Bab 1

Selama 8 tahun, setelah 5 ribu alat test kehamilan, aku akhirnya hamil.

Suwanto sangat mencintaiku, punya atau tidak punya anak dia tetap mencintaiku, bahkan lebih baik padaku.

Saat tahu aku hamil, dia sangat gembira, hingga dia bilang akan memberiku segalanya.

Ibu mertuaku mengatakan akhirnya ada penerus bagi usaha Keluarga Hadi, dia merubah sikapnya, menganggapku sebagai harta.

Tapi aku tidak berencana melahirkan anak ini.

“Aku... Akan menjadi seorang ayah?”

Ketika aku memberikan alat tes kehamilan itu kepada Suwanto Hadi, dia tampak tidak percaya.

Aku tersenyum dan memberi isyarat, “Dua garis, lho!”

Suwanto menatapku dan matanya tiba-tiba memerah.

“Jennifer Angela, apakah kita benar-benar akan menjadi orang tua?”

“Ya.”

Aku mengangguk dan tersenyum lembut.

Suwanto memelukku, suaranya sedikit tercekat.

“Jennifer, mulai sekarang, kita sekeluarga bertiga akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia.”

Sekeluarga bertiga?

Aku terdiam, lalu meneteskan air mata sedih.

Ternyata benar, dalam kehidupan seseorang, hal-hal yang didoakan sering kali muncul di waktu yang tidak tepat.

Misalnya, anak ini.

Selama sembilan tahun pernikahan, orang tuanya mendesak dan menekanku berkali-kali, bahkan mengancam jika aku tidak bisa memiliki anak, mereka akan memutuskan hubungan dengan Suwanto...

Sebenarnya, dalam hati aku tahu bahwa mereka tidak mungkin sekejam itu. Mereka hanya ingin memaksa Suwanto menceraikanku.

Suwanto menghiburku dengan mengatakan bahwa tidak masalah kami punya anak atau tidak, dia mencintaiku dan tidak akan menceraikanku selamanya.

Ya, dia benar-benar mencintaiku, bahkan mengancam akan memutuskan hubungan dengan mertuaku jika mereka memaksaku untuk punya anak.

Tapi cintaku pada Suwanto tidak kalah dari cintanya padaku.

Aku yang selalu menambahkan gula pada es kopi americano tetap tidak ragu minum obat tradisional yang pahit. Bahkan obat tradisional yang dititip orang tua Suwanto untuk dibawakan dari kampung halaman, tetap aku minum walau sambil muntah.

Ada juga suntikan ovulasi setiap bulan.

Aku yang takut dengan jarum suntik, berhasil bertahan selama tiga tahun.

Ibuku merasa kasihan kepadaku dan menyarankanku untuk bercerai dengan Suwanto.

Dia tidak peduli dengan harta Keluarga Hadi, dia tidak tega melihat putri kesayangannya menderita.

Tapi putrinya ini membuatnya kecewa.

Begitu memilih seseorang, maka akan menjadi pasangan seumur hidupnya.

Setidaknya dalam sembilan tahun terakhir, cintaku pada Suwanto tidak dapat disangkal.

Suwanto memberi tahu semua orang tentang berita kehamilanku.

Selama bertelepon, dia menangis sebentar, tertawa sebentar.

Selama bertahun-tahun kami menikah, aku tidak pernah melihatnya seperti ini.

Tampaknya dia benar-benar sangat menyukai anak-anak.

“Aduh, suamiku, perutku...”

Aku tiba-tiba memegang perutku, Suwanto pun bergegas memelukku, wajahnya penuh kekhawatiran, “Ada apa, mau ke rumah sakit?”

Aku tersenyum jahat, “Suamiku, perutku... Sangat lapar.”

“Dasar nakal, tunggu sebentar, aku akan memasak untukmu.”

Suwanto tampak tidak berdaya, dia menyentuh kepalaku dengan penuh kasih sayang, lalu berbalik dan pergi ke dapur untuk memasak.

Melihat apa yang dilakukannya untukku dan anakku, setidaknya aku merasa keinginanku telah terpenuhi.

Meskipun kedepannya aku tidak membutuhkannya lagi.

Sahabatku, Julianti Amanda mengirimkan pesan suara untuk memberikan selamat dan aku mengirimkannya foto Suwanto saat sedang memasak.

Aku bisa merasakan kecemburuannya bahkan melalui layar ponsel.

[Aduh aduh aduh, cinta pria sebaik Suwanto memang pantut dibanggakan!]

Mataku memerah saat aku tersenyum.

[Tapi aku ingin menggugurkan anak ini dan tidak ingin bersama Suwanto lagi.]

Aku mengetik kata-kata ini sambil gemetar.

Sahabatku langsung meneleponku.

“Jennifer, apa kamu sudah gila? Suwanto sangat baik padamu dan akhirnya kamu hamil. Kenapa kamu ingin menggugurkan kandunganmu? Kenapa ingin bercerai?”

Bab 2

Ya, Suwanto memang pria yang baik.

Saking baik hingga bisa membagi cintanya menjadi dua dan memberinya pada dua wanita.

Saking baiknya hingga membiarkan wanita lain melahirkan anak untuknya.

Mertuaku bergegas ke rumahku setelah mendengar berita itu.

Begitu masuk, ibu mertuaku memegang tanganku.

“Jennifer, kamu benar-benar pahlawan bagi Keluarga Hadi. Jangan khawatir, saat kamu melahirkan cucu laki-laki tertua Keluarga Hadi, aku dan ayahmu akan menyerahkan grup perusahaan kepada kalian berdua.”

Sambil berkata demikian, dia mengedipkan mata pada ayah mertuaku.

“Ya, Jennifer, ibumu benar.”

Aku tersenyum dengan tenang dan menarik tanganku kembali.

Anak wanita itu, pasti juga dirawat seperti ini.

Cucu laki-laki tertua? Cih, zaman apa ini, masih saja lebih menyukai anak laki-laki daripada anak perempuan? Itu hanya sebuah perusahaan kecil yang baru saja IPO.

Orang yang tidak tahu akan berpikir Keluarga Hadi memiliki takhta untuk diwarisi.

“Ibu, tidak peduli anak laki-laki atau perempuan, yang penting anak itu adalah anakku dan Jennifer, itu adalah harta Keluarga Hadi.”

Suwanto menyadari ketidaksenanganku dan bergegas untuk menenangkan situasi.

Dia selalu begitu perhatian terhadap perasaanku.

Dulu, sekarang…

“Eh... benar juga, benar juga.”

Ibu mertuaku menjawab dengan senyum palsu.

Dia mungkin tidak menduga bahwa aku akan hamil.

Sebulan yang lalu, dia masih mencoba memaksaku untuk bercerai dengan Suwanto.

Saat sedang makan, telepon Suwanto berdering, Suwanto melirik sekilas dan tidak menjawabnya.

Saat dia sedang mengambil nasi, ponselnya bergetar lagi.

Aku meliriknya dan ternyata itu adalah sebuah pesan.

[Bella Hasinta demam, apa yang harus aku lakukan?]

Beberapa kata itu menusuk hatiku bagai pisau.

Karena kehamilanku, Suwanto sudah tidak bekerja selama beberapa hari. Orang yang mengirim pesan ini memilih untuk mengirim pesan saat ini, tujuannya sangat jelas.

Benar saja, Suwanto meletakkan setengah mangkuk sisa nasi yang belum dihabiskannya.

“Jennifer, aku titip temanku untuk membeli beberapa suplemen untukmu dari luar negeri, dia bilang suplemen itu tiba hari ini, aku akan pergi mengambilnya.”

Nada bicara Suwanto yang alami dan lembut, tidak tampak ada sedikit pun kekurangan.

Tiba-tiba terpikir olehku bahwa dia tahu aku memercayainya. Oleh karena itu, dia pasti memakai banyak alasan serupa dalam beberapa tahun ini.

“Kamu baik sekali?”

Aku berpura-pura tersentuh dan Suwanto menyentuh pipiku dengan ekspresi tulus di wajahnya.

“Tentu saja, kamu sekarang adalah harta berhargaku, ingin sekali rasanya memberimu seluruh dunia.”

Tapi Suwanto, dari awal yang aku inginkan hanyalah Suwanto yang mencintaiku sepenuh hati.

Aku duduk di depan jendela dengan linglung, mengusap-usap bon yang kukeluarkan dari saku Suwanto di tanganku.

Mainan untuk anak usia dua tiga tahun, totalnya ada tiga.

Tampaknya Suwanto benar-benar ayah yang baik.

Hanya saja dia adalah ayah yang baik bagi anak-anak lain.

Telepon berdering, itu dari Suwanto.

“Jennifer, malam ini aku pulang agak malam, kamu tidur duluan.”

“Suwanto, makanannya sudah siap.”

Sebelum aku menjawab, suara wanita yang terkesan akrab terdengar dari ujung telepon.

“Oh, Jennifer, itu pacar Jonathan Salim, mereka baru saja kembali dari luar negeri dan bersikeras mengundangku makan bersama.”

Tampak jelas ada sedikit kepanikan dalam suara Suwanto.

“Ya.”

Aku menjawab dengan singkat dan menutup telepon.

Ingatanku cukup baik, Jonathan sudah menikah setahun yang lalu.

Bab 3

“Oh iya, aku lupa memberitahumu, dia tidak jadi nikah dengan pacarnya yang sebelumnya. Baru-baru ini mulai berkencan dengan orang lain.”

Suwanto berbohong tanpa rasa malu, akhirnya aku pun menyerah.

Sudah jelas hasil akhirnya.

Setelah aku bujuk, Suwanto yang selalu menemaniku setiap hari akhirnya pergi bekerja.

Aku takut jika setiap hari aku melihat dia memakai topeng dan berada di hadapanku, aku tidak bisa menahan diri dan membongkar kebohongannya.

Aku ingin pergi, tapi aku masih kekurangan motivasi untuk melakukannya.

Atau mungkin karena masakan ibu mertuaku tidak sesuai seleraku, jadi aku mengalami mual hamil yang parah.

Baik pagi ataupun malam hari, aku menghabiskan sebagian besar waktu dengan muntah di toilet.

“Jennifer, saatnya makan!”

Begitu duduk, perutku mulai mual lagi.

Setelah akhirnya tenang di kamar mandi, aku mendengar Suwanto mengeluh pada ibunya.

“Ibu, bisakah memasak sesuatu yang berbeda? Jennifer tidak suka masakan-masakan ini.”

Memang benar, makanan yang dimasak ibunya tidak sesuai seleraku.

Mungkin karena bertahun-tahun ini aku sudah terbiasa makan makanan buatan Suwanto.

Setelah bertahun-tahun menikah, tidak peduli sesibuk apa pun pekerjaannya, dia akan selalu memasak untukku.

Dia ingat dengan jelas apa saja makanan yang aku suka atau tidak.

Sungguh konyol, seorang pria sebaik ini bahkan bisa memiliki seorang wanita simpanan dan anak di luar sana.

“Anak kurang ajar, jangan dikasih hati minta jantung, jika bukan demi cucu laki-laki tertuaku, aku tidak akan melayaninya.”

Haha, seperti dugaanku.

“Ibu, Jennifer sudah hamil, kenapa ibu masih tidak suka padanya?”

“Hmph, kalau saja dia tidak terus-terusan menempel padamu, apakah cucu perempuanku akan terlantar di luar sana?”

Cucu perempuan?

Ketika aku mendengar dua kata itu, hatiku tiba-tiba menegang.

Seluruh tubuhku terjatuh ke tanah seperti balon yang tertusuk jarum.

Ternyata mereka semua mengetahuinya dan menyembunyikannya dariku.

Haha, tidak heran…

Tidak heran dia terus mengatakan bahwa aku sedang mengandung cucu laki-laki tertuanya.

Tidak heran sebelumnya setiap kali datang menemuiku selalu membawakan masakan yang terasa sangat asam.

Ternyata, dia ingin aku melahirkan anak laki-laki?

Haha, rencana yang bagus!

Aku berdiri dan hendak pergi, tapi ujung bajuku tidak sengaja menjatuhkan gelas di sampingku.

Suwanto segera memberi isyarat kepada ibu mertuaku untuk diam, melihat mataku yang memerah, dia pun panik.

“Jennifer, apa saja yang kamu dengar barusan?”

Nada suaranya tampak tenang, tetapi jarinya tidak bisa berhenti gemetar.

Baca Cerita Lengkapnya Sekarang
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak cerita luar biasa Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari "B61906" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi NovelShort untuk melanjutkan membaca.
B61906
Salin

Kaca yang Pecah

Bab 1
Bab
Sesuaikan
Bab Berikutnya