Bab 2
Setelah menutup telepon, Adele tidak langsung pergi ke rumah keluarga, melainkan kembali ke rumahnya terlebih dahulu.
Setelah bertahun-tahun dihias dengan cermat olehnya dan Darren, unit apartemen seluas lebih dari 300 meter persegi itu tidak terasa kosong sama sekali, malah terasa sangat hangat dan nyaman.
Dulu, dia mengira tempat ini akan menjadi rumah mereka berdua untuk selamanya.
Namun, sejak semalam dia mengetahui Darren telah mengkhianatinya, tempat ini sudah tidak lagi memiliki arti yang sama.
Cincin kawin yang seharusnya mereka tukarkan di hari pernikahan, telah Darren berikan padanya lebih awal. Dua cincin itu adalah desain khusus yang dibuat Darren sendiri, Adele bahkan menyaksikan sendiri prosesnya, bagaimana Darren menggambar sketsa demi sketsa hingga desainnya jadi.
Saat itu, Darren memeluk Adele erat dan menjelaskan dengan penuh harapan di wajahnya, "Ada celah tersembunyi yang aku rancang di cincin ini. Kalau dua cincin ini disatukan, akan membentuk pola hati. Itu artinya kita nggak akan pernah terpisah."
Adele menarik diri dari kenangan itu. Tanpa sedikit pun rasa berat hati, dia mengeluarkan cincin itu dan menghubungi layanan pengiriman instan di dalam kota.
"Halo, aku ingin melakukan pemesanan kirim barang ...."
Berhubung mempelai wanita untuk hari pernikahan nanti telah digantikan oleh Susanti, maka dua cincin yang penuh makna ini, tentu seharusnya juga diberikan kepadanya.
Setelah memesan agar cincin itu dikirim tepat pukul sembilan pagi di hari pernikahan dan melihat kurir mengambil paket tersebut, Adele akhirnya bisa menghela napas lega.
Di rumah seluas 300 meter lebih itu, ada terlalu banyak kenangan akan cinta antara dirinya dan Darren. Sebelum pergi, dia akan memastikan semuanya kembali seperti sedia kala seolah dirinya tidak pernah ada di sana.
....
Saat Adele tiba di rumah keluarga, matanya masih tampak merah dan sembap.
Ibu Darren yang bernama Kelly, melihatnya masuk dengan mata memerah, langsung melirik ke arah belakangnya dua kali. Namun karena tidak melihat bayangan Darren, wajahnya pun tampak bingung.
"Kenapa sampai nangis begitu? Apa Darren menyakitimu?"
Adele tidak tahu harus kepada siapa dia mencurahkan rasa kecewa dan perih di hatinya. Sekalipun Kelly sangat menyayanginya, kasih ibu kandung terhadap anaknya tetap tak tergantikan. Adele berusaha mengendalikan emosinya dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Nggak, tadi anginnya kencang di luar, jadi mataku kelilipan," kata Adele sambil mengangkat tangan mengusap matanya, sekalian menyeka air mata yang sempat mengalir. Wajahnya pun kembali seperti biasa.
Kelly pun menghela napas lega, lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau Darren berani macam-macam sama kamu, kamu harus bilang ke Ibu. Biar Ibuyang urus dia."
Tak lama setelah Adele tiba di rumah keluarga, mobil Darren pun masuk ke garasi bawah tanah. Berhubung dia tidak kunjung naik ke atas, Kelly pun menyuruh Adele untuk memanggilnya.
Begitu tiba di garasi, Adele langsung melihat mobil yang lampunya masih menyala.
Darren duduk di dalam mobil sambil merokok, wajahnya penuh konsentrasi menatap layar ponselnya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Adele yang berjalan mendekat.
"Kamu pakai baju begini untuk godain aku, nggak mau turun dari ranjang lagi ya?"
Dari dalam ponsel, terdengar suara manja Susanti, "Ini bonus spesial buat kamu. Kesempatan langka, jangan sampai kelewatan. Malam ini jangan lupa datang ya ...."
Darren mengumpat pelan dan membalas dengan kejam, "Lihat saja mau gimana kuhabisi kamu nanti malam."
Begitu panggilan itu berakhir, Darren masih tampak terbakar oleh hasrat. Dia menyulut sebatang demi sebatang rokok untuk mencoba meredam gejolak dalam dirinya.
Adele memandangi Darren, sosok yang hari ini terasa sangat asing baginya. Seluruh bayangan tentang Darren di hatinya, hancur tak bersisa.
Laki-laki yang dulu begitu dia yakini mencintainya sepenuh hati, ternyata bisa bersikap lembut pada dua wanita sekaligus dan bahkan tergila-gila seperti itu pada orang lain.
Sudut bibir Adele terangkat membentuk senyum getir, tapi perutnya terasa mual dan melilit.
Suara mobil yang dimatikan terdengar. Darren mematikan rokok dan bersiap membuka pintu.
Namun, tepat sedetik sebelum Darren keluar dari mobil, Adele telah berbalik dan meninggalkan garasi. Mereka kembali ke lantai atas hampir bersamaan. Saat itu, para asisten rumah tangga sedang menata hidangan di meja makan.
Melihat mereka datang, Kelly melirik Darren dengan kesal. "Kamu ngapain saja selama itu? Harus Adele dulu yang turun manggil, baru kamu mau naik!"
Ekspresi Darren langsung membeku. Dia panik seketika dan menoleh cepat ke arah Adele.
"Kamu tadi sempat ke bawah nyari aku?"
Adele menatap Darren dengan ekspresi tenang, lalu mengangguk ringan. "Iya, tapi begitu lihat kamu lagi telepon, aku langsung balik lagi. Kenapa?"
Darren memandangi Adele cukup lama. Ekspresinya masih tegang saat bertanya, "Kamu dengar aku lagi telepon sama siapa?"
Dalam hati Adele merasa ini semua sangat ironis, tapi wajahnya tetap tidak menunjukkan tanda-tanda aneh. "Nggak. Bukannya kamu lagi ngomong sama klien? Siapa lagi coba?"
Adele menatap Darren dengan tenang. Dia jelas melihat bagaimana Darren langsung menghela napas lega dan ekspresinya perlahan kembali ke wajah lembut yang selama ini dia kenal. Tangan Darren terangkat, mengusap kepala Adele dengan gerakan pelan dan lembut.
"Bukan klien. Itu dari panitia gala amal minggu depan. Aku pesankan perhiasan baru untuk kamu, tadi mereka telepon soal itu. Mau sampai kapan pun, kamu selalu harus jadi wanita paling bersinar di sisiku."
Setelah Adele berhasil diselamatkan dulu, Grup Halsinky rutin menyelenggarakan gala amal setiap beberapa waktu. Seluruh dana yang dikumpulkan dari acara itu akan didonasikan penuh lewat yayasan amal yang diberi nama sesuai nama Adele.
Semua itu dilakukan Darren demi mendoakan keselamatan dan kesehatan Adele, agar hidupnya ke depan tidak lagi dirundung bencana. Sebagai seseorang yang tidak percaya Tuhan maupun dewa, Darren bersedia melakukan itu semua demi Adele. Saat itu, Adele benar-benar terharu sampai tidak bisa berkata-kata.
Namun kini, perasaannya tidak lagi tersentuh. Dia hanya menjawab datar, "Kamu atur saja, aku ikut."
Setelah makan malam, Kelly mengambil sebuah kotak kayu merah dan membuka isinya. Di dalamnya ada sebuah gelang giok yang dia keluarkan dan langsung dipakaikan ke pergelangan tangan Adele.
"Ini adalah pusaka keluarga yang diwariskan untuk menantu perempuan Keluarga Halsinky. Akhirnya setelah sekian lama, benda ini akan sampai juga ke tanganmu."
Kelly tersenyum hangat dan penuh kasih, pandangannya bergantian tertuju pada Adele dan Darren. Adele menunduk menatap gelang giok di pergelangan tangannya. Batu gioknya bening dan bercahaya, menonjolkan kelembutan serta putihnya kulit tangannya.
Namun, dia tidak berniat untuk mengaguminya.
Adele hanya tersenyum tipis, lalu perlahan melepas gelang itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak. "Aku mengerti maksud Tante. Tapi karena ini benda yang begitu bermakna, lebih baik diberikan saat hari pernikahan nanti saja."
