Bab 1
Larut malam, aku berbaring di kursi taman dan membuka lebar kakiku dan memuaskan diriku, sambil memandang pria berotot setinggi dua meter.
Aku tahu dia sedang melihatku dan juga tahu aku sedang melakukan hal yang sangat gila.
Namun, sensasi ini malah membuatku tertantang.
Membuatku kehilangan kemampuan untuk berpikir. Semakin aku menikmatinya, semakin haus rasanya dan semakin sulit untuk berhenti.
Namaku Evelyn, seorang siswa seni tari yang sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Pertama kali mendengar istilah ekshibisionisme adalah tiga hari lalu saat di sekolah. Anak laki-laki di barisan depan sedang membahas topik yang tidak pantas dengan cukup keras.
Aku pun menyenggol sahabatku yang duduk di sebelah dan bertanya.
Dia hanya terkikik pelan dan berbisik, "Kalau kamu melepas pakaian di tempat umum, lalu diam-diam memuaskan diri sendiri, itu namanya ekshibisionisme."
Aku tak mengerti, apa gunanya melakukan hal seperti itu?
Aku bukan tidak pernah bermasturbasi, tetapi tetap saja aku tidak paham, mengapa harus melepas pakaian dan melakukannya di luar?
"Karena rasanya lebih menantang."
Jawab sahabatku dengan wajah memerah, lalu menelungkup di meja. Pinggulnya sedikit bergerak-gerak, seperti ada duri yang tiba-tiba tumbuh di kursinya.
Penjelasannya yang setengah-setengah justru membuatku semakin penasaran
Aku melirik sahabatku yang kini mengalihkan wajahnya, lalu mengeluarkan ponsel dan mengetikkan kata ekshibisionisme di kolom pencarian.
Hasil pencariannya cukup jelas, menampilkan video-video terkait. Ada yang merekam seorang gadis berdiri tanpa sehelai benang di dekat mobil sambil menatap genit ke arah kamera. Ada juga yang di taman, di mana seorang gadis malu-malu mengangkat roknya. Bahkan ada yang lebih ekstrim, dilakukan di toko dalam mal, di mana seorang gadis duduk membelakangi pegawai toko dan melepaskan celana dalamnya ...
Melihat adegan-adegan itu, napasku semakin berat. Aku berusaha menahan diri, tapi akhirnya menelungkup di meja seperti sahabatku tadi. Perasaanku mulai tergerak, tanpa sadar, tanganku merayap ke bawah tubuhku.
Menyentuh bagian yang paling kosong. Rasanya seperti ada aliran listrik kecil yang menjalar di tubuhku, menciptakan gelombang gemetar yang intens.
Bab 2
Ini adalah pertama kalinya aku melakukannya saat kelas berlangsung. Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak bisa menghentikan diriku.
Semakin aku merasa ini berbahaya, semakin besar keinginan untuk mencobanya lagi.
Dorongan ini begitu kuat hingga aku mulai terobsesi dengan sensasi yang melanggar batas itu.
Akhirnya, aku membuat keputusan yang gila dan nekat, aku ingin mencoba menjadi seperti perempuan-perempuan di video itu.
Saat sampai di bawah apartemen, aku tidak langsung menggunakan lift. Sebaliknya, aku masuk ke tangga darurat.
Pintu besi tertutup perlahan, meninggalkan gelapnya malam yang sunyi di lorong itu.
Suara samar dari rumah tetangga terdengar, membuatku ragu.
Bagaimana kalau ketahuan?
Dan ... dan bagaimana jika ada pria yang menemukanku di sini, mungkinkah dia memperkosaku?
Di tangga yang tidak jauh dari rumahku ini ... mungkinkah dia memaksaku dengan kasar ...
Saat pikiranku terus melayang, bayangan tentang diriku yang ditindih oleh seorang pria kuat tiba-tiba muncul di benakku.
Hal itu memunculkan perasaan aneh yang bercampur dengan getaran kuat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Wajahku memanas, tubuhku mulai lemas dan tak bertenaga, tetapi pikiranku tak bisa berhenti membayangkan.
Semakin aku mencoba menahan, semakin kuat dorongan dalam tubuhku. Akhirnya, aku tak tahan lagi. Dengan perlahan, aku mengangkat rok pendekku.
Aku terengah-engah, merasa ada sesuatu di udara yang berubah. Sensasi itu semakin merangsang sarafku yang sensitif, membuat tubuhku kembali bergetar. Sebuah perasaan campuran antara kegembiraan yang tak terduga dan rasa bersalah menjalar seperti aliran listrik, hingga tanpa sadar aku merapatkan kedua kakiku.
Akhirnya, aku mengerti apa yang dimaksud sahabatku dengan sensasi menantang.
Baiklah, kalau begitu kita mulai ...
Sambil memeluk pakaian di tanganku, aku melangkah maju, satu langkah, dua langkah, tiga langkah.
Ketika aku menyadari sudah melewati tiga lantai tanpa ada yang memperhatikan, keberanianku semakin besar. Aku melepaskan tanganku yang semula menutupi dada, lalu berjalan dengan dada terbuka, merasa semakin percaya diri.
Aku terus melangkah hingga tiba di depan pintu rumahku. Dengan jantung berdegup kencang, aku buru-buru mengenakan kembali roknya, memasukkan pakaian dalamku ke dalam tas dan memastikan semuanya tampak normal sebelum membuka pintu dan masuk ke rumah.
Saat mandi, jantungku masih berdetak kencang.
Mengingat apa yang baru saja kulakukan, aku tak bisa menahan keinginan untuk meredakan gejolak tubuhku. Entah kenapa, aku tak pernah mencapai puncaknya.
Akhirnya, aku menyelesiakan mandiku dengan tergesa-gesa dan kembali ke kamar. Dari laci meja samping ranjang, aku mengeluarkan sebuah mainan kecil yang selama ini kusimpan.
Aku membuka jendela, duduk dengan kaki terbuka menghadap langit malam yang sepi, lalu menekan tombol pada mainan itu.
Di malam yang sejuk, aku berjalan melintasi sebuah jalan yang tak ada jalan kembali.
Namun, entah kenapa, rasanya juga cukup nikmat.