Bab 1
Pada hari pernikahan, Diego menerima telepon dan buru-buru meninggalkan pesta nikah.
Nenek murka hingga memuntahkan darah. Semua orang mengabaikanku, tidak ada yang membantu.
Ketika nenekku tiba di rumah sakit, dokter mengatakan dia tidak bisa diselamatkan lagi.
Saat aku berdiri di kamar mayat, Diego meneleponku.
"Cherish, cepat datang ke rumah sakit. Zoey terluka dan butuh transfusi darah!"
"Diego, hubungan kita sudah berakhir." Aku langsung mematikan ponsel dan meninggalkan semuanya.
Diego berlutut di tengah hujan demi memohon kepadaku. Dia bilang, asalkan aku bersedia kembali dengannya, dia akan memberiku apa pun, termasuk nyawanya.
Di kamar mayat, aku menatap jenazah nenekku. Air mataku lagi-lagi berderai.
Di layar ponselku adalah notifikasi pesan dari Zoey. Wanita itu mengirimkanku video yang memperlihatkan Diego menggandeng tangannya. Keduanya bertatapan dengan mesra. Latar belakangnya adalah petasan yang indah.
[ Aku bilang ingin lihat petasan. Diego langsung menyalakannya untukku. Aku tahu dia paling mencintaiku! ]
Suasana meriah di video terlihat sangat kontras dengan suasana hening di rumah sakit. Hatiku bak disayat-sayat dan berdarah.
Kemarin, aku dan Diego seharusnya menikah. Namun, saat bertukaran cincin, Diego tiba-tiba mendapat telepon dan pergi dengan terburu-buru.
Nenekku pun murka hingga memuntahkan darah melihat kejadian itu. Aku panik dan meminta bantuan kepada semua orang, tetapi tidak ada yang peduli. Semua hanya mentertawakanku karena aku dicampakkan oleh Diego.
Aku menelepon Diego beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Pada akhirnya, aku buru-buru mengantar Nenek ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Sayangnya, dokter bilang aku terlambat selangkah. Nenek sudah meninggalkanku untuk selamanya.
Ternyata, Diego pergi demi Zoey. Sambil menahan rasa sakit di hatiku, aku mengadakan acara pemakaman untuk nenekku.
Di luar sana, Diego membawa Zoey masuk.
"Pantas saja kelopak mataku terus berkedut. Ternyata hamsterku mati," ujar Zoey dengan mata memerah. Dia terlihat sangat sedih.
Diego mengelus kepalanya dan menghibur, "Jangan nangis. Aku akan terus menemanimu."
Begitu ucapan ini dilontarkan, Diego melihatku. Dia bertanya, "Cherish, kenapa kamu di sini?"
Aku menatapnya dengan dingin sambil menyahut, "Hari ini pemakaman nenekku."
Nenekku sangat menyukai Diego. Aku berharap Diego bisa meminta maaf kepada nenekku supaya nenekku bisa pergi dengan tenang.
Diego mendengus. "Kamu kira aku percaya? Dokter saja bilang kesehatan nenekmu sangat bagus. Masih bisa hidup tiga sampai lima tahun."
Sebelum aku menyahut, Diego meneruskan, "Cherish, kamu sengaja, 'kan? Kamu tahu hamster Zoey mati, jadi memesan tempat di sini. Tapi, aku nggak nyangka kamu akan menggunakan kematian nenekmu untuk mendapat perhatianku."
Ekspresiku menjadi makin dingin. Sepertinya aku terlalu memanjakannya selama ini, sampai-sampai dia mengira dia adalah duniaku. Kini, aku malas menjelaskan. Apalagi, aku sudah tidak peduli pada Diego.
Terdengar suara lembut Zoey. "Diego, jangan marah. Aku rasa Cherish bohong karena terlalu mencintaimu. Dia ingin mendapat perhatianmu. Dia nggak salah kok. Aku yang salah karena terus mencarimu. Dia sampai salah paham padaku."
Zoey bersikap seolah-olah dirinya sangat baik hati dan pengertian. Faktanya, dia ingin Diego mengira aku berbohong karena cemburu.
Aku menatapnya dengan dingin sambil menegur, "Tutup mulutmu!"
Zoey langsung menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku, Cherish. Aku sudah salah."
Diego pun membela Zoey sambil menatapku dengan galak, "Cherish, berani sekali kamu menindas Zoey! Justru kamu yang harus tutup mulut!"
Zoey menggeleng. "Aku nggak apa-apa kok. Sebaiknya kita makamkan hamsterku dulu."
Diego mengangguk, lalu menginstruksi pengawalnya, "Singkirkan semua yang ada di sini. Tempat ini untuk pemakaman hamster Zoey."
Aku terkesiap dan menatapnya dengan tidak percaya. "Diego, kamu sudah gila?"
Aku kira ada yang salah dengan pendengaranku. Dia ingin menghancurkan aula berkabung nenekku untuk hamster? Bukankah ini sangat konyol?
Bab 2
Zoey tersenyum kepadaku dan berkata, "Cherish, aku sudah tanya master. Katanya, asalkan hamsterku mengadakan acara pemakaman di sini, dia bisa bereinkarnasi jadi manusia. Ini adalah perbuatan baik lho."
Diego berujar dengan lembut, "Zoey, kamu memang baik hati. Tenang saja, hamstermu pasti bisa merasakan kebaikanmu."
Zoey menatap guci abu di tanganku. "Diego, guci di tangan Cherish sangat cantik. Andai saja abu hamsterku bisa ditaruh di sana."
Aku memelotot dengan galak sambil memeluk guci abu Nenek. "Kalau kalian berani menyentuh guci abu nenekku, jangan salahkan aku bertindak lancang pada kalian!"
Diego berkata dengan tidak percaya, "Cherish, nenekmu sangat menyayangimu. Kamu malah terus mengutuknya mati dan membuat aula berkabung palsu begini. Kamu nggak merasa tindakanmu ini bisa membuat nenekmu sial?"
Aku memelotot sambil menyahut, "Nenekku sudah meninggal. Dia meninggal di pesta nikah kemarin. Kalau kamu nggak percaya, tanya saja pada dokter di rumah sakit. Mereka bisa bersaksi untukmu!"
Zoey berucap dengan lembut, "Cherish, abu di guci putih itu pasti palsu. Hamsterku sudah mati. Dia kasihan sekali. Ayolah, kasih aku guci itu."
Diego menatapku dengan tidak sabar. "Aku masih harus mengadakan pemakaman untuk hamster. Cepat berikan guci itu. Aku nggak punya waktu melihat sandiwaramu."
"Jangan mimpi!" pekikku dengan wajah pucat pasi.
Diego menyuruh pengawal mengambil guci abu dari tanganku. Aku ingin melawan, tetapi kedua pengawal itu menahanku dengan erat. Aku hanya bisa berteriak, "Kembalikan guci abu nenekku!"
Namun, tidak peduli bagaimana aku berteriak, pengawal tetap membuang abu di dalam layaknya membuang sampah.
Aku murka hingga sekujur tubuhku gemetaran. Aku ingin sekali menikam dan mencabik-cabik Diego!
Zoey maju dan menginjak abu nenekku. "Cherish, aku mewakili hamsterku berterima kasih padamu."
Ketika melihat Zoey menginjak abu Nenek, aku hampir menggila. Aku berteriak histeris, "Singkirkan kakimu itu!"
Aku mengerahkan seluruh tenagaku dan akhirnya berhasil melepaskan diri dari kedua pengawal itu. Kemudian, aku langsung menyerbu ke arah Zoey dan mendorongnya.
Setelah itu, aku berlutut dan memungut abu nenekku sambil bergumam dengan panik, "Nenek, maafkan aku. Aku gagal melindungi guci abumu."
Zoey yang terjatuh pun menjulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. Ketika melihat tangannya dipenuhi darah, dia memekik, "Diego, aku berdarah!"
Diego segera menghampiri untuk melihat darah di dahi Zoey. Seketika, ekspresinya berubah drastis. "Cherish, kamu harus melakukan transfusi darah untuk Zoey! Sekarang juga!"
Begitu mendengar kata transfusi darah, tubuhku sontak menegang. Aku tanpa sadar memegang perutku dan menggeleng. "Aku hamil, nggak boleh donor darah."
Dulu setiap kali Zoey membutuhkan darah, aku akan selalu mendonorkan darahku.
Diego termangu sesaat. "Kamu hamil?"
Aku khawatir Diego tidak percaya dan akan melakukan sesuatu yang bisa melukai anakku. Jadi, aku mengeluarkan hasil pemeriksaan kandunganku kepadanya.
"Diego, aku benaran hamil. Aku nggak bisa donor darah." Aku telah kehilangan nenekku, jadi tidak ingin kehilangan anakku.
Zoey menangis sesenggukan. "Aku tahu kamu membenciku dan nggak ingin menolongku. Tapi, nggak usah menipu kami pakai hasil pemeriksaan palsu. Biarkan aku mati saja."
Ekspresi Zoey terlihat sangat menyedihkan, ditambah lagi luka di dahinya. Seketika, Diego langsung memercayainya dan menatapku dengan dingin.
"Cherish, kukira kamu baik hati dan lembut. Tapi, ternyata kamu licik dan busuk. Kamu sampai membuat laporan palsu begini. Aku sudah salah menilaimu selama ini. Kamu harus donor darah untuk Zoey!"
Bab 3
Wajahku pucat pasi. Aku terus mundur, lalu berbalik dan berlari ke arah pintu keluar. Namun, sebelum keluar, pengawal sudah mengejarku dan menahanku. Semua perlawananku sia-sia. Aku dibawa ke mobil dan akhirnya tiba di rumah sakit.
Aku menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilan itu kepada dokter. "Hasil pemeriksaan ini dari rumah sakit kalian. Dokter, beri tahu mereka, aku hamil dan nggak boleh donor darah."
Dokter melirik hasil pemeriksaan itu, lalu bertatapan dengan Zoey. "Ini bukan hasil pemeriksaan dari rumah sakit kami. Ini palsu."
Aku bisa menilai bahwa dokter ini telah disuap oleh Zoey. Aku hanya bisa memohon kepada Diego, "Dokter ini bohong. Bawa aku ke rumah sakit lain ya? Aku benaran hamil."
Saat ini, Zoey bersandar di pelukan Diego dan berucap dengan lemas, "Diego, aku lemas sekali. Apa aku akan mati sebentar lagi ...."
Diego menenangkannya dengan cemas, "Zoey, kamu bakal baik-baik saja. Kamu nggak bakal mati."
Kemudian, Diego menginstruksi pengawal untuk menahanku. Aku terus meronta-ronta. "Lepaskan! Diego, kamu hanya akan mencelakai anakmu! Dasar setan!"
Diego menatapku dengan tatapan benci. "Cherish, nggak usah bertingkah. Donorkan saja darahmu untuk Zoey."
Aku hanya bisa menyaksikan jarum memasuki kulitku dan mengambil darahku. Setelah selesai, aku merasa pusing. Ketika aku hendak pergi, dokter tiba-tiba berkata, "Pak, darahnya belum cukup."
Diego berujar dengan kejam, "Ambil lagi darahnya!"
Mataku memerah. Aku ingin sekali membunuhnya! "Diego, aku membencimu!"
Diego bisa merasakan kebencianku. Dia mengernyit dan bertanya, "Cherish, kamu marah karena aku pergi lebih awal saat pesta nikah? Setelah Zoey sembuh, aku bawa kamu dan nenekmu jalan-jalan ke luar negeri."
Aku memejamkan mata. Kesadaranku melemah. Aku bisa merasakan anakku meninggalkan tubuhku. Aku bermimpi panjang.
Aku bermimpi tentang pertemuan pertamaku dengan Diego. Saat itu, aku mengendarai sepeda listrik dan tidak sengaja menabrak mobil Diego. Dia bukan hanya tidak meminta kompensasi, tetapi juga membawaku ke rumah sakit untuk diperiksa.
Saat aku diopname, Diego menjengukku setiap hari dan selalu membawakanku bunga lili. Kemudian, dia menyatakan cinta kepadaku. Aku tidak langsung menerima karena kesenjangan status di antara kita. Namun, dia tidak menyerah dan terus menemaniku.
Saat aku sakit, Diego akan memasak bubur untukku. Pada hari ulang tahunku, dia akan berkemudi delapan jam untuk ke tempatku dan merayakan ulang tahun denganku.
Diego memberiku banyak kehangatan, membuatku jatuh makin dalam dan mengira aku pantas dicintai. Kemunculan Diego bak cahaya yang menyinari kehidupanku yang suram.
Suatu hari, Diego membawaku ke rumah sakit untuk melakukan transfusi darah. Dia bilang teman wanitanya itu mengidap hemofilia dan punya rhesus yang sama denganku, jadi hanya aku yang bisa menolongnya.
"Zoey pernah menyelamatkan nyawaku. Aku harus membalas budinya."
Aku berpikir, karena aku akan menjadi istri Diego, berarti penyelamatnya juga adalah penyelamatku. Lagi pula, hanya donor darah, tidak ada yang menakutkan. Jadi, aku menyetujuinya.
Suatu hari lagi, aku menemukan foto Zoey di dompet Diego. Ternyata mereka pernah berpacaran. Setelah lulus kuliah, Zoey mengikuti keluarganya ke luar negeri. Karena jarang bertemu, keduanya akhirnya putus.
Saat itu, aku baru tahu Diego punya cinta pertama yang tidak bisa dilupakannya sampai sekarang. Ini adalah kenyataan yang kejam bagiku.
Aku pun mengusulkan untuk putus. Namun, Diego mengatakan wanita yang dicintainya adalah aku. Dia bahkan melamarku.
Aku tidak rela berpisah dari Diego dan segala kehangatan yang diberikannya kepadaku. Karena aku mencintainya, aku pun memberinya kesempatan.
Pada akhirnya, kebodohanku malah mencelakai nenekku dan anakku. Kini, aku sungguh membenci Diego dan diriku sendiri.
Ketika aku siuman, Zoey duduk di pinggir ranjang. Hanya ada kami berdua di sini, jadi Zoey pun tidak bersandiwara lagi.
"Jalang, asal kamu tahu, Diego mendekatimu karena tahu rhesus darahmu sama denganku. Dia ingin menjadikanmu bank darahku. Kalau nggak, mana mungkin dia bersikap baik padamu!"
Aku termangu sejenak. Ternyata, semua kasih sayang yang diberikan Diego palsu. Tujuannya hanya supaya aku menjadi bank darah Zoey.
Zoey mengeluarkan sekantong darah. "Ini darahmu. Warnanya cantik sekali, 'kan?"
Kemudian, dia membuka kantong darah itu dan menuangkan isinya ke tong sampah. Dia tersenyum jahat dan berujar, "Jujur saja, aku nggak mengidap hemofilia. Setiap kali kamu mendonorkan darah untukku, aku selalu membuangnya. Dasar bodoh!"
Aku sungguh murka. Aku turun dari ranjang, lalu menyerbu ke arahnya dan mencengkeram lehernya. "Zoey, kamu bakal masuk neraka!"
"Cherish, apa yang kamu lakukan?" Diego tiba-tiba menyerbu masuk dan mendorongku.
Aku baru mengalami keguguran sehingga tubuhku sangat lemah. Begitu didorong, tubuhku sontak menghantam sudut meja. Rasa sakit yang menusuk membuat air mataku menetes. Aku berusaha bangkit dan menunjuk Zoey.
"Diego, dia nggak mengidap hemofilia. Dia menipumu sejak awal! Dia membuang darahku ke tong sampah! Kamu periksa saja tong sampah ...."
"Cukup! Kamu makin lama makin kelewatan saja! Beraninya kamu memfitnah Zoey!" sela Diego menatapku dengan dingin.
Tubuhku sontak menegang. Saat berikutnya, aku tergelak. Tanpa memeriksa tong sampah, Diego langsung memutuskan bahwa aku memfitnah Zoey. Sikapnya yang begitu pilih kasih ini sungguh mengecewakanku.
Dulu aku sangat mencintai Diego. Aku menganggapnya sebagai duniaku. Namun, kini masa lalu itu hanya lelucon bagiku.
"Diego, kita cerai saja."