Karena Adele bersikap tegas, Kelly pun hanya bisa berkata bahwa gelang itu akan dia pakaikan sendiri di hari pernikahan nanti. Menyadari Darren beberapa kali melirik jam dengan gelisah, Adele pun langsung mencari alasan untuk pamit pulang.
Di perjalanan pulang, perutnya mendadak terasa nyeri. Saat itulah Adele baru sadar bahwa siklus bulanannya datang lebih cepat dari perkiraan.
Setelah sampai di rumah, Darren merebus air hangat dan membantu Adele melepas sepatu dan kaus kakinya, lalu menyiapkan air rendaman untuk kakinya.
Adele menunduk memandangi pusaran rambut di kepala Darren. Dadanya terasa seperti terkoyak. Dia sudah jelas-jelas tidak setia lagi, tapi kenapa masih bisa bersikap begitu lembut seperti dulu?
Ternyata, sikap penuh perhatian dan cinta seperti ini juga bisa dibuat-buat.
Setelah berbaring di tempat tidur, tangan besar Darren perlahan memijat lembut perut Adele.
Rasa kantuk mulai menyergapnya. Namun, Adele tahu jelas tujuan Darren memanjakannya seperti ini adalah untuk membuatnya cepat tidur. Justru karena tahu itulah, dia sama sekali tidak bisa benar-benar tertidur.
Tak lama kemudian, ponsel Darren bergetar pelan dua kali.
Adele merasakan Darren mengambil ponsel dan seiring dengan napasnya yang tiba-tiba menjadi lebih berat, gerakan tangannya juga menjadi sedikit lebih kuat.
Seolah sesuai harapannya, Darren mengira Adele sudah tertidur karena napasnya perlahan menjadi stabil. Darren pun perlahan turun dari ranjang dan berganti pakaian dengan hati-hati, lalu buru-buru keluar rumah.
Adele berdiri di dekat jendela, memandangi mobil yang melaju cepat dan menghilang dalam kegelapan. Jemarinya mengepal erat, hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Namun, dia tidak merasa sakit sama sekali.
Bab 3
Keesokan paginya saat Adele terbangun, Darren sudah kembali dan sedang sibuk di dapur.
Begitu melihat Adele keluar dari kamar tidur, Darren langsung tersenyum lebar. "Cepat sini, cobain resep baru yang aku pelajari, bola ketan kecil dengan gula merah. Katanya bagus buat menghangatkan perut saat datang bulan."
Melihat pemandangan itu, Adele sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya duduk di meja makan. Dia menatap Darren dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. "Kamu semalam ke mana?"
Senyum di wajah Darren langsung membeku. Dia refleks mengalihkan pandangan untuk menghindari tatapan Adele, tetapi hanya sesaat sebelum kembali bersikap normal. Dia duduk di samping Adele dan menggenggam tangannya dengan cemas.
"Tadi malam ada urusan mendadak di kantor. Aku cuma keluar sebentar. Soalnya kamu sudah tidur, jadi aku nggak tega bangunin. Kamu kebangun karena mimpi buruk, ya?"
Tatapan penuh rasa sayang dari Darren begitu meyakinkan, nyaris tidak terlihat ada kepalsuan. Namun, Adele tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang bisa membagi cinta dan nafsu kepada dua orang sekaligus?
Adele tidak menjawab. Darren lalu memeluknya dengan lembut dan membisikkan kata-kata penghiburan. Setelah itu, dia langsung menelepon asistennya, meminta dibuatkan janji pemeriksaan sekaligus mengirimkan obat penenang.
Sejak Adele diselamatkan dulu, dia hanya bisa tidur jika minum obat dalam waktu yang cukup lama.
Meski begitu, dia tetap sering terbangun karena mimpi buruk tentang malam itu. Bau alkohol yang menusuk, darah yang melekat di tangannya ....
Karena sangat mengkhawatirkan kondisinya, Darren bahkan sempat tidur di lantai kamarnya setiap malam hanya agar bisa segera menenangkannya setiap kali dia tersentak dalam mimpi. Namun, pria yang begitu perhatian seperti itu tetap saja mengkhianatinya.
Saat Adele mengangkat kepala, dia melihat di bawah dagu Darren terdapat bekas kecupan sama. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap terlihat jika diperhatikan.
Biasanya saat di rumah, Darren selalu tampil santai. Dua kancing teratas bajunya sering kali dibiarkan terbuka, memperlihatkan jakun dan sedikit bagian dadanya. Namun hari ini, dia mengancingkan bajunya hingga kancing paling atas.
Berhubung tadi dia sempat memasak, lengan bajunya tergulung sedikit ke atas sehingga tidak sengaja memperlihatkan sebuah bekas cakaran yang samar di bawah lipatan itu. Begitu menggoda, begitu mencurigakan.
Darren sama sekali tidak menyadari bahwa semua jejak itu telah tertangkap jelas oleh mata Adele. Mengenai bagaimana semua bekas itu bisa muncul ... sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Darren menyendokkan semangkuk bola ketan gula merah dan membawanya ke hadapan Adele.
Namun begitu mencium aroma manis yang menguar dari mangkuk itu dan mengingat semua yang baru dia lihat, perut Adele kembali terasa mual. Dia buru-buru menepis tangan Darren dan berlari masuk ke kamar mandi.
Darren menyusul dengan khawatir. Saat dia mengangkat tangan untuk membersihkan sisa muntahan di sudut bibir Adele, emosi Adele tiba-tiba meledak. Dia mendorong Darren dengan keras sambil berteriak, "Jangan sentuh aku!"
Tangan Darren terhenti di udara dan sorot matanya dipenuhi kebingungan. Suaranya melemah saat dia bertanya, "Adele, aku salah apa ...?"
Adele mengatur napasnya dan berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya membuka mulut, "Nggak, aku cuma baru baca novel tadi ... terus nggak sadar membayangkan kamu jadi si tokoh itu."
Mendengar ucapannya, Darren akhirnya menghela napas lega. Dia kembali mendekat, lalu membersihkan air yang terciprat di wajah Adele.
Sambil tertawa ringan, dia menggoda, "Baca novel apa sampai serius begini?"
Adele menatap Darren dan berkata pelan, "Ceritanya tentang sepasang kekasih yang bikin banyak orang iri. Tapi si laki-laki nggak bisa bertahan menghadapi waktu, dia berpindah hati dan mengkhianati si perempuan. Dia nggak mau kehilangan pacarnya, tapi juga nggak rela melepaskan selingkuhannya. Pada akhirnya, dia nggak dapat apa-apa."
"Darren, kamu juga akan jadi seperti laki-laki itu ...?"
Jari-jari Darren sempat gemetar sedikit, tetapi dia buru-buru menenangkan diri dan segera menarik Adele ke dalam pelukannya. "Itu cuma cerita fiksi. Nggak ada siapa pun yang bisa memisahkan kita. Aku nggak akan pernah berpindah hati dan nggak akan pernah mencintai orang lain."
"Kamu harus percaya, aku benar-benar mencintaimu."
Entah kata-kata itu ditujukan untuk menenangkan Adele atau justru untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah itu, Darren membawa Adele ke rumah sakit untuk pemeriksaan ulang. Mungkin karena menyadari bahwa kondisi emosional Adele sedang tidak stabil, beberapa hari ke depan dia terus menemani di sisi Adele.
Tak terasa, hari gala amal pun tiba.
Darren mengajak Adele ke butik untuk memilih gaun malam. Adele terlihat tidak terlalu antusias. Pandangannya hanya tertuju pada sebuah gaun berwarna hitam pekat di rak paling ujung.
Melihat arah pandangan Adele, Darren bertanya dengan lembut, "Kamu suka yang ini?"
"Kalau iya, coba saja dulu. Kalau cocok, nanti aku suruh orang kirim langsung ke rumah."
Sebelum Adele sempat menjawab, seorang pegawai butik berjalan mendekat dengan ekspresi serba salah. "Maaf, Bu Adele, gaun ini sudah dipesan orang. Kalau berkenan, saya bisa bantu rekomendasikan model lainnya."
Wajah Darren langsung tampak tidak senang. Tatapannya menusuk ke arah pegawai itu dan berkata dengan penuh tekanan, "Tanyakan sama pemesannya apakah dia bersedia merelakan gaun ini. Kalau bersedia, aku akan beri dia gaun baru secara gratis sebagai gantinya."
Pegawai itu melirik Adele dengan gugup, lalu berjalan mendekati Darren dan berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Gaun ini ... dipesan oleh Bu Susanti."
Meski suara itu sangat pelan, Adele tetap mendengarnya dengan jelas. Dia pun berbalik menatap Darren dan saat melihat perubahan di wajah pria itu, dia merasa semuanya sangat ironis.
"Cuma sebuah gaun, kok. Aku suruh dia relakan ke kamu, ya?"
Adele menggeleng dengan enggan. "Aku cuma lihat-lihat karena modelnya lumayan. Tapi baik orang maupun barang, aku nggak pernah tertarik merebut apa yang sudah jadi milik orang lain."
Mendengar ucapan yang seolah-olah sedang ditujukan pada dirinya, Darren tak kausa mengerutkan alis. Hatinya sempat panik sejenak.
Adele pun kembali memilih gaun lain. Darren menahan kegelisahan yang tak dia pahami dan terus mengikutinya. Akhirnya atas saran Darren, Adele memilih sebuah gaun berwarna biru.
Saat dia masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun tersebut, layar ponselnya tiba-tiba menyala dan muncul sebuah notifikasi.
[ Hitung mundur: 7 hari. ]
Bab 4
Darren menatap pesan di layar ponsel, perasaan gelisah dalam hatinya kembali menyeruak. Dia baru saja hendak mengambil ponsel milik Adele untuk melihat pesan apa yang muncul, ketika tirai ruang ganti tiba-tiba disibakkan dan Adele melangkah keluar.
Gaun yang dikenakannya serasi sekali dengan perhiasan batu permata yang telah disiapkan Darren secara khusus. Kecantikan Adele tampak semakin bersinar karena perpaduan itu.
Dalam sekejap, Darren melupakan tentang hitungan mundur yang sempat dia lihat di ponsel tadi. Tatapannya terpaku dengan penuh kekaguman.
"Adele, aku benar-benar pria paling beruntung karena memilikimu."
Dulu, jika Adele ditatap dengan penuh cinta seperti itu, mungkin jantungnya sudah berdebar kencang. Namun kini, dia hanya mengalihkan pandangannya dengan tenang tanpa merasa terharu sedikit pun.
Darren menunduk dan berniat mencium pipinya, tetapi Adele menghindar secara halus.
"Ayo pergi sekarang. Waktunya sudah mepet."
Melihat Adele mengambil ponselnya lagi, Darren baru teringat pada notifikasi hitungan mundur yang tadi sempat dia lihat. Wajahnya langsung mengernyit. "Aku tadi lihat ada pengingat hitung mundur tujuh hari di ponselmu. Apa itu?"
Adele sempat terdiam sesaat, kilatan gugup melintas di matanya. Dia belum ingin Darren tahu bahwa dia sedang mempersiapkan kepergiannya.
"Tujuh hari lagi itu hari pernikahan kita. Kamu lupa ya?" jawabnya tenang, sambil menatap Darren dengan tatapan jujur.
Ditatap seperti itu, Darren justru merasa bersalah. Dia buru-buru mengganti topik, seolah tidak terjadi apa-apa.
....
Meskipun pesta belum dimulai, aula sudah penuh sesak oleh tamu-tamu yang bercengkerama dengan riuh. Begitu Darren dan Adele masuk, semua orang langsung menghampiri mereka.
Udara di dalam cukup dingin karena pendingin ruangan dan Darren dengan sigap menyampirkan selendang yang telah dia siapkan sebelumnya ke pundak Adele.
Adegan itu membuat banyak wanita menatap dengan iri. Sementara teman-teman dan rekan bisnis Darren justru berseloroh sambil tersenyum.
"Pak Darren benar-benar perhatian sekali sama Bu Adele. Di seluruh Kota Jarcos, rasanya nggak ada pasangan yang lebih serasi dari kalian. Aku pasti datang memberi selamat di pernikahan kalian minggu depan."
"Di seluruh Kota Jarcos, kalau Darren dibilang suami paling perhatian nomor dua, rasanya nggak ada yang berani mengaku sebagai nomor satu."
"Itu sudah jelas. Pak Darren itu panutan pria baik. Perempuan mana di Kota Jarcos yang nggak iri sama Adele karena bisa menikah dengan pria sebaik dia?"
Di tengah keramaian, suara-suara pujian terhadap Adele dan Darren terdengar di mana-mana. Darren tersenyum, aura dingin dan tertutup yang biasanya melekat padanya pun menghilang.
Meskipun dia tahu sebagian besar pujian itu hanyalah basa-basi untuk menjilat, Darren tetap merasa puas dan senang. Siapa pun yang menghampirinya, dia layani dengan sopan. Orang-orang pun merasa telah menemukan cara mendekati Darren dan semakin gencar menyanjung tanpa henti.
Di sisi lain, Adele merasa telinganya terus berdengung, sampai kepalanya pun mulai terasa pusing.
Terlebih sekarang, dia benar-benar tidak ingin mendengar ucapan selamat dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Menyadari raut tidak nyaman di wajah Adele, Darren segera mengisyaratkan orang-orang untuk membubarkan diri, lalu membawanya ke tempat yang lebih tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena tak lama kemudian, Susanti melangkah anggun dengan gaun malam berwarna hitam pekat.
"Pak Darren, Bu Adele, lama nggak bertemu," sapa Susanti.
Sebagai salah satu penerima bantuan dari Keluarga Halsinky dalam beberapa tahun terakhir, Susanti memang diundang dalam acara amal malam ini. Bahkan, nanti dia juga akan naik ke panggung untuk menyampaikan pidato.
Adele tidak ingin berpura-pura ramah dengannya. Dia hanya menunduk dan berpura-pura sibuk melihat layar ponsel.
Susanti melangkah sedikit lebih dekat dan berkata dengan penuh rasa bersalah, "Bu Adele masih marah padaku ya? Soal kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf. Waktu itu aku sedang panik karena sakit, makanya terpikir ide gila meminta Pak Darren pura-pura menikah denganku."
"Tapi Darren sudah menolaknya dan sekarang aku juga sudah punya pacar. Gimana kalau kita lupakan saja semua kejadian di masa lalu?"
Namun di telinga Adele, tidak ada nada permintaan maaf yang tulus dalam kata-kata itu. Justru semuanya terdengar seperti sindiran dan provokasi.
Darren pun menangkap nada angkuh dalam suara Susanti. Alisnya mengernyit dan kemudian dia mengusir Susanti dengan kesal.
"Kenali posisimu. Adele nggak suka kamu, jadi lebih baik tahu diri dan menjauh," ujar Darren dengan dingin.
Susanti mendengus manja. "Dia nggak suka aku, tapi ada orang lain yang suka."
Sambil mengucapkan kalimat itu, dia menatap Darren dan sengaja mengedipkan matanya padanya. Entah apa yang tebersit di pikiran Darren, kerongkongannya tampak bergerak naik turun. Dia mengambil gelas anggur di depannya dan langsung meneguknya sampai habis.
Melihat dua orang itu saling menggoda tanpa merasa bersalah, Adele merasa muak. Dia pun berdiri dan melangkah pergi menuju toilet.
Darren langsung bangkit dan mengejar. Sementara di belakang mereka, Susanti langsung dikerumuni oleh beberapa tamu wanita.
"Susanti, gaunmu malam ini cantik banget! Anting-antingmu juga keren."
Susanti menegakkan tubuhnya dengan penuh kebanggaan. "Tentu saja, ini semua hadiah dari pacarku. Apa pun yang dia beri, pasti yang terbaik."
Ucapannya segera disambut dengan decak kagum dan pujian.
"Eh, antingmu ini ... kelihatannya bahannya sama dengan perhiasan yang dipakai Bu Adele malam ini. Mungkin pacarmu dan Pak Darren beli dari batu giok yang sama, ya?"
Langkah Adele sempat terhenti sesaat. Dari ujung matanya, dia sempat melirik gelang giok di pergelangan tangan. Dia mencopotnya dengan kasar dan menggenggam erat di telapak tangan. Permukaan batu giok yang halus itu malah membuat telapak tangannya terasa sakit.