Bab 1

Karena anak dari wanita yang dia cintai terkurung di dalam mobil hingga dehirasi dan pingsan, dengan penuh amarah, ayah langsung mengikatku dan mengurungku di dalam bagasi mobil.

Dengan wajah penuh kebencian, dia menatapku dengan tajam dan berkata, "Aku nggak punya anak sekejam kamu. Renungkan baik-baik kesalahanmu di sini."

Aku memohon ampun dan mengakui kesalahan, hanya berharap ayah bisa melepaskanku. Namun, yang kudapatkan hanyalah perintah dinginnya.

"Kecuali dia mati, nggak ada seorang pun yang boleh membebaskannya."

Mobil itu terparkir di garasi. Tak peduli seberapa keras aku berteriak meminta tolong, tak seorang pun bisa mendengarnya.

Tujuh hari kemudian, barulah dia teringat bahwa dirinya masih punya seorang putri. Ayah pun memutuskan untuk membebaskanku.

Namun, dia tak tahu bahwa diriku sudah meninggal di dalam bagasi itu dan tak akan pernah bisa sadarkan diri lagi.

"Bagaimana dengan anak pemberontak itu? Dia sudah minta ampun?"

Terdengar kata-kata ayah di dalam vila megah seperti petir yang menggema di siang bolong.

Kepala pelayan menjawab dengan suara gemetar, "Pak Guswan, nona masih belum keluar."

Jari ayah yang memegang cerutu terhenti sejenak, lalu kembali tenang. "Aku terlalu memanjakannya selama ini, makanya dia jadi begitu kurang ajar, berani-beraninya mengurung Rona di dalam mobil! Biar saja dia, biar tahu rasa!"

Kepala pelayan yang merasa iba mencoba membujuk, "Tapi suhu di luar lebih dari empat puluh derajat sekarang. Mobil itu pasti sangat panas, mungkinkah nona ... "

"Cih, panas? Memang sengaja biar dia tahu apa itu panas. Lihat dia masih berani memperlakukan Rona seperti itu lagi, nggak?! Kalau dia nggak merasakan sendiri panasnya, dia nggak akan jera dan terus melakukan ha-hal semacam ini."

Suara ayah terdengar dingin, seolah dia benar-benar lupa bahwa aku telah terkunci di bagasi selama tujuh hari.

Kepala pelayan masih ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi dia segera dipotong dengan nada kesal, "Cukup, kamu pikir nggak ada orang yang diam-diam memberinya makan? Dia sangat baik di sana, nggak akan mati."

Mendengar kata-kata itu, aku tak bisa menahan tawa, tapi tak ada yang bisa mendengar suaraku.

Karena ... aku sudah mati.

Tepatnya, aku sudah mati empat hari yang lalu.

Sejak saat itu, rohku terus mengikuti ayah.

"Jangan marah lagi, Om Guswan. Lepaskan saja Aurel, dia pasti sangat menderita, apalagi di luar begitu panas."

Di lantai dua, seorang gadis bernama Rona keluar dari kamar yang dulunya milikku dan mengenakan gaun tidur putih yang bersih. Saat melihatnya, tatapan ayah langsung berubah lembut, memancarkan kasih sayang yang belum pernah kuterima.

Rona turun ke ruang tamu dan duduk di samping ayah, seperti setangkai melati putih yang polos.

"Nggak perlu pedulikan dia. Kamu ini terlalu baik, dia bahkan sudah mengurungmu di mobil sampai kamu pingsan karena dehidrasi. Dia memang pantas dihukum."

Saat menyebutku, tatapan ayah tampak asing, seolah diriku adalah musuh bebuyutannya.

Tapi kenapa? Bukankah aku anaknya?

Di dalam vila, kepala pelayan berjalan ke dapur sambil menggerutu pelan, "Anak sendiri nggak dipedulikan, malah begitu sayang anak orang lain."

"Kamu baik sekali, Om Guswan. Andai saja kamu ini ayah kandungku," ujar Rona dengan suara serak, lalu bersandar di bahu ayah.

"Gadis bodoh, asal kamu mau, aku bisa menjadi ayahmu."

"Rona, kamu sudah besar, kenapa masih begitu manja?"

Terdengar suara seorang wanita. Itu adalah Paula, wanita yang paling dicintai ayah.

Sebelum kehadirannya, aku selalu mengira wanita yang paling dicintai ayah adalah ibuku.

Namun, semuanya berubah setelah ibu pergi.

Tepat hari ini, aku malah merasa bersyukur. Setidaknya ibu meninggal karena sakit dan tidak sempat menyaksikan betapa kejamnya pria yang dia cintai sepanjang hidupnya ini.

Sepertinya aku akan segera menyusul ibu. Di kehidupan berikutnya, meski harus menjadi seekor anjing atau kucing, aku tak ingin lagi menjadi anaknya.

"Kak Guswan, sekedar menghukumnya saja sudah cukup. Aurel tetaplah putrimu."

Sepasang ibu dan anak itu terus berakting seolah mereka adalah orang baik. Tapi jika mereka benar-benar baik, mereka tidak akan tega melihatku terkunci di bagasi selama tujuh hari tujuh malam.

Yang lebih ironis, mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari ayah untukku.

Dan kini, mobil itu menjadi tempatku terkubur.

Bab 2

Dua puluh tahun yang lalu, Paula dan ayahku berpisah. Dia kemudian menuruti permintaan keluarganya untuk menikah dengan pria yang kaya dan berpengaruh.

Namun, waktu mengubah segalanya. Pria kaya itu akhirnya jatuh miskin, sementara ayahku yang dulunya hanyalah seorang pemuda biasa, menikahi ibuku dan berhasil mengubah nasibnya menjadi orang kaya.

Semua ini terasa seperti sebuah ironi. Setelah itu, ibuku meninggal dunia karena sakit. Paula pun bercerai dengan suaminya.

Bagi ayah, itu adalah dua kabar baik sekaligus.

Dengan begitu, Paula kembali ke sisi ayahku, cinta mereka pun kembali bersemi. Kehadiran Paula dan putrinya mengambil alih segalanya.

Bajuku, kamarku dan pada akhirnya mereka juga merebut ayah dariku.

Tujuh hari yang lalu, Rona pulang dengan wajah penuh kegembiraan, mengumumkan bahwa dirinya telah mendapatkan SIM dan sekarang boleh mengemudi.

Ayah bilang ingin membelikannya mobil sebagai hadiah. Namun, Rona tampak ragu, kemudian berkata dengan nada malu-malu, "Aku merasa mobil pink di garasi itu sangat cantik."

Dengan dingin, aku menjawab, "Itu mobil hadiah dari ayah untukku. Kalau kamu mau, minta ayahmu belikan untukmu. Kamu nggak punya ayah sendiri?"

Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari ayah saat aku mendapatkan SIM. Aku jarang sekali menggunakannya dan aku mengira ayah memahaminya. Namun, apa yang ayah katakan selanjutkan menghancurkan semua harapanku.

"Hanya sebuah mobil, kalau Rona suka, berikan saja padanya. Aurel, kamu punya begitu banyak mobil, kenapa harus memperebutkan yang satu ini? Berikan saja pada Rona!"

Mendengar kata-katanya, seketika aku sadar bahwa ayahku bukan lagi sosok yang dulu begitu menyayangiku.

Meski begitu, aku tetap tidak ingin menyerahkan barangku pada Rona. Jadi, aku langsung membuang kunci mobil itu.

Ayah marah besar, memanggil orang untuk mengganti kunci mobil itu dan akhirnya memberikan mobil itu pada Rona.

Namun, saat Rona mencoba memarkir mobil, dia malah terkunci di dalam dan tak bisa keluar.

Kenapa itu bisa terjadi, aku juga tidak tahu. Tapi saat itu musim panas dengan suhu mencapai 40 derajat, mobil tanpa AC terasa seperti oven.

Sebelum pingsan, Rona sempat menghubungi ayah dengan ponselnya, "Om Guswan, aku takut sekali, di sini sangat panas ... aku harap di kehidupan berikutnya aku bisa menjadi putrimu."

Suara di telepon pun terputus, ayah yang panik langsung meninggalkan kantor dan melacak lokasi mobil untuk menyelamatkan Rona.

Untungnya, dia hanya dehidrasi dan tidak terluka parah.

Namun saat sadarkan diri, kalimat pertama yang dia ucapkan adalah, "Ini semua salahku, aku nggak seharusnya mengambil mobil Aurel. Om Guswan, tolong jangan salahkan dia."

Tanpa menyelidikinya, ayah langsung menyimpulkan bahwa akulah yang mengunci Rona di mobil. Ayah marah besar.

Saat itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba ayah mendobrak pintu kamarku, dua tamparan keras membuatku pusing, lalu dia menyeretku ke garasi.

"Aku benar-benar terlalu memanjakanmu. Kamu bahkan sudah berani mencoba membunuh orang sekarang!"

Aku dipaksa berlutut di lantai, wajahku menyentuh ubin dingin, sementara diriku masih bingung.

"Kalau Rona sedikit lebih lama di dalam mobil itu, dia bisa kehilangan nyawanya. Kamu bahkan sudah sebesar ini, tapi masih bisa-bisanya melakukan hal sebodoh ini?!"

Dia memanggil dia pengawal bertubuh besar untuk mengikatku. Tidak peduli seberapa keras aku menangis dan memohon, ayah tetap memaksaku masuk ke dalam bagasi mobil.

"Kamu harus merenung di sini, sampai kamu menyadari kesalahanmu, barulah aku akan melepaskanmu!"

Aku berteriak sekuat tenaga di dalam bagasi, tapi ayah hanya merasa kesal.

"Sumpal mulutnya! Kunci dia beberapa hari, biar dia bisa mengubah sifat buruknya!"

Suhu di dalam bagasi itu setidaknya mencapai 40 derajat. Baru satu jam dikurung, aku sudah hampir tidak tahan.

Kini, tujuh hari telah berlalu, empat hari setelah aku menghembuskan napas terakhirku. Dengan suhu seperti ini, aku yakin tubuhku sudah mulai membusuk.

Dan ternyata benar, cairan dari tubuhku yang membusuk perlahan-lahan merembes keluar melalui celah bagasi, menetes ke lantai. Sopir yang kebetulan melewati garasi mencium bau aneh, tapi dia tak mengatakan apa-apa.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B28327" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B28327
Salin

Kasih Sayang Yang Datang Terlambat

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya