Bab 1

"Tidak, tiga terlalu banyak, aku bakal kapok..."

Dua teman sekelas kakakku dari sekolah khusus olahraga mengangkat kakiku, satu di kiri dan satu di kanan, lalu menggantungku di udara, mereka meremas bokongku yang montok.

Ada teman lainnya di depanku, suaranya agak serak.

"Gadis lemah sepertimu harus dilatih dengan keras."

Sambil berkata demikian, dia merobek celana dalamku yang sudah basah...

Namaku Sherly Lewis. Orang tuaku meninggal muda, aku tumbuh besar bersama kakakku.

Meski kami tidak punya orang tua dan sangat miskin, untungnya kakakku sangat menyayangiku.

Selain itu, aku juga punya pacar yang tampan.

Kupikir aku akan terus berbahagia selamanya.

Tanpa diduga, setengah tahun yang lalu, pacarku mengalami kecelakaan mobil dan menjadi lumpuh dari pinggang ke bawah, menghancurkan kehidupan kami yang damai dan indah.

Pacarku juga yatim piatu, tidak ada yang merawatnya, jadi aku harus putus sekolah untuk merawatnya.

Namun, seiring berjalannya waktu, hatiku mulai berdebar-debar, bukan karena aku malas merawatnya.

Umurku belum genap dua puluh tahun, ini merupakan umur ketika hasrat sedang berkembang pesat, perasaan kesepian dalam jangka waktu lama sungguh tak tertahankan.

Aku hanya bisa mengandalkan beberapa mainan kecil sepanjang malam.

Hari itu, setelah menyuap pacarku makan malam, aku kembali ke kamar, menyalakan ponselku, menonton film di ponsel dan mulai melakukannya.

Ada adegan di mataku dan berfantasi di dalam pikiranku, aku tak menahan diri mengerang lembut seperti yang di dalam video itu.

Tepat saat hendak mencapai puncak kesenangan, aku mendengar suara pintu terbuka di luar ruang tamu, aku terkejut dan langsung berhenti.

Bukankah Kakak bilang dia akan menginap di rumah temannya malam ini? Kenapa dia tiba-tiba kembali?

Aku merapikan diri dan keluar.

Ada tiga cowok berdiri di samping Kakak.

"Kamu Sherly, 'kan? Aku Kak Pandu Setya."

Salah satunya menghampiriku dan menyapa. Sebelum aku sempat menjawab, dia mengulurkan tangan dan bersalaman denganku.

Telapak tangannya sangat besar dan menggenggam erat tanganku yang kecil, aku langsung tersipu.

"Mereka itu Wilson dan Lianto. Kami bertiga adalah teman sekelas kakakmu."

"Halo, Sherly."

Dua cowok di belakang juga menyapaku dengan sopan.

Ternyata mereka teman sekelas kakakku.

Ketiga kakak ini memang pantas menjadi siswa sekolah khusus olahraga. Mereka semua tinggi dan kuat, dengan bahu lebar dan pinggang ramping, mereka memiliki bentuk tubuh yang menakjubkan.

Kalau bukan mengenakan seragam sekolah, mungkin orang lain akan mengira mereka itu pelatih kebugaran.

Aku tidak menahan diri untuk melirik mereka, 'Entah seberapa kuat sosok mereka saat menanggalkan seragam sekolah.'

Aku mendongak dan mendapati mereka tengah menatapku sambil tersenyum, tatapan mereka seakan-akan bisa melihat apa yang ada dalam pikiranku.

Aku merasa sangat malu dan ingin menyembunyikan diri, aku segera berkata, "Kakak, silakan duduk. Aku akan siapkan buah untuk kalian."

Setelah berkata demikian, aku bergegas ke dapur, menyalakan keran dan membasuh mukaku dengan kuat.

Mereka sudah duduk sambil mengobrol di meja makan.

Aku bawakan beberapa buah dan meminta kakak untuk mengobrol dengan mereka, aku mau kembali ke kamarku dulu.

Tepat saat aku hendak pergi, Kakak menghentikanku.

"Sherly, ada mata kuliah pilihan di sekolah yang disebut anatomi manusia, bisakah kamu menjadi objek kami! Kami harus mengerjakan tugas terakhir."

"Kalau nggak selesai, kami akan mendapat nilai rendah, guru nggak akan mengizinkan kami lulus."

Kakak menatapku dengan serius.

Aku mengerutkan kening dan mendorong Kakak dengan tidak puas.

Bagaimana dia bisa mendapatkan ide fantastis untuk menggunakan adiknya sendiri sebagai objek penelitian!

"Aku ini cewek, gimana bisa menjadi objek buat kalian?"

"Baik cowok maupun cewek, kami harus lakukan keduanya, yang cowok sudah selesai."

Aku tetap merasa itu tidak pantas dan hendak menolaknya, tetapi ketika berbalik, aku melihat Kak Wilson menatapku dengan tatapan memohon.

Meskipun dia tinggi dan tampan, dia tidak terlihat seperti atlet pada umumnya. Sebaliknya, dia tampak sangat lembut.

Dia terlihat sangat muda dan kekanak-kanakan, terutama saat tersenyum, dia terlihat sedikit malu-malu dan memiliki dua lesung pipit di pipinya yang putih.

Dengan ekspresi semanis itu, mustahil bagiku untuk menolak.

Bab 2

Selesai mencuci muka, aku hendak berganti pakaian yang lebih tertutup.

Kakakku langsung masuk bersama temannya.

"Sherly, apa kamu sudah siap? Penelitian akan segera dimulai!"

"Belum, tunggu sebentar!"

Tinggi mereka bertiga lebih dari 1.8 meter. Kalau aku duduk, wajahku kebetulan menghadap...

Aku menghindar dengan malu-malu, tapi ditahan Kak Pandu.

"Sherly, berbaringlah, kita akan segera mulai."

Dia begitu kuat sehingga aku tidak bisa menolak dan terpaksa berbaring.

Mereka berdiskusi secara formal dan akhirnya membagi pekerjaan. Kak Wilson mengamati tubuh bagian atas, Kak Lianto bertanggung jawab atas tubuh bagian bawah, Kak Pandu bertanggung jawab atas fitur wajah, Kakak bertanggung jawab untuk mencatat data.

Pertama-tama, Kak Wilson yang bertindak. Dia duduk di samping ranjang dan memulai dari tanganku, menyentuh sampai ke tulang selangka, menekan sana sini. Sambil menekan dia bertanya padaku tentang kekuatan dan kepekaan?

Aku merasa aneh, tetapi matanya yang hitam cemerlang tampak jernih tanpa niat jahat apa pun, dia tampak sangat suka belajar.

Sampai dia menekan perut bawahku dan bertanya, "Sherly, apa kamu merasa nafsu kalau menekan bagian sini?"

Kata-kata cabul macam apa ini? Apa tidak salah?

"A... Apa?"

Kak Wilson tidak menjawab, tapi terus bergerak ke atas. Panas yang menyengat tampaknya menggodaku dan aku merasa tubuhku lemas...

Lagi pula, tangannya menyentuh payudaraku beberapa kali, entah itu sengaja atau tidak.

Tiba-tiba aku mendengar dia menelan ludahnya.

Ketika saling bertatapan dengannya, tatapan agresifnya tak lagi tersembunyi, dia menatapku seperti mangsa.

Aku yakin kalau kakak tampan yang kelihatan lebih kekanak-kanakan daripada cowok muda ini sama sekali tidak sepolos itu.

Aku menoleh ke kakakku, apa benar kakakku membiarkan adiknya dipermainkan oleh teman-temannya?

Tanpa diduga, Kakak mengabaikan tatapanku yang penuh permohonan, aku bahkan tampak melihat kegembiraan di matanya.

Dengan persetujuan kakakku, tindakan Kak Wilson menjadi semakin gegabah dan tidak bermoral.

