Bab 1
Hari pertama kerja, rekan kerja baru terus menyampaikan dia adalah Putri Presdir, membuatnya jadi pusat perhatian dan semua orang menjilatnya!
Dan aku, difitnah mereka selingkuhan dari pria tua!
Aku dengan kesel telepon ke Presdir.
“Ayah, mereka bilang kamu pria tua, dan ada selingkuhan......”
Setelah lulus, ayah tidak urus aku lagi, dia langsung memasukkan aku ke bagian dasar perusahaan.
Dengan alasan untuk melatih kemampuan dan mengasah tekad.
Dari luar aku kelihatan mengeluh terus, tetapi dalam hati sangat ingin mandiri.
Tapi di hari pertama kerja, aku sudah mendengar semua orang lagi gosipan, “Dengar-dengar putri Pak Sujono ada di dalam kumpulan magang ini.”
“Pak Sujono terlalu tidak perhatian, seharusnya mengatur putrinya mulai dari posisi manajer nggak sih?
Aku sedikit terkejut, informasi ini siapa yang sebarin?
Untungnya, mereka asal tebak aja dan nggak ada hasilnya langsung alih topik.
Di saat pertemuan anak magang, seorang perempuan yang datang telat memperkenalkan diirinya: “Halo semuanya, Aku Chelsia Sujono.”
“Chelsia Sujono...Jangan-jangan kamu adalah putrinya Pak Sujono?” Orang di sampingnya terkejut sampai menutup mulut.
Mendengar itu, ruang meeting jadi heboh.
Soalnya Chelsia dari atas sampai bawah memakai barang branded, jam tangannya adalah model terbaru Catier Balon Biru.
Gayanya seperti seorang putri kaya.
Chelsia menunduk kepala dan senyum, menjawab di luar topik, “Ayah selalu mengajarku untuk rendah hati, datang ke perusahaan juga untuk mewujudkan harapannya.”
“Orang yang dilahirkan di keluarga kaya memang lain, lihat auranya sangat berbeda!”
“Chelsia, nanti kalau magang sudah selesai jangan lupakan kami semua ya.”
Aku shock sampai nggak bisa berkata-kata.
Aku bukannya putri tunggal? Sejak kapan ayah punya putri lagi?
Semuanya bisa salah orang juga hal yang wajar, aku ikut marga ibu marga Vania, dan Chelsia Sujono adalah satu-satunya di anak magang sini marga Sujono.
Sudah pasti jadi pusat perhatian semua orang.
Aku lihat dia senyum dengan sangat senang, jadi tidak buru-buru untuk membongkarnya.
Manajer departemen datang, suasana heboh tadi mulai berhenti.
Tapi tidak tahu kenapa, aku bisa merasakan sikap manajer sama Chelsia berbeda dengan yang lain.
Dia langsung aturin Chelsia jadi kepala anak magang, semua pengaturan ataupun persiapan perusahaan akan disampaikan oleh dia ke kami.
Aku sangat tidak terima atas penetapan langsung ini.
Jadi langsung kutanya: “Aku rasa harusnya lebih adil, baiknya biarkan kami voting untuk tetapkan.”
“Perusahaan nggak ada gitu banyak waktu untuk kalian voting, CVnya Chelsia di antara kalian adalah yang terbagus, jadi dia emang layak untuk mengurus ini.”
Alasan manajer benaran membuatku ingin ketawa.
Karena semalam, Ayah bilang: “Dalam semua anak magang ini, pengalaman kerjamu yang paling bagus, Ayah percaya kamu pasti akan bersinar.
Mendengar alasan manajer yang ngasal, aku tidak langsung membantahnya, sama seperti aku tidak langsung membongkar status palsu putri kaya Chelsia.
Ada beberapa kebohongan, harus tunggu sampai tidak bisa di lanjutin lagi baru seru.
Aku benaran mau lihat, apa keunggulan dari si Chelsia Sujono.
Belum tunggu aku melihat tampilannya, aku sudah dijadikan sasaran.
Dokumen yang setinggi setengah orang menumpuk di mejaku, Chelsia dengan sangat sombong bilang: “Semua ini harus diurutkan sesuai waktunya dan jadikan file, sebelum besok pagi kirim ke emailku.”
Sebelum pergi, dia bilang lagi: “Nanti bantu buatin kopi.”
Ucapannya penuh dengan kesan perintah, aku benaran kesal.
“Kamu nggak bisa buat sendiri?”
Ayah aja nggak pernah minum kopi buatanku.
“Kan hal yang mudah, sesama rekan ngapain perhitungan?” Rekan kerja Fany mengungkapkan ketidakpuasnya.
“Iya, buatin kopi doang, hal yang sangat mudah pun.”
Ucapan mereka serasa aku yang terlalu kelewatan.
Aku mengasih cangkirnya ke tangan Fany, “Kalau gitu repotin kamu ya.”
Siapa yang melayani pergi aja!”
Muka Fany langsung berubah, “Dinda Vania apa maksudmu ini, hari pertama kerja sudah mau cari gara-gara?”
Aku belum lagi bicara, Chelsia langsung bilang,
“Semua salahku, harusnya tidak meminta Dinda buatin kopi. Semuanya jangan karena aku jadi musuhan.”
Dia malah yang duluan merasa tersakiti.
Aku benaran bukan bermasalah sama buatin kopi ini, cuman tidak suka dengan ucapan mereka yang merendahkan dan penuh dengan kesan perintah.
Fany mengibas angin dengan tangannya sambil menatap dengan marah bilang: “Hal kecil ini aja nggak mau buatin, benaran heran gimana kamu masuk perusahaan.”
“Aku masuk perusahaan, bukan untuk menyajikan kopi dan air.” Aku tidak bisa menahan diri dan membalasnya.
“Kamu...”
“Gini saja, aku wakilin Dinda traktir semuanya minum kopi, semuanya balik ke tempat masing-masing lanjut kerja!”
Habis ngomong itu, Chelsia datang ke depanku, “Dinda, jangan marah sama aku lagi oke?”
Mendengar ucapan dia yang manja sangat membuatku mual.
Jadi, aku melepaskan tangannya dan pergi. Rasa kesalku tidak bisa kulampiaskan.
Orang ini kok bisa pandai kali berpura-pura?
Aku benaran nggak menduga, saat balik dari atap gedung tak sengaja di tangga melihat hubungan gelap Chelsia Sujono dan manajer.
Bab 2
“Itu si Dinda Vania benaran menyebalkan sekali. Tadi pagi tidak setuju aku jadi ketua, barusan menantang aku lagi.”
“Ada hal begitu?”
Manajer memegang pinggangnya Chelsia, memojokkan seluruh tubuhnya ke sudut yang gelap.
“Hal ini kasih aja ke aku, akan kubuat dia tidak bisa bertahan sampai selesai magang.”
Selanjutnya, di ruang tangga yang sunyi terdengarlah suara manja yang sangat nggak enak didengar.
Seketika aku merinding, tapi merasa lucu lagi.
Aku benaran mau lihat, gimana cara mereka membuatku tidak bisa tahan sampai selesai magang.
Benaran, esok paginya aku di panggil ke ruang manajer.
“Dokumen yang kemarin suruh kamu kerjain kenapa belum dikumpul? Pekerjaan dasar aja tidak bisa selesaikan, kamu tidak perlu lanjut di sini lagi.”
Aku kira dia bisa pakai trik apaan.
Ternyata gini doang.
Aku dengan tenang melihat manajer, “Chelsia yang lapor ke anda?”
“Dia lapor dengan jujur, aku juga mengurusnya dengan adil.”
Aku pengen ketawa, bagus sekali mengurusnya dengan adil!
“Dokumen itu semuanya adalah data kasus 15 tahun yang lalu, website perusahaan sudah ada dokumentasi, cari saja langsung tahu, tidak perlu dokumentasi ulang.
“Aku menepuk tanganku dan nanya balik: “Apa jangan-jangan anda nggak pernah melihat website perusahaan?”
“Aku, aku tentu melihatnya!”
Tak disangkanya aku sudah ada persiapan, muka manajer langsung kelihatan sedang menahan emosinya, “aku hanya lagi menguji sikapmu!”
Meskipun menderita juga harus menjaga harga dirinya.
Tentu, aku tidak lanjut berdebat lagi dengannya, soalnya aku masih magang, harus melakukan hasil yang bagus untuk membuktikan kemampuanku.
Manajer batuk pelan dan berkata: “Aku dengar kemarin kamu ada perselisihan dengan rekan kerja?”
“Aku tahu kamu tidak terima pengaturanku, tapi masuk ke dunia kerja tidak semuanya akan lancar saja. Kamu masih terlalu muda, kedepannya masih harus banyak belajar.
Kalau tidak tahu hubungan gelap manajer sama Chelsia, aku akan kira dia benaran untuk kebaikanku.
Keluar dari ruang manajer, aku menuju ke tempat kerjaku, dari nggak jauh sudah melihat banyak orang di tempatku.
Setelah Fany melihatku, dengan keras dia berteriak, “Ada sebagaian orang benaran nggak tahu malu, di luar pura-pura sok suci, sebenarnya melakukan hal yang sangat kotor!”
“Fany, jangan bilang begitu, kita semuanya adalah rekan kerja. Mungkin Dinda hanya penasaran, makanya ambil untuk lihat.”
Chelsia maju dan menarik tangannya dengan muka yang sangat sedih dan tersakiti.
“Kenapa? Jadi pencuri tidak bisa dibilangin? Benaran lucu sekali!”
Ada apaan lagi ini?
Aku mengerutkan dahi, menyingkirkan orang-orang yang melihat untuk melihat.
Fany tidak mau mengampunnya, “Dinda, kamu mencuri jam tangan Catier Chelsia, kamu masih beraninya duduk di sini?”
Gerakanku terhenti sebentar, lemari rumahku ada sederet Catier, aku bahkan nggak pernah melihatnya, untuk apa aku mencurinya?
“Dari mana kamu lihat aku mencuri? Kalau nggak ada bukti jangan bicara sembarangan!”
“Kalau gitu kamu buka lacimu untuk kami lihat!”
Chelsia maju, “Dinda, kalau kamu suka jam tangan itu, aku bisa beli yang baru untukmu, tapi itu adalah kenangan yang diberi ibuku, bagiku itu sangat penting.”
Mereka dua bekerjasama, benaran mau membuktikan aku adalah pencurinya.
Aku ada firasat, barangnya ada di laciku.
Kalau nggak, Fany nggak mungkin beraninya suruh semua orang jadi saksi!
Laci di semua tempat kerja dikunci, dengan hubungan Chelsia dan manajer, mau mengambil kunci cadangannya adalah hal yang gampang.
Sepertinya melihat keraguanku, Fany makin sombong, “Kenapa? Cemas? Pencuri!”
Aku melihat di kamera kecil yang ada di atasku tertawa dingin, “Siapa yang curi, dia tau sendiri!”
Aku membuka lacinya, benaran di dalamnya ada Catier Balon Biru.
Tapi di luar dugaanku adalah, aku melihat sisi dalamnya ada ukiran huruf yang kecil.
DV, adalah singkatan dari namaku.
Bab 3
Fany tidak memberi waktu untuk aku respons, langsung mengambil jam tangannya, “Chelsia coba kamu lihat, ini jam tanganmu yang hilang bukan?”
“Benar, ini jam tangan pemberian ibuku. Dinda, ini kenapa bisa ada di dalam lacimu?”
Chelsia dengan mata yang merah melihatku, wajahnya yang menyedihkan membuat semua orang menenangkannya.
Aku benaran shock kali!
“Jam tanganmu? Dalamnya terukir namaku?
Dengar itu, semuanya terbengong, pada pergi melihat ukiran nama tersebut.
Setengah bulan yang lalu adalah ulang tahunku, teman sekolahku yang fake demi menjilatku, sengaja membuatin jam tangan ini.
Hanya saja model yang sama di rumahku terlalu banyak, jadi aku menjual jam tangan itu dengan harga murah di aplikasi.
Aku masih ingat, keesokan harinya datang seorang pembeli. Tetapi dia nego lama sekali, aku sudah capek, jadi kubulatin nominalnya.
Tapi nggak ku sangka, orangnya adalah Chelsia.
“Siapa yang bilang DV itu adalah namamu? Benaran sangat konyol!”
Fany menyilangkan tangannya di depan dada, “Jangan alihkan topik, kamu curi jam tangannya Chelsia, sekarang bukti dan saksi ada semuanya, apa lagi yang mau kamu katakan?”
“Tidak ada yang mau aku katakan, lihat CCTV aja, setiap ruang kantor ada CCTV, apa kalian nggak tahu?”
Melihat ekspresi mereka, benaran nggak tahu.
“Mau nggak aku bantu kalian lapor polisi, biar polisi bantu lihat siapa pencuri yang sebenarnya? Sambil ngomong, aku ambil handphone, Fany yang di depanku wajahnya jadi pucat.
“Apa yang terjadi, baru pagi aja sudah berisik kali!”
Di saat ini, manajer datang, Chelsia dengan sedih berkata padaku.
“Mungkin ada yang salah letak, maaf sudah menyalahkanmu. Dinda kamu hati besar, jangan marah lagi ya?”
Dia yang duluan mencari masalah, sekarang malah dengan muka sedih membujukku?
Beli jam tangan second aja sudah merasa sendiri superior.
Aku dengus dingin saja, tidak mau perhitungan dengan mereka.
Tapi, masalah ini membuat aku dan Chelsia jadi musuhan.
Hari kedua, malamnya perlu lembur, Chelsia ambil daftar anak magang untuk pesanin makanan.
Di saat pembagian makanan, semua orang kedapat, hanya aku yang nggak ada.
“Aku pesan sesuai daftar nama 13 orang, kenapa bisa kurang?” Melihat mukanya yang cemas, aku merasa sangat palsu.
Namaku ada di bagian tengah, depan dan belakang daftar nama nggak kurang, kenapa hanya kurang bagian ku?
“Gini aja, aku bantu pesanin lagi?” Sambil ngomong dia sudah mengeluarkan handphonenya.
“Aiyo, sampai di sini mau jam 7, tapi kita sudah mau meeting.”
Aku senyum dingin, trik yang sangat kekanak-kanakan ini cuman dia yang bisa melakukannya!
“Gampang saja, siapa yang bersalah siapa yang tanggung jawab, makananmu kasih ke aku aja.”
Cuman bilang aja, aku benaran nggak butuh makanan dia.
Tetapi belum tunggu jawaban Chelsia, Fany dengan sinis bilang: “Kamu nggak tahu malu ya? Sebelumnya mencuri jam tangan Chelsia, sekarang mau rebut nasi Chelsia lagi?”
Suaranya keras, jadi semuanya melihatku dengan pandangan yang aneh.
Aku senyum dingin, “Pertama, aku tidak pernah mencuri jam tangan, ada CCTV sebagai buktinya, kalau kamu mau periksa dengan jelas, aku akan temanin. Kedua, matamu yang mana lihat aku rebut nasinya?”
Dia tidak menyangka aku bisa membantahnya dengan gitu, seketika terbengong.
Chelsia datang untuk menenangkan, “Dinda kamu jangan berpikir gitu, Fany hanya bicaranya lebih langsung, tidak ada maksud yang lain.”
Aku melihat bibir muka mereka yang palsu kali, mengambil dokumen langsung masuk ruang meeting.
Lebih tidak melihat daripada kesel.
Meetingnya sampai jam 9, aku sudah lapar sampai mataku berbintang.
Di waktu kosong chat ke ibuku.
“Aku mau makan ayam kecap, udang tumis, daging asam manis.. dan dua nasi!”
Sampai pulang kerja, sudah mau jam 12 malam.
Semuanya sudah capek lelah, tidak berbicara dan bersamaan jalan ke luar.
Tetapi, mobil hitam Bent di depan perusahaan menarik perhatian semua orang.
“Chelsia, ini mobil rumahmu? Ayahmu baik kali samamu, pasti khawatir kamu pulang malam, menyuruh orang datang untuk menjemputmu.”
Chelsia senyum-senyum, “Enggaklah...”
Aku nggak bicara, melihat supir turun dan melambaikan tangannya ke arahku, baru aku maju ke depan.
“Apaan ini? Kenapa dia naik ke mobil itu?”
Sebelum naik, aku mendengar omongan Fany.
Aku malas melihatnya, menyuruh supir untuk jalan saja.
Pulang ke rumah, melihat meja penuh dengan makanan, aku langsung melupakan semuanya dan fokus makan.
Ayah ikut masuk, pas ada waktu, sekalian nanya aku gimana rasanya 2 hari ini kerja.
Gerakan aku memakan ayam berhenti, kata-kata yang sudah sampai di mulut kutahan.
“Enggak kok, baik-baik aja semuanya, Ayah tunggu aja kejutan besar dari aku!”
Trik Chelsia yang kekanak-kanakan itu, tidak perlu gangguin Ayah.
Aku mau tunggu sampai saatnya, sampai Chelsia tidak bisa melanjutkan kebohongannya lagi!
Sekarang membongkar mereka, terlalu cepat.