Bab 1
Aku sedang hamil empat bulan, tetapi suamiku yang seorang dokter membatalkan janjinya sebanyak 16 kali untuk kami mengurus surat nikah.
Pertama kali, perawat kecilnya pingsan karena melihat darah saat operasi. Aku menunggunya seharian di depan Kantor Catatan Sipil.
Kedua kalinya, begitu perawat kecilnya menelepon, dia meninggalkanku di jembatan layang, hanya untuk membelikan pembalut untuk si perawat kecil.
Setelah itu, setiap kali kami berencana untuk mengurus surat nikah, perawat kecilnya selalu saja membuat masalah.
Terakhir kali, aku mendengar suamiku sedang sakit. Aku bergegas datang ke rumah sakit di tengah hujan deras, tetapi ternyata yang sakit adalah si perawat kecilnya.
Pria itu menjaga perawat kecilnya di samping tempat tidur tanpa beranjak sedikit pun, berbohong padaku tanpa perubahan ekspresi lewat telepon.
Pada saat itu, aku mulai membenci pria itu.
Aku dengan tegas menggugurkan kandungan, lalu pergi.
Namun, pria itu malah mengejarku hingga ke luar negeri, meminta maaf padaku.
Hujan deras mengguyur, membuat seluruh tubuhku basah kuyup.
Dibanding penampilan kacauku, sebaliknya pemandangan di ruang perawatan tampak hangat dan bahagia.
Bella berbaring di tempat tidur, sementara Joshua duduk di sampingnya sambil menyuruhnya beristirahat dengan baik, sekaligus mengupaskan apel untuknya.
Kulit apelnya tidak putus sama sekali, satu helai utuh.
Tangan pria itu sangat mahir dalam mengupas apel.
Aku tidak bisa tidak mengingat kembali ke waktu lima tahun yang kami lalui bersama.
Aku adalah orang yang sangat suka memakan apel, tetapi selalu tidak bisa mengupas kulitnya. Bahkan aku sampai melukai tanganku beberapa kali.
Aku juga pernah meminta Joshua membantuku, tetapi dia mengerutkan kening.
"Kalau merepotkan, jangan makan. Tanganku ini untuk memegang pisau bedah, bukan pisau buah."
Sejak saat itu, aku tidak memakan apel lagi.
Namun, tangan mulia Joshua itu mengambil pisau buah untuk Bella.
"Pak Joshua, maafkan aku. Lagi-lagi aku mengganggumu dan Bu Amelia untuk mengurus surat nikah."
Mata Bella memerah saat dia meminta maaf, membuatnya tampak seperti kelinci putih kecil yang tersakiti.
Tangan Joshua terhenti sebentar, lalu dia berkata dengan nada tegas, "Apakah mengurus surat nikah dengannya lebih penting dari tubuhmu? Jangan bicara seperti itu lagi."
Tanganku bertumpu ke dinding karena aku hampir tidak bisa berdiri.
Aku tidak pernah menyalahkan Joshua atas 15 kali kami gagal mendapatkan surat nikah.
Namun, pada kali keenam belas, pisau Joshua menusuk ke hatiku.
Begitu sakit sampai membuatku gemetar.
Sebelum aku sempat masuk untuk berdebat, percakapan mereka yang selanjutnya lebih menghantam jiwa.
"Kalau hari itu kamu nggak menemaniku di hari ulang tahunku, kamu nggak akan minum sebanyak itu .... Aku nggak tahu Bu Amelia bisa melakukan hal serendah itu."
Joshua menanggapi, "Itu salahku. Kalau aku nggak begitu bersemangat hingga minum berlebihan, dia juga nggak akan punya kesempatan untuk hamil, lalu mengancamku untuk menikah dengannya ...."
Air mataku mengalir deras.
Empat bulan yang lalu, hari itu adalah hari ulang tahunku.
Joshua yang berjanji akan menemani saat ulang tahunku, mengatakan bahwa dia ada acara makan malam dengan rekan kerja, jadi akan pulang malam dalam keadaan mabuk.
Saat aku membantunya melepaskan pakaian, dia menarikku ke tempat tidur.
Hari itu dia sangat senang. Dia memelukku sambil terus mengucapkan selamat ulang tahun.
Biasanya, setiap kali kami bersama, Joshua akan selalu memakai pengaman. Namun, hari itu dia tidak menggunakannya.
Aku mengira dia merasa senang karena melewati ulang tahun kelima bersamaku. Aku tidak menyangka bahwa hari itu aku mendapatkan sebagian kebahagiaan dari Bella.
Sekarang, baginya anak ini menjadi alatku untuk mengancamnya.
Bahkan diriku sendiri sudah menjadi seorang wanita rendahan di mulut mereka.
Dinginnya baju basah yang menempel di badanku tidak sebanding dengan dinginnya hatiku.
Lima tahun yang lalu, aku rela memutuskan hubungan dengan orang tuaku untuk mengikuti Joshua ke kota asing ini tanpa ragu. Bahkan aku dengan ikhlas merelakan impianku menjadi pelukis, lalu hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.
Karena aku mencintai Joshua, aku berharap bisa menjadi istrinya, menghabiskan sisa hidup bersamanya.
Namun, saat ini semua harapan itu menjadi lelucon.
Aku mulai membencinya.
Aku berbalik pergi dengan langkah terhuyung, tetapi aku mendengar suara langkah kaki dari belakang.
Suara Joshua yang penuh keterkejutan mengikuti.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Bab 2
Aku membalikkan badan, menatap langsung ke arah Joshua.
Dia sama sekali tidak peduli dengan penampilanku yang berantakan, hanya mengerutkan kening.
"Siapa yang menyuruhmu datang mencariku ke rumah sakit tanpa izin? Aku sudah bilang kalau ini tempat aku bekerja, bukan tempat hiburan," kata Joshua.
Wajah seriusnya kini benar-benar berbeda dari sikap lembut yang dia tunjukkan pada Bella tadi.
Seharusnya aku merasa sedih, sama seperti setiap kali dia mengabaikanku sebelumnya.
Namun, kali ini yang aku rasakan hanyalah dingin yang menusuk di dada.
"Kamu mengatakan di telepon kalau kamu sakit, jadi aku datang untuk menjengukmu," jawabku.
Hari ini aku menunggu seharian di depan Kantor Catatan Sipil. Baru saat jam kerja selesai, aku berhasil menghubungi Joshua.
Dia mengatakan bahwa dirinya sedang sakit, sementara aku langsung datang tanpa berpikir panjang.
Sekarang, aku bersyukur aku datang.
Jika tidak, mungkin aku masih akan terus dipermainkan seperti ini.
Joshua tertegun sejenak, lalu mengalihkan pandangan dengan rasa bersalah.
"Kamu salah dengar. Yang sakit bukan aku, tapi Be …."
"Nggak, ini salahku."
Aku memotong ucapannya.
Ini memang salahku.
Sejak awal memang salahku.
"Kalau begitu, aku nggak akan mengganggu kalian lagi," kataku.
Aku berbalik untuk pergi.
Joshua tidak mengejarku, karena Bella sedang menangis.
"Apa Bu Amelia marah padaku? Semua ini salahku .… Kenapa aku selalu sakit .…"
Joshua menenangkannya dengan suara lembut, "Bukan salahmu. Itu karena hatinya yang terlalu picik."
Aku mempercepat langkahku.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, aku menerima telepon dari Joshua.
Sebenarnya aku tidak ingin mengangkatnya, tetapi dia terus menelepon.
"Halo?"
"Kamu akhir-akhir ini seharusnya nggak terlalu sibuk, 'kan?"
Suara Joshua kini terdengar lembut.
Aku hanya diam, tidak menjawab.
Namun, dia tetap melanjutkan kata-katanya sendiri.
"Bella baru saja menjalani operasi kecil, dia harus dirawat inap selama tiga hari."
"Kamu juga nggak ada kesibukan, 'kan? Jadi, selama tiga hari ini kamu bisa memasak, lalu membawakan makanan untuknya setiap hari."
"Dia hanya seorang gadis yang baru mulai bekerja, nggak ada siapa-siapa di sisinya untuk merawatnya. Kamu adalah istri gurunya, jadi kamu harus merawatnya."
Saat menyebutkan tentang Bella, kata-kata Joshua dipenuhi dengan rasa sayang.
Padahal demi pria itu, aku sampai bertengkar hebat dengan orang tuaku, hingga akhirnya memutuskan hubungan dengan keluargaku. Aku sering terbangun dengan air mata karena merindukan rumahku.
Di kota yang asing ini, satu-satunya orang yang aku kenal hanyalah Joshua.
Namun, pria itu tak pernah memperhatikanku dengan kepedulian seperti itu.
Karena ketika mencintai seseorang, barulah kamu akan peduli padanya.
Aku butuh waktu lima tahun untuk aku memahami hal ini.
Karena aku terus diam, Joshua seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.
Namun, aku langsung memotongnya, "Baiklah."
Telepon di seberang langsung hening.
Joshua mungkin tidak menyangka aku akan setuju secepat itu.
Lagi pula, ini adalah masalah memasak untuk wanita lain, wanita yang begitu dekat dengannya.
Namun, yang tidak Joshua tahu, aku sudah membuat keputusan untuk meninggalkannya.
Sebelum keluar dari rumah sakit tadi, aku sudah membuat janji untuk melakukan operasi aborsi dalam tiga hari, juga membeli tiket pesawat pulang untuk hari itu.
Joshua pernah berkata padaku bahwa selembar surat nikah tidak bisa mengikatnya, hanya cintaku yang bisa.
Namun, jika cintaku pun tidak bisa mengikatnya, aku tidak menginginkan pria itu lagi.
Setelah sampai di rumah, aku menggunakan air dingin untuk mandi.
Pemanas air sudah rusak setengah bulan lalu. Hanya butuh satu suku cadang kecil untuk memperbaikinya.
Joshua mengatakan tidak perlu memanggil teknisi, dia sendiri yang akan mengurusnya.
Namun, selama hari-hari berikutnya, dia selalu mengatakan sedang sibuk karena harus merawat Bella yang selalu saja dalam masalah.
Aku terus menunggu, sama seperti aku menunggu pernikahan yang pernah dia janjikan.
Namun, hubungan kami sama seperti pemanas air itu, yang sudah lama rusak.
Dengan menahan rasa sakit, aku akhirnya mencari tukang reparasi profesional lewat internet.
Saat pemanas air akhirnya diperbaiki, hatiku pun ikut tenang.
Ternyata, tanpa Joshua pun aku masih bisa tetap hidup.
Sepanjang malam itu, Joshua tidak pulang.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, aku membawakan makanan untuk Bella.
Malam kedua, Joshua masih belum pulang juga.
Siang di hari ketiga, saat aku turun membawa kotak makan, aku melihat Joshua berdiri di pinggir jalan menungguku.
Dia bersandar di pintu mobil sambil merokok, wajah sampingnya tampak tampan.
Aku tak menyangka dia akan datang tiba-tiba. Aku merasa cukup terkejut.
Namun, pria itu langsung berjalan ke arahku, mengambil kotak makanan dari tanganku, lalu berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu …."
Tentang masalah mengurus surat nikah denganku, dia terus menundanya. Namun, jika ini adalah tentang membawakan makanan untuk Bella, dia begitu antusias.
Aku merasa itu lucu. Aku pun tertawa dalam hati.
Kemudian, dia menyentuh rambutku yang terurai di sisi telinga, lalu berkata, "Maaf, aku yang salah karena sekali lagi nggak menepati janji. Begini saja, setelah Bella keluar dari rumah sakit, kita akan langsung mengurus surat nikah, ya?”
Aku tidak lagi merasa bahagia seperti dulu. Pikiranku hanya dipenuhi cara untuk menolaknya.
Sampai ponselnya tiba-tiba berdering.
Sekilas, tulisan nama Bella di layar menusuk mataku.
Baru dua detik berbicara di telepon, Joshua langsung berbalik dengan cemas.
"Bella merasa nggak enak badan, aku harus ke sana dulu. Kamu pulanglah, jaga dirimu baik-baik," kata pria itu.
Sama seperti 16 kali sebelumnya, telepon dari Bella adalah perintah, sementara Joshua adalah pelayan paling setia.
Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu mulai berkemas begitu aku sampai di rumah.
Karena aku yang menyesuaikan diri dengan kehidupannya, barang-barangku di rumah ini tidak banyak. Hanya dalam waktu singkat, semuanya sudah rapi di dalam koper.
Aku memandang sekeliling, menyadari bahwa meskipun semua barangku sudah dikemas, rumah ini tidak berubah sedikit pun.
Seolah kehadiranku selama ini sama sekali tidak berarti.
Saat hendak beristirahat, tiba-tiba pesan baru masuk di ponselku. Pesan itu bertuliskan, [Ini Bella.]
Aku pun berniat membalasnya.
Namun, aku langsung menyesal pada detik berikutnya.
Aku sudah menduga wanita ini tidak memiliki niat yang baik, tetapi aku tidak menyangka dia tidak berbasa-basi.
Bab 3
Bella mengirimkan beberapa foto.
Itu adalah foto-foto yang diambil di bioskop ketika dia sedang bersandar di bahu seorang pria.
Kemeja pria itu begitu aku kenal. Aku baru saja melihat Joshua memakainya.
[Pak Joshua sangat baik. Ketika mendengar aku ingin menonton film horor, dia langsung membawaku ke sini tanpa basa-basi. Bu Amelia, apa dia pernah menemanimu menonton?]
Tidak.
Jangankan menonton film horor, aku bahkan tidak pernah pergi ke gedung bioskop.
Karena Joshua mengatakan bahwa duduk di tempat gelap gulita seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman. Orang yang suka menonton film horor juga memiliki masalah mental.
Pria itu memang pandai mencari alasan.
Aku lagi-lagi tertawa dalam hati, menertawakan kebodohanku sendiri.
[Bu Amelia, terima kasih karena sudah memasakan makanan untukku. Pantas saja Pak Joshua selalu mengatakan kalau masakanmu lezat.]
[Mungkin ada perempuan yang memang ditakdirkan untuk bekerja di dapur.]
[Aku nggak bisa melakukan itu.]
Aku seolah bisa melihat senyum mengejek Bella di layar ponsel.
Aku membalas, [Apa kamu pikir kamu sedang mendapatkan sesuatu yang bagus?]
Ketika layar menunjukkan bahwa lawan bicara sedang mengetik, aku langsung memblokirnya.
Setelah itu, pesan gangguan dari Bella tidak pernah aku baca lagi.
Aku tidak hanya memblokirnya, tetapi juga memblokir Joshua.
Aku menduga Joshua tidak akan menyadari.
Ternyata benar. Sampai hari aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan operasi, Joshua tidak menyadari.
Aku sengaja menghindari bertemu dengannya, tetapi kami masih saja bertemu di rumah sakit.
"Aku lupa memberitahumu kalau Bella hari ini sudah keluar dari rumah sakit. Kamu nggak perlu mengantarkan makanan lagi," kata Joshua.
Pria itu terlihat sangat senang, lebih senang dari hari ketika dia naik jabatan.
Aku mengangguk.
Ketika melihat aku masih belum pergi, wajah Joshua sedikit berubah.
"Kamu nggak perlu menungguku. Hari ini aku masih harus menjalani beberapa operasi. Aku nggak tahu apakah aku bisa pulang tepat waktu atau nggak."
Aku sudah terbiasa dengan kebohongannya.
Hari ini aku sudah melihat media sosial miliki Bella. Dia sengaja membuka akses sosial medianya untuk orang asing, karena berharap aku akan melihat.
Postingan terbaru di akunnya bertuliskan, [Hari ini aku keluar dari rumah sakit. Malam ini, seseorang berjanji menemaniku makan malam romantis. Aku sungguh menantikannya.]
Aku kembali memfokuskan pikiranku.
Aku menatap Joshua dengan tatapan dingin, lalu berkata, "Aku bukan datang untuk menunggumu, tapi untuk melakukan pemeriksaan kecil."
Mata Joshua seperti berkilat dengan rasa bersalah.
"Pemeriksaan kandungan, ya? Aku akan menemanimu. Selama ini aku belum pernah menemanimu melakukan pemeriksaan kandungan," kata Joshua.
Sebelumnya, aku tidak ingin ditemani olehnya.
Hari ini juga tidak ingin.
Aku menggelengkan kepala hendak menolak, tetapi dia tiba-tiba dipanggil oleh seorang rekan dokter.
Aku merasa lega ketika melihatnya pergi. Tepat saat aku hendak masuk ke ruang operasi, Bella tiba-tiba menghadang jalanku.
Wajahnya penuh dengan ejekan.
"Bu Amelia, aku benar-benar kagum padamu. Demi menikah dengannya, kamu bisa bertahan sampai sejauh ini. Kenapa? Apa kamu berpikir dia benar-benar akan menikahimu kalau kamu mengantarkan makanan setiap hari untukku?"
Menghadapi sindiriannya, aku balas menyindir.
"Karena kalian berdua sudah sampai di tahap ini, kenapa kamu nggak menikah dengannya? Apa kamu nggak cukup mencintainya, atau dia yang nggak cukup mencintaimu?"
Namun, Bella membalas dengan cepat, "Karena yang mudah didapat nggak akan dihargai. Bukankah kamu adalah contoh nyatanya? Lihat saja, kamu sampai dipaksa melakukan aborsi ...."
Aku tercengang.
Ya, aku memang sangat bodoh.
Aku berpikir, dengan tidak memiliki kehidupan sendiri, dengan membuat Joshua sebagai pusat duniaku, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang aku inginkan.
Namun, aku tidak pernah memikirkan bahwa manusia itu adalah makhluk bajingan. Apa yang tidak bisa mereka dapatkan adalah yang terbaik untuk mereka.
"Bella."
Suara dalam seorang pria membuatku menarik pikiranku kembali.
Aku mendongak, melihat Joshua yang entah sejak kapan muncul di belakang Bella.
Dia menatap Bella dengan tatapan serius.
Bella tampak mengerutkan bahu ketakutan. Lagi pula, perkataannya tadi memang terlalu kasar.
Joshua berkata, "Kenapa kamu belum pulang setelah keluar dari rumah sakit? Apa kamu ingin terinfeksi virus lagi dari rumah sakit?"
Bella terdiam, menatapku dengan tatapan yang tampak lebih bangga. Dia seperti jenderal yang memenangkan peperangan.
Kemudian, Joshua menoleh padaku sembari berkata, "Bukankah kamu mau melakukan pemeriksaan? Cepat pergilah."
Pada titik ini, aku memang tidak perlu bertahan lagi.
Aku menatap Joshua untuk terakhir kalinya, lalu berbalik pergi.
…
Pada pukul sepuluh malam, Joshua akhirnya selesai menjalankan operasinya. Ketika berjalan di koridor rumah sakit, dia mendengar gosip di antara dua perawat muda.
"Hari ini ada seorang wanita yang sedang hamil empat bulan datang untuk melakukan aborsi. Dia mengatakan kalau dia rela bertengkar hingga memutuskan hubungan dengan orang tuanya hanya agar bisa bersama dengan pacarnya. Tapi ternyata, pacarnya malah berselingkuh. Sungguh menyedihkan."
"Aku melihatnya. Dia pergi sendirian setelah melakukan operasi. Wajahnya sepucat kertas. Dia bahkan nggak bisa menekan tombol lift, aku yang membantu menekannya."
Joshua terdiam. Entah kenapa dia teringat pada Amelia yang sedang hamil empat bulan.
Wanita yang selama lima tahun ini mendampinginya dalam diam itu lembut seperti awan.
Joshua tiba-tiba ingin menelepon Amelia, ingin mendengar suaranya.
Pada saat itu, seorang rekan dokter berjalan ke arah Joshua.
"Pak Joshua."
Joshua tidak bisa menahan diri untuk menceritakan ulang gosip yang baru saja dia dengar. Dia pun berkomentar, "Untuk pria seperti itu, nggak ada ruginya wanita itu melakukan aborsi dan meninggalkannya. Singkatnya, aku nggak akan membiarkan Amelia sampai berada dalam kondisi seperti itu."
Namun, rekannya itu menatapnya dengan pandangan iba.
"Pak Joshua, aku baru saja akan memberitahumu kalau wanita yang datang untuk melakukan aborsi itu adalah ...."