Bab 1
Istriku adalah seorang influencer parenting biasa mendidik putra kami dengan tegas dan keras.
Hanya karena anaknya di taman kanak-kanak mendorong putri dari mantan pacarnya, dia mengurung anaknya di balkon.
Dia meninggalkan anaknya sendirian di balkon untuk merenungkan kesalahannya. Sementara dia pergi bermain bersama putri dari cinta pertamanya itu.
Tubuh mungil putranya menyusup jeruji pembatas balkon dan jatuh dari lantai 18, hancur berkeping-keping.
Saat terjatuh, dia berteriak kepada ibunya minta diselamatkan.
Tapi ibunya bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.
Karena putranya mendorong putri dari cinta pertamanya di taman kanak-kanak, dia mengurung putranya itu sendirian di balkon. Sementara dia membawa putri cinta pertamanya pergi bermain di luar.
Tubuh mungil putranya menyusup jeruji pembatas balkon dan jatuh dari lantai 18, hancur berkeping-keping.
Saat terjatuh, dia berteriak kepada ibunya minta diselamatkan.
Tapi ibunya bahkan tidak menoleh padanya sama sekali.
Saat itu hari Kamis sebelum libur panjang. Aku pergi bekerja seperti biasa. Putraku yang berusia tiga tahun memelukku dan tidak mau lepas.
"Papa, Papa besok libur?"
"Ya, Papa besok libur tiga hari. Kita bisa piknik bersama di pedesaan nanti!"
"Beneran? Kalau gitu, Leo nggak jadi beli Transformer. Leo cuma mau tinggal sama Papa di rumah selamanya!"
Aku menggendong anakku di bahu, membuatnya kegirangan. Perasaanku menjadi lebih ringan.
Kukira aku bisa hidup bahagia seperti ini selamanya. Aku saat itu belum tahu bahwa ini akan menjadi kali terakhir aku melihat anakku.
Seluruh tubuhku membeku begitu menerima telepon dari pengelola apartemen.
"Pak Kinan, saya dapat laporan dari tetangga. Katanya ada anak yang memanjat pembatas balkon apartemen Bapak. Separuh badannya sudah keluar!"
"Kami sudah ketuk pintu lama sekali, tapi nggak ada jawaban. Kayaknya nggak ada orang lain di dalam. Kami sudah panggil pemadam kebakaran. Sekarang masih dalam perjalanan. Jadi kami mau minta izin Bapak untuk mendobrak pintu dan menyelamatkan anak itu!"
Pikiranku kosong. Aku mengatakan dengan suara gemetar bahwa pintunya boleh didobrak. Asalkan anakku selamat, menghancurkan seluruh rumahku pun aku rela.
Dalam perjalanan pulang, aku menghubungi nomor istriku berulang kali, tapi dia selalu menolak panggilan.
Rasa putus asa yang mendalam menyelimuti hatiku. Aku hanya ingin mobil ini bisa terbang, melaju lebih cepat!
Jalan masuk ke gedung apartemen penuh sesak dengan kerumunan orang.
Mobil polisi, mobil pemadam kebakaran, dan ambulans telah datang.
Perasaan tidak enak muncul di hatiku. Aku buru-buru mendesak maju di antara kerumunan.
Dua orang wanita tua melewatiku dengan wajah sedih dan mendesah.
"Duh, anak sekecil itu. Di mana orang tuanya? Anak tiga tahun dikurung di balkon sendirian! Sial sekali anak itu ...."
"Kalau ini sih sial yang disengaja. Pintu balkonnya katanya dikunci, jadi anak itu nggak bisa keluar. Makanya, dia akhirnya memanjat pembatas balkon. Anak muda zaman sekarang ...."
"Begitu, ya? Waktu pemadam kebakaran datang, anak itu pas jatuh dan menangis sangat keras. Menyedihkan!"
Kakiku sangat berat seperti terpatri di tanah. Aku berdoa dalam hati berulang kali, berharap anak yang mereka bicarakan itu bukanlah anakku.
Tapi saat aku melihat tangan kecil yang terjulur dari bawah kain putih, hatiku terasa seperti kejatuhan batu raksasa. Air mataku pecah saat itu juga.
Tangan anakku yang berlumuran darah sedang menggenggam robot Gundam yang baru kubelikan minggu lalu ....
Aku terjatuh ke tanah, menatap sosok kecil yang sendirian di sana. Hatiku seakan terkoyak dalam sekejap.
Manajer properti berlari kepadaku untuk membantuku berdiri. Suaranya penuh penyesalan.
"Maaf, Pak Kinan. Kami nggak bisa menyelamatkan anakmu. Dia ... jatuh tepat setelah kami telepon Pak Kina."
"Kami turut berduka cita ...."
Untuk sesaat, semua kebisingan menghilang dan sekelilingku melayangkan tatapan kasihan.
Aku membuka mulut, tapi tenggorokanku terasa seperti tersumbat, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Dokter menggelengkan kepalanya dan mengatakan kepadaku bahwa anakku tidak mungkin bisa diselamatkan.
Aku melangkahkan kakiku dengan susah payah ke tempat anakku terbaring dan mengangkat kain putih yang menutupinya.
Sekilas saja, hatiku tertusuk-tusuk sembilu.
Tubuh mungil anakku meringkuk di sana, berantakan dan berlumuran darah.
Aku ingin memeluknya, tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi aku hanya bisa membungkuk di atas tubuhnya dan menangis.
"Leo, jangan takut. Papa di sini ...."
Anakku masih terasa hangat, tapi dia tidak bisa mendengar suaraku lagi.
Aku tiba-tiba teringat wajah polosnya saat aku pergi bekerja pagi tadi. Malaikat kecil yang tertawa ceria itu telah menghilang selamanya. Dadaku seolah ditembus pecahan kaca yang tak terhitung jumlahnya. Setiap tarikan napas yang kuambil terasa sangat menyakitkan.
Setelah polisi selesai mengumpulkan barang bukti, aku mengikuti mereka ke kantor polisi dengan kepala linglung untuk dimintai pernyataan.
Di bangku yang dingin, aku menunggu laporan autopsi anakku dengan sekujur tubuh lemas.
Berjam-jam lamanya, istriku masih tidak kunjung mengangkat telepon.
Hatiku serasa mati, dan aku tidak tahu apakah itu karena rasa pedih atau benci.
Bab 2
Seorang polisi muda menepuk pundakku dengan iba. Dia mengatakan bahwa laporan autopsi tidak bisa keluar secepat itu. Dia menghiburku sebentar, lalu menyuruhku pulang lebih dulu.
Saat itu tepat tengah malam. Aku kebetulan melewati alun-alun kota yang ramai. Semua orang merayakan datangnya libur panjang.
Aku menatap sederet catatan panggilan keluar yang tidak dijawab di ponselku dan tiba-tiba merasa seolah dunia telah mencampakkanku.
Ribuan jendela rumah bersinar terang. Tapi rumahku tidak lagi menjadi salah satunya.
Di rumah, aku duduk dengan hampa di sofa ruang tamu, memeluk robot Transformer yang telah aku siapkan untuk anakku.
Tidak ada lagi embusan napas anakku di rumah yang kosong ini.
Bu Rani yang mengajar anakku di taman kanak-kanak menelepon dan berbicara dengan suara tercekat.
"Papa Leo, saya dapat kabar soal kecelakaan Leo ...."
Wanita itu terisak tak terkendali. Hatiku terasa seperti dicabik-cabik. Bahkan orang asing lebih peduli pada anakku daripada istriku sendiri.
Aku menceritakan apa yang terjadi pada anakku hari ini dengan suara serak. Bu Rani sangat kaget mendengar bahwa istriku mengurung Leo sendirian di balkon.
"Jadi begini, Leo tadi siang mendorong Keke sampai Keke menangis lama. Saya menceritakan masalah ini ke istri Bapak waktu dia datang menjemput. Mama Leo sangat marah dan memarahinya sangat keras."
"Tapi saya sudah menjelaskan waktu itu. Keke sengaja merobohkan lego buatan Leo dan mengatai Leo anak yang nggak punya ibu. Itu sebabnya kenapa Leo sampai mendorong Keke."
"Keke cuma dibesarkan oleh ayahnya. Dia kadang agak bandel. Ditambah lagi, istri Bapak sepertinya lumayan perhatian padanya. Jadi dia sering nakal kepada Leo. Setiap itu terjadi, istri Bapak nggak mengatakan apa-apa, hanya memintanya memaklumi adiknya ...."
...
Ketika telepon ditutup, hatiku terasa sunyi.
Kali ini berhubungan dengan Keke lagi.
Keke adalah anak perempuan dari mantan pacar Soraya, Ferdy.
Sejak Leo pergi ke taman kanak-kanak yang sama dengan Keke, Soraya sering memarahi anaknya atas dasar aduan dari Keke. Leo sangat membenci anak perempuan itu.
Soraya adalah influencer parenting dan memiliki gelar master di bidang pendidikan. Dia selalu menyuarakan tentang pola asuh ilmiah sejak putranya lahir.
Dia mendidik anaknya dengan keras. Bahkan kadang kesalahan kecil saja harus dihukum. Setiap kali aku bicara dengannya tentang hal ini, dia membela diri bahwa ini adalah teknik pemberian penguatan untuk membantu Leo belajar dari kesalahannya.
"Kamu nggak ngerti. Orang-orang selalu mengajari anak perempuan untuk melindungi diri. Tapi jarang sekali yang menyuruh orang tua anak laki-laki untuk mendidik anak mereka dengan baik, biar nggak mem-bully orang lain."
"Usia tiga sampai tujuh itu masa-masa emas membentuk kepribadian. Ajari anak-anak dengan baik pada usia itu. Dia akan berterima kasih kepadaku seumur hidupnya!"
Dia mengunggah komentar-komentar ini ke media sosial video pendek dan segera mendapatkan banyak pengikut, dan akhirnya menjadi influencer parenting.
Aku awalnya percaya padanya, mengira dia hanya bersikap tegas kepada putranya. Ibu mana yang tidak sayang kepada anaknya?
Tapi ketika anak perempuan Ferdy muncul, segalanya berubah.
Soraya membantu Ferdy mengasuh anaknya sepulang sekolah. Dia akan bermain bersama dan membacakan buku cerita dengan lembut di rumah .... Menunggu sampai waktu Ferdy selesai kerja, lalu mengantar anak itu ke kantornya.
Ruang tamu dipenuhi boneka-boneka kesukaan anak perempuan. Mainan robot milik Leo dimasukkan ke kamarnya semua.
Setiap Keke melakukan kesalahan, istriku akan menghibur dengan lembut.
"Anak perempuan itu tuan putri yang harus dimanja!"
Tapi jika Leo yang melakukan kesalahan, dia akan memarahinya habis-habisan dan mengurungnya di kamar untuk merenungkan kesalahannya.
Setiap kali dua anak itu bertengkar, istriku akan berkata kepada Leo, "Keke kasihan nggak punya ibu. Keke itu adikmu, Leo harus mengalah."
"Kamu itu anak laki-laki, jangan rebutan dengan adikmu."
Dia memberikan seluruh kebaikan dan cintanya kepada anak perempuan orang lain. Sementara anaknya sendiri hidup seperti anak yang tidak punya ibu.
Jadi, Keke suka diam-diam mengejek Leo, mengatainya anak yang tidak punya ibu.
Aku sering bertengkar dengan Soraya karena hal ini. Setiap kali, dia akan mengancam dengan perceraian.
Ketika anakku mendengar kata cerai, dia sangat ketakutan sampai tidak bisa tidur nyenyak berhari-hari. Hatiku jadi sesak dan pilu.
Aku menahannya lagi dan lagi demi anakku. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan kehilangan dia sepenuhnya.
Melihat boneka-boneka yang memenuhi ruang tamu, amarah dalam hatiku mendidih.
Aku mengemasi semua mainan Keke dan melemparkannya ke lorong, lalu duduk di ruang tamu yang kosong dengan air mata berlinang.
Soraya baru pulang saat waktu menunjukkan pukul dua pagi.
Dia menggendong seorang anak perempuan berkulit putih di tangannya, diikuti oleh mantan pacarnya, Ferdy. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Apa-apaan sih, telepon terus!"
Soraya mengeluh tidak puas segera setelah memasuki pintu. Pria di belakangnya memberikan senyuman minta maaf.
Kemarahanku langsung tersulut dan aku berteriak pada Soraya, "Dari mana saja kamu! Apa kamu tahu Leo ...."
Sebelum kalimatku selesai, teriakan melengking gadis kecil memotongku.
"Bonekaku! Bonekaku hilang!"
"Pasti Leo mencuri semua bonekaku! Leo jahat! Leo pencuri!"
Otakku berdengung mendengarkan kata-kata ini. Aku hampir tidak tahan ingin menampar gadis kecil yang meraung-raung di lantai itu.
Ternyata anakku selama ini hidup di lingkungan seperti ini. Diabaikan dan difitnah!
Soraya menggendong gadis kecil itu dengan lembut. Matanya penuh dengan kepedihan.
"Jangan menangis, putri kecilku. Besok Tante belikan boneka baru! Leo nakal nggak dapat mainan baru!"
Dia pada saat ini bersikap seperti ibu yang penuh kasih, menghibur Keke dengan lembut dalam pelukannya.
Tapi saat mengucapkan nama anaknya sendiri, suaranya penuh dengan hinaan.
"Di mana anak sialan itu? Dia mendorong Keke tadi siang. Bahkan nggak mau ngaku salah!"
"Keke sudah baik mau memaafkan, tapi anak itu malah melempar kue Keke! Kamu terlalu memanjakannya!"
Aku menatapnya tanpa ekspresi, merasa tidak percaya bahwa wanita seperti inilah yang telah aku nikahi.
Dia sangat baik kepada anak orang lain. Anaknya sendiri malah diperlakukan seperti musuh.
Mungkin karena tatapanku yang sedikit menakutkan, Soraya merasa bersalah dan melangkah mundur.
Ferdy yang sedari tadi diam pun buru-buru melindungi mereka berdua di belakangnya. Dia menjelaskan kepadaku sambil tersenyum.
"Kak Kinan, aku tadi lembur, jadi harus minta Soraya mengurus Keke. Dia menemani Keke ke mall, jadi pulangnya agak malam. Jangan salah paham!"
Soraya memeluk Keke lebih erat. Seringai di bibirnya menghina.
"Kenapa harus menjelaskan? Kita nggak salah apa-apa!"
Dia menoleh untuk memelototiku, suaranya menajam.
"Kinan, aku sudah pernah bilang. Aku dan Ferdy nggak ada apa-apa. Aku cuma kasihan lihat dia membesarkan anak perempuan sendirian, jadi aku bantu sebisaku. Yang kotor itu pikiranmu!"
"Di mana anak sialan itu? Apa dia sudah sadar salahnya di mana? Keke anak baik dan sudah memaafkannya. Biarkan dia keluar."
Aku tertawa marah, mengambil vas di atas meja dan membantingnya ke lantai. Keke menangis ketakutan, tapi aku justru senang mendengarnya ketakutan.
"Kinan, apa-apaan ini? Anak sialan itu berbuat salah, sudah seharusnya aku mendidik dia, 'kan? Kamu yang salah, memanjakan dia terus, akhirnya dia jadi suka menentang!"
"Anak itu berani mem-bully anak lain sekarang. Apa jadinya nanti kalau dia sudah besar? Bisa-bisa jadi penjahat!"
Murka dan amarah bergejolak di dadaku. Bahuku mulai bergetar tak terkendali.
Aku menatap Soraya lekat-lekat dan menekankan kata demi kata:
"Anak sialan itu sudah mati. Dia nggak akan tumbuh besar. Dia nggak akan pernah mem-bully anak mantan pacarmu lagi."
Soraya tertegun sebentar, lalu semakin marah. Dia menuding wajahku dan mengumpat.
"Bicara sembarangan! Kamu ingin mengutuk anakmu sendiri?!"
Aku hampir berteriak. "Leo sudah mati. Dia melompat dari gedung saat kamu menghukumnya di balkon!"
"Anakmu sudah mati! Kamu sendiri yang membunuhnya! Ngerti nggak, Soraya!"