Bab 1

Aku sudah mencintai suamiku selama lima tahun, tapi tidak pernah mendapatkan balasan apa pun darinya.

Hari pertama aku meninggal, suamiku langsung pergi mencari cinta pertamanya.

Diwaktu aku hilang, dia hanya berkata dengan senyum cemooh, "Onar apalagi?"

Saat dia mengangkat telepon untuk pergi memastikan aku sudah meninggal atau belum, dia kira bisa mengungkapkan kebohonganku.

Tapi dia tidak tahu kalau aku sudah meninggal beberapa hari.

"Tik tak ... tik tak, trang!"

Ini sudah pagi.

Aku menatap ke arah kue berwarna biru yang sudah meleleh di atas meja. Satu-satunya lilin di atas kue itu sudah padam.

Aku merayakan ulang tahun ke-25 tanpa ditemani siapa pun.

Aku berjalan perlahan ke samping meja sambil menatap kue yang belum tersentuh. Aku mengambil kue itu sedikit dengan terlunjuk, lalu memakannya.

"Selamat ulang tahun." Aku memberi ucapan selamat pada diri sendiri.

Setelah itu, aku membuang kue itu ke tong sampah tanpa ragu.

Hari sudah larut, Erino pulang.

Ketika melihat Erino muncul dari pintu, aku berkata, "Kamu sudah pulang, ya."

Tatapan Erino sangat dingin kepadaku. Pria itu berkata sambil mengernyit, "Selain minum anggur, apa kamu nggak ada kegiatan lain yang lebih berguna?"

Sambil menggoyangkan gelas, aku menjawab dengan tersenyum, "Minum anggur berguna, kok."

Aku menghampiri Erino dengan langkah terhuyung-huyung. "Minum anggur sangat berguna. Ayo, kamu juga minumlah ...." Aku mendekatkan gelas ke bibir Erino. Sambil menatapnya, aku berkata, "Ayo, coba minum!"

Erino menyipitkan mata. Dia menepis tanganku dan berkata, "Lebih baik kamu tidur."

Kekuatan Erino sangat besar sehingga aku hampir jatuh ke lantai dan anggur dalam gelasku juga tumpah sebagian.

Guncangan itu membuatku teringat sesuatu. Aku menaruh gelas, lalu berbalik dan tersenyum kepada Erino.

"Aku ulang tahun hari ini."

Mendengar itu, Erino terkejut, tetapi kemudian tatapannya kembali ke semula.

"Ini hari ulang tahunku, harus ada hadiah." Aku berkata sambil menghela napas, "Karena kamu nggak memberiku hadiah, aku saja yang memberimu hadiah."

Sambil berbicara, aku mengeluarkan sebuah dokumen dari laci di samping sofa. Dokumen itu kuserahkan kepada Erino.

"Ini hadiah dariku."

Ketika Erino melihat ternyata dokumen itu adalah surat cerai, dia bertanya sambil mengernyit, "Trik apa yang sedang kamu mainkan?"

"Dulu ayahku yang memaksamu menikahiku. Selama menikah bertahun-tahun denganku, kamu pasti menderita. Bukankah kamu belum bisa melupakan cinta pertamamu? Mulai sekarang, kamu bisa bersamanya lagi."

Aku menyerahkan surat cerai padanya. Sebelum Erino merespons, aku berjinjit dan mencium bibirnya.

Tidak lama kemudian, Erino mendorongku hingga jatuh.

Kali ini, aku merasa sakit saat tubuhku menghantam lantai.

Erino hanya mengernyit, tetapi tidak membantuku berdiri.

Lenganku sakit, tetapi kutahan rasa sakit ini. Aku berkata sambil memejamkan mata, "Rumah tangga kita sudah gagal, sepertinya kita nggak cocok menjadi suami dan istri."

Erino menjawab dengan nada dingin, "Andai dulu kamu berpikir yang sama, kita nggak perlu saling menyakiti seperti sekarang."

"Ini salahku." Aku memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata, "Dosaku ini hanya bisa ditebus dengan kematian."

Erino tersenyum sinis. "Kamu bersedia mati?"

Setelah tertegun beberapa saat, aku menjawab dengan suara pelan, "Kalau aku mati, aku nggak mau mencintaimu lagi di kehidupan selanjutnya."

"Kita lihat nanti setelah kamu mati," ucap Erino. Pria itu mengalihkan pandangannya, kemudian berbalik dan pergi dari rumah.

Pintu dibanting dengan keras.

Erino pergi lagi.

Senyuman mulai sirna dari wajahku. Aku memegang lenganku yang terluka sambil berdiri.

Ternyata Erino masih membenciku.

Aku tersenyum pahit.

Aku duduk di sofa dan mengeluarkan hasil pemeriksaan kesehatan dari laci.

Hal yang paling mengguncang hatiku adalah saat membaca diagnosis kanker stadium akhir pada halaman terakhir.

Aku memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, aku membuka mata dan menyobek hasil pemeriksaan itu.

Sobekan kertas berserakan di lantai. Aku menatap cincin kawin di jari manisku, mengusapnya sebentar, lalu melepaskannya dan meletakkannya di atas meja.

Keesokan paginya.

Aku mengemasi semua barangku dan memasukkan ke dalam mobil. Tanpa sarapan terlebih dulu, aku lebih memilih segera meninggalkan rumah ini.

Aku mengemudikan mobil, perlahan-lahan meninggalkan kota dan menuju ke jalan tol.

Aku membuka jendela mobil. Kurasakan angin yang sejuk dan sinar matahari yang menyilaukan mata.

"Selamat tinggal, Erino."

Aku menyetir ke kanan, kemudian melepas kedua tanganku dari setir dan menginjak gas.

"Brak!"

Mobil menabrak ke tebing di sebelah kanan. Akibatnya, mobil bagian depan rusak parah. Darah segar menetes dari kursi pengemudi.

Aku pun mati, tetapi arwahku masih gentayangan. Awalnya, aku berpikir setelah mati, aku akan berpisah dengan Erino selamanya.

Namun, ternyata arwahku terus mengikutinya.

Di lantai 60 Astro Global.

Arwahku datang ke perusahaan Erino.

Aku melihat sekretarisnya datang ke kantor pagi-pagi. Sekretarisnya membuatkan secangkir kopi dan masuk ke ruangan Erino sambil kuikuti.

"Pak Erino, nanti ada konferensi video dengan Grup Solara pukul setengah 10. Materi rapat sudah saya siapkan di meja."

Erino menjawab sambil memijat dahi, "Ya."

Aku pun tersadar ada sesuatu yang hilang di jari Erino.

Oh ya, cincin kawin!

Erino sudah tidak menggunakan cincin kawin, hanya terlihat bekas merah samar di jarinya.

Benar juga, kami sudah bercerai. Dia tidak perlu memakai cincin kawin lagi. Dadaku terasa sesak. Tidak disangka, orang yang sudah mati, masih merasakan emosi ini.

Bab 2

Setiap menjelang jam makan siang, aku selalu melihat ke arah jam. Selama lima tahun, aku selalu mengantarkan bekal makan siang ke kantor Erino, tetapi hari ini aku tidak datang. Sekretarisnya pasti sudah menebak terjadi sesuatu, jadi dia segera memesankan makan siang untuk Erino.

30 menit kemudian, makanan yang dipesan pun datang.

"Pak Erino, silakan makan."

Brigitta menaruh makanan dan pergi.

Erino masih sibuk dengan pekerjaannya. Tidak terasa 10 menit sudah berlalu.

Erino membuka makanannya. Begitu makan satu suap, dia mengernyit.

Mungkin karena rasa makanan kali ini berbeda dari biasanya.

Dia makan beberapa suap lagi, lalu berhenti makan.

Ponsel di meja tiba-tiba berbunyi. Aku melihat sekilas, ternyata aku tahu siapa yang menelepon. Erino hanya mengangkat telepon, tetapi pandangan matanya masih ke arah dokumen.

"Erino, kamu sudah selesai kerja?"

Erino melirik ke layar ponsel, lalu menjawab dengan tersenyum, "Ya, sebentar lagi."

"Kita makan bersama malam ini, ya."

Sambil membaca dokumen di meja, Erino menjawab lembut, "Baiklah."

Erino mempercepat kerjanya. Setelah pekerjaannya selesai, dia meninggalkan kantor.

Di Hotel Royal.

Terlihat mobil Erino datang dari jauh. Salsa merapikan roknya dan tersenyum sambil menunggu Erino turun dari mobil.

"Erino."

Erino menyerahkan kunci kepada petugas hotel. Setelah itu, dia menghampiri Salsa.

"Kamu sudah menunggu lama?"

Salsa merangkul lengan Erino. Wanita itu menjawab, "Nggak, aku barusan datang."

Erino terlihat tegang, tetapi itu hanya berlangsung sebentar.

Mereka berdua pergi ke Restoran Lumier yang berada di lantai tiga Hotel Royal.

Erino menarik kursi untuk Salsa, dia juga memesankan beberapa makanan yang disukai wanita itu.

Menggelikan sekali. Erino tidak pernah melakukannya untukku.

Setiap kali aku memasak untuknya, aku selalu menatapnya dengan penuh harap agar dia juga melakukan sesuatu untukku. Namun, Erino hanya berkata dengan nada dingin, "Mirna, apa kamu nggak punya harga diri? Jangan buang-buang waktu."

Salsa kelihatan bahagia, senyuman merekah di wajahnya.

Makanan sudah disajikan di meja. Salsa terlihat duduk anggun, bahkan dia juga mengambilkan makanan untuk Erino.

Erino menatap wanita itu, kemudian bertanya dengan penuh perhatian, "Apa kamu sudah sehat?"

Pria itu perhatian sekali, sayangnya dia tidak pernah menunjukkan perhatiannya kepadaku.

Salsa mengambil potongan daging sapi. Setelah itu, dia menjawab dengan lembut, "Sudah jauh lebih baik. Hanya sakit lambung, ini penyakit lama. Lambungku nggak akan sakit kalau aku makan tepat waktu."

"Seingatku, dulu waktu sekolah, kamu nggak punya penyakit lambung."

Mendengar itu, Salsa berhenti memotong daging. Wanita itu menatap Erino sambil menahan tawa. "Dulu kamu menjagaku dengan baik, jadi penyakitku nggak kambuh."

Erino bertanya sambil menatap, "Pria itu nggak menjagamu?"

Salsa menaruh pisau. Dia berkata dengan mengernyit, "Kamu menikah dengan Mirna selama lima tahun, aku juga terpaksa menikah dengan pria lain."

"Pada akhirnya, kita sadar bahwa cinta nggak bisa dipaksakan. Kita berdua saling mencintai. Andai Mirna nggak merebutmu, kita sudah menikah selama lima tahun ini."

Benar. Ini semua salahku. Namun, sekarang aku memilih menyerah dan merestui hubungan kalian.

Erino seperti sedang mengingat kembali penderitaannya selama lima tahun ini, ekspresinya langsung muram. "Aku bersalah padamu."

Salsa berdiri dan mendekat ke samping Erino. Salsa membungkuk dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Erino. "Nggak, bukan salahmu. Ini semua karena Mirna dan ayahnya yang memaksamu. Dulu kita bukan siapa-siapa, jadi nggak bisa menolaknya."

Salsa menatap alis Erino, kemudian pandangannya jatuh ke bibir pria itu. Saat itu juga, Salsa mendekat ke bibirnya.

Namun, Erino segera memalingkan kepalanya untuk menghindar dari ciuman Salsa.

Aku jadi penasaran, apa yang sedang Erino pikirkan? Kenapa dia menolak ciuman itu?

Mungkinkah dia masih teringat pesan yang pernah kusampaikan dulu?

"Erino, setelah kita menikah, kamu nggak boleh macam-macam, seperti memeluk dan mencium. Selain denganku, kamu nggak boleh melakukannya dengan wanita lain. Apa kamu mengerti?"

Aku menggelengkan kepala untuk menepis pikiran itu. Mana mungkin Erino peduli dengan kata-kataku.

Salsa terkejut. Sambil menggigit bibir, dia berdiri dengan perasaan kecewa, "Maafkan aku, aku

lupa kalau kamu sudah menikah."

"Kami sudah bercerai."

Erino mengatakannya sambil menyentuh jari manis tanpa dia sadari. Cincin kawin yang dia pakai selama lima tahun sudah dilepas, tetapi masih ada bekas di jarinya.

Salsa terkejut. "Benarkah? Kalian sudah bercerai!"

Aku memperhatikan Salsa berusaha untuk tidak tersenyum.

Erino berdiri, lalu mendudukkan Salsa kembali ke kursi semula dan menjawab, "Ya, kami sudah bercerai."

Salsa menggenggam tangan Erino dengan kedua tangannya. Wanita itu berkata dengan tersenyum lebar, "Baguslah! Erino, akhirnya kamu bisa lepas dari Mirna."

Salsa menarik tangan Erino. "Ini berita bagus. Ayo, kita rayakan bersama."

Erino menjawab dengan cuek, "Bukan berita penting, nggak perlu dirayakan."

"Tentu harus dirayakan!" ucap Salsa sambil tersenyum. "Aku sudah menanti hari ini selama lima tahun. Erino, anggap saja demi aku, mari kita rayakan ...."

Melihat Salsa sangat bahagia, Erino pun ikut pergi dengan Salsa karena tidak mau mengecewakan wanita itu.

Ada sebuah klub malam di lantai delapan Hotel Royal.

Banyak pemuda konglomerat di Kota Amerta suka foya-foya di klub malam itu. Selesai makan bersama, Salsa mengajak Erino naik ke lantai delapan.

Aku mengikuti mereka ke sana. Aku tidak bisa mengendalikan arwahku, padahal aku tidak ingin melihat kemesraan mereka.

Sesampainya di lantai delapan, mereka kebetulan bertemu dengan teman-teman Erino yang sedang minum anggur. Salsa segera mengajak Erino masuk ke ruang privat teman-temannya.

Dari ruang privat, terdengar suara musik yang memekakkan telinga. Salsa sengaja menempelkan dirinya ke tubuh Erino sambil merangkul lengan Erino dengan erat. Sikap Salsa seperti ingin mengumumkan hubungan mereka di depan umum.

Mereka minum bersama teman-temannya tanpa henti, akhirnya Erino mabuk sampai tidak bisa berdiri dengan stabil.

Dalam kondisi mabuk, Erino menyipitkan mata dan melihat ke arah jam tangan sambil bergumam, "Sudah pukul 12 malam, aku harus pulang sekarang."

"Mirna melarangku pulang malam."

Bab 3

"Menyebalkan, dia selalu mengekangku!"

Salsa terus berada di samping sambil mendengarkan gumaman Erino.

Wajah Salsa terlihat muram. Dia merangkul pinggang Erino yang ramping sambil membujuknya, "Erino, kalian sudah bercerai. Nggak ada yang mengekangmu lagi, sekarang kamu boleh minum sampai larut malam."

"Bercerai?" Erino memejamkan mata. Dia berkata sambil tersenyum, "Oh ya, benar, kami sudah cerai. Kami sudah cerai ...."

Benar, kami sudah bercerai. Erino terlihat sangat bahagia. Padahal aku sudah mencintainya bertahun-tahun, tetapi dia tidak mencintaiku sedikit pun.

Dengan terhuyung-huyung, Erino mengambil minuman yang disodorkan. Erino meneguknya langsung hingga mengalir ke lehernya.

Ketika tingkah pria menawan itu, Salsa tampak bingung.

"Sudah, cukup." Salsa menolak tawaran minum dari teman-temannya. "Cukup sampai di sini. Erino sudah mabuk. Aku antar dia pulang."

Setelah itu, Salsa memapah Erino keluar dari ruangan.

Erino mengikuti Salsa keluar ruangan dan naik ke lantai 60 tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Erino, hati-hati." Salsa memapah Erino sampai masuk ke salah satu depan kamar. Salsa membuka pintu kamar sambil berkata, "Ayo, masuklah."

Kejam sekali kalau menyuruhku menyaksikan mereka berdua bercinta di dalam kamar.

Setelah mereka berdua masuk, Salsa membaringkan Erino di tempat tidur. Ketika Salsa membantunya melepas pakaian, Erino tiba-tiba duduk dan mendorongnya dengan tatapan kosong.

Salsa terkejut, lalu bertanya, "Ada apa?"

"Aku tidur di kamar lain." Erino berdiri. Seketika itu juga, dia merasa pusing dan tidak bisa berdiri dengan stabil.

Erino berjalan ke pintu dengan tubuh terhuyung-huyung. Kebetulan sekali, dia bertemu dengan manajer hotel di koridor.

Erino memesan kamar melalui manajer itu. Akhirnya, dia menutup pintu dan pergi ke kamarnya sendirian.

Pria itu benar-benar membuatku bingung. Bukankah selama ini pria itu menantikan bisa bersama dengan cinta pertamanya lagi?

Tatapan mata Salsa perlahan berubah menjadi penuh kebencian.

Salsa bergumam, "Mereka jelas-jelas sudah bercerai, tapi Erino masih setia kepada wanita itu ...."

Esok paginya.

Salsa menyingkirkan rasa kecewanya. Dia merangkul lengan Erino sambil tersenyum lebar. Mereka turun dari lantai 60.

Sampai di lobi hotel, kami bertemu dengan seorang kenalanku.

Di lobi yang mewah itu, banyak orang yang lalu-lalang.

Salsa merangkul lengan Erino sambil menatap kenalanku yang tak jauh dari sana dengan tersenyum.

Kenalanku itu tidak lain adalah Hesti Glora, manajer hotel ini sekaligus sahabatku sejak kecil.

Senang sekali melihat Hesti. Aku ingin mendekatinya dan memberi tahu semua yang terjadi kepadanya, tetapi arwahku menembus tubuhnya.

Aku baru ingat bahwa aku sudah mati. Kenyataan ini membuatku sedih.

Hesti mengenakan seragam hotel berwarna hitam. Dia berdiri tegak sambil memperhatikan sepasang kekasih yang bermesraan dengan tatapan sinis.

Hesti menyindir, "Pak Erino beruntung sekali, punya istri di rumah, tapi juga punya simpanan di luar. Kamu pasti bahagia sekali. Hanya saja, terlalu banyak wanita, nanti kamu sendiri yang kesulitan. Aku penasaran, apa Pak Erino nggak kewalahan?"

Ekspresi Erino terlihat muram, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa.

Salsa berhenti tertawa. Dia maju dan berdiri di depan Erino seperti sedang melindunginya. "Hesti, jangan ikut campur dalam masalah kami bertiga."

"Lima tahun lalu, Mirna menggunakan kekuasaan keluarga untuk memaksa Erino menikahinya. Andai Mirna nggak merebut Erino, aku dan Erino nggak mungkin berpisah. Karena keegoisan Mirna, Erino menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang di Kota Amerta."

Hesti menantang balik. "Jadi bahan ejekan? Yang mana maksudmu? Dia diejek karena menumpang hidup kepada istri atau diejek sebagai suami yang kejam?"

"Diam!" Salsa menatap Hesti dengan marah, lalu berkata, "Aku yang paling mengenal kepribadian Erino. Aku melarang kamu menghina dia!"

"Kamu melarang? Memangnya apa hakmu melarangku? Karena kamu adalah wanita simpanannya?"

Salsa berkata kepada Hesti, "Aku yang mengenal Erino duluan. Mirna yang merusak hubungan kami berdua."

"Benarkah?" Hesti mengejek, "Seingatku, dulu kamu mencampakkan Erino dan pergi dengan pria kaya."

Salsa melirik Erino dengan perasaan berdosa. Salsa segera menjelaskan, "Kalau Mirna nggak merusak hubungan kami, aku nggak mungkin meninggalkan Erino."

"Kamu memutarbalikkan fakta, ya," cibir Hesti.

Lima tahun lamanya, aku sudah sangat baik kepada Erino, tetapi aku tidak mendapatkan perhatian sedikit pun dari pria itu.

Hesti tidak menatap Salsa sama sekali, dia hanya menatap Erino sambil mencibirnya, "Semoga kamu memang nggak mencintai Mirna. Kalau nggak, kamu akan menyesal seumur hidup setelah mengetahui yang sebenarnya."

Sahabatku sangat melindungiku. Aku teringat betapa sedihnya Hesti ketika melihat jasadku di rumah sakit. Aku ingin sekali memberitahunya, tidak perlu buang-buang waktu menjelaskan kepada pria itu karena pria itu tidak akan peduli.

Saat ini, Hesti terlihat ingin membunuh mereka berdua.

Aku paham dengan kebencian yang dirasakan Hesti. Hesti pasti membenciku karena mencintai pria seperti Erino, dia juga membenci Erino yang tidak tahu diri.

Sambil menatap dingin ke arah Hesti, Erino menjawab dengan tegas, "Aku nggak mencintainya."

Hesti tertawa sinis. "Ingat terus kata-katamu barusan. Kalau nggak, kamu akan menyesal seumur hidup."

Setelah mengatakan itu, Hesti berbalik dan pergi.

Sebelum pergi ke kantor, Erino mengantarkan Salsa dulu ke rumah.

Sesampainya di kantor, Erino sibuk dengan pekerjaannya seperti biasa.

Setelah mabuk semalam, Erino merasa sakit kepala. Selesai rapat, dia istirahat sebentar. Erino menyuruh sekretarisnya membuatkan kopi untuknya.

Sambil menunggu kopi, Erino memeriksa ponselnya yang tidak berbunyi sejak semalam.

Aku mendekatinya dan mengintip isi ponselnya. Ada pesan dari Salsa, wanita itu mengajak Erino makan bersama malam ini. Namun, Erino menolaknya dengan alasan dia sibuk malam ini.

Setelah membalas pesan dari Salsa, Erino memeriksa semua pesan masuk dan riwayat panggilan masuk. Apa yang sebenarnya Erino cari? Siapa yang dia tunggu?

Erino hanya menunduk dan terdiam. Pada saat yang bersamaan, Brigitta masuk sambil membawa secangkir kopi.

"Pak Erino, ini kopi Anda."

"Ya." Erino menatap ponselnya sebentar, kemudian dia menoleh ke arah Brigitta dan bertanya, "Apa Mirna menghubungiku?"

Kalau Cinta, Pasti Sayang

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya