Bab 1
Sewaktu mengikuti pacarku pulang ke kampung halamannya, tanpa sengaja aku menemukan adik pacarku dengan tubuh penuh memar.
Seorang nenek di desa tersebut menyuruhku untuk segera kabur dan membuatku merinding ….
Saat akal sehatku belum kembali, aku melihat sahabatku yang sudah hilang bertahun-tahun berada di rumah paman pacarku.
Kemudian, tatapan pacarku kepadaku juga menjadi makin aneh ….
Pada tanggal 15 Desember.
Kami naik pesawat, kemudian berganti naik kereta, dilanjutkan dengan naik bus, lalu naik becak.
Terakhir, kami berjalan kaki hampir sepuluh kilometer.
Akhirnya, aku dan Jerry berdiri di depan rumah Jerry.
Aku memegangi lututku dan napasku tersengal-sengal saat mengamati rumah Jerry.
Rumah Jerry tidak kumuh seperti yang kubayangkan. Rumah Jerry hanyalah rumah bergaya kuno dengan dikelilingi paviliun di keempat sisinya, yaitu di sisi selatan, timur, barat, utara, dan ada halaman di tengahnya. Rumah ini khas rumah-rumah di daerah utara dan terlihat agak tua.
Memikirkan rumah-rumah yang jarang-jarang di desa yang barusan kulewati, rumah Jerry ini termasuk cukup bagus.
"Ayo, kita masuk." Jerry meraih tanganku dan memasuki rumah. Sambil berjalan, dia berteriak, "Bu, aku pulang. Lihat, siapa yang kubawa ke sini."
Begitu kata-kata Jerry tersebut terucap, seseorang bergegas keluar dari dalam rumah dan berlari ke arah kami dengan tergesa-gesa. "Aduh, Jerry sudah pulang. Akhirnya pulang juga. Ibu sudah lama menunggu."
Orang yang keluar itu adalah seorang wanita paruh baya. Fitur wajahnya sedikit mirip dengan Jerry. Wajahnya tampak menghitam karena terbakar matahari akibat bekerja keras selama bertahun-tahun.
Sepertinya wanita ini adalah ibunya Jerry.
Aku menelan ludah dengan gugup dan tersenyum. "Halo Bibi, aku Wanda Zainal. Aku pacarnya Jerry."
Mata Bu Astri tertuju padaku.
Untuk sesaat, perasaan dingin muncul di hatiku.
Namun, segera saja, Bu Astri tersenyum kepadaku. "Ini Wanda? Jerry sering sekali menceritakan tentang dirimu pada Bibi. Eh, senang sekali kamu datang ke sini. Ayo, cepat masuk."
Sambil berkata seperti itu, Bu Astri dengan antusias membantuku membawa barang-barang.
Aku menghela napas lega. Aku merasa perasaan yang barusan kurasakan pasti hanyalah ilusi karena aku terlalu lelah.
Memasuki rumah Keluarga Sabian ….
Di bawah atap rumah, duduk seorang gadis remaja. Dia tengah menyulam sol sepatu. Gadis itu bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika melihat kami masuk.
Aku menatap Jerry dengan canggung. Aku tidak tahu apakah harus menyapa gadis itu atau tidak.
Akan tetapi, Jerry tidak memperhatikanku. Dia juga tidak melihat ke arah gadis itu. Jerry hanya sibuk bercakap-cakap dengan ibunya.
Diam-diam, aku menghela napas dan mengikuti mereka memasuki rumah.
Sebelum aku benar-benar memasuki rumah, aku kembali melirik ke arah gadis itu dan secara kebetulan mata kami saling bersirobok.
Aku langsung bergidik.
Mata macam apa itu? Dingin, tidak peduli, dan acuh tak acuh. Sama sekali tidak seperti manusia.
"Wanda, cepat masuk dan minum air. Kamu pasti haus di sepanjang perjalanan, 'kan?" Sebelum aku sempat memikirkannya, teriakan Jerry terdengar dari dalam rumah.
Aku pun buru-buru melangkah dengan cepat ke dalam rumah.
Aku tertegun saat melihat sekilas perabotan yang dipajang di dalam rumah. Semuanya terbuat dari kayu solid. Menurut sepengetahuanku, perabotan semacam ini, merupakan perabotan yang bernilai tinggi di pasaran.
Keluarga Jerry, bukanlah keluarga yang berkecukupan. Aku sudah mengetahui hal ini sejak lama.
Jerry sering menceritakan kepadaku mengenai kesulitan ibunya dalam membesarkan dirinya, termasuk kemiskinan serta keterbelakangan di desanya.
Namun, sekarang, melihat perabotan di rumahnya, sama sekali tidak mencerminkan jika mereka adalah orang miskin.
Aku tersenyum tipis. Dia sengaja berpura-pura susah untuk menarik simpatiku, 'kan? Benar-benar bodoh.
Setelah duduk sebentar, Bu Astri berdiri dan pergi memasak.
Aku tidak tahu harus berbuat apa dan ikut berdiri.
Jerry tersenyum dan menepuk tanganku. "Istirahat saja. Kamu pasti capek karena perjalanan ini. Aku akan membantu ibu memasak. Sebentar lagi juga selesai."
Jerry begitu perhatian, membuatku merasa tenang.
Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala.
Aku duduk diam di dalam rumah selama beberapa saat dan merasa tidak nyaman.
Setelah berpikir, aku pun keluar rumah dan berjalan menghampiri gadis itu. Aku berjongkok dan berkata sambil tersenyum, "Halo."
Gadis itu melirikku sekilas dan tidak menjawab. Dia terus saja menyulam sol sepatunya.
Aku merasa agak malu.
Aku kembali mengangkat mataku dan memperhatikannya dengan saksama.
Gadis ini terlihat begitu kurus dan lemah. Wajahnya halus dan cantik. Pakaiannya tidak pas dan banyak tambalan.
Memikirkan penampilan Jerry yang rapi serta perabotan kayu solid yang berharga di rumah mereka, aku merasakan ada kejanggalan yang tidak bisa diungkapkan di dalam hatiku.
Bab 2
"Wanda, kalian lagi ngobrolin apa?" Jerry menghampiriku dan bertanya sambil tersenyum padaku.
Aku tersenyum canggung. "Aku mau menyapanya. Tapi, dia nggak peduli padaku."
Jerry melirik gadis kecil itu sekilas dan berkata dengan dingin, "Nggak usah dihiraukan. Dia itu bisu, nggak bisa ngomong."
Aku tertegun dan menatap gadis kecil itu dengan penuh simpati.
Gadis kecil itu melirik ke arah kami saat mendengar kata-kata tersebut. Tatapan sinis melintas di matanya. Kemudian, dia kembali menundukkan kepalanya.
Tanpa sadar, aku melihat ke arah Jerry. Namun, sepertinya Jerry tidak melihat tatapan mata gadis itu. Dia malah meraih tanganku untuk masuk ke rumah.
Aku terdiam sesaat dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dengan lembut, "Jerry, siapa gadis itu?"
Jerry merasa ragu-ragu untuk sesaat, lalu berkata dengan tidak sabar, "Dia itu adikku. Otaknya bermasalah sejak kecil, Jadi, nggak usah dipedulikan. Ayo, kita masuk. Ibu nggak mengizinkanku untuk membantunya dan memintaku untuk menemanimu."
Aku merasakan sesuatu yang berbahaya di dalam hati.
Gadis ini ternyata adalah adik Jerry? Dengan sikap acuh tak acuh mereka, kukira mereka itu adalah tetangga atau orang yang punya hubungan yang tidak baik dengan mereka.
Melihat sikap Jerry, kecurigaan di dalam hatiku menjadi makin besar.
Menurutku, Jerry adalah tipe pria yang hangat, lembut, sabar, ceria, dan suka tertawa. Tipe pria yang cocok dengan seleraku.
Namun, sekarang, sikap Jerry terhadap adiknya membuatku merasa merinding di dalam hati.
Jerry menoleh. Dia menyentuh kepalaku dan berkata sambil tersenyum, "Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Aku menceritakan semuanya pelan-pelan padamu nanti."
Aku menganggukkan kepalaku.
Jerry menghela napas. "Adikku itu, hmm, namanya Yenny. Sebenarnya dia normal waktu masih kecil."
"Kemudian, tiba-tiba saja dia sakit parah. Otak dan tenggorokannya jadi rusak. Setelah sembuh, dia jadi benar-benar nggak normal, suka membuat keributan, kabur, atau memukul orang kalau nggak ada yang mengawasi."
"Aku harus pergi ke sekolah. Ibu nggak bisa mengawasinya sendiri. Jadi, Ibu nggak punya pilihan selain mengurungnya di rumah atau mengikatnya."
"Lalu, perlahan-lahan dia sedikit membaik dan berhenti membuat keributan. Tapi, dia jadi seperti ini sekarang. Hufh."
Jerry menceritakan semua itu dengan sungguh-sungguh.
Aku pun menghela napas dalam-dalam.
Sepertinya aku sudah salah sangka pada Jerry. Dia dan ibunya pasti juga mengalami banyak kesulitan.
Mengenai Yenny, benar-benar malang nasibnya.
Ketika tiba waktunya untuk makan, Bu Astri tidak mengizinkan Yenny untuk ikut makan di meja makan. Katanya, cara makan Yenny kurang sopan dan bisa merusak suasana.
Aku ingin mengatakan sesuatu. Namun, karena merasa sebagai tamu, aku pun memilih untuk diam.
Mungkin karena lelah, atau mungkin karena hal lain, aku merasa tidak nafsu makan dan makanannya juga terasa hambar.
Setelah makan, Bu Astri memanggil Yenny untuk menyuruhnya mencuci piring.
Bagaimanapun, ini pertama kalinya aku ke rumah mereka. Aku tidak ingin berebut mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Itu sebabnya, aku tidak mengatakan apa-apa.
Di sisi lain, Bu Astri mengajak Jerry untuk duduk di samping dan bertanya kepadanya.
Aku duduk di sana selama beberapa saat. Melihat sosok Yenny yang sibuk keluar masuk rumah, aku merasa sedikit tidak enak hati. Akhirnya, aku pun berdiri dan mengikuti Yenny ke dapur.