Bab 2

Melissa pun membanting pintu dan pergi.

Aku berbaring sendirian di ranjang rumah sakit, menutupi wajahku dan berpikir.

Memikirkan bagaimana cara membereskan kekacauan ini.

Lima tahun menikah, harus berakhir seperti ini.

Bohong jika kubilang aku tidak patah hati.

Akan tetapi, nasi sudah jadi bubur. Memikirkannya lebih jauh pun sudah tidak ada gunanya.

Yang perlu untuk segera diselesaikan saat ini adalah masalah operasional perusahaan.

Lima tahun lalu aku bersikeras menikahi Melissa meski orang tuaku tidak setuju.

Orang tuaku merasa Melissa tidak bisa diandalkan dan tidak setara dengan keluarga kami.

Pada saat itu, aku berpikir jika semua itu hanyalah prasangka orang tuaku saja.

Untuk membuktikan jika aku benar, aku pun menikahi Melissa.

Setelah menikah, aku jarang pulang ke rumah orang tuaku, juga jarang berinteraksi dengan mereka.

Aku bahkan menolak mewarisi bisnis keluarga dan memulai bisnisku sendiri dari nol.

Melissa tidak menyukai orang tuaku. Dia menganggap orang tuaku nggak berguna, acuh tak acuh dan tidak bisa banyak membantu.

Berhubung aku tidak punya niat untuk bergantung pada orang tuaku, aku pun tidak memberitahukan latar belakang keluargaku kepada Melissa.

Sekarang jika dipikir-pikir, penilaian ayah dan ibuku kepada orang lain, memang benar-benar tajam.

Melissa memang bukan orang yang bisa diandalkan.

Pada dua tahun pertama pernikahanku, aku sudah menduduki jabatan sebagai CEO sebuah perusahaan besar.

Akan tetapi, demi membantu mewujudkan keinginan Melissa untuk membuka perusahaan sendiri, aku berhenti dari pekerjaanku yang bagus dan menjanjikan tersebut.

Setelah itu, aku mengambil tabunganku yang sudah kukumpulkan selama bertahun-tahun, juga meminjam dari bank untuk membuka perusahaan periklanan.

Di bawah kendaliku, perusahaan tersebut berkembang dengan pesat.

Melissa sangat senang bekerja di bagian penjualan. Dia berani bekerja keras dan bernegosiasi dengan klien.

Setiap kali mendapatkan kontrak, entah itu kontrak besar ataupun kecil, Melissa akan merasa sangat senang.

Padahal sebenarnya, aku sudah mengumpulkan banyak koneksi di industri ini dari pekerjaanku sebelumnya, sehingga sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan masalah kontrak.

Akan tetapi, demi memuaskan rasa pencapaian Melissa, aku pun menarik beberapa koneksiku sendiri.

Diam-diam, aku juga menyerahkan kontrak yang berhasil kunegosiasikan kepada Melissa.

Kemudian, aku mundur ke belakang layar untuk penyusunan konten dan program.

Bahkan, aku juga mencurahkan lebih banyak energi untuk keluarga.

Melihat Melissa sudah memasuki usia rentan untuk hamil dan masih disibukkan dengan kariernya ….

Aku pun menciptakan kesan jika perusahaan tengah bangkrut, agar Melissa punya waktu untuk kembali ke keluarga.

Akan tetapi, aku tidak menyangka Melissa akan mendekati bos perusahaan klien dengan alasan demi "mendapatkan kontrak besar".

Tepat di saat aku sedang melamun, ada yang mengetuk pintu ruang rawat inap.

Lusy masuk sambil membawa buket bunga.

Aku tersenyum getir kepadanya. "Semua orang di perusahaan sudah mengundurkan diri. Kamu nggak mengundurkan diri?"

Lusy pun tersenyum tak berdaya.

"Aku ini karyawan lama. Mana mungkin aku mengundurkan diri?"

"Lagi pula, aku percaya pada kemampuan Pak Edwin. Mana mungkin Pak Edwin membiarkan perusahaan ini bangkrut?"

"Selama dua tahun, perusahaan sudah berkembang pesat. Tapi, sejak tahun lalu, tiba-tiba saja Anda menghentikan banyak sekali pekerjaan. Anda juga sengaja memperkecil skala perusahaan."

"Meski aku nggak tahu niat Anda, tapi aku tahu selama Anda mau, Anda bisa membuat perusahaan ini kembali berkembang."

Aku mengangguk pada Lusy, mengagumi kecerdasannya.

"Analisis yang bagus. Rekrut banyak orang dan kembalikan perusahaan ke skala sebelumnya."

Lusy tampak terkejut.

Kemudian, dia menjadi bersimpati pada para karyawan yang sudah mengundurkan diri.

"Entah seberapa besar penyesalan mereka setelah melihat perusahaan berkembang."

Aku nggak mau orang-orang yang sudah pergi itu, kembali ke perusahaan. Oleh sebab itu, aku pun berkata, "Besok, aku akan mengganti nama perusahaan. Namanya berubah menjadi 'Era Baru'."

Aku kembali menggelontorkan aset untuk perusahaan dan membayar mahal untuk merekrut orang-orang yang berbakat.

Dalam waktu kurang dari seminggu, perusahaan yang awalnya hanya terdiri dari sepuluh orang, berkembang menjadi seratus orang.

Untuk beberapa posisi penting, aku sendiri yang menyeleksinya.

Misalnya untuk posisi eksekutif, seperti wakil CEO dan kepala bagian.

Pada hari ini, seorang wanita meneleponku dan mengatakan jika dirinya ingin melamar posisi eksekutif.

Wanita itu tidak sabar untuk bertemu denganku. Dia bahkan tidak bisa menunggu sampai aku keluar dari rumah sakit.

Akhirnya, kami pun terpaksa harus bertemu di rumah sakit.

Wanita itu berpakaian layaknya wanita kelas atas dan terlihat seperti tidak bisa bekerja.

Aku pun langsung menjadi marah. "Kamu nggak cocok. Jangan membuang-buang waktu satu sama lain."

Wanita itu dengan santainya melemparkan sebuah flashdisk kepadaku. "Cocok atau nggak, bukankah kamu baru akan tahu setelah melihat datanya?"

"Kamu pasti akan tertarik dengan data ini."

Aku mendengar ada sesuatu yang tersirat dari kata-kata yang diucapkan wanita itu. Kemudian, aku pun memasukkan flashdisk tersebut ke dalam komputer.

Saat mengklik video yang terdapat di dalam flashdisk tersebut, otakku pun langsung meledak!

Bab 3

Dalam video tersebut, Melissa juga Rudy tengah telanjang dan saling bergumul.

Keduanya bagaikan binatang buas, mengeluarkan jeritan yang memalukan.

Aku mematikan video tersebut dengan marah dan menatap wanita itu.

"Siapa kamu? Apa tujuanmu menunjukkan semua ini padaku?"

Wanita itu memperbaiki letak kacamata hitamnya dan berkata dengan nada genit.

"Aku yakin, kamu sudah bisa menebak siapa diriku."

"Sesama korban nggak perlu saling kenal."

"Informasi ini mungkin berguna bagimu. Anggaplah aku berbaik hati dan memberikannya padamu."

Setelah berkata seperti itu, wanita tersebut berbalik lalu pergi dan hanya menyisakan aroma harum di udara.

Aku mengepalkan tinjuku dan merasakan mual di perutku.

Wanita yang bisa memberikan video pribadi semacam ini, identitasnya tidak sulit untuk ditebak. Dia pasti wanita yang dekat dengan Rudy.

Lantaran informasi ini, bayangan terakhirku mengenai diri Melissa langsung lenyap tak berbekas.

Tubuhku belum pulih sepenuhnya. Aku masih harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari lagi.

Berhubung merasa bosan, aku pun mendorong kursi rodaku keluar dari ruang rawat inap untuk berjalan-jalan.

Ketika sampai di tikungan, tiba-tiba saja aku mendengar suara yang sudah tidak asing lagi bagiku, sedang berbicara di telepon.

"Bayi ini sudah berusia tiga bulan dan kamu memintaku untuk menggugurkannya?" Mustahil!"

"Bukankah kamu bilang akan menceraikannya setelah wanita itu melahirkan anak? Kenapa jadi seribet ini sih?"

"Aku nggak perlu istirahat. Aturlah agar aku bisa bergabung dengan perusahaan secepatnya!"

"Apa? Kamu nggak mau ngasih pekerjaan dan status untukku? Kamu mau berhubungan seks tanpa bayar?"

Suara Melissa yang jernih itu terdengar di telingaku.

Aku ingin berpura-pura tidak tahu, tetapi aku tidak bisa melakukannya.

Jika dipikir-pikir, sungguh sangat ironis. Aku ingin melindungi Melissa sepenuh hati. Namun, ternyata Melissa malah ingin menjadi wanita simpanan orang lain.

Aku memohon pada Melissa untuk mempertahankan anak kami. Akan tetapi, dia bersikeras untuk menggugurkannya.

Sekarang, saat orang lain tidak menginginkan anaknya, Melissa justru bersikeras untuk melahirkannya.

Namun, itu masalah buruk Melissa sendiri. Tidak ada hubungannya dengan diriku.

Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun dan menganggap seakan tidak mendengar apa-apa.

Ketika menutup telepon, Melissa berbalik dan melihatku.

Dia menjadi sangat marah.

"Edwin, kamu benar-benar gila! Nggak kusangka, ternyata kamu mengikutiku!"

"Kamu juga menguping teleponku. Apa kamu itu nggak tahu malu?"

"Jangan pikir kamu bisa mengambil keuntungan dari situasi ini, cuma karena kamu mengetahui konflik antara diriku dan Kak Rudy!"

"Sudah kubilang, berhentilah bermimpi! Perceraian kita sudah diputuskan!"

Aku tersenyum sinis.

"Melissa, aku sarankan padamu untuk berhenti bersikap terlalu percaya diri."

"Aku benar-benar nggak tertarik untuk mengetahui semua masalah kacaumu itu!"

"Sekarang setelah nggak sengaja mengetahuinya, aku langsung merasa mual."

"Kamu sama sekali nggak malu jadi simpanan orang lain, selingkuh dan hamil waktu kamu masih menikah."

"Untuk wanita sepertimu, meski kamu berlutut dan memohon maaf padaku, aku nggak akan pernah kembali padamu!"

Setelah berkata seperti itu, aku mendorong kursi rodaku dan pergi ….

Meninggalkan sekelompok orang yang menyaksikan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Melissa.

Telepon itu mengungkapkan begitu banyak informasi.

Ternyata Rudy sudah berkeluarga. Dia tidak ingin menikahi Melissa atau berencana memberikan pekerjaan pada Melissa.

Pantas saja, Melissa buru-buru mencari perusahaan lain.

Melissa juga terus menunda urusan perceraian. Mungkin, dia masih ingin menjadikanku sebagai cadangan.

Bagaimana mungkin aku membiarkan Melissa mendapatkan apa yang dia inginkan?

Beberapa hari kemudian, aku keluar dari rumah sakit.

Setelah kembali ke perusahaan, aku bertanggung jawab atas wawancara rekrutmen untuk posisi penting.

Melissa langsung memasuki ruanganku dan menatapku dengan penuh semangat.

"Edwin, dari mana kamu mendapatkan begitu banyak uang?"

"Aku sudah memeriksanya. Perusahaan ini nggak bisa mencapai skala sebesar ini tanpa adanya investasi lebih dari 20 miliar!"

Aku menatap Melissa dengan dingin. "Apa semua itu ada hubungannya denganmu?"

Tanpa merasa malu, Melissa pun berkata, "Kenapa nggak ada hubungannya? Itu 'kan harta gono-gini?"

"Jadi?" Aku menyembunyikan kemarahan di dalam hati dan bertanya pelan.

Aset yang kudapatkan seorang diri ini, awalnya ingin kubagi dengan Melissa.

Akan tetapi, sekarang dia malah selingkuh dan hamil demi uang.

Bagaimana mungkin dia berhak menggunakan uangku, jika dia menginjak-injak harga diriku seperti ini?

"Aset perusahaan ini dibagi dua. Berikan setengah sahamnya padaku, atau bayar dalam bentuk uang!"

Melissa mengutarakan tuntutannya dengan wajah serakah.

Aku mencibir, "Aku sendiri yang mendapatkan uang itu. Jadi, aku bisa ngasih kamu satu sen pun!"

Melissa berteriak dengan tidak rela, "Atas dasar apa? Kalau kamu nggak mau membayarnya, aku akan menunda perceraian kita!"

"Aku akan mengandalkanmu untuk membantuku membesarkan anak pria lain!"

Aku melemparkan flashdisk dengan marah. "Melissa, sebelum mengancam orang lain, pastikan dulu sebelumnya kalau orang itu nggak punya informasi di tangan mereka, yang bisa digunakan untuk menjatuhkanmu!"

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B64119" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B64119
Salin

Karma Untuk Istri Durhaka

Bab 2
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya