Bab 1

Putra tunggal kakakku menderita leukimia akut dan bayi dalam kandunganku menjadi satu-satunya harapan.

Setelah mendengar berita itu, aku langsung kembali ke negara asal dengan kandunganku yang berusia enam bulan untuk menjalani tes kecocokan transplantasi organ.

Kakak mengantarku ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes kecocokan transplantasi organ. Akan tetapi, kakak iparku malah mengira diriku sebagai simpanan kakakku.

Dia memanfaatkan ketidakhadiran kakakku untuk mengunciku di kamar mandi, merobek pakaianku, dan menginjak perutku dengan kakinya sambil mencaci-maki diriku.

"Kamu merayu suamiku! Berani-beraninya kamu mengandung anaknya?"

"Putraku sedang sakit. Kamu buru-buru datang ke sini untuk pamer, 'kan?"

"Nggak ada seorang pun yang boleh merebut suamiku! Hari ini, aku akan menunjukkan kepadamu apa yang akan terjadi pada anak seorang simpanan!"

Sampai akhirnya kakak datang sambil membawa laporan hasil tes kecocokan transplantasi organ yang ternyata cocok, kakak iparku pun akhirnya menjadi hancur ….

Setelah mengetahui jika Dodo, putra kakakku yang berusia lima tahun menderita leukimia, aku pun buru-buru kembali ke negara asal dengan kandunganku yang sudah berusia enam bulan untuk menjalani tes kecocokan transplantasi organ.

Pagi ini, kakak menjemputku dengan mobil untuk mengantarku ke rumah sakit guna mengambil hasil tes kecocokan transplantasi organ. Jika tes kecocokan transplantasi organ ini hasilnya cocok, aku akan langsung dirawat di rumah sakit sampai bayiku lahir dan mendonorkan darah tali pusarnya untuk Dodo.

"Rossa, sejak Dodo sakit, aku dan kakak iparmu nggak bisa tidur nyenyak. Dodo itu segalanya bagi kakak iparmu. Kalau kakak iparmu kehilangan Dodo, dia nggak akan sanggup lagi untuk bertahan hidup."

"Kami benar-benar nggak punya pilihan lagi. Bayi dalam perutmu itu sekarang menjadi satu-satunya harapan untuk Dodo."

Melihat wajah lelah kakakku, aku merasakan kepedihan yang mendalam dan buru-buru memeluknya untuk menghiburnya.

"Jangan khawatir. Aku ini bibi kandung Dodo. Tes kecocokan transplantasi organ ini pasti hasilnya cocok."

Kakak menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Setelah menemukan tempat yang nyaman untukku, kakak seorang diri pergi mengambil hasil tes kecocokan transplantasi organ itu. Aku duduk di lobi untuk beristirahat. Kemudian, suamiku meneleponku untuk menanyakan kabarku. Kami pun mengobrol santai.

"Hmm, aku dan bayinya baik-baik saja."

"Sayang, aku merindukanmu."

"Kamu harus menemaniku saat bayinya lahir …."

Sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, seorang wanita dengan diikuti dua sampai tiga orang wanita langsung mendatangiku dan menjambak rambutku. Rasa sakit seperti tercabik langsung terasa di kulit kepalaku. Agar bayiku tidak terluka, aku hanya bisa mengikuti arah tarikan wanita itu dan melindungi perutku dengan panik.

Wanita itu melemparku ke dalam bilik kamar mandi. Punggungku langsung terbentur dinding. Udara yang dingin dan lembab membuat sekujur tubuhku mati rasa dan perasaan takut mulai menyelimuti hatiku.

Wanita itu terlihat garang. Matanya seperti menyemburkan api saat menatapku.

"Dasar wanita murahan, putraku masih terbaring di ranjang rumah sakit. Kamu pikir kamu itu siapa? Berani-beraninya meminta suamiku menemanimu melahirkan?"

"Dasar wanita jalang, berani-beraninya merayu suamiku. Aku akan memberimu pelajaran."

Merayu apaan? Pria yang mana?

Berhubung sedang hamil, aku tidak menyesuaikan diri setelah kembali ke negara asalku ini. Aku terus berada di hotel dan tidak pernah keluar, kecuali saat melakukan tes kecocokan transplantasi organ ini. Selain itu, aku juga tidak pernah berhubungan dengan pria mana pun.

"Kamu pasti salah orang. Aku nggak mengenalmu."

"Salah orang? Aku melihat suamiku mengantarmu ke rumah sakit dengan mata kepalaku sendiri. Kalian bahkan berani berpelukan di depanku. Kamu sengaja datang ke rumah sakit ini cuma buat pamer, 'kan?" Wanita itu mencibir. "Aku kasih tahu, ya. Aku ini Hera Lingga, istrinya Yogi."

"Nggak ada yang bisa menghancurkan keluargaku!"

Aku terkejut. Yogi itu kakakku. Jika seperti itu, berarti wanita yang bernama Hera di depanku ini adalah kakak iparku.

Tadi, waktu kakakku mengantarku ke sini, kami memang benar-benar terlihat sedikit lebih akrab. Hera pasti tidak sengaja melihatnya. Jadi, ketika kemudian aku menelepon dan didengar oleh Hera, Hera mengira jika aku ini adalah simpanan kakakku dan yang kuajak bicara di telepon itu adalah kakakku. Dengan begitu, terjadilah kesalahpahaman.

Orang-orang di belakang Hera mulai membuat keributan. "Kak Hera, jangan lepaskan wanita murahan ini. Semua simpanan itu pantas mati!"

"Aku bukan simpanan. Aku Rossa Zubir. Aku ini … uhh." Aku mencoba membela diri.

Akan tetapi, sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, bagian belakang lututku sudah ditendang dengan keras. Kedua lututku menghantam lantai dengan begitu kerasnya. Kemudian, seseorang menjambak rambutku dan mendorong masuk kepalaku ke dalam toilet.

Aku tersedak sampai mataku memerah. Otakku berdengung. Perasaan takut tercekik datang menghampiriku. Namun, aku tidak berani berontak kuat-kuat.

Semua itu karena aku takut membahayakan bayiku. Darah tali pusar bayi dalam perutku ini adalah satu-satunya harapan Dodo keponakanku.

Akhirnya, mereka menjambak rambutku dan mengangkatku keluar dari air. Air toilet yang dingin dan bercampur dengan bau busuk membuatku merasa darah di tubuhku hampir membeku.

Aku menarik napas panjang-panjang dengan mulutku.

Namun, sebelum akal sehatku pulih, sebuah tamparan mendarat dengan keras di wajahku. Aku ditampar dengan begitu kerasnya hingga telingaku berdengung dan bibirku pecah, hingga aku merasakan darah di mulutku.

Sejak hamil, aku menjadi begitu berhati-hati. Aku takut akan membahayakan bayi yang kudapatkan dengan susah payah ini. Aku gemetar dan memeluk perutku. Namun, detik berikutnya, Hera menarik tanganku, menaruhnya di toilet dan memukulinya dengan kejam, dengan menggunakan tongkat.

"Ah!" Rasa sakit yang luar biasa membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak menjerit kesakitan.

Hera menatapku dengan garang. "Sakit, ya? Memang sakit. Itu supaya kamu ingat apa akibatnya menjadi wanita simpanan!"

Entah dari mana, Hera mengeluarkan pisau cutter dan mencengkeram daguku. "Sebentar lagi, akan ada yang lebih menyakitkan."

Aku menatap lekat-lekat pisau tajam itu dengan kedua mataku dan menggelengkan kepalaku dengan putus asa.

Ketika aku menyebutkan namaku tadi, Hera sama sekali tidak bereaksi. Jelas, dia benar-benar tidak mengenal nama Rossa. Apa yang harus kulakukan?

Hera perlahan mendekat dengan pisau cutter itu. "Simpanan dan anak simpanan, semuanya harus mati!"

Pada saat itu, terdengar ketukan di pintu dan aku mendengar suara kakakku.

"Rossa, apa kamu di dalam?"

"Kak!" Aku mencoba berteriak.

Bab 2

Sebuah tangan menutup mulutku rapat-rapat. Kata "Kak" berubah menjadi isak tertahan di tenggorokanku.

"Rossa?" Kakakku kembali memanggil. Aku berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suara untuk menarik perhatian kakakku. Namun, kami berada di bilik toilet paling ujung. Beberapa orang membungkamku kuat-kuat sehingga suaraku sama sekali tidak terdengar sampai ke luar pintu.

Setelah beberapa saat, aku mendengar suara langkah kaki kakakku yang pergi menjauh.

"Kak Hera, aku juga nggak menyalahkan wanita murahan ini, yang ingin mendekati Pak Yogi. Pak Yogi baru berusia tiga puluh tahun, tapi sudah mampu membuat perusahaannya menjadi peringkat kelima di negara ini. Selain itu, dia juga tampan dan gagah. Pria sehebat Pak Yogi pasti akan didambakan oleh orang lain."

"Tapi, Kak Hera nggak usah khawatir. Kalian sudah menikah selama lima tahun. Kamulah satu-satunya yang ada di hati Pak Yogi."

Hera mendengus dingin. "Itu sudah pasti."

Hera mencengkeram daguku. "Memang benar. Dulu, aku menjebak Yogi agar aku bisa mengandung anaknya dan dia mau menikahiku. Tapi, itu nggak berarti kamu juga bisa melakukan hal yang sama."

"Putraku adalah segalanya bagiku. Aku nggak akan pernah membiarkan siapa pun mengancam posisi putraku!"

"Nggak ada yang bisa merebut suamiku. Hari ini, akan kutunjukkan kepadamu seperti apa nasib dari anak seorang wanita simpanan!"

Mata Hera memerah dan aku merasa sedikit putus asa.

Kakakku tidak pernah menceritakan kepadaku mengenai kisahnya dan Hera. Kakak hanya mengatakan jika dia sudah menikah, memiliki anak, dan hidup bahagia. Akan tetapi, aku tidak pernah jika ternyata mereka menikah karena anak itu.

Itu sebabnya, Hera menjadi begitu marah ketika melihat perutku dan tidak bisa berpikir jernih.

Dodo sekarang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Hera begitu takut kehilangan kakakku, sehingga ingin menyingkirkan siapa saja yang bisa mengancam posisinya.

Namun, tidak boleh terjadi apa-apa pada anak dalam perutku ini. Aku menatap Hera dengan memelas, memohon kepadanya agar memberiku kesempatan untuk menjelaskan.

Akan tetapi, Hera mendengus dingin. "Untuk siapa kamu menunjukkan wajah memelasmu itu? Para pria mungkin akan merasa iba, tapi nggak denganku!"

Salah seorang anak buahnya menendangku beberapa kali. "Beraninya mengandung anak Pak Yogi. Tapi lihat, apa kamu masih bisa hidup untuk melahirkannya."

Pada titik itu, ponselku tiba-tiba berdering. Layar ponsel menyala dan muncul tulisan di sana, "Andalanku."

Kakakku yang meneleponku.

Kakak pasti cemas karena tidak bisa menemukanku.

Hera mengambil ponselku dan mengangkatnya. Terdengar suara kakakku. "Rossa, kamu ada di mana?"

Wajah Hera langsung berubah dan dia menutup telepon tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Putraku masih terbaring di ranjang rumah sakit, berada di antara hidup dan mati. Tapi, dia benar-benar mencarimu ke seluruh dunia."

Cahaya di mataku langsung padam.

Hera menatapku dengan marah. "Kenapa suamiku yang harus kamu andalkan?"

Hera menggertakkan giginya dan menatapku. "Robek pakaian wanita murahan ini, ambil fotonya, dan unggah ke internet. Aku ingin seluruh dunia tahu bagaimana wanita murahan ini merayu suamiku!"

Aku menggeleng ketakutan. Namun, pisau cutter itu diarahkan kepadaku tanpa ragu. Terdengar suara robekan pakaian yang begitu tajam. Tak lama kemudian, pakaianku yang tipis itu terkoyak dan menggantung begitu saja, tidak lagi bisa menutupi tubuhku.

Rasa malu yang luar biasa menyelimuti sekujur tubuhku. Namun, yang lebih kukhawatirkan adalah anakku, karena perutku yang sedang hamil itu terpampang dengan jelas di depan mereka.

Air mataku mengalir karena putus asa. Akan tetapi, mereka melepaskan tangan yang membungkam mulutku.

Aku buru-buru memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan, "Aku ini adiknya Yogi."

Namun, malah terdengar tawa penuh ejekan.

Aku melanjutkan kata-kataku. "Aku kembali ke negara ini untuk menyelamatkan putramu."

Bab 3

Sebuah kain lap yang kotor dan bau langsung disumpalkan ke mulutku. Aku menatap Hera dengan bingung.

Namun, wajahku malah kembali ditampar. Aku merasa wajahku seperti bergeser dari posisinya karena tamparan ini.

Salah seorang teman Hera yang berada di belakang Hera menatapku dengan tatapan mengejek. "Kamu adiknya Pak Yogi? Apa kamu pantas untuk itu? Adiknya Pak Yogi itu istri CEO perusahaan publik. Lihatlah dirimu!"

Aku memang tidak memakai perhiasan. Bahkan, tidak ada logo apa pun di pakaianku. Itu semua karena aku sedang hamil.

Apakah harus mengenakan merek terkenal di seluruh tubuh untuk menunjukkan siapa dirimu?

Hera menatapku dengan tatapan mengejek. "Adik suamiku selama ini tinggal di luar negeri. Aku nggak pernah dengar Yogi mengatakan adiknya akan kembali ke negara ini. Adik apaan kamu?"

"Kamu nggak akan bilang kalau kamu itu pacar gelap suamiku, 'kan? Dasar wanita kurang ajar!"

Tatapan tajam Hera hampir mencabik-cabik diriku.

Namun, segera saja, aku tidak lagi peduli pada pakaianku yang compang-camping dan rasa sakit yang membakar di wajahku.

Itu semua karena aku melihat Hera menatap tajam pada perutku.

Aku berteriak dalam hati.

Ini adalah anak yang aku dan suamiku harapkan dengan susah payah. Ini juga satu-satunya harapan Dodo. Aku benar-benar berharap Hera tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh.

Aku berharap Hera masih memiliki sedikit hati nurani dan tidak akan menyakiti anakku.

Namun, detik berikutnya, seember air dingin diguyurkan di atas kepalaku.

Air yang sedingin es itu membuatku menggigil dan tatapan mata Hera dipenuhi dengan kebencian.

"Kenapa kamu ikut campur dalam pernikahan yang kupertahankan dengan susah payah ini?"

"Kenapa putraku terbaring di ranjang rumah sakit dalam kondisi kritis, sementara anakmu akan segera lahir?"

"Benar. Bunuh saja anak haram itu!"

"Jangan lepaskan mereka!"

Teman-teman di belakang Hera membuat keributan.

Hera mengambil tongkat pel yang terbuat dari kayu dan memukulkannya ke kepalaku dengan keras.

Aku bisa merasakan darah mengalir di dahiku, bercampur dengan air mataku.

Kain lap di mulutku membuatku tidak bisa menjerit kesakitan dan hanya bisa mengeluarkan isak tangis tertahan.

Aku berteriak dalam hati.

Jangan, jangan sakiti aku lagi!

Jangan sakiti bayiku!

Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangun. Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong dua wanita yang memegangiku. Aku harus melarikan diri.

Aku harus melindungi anakku.

Aku bergegas menuju pintu toilet. Namun, saat aku hampir meraih gagang pintu, salah seorang wanita mendorongku dengan keras.

Perutku membentur wastafel di sampingku.

Rasa sakit yang luar biasa di perut membuatku merasa putus asa. Aku memeluk perutku dengan panik dan air mataku tidak bisa berhenti mengalir.

Jelas-jelas ini adalah rumah sakit. Pada jarak satu pintu, pasti sudah ada dokter di sana. Namun, aku tidak punya kekuatan sedikit pun untuk keluar.

Kakiku gemetar karena kesakitan. Beberapa kali aku mencoba untuk bangun. Akan tetapi, pada akhirnya, aku hanya bisa terjatuh ke lantai dengan keras.

Aku tidak berdaya, layaknya ikan yang sekarat.

Aku menarik kain lap dari mulutku dan menatap Hera. "Tolong, selamatkan bayiku."

Aku merasakan cairan hangat keluar dari bagian bawah tubuhku. Aku tidak berani melihat ke bawah.

Rasa panik, kecewa, dan ketakutan menyelimuti diriku.

Seseorang di belakang Hera menjadi panik. "Kak Hera, darah. Banyak sekali darahnya."

Mereka mundur selangkah. Hera menatapku. Kedua matanya tampak sedingin es dan menakutkan.

"Kenapa panik? Dia sendiri yang menabrak wastafel, apa hubungannya dengan kita?"

"Malah bagus anak haram itu mati. Anak Yogi harus dilahirkan olehku!" kata Hera dengan tegas.

"Itu benar. Semua anak simpanan memang harus mati!" timpal seseorang.

"Semua ini terjadi akibat kesalahan wanita murahan itu sendiri."

Darah terus mengalir keluar, mewarnai lantai dengan warna merah. Mereka menatapku dengan dingin, seakan-akan tengah melihat ikan yang sudah mati.

Mati, bayiku sudah mati.

Dodo juga tidak akan selamat.

Semuanya mati.

Maafkan aku, Kak.

Aku tidak bisa membantumu.

Maafkan aku, Sayang.

Aku tidak bisa melindungi anak kita.

Aku menatap Hera di depanku dan merasa begitu terhina. Hera sangat peduli pada anaknya. Akan tetapi, sekarang dia membunuh anakku dengan tangannya sendiri, sekaligus juga memadamkan satu-satunya harapan hidup bagi anaknya sendiri ….

"Kamu akan menyesal," kataku sambil menggertakkan gigi.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B45041" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B45041
Salin

Kakak Iparku Ratu Iblis

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya