Bab 1

Demi memberi kejutan pada suamiku, aku melepas pakaianku dan bersembunyi di asrama lokasi proyek konstruksinya. Namun tak kusangka, suamiku tidak datang. Yang datang malah tiga rekan kerjanya yang lain.

Mereka tergoda oleh celana dalamku dan malah melampiaskannya pada bibi koki di sana. Karena adegan yang terjadi di hadapanku itu terlalu panas, gairahku pun ikut terpancing. Saat sedang memuaskan diriku, aku tak kuasa mendesah.

Ketiga pria itu pun menoleh ke lemari tempatku bersembunyi secara bersamaan ....

Namaku Linda. Aku sudah menikah. Hari ini adalah ulang tahun suamiku, Wandy. Demi memberinya kejutan, aku datang lebih awal ke asrama proyek konstruksinya.

Setelah menata makanan di piring, aku berencana mengganti pakaian dengan gaun hitam renda tembus pandang yang sudah kupersiapkan. Gaun ini disebut-sebut sebagai "gaun tempur penakluk pria". Bagi diriku yang biasanya konservatif, ini adalah pertama kalinya aku membeli pakaian seperti itu.

Membayangkan bagaimana reaksi Wandy nanti, aku merasa sangat senang. Namun, saat aku baru saja melepas pakaian dan belum sempat mengenakan gaun itu, aku mendengar suara beberapa pria asing berbicara di lorong.

Lho, bukannya Wandy bilang selama libur Hari Buruh, proyek ini sedang libur? Kenapa ada orang?

Belum sempat aku memahami situasinya, mereka sudah mencoba membuka pintu dengan kunci. Dalam kepanikan, aku hanya bisa bersembunyi di dalam lemari. Baru saja aku masuk, pintu sudah terbuka. Kemudian, aku mendengar suara kegembiraan.

"Wow, putih banget!"

Jantungku langsung berdegup kencang. Apakah mereka menemukanku?

"Wah, roti kukus ini putih banget, siapa yang bikin?"

Huh! Ternyata mereka sedang membicarakan makanan yang aku buat. Aku merasa lega, tapi detik berikutnya jantungku kembali berdetak kencang.

"Eh, kenapa di sini ada celana dalam wanita dan ... bra?"

Astaga!

Karena panik tadi, aku lupa menyembunyikan celana dalam dan bra-ku! Aku menahan napas dan membuka sedikit celah lemari untuk melihat situasi di luar. Aku terkejut melihat pemandangan di luar.

Tiga pria bertubuh besar yang bertelanjang dada, sedang berdiri dengan wajah penuh tawa nakal. Mereka memegang celana dalam dan bra-ku. Yang mengejutkan lagi, mereka bahkan memejamkan mata dan mulai mencium aroma dari bra dan celana dalamku!

Melihat mereka seperti orang mesum yang menikmati aromanya, bukannya merasa jijik, aku malah merasa ... aneh. Pria-pria asing itu memegang pakaian dalamku yang masih ada aroma dan jejakku ....

Tiba-tiba, adegan dari film dewasa yang pernah aku tonton muncul di benakku.

Apa jadinya kalau aku bersama tiga pria itu? Pasti sangat menggairahkan. Astaga, apa yang kupikirkan? Aku sudah menikah dengan Wandy yang sangat kucintai. Kenapa aku punya khayalan seperti itu? Aku pasti sudah gila.

Namun, logika itu hanya bertahan sesaat. Pikiran aku kembali dipenuhi oleh pemandangan di depan mata.

Pria-pria itu berkulit gelap, bertubuh kekar, dan otot-otot mereka terlihat jelas. Postur tubuhnya jauh dari tubuh Wandy yang kurus.

Mereka mencium pakaian dalamku dan celana mereka terlihat hampir tidak bisa menahan sesuatu di dalamnya. Ritsleting mereka hampir meledak! Ya ampun, seberapa besarnya benda mereka itu?

Kalau semuanya masuk ....

Hanya memikirkannya saja sudah membuat tenggorokanku terasa kering.

Aku mencoba merapatkan kedua kakiku untuk meredakan rasa tidak nyaman di bagian itu. Namun, semakin aku mencobanya, perasaan itu semakin sulit ditahan. Tubuhku terasa seperti terbakar.

"Hei, menurut kalian, ada perempuan yang bersembunyi di sini, nggak?"

Tiba-tiba salah satu pria itu berbicara dan membuatku terkejut!

Apakah dia tahu? Apakah mereka akan mencariku. Saat ini, aku tidak mengenakan apa pun dan tampak pasrah. Melihat tingkah mereka yang seperti orang mesum tadi, kalau aku sampai ditemukan, aku tahu apa yang akan terjadi.

"Bisa jadi. Mungkin itu istrinya Wandy. Gimanapun, dari kita berempat, cuma dia yang sudah menikah!" kata pria lainnya.

Astaga! Mereka bahkan menebak identitasku!

"Istri Wandy? Hm, jangan salah, dia cantik banget. Aku pernah lihat fotonya di ponsel Wandy!"

"Kulitnya putih, dadanya besar, dan yang paling menarik adalah matanya. Mata bundarnya tampak berkaca-kaca. Dari penampilannya saja, kelihatan dia pasti sangat sulit dipuaskan!"

"Bukan cuma Wandy, bahkan kalau kita bertiga bersama-sama, mungkin juga nggak akan cukup buat dia!"

Bab 2

Saat pandanganku mulai kabur, aku mendengar suara marah yang menggema. "Sialan, nggak tahan lagi, gimana kalau kita cari wanita saja?"

Saat itu, suara pria lain terdengar menjawab, "Hehe, nggak perlu. Kamu lupa ada Bi Karina yang masak untuk kita ....."

"Benar juga, ada Bi Karina. Wanita itu kelihatan montok, pasti luar biasa sekali!"

Setelah berkata demikian, salah satu pria berlari keluar dengan penuh semangat.

Bibi Karina?

Mendengar nama itu, tiba-tiba aku teringat pada seorang wanita paruh baya yang masih memikat. Dia adalah juru masak di proyek konstruksi suamiku dan tinggal di rumah sebelah.

Karina adalah seorang ibu tunggal, anaknya sedang duduk di bangku SMA. Meskipun usianya tidak semuda aku, dia masih memiliki daya tarik tersendiri. Mereka memanggil Karina ke sini sekarang, mungkinkah mereka berniat untuk ....

Memikirkan hal itu, jantungku berdegup kencang.

Benar saja, beberapa menit kemudian, seorang pria datang membawa Karina masuk ke dalam.

"Kenapa kalian dua nyari aku?" Baru saja Karina menanyakan hal ini, langsung terdengar jeritan yang menyusul. Sebab, dia melihat seorang pria yang duduk dengan telanjang.

Baru saja Karina hendak berbalik dan melarikan diri, dia telah dihalangi pria lainnya. Karina merasa agak ketakutan. "Ma ... mau apa kalian?" tanyanya.

"Mau nidurin kamu!"

Bahkan aku saja merasa malu mendengar ucapan seperti itu. Wajah Karina juga tentunya menjadi merah padam. Air matanya juga hampir berlinang.

Namun, dia tetap memberi peringatan dengan suara gemetaran, "Kalian jangan sembarangan. Kalau nggak, aku bakal teriak."

"Bi Karina, teriak saja. Tapi, kalau anak kesayanganmu melihat kondisimu begini, dia bakal mikir gimana? Ibu yang bersusah payah membesarkannya ternyata begitu haus belaian pria."

Pria itu memegang ponsel yang menunjukkan video bahwa Karina sedang telanjang dan memuaskan dirinya dengan mainan orang dewasa. Karina merasa terkejut dan ketakutan. Air matanya telah berderai deras.

"Ka ... kalian sebenarnya mau apa?" tanyanya.

"Berbaring," jawab salah seorang pria sambil melepas sabuk pinggangnya dan menunjuk ke talenan di samping.

Begitu kulihat ... bukankah itu adalah talenan yang tadi kugunakan untuk memotong sayur? Mereka mau melecehkan Karina di atas talenan itu? Liar sekali!

Saat ini, Karina telah menangis tersedu-sedu. Namun, mereka bertiga sama sekali tidak peduli dan malah terus mendesaknya dengan galak.

Karina terpaksa berbaring di papan itu dengan menahan rasa malunya. Detik berikutnya, aku langsung mendengar tawa dari beberapa orang itu. "Lihat, dia nggak pakai apa-apa!"

Aku pun tidak bisa menahan keterkejutanku.

Karina menggigit bibirnya dengan penuh rasa malu dan berkata dengan suara gemetar, "Aku cuma seorang ibu tunggal yang kesepian, tapi aku bukan wanita murahan. Aku nggak sehina itu. Kumohon, jangan perlakukan aku seperti ini."

Salah seorang pria menepuk bokong Karina sambil berkata, "Wanita murahan, kamu masih mau pura-pura? Lihat saja sebasah apa bagian bawahmu ini?"

Mereka merobek pakaian Karina dengan cepat hingga nyaris tidak menutupi tubuhnya. Astaga, apakah ini akan segera dimulai?

Aku ingin sekali keluar dan menyelamatkan Karina, tetapi dengan keadaanku saat ini, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Saat aku bingung dan panik, suara desingan mulai terdengar dari arah talenan dapur. Aku melirik ke sana dan pemandangan yang kulihat sungguh tidak terduga. Mereka bertiga mulai beraksi dengan cara yang kasar dan tidak sopan.

Adegan yang begitu menggetarkan itu membuat pikiranku kosong sejenak. Aku bahkan lupa bahwa Karina mengalami semua ini dalam keadaan terpaksa.

Dalam posisi membungkuk, pikiran liar tiba-tiba terlintas di benakku. Bagaimana kalau yang terbaring di sana adalah aku? Jika seorang wanita seusia Karina bisa membuat mereka begitu menginginkannya, bukankah mereka akan tergila-gila padaku jika aku yang ada di sana?

Astaga, Karina menggunakan mulut dan bagian bawahnya untuk memuaskan mereka bertiga. Semua bagian tubuhnya bisa merasakan keperkasaan itu. Ini benar-benar ... seru sekali! Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara desahan.

Tiba-tiba, suasana di luar hening sejenak.

"Sepertinya ada orang di dalam lemari!" teriak salah seorang pria dengan kaget.

Gawat! Suaraku terlalu kuat! Kali ini mereka pasti menemukanku!

Kalau mereka menemukan bahwa istri rekan mereka tidak mengenakan pakaian apa pun di dalam lemari, harus bagaimana aku menjelaskannya?

Selain itu, apa mereka akan menggunakanku untuk menggantikan Karina? Apakah aku yang akan diletakkan mereka di talenan itu dan dibuka kakinya, lalu ....

Memikirkan hal ini, kakiku gemetaran hebat. Pada saat ini, aku melihat seorang pria berjalan ke arah lemari tempat aku bersembunyi. Yang lebih menakutkan lagi, aku melihat betapa besarnya ukuran kejantanan pria itu ....

Bab 3

Langkah kaki pria itu semakin mendekat, membuat napasku kian memburu. Jantungku seperti akan meloncat keluar dari dalam tubuhku. Aku menutup mata, berharap dia tiba-tiba berubah pikiran dan mengabaikanku. Namun, harapanku pupus saat dia membuka pintu lemari dengan keras.

Dalam sekejap, rasanya udara di ruangan itu membeku. Tatapan kami bertemu, dan aku bisa melihat keterkejutan di wajah pria itu. Di belakangnya, dua pria lain dan Karina juga menatapku dengan mata terbelalak.

Punggungku bersandar di dinding lemari, otot-ototku tegang, dan aku merasa tak tahu harus berbuat apa. Dengan gugup, aku menatap pria di depanku. "Itu ... itu ...."

Aku mencoba mengatakan sesuatu, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Aku hanya bisa menggunakan pakaian di dalam lemari untuk menutupi tubuhku.

Suasana menjadi sangat hening, sampai akhirnya dia yang memecah keheningan. "Kamu istri Wandy?" tanyanya dengan nada datar. Aku mengangguk pelan.

Dua pria lainnya sudah mulai pulih dari keterkejutan mereka. Dengan senyum sinis, mereka mulai berjalan mendekatiku. "Jadi, tadi ...."

Menyadari situasiku yang genting, aku buru-buru menjelaskan, "Aku nggak melihat apa-apa, sungguh."

Aku memeluk pakaian itu erat-erat dan bersiap untuk lari, tetapi langkahku terhenti oleh tangan yang mengadangku.

Aku panik dan berusaha menjelaskan lebih lanjut. "Aku cuma dengar kalian libur, jadi aku datang untuk memberi kejutan pada suamiku. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa dan aku nggak melihat atau mendengar apa pun."

Meskipun sebelumnya pikiranku sempat dipenuhi dengan bayangan-bayangan liar, itu semua hanya fantasi.

Aku memang memiliki dorongan kuat dalam hal seksual, tetapi itu hanya untuk suamiku. Aku bisa memintanya berkali-kali, tetapi aku tidak akan pernah menyerahkan diriku kepada orang asing, apalagi tiga sekaligus.

Saat aku mencoba melewati mereka untuk pergi, Karina tiba-tiba menarik tanganku dari atas dengan nada memohon. "Nak, kumohon, selamatkan aku. Bawa aku pergi bersamamu."

Aku ingin membantunya, tapi aku tahu itu hampir mustahil. Pria-pria itu pasti tidak akan membiarkan kami pergi begitu saja. Aku berencana keluar terlebih dahulu, lalu mencari bantuan atau melapor ke polisi.

Dengan berat hati, aku berkata, "Maaf, Bi, aku nggak bisa. Tolong jangan persulit aku. Aku benar-benar nggak tahu apa-apa."

Setelah berkata demikian, aku melepaskan tangannya dan berjalan menuju pintu. Namun, saat satu kakiku baru saja melangkah keluar, sebuah tangan kasar menarikku kembali ke dalam.

"Sayang, puaskan kami saja dulu." Mereka tidak berencana hendak membiarkanku pergi begitu saja. Tangannya yang kasar mulai menggerayangi tubuhku dengan kasar.

Dengan terkejut, aku memberikan peringatan, "Jangan sentuh aku!"

Namun, mereka malah semakin menjadi-jadi setelah melihat reaksiku. Aku mulai ketakutan dan menangis sambil memohon, "Jangan, kumohon!"

"Jangan pura-pura. Lihat saja sebasah apa bagian bawahmu itu. Dasar genit."

Penghinaan seperti ini malah membuat hatiku bergejolak. Aku menggigit bibir bawahku karena tidak ingin mengakui bahwa aku adalah wanita sehina itu. Namun, reaksi biologisku justru mengingatkanku bahwa aku membutuhkan belaian pria saat ini juga.

"Nggak, jangan ...." Perlawananku ini sama sekali tidak bisa menang dari tenaga ketiga pria yang kuat itu. Aku ditekan ke dinding dan dilecehkan habis-habisan oleh ketiga pria itu.

Kenikmatan yang berkali-kali itu membuatku tidak bisa menahan desahanku.

Salah satu dari mereka mengejekku, "Dasar pelacur, kamu memang dilahirkan untuk dilecehkan pria. Lihat bagian bawahmu ini ... basah sekali."

Reaksi biologisku ini membuatku sangat malu. Dengan wajah tersipu, aku berusaha menjepit kakiku untuk menghalangi mereka memasukkannya ke dalam tubuhku. Namun tak disangka, hal ini malah membuat tangan mereka semakin erat bersentuhan dengan kulitku.

"Hahaha, pelacur ini sudah nggak sabaran. Jangan buru-buru, aku akan memuaskanmu!"

"Bukan, aku nggak ...," sergahku dengan tak berdaya.

Mereka masing-masing memegang salah satu kakiku, membuat tubuhku tergantung di udara. Karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan, aku terpaksa memeluk leher salah satu dari mereka untuk menahan diri.

Saat itu, keinginan dalam diriku memuncak. Gelombang kuat dari hasrat untuk merasakan tekanan dan penaklukan pria itu menghantamku tanpa ampun. Namun, di sisi lain, moral dalam hatiku menolak keras untuk melakukan pengkhianatan terhadap suamiku.

Aku terperangkap dalam konflik batin yang menyakitkan. Di satu sisi, berharap mereka segera mempermalukanku. Di sisi lain, aku menginginkan mereka melepaskanku begitu saja.

Kedua perasaan yang saling bertentangan ini membuatku nyaris kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku merasa hampir runtuh oleh tekanan yang begitu kuat.

Pada saat ini, Karina mengambil kesempatan saat mereka sedang menodaiku untuk melarikan diri. Namun, sebelum dia berhasil keluar, Karina telah ditarik kembali oleh salah seorang pria dan ditampar.

"Jalang, sebentar lagi giliranmu. Kamu nggak sabar lagi ya? Kalau gitu, biar kupuaskan dulu kamu!" Sambil berkata demikian, dia pun menekan tubuh Karina ke lantai.

Sementara itu, kedua pria lainnya juga menekan tubuhku, sama persis seperti pose Karina. Detik berikutnya, celanaku dan Karina dilepas dengan kasar. Aku memejamkan mataku dengan pasrah ....

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B25466" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B25466
Salin

Kakak Iparku, Pengagum Rahasiaku

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya