Bab 1

Pada hari ulang tahun cucuku, aku ditabrak mobil saat dalam perjalanan mengambil hadiahnya.

Karena tidak terlalu parah, aku hanya pergi ke rumah sakit untuk membalut lukaku, lalu buru-buru pualng.

Setibanya di rumah, ternyata acara ulang tahun telah berakhir. Sementara itu, aku harus membereskan kekacauan yang ada.

Tidak ada yang peduli pada lenganku yang diperban. Yang ada di pikiran mereka hanya apakah baju sudah dicuci, apakah makanan sudah disiapkan?

Karena tidak enak badan, aku tidak membuatkan sarapan. Putraku dan menantuku pun mengataiku malas.

Aku pergi ke rumah sahabatku untuk menenangkan diri. Mereka malah bilang aku bersikap tidak masuk akal, padahal sudah tua.

Kemudian, suamiku ingin bercerai denganku demi seorang pengasuh ....

Cerai saja! Siapa juga yang mau mengerjakan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya itu! Lagi pula, mereka tidak menyukaiku!

Sopir yang menabrakku menelepon orang rumahku berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban. Aku rasa, mereka seharusnya sedang sibuk. Sibuk merayakan ulang tahun cucuku.

Setelah aku diobati, sopir mengantarku pulang. Sebelum masuk, aku sudah mendengar tawa dari dalam. Sepertinya, ada aku atau tidak di rumah ini sama saja.

Untuk sesaat, aku agak linglung. Kunci di tanganku terjatuh. Orang-orang baru menyadari keberadaanku.

Aku mengira mereka akan merasa bersalah, tetapi mereka malah melihatku dengan ekspresi datar.

"Kenapa kamu baru pulang? Ngapain saja di luar? Kenapa nggak menghadiri acara ulang tahun cucu sendiri?" keluh suamiku.

Aku memaksakan senyuman sambil menatap cucuku. "Levin, Nenek membelikanmu ...." Kalung emas.

"Ibu, kita sudah siap makan. Kamu terlambat. Bantu kami bersihkan ya. Kamu lihat saja masih ada makanan apa di dapur." Sebelum aku selesai bicara, menantuku sudah menyelaku dan membawa anaknya pergi.

Putraku sibuk dengan ponselnya. Dia sama sekali tidak peduli pada ibunya.

Di sisi lain, suamiku membersihkan giginya dan bangkit dari kursi. "Sayap ayam ini sudah kumakan tadi. Rasanya nggak enak, kamu yang makan saja. Jangan lupa rapikan mejanya nanti."

Dalam waktu kurang dari satu menit, tawa di meja makan sontak sirna. Ternyata, kemunculanku mengganggu kebahagiaan mereka.

Aku menatap tumpukan tulang dan noda mentega di atas meja, juga sayap ayam yang sudah digigit itu .... Sungguh ironis.

Hatiku terasa getir. Aku menunduk menatap lenganku yang diperban, lalu tersenyum mencela. Lenganku jelas-jelas tergantung di depan dada, tetapi tidak ada yang melihatnya. Sejak aku masuk, tidak ada yang menanyakan apa yang terjadi padaku.

Aku duduk di kursi dan beristirahat sejenak. Kemudian, aku baru bangkit dan merapikan meja dengan satu tangan. Karena satu tanganku tidak bisa digerakkan, aku menghabiskan banyak waktu. Itu pun hanya menyapu ruang makan. Peralatan makan masih belum dicuci.

Pukul 12 malam lewat, suasana di rumah sunyi senyap. Semua orang sudah tidur. Aku melirik peralatan makan di wastafel, lalu menghela napas dan memutuskan untuk mencucinya besok.

Saat ini, kepalaku terasa berat. Aku sudah tua, jadi kesehatanku tentu kurang baik. Ditambah lagi hari ini aku mengalami kecelakaan. Tubuhku tentu tidak kuat.

Setelah masuk ke kamar, aku langsung tidur. Sebelum tidur, aku memberi tahu diriku untuk tidak lupa memberi Levin hadiahnya besok. Itu adalah hadiah ulang tahunnya.

Tiba-tiba, putraku membangunkanku. Begitu membuka mata, terlihat tatapannya yang kesal. "Ibu! Kenapa masih tidur? Kenapa nggak cuci piring semalam? Sarapan juga belum dibuat!"

Kepala dan tenggorokanku sakit. Aku ingin berbicara, tetapi tidak bisa. Pada akhirnya, putraku melambaikan tangannya dengan tidak sabar.

"Sudahlah, kami sudah terlambat. Kami pergi beli makan saja. Kamu ini nggak ngerti aku dan istriku capek. Tekanan kerja sekarang sangat besar. Kami capek-capek kerja, tapi kamu malah malas-malasan di rumah dan nggak bantu apa-apa," keluh putraku tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan.

"Nggak masalah kalau kami beli makan di luar. Tapi, kamu tetap harus masak untuk Ayah. Levin juga harus pergi ke sekolah. Jangan lupa antar dia ke sekolah. Pakaianku dan Jesslyn ada di kamar. Jangan lupa dicuci juga."

Bab 2

Usai berpesan, putraku langsung keluar dan menutup pintu. Saat berikutnya, terdengar suara menantuku. "Masak pun nggak bisa. Kita jadi harus makan di luar. Dasar malas!"

Putraku membujuk istrinya dan suasana kembali tenang. Mereka pun pergi kerja.

Segera, yang terdengar adalah dengkuran suamiku. Dia tidur dengan sangat lelap. Atas dasar apa?

Kenapa aku yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah? Kenapa mereka langsung memarahiku cuma karena aku tidak masak satu kali? Apakah mereka tidak melihat pengorbananku selama ini?

Seketika, aku merasa sangat lelah. Dengkuran suamiku yang memekakkan telinga masih terdengar. Pikiranku dipenuhi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan hari ini.

Aku merasa aku seperti dikurung di ruangan yang kedap udara dan suhunya lebih dari 40 derajat. Aku merasa sesak, tetapi tetap bangun dari ranjang.

Setelah mengganti pakaian dengan susah payah, aku pergi membangunkan cucuku. Anak kecil paling sulit dibangunkan, terutama cucuku ini.

Setelah membangunkannya dengan susah payah, waktu tinggal sedikit. Aku membasahkan handuk dan membantunya menyeka wajah. Dia malah merajuk dan memelototiku. "Jangan sentuh aku! Aku membencimu!"

Aku membujuk dengan sabar, tetapi reaksi cucuku malah makin berlebihan. "Dasar wanita tua! Kamu cuma pembantu! Apa hakmu mengaturku! Aku mau suruh Ayah mengusirmu! Aku nggak mau sama kamu! Aku mau ganti pembantu lain!"

Ketika mendengar ucapan cucuku yang konyol, pertahanan mentalku sontak ambruk. Mataku memerah. Seketika, aku ingin sekali menyerah. Siapa di rumah ini yang pernah menghargaiku?

Saat aku masih muda, aku harus bekerja sekaligus melayani mertua dan suamiku. Aku harus menyiapkan makanan, mencuci pakaian, mengurus mertua, dan membesarkan anak.

Setiap hari, aku sangat sibuk. Aku mengira kehidupanku akan lebih baik setelah pensiun. Namun, setelah aku tua dan pensiun, aku masih harus melayani keluargaku. Mencuci pakaian, menyiapkan makanan, mengantar jemput cucuku. Tidak ada waktu untuk bersantai.

Aku tidak ingin bersikap perhitungan ataupun marah. Meskipun merasa dirugikan, aku tidak keberatan. Yang penting, keluargaku baik-baik saja. Tidak masalah kalau aku membuat sedikit pengorbanan.

Namun, bagaimana bisa keluargaku menganggap pengorbananku sebagai sesuatu yang wajar? Aku memejamkan mataku dengan sedih. Aku ingin sekali keluar untuk merilekskan diri. Jika terus seperti ini, aku bisa gila.

Aku tidak ingin mengurus Levin lagi. Terserah dia mau tidur atau bangun, mau ke sekolah atau tidak. Aku berbalik dan pergi ke kamar, lalu meneriakkan nama suamiku, "Raffi! Raffi! Cepat bangun dan antar cucumu ke sekolah! Aku masih ada urusan!"

Selesai melontarkan itu, aku langsung mengambil tasku dan pergi. Aku mau mencari sahabatku untuk curhat. Aku butuh seseorang untuk mendengar keluh kesahku.

Suami sahabatku ini sudah lama meninggal. Dia tidak tinggal bersama keluarganya sehingga kehidupannya lebih bebas.

Begitu melihatku, tatapannya langsung tertuju pada lenganku yang cedera. Dia pun kaget dan mengamatiku dari atas hingga bawah.

"Kamu baik-baik saja? Kita cuma nggak ketemu beberapa hari, tapi kamu sudah begini! Apa yang terjadi?"

Ucapannya ini sontak membuat mataku memerah. Dia adalah orang pertama yang memberiku perhatian setelah aku mengalami kecelakaan. Aku menggeleng, menahan air mataku, dan tersenyum padanya. "Semalam aku tertabrak. Nggak apa-apa kok. Aku sudah ke rumah sakit."

Sahabatku menjulurkan tangan untuk memelukku. "Dasar kamu ini, lain kali hati-hati. Kita sudah mau 60 tahun. Tangan dan kaki kita nggak boleh kenapa-napa. Kamu yakin nggak perlu opname?"

Aku menggeleng dan mengatakan tidak perlu. Kemudian, aku menceritakan apa yang terjadi di rumahku.

Dia menggenggam tanganku dan memekik dengan murka, "Berengsek! Keluargamu itu benar-benar berengsek! Uang pensiunmu 20 juta! Kamu menghabiskannya untuk mereka semua, tapi masih harus merawat mereka dan diperlakukan seburuk ini? Kalau aku jadi kamu, aku pasti kabur sejak awal!"

"Aku rasa sekarang sudah waktunya kamu istirahat. Kamu susah payah merawat mereka selama ini. Apa balasan yang kamu dapatkan? Kenapa kamu nggak ngerti soal ini sih?"

Air mataku tak kuasa menetes saat mengingat berbagai kejadian di masa lalu. Sahabatku merasa tidak tega padaku. Sambil memaki keluargaku, dia berusaha membuatku tertawa. Seketika, aku merasa jauh lebih baik.

"Kamu tinggal saja di rumahku untuk sementara ini. Jangan pulang lagi. Istirahat dengan baik supaya cepat sembuh. Biar aku yang merawatmu."

Usai berbicara, sahabatku menggulung lengan bajunya dan hendak memasak sup untukku. Aku pun duduk di samping dan menemaninya mengobrol. Suasana hatiku tidak pernah sebaik ini.

Tidak lama kemudian, putraku meneleponku.

Bab 3

Sahabatku mematikan kompor, lalu berkacak pinggang dan menyuruhku menjawab panggilan.

"Ibu! Kenapa kamu nggak antar Levin ke sekolah? Gurunya meneleponku! Gimana bisa kamu lupa soal ini! Sekolah sangat penting! Gimana bisa kamu membuat kesalahan seperti ini!"

Aku membuka mulut dan hendak menjelaskan, tetapi sahabatku tiba-tiba merebut ponselku.

"Cih! Ayahmu sudah mati ya! Dia nggak bisa antar cucunya ke sekolah? Semua-semua mau ibumu! Kamu kira ibumu pembantu? Pembantu sekalipun digaji! Memangnya apa yang kamu kasih ke dia? Dasar nggak tahu malu! Ibumu nggak mau tinggal sama kalian lagi! Terserah kalian siapa yang mau mengerjakan pekerjaan rumah!"

Sahabatku sudah mau berusia 60 tahun, tetapi dia masih sangat galak saat marah. Dia terlihat lebih berenergi daripadaku.

Makiannya itu membuat kekesalanku sirna. Air mataku menetes. Aku menepuk-nepuk sahabatku dan berkata, "Ayo makan, aku sudah lapar."

Tanpa perlu aku bicara panjang lebar, sahabatku ini bisa memahamiku. Aku berniat tinggal di tempatnya untuk sementara waktu, tetapi aku tidak membawa apa pun.

Sahabatku bilang tinggal beli yang baru saja. Namun, aku sudah terbiasa hidup hemat. Aku merasa lebih baik aku pulang untuk mengambil pakaian.

Sahabatku lantas mengemudikan mobil untuk mengantarku pulang. Begitu masuk, aku langsung melihat mereka sekeluarga sedang makan makanan yang dipesan dari luar.

Cucuku tampak sangat senang. "Ini jauh lebih enak dari masakan Nenek!"

Sahabatku terkekeh-kekeh sinis. Sikapnya tampak angkuh saat menyergah, "Makan saja setiap hari kalau suka! Siapa pula yang mau masak untukmu!"

"Bibi Tania, Levin masih kecil. Ngapain kamu bicara segalak ini padanya? Lagian, makanan ini memang lebih enak daripada masakan ibuku kok!" bela putraku.

Aku mengernyit dengan kesal. "Nggak masalah kalau kamu melawanku. Kenapa kamu melawan Tania juga? Tania lebih senior darimu! Di mana sopan santunmu!"

Suamiku merasa kesal melihatku menegur putranya. Dia membanting sendoknya, lalu memekik, "Sudah, sudah! Kamu mau tinggal di rumah orang lain, 'kan? Pergi sana! Kamu kira kami nggak bisa hidup tanpamu? Kalau memang hebat, jangan pulang lagi! Sombong sekali! Kamu kira kamu siapa?"

Sahabatku menunjuk suamiku dan hendak maju untuk memukulnya. Sejak pensiun, dia memang segalak ini.

Aku khawatir dia benar-benar memukul orang. Aku buru-buru menghalanginya supaya tidak terjadi masalah.

Mereka sekeluarga sepertinya sangat yakin aku akan kembali. Tidak ada seorang pun yang menghalangiku. Semuanya menatapku berkemas seolah-olah ini adalah pertunjukan yang sangat seru.

Sahabatku pun membantuku. Sahabatku membantuku memilih barang-barang yang diperlukan. Kemudian, dia membawaku keluar. Aku memang tidak ingin mengurus keluarga ini lagi.

Bersama sahabatku, kami bisa masak bersama atau makan di luar bersama. Saat senggang, kami ke taman untuk olahraga. Aku merasa ini adalah momen paling bahagia dalam hidupku.

Segera, uang pensiunku ditransfer ke rekeningku. Jumlahnya 18 juta.

Sahabatku melihat layar ponselku, lalu menepuk bahuku dan berseru, "Hore! Gajian! Kamu harus bawa aku jalan-jalan!"

Aku mengangguk dengan senang hati. Namun, sebelum kami memutuskan mau pergi ke mana, ponselku berdering. Putraku yang meneleponku.

Sahabatku mengerlingkan matanya. "Kamu sudah mau 60 tahun. Kamu nggak mungkin nggak tahu dia mencarimu karena mengincar uangmu, 'kan?"

Putraku memang tahu kapan uang pensiunku ditransfer ke rekeningku. Namun, aku masih memiliki sedikit harapan di dalam hatiku.

"Ibu, kamu sudah pergi begitu lama. Kamu nggak mau pulang?"

"Kita bicarakan nanti saja. Aku sangat senang belakangan ini. Ada urusan? Kalau nggak ada, aku tutup telepon," balasku dengan dingin.

Begitu mendengarnya, putraku langsung panik. "Sebentar, Ibu! Belakangan ini kami kurang uang. Aku dan istriku belum gajian. Hari ini kamu dapat uang pensiunmu, kan? Apa boleh ...."

Sebelum putraku menyelesaikan ucapannya, sahabatku sontak merebut ponselku. "Nggak boleh! Dasar nggak tahu terima kasih! Kamu cuma ingat ibumu kalau butuh uang? Sebelumnya ke mana saja kamu? Kamu kira kami bodoh? Jangan ganggu kami!"

Panggilan berakhir. Sahabatku memelototiku tanpa mengatakan apa pun. Aku pun tidak bisa menahan tawaku. "Aku nggak berniat kasih mereka uang kok! Ayo, kita pergi makan enak!"

Dengan demikian, kami pergi bersenang-senang. Kami minum-minum, lalu menyanyikan lagu lama di jalan. Banyak orang yang merekam kami dan memposting video kami di internet.

Namun, kami berdua tidak peduli. Kami cuma ingin bersenang-senang.

Aku mengira kehidupanku akan terus seperti ini. Siapa sangka, keesokan pagi, putraku meneleponku lagi.

"Ibu, Ayah diopname karena strok. Dokter bilang waktunya sudah nggak banyak lagi. Cepat pulang. Jenguk Ayah."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B31178" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B31178
Salin

Kehidupan Baru di Usia 60 Tahun

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya