Bab 1

Selama sepuluh tahun berturut-turut, harapan ulang tahun mantan pacar pertamaku adalah agar seluruh keluargaku mati.

Karena kakakku yang selalu bersamaku, telah menyiksa dan membunuh kakaknya.

Sepuluh tahun lalu, kakakku dipukul hingga menjadi idiot dan dikurung di rumah sakit jiwa. Aku sendiri terperangkap di sisi Zed, mengalami keguguran, depresi, tumor, dan tidak punya jalan keluar.

Hingga pada hari keinginannya benar-benar terkabul, di samping batu nisanku, muncul sebuah gundukan makam kecil yang baru.

Petir membelah langit, hujan turun dengan deras. Aku berlutut di depan batu nisan, tubuhku limbung.

Tubuh yang baru saja mengalami keguguran terasa dingin, perutku juga sangat sakit. Darah mengalir di sepanjang kaki, bercampur dengan air hujan, sedikit demi sedikit menguras sisa tenaga di tubuhku.

Asisten Zed datang dengan payung, suaranya datar saat berkata, "Pak Zed bilang Ibu sudah boleh pergi sekarang. Jangan kotori makam Bu Chloe."

Mobil hitam di kejauhan menyala dan melaju.

Menatap wajah lembut di batu nisan, aku merapatkan kedua tangan dan bersujud. "Kak Chloe, maafkan aku."

Tahun ini, aku masih belum menemukan kebenaran dan waktuku sudah tidak banyak lagi. Hasil diagnosis tumor otak yang kusimpan di saku sudah mulai luntur terkena hujan.

Ini adalah hadiah ulang tahun dari Tuhan di usiaku yang ke-27. Hari ini adalah hari peringatan kematian Chloe sekaligus hari ulang tahunku.

Sepuluh tahun lalu, Chloe dinodai dan dibunuh oleh kakakku. Saat berusaha sekuat tenaga melawan, Chloe melukai kepala kakakku, membuatnya menjadi idiot yang tidak bisa mengurus diri sendiri.

Pengadilan memutuskan kakakku dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Saat itu, Zed yang baru berusia 17 tahun pun membawa pisau dan menerobos masuk ke rumah sakit untuk membunuh kakakku.

Aku berlutut memohon kepadanya. Waktu itu, kami adalah cinta pertama satu sama lain.

Zed terjebak dalam dilema, suaranya penuh kepedihan. "Isla, minggirlah! Dia sudah membunuh kakakku!"

Zed berlari ke arah kakakku, tetapi polisi yang datang segera menahannya. Aku diam-diam menelepon polisi, bersaksi, dan menyerahkan Zed ke penjara dengan tanganku sendiri.

Tiga tahun dipenjara menghancurkan masa depan Zed. Sepanjang sidang, Zed tidak pernah menatapku lagi. Semua kenangan manis berakhir di usia 17 tahun.

Setelah Zed masuk penjara, orang tuanya berusaha mati-matian membantunya, tetapi dalam perjalanan mengalami kecelakaan dan meninggal. Dunia Zed seketika runtuh tanpa ampun.

Di pemakaman, Zed yang diizinkan keluar penjara sementara, berdiri tenang di depan dua peti mati. Saat melihatku, dia bahkan tersenyum. Senyuman itu membuatku meneteskan air mata.

Borgol masih terpasang di pergelangan tangannya. Dia memelukku seperti saat kami masih pacaran. Bisikannya dingin menusuk tulang. "Isla, aku pastikan kamu dan kakakmu nggak akan hidup tenang. Kita semua nggak akan pernah hidup bahagia."

Zed selalu menepati janji. Di usia 19 tahun, karena perilaku baiknya, hukumannya dikurangi dan dia dibebaskan lebih awal.

Hal pertama yang dia lakukan setelah keluar adalah mengirim bunga krisan putih dan kuning ke rumah sakit jiwa tempat kakakku dirawat.

Melihat tatapanku yang ketakutan, dia tersenyum manis. "Isla, aku sudah pikirkan baik-baik. Nggak seru kalau kakakmu mati begitu saja."

"Aku akan mengobatinya. Setelah dia sembuh, aku akan buat dia sadar berapa banyak penderitaan yang dialami adik yang dia sayangi gara-gara dia."

Dia memperingatkanku agar tidak mencoba untuk kabur. "Sekalipun kabur ke ujung dunia, aku tetap akan menemukan kalian."

Setelah itu, kami seperti kucing dan tikus. Saat aku kuliah, dia menyuruh orang menindas dan menjebakku sampai aku dikeluarkan.

Saat aku bekerja, dia menyabotase hingga tak ada satu pun perusahaan yang mau menerimaku. Dia menutup semua jalan hidupku.

Aku hanya punya satu kakak laki-laki yang selalu menyayangiku. Dulu dia melindungiku dari kerasnya hidup, tetapi sekarang semua penderitaan itu menjadi berlipat ganda. Biaya pengobatan seperti gunung, menekanku sampai tak bisa bernapas.

Di usia 21 tahun, Zed menghidupkan kembali bisnis keluarga, bermain di antara dunia hitam dan putih. Aku tidak punya daya melawan dan terpaksa menjual rumah keluargaku kepadanya.

"Begini dong. Kalau butuh uang, bilang saja, aku kasih." Zed tertawa puas.

Kehilangan keluarga satu per satu, dikhianati pacar, tiga tahun di penjara. Hidup tidak pernah memihakku, tetapi Zed pun tak luput dari penderitaan. Di balik ketenangannya, jiwanya telah gila.

Di rumah masa kecilku, di ranjang yang selalu kutiduri sejak kecil, Zed mencekikku dengan kasar sambil melampiaskan hasratnya. Dia memaksaku menatapnya meskipun aku terus memohon.

"Ngapain nangis? Dulu kakakmu juga begitu ke kakakku! Kamu nggak punya hak untuk nangis!" Nada suaranya kejam, matanya merah.

Setelah selesai, dia melempar segepok uang ke atas tempat tidur, menutupi noda darah merah di seprai putih. "Kalau berani mati, aku pastikan kakakmu segera menyusulmu. Isla, kamu harus hidup dan merasakan semua penderitaan."

Setelah dia pergi, aku menangis sambil memungut uang itu satu per satu. Aku tidak bisa mengerti, bagaimana semuanya bisa sampai seperti ini. Kami saling membenci, tetapi juga seperti terikat. Situasi ini tidak akan pernah berakhir.

Dalam sepuluh tahun ini, aku berkali-kali mencoba mengumpulkan bukti kejahatannya, tetapi selalu gagal.

Seminggu lalu, di meja kerja di kantor Zed. Di satu sisi adalah tumpukan bukti yang kukumpulkan, di sisi lain adalah hasil tes kehamilanku yang kubuang ke tempat sampah.

Zed menunduk menatapku dengan senyuman dingin. "Isla, pilih salah satu."

Tanpa ragu, aku meraih tumpukan bukti itu. Zed mencengkeram pergelangan tanganku, lalu menamparku dengan keras. "Salah pilih. Kalau begitu, dua-duanya nggak usah."

Bab 2

Alat medis yang dingin itu mengambil anak kami, meskipun sebenarnya anak itu memang tak ditakdirkan untuk hidup. Waktu hidupku hanya tersisa tiga bulan lagi dan Zed tidak boleh tahu. Sebelum mati, aku harus memastikan kakakku bisa hidup dengan layak.

Di tengah hujan deras, aku memeluk tubuh sendiri erat-erat, mencoba menghibur diri, berkata semuanya akan baik-baik saja.

Karena kehujanan, tubuhku yang lemah pun demam tinggi berhari-hari. Bibirku sampai pecah dan berdarah.

Saat ini, masuk telepon dari Zed. "Malam ini ada adegan untuk Wynn. Kamu gantikan dia."

Wynn adalah sahabat dekat Chloe semasa hidup, juga orang pertama yang menemukan kejadian serta melaporkan ke polisi.

Menurutnya, Chloe sempat berkata padanya bahwa ada seseorang yang menguntitnya. Polisi menemukan rekaman CCTV di lokasi dan waktu tersebut. Benar saja, sosok kakakku terekam di sana. Itulah bukti utama yang menjatuhkan hukuman untuk kakakku.

Zed dipenjara selama tiga tahun. Di setiap jadwal kunjungan, Wynn selalu menempuh perjalanan jauh untuk menjenguknya. Sementara itu, aku tidak berani menemui Zed, hanya berdiri jauh di balik tembok penjara.

Keluarga Wynn adalah pebisnis yang dulunya bergantung pada keluarga Zed. Beberapa tahun belakangan, dengan bantuan Zed, Wynn yang dulunya artis kelas bawah kini menjadi bintang papan atas.

Sebagai sahabat Chloe, wajar kalau Wynn membenciku. Namun kenyataannya, dia membenciku karena dia menyukai Zed.

Suara serakku terdengar. "Aku lagi sakit ...."

Zed tertawa dingin, "Yang penting belum mati. Kalau nggak mau pergi juga nggak apa-apa. Pas banget, aku lagi kesal karena baru melewati peringatan hari kematian kakakku. Lebih baik aku cari orang buat rawat kakakmu, 'kan?"

Waktu itu, pertama kalinya dia menyuruhku menggantikan Wynn minum di jamuan. Aku menolak. Tak lama kemudian, kakakku jatuh dari lantai rumah sakit jiwa tanpa sebab yang jelas dan lengan kirinya patah.

"Zed ... aku benaran ...." Tiba-tiba, kepalaku nyeri luar biasa. Aku mencengkeram seprai erat-erat, tidak mampu berbicara.

Namun, dia tidak mau mendengar dan langsung menyela, "Aku kirim alamatnya."

Sebenarnya tim produksi film sudah menyediakan pemeran pengganti, tetapi Wynn bilang bentuk tubuhku lebih mirip dengannya.

"Kita harus hormati penonton." Hanya dengan Wynn bersikap manja pada Zed, aku yang harus menggantikannya untuk adegan diceburkan ke air saat musim dingin atau memakai jaket tebal saat musim panas.

Dalam sebuah adegan, hanya punggungku yang disorot saat ditampar, tetapi itu harus diulang sampai 20 kali.

Di dalam mobil RV, Wynn duduk santai sambil menyeruput sup herbal yang dikirim khusus oleh Zed. Dia menatapku tajam sambil menegur, "Bukannya sudah kubilang, jangan sembarangan diet? Kalau kamu kurus, aku juga harus ikut kurus? Jangan bilang kamu masih ingin memikat Zed ...."

Dulu, aku sempat melawan saat dia terus menyerang. Sampai aku sadar, setiap kata protesku bisa menjadi alasan untuk menyakiti kakakku. Sejak saat itu, aku belajar untuk diam.

Namun, hari ini jelas dia tak berniat melepaskanku begitu saja. Hanya dengan satu tatapan Wynn, asistennya langsung menaruh satu toples minyak ayam di depanku.

"Cepat habiskan. Jangan biarkan semua orang menunggu cuma karena kamu si pemeran pengganti."

Aku menepis toples itu. "Wynn, jangan keterlaluan."

Detik berikutnya, dua pengawal menahan tanganku. Satu mencengkeram lenganku, satu lagi mencengkeram rahangku. Minyak itu disuapkan secara paksa ke mulutku.

Wynn tertawa puas melihat penampilanku yang menyedihkan. "Katanya kamu sempat hamil anak Zed ya? Terus, kamu buang hasil tesnya buat nutupin?"

"Kamu mau pakai anak itu buat luluhin hati Zed? Eh, malah dipaksa buat digugurin ya? Kalau lahir pun, anakmu cuma anak wanita jalang!"

Pintu mobil diketuk. Wynn memberi isyarat pada bawahannya untuk membereskan semuanya dan melepaskanku. Aku jatuh berlutut dan muntah hebat.

Saat pintu dibuka, ekspresi Wynn seketika berubah. Matanya memerah. Zed melihat ke arah kami, tampak curiga.

Wynn menyeka air mata sambil memanggil, "Zed ... Isla bilang dia hamil dan suruh aku jaga jarak darimu ...."

"Benaran?" Zed tertawa sinis. "Isla, aktingmu hebat juga sekarang. Kamu pikir kamu pantas?"

Sutradara memanggil orang untuk mendesak kami, menghentikan adegan neraka yang sedang berlangsung.

Begitu mengganti pakaian tipis, aku baru sadar hari ini yang harus difilmkan adalah adegan tokoh utama perempuan diculik dan dilecehkan.

Tali kasar mengikat pergelangan tangan, menyayat kulit. Para figuran yang menjadi lawan main menyeringai jahat sambil merobek bajuku.

Bab 3

Janggut yang kasar menusuk leherku, napas yang berat membuat kulitku merinding. Demam tinggi yang berulang-ulang membuat kesadaranku menurun. Tawa tajam terdengar jauh sekaligus dekat, kabur sekaligus nyata.

Aku tiba-tiba tak bisa membedakan, ini mimpi atau kenyataan. Secara naluriah, aku menangis keras dan meronta.

Sutradara mengira aku sedang menjiwai peran, tidak menghentikan adegan. Figuran yang berperan sebagai penyerang pun semakin bersemangat dalam menunjukkan kemampuan.

Dalam kesadaran yang kabur, aku seperti melihat Chloe. Ekspresinya penuh keputusasaan. Dia menangis tersedu-sedu, tatapannya yang penuh permohonan menatapku.

Dalam keputusasaan, aku tiba-tiba berhasil melepaskan diri dari ikatan dan mencakar leher figuran itu.

Figuran itu memegangi lehernya dan menjerit kesakitan. Sutradara buru-buru berteriak, "Cut!"

Demam tinggi dan emosi yang memuncak membuatku roboh ke tanah, tubuhku gemetar hebat.

Suara Zed terdengar samar. "Pura-pura mati lagi? Isla! Isla?"

Suaranya semakin dekat. Aku mengulurkan tangan mencoba meraih sesuatu sebagai penopang, tetapi tak bisa menggenggam apa pun.

Sebelum aku kehilangan kesadaran sepenuhnya, pikiran terakhirku adalah hari itu, tubuh kakakku penuh luka, tetapi tak ada satu pun bekas cakaran.

....

Dalam mimpi, seseorang memanggilku, "Isla."

Seperti saat Zed berusia 17 tahun, mengayuh sepedanya dan berdiri di bawah rumah susun kami. "Isla! Cepat turun! Nanti telat!"

Aku berlari menuruni tangga dengan roti di mulut, sementara kakakku berteriak dari belakang mengingatkanku agar hati-hati di jalan.

Aku melompat ke sepeda balap mencolok dengan tempat duduk tambahan khusus yang dipasang Zed untukku.

Teman-teman Zed mentertawakannya karena memilih naik sepeda alih-alih mobil mewahnya. Namun, dia malah tertawa bangga. "Kalian nggak ngerti apa-apa!"

Dia tersenyum dengan kepala tertunduk, tak bisa menyembunyikan kepolosan di usia remajanya. Mobil mewah yang luas tidak bisa dibandingkan dengan sepeda yang sempit.

Zed mengambil tasku dan melemparkannya ke keranjang depan. "Isla, kenapa nggak sekalian tidur sampai jam 8 saja? Setiap hari menguji kecepatan dan keterampilanku! Pegangan yang kuat! Kita lepas landas sekarang!"

Satu tanganku memegang roti, satu tangan lagi melingkari pinggangnya dari balik seragam sekolah. "Zed Airlines, menara kontrol memberi izin lepas landas!"

Dulu, Zed ingin menjadi pilot. Aku bilang aku akan menjadi pramugari. Namun, dia mengusap kepalaku sambil tertawa. "Kamu kerja di menara kontrol saja. Pilot harus patuh sama perintah menara."

Cahaya matahari menembus sela daun, memantul di tubuh kami. Saat itu, dengan perlindungan kakakku dan perhatian Zed, aku bahagia seperti matahari kecil.

Pernah sekali aku main ke rumah Zed dan bertemu Wynn yang datang mencari Chloe. Saat tidak ada orang lain, Wynn memandangku dengan tatapan penuh selidik. "Gadis Kecil, kamu pikir kamu cocok sama Zed?"

Tanpa ragu sedikit pun, aku menjawab, "Tentu saja cocok! Aku peringkat satu di kelas lho!"

Wynn memutar bola matanya dan mengeluh ke Chloe, "Anak ini benaran bodoh atau cuma pura-pura sih?"

Chloe hanya tertawa. "Dia memang imut."

Tuhan, apa karena aku terlalu bahagia, jadi kamu tak tahan melihatnya dan mengambil semuanya dariku?

Dalam mimpiku, Zed tersenyum lembut sambil mengulurkan tangan padaku. "Isla, kamu capek hari ini? Kenapa mukamu kelihatan sedih?"

Aku mencoba menggapai tangannya di mimpi. "Zed ...."

Air mataku mengalir ke rambut. "Aku nggak mau kenal kamu lagi ...."

Kalau saja kita tak pernah saling mengenal, semua ini tak akan terjadi.

Dunia mendadak gelap. Aku tak berhasil meraih tangannya.

Saat terbangun, ruang rawat terasa sepi, bau disinfektan bercampur dengan aroma yang familier. Seorang perawat masuk membawa map.

"Pak Zed, ini hasil pemeriksaan Bu Isla. Kondisinya kurang baik ...." Perawat itu cepat-cepat menghentikan ucapannya dan menyembunyikan laporan itu di belakang. "Bu Isla, sudah sadar? Pak Zed di mana?"

"Berikan padaku saja. Kami sudah tahu soal tumor otak itu." Aku mengambil laporan itu dan berbohong dengan wajah tenang. Untung saja dia sudah pergi.

Aku buru-buru mencari ponsel dan menelepon Zed. Aku ingin mengatakan padanya bahwa di tubuh kakakku tak memiliki satu pun bekas cakaran.

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya tersambung. "Zed! Kakakku nggak punya bekas cakaran sedikit pun! Kalau memang dia pelakunya, seharusnya justru banyak luka cakaran!"

Namun, suara yang terdengar bukan suara Zed, melainkan suara Wynn yang terdengar tak sabar. "Zed sudah tidur."

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B53965" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B53965
Salin

Kasih Tak Sampai

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya