Bab 1

"Bibi, dulu kita sudah sepakat waktunya sepuluh tahun. Sekarang masa itu sudah habis, aku ingin bawa Adele pergi. Tante tahu sendiri, dia memang nggak pernah menyukai Adele sejak awal."

Di ruang teh, Amanda mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi getir. Dia sudah hidup bersama Arga selama sepuluh tahun, tapi selama itu pula dia tak pernah berhasil menghangatkan hati pria itu.

Hingga suatu malam ketika Arga mabuk, dia menindih Amanda di ranjang. Di bawah pengaruh nafsu, mereka bermesraan hingga Amanda hamil.

Setelah kejadian itu, Arga memberinya sebuah vila dan mengizinkannya melahirkan anak itu. Satu-satunya syarat adalah anak itu tidak boleh memanggilnya ayah. Di hadapan publik, Arga tetaplah pria lajang.

"Aku nggak mungkin menikahimu, lupakan saja. Aku akan kasih uang untuk biaya hidup anak itu, tapi jangan harap aku akan mengakui statusnya. Bagiku, anak itu nggak pernah ada."

"Bibi, dulu kita sudah sepakat waktunya sepuluh tahun. Sekarang masa itu sudah habis, aku ingin bawa Adele pergi. Bibi tahu sendiri, dia memang nggak pernah menyukai Adele sejak awal."

Di ruang teh, Amanda mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi getir. Dia sudah hidup bersama Arga selama sepuluh tahun, tapi selama itu pula dia tak pernah berhasil menghangatkan hati pria itu.

Sepuluh tahun lalu, Arga putus dengan cinta pertamanya yang kemudian pergi ke luar negeri. Sejak saat itu, hidupnya berantakan. Dia mabuk-mabukan setiap hari, terpuruk, dan tidak bersemangat.

Ibu Arga, Santi, tidak sanggup melihat kondisinya. Dia kemudian mencari Amanda dan menawarkan 20 miliar rupiah agar Amanda bersedia menemani Arga selama sepuluh tahun.

Amanda memang telah lama menyukai Arga sejak masa sekolah. Jadi saat diminta oleh Santi, dia menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun. Sejak itu, dia mulai mengejar cinta Arga.

Saat Arga murung, Amanda melakukan segala cara untuk membuatnya tersenyum.

Saat Arga sakit, dia berjaga semalaman, bolak-balik rumah sakit demi merawatnya.

Berhubung Arga punya masalah lambung, Amanda sengaja belajar memasak, mengurus semua keperluan makan dan hidup Arga secara pribadi. Dia menarik Arga keluar dari kesedihan karena patah hati dan tetap tinggal di sisinya. Namun, statusnya hanya seorang penjilat yang tidak diakui.

Amanda pernah mendengar teman Arga menanyakan, apa sebenarnya status Amanda bagi Arga. Arga hanya tersenyum tanpa menjawab.

Hingga suatu malam ketika Arga mabuk, dia menindih Amanda di ranjang. Di bawah pengaruh nafsu, mereka bermesraan hingga Amanda hamil.

Setelah kejadian itu, Arga memberinya sebuah vila dan mengizinkannya melahirkan anak itu. Satu-satunya syarat adalah anak itu tidak boleh memanggilnya ayah. Di hadapan publik, Arga tetaplah pria lajang.

"Aku nggak mungkin menikahimu, lupakan saja. Aku akan kasih uang untuk biaya hidup anak itu, tapi jangan harap aku akan mengakui statusnya. Bagiku, anak itu nggak pernah ada."

Hati Arga keras seperti batu. Dia benar-benar tidak pernah membiarkan putrinya memanggilnya ayah.

Saat Adele berumur tiga tahun, hanya karena tak sengaja memanggilnya Papa, Arga menghukumnya dengan dikurung selama 24 jam. Anak itu menangis sampai suaranya serak.

Saat Adele berumur empat tahun, hanya karena menggenggam tangan Arga sebentar saja, dia langsung didorong keras oleh pria itu hingga jatuh dari tangga dan hampir patah tulang.

Namun kemarin, Arga pulang dengan wajah sangat gembira. Dia bukan hanya membawakan hadiah untuk Adele, tapi juga berjanji akan menemaninya merayakan ulang tahun. Adele senang bukan main. Dia terus bertanya apakah Papa mulai menyukainya.

Namun, Amanda tahu bahwa Arga sedang gembira karena cinta pertama Arga telah kembali dari luar negeri.

Amanda melihatnya dengan mata kepala sendiri bagaimana Arga merawat wanita itu dengan begitu lembut dan bahkan menggendong anak perempuan wanita itu ke dalam pelukannya, serta membujuk anak itu dengan penuh kasih sayang agar memanggilnya "Papa".

Saat itulah, hati Amanda benar-benar mati rasa.

Santi menghela napas berat setelah mendengar penuturan Amanda. "Sudahlah. Kalau kamu sudah memutuskan, Bibi nggak akan memaksa."

Sekembalinya ke rumah, Amanda mulai membereskan barang-barang.

Putrinya yang berusia lima tahun, Adele, masuk ke kamar dengan mata memerah dan bertanya lirih, "Mama, kita benar-benar akan pergi dari rumah Papa?"

Melihat anaknya, hati Amanda terasa perih. "Orang yang Papa cintai sudah kembali. Kita nggak pantas bertahan di sini lagi."

Arga tidak mencintainya, juga tidak mencintai Adele. Kini, wanita yang benar-benar dia cintai telah kembali dan rumah ini tak lagi memiliki tempat untuk mereka berdua.

Amanda berjongkok dan berkata lembut, "Mama akan membawamu pergi dari sini. Kita akan tinggal di luar negeri, bagaimana?"

Adele adalah anak yang dewasa sebelum waktunya dan dia mengerti benar apa arti kata-kata itu. Dia menunduk dan berkata dengan suara terisak, "Papa sudah janji padaku akan merayakan ulang tahunku dan mengajakku ke taman bermain."

"Aku belum pernah pergi ke taman bermain bersama Papa sekali pun."

Amanda tahu betul betapa besar keinginan Adele untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Anak yang tidak pernah dipedulikan oleh ayahnya ini, pasti nekat ingin menggunakan segala cara untuk mewujudkan janji dari ayahnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Adele memohon, "Aku benar-benar ingin merayakan ulang tahun bersama Papa. Boleh nggak kita beri Papa tiga kali kesempatan lagi, Ma?"

"Kalau Papa tetap nggak menyukaiku, kita benar-benar akan pergi."

Melihat mata Adele yang memerah, Amanda tak kuasa menahan diri dan langsung memeluk putrinya erat-erat. Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menolak permintaan terakhir dari anaknya.

"Baik, Mama janji. Kita beri Papa tiga kali kesempatan lagi."

Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Adele. Dia akan memberi Arga tiga kesempatan.

Setelah tiga kesempatan itu habis ....

Jika Arga masih mengecewakan dia dan putrinya, Amanda akan pergi membawa Adele dan menghilang selamanya!

Bab 2

Keesokan paginya, Amanda bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bagi putrinya. Arga turun dari lantai atas, tubuhnya masih memancarkan bau alkohol yang belum hilang sepenuhnya.

Adele memeluk boneka kelinci kecilnya, lalu berlari cepat menyambut, "Papa ...."

Belum sempat kalimat itu selesai, langkahnya terhenti karena tatapan tajam Arga yang tertuju padanya. Arga bertanya dengan dingin, "Apa yang kamu panggil barusan?"

Adele ketakutan. Dia menggenggam bonekanya erat-erat, lalu menjawab terbata-bata, "Pa ... Paman ...."

Arga menarik dasinya dengan kesal, lalu memperingatkan Amanda, "Kalau lain kali kamu masih gagal mendidiknya, angkat kaki dari sini."

Hati Amanda terasa perih. Kalimat yang paling sering diucapkan Arga adalah menyuruh mereka pergi.

Setiap kali mendengarnya, dia dan Adele pasti gemetar ketakutan. Namun sekarang, Amanda sungguh-sungguh ingin pergi. Tanpa membalas ucapan Arga, Amanda hanya menghidangkan sarapan ke meja dan mengangkat Adele ke kursi makan.

Telur ceplok dan roti yang dia buat, disesuaikan dengan selera Arga. Namun, pria itu bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Dia hanya berkata dingin, "Helen sudah kembali. Beberapa waktu ke depan, jangan muncul di hadapannya. Helen akan merasa kesal."

Lalu, matanya melirik ke arah Adele. "Dia juga," tambahnya.

Amanda menatap wajah dingin Arga. Ingin sekali dia bertanya, apakah pria ini benar-benar tidak punya hati? Namun akhirnya, yang keluar dari mulutnya hanya sepatah kata yang getir, "Baik."

Setelah mengantar Adele ke taman kanak-kanak, Amanda melanjutkan perjalanan ke studionya. Dia lulusan seni rupa dan dulunya cukup terkenal. Bahkan sebelum lulus kuliah, dia sudah sempat menggelar pameran tunggalnya sendiri.

Namun setelah menikah, demi mengurus Arga dan rumah tangga, Amanda mengorbankan dunia seni yang paling dia cintai. Sekarang dia hanya melukis di waktu senggang dengan sekadarnya.

Sebagian besar lukisan Amanda, semuanya tentang Arga. Dia mencurahkan seluruh cintanya ke dalam setiap karya itu, tiap goresan kuas adalah ungkapan hatinya yang tulus.

Namun saat Arga melihat lukisan-lukisan itu, yang keluar dari mulutnya hanyalah ejekan dingin, "Jangan lakukan hal yang sia-sia begini. Orang yang aku cintai dari awal sampai akhir, cuma Helen."

Arga seperti sebongkah es yang tidak pernah bisa mencair, tidak peduli sekeras apa pun Amanda berusaha. Kini, Amanda mengeluarkan semua lukisan tentang Arga yang telah dia buat selama sepuluh tahun terakhir dan membawanya ke pinggiran kota.

Dia menyiramnya dengan minyak, lalu menyalakan api.

"Arga, kalau semua usahaku nggak pernah berarti, maka aku memilih untuk melepaskan."

Wajah Arga di setiap lukisan terbakar dalam kobaran api dan berubah menjadi abu. Sama seperti isi hati Amanda saat ini. Dia ingin benar-benar melepaskan Arga. Menghapus sosok pria itu sepenuhnya dari hidupnya.

Tiba-tiba, ponsel di saku Amanda berdering.

Dia mengangkatnya dan terdengar suara guru dari taman kanak-kanak berkata, "Bu Amanda, Adele mengalami sedikit insiden di sekolah. Tolong segera datang ke sini."

Bab 3

Amanda langsung panik.

Adele selalu menjadi anak yang penurut dan tidak pernah terlibat masalah selama di taman kanak-kanak. Ini pertama kalinya guru meneleponnya karena sesuatu yang serius.

Dengan cemas, Amanda buru-buru menuju kantor sekolah. Begitu masuk, dia langsung melihat Adele berdiri di pojok ruangan sambil menangis. Wajahnya merah padam, tubuh mungilnya gemetar hebat.

Di sisi lain ruangan, Arga berdiri dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Di sampingnya, ada seorang gadis kecil dan seorang wanita bertubuh ramping. Hanya dengan satu pandangan, Amanda langsung mengenali wanita itu adalah Helen, cinta pertama Arga.

Wanita itu berdiri sangat dekat dengan Arga dan menggandeng lengannya dengan mesra. Mereka tampak serasi seperti pasangan suami istri. Anak kecil di sisi Arga ini adalah anak Helen.

Baru saja Amanda masuk, dia melihat anak itu memeluk lengan Arga sambil menangis keras, "Papa Arga, dia jahat! Dia ganggu aku!"

Mendengar panggilan "Papa Arga", mata Adele langsung membelalak tak percaya. Arga tidak pernah mengizinkannya memanggil "Papa".

Semua guru di taman kanak-kanak juga mengira Adele berasal dari keluarga ibu tunggal. Namun sekarang, ada anak lain yang bisa memanggil Arga sebagai papa terang-terangan. Yang lebih menyakitkan lagi, Arga memeluk Fiona dengan sangat lembut dan membisikkan kalimat penuh kasih, "Fiona jangan takut, Papa akan melindungimu."

Raut wajah yang lembut, mata yang penuh cinta ... semua itu tak pernah Adele rasakan.

Namun ketika tatapan Arga berpindah ke Adele, seketika sorot matanya menjadi sedingin es. "Siapa yang ngajarin kamu main tangan sama teman sekolah? Nggak sopan sama sekali. Cepat minta maaf ke Fiona!"

Adele gemetar ketakutan dan menangis sambil berkata dengan suara parau, "Tapi ... dia yang duluan merobek mainanku."

Di atas meja kantor, tampak boneka kelinci kecil yang rusak. Mainan itu dibawa pulang Arga semalam dalam keadaan mabuk, lalu diberikan kepada Adele. Adele sangat bahagia malam itu. Dia memeluk boneka itu tidur sepanjang malam, bahkan enggan melepaskannya saat berangkat sekolah.

Namun sekarang, Fiona malah berteriak marah, "Mainan apa milikmu?! Itu jelas-jelas mainan yang dibelikan Papa Arga untukku! Kamu pencuri! Pencuri mainan!"

Kata "pencuri" terlalu berat untuk anak berusia lima tahun. Mata Adele langsung memerah, tangannya mencengkeram ujung bajunya erat-erat. "Aku bukan pencuri ...."

Adele menoleh dengan panik ke arah Arga, berharap pria itu mau membelanya. Namun, Arga hanya mengalihkan pandangannya dengan dingin.

Helen kemudian angkat bicara, "Kemarin Arga memang membelikan beberapa mainan untuk Fiona, tapi Fiona nggak suka boneka kelinci, jadi Arga membawanya kembali. Mungkin saja Adele kebetulan membeli boneka yang sama."

Mendengar hal itu, kesedihan di mata Adele semakin dalam. Ternyata, mainan yang begitu dia sayangi hanyalah barang buangan milik orang lain. Meski demikian, itu tetaplah satu-satunya hadiah dari papanya.

Adele masih berkata lirih, "Tapi itu Papa yang kasih ke aku ...."

Arga mengernyit mendengar itu. Dia menghindari tatapan Adele, lalu berkata dingin, "Lalu kenapa? Cuma mainan murahan. Kamu tetap salah karena memukul orang. Minta maaf."

Setelah itu, dia menoleh tajam pada Amanda. "Ini hasil didikanmu? Anakmu nggak menyesal setelah memukul teman. Ibu macam apa kamu ini?"

Dada Amanda terasa perih. Dia hendak menjawab, tetapi Adele lebih dulu menarik bajunya.

Dengan mata memerah, suaranya terdengar tergesa-gesa, "Itu bukan salah Mama! Mama adalah mama terbaik di seluruh dunia!"

Lalu sambil menangis, dia menengadah dan tersenyum kecil ke arah Amanda. "Nggak apa-apa, Mama. Aku bisa minta maaf."

Adele tahu, kalau hari ini dia tidak meminta maaf, Arga tidak akan membiarkan mereka pergi dengan tenang. Ibunya juga pasti akan ikut disalahkan. Dia tidak ingin ibunya diperlakukan tidak adil.

Dengan hati penuh luka, Adele menatap Arga lalu membungkukkan badan, "Maafkan aku, Paman Arga."

Suaranya kecil dan lirih, tetapi setiap katanya seolah-olah menancap ke dalam hati Amanda. Dengan mata penuh kesedihan, Amanda menatap putrinya.

Lalu Adele melanjutkan, "Maaf, Fiona."

"Maaf, Bibi Helen."

Setelah berkata demikian, Adele menggenggam tangan Amanda, lalu berbalik dan pergi.

Melihat sikap Adele yang tidak seperti biasanya, gurunya sempat tertegun, lalu mengambil boneka kelinci di atas meja dan mengejarnya. "Adele, kamu lupa mainanmu."

Adele menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas ke arah boneka itu. Akhirnya dengan mata berkaca-kaca, dia berkata pelan, "Aku nggak mau lagi."

Amanda menatap putrinya dengan ekspresi tak percaya. Arga pun terdiam di ambang pintu, tidak tahu harus bagaimana bereaksi.

Hidung Amanda mulai terasa perih menahan gejolak di dadanya.

Arga .... Kamu masih punya dua kesempatan lagi.

Kebersamaan Tanpa Cinta

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya