Logo
Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku
Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku

Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku

95 Bab
Tamat
Dalam Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku, Evelyn terjebak kontrak demi biaya medis sebelum mengungkap rahasia pernikahan enam tahun lalu. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti perjuangan Brian menebus kesalahan dalam romance novel yang penuh intrik.
Bab 1 dari Kasih Sayang Terselubung: Istri Sang CEO Adalah Aku

Di ruang istirahat CEO di Grup Puncak.

Evelyn Kayana bangkit dari ranjang, mengambil kemeja dan rok pendek yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya dengan cepat. Saat dia berpakaian, pesona menggoda terpancar di matanya, masih segar setelah berhubungan dengan pria di ranjang. Tatapannya bertemu dengan ekspresi dingin pria itu.

Pria itu bernama Brian Dewata, CEO Grup Puncak, bosnya, dan dermawannya.

Hubungan rahasia mereka hanya terbatas di ruang istirahat ini. Di luar tembok ini, dia tidak lebih dari seorang asisten khusus.

"Pak Brian, jika tidak ada urusan lagi, saya akan kembali mengerjakan tugas saya," ucap Evelyn, sambil menawarkan senyuman yang terlatih.

Sambil berbicara, dia dengan cekatan menata rambut panjangnya menjadi sanggul, penampilannya dengan cepat berubah dari memikat menjadi sangat profesional.

Dia terlihat menjaga jarak, tidak seperti wanita yang baru saja berada di ranjang Brian.

Brian menyipitkan matanya, tatapannya tertuju pada wajah cantik wanita itu.

"Vivi sudah kembali."

Evelyn telah sampai di depan pintu ruang istirahat, ketika tangannya siap untuk membukanya, kata-kata Brian menghentikan gerakannya.

Tubuhnya menegang, dan rona merah di wajahnya memudar, bahkan napasnya pun terhenti sejenak.

Namun, dia segera mendapatkan kembali ketenangannya dan berbalik, mempertahankan senyumannya yang terukur.

"Saya mengerti, Pak Brian. Saya tidak akan masuk ke ruangan ini lagi," ucapnya.

Cinta pertama Brian, Vivi Wiradi, yang telah pria itu tunggu selama enam tahun, telah kembali. Dalam hidup Brian, Evelyn tidak lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kebutuhannya.

Terlepas dari kenyataan bahwa kehadiran Brian telah menjadi satu-satunya sumber dukungannya selama dua tahun terakhir, dia sangat sadar bahwa dia hanya benar-benar memiliki pria itu pada saat-saat intim.

Brian bangkit dari ranjang, tidak peduli dengan tubuhnya yang tanpa busana. Dia menemukan celananya di lantai dan mengenakannya.

"Apa hubungannya denganmu?" tanyanya sambil tertawa kecil, menyerahkan kemejanya pada Evelyn, yang kemudian mulai membantunya mengenakan kemeja itu.

Saat dia mengancingkan kemejanya, suaranya terdengar dari atas. "Buatkan surat perjanjian perceraian untukku."

Evelyn berhenti sejenak, tatapannya terarah ke wajahnya, memperhatikan garis-garis tajam rahangnya dan bibirnya yang tipis.

"Aku telah menyia-nyiakan enam tahun masa muda seorang gadis. Sudah waktunya untuk mengakhirinya," ucapnya, sambil menyerahkan dasinya, memecah lamunan Evelyn. "Bagaimana menurutmu?"

Tanpa sepatah kata pun, Evelyn menerima dasi itu, hatinya bergejolak dengan emosi.

Faktanya, istri yang Brian sebutkan tadi adalah dia.

Selain sebagai asisten dan kekasihnya, dia memiliki peran lain dalam hidup Brian, yaitu sebagai istrinya.

Enam tahun yang lalu, ibunya didiagnosa menderita kanker dan membutuhkan perawatan yang mendesak dan mahal. Karena baru saja lulus dan tidak mampu secara finansial, dia sempat putus asa hingga sumbangan dari Keluarga Dewata datang untuk membantunya, sebuah tindakan kebaikan yang tidak akan pernah dia lupakan.

Kemudian, ketika tunangan Brian, Vivi, meninggalkannya dan pindah ke luar negeri, hal itu menyebabkan gosip dan cemoohan yang meluas.

Pada saat itu, Brian membutuhkan seorang istri untuk menyelamatkan muka. Neneknya telah menemukan Evelyn, yang setuju untuk menikah dengan Brian untuk membalas budi.

Bersyukur atas bantuan Keluarga Dewata, Evelyn dengan setia menjalankan perannya sebagai istri Brian, tanpa meminta lebih.

Setelah menikah, karena harus terus membiayai pengobatan ibunya, dia meninggalkan sebuah perusahaan kecil dan bergabung dengan Grup Puncak, dengan harapan mendapatkan peluang yang lebih baik.

Saat itulah dia mendapati bahwa CEO Grup Puncak adalah Brian, suaminya, yang hanya dia temui sekali di hari pernikahan mereka dan tidak lagi mengenalinya.

Bertekad untuk mendapatkan dana untuk perawatan medis ibunya yang sedang berlangsung, Evelyn tetap bekerja di perusahaan tersebut, sambil sebisa mungkin menghindari Brian. Namun, takdir memiliki rencana lain, dan dia mendapati dirinya di atas ranjang Brian yang sedang mabuk pada suatu malam. Setelah pertemuan yang tidak disengaja ini, Brian secara tidak terduga mempromosikan Evelyn untuk menjadi asisten khususnya.

Puas dengan kehadirannya, Brian memaksanya untuk naik ke atas ranjangnya beberapa kali, dan akhirnya menjadikannya sebagai teman ranjangnya.

Setiap kali Brian memanggilnya, dia akan menurut. Kadang-kadang, Brian akan menanyakan apakah dia membutuhkan sesuatu, dan pada saat-saat sulit secara finansial, dia akan meminta uang secara terbuka.

Namun ketika dia tidak membutuhkan bantuan keuangan, dia akan menolak rayuannya, berusaha untuk menjaga martabat dalam interaksi mereka, menolak untuk menurunkan hubungan mereka menjadi sekadar transaksi.

Evelyn telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan semacam ini dengan Brian berkali-kali, tetapi biaya pengobatan ibunya yang mahal telah memaksanya untuk mengesampingkan harga dirinya.

Terlebih lagi, dia telah jatuh cinta pada Brian.

Merasa tidak layak untuk Brian, dia menyembunyikan perasaannya, mendedikasikan dirinya untuk mendukung Brian di tempat kerja.

Namun kini, Vivi telah kembali.

Evelyn tahu bahwa dia harus menyingkir, baik dari perannya sebagai asisten maupun istri Brian.

Kesadaran bahwa tak satu pun dari perannya dapat menyaingi cinta pertama Brian benar-benar menyedihkan.

Senyum pahit tiba-tiba muncul di bibir Evelyn.

Menyadari hal ini, Brian mengerutkan alis dengan bingung. "Kenapa kamu tersenyum?" tanyanya.

Evelyn membetulkan dasinya dan berjinjit untuk merapikan kerah kemejanya.

"Saya turut berbahagia untuk Anda, Pak Brian. Wanita yang Anda sayangi akhirnya kembali," ucapnya.

Sambil menarik napas dalam-dalam, dia melangkah mundur dan mengangguk sedikit. "Saya akan membuat surat perjanjian perceraian sekarang."

Brian mengerutkan kening, entah bagaimana dia dapat merasakan sekelebat rasa kesal. "Kamu benar-benar seorang asisten yang patut dicontoh, Evelyn," ucap Brian.

Ketidakpeduliannya membuat Brian mempertanyakan pesonanya sendiri.

Evelyn hanya memberikan senyuman, mengabaikan pesan yang mendasari pujiannya. "Terima kasih telah mengakui hasil kerja saya, Pak Brian."

Saat dia berbalik untuk pergi, suara Brian menghentikannya sekali lagi. "Beri dia empat puluh miliar," ucapnya.

Evelyn terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Tapi perjanjiannya cukup jelas bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa setelah perceraian ...."

Brian menyela, "Bagaimanapun juga, aku sudah menyita enam tahun hidupnya. Dan dia tampaknya mengalami masa-masa sulit saat itu. Pergilah dan selesaikan dengan segera."

Setelah memberikan instruksinya, Brian meninggalkan ruang istirahat.

Sambil duduk di mejanya, dia mengenang wanita muda patuh yang ditemuinya enam tahun lalu di pintu masuk Kantor Catatan Sipil.

Saat itu, dia merasakan kebencian yang mendalam terhadap keluarganya karena telah memaksanya menikah dan tidak menaruh kasih sayang pada wanita yang mereka pilih untuk menjadi istrinya. Akibatnya, dia tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu setelah menikah.

Yang mengejutkannya, selama enam tahun berikutnya, istrinya tidak pernah sekalipun meminta sesuatu padanya ataupun Keluarga Dewata.

Dalam aspek ini, istrinya mengingatkannya pada Evelyn.

Akibatnya, persepsinya terhadap istrinya meningkat secara signifikan, membuatnya ingin memberikan penyelesaian perceraian sebesar empat puluh miliar rupiah.

Evelyn segera menyelesaikan persiapan perjanjian perceraian dan mengirimkannya kepada Brian. Dengan persetujuannya, dia pun mencetak perjanjian tersebut.

Kemudian, Brian dan Evelyn pergi ke bandara untuk menjemput Vivi.

Di bandara yang ramai, para muda-mudi menikmati momen-momen kebersamaan mereka, sementara para pelancong yang berpasangan memancarkan kegembiraan untuk perjalanan yang akan datang.

Di antara kerumunan orang banyak, Brian dan Evelyn tampak menonjol.

Brian, yang mengenakan setelan jas yang dirancang dengan indah, memiliki wajah yang tegas dan kehadirannya yang menarik perhatian.

Bibirnya sedikit terkatup, dan matanya yang dalam menunjukkan sedikit ketidaksabaran saat dia memperhatikan gerbang kedatangan.

Evelyn berdiri di sampingnya, tampak lembut dan tenang. Rambut panjangnya tergerai longgar di bahunya, dan riasan tipis mempercantik wajahnya. Dia telah berdandan dengan hati-hati, karena dia tahu bahwa Brian akan meminta ditemani olehnya ke bandara.

Tanpa mengetahui alasannya dan memahami bahwa hal itu mungkin tidak ada gunanya, dia tetap berusaha.

Ekspresi terkejut di mata Brian saat melihatnya tadi tidak sia-sia, terutama saat pria itu dengan santai berkata, "Kamu terlihat lebih baik daripada saat mengenakan pakaian kerjamu."

Satu kalimat yang diucapkannya secara acak itu membuat suasana hati Evelyn menjadi baik.

Tiba-tiba, sekelompok besar orang muncul dari gerbang kedatangan. Tatapan Evelyn menyorot di antara kerumunan orang, mengamati setiap wanita.

Seorang wanita dengan gaun bermotif bunga, rambut panjangnya dicat warna ungu muda dan ditata bergelombang, terlihat mengenakan kacamata hitam. Dia mendorong kopernya sambil berjalan.

Evelyn merasakan tatapan wanita itu, bahkan di balik lensa kacamata yang dikenakan, tertuju pada Brian.

Sesuai dengan intuisi Evelyn, wanita itu bergegas ke arah Brian pada saat berikutnya, kopernya terlempar ke samping saat dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Brian.

Vivi, tanpa peduli dengan kopernya, memeluk Brian, suaranya lembut dan manis. "Brian, aku pulang. Maaf ...."

Evelyn, yang menyaksikan pelukan mereka, merasakan suasana hatinya yang tadinya baik segera menjadi buruk dalam sekejap.

Dia berbalik untuk mengambil koper Vivi, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

Koper itu telah menempuh jarak yang cukup jauh, sehingga mengharuskannya untuk menavigasi kerumunan orang banyak, yang membuatnya terlihat sedikit canggung.

Setelah dia mengambil koper itu dan kembali, dia berhenti beberapa langkah dari Brian dan Vivi, tidak yakin apakah akan mendekat.

Tangan Brian berada di pinggang Vivi saat Vivi memeluk pria itu erat-erat, seolah-olah sedang memeluk seluruh dunia.

Kerinduan dan kasih sayang yang menyelimuti Vivi membuat Evelyn semakin sulit mempertahankan ketenangannya.

Kesadaran bahwa pria yang baru saja dia dekap dengan mesra tadi pagi kini sedang memeluk wanita lain, terasa menyesakkan.

Lipstik yang sengaja dia pakai menyamarkan kepucatannya, menyembunyikan kesedihannya yang luar biasa.

"Brian, aku sangat merindukanmu. Apakah kamu merindukanku?" Vivi melonggarkan cengkeramannya di leher Brian, tetapi tetap melingkarkan tangannya di pundak Brian, menunjukkan bahwa kedekatan mereka tidak terbantahkan.

Dibandingkan dengan Vivi, kehadiran Evelyn di samping Brian tampak kurang cocok.

Pakaiannya sendiri sangat kontras dengan Vivi, dan dia tidak pernah bisa semesra ini dengan seseorang di depan umum.

"Aku merindukanmu," ucap Brian dengan pelan. Matanya sejenak bertemu dengan mata Evelyn, yang berdiri tidak jauh dari situ.

Wanita itu tampak kurang tenang dari biasanya, tetapi dia tidak bisa memastikan apa yang tidak beres. Dia sedikit mengernyit.

Mata Vivi memerah saat dia menatap Brian, suaranya sarat akan penyesalan. "Brian, aku akan menebusnya padamu sekarang setelah aku kembali."

"Hari sudah larut. Ayo kita pulang," ucap Brian, matanya mencerminkan penyesalan dan rasa menyalahkan diri sendiri di mata wanita itu.

Evelyn telah mempersiapkan diri secara mental untuk sementara waktu, dan kini dia memasang senyum profesional.

"Pak Brian, Nona Vivi, lewat sini, silakan," ucapnya.

Brian memimpin jalan, sambil berkata, "Ayo." Dengan menarik koper di tangan, Evelyn mengikuti di belakang Brian, langkahnya selama bertahun-tahun telah menyesuaikan diri dengan langkah cepat pria itu.

Dia mampu mengimbangi Brian, tetapi Vivi kesulitan karena sepatu hak tingginya yang berdecit saat dia bergegas untuk mengimbangi langkah Evelyn.

"Apakah kamu asisten Brian?" Vivi bertanya, sedikit terengah-engah.

Evelyn mengangguk pelan. "Ya."

"Kalau begitu, kamu pasti sangat cakap. Kita sepertinya seumuran. Mari kita berteman. Aku akan menambahkan kontakmu di WhatsApp nanti," ucap Vivi.

Lanjutkan Membaca
Pilih Bab
CH. 1CH. 2CH. 3
CH. 4
CH. 5
CH. 6
CH. 7
Semua
Baca Novel Selengkapnya di
moboreader
Kini Tersedia Membaca Gratis

Kamu Mungkin Juga Suka

Belenggu Cinta Tuan Muda
Belenggu Cinta Tuan Muda
Dalam Belenggu Cinta Tuan Muda, Nara terjebak skandal balas dendam Axel. Tuan muda ini terjerat obsesi setelah niat mempermainkan putri pembantunya gagal. Baca romance novel ini saat Nara berusaha lari dari keposesifan seorang billionaire dalam kisah penuh intrik di web novel populer.
Di Nikahi Majikan
Di Nikahi Majikan
Dalam novel Di Nikahi Majikan, Ana menghadapi tawaran tak terduga untuk menjadi istri majikannya. Terjepit antara impian sekolah dan loyalitas, kisah romance billionaire ini mengeksplorasi pilihan hidup yang sulit. Baca online novel ini untuk mengikuti kelanjutan takdir Ana.
I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku
Dalam I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku, Alan dikhianati oleh suaminya, Gavin Wildberg, demi wanita lain. Setelah dibuang, ia bangkit menjadi pewaris takhta konglomerat untuk menuntut balas. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti transformasi sang istri dalam web novel penuh intrik.
Istri Kontrak Mr Billionaire
Istri Kontrak Mr Billionaire
Demi pengobatan ibunya, Claudya terjebak dalam Istri Kontrak Mr Billionaire. Dalam genre romance modern ini, ia harus bertahan menjadi pelampiasan sang suami kaya. Baca kisah pengorbanannya di web novel ini sebelum ia memutuskan pergi membawa luka di hati.
Istri Rahasianya, Aib Publiknya
Istri Rahasianya, Aib Publiknya
Dalam Istri Rahasianya, Aib Publiknya, hidup seorang perawat hancur saat mengetahui suaminya, Bima, ternyata miliarder kejam Brama Wijaya. Terjebak dalam intrik billionaire romance novels, ia harus menghadapi kenyataan pahit sebagai rahasia yang ingin dilenyapkan oleh sang taipan di modern novel ini.
Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
Dalam Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku, Nina terikat kontrak pernikahan tanpa cinta. Setelah sebuah kesalahan fatal, ia harus menghadapi konsekuensi tak terduga saat bertemu suaminya. Temukan kisah billionaire romance novels ini di webnovel kami sekarang.

Rilis WebNovel Terbaru

Populer di MiniShort

Aku Diam, Kau Goyah
Aku Diam, Kau Goyah
Judika Johan, pemuda jenius matematika dituduh menyontek oleh Junaidi Johan, anak angkat orang tuanya di Olimpiade Matematika Internasional, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Tapi keluarganya malah memihak anak angkat dan nggak percaya anak kandung. Ayah, Ibu dan kedua kakaknya mengusirnya keluar. Siapa sangka, Judika tertabrak mobil dan meninggal dunia. Tapi, Judika terlahir kembali. Kali ini, dia memutuskan untuk nggak menganggap mereka sebagai keluarga dan akan membalas semua perbuatan Junaidi.
Anak Lucu Hoki Datang
Anak Lucu Hoki Datang
Sejak umur 6 tahun, Yaya, gadis yatim, difitnah sebagai pembawa sial oleh peramal, hingga ayahnya, Mario Guhara, meninggalkannya di hutan. Dia kemudian ditemukan Satrio Ridwan, putra kecil markas komandan, dan bertemu Lavin Ridwan, calon komandan. Yaya lahir dengan keberuntungan bawaan: bisa menyembuhkan penyakit, memanggil hujan, bahkan mengubah batu jadi emas. Berkat keberuntungannya, dia jadi pembawa hoki yang dikagumi semua orang!
Jangan Ganggu Nenek
Jangan Ganggu Nenek
Harini Wulandari, Direktur Utama Grup Kejayaan, menyamar sebagai pengasuh di rumah anaknya selama lebih dari sepuluh tahun. Setelah menerima hinaan verbal dari cucunya, Ayu Prakoso, ia merasa sangat kecewa. Ia pun berhenti menahan diri, menarik kembali kekayaannya, membekukan rekening bank, mengungkapkan identitas aslinya, dan memutuskan hubungan dengan keluarganya. Kini, ia kembali memegang kendali atas grupnya dan memulai hidup baru, membuat keluarga yang tidak tahu berterima kasih itu menanggung konsekuensi pahit.
Ayah yang kalah jadi Orang Besar
Ayah yang kalah jadi Orang Besar
Dengan permintaan putri mereka Celia, Edo yang seorang veteran, dan Luna seorang CEO Grup Orion, menikah secara tiba-tiba. Mereka menghadapi cemoohan dari teman dan keluarga karena profesi samaran Edo sebagai petugas pencuci piring di restoran. Luna mendukung Edo saat ia selalu melindungi mereka dari berbagai ancaman. Edo dicap secara tidak adil sebagai seorang pembelot dan gila harta, Edo akhirnya mengungkapkan identitas aslinya sebagai pemimpin kelompok keadilan rahasia, 'PASUKAN PELINDUNG.' Ia menyembunyikan identitasnya untuk membasmi pengkhianat dan membubarkan organisasi jahat, sembari menjadi suami dan ayah yang setia.
Nggak Apa, 'Kan Sekeluarga
Nggak Apa, 'Kan Sekeluarga
Berlatar di era republik, seorang manusia bernama Adrian menyelamatkan putri kecil dari Alam Iblis, Santi, yang secara tidak sengaja tersesat. Kemudian, Kaelan, kakaknya Santi, demi menyelamatkan Santi yang sakit parah, menyusup dan bersembunyi di sisi Adrian karena pria itulah satu-satunya obatnya.