Bab 1
Saat suamiku sedang ikut acara berkemah dari kantor, asisten perempuannya tiba-tiba mengunggah sebuah postingan: "Pembagian tenda lewat undian, siapa sangka aku malah setenda dengan bosku yang tampan!" Dalam foto itu, dia sedang berswafoto menghadap kamera, sementara di belakangnya ada seorang pria yang sedang melepas bajunya— dan itu adalah suamiku.
Ada yang berkomentar: "Hati-hati ya, cowok dan cewek berduaan di satu tenda, bisa berbahaya ...."
Asisten itu langsung membalas dengan emoji tertawa jahil sambil menulis: "Memang aku suka yang menantang."
Aku sempat memberikan 'like', tetapi tidak lama kemudian, postingan itu dihapus.
Tak lama, suamiku menelepon lewat panggilan video. Di depan asisten perempuan yang sedang menangis dan beberapa rekan kerja lainnya, dia langsung marah padaku:
"Kamu kok suka lebay sih? Ini 'kan cuma permainan sederhana, nggak bisa santai saja?"
Melihat dia memeluk asisten itu sambil menenangkannya dengan lembut, aku pun menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi.
Ini sudah tahun ke-10 aku mencintai Kemal Sentanu. Namun, saat ini juga, aku memutuskan untuk melepaskannya.
Ketika Kemal pulang ke rumah, aku sedang membereskan barang-barang yang awalnya mau aku bawa untuk berkemah.
Sejak kecil, aku selalu suka mendaki gunung, dan Kemal tahu itu.
Untuk acara berkemah kali ini, aku sudah membujuknya cukup lama sampai akhirnya dia setuju membawaku.
Namun, sebelum berangkat, dia malah berubah pikiran.
Dengan wajah kesal, Kemal berkata padaku.
"Kamu yang pincang begini mau mendaki gunung? Kenapa sih selalu melakukan hal-hal yang bikin aku malu!"
Setelah mengatakan itu, dia pergi tanpa menoleh lagi.
Sesuatu yang sudah aku tunggu-tunggu selama hampir setengah tahun, hancur begitu saja hanya karena kata "memalukan."
Kemal menendang barang-barang yang ada di lantai, berkata dengan jengkel.
"Kamu seharian menganggur di rumah, nggak bisa beresin rumah sedikit, ya? Lihat nih, berantakan banget!"
Dia melempar sebuah kotak perhiasan ke hadapanku.
"Ini buat kamu. Yessy yang bantu pilihkan. Coba buka."
Kotak perhiasan dari beludru merah itu terlihat sangat mewah, tetapi aku pernah melihatnya di unggahan Yessy Tandri.
Di foto itu, dia memakai kalung bernilai jutaan sambil berswafoto.
Di belakangnya, Kemal tersenyum sambil membayar.
Keterangan fotonya berbunyi:
"Bos besar minta bantuanku untuk memilih kalung, eh ternyata setelah aku pilihkan, malah dikasih ke aku. Maksudnya apa, ya?"
Para warganet dengan semangat menjawab di kolom komentar.
"Apalagi kalau bukan, memang ini untukmu!"
"Bos besar lagi kasih kode keras tuh! Sudah mulai bicara tanpa basa-basi!"
Aku mengenali model kalung itu.
Yessy mengambil kalung utama yang mahal, sementara yang ada di kotakku ini hanyalah hadiah tambahannya.
"Terima kasih, tapi aku nggak suka."
Aku menutup kotak itu lalu melemparkannya ke tempat sampah.
Melihat itu, Kemal langsung marah.
"Yessy sudah repot-repot memilihkan, jangan nggak tahu terima kasih!"
"Cepat ambil lagi, dengar nggak?!"
Aku tetap berdiri di tempatku, tidak bergeming.
Tak disangka, Kemal tiba-tiba mendorongku dengan kasar sambil berteriak.
"Nissa, kamu ini sudah pincang, sok tuli juga ya?!"
"Aku sudah kasih kesempatan, kamu malah makin ngelunjak!"
Dorongannya begitu kuat, sementara tubuhku tidak stabil. Aku terhuyung mundur beberapa langkah hingga punggungku terbentur keras ke sudut meja.
Aku mengerang kesakitan dan terjatuh ke lantai, tubuhku gemetar menahan nyeri.
Melihat itu, Kemal terlihat panik. Dia segera mendekat untuk membantuku berdiri.
Sambil meminta maaf, dia berkata.
"Kata-kataku tadi memang keterlaluan, jangan dimasukkan ke hati, ya."
Jadi dia tahu juga kalau memanggilku pincang itu keterlaluan.
Padahal, kakiku jadi begini karena dulu aku menyelamatkan Kemal yang jatuh ke jurang sewaktu kami berkemah.
Awalnya, dia sangat berterima kasih padaku dan sebisa mungkin tidak menyinggung tentang kondisi kakiku.
Namun, semuanya berubah sejak Yessy muncul.
Dialah yang pertama kali memanggilku Nona Pincang.
Kemal tidak menegurnya, malah ikut tertawa bersamanya.
Sejak itu, dia sering menggunakan kata 'pincang' untuk menghinaku.
Kemal mencoba menggendongku untuk membawaku ke rumah sakit.
Namun, saat itu juga, ponselnya berbunyi.
Bab 2
Dia melirik layar ponselnya dan langsung menjawab panggilan itu.
Dari seberang telepon terdengar suara Yessy yang sedang menangis.
"Kak Kemal, cepat tolong aku! Aku diikuti orang! Aku takut sekali!"
Mendengar itu, Kemal langsung berdiri, berbicara dengan lembut untuk menenangkannya.
"Yessy, jangan takut. Aku akan segera datang mencarimu!"
Yessy terus menangis.
"Aku minta bantuanmu di tengah malam begini, apa Nona Nissa nggak akan marah?"
Kemal melirikku dengan dingin lalu mendengus.
"Kalaupun dia marah, ya biar saja. Keselamatanmu jauh lebih penting, 'kan?"
Setelah menutup telepon, dia bahkan tidak menatapku lagi dan buru-buru menuju pintu.
"Kemal."
Aku panggil namanya.
Dia mendengus kesal, menoleh sedikit sambil berkata.
"Kamu nggak dengar kalau Yessy sedang dalam bahaya? Bisa nggak jangan bikin masalah sekarang?"
Aku memotong perkataannya.
"Ambilkan ponselku, aku mau menelepon ambulans."
Mendengar itu, Kemal tertegun sejenak.
Aku melanjutkan.
"Kamu nggak jadi mengantarku ke rumah sakit, setidaknya aku harus pergi sendiri, 'kan?"
Akhirnya Kemal sadar aku terluka, lalu membantu menelepon ambulans.
Sebelum pergi, dia melirikku beberapa kali, dan berkata dengan wajah sedikit canggung.
"Nanti aku ke rumah sakit menjengukmu."
Semalaman aku dirawat di rumah sakit, dan sampai pagi Kemal tidak juga datang.
Setelah menyelesaikan urusan keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah, aku menemukan akun cadangan Yessy telah diperbarui lagi.
Dia menulis bahwa dalam perjalanan pulang, ada seorang penguntit dan dia ketakutan sampai bersembunyi di dalam minimarket, tidak berani keluar. Untungnya, Pak Bos datang tepat waktu.
Kemal memukul penguntit itu habis-habisan, dan dalam keributan yang terjadi, perutnya terluka akibat pisau kecil yang dipegang oleh penguntit.
Dalam foto, Kemal sedang berbaring di rumah Yessy, bajunya terangkat, menunggu lukanya diobati.
Warganet ramai-ramai berkomentar.
"Astaga, perut itu! Gimana rasanya?"
Yessy membalas:
"Hihi! Nanti setelah makan, aku kasih tahu!"
Algoritma internet dengan cepat membuatku melihat video dari sudut pandang lain.
Seorang pegawai minimarket memposting video lengkap.
Dalam video itu, Kemal menghajar penguntit sampai tersungkur di tanah.
Lalu dia menyeka darah di tangannya, menarik Yessy ke dalam pelukan, dan menenangkan gadis itu dengan lembut.
Matanya dipenuhi kelembutan dan perhatian pada Yessy.
Melihat pemandangan penuh kasih itu, hatiku terasa sakit.
Setahun yang lalu, pada hari ulang tahun pernikahan kami, akhirnya dia mengajakku makan bersama.
Aku berdandan cantik dan menunggu lama di depan restoran, tetapi dia tidak kunjung datang.
Beberapa preman tiba-tiba mengerumuniku, tanpa bicara langsung menarikku masuk ke dalam gang.
Untung saja Kemal akhirnya muncul.
Aku melepaskan diri dengan susah payah, berlari ke arahnya sambil menangis, dan mengatakan kalau ada orang yang mencoba menculikku.
Namun, setelah mendengarku, wajahnya langsung masam.
"Cukup, Nissa!"
"Aku nggak nyangka kamu sampai pakai trik seperti ini cuma buat cari perhatianku! Kamu itu cacat, siapa yang akan tertarik padamu?"
"Aku sudah setuju makan malam untuk merayakan hari pernikahan kita, kamu masih belum puas?"
"Malam ini, aku makan malam dengan Yessy. Kamu pulang saja ke rumah, jangan bikin malu di sini!"
Setelah itu, dia menggandeng Yessy masuk ke restoran.
Saat melewatiku, Yessy menyibakkan rambutnya dengan puas, menunjukkan sepasang anting zamrud.
Aku sangat mengenali anting itu.
Kemal pernah bilang mau membelikannya untukku sebagai hadiah ulang tahun pernikahan.
Belakangan dia bilang anting itu sudah dibeli orang lain, tapi ternyata sekarang dipakai oleh Yessy.
Malam itu, aku pulang ke rumah sambil menatap bekas cakaran di leherku. Aku sangat ketakutan.
Tidak berani aku membayangkan apa yang akan terjadi kalau aku tidak sempat melarikan diri.
Setelah kejadian itu, Kemal memasak makan malam untukku sebagai permintaan maaf, dan aku pun luluh.
Peristiwa itu sudah berlalu setahun, tapi aku masih sering bermimpi buruk tentang malam itu. Tentang rasa takutku, dan kata-kata kasar Kemal.
Setiap kali terbangun, aku selalu menangis.
Namun sekarang, ketika mengenangnya lagi, yang tersisa hanyalah rasa dingin di hati.
Akhirnya aku mengirim pesan kepada pengacara perceraian yang direkomendasikan temanku.
"Halo, aku ingin konsultasi tentang perceraian."
Bab 3
Baru keesokan sore, Kemal akhirnya pulang ke rumah.
Melihatku di rumah, dia menghela napas lega, lalu berkata sambil tertawa.
"Aku lupa mampir ke rumah sakit. Ternyata kamu malah keluar secepat ini, sepertinya nggak terlalu parah, ya."
Aku tidak memberitahunya bahwa sebenarnya kondisiku cukup parah.
Tulang belakangku bergeser, dan jika dibawa ke rumah sakit sedikit lebih lambat, kemungkinan besar akan keguguran.
Namun, aku tidak mengatakan apa pun, hanya menjawab pelan, "Mm."
Sambil melepas dasi, Kemal berbicara tentang kejadian semalam.
"Awalnya aku ingin ke rumah sakit setelah mengantar Yessy pulang, tapi dia sedang tidak stabil. Sebagai bos, aku harus lebih perhatian, 'kan?"
Sambil berbicara, dia mendekat, memeluk pinggangku dari belakang dan bertanya.
"Kamu nggak marah, 'kan?"
Aroma parfum wanita di tubuh Kemal membuatku mual.
Aku menjawabnya sambil menghindar perlahan.
"Tentu saja nggak. Dia 'kan perempuan, wajar kalau kamu lebih memperhatikannya."
Mendengar jawaban itu, Kemal puas dan dengan hati yang senang, dia hendak menciumku.
Saat ini, kerah kemejanya sudah terbuka lebar.
Aku menghentikan tindakannya dan menunjuk bekas di lehernya sambil bertanya.
"Ini apa?"
Kemal langsung berdiri tegak, menjawab dengan ekspresi canggung.
"Mungkin … gigitan nyamuk."
Tentu saja aku bertanya bukan karena tidak tahu, justru sebaliknya, aku sangat memahami semuanya.
Namun, aku menjaga ekspresiku tetap tenang dan mengangguk pelan.
Kemal selalu berusaha menebus setelah berbuat salah.
Kali ini juga begitu.
Dia memberiku gaun, lalu bilang akan mengajakku menghadiri pesta.
Pernikahan kami memang dirahasiakan, dan sejak aku menjadi pincang, dia tidak pernah membawaku ke acara mana pun.
Saat itulah Yessy muncul.
Tubuhnya indah, wajahnya cantik, dan dia lulusan universitas ternama.
Aku pernah mendengar Kemal berbincang dengan temannya.
Dia berkata.
"Membawa wanita seperti Yessy membuatku bangga, nggak seperti Nissa, sudah tua, pincang lagi."
Agar tidak menimbulkan masalah sebelum bercerai, aku tetap setuju untuk ikut.
Di pesta itu, sering kali Yessy dan teman-temannya melirik ke arah kami.
Akhirnya, salah satu dari mereka tidak tahan dan menghampiri Kemal untuk bertanya.
"Dengar-dengar kamu sedang mendekati Yessy, benarkah?"
Mendengar itu, Kemal melirikku, lalu setelah hening sejenak dia menjawab.
"Ya."
Aku menoleh, tiba-tiba perutku terasa agak nyeri.
Mereka menunjuk ke arahku, lalu bertanya dengan bingung.
"Kalau begitu, siapa dia?"
Saat Kemal tidak tahu harus menjawab apa, Yessy mendekat dan membantunya menjawab.
"Dia ini pembantu di rumah Kak Kemal."
"Kak Kemal sangat baik pada pekerjanya, bahkan sampai diajak ke pesta seperti ini untuk menambah pengalaman."
Lalu dia menoleh ke Kemal sambil tersenyum.
"Benar, 'kan?"
Mendengar itu, Kemal seperti merasa lega dan langsung mengiyakan.
"Ya, Yessy benar."
Teman-teman wanitanya merasa telah membantu Yessy menjaga situasi, kemudian pergi dengan puas.
Setelah mereka semua pergi, Yessy segera memegang tanganku sambil menjelaskan.
"Kak Nissa, jangan marah, ya."
"Aku yang minta Kak Kemal berpura-pura, kalau nggak, mereka akan mengenalkanku pada pria lain lagi. Repot sekali!"
Melihatku diam saja, Kemal mulai terlihat tidak senang.
"Nissa! Sudah dibilang ini hanya pura-pura, jangan terlalu kecil hati!"
Dulu, aku pasti akan membuat keributan besar dan membuat semua orang tidak nyaman.
Namun sekarang, aku tidak terlalu peduli.
Aku hanya berkata, "Aku nggak marah."
Rasa tidak nyaman di perutku makin parah. Aku memegang perutku, kesakitan hingga tidak bisa berdiri tegak.
"Kemal, bisa nggak ... kamu antar aku pulang duluan?"
Mendengar itu, Kemal mendecakkan lidah dengan tidak sabar.
"Cukup, Nissa! Ini yang kamu bilang nggak marah?"
"Jangan berpura-pura di depanku! Sampai pesta ini selesai, kamu tetap di sini dan jangan pergi ke mana pun!"
Setelah berkata begitu, dia pergi sambil memeluk pinggang Yessy.
Aku bersembunyi di pojok sendirian, menahan rasa sakit yang luar biasa hingga wajahku pucat.
Dengan susah payah, aku menunggu pesta selesai.
Namun kemudian, Yessy bilang anting zamrudnya jatuh ke kolam.
Begitu mendengarnya, Kemal menatapku sambil berkata.
"Aku dan Yessy ada acara lain setelah ini."
"Nissa, kamu saja yang turun ke kolam untuk mencarinya."