Dia menyahut, "Mana mungkin aku merayakan ulang tahun untuk anak itu. Dia nggak pantas."
Hatiku sungguh getir mendengarnya. Sejak ibuku meninggal, aku menjadi anak yatim piatu. Ayahku tidak menginginkanku lagi, bahkan mengadopsi anak yang hari ulang tahunnya sama denganku.
Dia melarangku memanggilnya ayah, hanya anak itu yang boleh memanggilnya ayah. Kamarku juga menjadi milik anak itu. Aku hanya diizinkan tidur di ruang bawah tanah.
Jelas-jelas kami sama-sama berusia 18 tahun, tetapi ayahku hanya merayakan ulang tahun untuknya. Sementara itu, aku disiksa dan dibunuh dengan kejam.
Aku rasa saat aku menderita, Ayah pasti sedang memasang mahkota untuk anak itu. Meskipun demikian, aku sama sekali tidak membenci ayahku. Aku hanya berharap dia bisa memaafkanku sebelum aku mati. Sayangnya, aku gagal.
Demi tidak merusak petunjuk yang ada, mereka memutuskan untuk tidak memindahkan jenazah ke ruang otopsi dan langsung memeriksa di tempat.
Rohku melayang di sekitar ayahku. Ketika melihat potongan tubuhku, rasa sakit kembali meliputiku.
Supaya ayahku bisa memeriksa dengan tenang, Tony mengosongkan seluruh aula. Sepanjang malam, Tony membantu ayahku. Mereka memang sangat kompak.
Ayahku tidak beristirahat. Dia sampai diinfus supaya imunnya tidak turun. Pada akhirnya, tubuhku berhasil disatukan.
Ayahku menyeka keringat di dahi, lalu menghela napas. "Ada bekas ikatan pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki korban. Tubuhnya penuh luka. Kepalanya dipukul beberapa kali dengan benda tumpul. Tengkoraknya sampai pecah dan berubah bentuk. Dia pasti disiksa habis-habisan sebelum mati."
Begitu mendengarnya, para polisi kriminal di sekitar tampak murka. Tony pun mengumpat, "Sialan! Pelakunya benar-benar binatang buas!"
Ayahku menambahkan, "Selain itu, korban dalam keadaan sadar. Beberapa luka disebabkan karena korban nggak tahan dengan rasa sakitnya."
Suasana menjadi sunyi senyap. Para polisi kriminal mengepalkan tangan mereka dengan geram.
"Entah ada perselisihan apa, sampai pelaku tega sekejam ini. Benar-benar nggak punya hati nurani!"
"Pembunuhan kali ini kejam sekali!"
Tatapan Tony dipenuhi amarah. Yang mereka bilang benar, ini adalah pembunuhan dan pembalasan dendam yang sangat sadis.
Jika dipikir kembali, rasa sakit yang tajam itu masih membuatku ketakutan hingga gemetaran. Aku masih ingat orang itu membuka perutku dengan pisau. Aku kesakitan sampai mengejang.
Sayangnya, aku tidak bisa berteriak karena orang itu telah memotong lidahku. Mulutku sangat perih dan nyeri, seolah-olah disiram minyak panas.
Selain itu, agar aku tidak kehilangan kesadaran, orang itu selalu berjeda setelah memotong tubuhku. Aku seperti hewan percobaan yang hanya bisa melihat perutku dibelah. Pada akhirnya, orang itu mengambil tongkat dan terus memukul kepalaku. Aku sampai bisa mendengar suara retakan tulang.
Untungnya pada pukulan ketiga, aku tidak bisa merasakan sakit apa pun lagi karena sudah mati.
Saat ini, ayahku mengernyit dan memeriksa telingaku. Jantungku sontak berdetak kencang. Apa dia akan mengetahui sesuatu?
Bab 2
Aku punya bekas luka besar di belakang telinga kiriku. Itu adalah bekas luka bakar saat kecil.
Ayahku menyeka debu di telinga, berusaha untuk mencari sesuatu, tetapi tidak ada.
Aku baru ingat, orang itu memotong semua bagian tubuhku yang punya bekas luka dan tahi lalat.
"DNA korban telah diekstraksi. Segera diperiksa dan pastikan identitas korban," instruksi ayahku kepada asistennya. Kemudian, dia kembali ke ruang kantor.
Begitu ayahku duduk, seseorang tiba-tiba menyerbu masuk. Orang itu adalah bibiku. "Kak, kemarin aku menunggu Candice semalaman. Tapi, dia nggak menjawab teleponku. Kamu bisa telepon dia nggak?"
Aku bisa melihat bibiku membawa kue. Itu adalah kue stroberi kesukaanku. Sayangnya, aku tidak berkesempatan untuk memakannya lagi.
Ketika mendengar namaku, wajah ayahku langsung menjadi suram. "Mana aku tahu dia ke mana. Ngapain kamu beli kue kasih dia? Dia yang membunuh ibunya. Dia nggak pantas dibelikan kue."
Sejak ibuku meninggal, hanya Bibi yang memperlakukanku dengan baik. Namun, Ayah melarangku dekat dengan Bibi. Dia bilang aku pendosa sehingga tidak pantas diperlakukan dengan baik.
Saat mendengar nada bicara ayahku yang marah, Bibi menjadi agak panik. "Kamu sudah membenci Candice selama 10 tahun. Masa masih belum cukup? Dia putri kandungmu. Dia juga kasihan karena kehilangan ibunya saat masih kecil!"
"Memangnya aku yang membuatnya kehilangan ibu? Kerakusannya yang telah membunuh ibunya! Seharusnya dia yang mati waktu itu!" Leher ayahku sampai memerah saking emosinya.
"Pokoknya aku nggak mau dengar apa pun soal dia. Kamu nggak usah cari aku juga. Putriku cuma Monica!"
Monica pintar dan ramah. Dia selalu tersenyum saat mengobrol dengan siapa pun. Ayahku sangat menyayanginya. Namun, dia tidak tahu bahwa di balik senyuman itu tersembunyi sesosok siluman!
Bibi masih ingin berbicara, tetapi Ayah sudah menyelanya, "Sudah, jangan dilanjutkan lagi. Dia cuma binatang yang nggak punya hati nurani. Kalau nggak, dia seharusnya mati sejak awal."
Usai mengatakan itu, ayahku berbalik untuk pergi. Ketika menatap punggung ayahku yang dingin, hatiku bak disayat pisau. Air mataku tak kuasa menetes.
Sementara itu, bibiku masih mencoba mengirim pesan kepadaku. Dia menyuruhku untuk tidak berkeliaran. Semua itu nggak ada gunanya karena aku tidak bisa menerima pesan dari siapa pun lagi.
Di bawah ikatan tak kasatmata, rohku mengikuti ayahku pulang.
"Ayah, kamu sudah pulang." Begitu ayahku duduk, Monica langsung menyodorkan segelas air hangat untuknya.
Ayahku menerima gelas itu dan mengelus kepala Monica dengan senang. "Terima kasih. Kamu memang putri terbaik."
Aku bisa melihat, wajah Ayah yang tadinya lelah menjadi lebih bersemangat setelah melihat Monica. Hal ini membuatku teringat pada sesuatu.
Suatu hari, ayahku demam dan hanya bisa berbaring di ranjang. Aku menerjang badai pada pukul 3 dini hari demi membelikannya obat.
Ketika aku membawakan obat untuknya, dia langsung mengusirku dan memakiku sok baik. Sungguh perlakuan yang berbeda.
Tidak peduli betapa perhatian aku padanya, ayahku tetap akan membenciku. Di hati ayahku, hanya Monica putrinya. Aku selalu salah di matanya.
"Maaf, Monica. Ayah terlalu sibuk sampai melewatkan ulang tahunmu," ucap ayahku dengan wajah menyesal.
Monica pun menggeleng sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Ayah. Aku tahu kamu sibuk. Ayah, kita cari Kakak yuk. Dia juga suka makan kue."
Monica hanya berpura-pura peduli padaku. Seketika, ekspresi ayahku yang dipenuhi kasih sayang berubah menjadi dipenuhi amarah.
"Ngapain bahas dia? Aku justru berharap dia nggak pulang lagi. Mati saja di luar sana. Monica, kita anggap saja dia sudah mati. Pokoknya kamu satu-satunya putriku."
Monica menahan kegembiraannya. Dia membenamkan wajahnya di pelukan ayahku dan diam-diam menyunggingkan senyuman licik. Setiap kali dia berhasil memfitnahku dan aku dimarahi, dia akan tersenyum seperti itu.
Ayahku mengeluarkan sebuah kue kecil. "Ulang tahunmu jadi nggak seru karena Ayah terlalu sibuk. Nah, ini kompensasi dari Ayah. Kamu paling suka makan kue stroberi, 'kan?"
Monica mencicipinya dan mengatakan rasanya tidak enak. Dia mengeluh karena Ayah tidak tahu kue favoritnya.
Nada bicara Monica agak kasar, tetapi ayahku malah tersenyum lebar. Aku benar-benar iri melihat Monica bisa bertingkah manja dan merajuk seperti ini. Tidak sepertiku yang tidak bisa mendapat sedikit pun kasih sayang, padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun.
Tiba-tiba, ayahku mengeluarkan kalung anak-anak dari sakunya. Begitu melihat kalung itu, aku langsung menangis.
Itu adalah kalung yang dipakaikan ibuku kepadaku. Setelah Ibu meninggal, aku akan mengeluarkan kalung itu jika merindukannya. Namun, Ayah bilang aku tidak pantas memiliki kalung itu. Dia lantas merebutnya dariku. Aku memintanya berkali-kali, tetapi dia bilang akan memberikannya kepadaku kalau aku mati.
Siapa sangka, dia malah memberi kalung itu kepada Monica. Aku terus berteriak di samping, memintanya untuk tidak diberikan kepada Monica. Namun, aku hanya bisa menyaksikan kalung itu dipakaikan ke pergelangan tangan Monica.
Sesuatu yang tidak bisa kudapatkan malah didapatkan Monica dengan begitu mudah. Aku meringkuk di pojok, memeluk diri sendiri sambil menangis.
Bab 3
Keesokan hari, Ayah pergi ke kantor polisi. Begitu masuk, dia langsung bertanya kepada asistennya, "Apa sudah ada keluarga yang datang untuk mengambil jenazah?"
Ketika mendengar jawaban asisten, Ayah sontak murka. "Keluarga macam apa ini? Anaknya disiksa sampai mati, tapi mereka diam saja? Nggak bertanggung jawab sekali. Kalau mereka datang nanti, kamu harus membantuku memarahi mereka."
Asisten hanya bisa mengangguk. Ayah bertanya lagi, "DNA sudah selesai diperiksa? Suruh mereka cepat sedikit."
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Setelah menjawab panggilan, wajahnya menjadi sangat masam. Tidak berselang lama, Bibi datang lagi.
Bibi bertanya dengan cemas, apa aku sempat menghubungi Ayah atau tidak. Ayah menyahut dengan marah, "Ngapain kamu masih peduli pada anak nggak berguna itu? Kamu tahu wali kelasnya bilang apa?"
"Bilang dia bolos! Dia sudah nggak pergi sekolah selama tiga hari! Aku kerja keras supaya dia bisa belajar, tapi dia malah membalasku dengan cara seperti ini! Sebaiknya dia jangan pulang lagi atau aku nggak bakal mengampuninya!"
Ayah, kamu seharusnya senang karena aku memang tidak bisa pulang lagi ....
Begitu mendengarnya, Bibi pun menyergah, "Cukup! Candice sudah tiga hari nggak ke sekolah dan nggak bisa dihubungi! Masa kamu nggak cemas anakmu ke mana?"
"Dia darah dagingmu dan kakakku! Sebelum kakakku meninggal, bukannya dia menyuruhmu untuk menjaga Candice? Gimana bisa kamu setega ini? Anakmu hilang tiga hari, tapi kamu nggak peduli! Ayah macam apa kamu ini?"
Saking emosinya, bibiku sampai meneteskan air mata. Ayah pun tidak bisa berkata-kata lagi karena melihat bibiku begitu emosional. Dia hanya mendengus, lalu duduk dan membaca laporan.
Saat ini, asisten berlari masuk. "Pak, ada penemuan baru! Cepat kemari!"
Ayah bergegas bangkit. "Cepat, di mana?" Sebelum pergi, dia berkata kepada Bibi, "Biarkan saja anak itu. Terserah dia mau ngapain."
Kemudian, dia menutup pintu dan meninggalkan bibiku yang menangis tersedu-sedu. Aku ingin menghibur Bibi, tetapi tanganku malah menembus tubuhnya. Karena tidak berdaya, aku hanya bisa menghela napas dan melayang keluar.
Di ruang otopsi, aku melihat ayahku memegang laporan dengan ekspresi serius. Aku mendekat, lalu melihat isi laporan yang bertuliskan bahwa ditemukan sudut kartu remi di perut korban, Q.
Aku yang menaruhnya. Aku tahu aku tidak akan selamat, jadi diam-diam merobek kartu remi selagi tidak ada yang memperhatikan. Kemudian, aku menelannya untuk meninggalkan bukti.
Ayahku menatap sobekan kartu remi itu dengan tatapan yang berangsur dingin. Dia bergumam, "Q."
Tiba-tiba, dia teringat bahwa metode pembunuhan ini sangat mirip dengan kasus yang ditanganinya lima tahun lalu.
Setelah membunuh seseorang, pembunuh gila itu akan merobek sudut kartu remi dan memasukkannya ke mulut korban. Kalau tidak ada ayahku, pembunuh itu pasti masih berkeliaran di luar.
Saat ini, Ayah melihat beberapa partikel hitam di atas kartu remi lagi. Ternyata itu adalah batu bara. Aku juga sengaja menelannya supaya mereka dapat petunjuk.
Asisten yang kebingungan pun bertanya, "Kenapa ada batu bara di kartu remi?"
Ayahku mengelus dagu. Setelah merenung sejenak, dia terpikir akan sesuatu. "Beri tahu tim untuk menyelidiki tambang batu bara di sekitar."
Asisten itu sontak memahaminya. "Ya, kamu benar, Pak. Kita mungkin bisa menemukan TKP dengan cara ini!"
Akhirnya ada perkembangan pada kasus ini. Semua orang memuji ayahku hebat. Ayahku tersenyum dan menunjuk jasadku. "Gadis ini yang cerdas. Sepertinya dia diam-diam membantu kita."
Ini pertama kalinya Ayah memujiku. Aku yang berdiri di samping sampai merasa tersanjung.
Siang harinya, polisi menelepon ayahku. Katanya, mereka menemukan lokasi yang diduga sebagai lokasi pembunuhan, yaitu tambang batu bara terbengkalai yang terletak 10 kilometer dari pinggiran timur Kota Zeno. Di sana, ditemukan noda darah.
Ayah langsung membawa orang-orangnya ke tambang batu bara itu. Setelah tiba, mereka memulai penyelidikan.
Tiba-tiba, sebuah rumah kecil di sekitar menarik perhatian ayahku. Dia perlahan-lahan mendekat. Hatiku menegang. Ini karena aku dimutilasi di rumah kecil itu.
Begitu masuk, ayahku langsung menutup hidungnya karena bau amis yang tak tertahankan. Di dalam sana dipenuhi darah.
Dua ekor tikus sedang menggerogoti tali karena ada darahku di sana. Di atas ranjang besar, tampak sebilah pisau yang menancap. Itu adalah senjata yang digunakan untuk membelah perutku!
Saat ini, aku bisa melihat ekspresi ayahku berubah. Aku mengikuti arah pandang ayahku. Ternyata tatapannya tertuju pada sesuatu di bawah ranjang.
Setelah melihat dengan saksama, aku pun terkejut. Bukankah itu kartu pelajarku? Ada namaku di atasnya! Sepertinya ayahku akan segera mengetahui kebenarannya!
Ayah perlahan-lahan mendekat. Setiap langkah kakinya membuat jantungku berdetak makin kencang. Aku menahan napasku.
Tiba-tiba, tikus yang ketakutan berlari ke bawah ranjang dan menggigit kartu pelajarku, lalu membawanya keluar.
Pemandangan ini pun membuat ayahku termangu. Dia sontak menghentikan langkah kakinya, lalu menggeleng dan menghela napas. Aku pun tidak tahu harus merasa sedih atau lucu.
Saat ini, bibiku tiba-tiba menerobos masuk. Dengan wajah pucat dan emosional, dia memekik, "Kak! Ada seragam Candice di luar!"
Aku dan ayahku sama-sama terkejut. Saat melihat seragamku, ekspresi ayahku agak berubah, tetapi segera kembali normal.
"Nggak mungkin. Dia nggak mungkin kenapa-napa. Korbannya bukan dia." Usai berbicara, Ayah maju dan mengambil seragam itu. Sebuah jepit rambut kecil terjatuh.
Begitu melihatnya, bibiku langsung mengenali jepit rambut itu. Dia berseru dengan kaget, "Itu punya Candice! Aku yang kasih dia waktu dia ulang tahun tahun lalu. Jangan-jangan korbannya adalah ...."