Bab 1

Demi menebus penyesalannya dengan cinta pertamanya, suamiku berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya mampu melihat rentang hidup setiap orang. Dia mengatakan bahwa aku masih memiliki masa hidup selama 60 tahun, sedangkan cinta pertamanya hanya punya tujuh hari lagi.

Jadi, selama tujuh hari itu, dia ingin memenuhi janji yang pernah dibuatnya dengan cinta pertamanya ketika mereka masih muda. Dia membawa cinta pertamanya pulang dan merawatnya secara pribadi.

Ketika mereka kembali ke kampus untuk bernostalgia dan saling jatuh cinta lagi, aku tidak membuat keributan.

Ketika dia menyatakan cinta kepada cinta pertamanya, lalu mengadakan resepsi pernikahan termegah seabad dengan aku sebagai pengiring pengantinnya, aku juga tidak protes.

Hingga akhirnya, dia hendak menembus batas terakhir di antara pria dan wanita dengan cinta pertamanya di kamar pengantin kami. Dengan rasa bersalah di mata, pria itu memohon padaku untuk pindah dari kamar kami.

Para pembantu di rumah menertawakanku, tetapi aku hanya tersenyum dan mengangguk setuju. Kemudian, aku mengemasi barang-barangku dan pindah ke kamar tamu di sebelah bersama anak kami.

Melihatku berperilaku sepatuh biasanya, suamiku berlinang air mata dan berujar, "Aku janji, ini terakhir kalinya aku membuatmu menderita. Begitu Rina meninggal, aku akan tebus semua ini padamu."

Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah menyadari kebohongannya sejak awal. Dia juga tidak tahu bahwa orang yang sebenarnya menderita kanker dan hanya punya tujuh hari untuk hidup adalah aku.

Tiga hari lagi, aku akan mati.

"Dia benar-benar pindah ke kamar tamu di sebelah dengan begitu menyedihkan? Apa dia nggak akan kena serangan jantung kalau dengar suara mereka di tengah malam?"

"Kenapa? Kamu mau bantu? Memangnya kamu nggak lihat betapa Tuan memanjakan Nona Arina? Sekarang, dia itu bukan siapa-siapa. Kamu masih nggak tahu siapa yang harus kamu hormati?"

"Tuan dan Nona Arina memang lebih cocok sih."

Aku menggendong anakku sambil mendorong keluar kardus-kardus dari kamar, lalu berjalan bolak-balik untuk memindahkan barang ke kamar sebelah. Aku melirik ke sekeliling untuk mencari bantuan, tetapi tidak ada yang menanggapi.

Pada hari kelima setelah aku didiagnosis menderita penyakit terminal, suamiku dan cinta pertamanya ingin tidur bersama di dalam kamar kami.

Para pembantu menyimpan semua fotoku dan dia, seprai kami, serta barang lainnya di dalam kamar. Kemudian, mereka mengganti seprainya dengan yang berwarna merah, juga meletakkan barang-barang pribadi Arina dan foto-foto pernikahan mereka di atas meja.

Owen mengamati semuanya dengan dingin. Tanpa melirikku sedikit pun, dia berjongkok di samping sofa, lalu menyuapi Arina makan stroberi dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Dia berkata dengan penuh kasih sayang, "Aku pernah berjanji padamu bahwa kamu akan punya segala sesuatu yang seharusnya dimiliki seorang pengantin baru. Aku nggak akan biarkan kamu dirugikan. Ayo, buka mulutmu ...."

Putri yang berada dalam pelukanku merasa ada yang tidak beres dan merengek, tetapi Owen mengabaikannya. Hati dan matanya hanya dipenuhi cinta yang mendalam untuk cinta pertamanya. Namun, dia malah membuatku dan putrinya sendiri menjadi bahan tertawaan orang-orang.

Aku menggendong putriku sambil menenangkannya. Gelombang kepahitan membuncah dalam hatiku. Apa boleh buat, aku akan segera mati.

Aku lanjut memindahkan kotak. Setelah menyelesaikan semuanya, aku tidak ingin berbicara dan berencana untuk kembali ke kamar. Namun, saat aku melewati ruang tamu, Arina malah tidak bersedia membiarkanku pergi.

Owen membujuknya cukup lama sebelum Arina berbicara dengan ragu dan sedih, "Hidupku tinggal beberapa hari dan aku nggak bisa punya anak. Aku mau jaga anak kalian selama beberapa hari untuk merasakan perasaan menjadi seorang ibu, tapi aku takut menyinggung Kak Kayla ...."

Dalam seketika, beberapa pasang mata langsung tertuju padaku, sedangkan aku menatap Owen lekat-lekat.

Dia telah membiarkan selingkuhannya tinggal di rumah kami dan membuatku menjadi bahan tertawaan para pembantu. Apa dia tega merenggut anak kami dan memisahkanku dengan anak kami sebelum ajal menjemputku?

Begitu melihat wajah penuh kemurungan wanita cantik di hadapannya, Owen pun merasa tidak tega. Dia menatapku dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Kayla, kamu bahkan bersedia membiarkannya tinggal rumah kita. Kamu nggak akan keberatan untuk biarkan Rina jaga anak kita, 'kan?"

Aku hampir lupa bahwa Arina adalah wanita yang ingin dinikahi Owen ketika masih muda. Jika bukan karena Owen begitu mencintai Arina hingga lebih rela putus daripada membatasi masa depannya, mereka seharusnya sudah menikah sejak lama dan aku tidak mungkin memiliki kesempatan untuk menjadi istri Owen.

Aku menjadi istri Owen hanya karena kami cocok. Selain tanggung jawab, dia tidak menaruh perasaan lain terhadapku.

Aku melawan rasa sakit di kepalaku dan bertanya, "Gimana kalau aku keberatan? Ini putri kita, dia baru berusia sebulan."

Gerakan Owen yang sedang menusuk buah terhenti. Dia berbalik dan menatapku dengan dingin. "Sudah kubilang, aku cuma mau pinjam anak kita selama tiga hari. Rina sudah sekarat dan belum pernah jadi seorang ibu. Apa salahnya kamu mengalah? Hidupmu masih panjang. Kamu akan punya banyak waktu untuk rawat anak kita."

"Dia ini putriku! Nggak ada seorang pun boleh merebutnya dariku tanpa persetujuanku," ucapku dengan tegas.

Aku mengalami pendarahan hebat seharian sebelum melahirkan putriku dan aku hanya punya tiga hari lagi. Jika aku tidak lebih sering menemani putriku, aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.

"Kayla, aku nggak nyangka kamu begitu egois. Kamu bahkan nggak bisa menunggu tiga hari?" Owen mengerutkan kening. Nadanya terdengar muram.

"Aku memang ...." (nggak bisa nunggu lagi.)

Namun, sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku, Owen sudah memerintahkan pembantu untuk menahanku. Dia langsung merebut putriku dan menyerahkannya kepada Arina.

Aku menggertakkan gigi dan menatapnya dengan mata memerah. Hatiku bagaikan sedang menetes darah karena disayat oleh pisau yang tajam. Namun, Arina malah tersenyum berseri-seri. Dia menatapku dengan penuh kemenangan.

Pada saat ini, rasa sakit di tubuhku sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku. Aku berjuang melepaskan diri dari pembantu, lalu menerjang ke depan dan hendak merebut kembali putriku.

Saat berhasil menggenggam ujung kain bedong, aku merasa gembira. Namun, aku tiba-tiba menyadari senyum licik yang tersungging di bibir Arina. Tepat ketika aku merasa bingung, tubuh Arina tiba-tiba jatuh ke belakang dan kain bedong dalam genggamannya tiba-tiba terlepas.

Melihat putriku hampir jatuh, aku segera mengulurkan tangan dan meraihnya, lalu mendekapnya erat-erat. Momentum itu membuatku terempas ke lantai. Sikuku terasa sangat sakit.

Terdengar teriakan kaget dari sekeliling.

Sementara itu, Owen berhasil menangkap Arina. Arina meringkuk dalam pelukan Owen, lalu berujar dengan panik dan sedih, "Kak Kayla, kalau kamu nggak bersedia pinjamkan anakmu padaku, ngomong saja. Kamu nggak perlu jadikan anakmu sebagai tameng untuk menindasku ...."

Pembantu di samping juga melangkah maju dan membela Arina. "Nyonya, kamu terlalu berlebihan! Nona masih begitu kecil. Kalau dia jatuh dan kepalanya terluka, dia nggak mungkin bisa diselamatkan!"

Setelah mendengar ucapan itu, Owen yang awalnya melihatku rela jatuh demi melindungi anak seketika merasa kecewa dan marah.

"Kayla, kenapa kamu sekejam itu! Bisa-bisanya kamu pakai anak sebagai alat untuk menindas Rina! Kamu nggak pantas jadi seorang ibu!"

Seusai berbicara, dia merebut putriku, lalu berujar, "Kamu tinggal saja di kamar pembantu selama beberapa hari ke depan dan layanilah Rina dengan baik."

Seusai berbicara, Owen melihat aku yang mengalirkan air mata sambil meringkuk di lantai. Dia pun tertegun dan tiba-tiba merasa khawatir. "Kamu nggak enak badan?"

Sementara itu, Arina mengangkat bahu dan berkata, "Kak Kayla, kepalamu nggak terbentur kok. Kenapa kamu bertingkah seperti sudah gegar otak? Apa kamu mau buat Kak Owen merasa sakit hati? Anakmu saja nggak nangis, tapi kamu yang sebagai orang dewasa malah menangis kesakitan. Kayaknya itu kurang baik deh?"

Kekhawatiran di mata Owen seketika memudar dan berubah menjadi rasa kesal. "Jangan bertingkah layaknya orang mati. Di atas kepalamu, jelas-jelas tertulis masa hidupmu masih ada 60 tahun. Kamu nggak bisa membodohiku."

Hatiku terasa sangat sakit. Jelas-jelas, dia yang berbohong padaku selama ini.

Mengenang kembali momen-momen indah yang kami lalui setelah aku menikah kilat dengan Owen, semuanya tiba-tiba terasa seperti mimpi.

Di masa akhir kehamilanku, Owen menolak banyak pekerjaan. Setiap hari, dia memasakkan sup bergizi untukku, juga membantuku mengoleskan minyak karena khawatir kehamilanku akan meninggalkan stretch mark. Bahkan ketika aku sedang berada dalam kondisi paling bengkak dan jelek gara-gara hamil, dia juga tidak merasa risih untuk mencium dan memelukku ....

Namun, Arina baru muncul selama lima hari dan semuanya telah berubah. Owen begitu melindungi Arina hingga bahkan pembantu di rumah juga berpihak padanya. Sementara itu, aku ditinggal sendirian dan terisolasi.

Setelah rasa sakitku mereda, aku duduk di lantai. Semua orang di ruang tamu telah pergi.

Owen melarangku bertemu putri kami selama beberapa hari berikutnya. Bahkan koper yang baru saja kupindahkan ke kamar tamu juga telah dipindahkannya ke kamar pembantu.

Aku merasa tidak enak badan dan hendak kembali ke kamar. Alhasil, Arina malah menghentikanku.

"Kak Kayla, aku mau bawa Bichon-ku tinggal di sini. Gimana kalau kamu tidur di ruang bawah tanah dulu untuk beberapa hari?"

Aku menggertakkan gigi dan melirik Owen yang berada di belakangnya dengan marah.

Owen mengerutkan bibirnya dan menghentikan Arina, yang mana merupakan hal yang sangat jarang terjadi. "Sudahlah, biarkan saja anjingmu tinggal di kamar tamu sebelah. Kamar pembantu lebih cocok untuknya."

Begitu mendengar ucapan Owen, Arina langsung berlari ke atas sambil tersenyum gembira untuk menyiapkan rumah anjing.

Setelahnya, Owen baru menghiburku, "Kayla, aku cuma mau tebus penyesalannya sebelum dia meninggal. Aku janji, aku cuma akan tinggal bareng Rina selama tiga hari lagi. Setelah tiga hari ini, kita masih bisa lanjut bersama selama 60 tahun. Dia itu cuma tamu dan kamu masih adalah istri sahku. Nggak akan ada yang berubah."

Owen mengelus kepalaku dan melanjutkan, "Yang patuh, ya. Kamu harus lebih murah hati. Setelahnya, aku nggak akan biarkan kamu menderita lagi."

Seusai berbicara, dia menurunkan tangannya dan pergi. Namun, dia tidak tahu bahwa aku tidak punya waktu untuk bersikap murah hati. Kami tidak lagi memiliki masa depan.

Bab 2

Lima hari yang lalu, aku didiagnosis menderita kanker otak. Waktuku yang tersisa hanya seminggu lagi. Aku telah memberi tahu Owen tentang hal itu, tetapi dia tidak percaya. Dia mengatakan bahwa aku hanya meniru orang dan ingin menyindir Arina. Berhubung dia tidak percaya, aku juga tidak menjelaskannya lagi.

Rasa sakit di kepalaku membuatku tidak bertenaga. Di tengah kelinglunganku, aku mendengar ketukan di pintu. Begitu membuka pintu, aku baru tahu bahwa Owen mengirim Bi Nina untuk memberiku hadiah. Hadiah itu adalah buket mawar kering yang dilapisi emas murni dan melambangkan keabadian.

Owen bahkan meminta Bi Nina untuk menyampaikan pesannya. Dia mengatakan bahwa bunga itu adalah kompensasi atas aku yang bersedia pindah keluar dari kamar kami dan dia yang merebut putriku.

Bi Nina adalah satu-satunya orang di vila ini yang benar-benar peduli padaku.

Dia tersenyum, lalu menahan rasa jijiknya terhadap Arina dan menasihatiku, "Tuan cuma dibutakan sesaat oleh seorang wanita penggoda. Berhubung dia memberimu hadiah semahal ini sebagai kompensasi, itu berarti dia masih peduli padamu. Mungkin saja semuanya akan kembali seperti semula beberapa hari lagi. Nyonya, bersabarlah."

Dengan ekspresi datar, aku meletakkan mawar itu di sudut ruangan secara asal. Sudah ada empat buket mawar yang identik di sudut kamar.

Kemudian, aku hanya mengangguk dengan acuh tak acuh. Sejak Owen mengarang cerita untuk berbohong padaku, dia pun menyuruh Bi Nina untuk diam-diam memberiku buket mawar ini setiap hari.

Bi Nina mungkin tidak menyadarinya, tetapi aku yang telah berbagi ranjang dengannya selama tiga tahun mana mungkin tidak sadar? Owen hanya mencoba untuk menebus rasa bersalahnya dan menipu dirinya sendiri. Bahkan saat mengirim bunga pun, dia melakukannya secara diam-diam. Dia sama sekali tidak menyadari dirinya bersalah.

Aku melirik bunga-bunga di sudut ruangan itu. Hanya tersisa dua buket terakhir. Setelah genap tujuh buket, aku mungkin sudah mati. Mana mungkin masih ada keabadian bagiku?

Kanker otak benar-benar sangat menyiksa. Setelah mengalami sakit kepala hebat semalaman, aku baru tertidur saat fajar. Namun, dering ponselku membuatku terbangun.

Aku menekan pelipisku kuat-kuat, lalu menjawab panggilan dari dokter yang merawatku.

Terdengar suara Dokter Ariel yang berkata dengan gembira, "Bu Kayla, ada obat yang baru saja dirilis di luar negeri. Obat itu bisa hambat penyebaran sel kanker otak. Stoknya terbatas dan aku pakai koneksiku untuk dapatkan satu botol. Obat ini mungkin ini bisa perpanjang hidupmu untuk sesaat. Kalau kamu butuh, datanglah ke rumah sakit untuk mengambilnya."

Setelah mendengarnya, aku menangis bahagia. Meskipun hanya demi putriku, aku juga mau hidup beberapa hari lebih lama. Jadi, aku langsung setuju dan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan obat baru tersebut.

Dokter Ariel secara khusus mengingatkanku bahwa obat baru ini sangat berharga dan perlu disimpan dengan baik. Dia mengatakan bahwa obat itu bisa membantuku melewati dua hari terakhir dan bahkan memperpanjang hidupku hingga kelompok obat berikutnya diproduksi.

Dengan berlinang air mata, aku membayar obat itu dan menggenggamnya erat-erat. Saat meninggalkan tempat pengambilan obat di rumah sakit, aku bertemu Owen dan Arina yang juga datang untuk mengambil obat.

Melihat obat di tanganku, Owen langsung menghampiriku dengan gugup, lalu meraih tanganku dan bertanya, "Kamu sakit? Kenapa kamu datang ke rumah sakit untuk ambil obat?"

Owen memutarku dan mengamatiku secara saksama untuk mencoba mencari tahu aku kenapa.

Dalam beberapa hari terakhir, dia memang bersikap layaknya orang berkepribadian ganda. Dia tidak berhenti memberi perhatian kepadaku dan Arina secara bergantian, sampai-sampai aku mengira dia masih peduli padaku.

Aku pun merasa konyol dan dengan santainya melontarkan faktanya, "Emm, kanker. Hidupku nggak lama lagi."

Setelah mendengarnya, Owen pun tertegun.

Arina yang terlebih dahulu bereaksi. Dia langsung menangis tersedu-sedu dan berujar, "Kak Kayla, kamu jelas-jelas tahu aku menderita kanker dan hidupku setiap hari sangatlah menderita, tapi kamu masih saja bercanda denganku pakai hal ini."

"Benar juga. Kalau aku mati lebih cepat, aku nggak perlu bebani Kak Owen untuk merawatku lagi. Aku memang orang berumur pendek yang pantas mati! Biarkan saja aku mati!"

Seusai berbicara, Arina hendak memanjat jendela dan melompat keluar, tetapi segera dihentikan oleh Owen.

Owen yang merasa marah dan sakit hati pun berbalik dan memarahiku, "Kayla, kenapa kamu selalu pakai perihal kanker untuk provokasi Rina? Kamu begitu sehat, apa kamu tahu betapa menyiksanya penyakit itu? Kenapa orang egois yang berpura-pura sekarat sepertimu nggak segera dijemput raja neraka saja!Dia benar-benar buta!"

Setelah memakiku, Owen merebut obat dari tanganku dan lanjut berseru marah, "Aku mau tahu penyakit fatal apa yang kamu derita!"

"Jangan sentuh obatku!"

Mengetahui betapa berharganya obat baru ini, aku pun panik dan bergegas mengambilnya. Namun, Owen malah mendorongku dan memperhatikan botol putih yang tidak memiliki keterangan itu.

Obat itu masih dalam tahap percobaan sehingga botolnya tidak diberi label.

Arina berpura-pura lemah dan mengejekku, "Kak, kalau kamu mau sandiwara kena kanker, setidaknya kamu harus tulis sesuatu di botol prop itu. Kalau kamu begitu ceroboh, mana mungkin Kak Owen percaya padamu?"

"Kak Owen, entah apa isinya. Kamu nggak boleh biarkan Kak Kayla meminumnya. Gimana kalau nyawanya melayang setelah meminumnya?"

Aku melirik Arina dingin dan berujar sambil menggertakkan gigi, "Mau aku hidup atau mati setelah meminumnya, apa ... urusanmu ...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, Owen sudah mengangkat tangannya dan melempar botol itu ke luar jendela.

Jendela itu menghadap ke danau buatan!

"Owen! Itu obat penyelamatku!" seruku dengan histeris. Mataku terlihat merah padam.

Owen langsung bergidik begitu melihat mataku yang penuh amarah. Setelah menikah, aku selalu bersikap lembut dan perhatian. Meskipun dia meninggalkanku sendiri untuk melahirkan karena harus pergi dinas, aku juga tidak pernah marah padanya setelah itu.

Ini adalah pertama kalinya aku marah padanya dan kupikir dia akan merasa bersalah.

Namun, ketika tersadar kembali, Owen hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Kenapa? Karena sudah berpura-pura begitu lama, kamu sendiri juga benar-benar percaya kamu kena kanker dan akan segera mati? Jangan bersandiwara lagi. Kamu nggak akan bisa membodohiku, Kayla. Kamu cuma akan membuatku merasa jijik!"

Hatiku langsung tenggelam.

Pada saat ini, Arina menghampiriku dan berbisik di telingaku dengan sinis, "Kayla, obatnya sudah lenyap. Kamu cuma perlu tunggu ajal menjemputmu!"

Aku benar-benar terkejut. Arina tahu aku menderita kanker?

Aku menatapnya dengan kaget. Arina tahu betapa pentingnya obat itu bagiku, makanya dia sengaja ingin menghancurkannya. Namun, Owen malah menuruti perintahnya. Apakah itu berarti Owen juga tahu?

Aku tiba-tiba merasa duniaku berputar dan jatuh terduduk ke lantai dengan lemas. Aku merasa linglung untuk waktu yang sangat panjang. Dalam kelinglunganku, kedua orang itu telah berjalan pergi, tetapi suara mereka masih terngiang jelas di telingaku.

"Kak Owen, gimana kalau Kak Kayla benar-benar sakit?"

"Kalau sakit, ya diobati. Kalau nggak bisa disembuhkan, ya mati saja ...."

Kalau sakit, ya diobati. Kalau nggak bisa disembuhkan, ya mati saja .... Ini benar-benar adalah kalimat yang diucapkan orang-orang dari zaman dahulu.

Harapanku untuk hidup sudah pupus di tangan orang yang paling kucintai. Aku merasa bagaikan sudah jatuh ke dalam gua es dan mungkin tidak akan bisa keluar lagi.

Aku awalnya mengira Tuhan telah memberiku satu kesempatan lagi supaya aku bisa hidup demi putriku. Sekarang, harapan itu sudah sirna. Aku bahkan tidak sanggup untuk melindungi sebotol obat.

Mungkin, raja neraka benar-benar menginginkan nyawaku. Dia ingin memberitahuku untuk menyerah dan sudah saatnya aku pergi.

Aku meninggalkan rumah sakit dan pergi ke firma hukum.

Aku menyelesaikan penggabungan aset tidak lancar yang kumiliki, lalu menyerahkannya kepada seorang manajer. Aku juga mengalihkan semua aset lancarku ke rekening pribadi yang kusiapkan untuk putriku. Dengan penuh kesibukan dan semangat, aku menyusun surat wasiatku.

Namun, sebelum aku meninggalkan firma hukum, Owen meneleponku. Nada suaranya terdengar serius, tetapi ada sedikit kepanikan dalam suaranya.

"Apa yang kamu lakukan di firma hukum?"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B65576" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B65576
Salin

Kebohongan Suamiku Menjadi Kenyataan

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya