Bab 1
Pada ulang tahun pernikahan kami, wanita yang disukai oleh suamiku menunjukkan foto USG di status media sosialnya.
Dia juga menuliskan ucapan terima kasih untuk suamiku.
"Laki-laki baik yang sudah menjagaku selama sepuluh tahun memberiku seorang anak. Terima kasih."
Aku sempat melotot dan berkomentar, "Sudah tahu cuma selingkuhan, tapi masih berani begini?"
Aku langsung menelepon suamiku dan memarahinya.
"Jangan punya pikiran aneh-aneh! Aku cuma kasih tabung reaksi buat memenuhi keinginannya menjadi ibu tunggal."
"Oh ya, Erika saja sudah hamil, kamu yang sudah melakukannya hingga tiga kali masih saja belum hamil. Dasar nggak berguna."
Tiga hari yang lalu dia bilang padaku kalau dia harus pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, tidak menjawab telepon atau membalas pesanku.
Aku pikir dia sibuk, tetapi tidak disangka dia malah menemani orang lain untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
Setengah jam kemudian, Erika memamerkan hidangan mewah di atas meja makan.
"Aku bosan sama makan makanan barat, jadi Regha memasak semua makanan kesukaanku."
Aku melihat slip kehamilan yang ada di tanganku. Seketika, kegembiraan yang memenuhi hatiku langsung membeku menjadi es.
Aku jatuh cinta kepadanya selama delapan tahun, berkomitmen dengannya selama enam tahun dalam ikatan pernikahan.
Kali ini, aku akan melepaskan semuanya.
Setelah menutup telepon, aku mengambil foto hidangan yang sudah tersaji di atas meja dan kue ulang tahun untuk perayaan enam tahun pernikahan kami, mengirimkannya kepada suamiku.
Dia membalas pesanku dengan cepat.
"Kamu ulang tahun? Aku tidak bisa pulang hari ini, jadi kamu rayakan sendiri dulu."
Aku tersenyum sendiri dan membuang kue itu ke tempat sampah.
Baik ulang tahunku ataupun ulang tahun pernikahan kami ....
Regha Dirgantara tidak pernah mengingatnya.
Sebaliknya, dia memiliki buku catatan kecil untuk mencatat semua tentang Erika dengan jelas.
Dia mencatatnya sejak SMA sampai sekarang.
Aku menyimpan kembali daftar pemeriksaan kehamilan di atas meja.
Awalnya, aku berencana untuk memberikannya kepada Regha sebagai hadiah saat makan malam nanti.
Sekarang, sepertinya sudah tidak perlu.
Setelah enam tahun menikah dan belum dikaruniai anak, aku sudah menjalani tiga kali percobaan bayi tabung, yang semuanya begitu menyakitkan dan berakhir gagal.
Aku pikir kali ini pun tidak ada harapan untukku. Namun, ternyata aku hamil.
Namun, kebahagiaanku hanya berlangsung beberapa menit saja karena melihat status yang dikirim Erika di media sosialnya.
Mungkin dia melakukan bayi tabung dengan benih suamiku pada hari yang sama.
Namun, akulah yang paling bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Aku mengambil makanan di meja. Meskipun tidak nafsu makan, aku tetap harus makan demi bayi dalam kandunganku.
Namun, begitu mencium bau ikan dan daging, aku langsung merasa mual dan mulai muntah.
Saat muntahku hampir selesai, perutku terasa makin sakit.
Tiba-tiba, aku merasa panas dan basah pada bagian bawah tubuhku.
Titik-titik darah merembes keluar melalui celana yang aku kenakan.
Aku langsung panik.
Jangan bilang aku mengalami tanda-tanda keguguran?
Tidak peduli seberapa besar rasa kecewaku kepada Regha, aku sudah bekerja sangat keras untuk bisa mengandung anak ini. Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya!
Aku buru-buru mengambil ponsel dan ingin segera pergi ke rumah sakit.
Namun saat membuka pintu, kakiku terasa lemas karena rasa sakit yang menusuk. Aku bersandar ke dinding dan tubuhku perlahan-lahan merosot ke bawah.
Sejak pagi aku memang sudah merasa tidak sehat, tetapi tetap memaksakan diri pergi ke rumah sakit untuk melakukan tes.
Ketika pulang, aku pikir Regha akan pulang untuk merayakan hari jadi pernikahan kami. Jadi, aku langsung memesan kue dan menyiapkan makanan untuk makan malam.
Mungkin gula darahku terlalu rendah.
Aku mengeluarkan ponsel dan bersiap untuk menelepon rumah sakit, tetapi mataku menjadi hitam dan kepalaku pusing. Aku tidak bisa mengerahkan tenaga barang sedikit pun.
Pada saat itu, pintu apartemen sebelah terbuka dan tetanggaku keluar.
Dia terkejut saat melihat keadaanku yang menyedihkan dan langsung bergegas menolongku.
"Apa yang terjadi?"
Aku merasa lega dan memintanya untuk membawaku ke rumah sakit.
Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata aku memang mengalami gejala keguguran. Dokter meresepkan banyak obat dan memberi nasihat dengan nada yang agak serius.
"Kalian pasangan muda benar-benar harus lebih hati-hati. Janin ini cukup lemah, jadi kalian jangan terbawa hawa nafsu dan melakukannya secara berlebihan."
Menyadari rasa canggung laki-laki yang membawaku ke sini, aku menjelaskan kepada dokter kalau dia bukan suamiku.
"Suami saya lagi dinas di luar negeri, Dok."
Dokter mengangguk dan mengatakan beberapa tindakan pencegahan.
"Kirimkan salinan ini untuk suami Ibu. Sudah saatnya suami Ibu belajar bagaimana merawat wanita hamil."
Aku hanya tersenyum pahit.
Aku merasa bahwa tetanggaku ini sangat telaten, tetapi wanita lain lah yang akan dijaga olehnya.
Bab 2
Aku harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari untuk memulihkan kondisiku.
Jason Rahmadi, tetangga yang membawaku ke rumah sakit cukup ramah dan telaten. Dia berlari naik turun tangga untuk membantuku melakukan berbagai prosedur yang harus diurus.
"Kak, nggak mau menelepon suamimu?"
Gerakkan tanganku saat meminum air pun terhenti.
"Nggak perlu, aku akan menceraikannya."
Jason mengiakan tanda mengerti dan tersipu malu.
Aku sedikit lega dengan responsnya ini.
"Maaf, aku harusnya nggak bilang hal seperti itu kepadamu."
Jason tersenyum cerah dan melambaikan tangannya sambil mengatakan tidak apa-apa.
Hal itu membuatku teringat akan Regha yang sudah lama tidak menatapku.
Setiap kali kami berbicara, dia selalu menatapku dengan tatapan tidak sabar atau cemberut.
Seolah-olah aku mengganggunya karena terlalu banyak bicara, merasa bahwa aku tidak percaya kepadanya.
Ponselku bergetar dan ada pesan masuk, menarikku dari lamunanku.
Regha mengirimkan sebuah foto syal sutra yang terbilang cukup jelek.
"Aku beli ini buat kado ulang tahunmu. Suka nggak?"
Aku melihat syal sutra yang memperlihatkan logo merek dan langsung membuka status media sosial Erika. Benar saja, aku melihat tas Hermas barunya.
"Tas ini adalah obat dari rasa tidak nyaman ketika hamil. Terima kasih hadiahnya, Regha."
Aku langsung mencibir. Syal sutra ini, benar-benar untuk sangat serasi dengan tas desainer yang mahal itu.
Mungkin karena terlalu jelek untuk Erika, jadi Regha memberikannya padaku sebagai hadiah.
"Aku nggak butuh, simpan saja buat lap tasnya Erika."
Jawabanku langsung membuat Regha marah. Dia menelepon dan memarahiku.
"Apa kamu nggak bisa bersikap lebih dewasa dan berhenti cemburu nggak jelas? Aku dan Erika hanya saling terkait, hubungan kami nggak seperti yang kamu pikirkan!"
"Kalau aku punya hubungan sama Erika, mana mungkin kamu bisa menikah denganku dan hidup bahagia?"
Hidup bahagia?
Dua kata itu benar-benar membuat mataku berkaca-kaca.
Aku jatuh cinta pada Regha di tahun kedua kuliahku, ketika Erika pergi ke Eropa untuk melakukan pertukaran pelajar.
Saat itu, kondisi keluarga Regha sangat biasa-biasa saja dan aku tidak merasa mendapatkan keuntungan apa pun.
Setelah lulus, dia memulai bisnisnya sendiri, yang kelihatannya sangat sukses. Namun pada kenyataannya, dia harus berhemat di setiap aspek, bahkan dia sering cemas dengan pengeluaran perusahaan yang sangat besar.
Sampai dua tahun lalu, bisnis yang dia jalankan mendapatkan prospek yang bagus.
Namun, aku sudah terbiasa berhemat dan tidak tega jika Regha harus bekerja sangat keras. Jadi, aku tidak pernah boros dalam membelanjakan uang. Meskipun begitu, aku tetap didesak oleh ibu mertuaku karena kami tidak kunjung memiliki anak.
Aku benar-benar tidak tahu hidup bahagia seperti apa yang dia maksud.
"Kak, makan dulu buburnya, mumpung masih hangat."
Barusan, Jason sempat keluar untuk mengambil makanan. Setelah masuk, dia menawariku makan.
Suara itu terdengar di telepon dan Regha terdiam beberapa detik, benar-benar marah.
"Siapa yang ada di sebelahmu? Louisa, kamu pikir kamu bisa membuatku kesal dengan menemui laki-laki lain?"
"Suruh bajingan itu keluar sekarang juga dan jangan mengotori rumahku!"
Aku tidak sanggup mendengarkan perkataannya lagi dan mengatakan kepadanya bahwa aku berada di rumah sakit karena sakit perut.
Regha terdiam selama beberapa detik dan tiba-tiba tertawa.
"Oh, begitu. Kamu benar-benar kekanak-kanakan. Melihat Erika sedang hamil dan perutnya nggak nyaman, kamu menggunakan trik yang sama untuk menarik perhatianku?"
"Jangan bilang kalau kamu juga hamil? Sikapmu yang seperti ini malah membuatku merasa lucu dan jijik."
Aku mencengkeram ponsel dengan erat, memaksa diri sendiri untuk tidak marah, apalagi sedih.
Janinku cukup lemah, jadi tidak boleh ada rangsangan berlebihan.
"Regha, aku nggak lagi maksa kamu buat kembali. Bersenang-senanglah dengan Erika. Aku juga punya seseorang yang bisa menjagaku. Akan lebih mudah bagiku kalau bisa hidup tanpamu."
Untuk pertama kalinya aku menutup telepon sebelum Regha menutupnya.
Dia mengirim serangkaian pesan panjang yang isinya menyalahkanku karena bersikap sok dan membuatnya tidak senang.
Dia juga memintaku untuk tidak menyesal dan memintaku tidak memohon padanya suatu saat nanti untuk meminta maaf dan mengakui kesalahanku.
Aku langsung membuang ponsel ke samping dan mengambil bubur panas, memakannya dengan cepat.
Dua hari kemudian, dokter mengatakan bahwa keadaanku sudah stabil dan sudah boleh pulang ke rumah.
Jason bawa mobil untuk menjemputku.
Aku bilang ini terlalu merepotkan, karena aku bisa pulang naik taksi.
Jason tersenyum cerah dan mengatakan bahwa bukan masalah besar bagi tetangga untuk saling membantu.
Ada perasaan tidak nyaman di hatiku.
Regha jarang mengantar atau menjemputku.
Namun, dia akan mengantar atau menjemput Erika ketika Erika menelepon, tidak peduli seberapa jauh jaraknya.
"Bukannya kamu punya mobil? Apa kamu nggak bisa nyetir sendiri?"
Aku hanya mengeluh, tetapi malah berakhir dengan dimarahi olehnya.
"Erika nggak punya SIM, jadi wajar saja kalau aku antar jemput. Apa kamu mau tanggung jawab kalau dia naik taksi dan bertemu orang jahat?"
Aku baru membuka pintu mobil dan berniat masuk ke kursi samping kemudi, tetapi lenganku tiba-tiba ditarik dengan kuat.
Regha berdiri di belakangku dengan wajah muram, membuatku ketakutan.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Aku tidak menerima pesan darinya dalam dua hari terakhir. Mungkinkah Regha masih peduli denganku dan datang ke rumah sakit untuk menjemputku?
Dia dengan dingin melirik Jason, nadanya sangat tidak bersahabat.
"Kamu masih berani bilang begitu? Aku pulang ke rumah dan disambut sama meja yang penuh sama piring berjamur dan bau menyengat!"
"Louisa, sebenarnya apa sih yang kamu bisa? Ibu rumah tangga lain setidaknya punya tugas membesarkan anak-anak mereka dan melakukan tugas-tugas mereka dengan baik. Sudah nggak bisa punya anak, apa kamu juga nggak bisa melayani kebutuhan sehari-hariku?"
Tuduhan ini menghancurkan semua fantasi terakhirku.
Aku melepaskan genggamannya dan berbicara dengan nada dingin.
"Bukannya aku sudah bilang kalau aku dirawat di rumah sakit? Sama istrimu sendiri yang lagi sakit saja kamu nggak peduli. Kamu cuma bisa menyalahkanku karena nggak bersih-bersih rumah?"
Regha menatapku dari atas ke bawah dengan sorot curiga. "Aku lihat kamu sehat-sehat saja, sakit dari mananya? Berhentilah berpura-pura!"
Untung saja ada Jason yang sering bolak balik membawakanku sup dan suplemen kesehatan setiap hari.
Karena itulah keadaanku bisa membaik dengan cepat.
Ketika mendengar kata-kata Regha, Jason keluar dari mobil dan ingin membantuku menjelaskan situasinya.
Aku menggelengkan kepala dan menghentikannya, memintanya pergi terlebih dahulu.
Namun yang tidak aku duga adalah, alih-alih mengantarku pulang untuk beristirahat, Regha justru memarkir mobilnya di luar bar.
Bab 3
"Malam ini Erika akan mengundang teman-temannya untuk merayakan kehamilannya."
Regha memotong perkataanku sebelum aku sempat mengatakan penolakanku.
"Dia ingat padamu dan ingin kamu datang untuk ikut merasakan kegembiraannya. Jadi, berhenti bersikap nggak peka begitu."
Aku tertawa dingin dan mengiakan perkataannya.
Bagaimanapun, hatiku juga sudah mati, pengacara perceraian pun sudah dihubungi.
Aku tidak akan disakiti lagi oleh cara dan trik-trik yang dimainkan Erika.
Duduk di dalam ruang pribadi, Erika yang berpakaian rapi datang terlambat.
Aku sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan tidak sempat menyiapkan penampilanku dengan baik. Jadi, keadaanku cukup berantakan.
Sebaliknya, dia tampak seperti bunga yang menarik perhatian semua kumbang.
Orang-orang yang datang pun memujinya tanpa henti.
"Pelukis cantik kita benar-benar terlihat sangat segar. Dia menolak banyak laki-laki hanya karena ingin menjadi ibu tunggal."
"Itu karena Erika punya uang dan waktu luang. Dia bisa membesarkan anak sendirian, tidak seperti seseorang pengangguran yang bisanya cuma mengulurkan tangan dan minta uang sama suami."
Semua tatapan di sekeliling seakan tertuju kepadaku saat mendengar sarkasme itu.
Erika tertawa dan memesan beberapa minuman, mengatakan bahwa malam ini dia akan mentraktir kami.
Semua orang menyarankan agar kami bermain jujur atau tantangan untuk meningkatkan suasana.
Ujung botol kosong pertama mengarah pada Erika. Dia berkata dengan cemberut, "Aku pilih jujur saja."
Sahabatnya bertanya kepadanya, "Erika, kamu punya anak dari hasil tabung, apa kamu akan membuat anakmu memanggil Regha sebagai ayah nantinya?"
Erika mengusap-usap perutnya dan tersenyum ke arahku.
"Kak Louisa, aku tahu kamu keberatan dan marah sama Regha dalam beberapa hari ini. Tapi, kamu tenang saja, aku nggak akan merusak rumah tangga kalian. Lagipula, kamu juga tahu sendiri kalau aku ingin menikah dengan Regha, mana mungkin kamu bisa tetap jadi istrinya?"
"Tapi, kalau kamu nggak bisa punya anak, saat tua nanti aku akan minta anakku buat menghormatimu dan Regha. Kalau nggak, hari tuamu pasti akan sangat menyedihkan."
Orang-orang di sekitar memujinya karena terlalu baik.
Hatiku sangat tenang, bahkan aku tidak mengerutkan alis sedikit pun.
Di masa lalu, terutama dalam dua tahun terakhir ketika perusahaan Regha sedang naik daun, Erika tiba-tiba masuk ke dalam hidupku dan sering muncul di sisi Regha.
Awalnya aku terkejut, marah, cemburu dan kesal.
Namun, pilihan tegas Regha yang memilih Erika berulang kali dan memarahiku karena tidak bersikap pengertian karena memfitnah mereka sudah membuatku mati rasa.
"Aku nggak keberatan. Sebenarnya, kalau aku harus bercerai sekarang pun nggak masalah buatku."
Wajah Regha langsung berubah muram, memintaku tidak mengucapkan kata-kata penuh emosi seperti itu.
Aku tersenyum tenang. "Lebih baik kamu jangan terlalu percaya diri, merasa kalau kamu sepenting itu di hatiku."
Mata Regha berkilat panik, tetapi dengan cepat menjadi tenang.
"Sudah, jangan merajuk begitu. Erita sudah bermurah hati dan begitu memikirkanmu. Beberapa hari ini aku memang nggak bisa nemenin kamu, tapi beberapa hari ke depan aku bakal di rumah terus. Apa kamu puas?"
Sadar suasana jadi tidak nyaman, orang di sebelah langsung menyarahkan untuk memulai permainan selanjutnya.
Kali ini ujung botol mengarah kepadaku.
Aku akan memilih jujur, tetapi Erika tiba-tiba berbicara mendahuluiku
"Aku sudah pilih jujur sebelumnya, jadi kamu pilih tantangan saja."
Aku meliriknya dengan sorot dingin saat dia berulah, tetapi itu bukan masalah.
Pada akhirnya, tugas yang aku dapatkan adalah mencium lawan jenis pertama yang aku temui saat keluar dari pintu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Regha mendorong tiga botol anggur ke depanku.
"Dia nggak bisa melakukannya, jadi dia akan minum tiga botol."
Semua orang tertawa terbahak-bahak dan setuju dengan perkataannya.
Ada suamiku di sini, rasanya sangat tidak etis kalau aku mencium laki-laki lain.
Namun, aku langsung berdiri. "Kenapa? Bukankah ini permainan yang Erika ingin aku lakukan? Aku juga bukannya nggak bisa melakukannya."
Regha tersentak berdiri, ekspresinya langsung berubah menjadi sangat tidak senang.
"Louisa, kamu sengaja melawanku sampai begini?"
Aku benar-benar tidak mengerti. Dia memberikan tabung spermanya agar Erika bisa hamil dan tidak menganggap ini sebagai masalah besar. Dia ingin aku tidak membuat masalah karena hal ini.
Kenapa dia jadi marah saat aku hanya melakukan permainan saja?
Erika bergegas mendekati kami dan melerai pertengkaran kami. Sorot matanya entah disengaja atau tidak mengarah ke perutku. "Kadar alkohol minuman ini cukup rendah, jadi nggak bahaya kalaupun kamu minum."
Mendengar hal ini, Regha menjadi makin marah dan langsung membuka tutup botol minuman itu, menyuapkannya ke mulutku.
"Semuanya sudah mencoba ngertiin kamu, jadi jangan merusak suasana."
Aku tersedak alkohol dan banyak yang tumpah karena tindakan Regha yang terlalu kasar. Tumpahan itu mengenai mata dan wajahku.
Aku langsung panik saat membayangkan janin di dalam perutku. Aku melangkah mundur, mengibaskan tangan mencoba melarikan diri.
Tiba-tiba, sesuatu menyandung kakiku dan membuatku terjatuh dengan keras di lantai marmer ruang pribadi ini.
Rasa sakit yang tajam menghantam pinggang bagian bawahku. Aku berteriak kesakitan sambil melindungi perutku.
Wajah Regha terlihat sedikit khawatir. Dia mengulurkan tangan untuk menarikku sambil mengatakan, "Kamu cuma jatuh saja sudah seperti mau mati."
Pada saat itu, seruan terdengar di sekitar.
"Darah! Ada banyak darah di lantai!"