Mulutku terasa kering, aku segera mengulurkan tangan untuk mendorongnya, "Kak Wilson, su, sudah... selanjutnya."

Dia melepaskanku dengan enggan dan pergi berdiskusi dengan Kakak, sedangkan aku berbaring di ranjang dan menghela napas panjang...

Aku terus menghibur diriku dalam hati, semoga Kak Lianto dan Kak Pandu itu lelaki sejati, bukan serigala seperti Kak Wilson yang pandai menyamar.

Namun, aku masih merasa gelisah dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menarik rokku ke bawah.

Pada saat ini, pintu terbuka lagi.

Kakakku masuk dan membujukku dengan lembut, tapi senyumnya agak aneh.

"Sherly, kamu harus bekerja sama, aku pergi beberes meja makan dulu."

Ah?

Apa dia mau pergi?

Aku baru saja hendak menolak, tapi kakakku sudah berjalan menuju pintu.

Sebelum pergi, dia menepuk pundak Kak Lianto, memberi isyarat untuk melanjutkan.

Pintu kamar tertutup, hanya sisa kami bertiga, aku merasa sangat panik.

Bagaimanapun, aku ini cewek, berada sekamar dengan tiga mahasiswa olahraga yang bersemangat. Akankah mereka...

Aku menarik napas dalam-dalam dan memaksa diri untuk menjernihkan pikiranku dari semua pikiran acak.

Mereka adalah temannya kakak. Lagi pula, kakak dan pacarku ada di sini... Mungkin aku terlalu khawatir?

Selanjutnya giliran Kak Lianto.

Tipe Kak Lianto dan Kak Wilson berbeda. Kak Lianto berwatak dingin dan mengenakan kacamata berbingkai hitam di wajahnya yang tampan, dia tidak mirip seorang olahragawan, tetapi lebih mirip seorang guru atau dokter, dia tampak seperti seorang pria sejati.

Tangannya tidak sehalus tangan Kak Wilson, malah sedikit kasar.

Namun, saat menyentuh kulitku, aku malah merasa nyaman.

Aku tidak merasakan kenikmatan dari pria sejak pacarku lumpuh, tubuhku menjadi sangat sensitif.

Aku merasa agak bersalah dan khawatir akan mempermalukan diri.

Kak Lianto menyadari kegugupanku dan melembutkan gerakannya. "Jangan khawatir, Sherly. Ini proses yang normal dan akan segera berakhir."

Melihat betapa seriusnya dia berbicara, aku pun merasa rileks.

Namun, tangannya semakin tidak jujur, bahkan sampai mencapai pahaku.

Selain itu, tekniknya sama sekali bukan melakukan penelitian, jelas-jelas sedang memanfaatkanku.

Aku panik dan ingin menghentikannya, tetapi dia tiba-tiba menekan bagian sana, kemudian sensasi geli menjalar ke seluruh tubuhku.

Aku mencengkeram seprai erat-erat, reaksi tubuhku membuatku merasa malu.

Bab 3

Aku mengutuk diriku sendiri dalam hati karena begitu tidak tahu malu. Betapapun kesepiannya diriku, mana bisa aku bereaksi terhadap temannya kakak, apa lagi di depan pacar dan kakakku?

Aku mendorong Kak Lianto, tapi dia mengabaikanku dan malah menggunakan kekuatan yang lebih besar.

Kecepatannya secepat pemancangan tiang pancang. Seketika seluruh tubuhku gemetar dan merasakan aliran listrik panas mengalir ke dalam tubuhku... Aku tanpa sadar merapatkan kedua kakiku.

"Nggak, kamu nggak boleh..."

Napasnya jelas tidak teratur, aku segera melepaskannya. Dia perlahan-lahan mengeluarkan tangannya, melihat tanda-tanda di tangannya dan bertanya dengan suara serak,

"Sherly, apa mau nyalakan AC? Sepertinya bagian tubuhmu... basah."

Dia malah mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh dengan wajahnya yang lembut, aku juga menemukan kalau perut bagian bawahnya sangat penuh.

Aku salah perhitungan lagi, dia juga kakak yang tampak serius, tapi sebenarnya penuh niat jahat.

Aku menatapnya dan menggigit bibir bawahku, tapi aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.

Masih sisa Kak Pandu, tapi aku tidak mau lagi menjadi objek penelitian mereka.

Aku berdiri dan ingin pergi, tapi baru saja hendak melangkah, tiba-tiba tubuhku dihadang oleh Kak Pandu, wajah yang agak garang mendadak muncul di hadapanku.

Aku terkejut dan segera berusaha mendorongnya, tapi Kak Pandu justru mencekal tanganku yang gelisah.

Detik berikutnya, sebuah tubuh tinggi menekanku dan aku terjatuh kembali ke ranjang.

"Sherly, kamu nggak patuh, kenapa ingin melarikan diri?" katanya dengan tatapan nakal, "Aku belum siap."

Dia berkata sambil mendekat, wajah tampan itu membesar berkali-kali lipat lagi.

Rasa tertekan yang kuat menyerangku.

Aku agak takut, tiba-tiba aku teringat kakakku pernah bilang kalau Pandu itu seorang tukang bully terkenal di sekolah, tampaknya dia bukan seseorang yang bisa disinggung.

"Aku... aku nggak mau lagi."

Namun, dia bersikap seolah-olah tidak mendengarku dan menatapku tajam.

Matanya begitu gelap hingga aku merasa seperti hendak jatuh ke dalamnya.

Aku ingin melarikan diri, tetapi dia menahanku dan tidak membiarkanku bergerak.

Kami terlalu dekat, napasnya yang panas mengembus ke wajahku, wajahku tersipu lagi...

Jantungku berdebar kencang hingga suara tawa terdengar di telingaku.

"Sherly, apa yang sedang kamu pikirkan?"

"Aku..."

Apa yang sedang aku pikirkan?

Sekarang begitu melihat wajahnya, adegan-adegan dari film itu secara otomatis muncul dalam pikiranku...

"Sherly, sekarang giliran bagian khusus..."

Tanpa menunggu aku bicara atau memberiku kesempatan bereaksi, Kak Pandu mengedipkan mata pada dua orang lainnya.

Mereka tiba-tiba mengangkat kakiku di masing-masing sisi dan menggantungku di udara. Aku kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar meraih salah satu lengan mereka.

Mereka saling tersenyum, aku jadi panik dan segera berteriak, "Jangan, aku adiknya teman kalian."

"Turunkan aku sekarang."

Kak Pandu mencibir dan mendekatiku selangkah demi selangkah dengan tatapan yang membara.

"Aku tahu, Sherly. Justru kakakmu merasa kamu terlalu kesepian, makanya meminta kami untuk merawatmu dengan baik!"

Aku hampir tidak berani percaya, "Mana mungkin?"

Kak Wilson berkata, "Kenapa nggak mungkin? Kakakmu berpesan agar kami tidak bersikap lembut, harus lebih kasar."

Kak Lianto menambahkan dengan nada bercanda, "Benar, kakakmu bilang kamu itu cewek yang sangat genit."

"Sherly, katakan sejujurnya, apa kamu juga ingin diperkosa secara brutal oleh banyak pria?"

Kak Pandu tersenyum meremehkan, kata-kata kasar yang diucapkannya membuatku merasa malu dan terhina.

Kemudian, Kak Wilson dan Kak Lianto mulai meremas bokongku yang montok dan merenggangkan kedua kakiku membentuk lengkungan yang lebih besar. Aku menghadap Kak Pandu dengan posisi yang amat memalukan.

Bibir Kak Pandu kering, lalu menghampiriku dengan penuh semangat, "Hmph, gadis lemah lembut sepertimu harus dilatih dengan keras."

Sambil berkata demikian, dia merobek celana dalamku yang sudah basah...

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B59296" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B59296
Salin

Kakakku Bukan Kakakku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya