Bab 1
"Bu, Ayah dan Tante Anisa saling mencintai. Ibu nggak malu setelah menghalangi mereka selama 20 tahun lebih?"
"Ibu masih melajang setelah bercerai, Tante Anisa nggak akan tenang, sebaiknya ibu segera menikah lagi. Kasihanilah aku dan kakak. Kalau Tante Anisa bahagia, kami juga bahagia."
Setelah aku mengadakan acara pernikahan untuk kedua anakku dan melunasi cicilan rumah, suamiku membawa pelakor wanita kaya raya ke rumah.
Anak-anakku memaksaku bercerai dan menikah lagi.
Karena anak-anakku terus memaksa, aku terpaksa menikah lagi.
Awalnya, aku murni ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana, ternyata suamiku adalah seorang CEO sebuah perusahaan.
Setelah mengetahui identitas suamiku, kedua anakku merasa menyesal.
"Bu, Ayah dan Tante Anisa saling mencintai. Ibu nggak malu setelah menghalangi mereka selama 20 tahun lebih?"
"Ibu masih melajang setelah bercerai, Tante Anisa nggak akan tenang, sebaiknya ibu segera menikah lagi. Kasihanilah aku dan kakak. Kalau Tante Anisa bahagia, kami juga bahagia."
Setelah aku mengadakan acara pernikahan untuk kedua anakku dan melunasi cicilan rumah, suamiku membawa pelakor wanita kaya raya ke rumah.
Anak-anakku memaksaku bercerai dan menikah lagi.
Karena anak-anakku terus memaksa, aku terpaksa menikah lagi.
Awalnya, aku murni ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana, ternyata suamiku adalah seorang CEO sebuah perusahaan.
Setelah mengetahui identitas suamiku, kedua anakku merasa menyesal.
…
"Bu, jangan membuat malu. Apa aku harus menjelaskan?
"Ibu mengurus rumah dan masak sepanjang hari. Semua uang belanja bahan makanan juga dari kami. Kami yang menghidupi ibu, sedangkan Tante Anisa adalah CEO. Sebentar lagi dia akan kerja sama dengan Grup Mahendra. Dibandingkan dengan Tante Anisa, ibu bukan siapa-siapa?"
"Tante Anisa mengatakan kalau aku berhasil membujukmu cerai dan menikah lagi, dia mengizinkan aku bekerja di perusahaannya sebagai manajer."
"Jangan terus jadi benalu di sini. Kalau nggak, aku nggak mau mengakuimu sebagai ibuku lagi."
Zayn Limar, putraku sedang memegang puntung rokok sambil menunjuk ke arahku. Ujung rokok itu hampir mengenai mataku.
Jihan Limar, putriku lebih lembut, tetapi dia suka mengomel.
"Sejak awal, aku dan kakak tahu tentang hubungan ayah dan Tante Anisa. Kami bukan bermaksud menyembunyikan hal ini dari ibu. Mana ada anak yang mau orang tuanya bercerai? Kalau mau menyalahkan, salahkan diri ibu yang nggak berguna sehingga nggak bisa mempertahankan ayah."
"Bu, jangan egois. Pertimbangkan lagi demi kami berdua."
"Aku berencana menyekolahkan Tania ke luar negeri. Uang sekolah di sana menghabiskan ratusan juta setahun. Aku juga mau dia belajar piano, biayanya mahal. Aku juga memberi tahu suamiku untuk mengganti mobil, biayanya mahal. Sementara Tante Anisa mengatakan dia mampu membiayai semua kebutuhanku."
"Bahkan, ibu … masih belum menemukan suami baru!"
Beberapa hari lalu, para tetangga memujiku. Mereka mengatakan anak-anakku sudah menikah, bahkan cucu-cucuku sudah besar. Sekarang waktunya aku menikmati hari tua dengan bahagia.
Setelah tetangga memuji, aku melihat suamiku membawa pelakor wanita kaya raya ke rumah.
Mirisnya, kedua anakku membantu suamiku dan pelakor itu untuk membujukku bercerai dan menikah lagi. Mereka bahkan mengancam nggak mau mengakuiku sebagai ibu kalau aku menolak.
Aku terkejut ketika kedua anakku mengatakan aku tidak berguna. Kata-kata mereka membuatku sedih.
Aku sudah berkorban puluhan tahun demi keluarga ini. Aku tidak peduli kalau suamiku, Evan selingkuh.
Yang membuatku sedih adalah kedua anakku membantu menyembunyikan perselingkuhan ayahnya, sekarang mereka mengejekku karena nggak sehebat wanita itu dan memaksaku bercerai. Di mana hati nurani mereka?
Meskipun Evan punya pekerjaan tetap, gajinya tidak seberapa banyak. Oleh karena itu, aku membeli kebutuhan rumah menggunakan gajiku.
Ketika putriku berumur tujuh tahun, aku diangkat menjadi wakil direktur, tetapi aku harus pindah ke luar kota.
Aku merasa sangat senang dan siap-siap pindah ke luar kota.
Alhasil, Evan mengatakan tidak bisa menjaga anak karena sibuk bekerja. Kedua anakku merengek melarangku pergi.
Aku kasihan dengan mereka, jadi aku terpaksa menolak kesempatan naik pangkat.
Kedua anakku merasa senang dan memujiku sebagai ibu yang baik dan mengatakan bahwa mereka mencintaiku.
Setelah putriku menikah dan melahirkan, dia minta aku berhenti kerja untuk membantunya menjaga anaknya karena mertuanya tidak peduli dengan cucunya.
Aku dilarang menyewa pengasuh karena takut pengasuh jahat terhadap anaknya.
Aku tidak setuju, akhirnya putriku perang dingin denganku.
Ketika membahas pernikahan putraku, menantuku mengajukan syarat. Sebelum menikah, semua cicilan harus lunas. Kalau tidak, dia tidak mau menikah.
Perusahaanku kebetulan sedang banyak melakukan PHK. Putraku memintaku untuk berhenti kerja. Jika aku berhenti, aku akan mendapat uang satu miliar lebih dari perusahaan sehingga aku bisa melunasi cicilan rumah.
Aku mengalah lagi. Uang yang kudapat dari perusahaan dipakai putraku untuk melunasi rumah, kemudian aku fokus menjaga cucuku.
Kedua anakku sangat bahagia. Mereka memelukku dan memujiku sebagai ibu yang baik. Mereka menghiburku tidak masalah kehilangan pekerjaan dan uang pensiun karena mereka yang akan merawatku sampai tua.
Ternyata baru beberapa tahun, mereka tega melakukan ini padaku?
Bab 2
Namun, aku tidak punya penghasilan sekarang, tidak mungkin menang berdebat dengan mereka. Aku menolak permintaan mereka, lalu aku pergi beli sayur sambil berlinang air mata.
Setelah kembali dari pasar, aku menyadari ….
Kata sandi pintu sudah diganti sehingga aku tidak bisa masuk rumah.
Zayn menghubungiku dengan mengatakan, "Sekarang ibu nggak perlu kerja lagi. Aku malas berurusan dengan ibu. Ayah sudah menunggu di kantor capil, sekarang ibu pergilah ke sana untuk bercerai."
"Kalau nggak, aku akan menyebarkan rumor ibu selingkuh dengan banyak pria. Lagi pula, aku punya foto ibu bersama pria. Dasar nggak tahu malu, ibu nggak takut kami nggak mengakuimu sebagai ibu. Kalau ibu ingin sendirian sampai tua, terserah ibu saja!"
Aku merasa sangat marah hingga rasanya ingin pingsan.
Anak yang kukandung selama 10 bulan tega mempermalukan ibunya sendiri. Dia memutus telepon, lalu mengirimkan foto-foto kepadaku.
Dia sengaja mencari kesalahanku dengan mengirimkan foto-foto bersama pria.
Sejak kapan mereka merencanakan hal ini?
Aku merasa marah sekaligus sedih, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku membawa kartu identitasku, lalu pergi ke kantor capil.
Setelah mengurus perceraian, Evan dan Anisa pergi.
Jihan memegang tanganku dan tersenyum.
"Ini baru benar. Bu, aku dan kakak adalah anak kandungmu. Kami nggak mungkin mencelakaimu. Sebentar lagi perusahaan Tante Anisa bekerja sama dengan Grup Mahendra. Setelah kami menjadi pewaris perusahaan Tante Anisa, kita akan jadi kaya."
Aku merasa tidak nyaman, lalu aku menepis tangannya.
Jihan tidak tersinggung. "Bu, ibu sudah punya pacar, belum? Bagaimana kalau kujodohkan dengan laki-laki di desa ibu?"
"Aku bisa cari sendiri."
"Kalau begitu, ibu harus menikah setelah proses cerai selesai. Itulah permintaan Tante Anisa!"
Jihan masih terus bicara, sedangkan aku sudah malas mendengarnya, jadi segera meninggalkannya.
Namun, rumahku sudah dijual. Uangku juga sudah diambil putriku.
Sekarang mereka berdua melarangku tinggal di rumah mereka.
Aku tidak memegang uang sama sekali. Aku tidak tahu tinggal di mana malam ini.
Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun, pada akhirnya keluargaku mencampakkan aku. Aku tiba-tiba merasa hidupku hancur.
Aku menangis sepanjang jalan ke jembatan. Sampai di jembatan, aku ingin bunuh diri. Namun, Arya Mahendra menghalangiku.
"Freya, tadi aku berpapasan denganmu. Aku kira salah orang, ternyata benar kamu. Apa … apa yang terjadi denganmu?"
10 tahun lalu Arya tenggelam dalam kolam, lalu aku menyelamatkannya. Sejak itu, dia selalu mengirimkan hadiah ke rumahku setiap tahun baru.
Kami pun menjadi sahabat.
Aku menceritakan semua yang kualami kepada Arya.
Aku bercerita, "Mereka memaksaku bercerai, mengusirku dari rumah, dan memaksaku mencari pasangan untuk menikah. Ke mana aku harus mencari?"
Bukankah ini artinya mereka ingin membunuhku?
Arya berpikir sejenak, lalu berkata, "Kedua anakku juga mendesakku untuk menikah selama ini, tapi belum ada yang cocok. Kalau kamu nggak keberatan, bagaimana kalau kamu menikah denganku dan tinggal di rumahku?"
Di usiaku yang tidak muda lagi, aku sudah tidak memikirkan cinta.
Aku hanya menginginkan tempat tinggal dan tidak sendirian di rumah.
Aku menyeka air mata, kemudian ikut Arya ke rumahnya.
Aku tidak menyangka rumah Arya berada di kompleks perumahan mewah.
"Freya, aku sudah cukup mengenalmu. Aku ingin kamu juga mengenalku lebih jauh. Aku adalah Presdir Grup Mahendra, sudah hidup sendiri selama 17 tahun dan nggak pernah melakukan hal macam-macam."
"Di waktu senggang, aku suka memancing, berkebun. Lalu, aku punya seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Usia mereka dengan kedua anakmu sebaya. Sementara itu saja. Kalau masih ada yang mau kamu tanyakan, tanyakan saja."
Meskipun aku sudah mengenalnya lama, aku baru sekarang tahu bahwa dia adalah Presdir Grup Mahendra.
Dengan kondisi seperti keluargaku, di mana kedua anakku memandang rendah aku dan menjebakku.
Jika aku menikah dengan keluarga konglomerat, kedua anakku pasti makin membenciku.
Di masa tua-ku ini, yang kuinginkan hanyalah menjalani hidup dengan tenang, tidak mau cari ribut. Seketika itu juga, aku merasa ingin menolak untuk menikah dengan Arya..
Bab 3
Arya mengetahui keraguanku, tetapi dia tidak memaksaku. Arya hanya mengatakan, "Cobalah dekat dengan kedua anakku. Kalau memang kamu merasa nggak cocok, aku juga nggak akan memaksa."
Putra Arya bernama Kevin Mahendra, CEO Grup Mahendra, sedangkan putri Arya bernama Laura Mahendra, dia adalah kepala rumah sakit besar.
Dulu kedua anaknya datang menemuiku untuk berterima kasih karena aku menyelamatkan ayah mereka.
Namun, kondisi dulu dengan sekarang berbeda.
Katanya, mereka berdua ingin makan bersamaku sore ini. Aku jadi merasa gugup.
Kedua anaknya mudah bergaul, mereka bahkan menyiapkan hadiah untukku.
Laura berkata, "Ibuku meninggal dunia setelah melahirkanku. Karena takut aku dan kakak mendapat ibu tiri yang jahat, akhirnya ayah memutuskan untuk nggak menikah lagi. Setelah kami berdua dewasa, ayah masih belum menemukan pasangan yang cocok sampai sekarang. Waktu ayah mengatakan akan menikah dan ingin memperkenalkan kekasihnya pada kami, kami merasa sangat bahagia."
Kevin menambahkan, "Kudengar, Tante Freya nggak punya pegangan uang. Jangan khawatirkan soal uang karena semua kebutuhan tante tercukupi di sini. Kami hanya ingin melihat tante dan ayah hidup bahagia setiap hari."
Setelah sebulan tinggal bersama mereka, semuanya terasa menyenangkan.
Pada hari aku resmi bercerai dengan Evan, aku menikah dengan Arya atas desakan Zayn dan Jihan.
Setelah misi kedua anakku berhasil, mereka berdua buru-buru meminta pujian ke wanita itu tanpa melihatku sama sekali.
Setelah sekian tahun, akhirnya Evan dan Anisa bisa bersama. Mereka memutuskan untuk segera menikah.
Mereka merencanakan untuk menikah, bahkan mereka memberiku undangan pernikahan.
Aku sangat merindukan cucu-cucuku. Meskipun aku malas bertemu dengan sekelompok orang licik itu, aku memutuskan tetap hadir ke pernikahan mereka.
Anisa mengejekku waktu melihatku, "Kamu hanya kasih angpao empat jutaan, apa kamu nggak malu?"
Zayn dan Jihan sangat patuh pada wanita itu.
Jihan mengomel. "Bu, sudah setua ini, kenapa ibu nggak mengerti juga? Di acara pernikahan ini, Presdir Grup Mahendra akan hadir. Kenapa ibu hanya kasih angpao empat jutaan? Setidaknya, ibu harus kasih angpao 40 juta!"
Aku berkata dengan kesal, "Kamu lupa kalau aku nggak punya uang?"
Semua uangku kuberikan untuk Jihan dan Zayn. Semenjak bercerai, uang 400 ribu saja aku tidak punya.
"Kalau nggak punya uang, pinjam saja. Nggak datang juga nggak masalah. Lagi pula, kedatanganmu justru membuatku malu. Lihat, Tante Anisa terlihat marah. Cepat pergi!" Zayn datang menghampiriku dan menyeretku.
Zayn menarikku dengan kasar. Ritsleting bajuku tersangkut di taplak meja.
"Zayn, lepaskan. Aku bisa pergi sendiri."
Diusir seperti ini, aku merasa malu. Aku tidak tahan terus berada di sini.
Zayn makin emosi, lalu berkata, "Kamu masih nggak mau pergi?"
Zayn menyeretku keluar dengan paksa.
Kakiku tersandung kursi, kemudian terjatuh ke lantai.
Brak!
Semua makanan di meja berjatuhan ke lantai. Sebagian besar makanan tumpah di tubuhku.
Tumpahan makanan yang masih panas itu membuatku mengerang kesakitan. Meskipun begitu, Zayn dan Jihan masih mengusirku.
Anisa juga menghampiriku dan menampar wajahku, bahkan dia menendangku beberapa kali.
Waktu aku berniat berdiri, kedua anakku menahanku.
Pada saat ini, aku tidak mampu melawan mereka. Aku merasa putus asa.
Anisa terlihat sangat marah. Dia mengambil piring, lalu memukul kepalaku dengan piring.
"Freya, apa kamu sengaja membuat keributan karena tahu Pak Arya akan datang? Kamu nggak pantas bertemu dengan pria sehebat Pak Arya. Aku sudah berbaik hati mengundangmu ke sini, kamu malah menghancurkan acaraku, kenapa kamu nggak mati saja?"
Kepalaku berlumuran darah setelah dipukul dengan piring.
Ketika Anisa hendak menendangku lagi, putranya datang sambil berteriak, "Bu, Pak Arya datang!"