Bab 6
. Semoga Tidak Bertemu Lagi
Ciuman hangat mendarat di bibir Diva, membuat mata wanita itu membola. Logikanya mendorong agar tangannya mendorong Elvan menjauh. Akan tetapi, instingnya mengatakan kalau dia melakukan hal itu, maka situasi akan menjadi kacau dan runyam. Alhasil, Diva hanya bisa pasrah di bawah kendali Elvan.
Melihat kejadian itu di depan mata, semua orang seolah membeku!
Bagaimana tidak? Semua anggota keluarga paham, Elvan adalah orang yang berjabat tangan dengan klien saja sebisa mungkin dihindari. Pria itu adalah seorang clean freak!
Akan tetapi, sekarang, pria yang paling menghindari bersentuhan dengan orang lain itu … berujung mencium seorang wanita?! Bukan kecupan, tapi ciuman! Untuk waktu yang cukup lama pula!
Demikian, ini adalah hal yang sangat menggemparkan!
SREET!
Di tengah keterkejutan itu, suara kursi yang bergesekkan dengan lantai terdengar. Para senior menoleh dan mendapati Marissa berdiri dari kursinya. Mata wanita muda itu berkaca-kaca, tampak sakit hati dan ingin menangis melihat pemandangan di depan mata.
“Aku permisi!” seru Marissa yang langsung meraih tasnya dan berlari keluar restoran.
Di sisi lain, paman dan bibi Elvan langsung ikut berdiri untuk mengejarnya. “Marissa!”
Sebelum pergi, bibi Elvan melirik sosok Elvan yang telah memisahkan dirinya dari Diva. “Elvan, kamu–! Haish!” Tidak bisa berkata-kata, dia pun lanjut meninggalkan tempat dan mengejar putri angkatnya itu.
Saat yakin bayangan orang-orang yang mengancam kebebasannya telah pergi, Elvan pun menjauhkan diri dari Diva dan berdiri dari kursinya. Dia menatap kakek, nenek, ayah, dan ibunya–yang masih tercengang–lalu berkata, “Karena masalah sudah selesai, aku dan Diva pamit dulu.”
Elvan menarik tangan Diva agar wanita itu berdiri bersamanya, tapi baru beberapa langkah menjauhi meja, sebuah suara menghentikannya.
“Elvan!”
Elvan menoleh, menatap sang kakek yang memanggilnya.
“Perbuatanmu hari ini …,” Hartono melirik Diva yang masih agak terbengong, lalu menatap Elvan lagi, “apa kamu tahu konsekuensinya?
Elvan memasang wajah dingin dan berkata, “Kalau memang harus menikah, aku hanya akan menikahi Diva. Bukan orang lain.”
Dalam pikiran Elvan, mengucapkan hal itu berarti dia telah memblokir niatan sang kakek untuk menikahkannya dengan gadis lain. Karena memang tidak ada niatannya untuk menikah, Elvan tidak masalah dengan hal itu.
Merasa rencananya sudah sempurna, Elvan pun lanjut berjalan pergi sambil mengenggam lengan Diva erat.
Mendengar balasan Elvan, empat orang yang ditinggalkan di restoran itu hanya bisa berakhir tercengang.
Nenek Elvan, Radiah, menatap sang suami yang masih terbengong dan berkata, “Menurutmu … apa Elvan serius?”
Di tempatnya, Hartono menggeleng. Dia yang tadinya yakin bahwa wanita yang cucunya bawa itu adalah kekasih sewaan, sekarang berakhir dibuat ragu, terlebih ketika melihat Elvan mencium Diva dan bahkan bersumpah hanya akan menikahi wanita itu.
Alhasil, Hartono hanya bisa berkata, “Aku … tidak tahu.”
Di saat ini, Anita pun menatap sang ayah dan berkata, “Ayah … masalah ini ….”
Hartono menutup matanya dan berujung berkata, “Palsu atau tidak, kita akan tahu pada akhirnya.” Dia menatap ke arah kepergian Elvan. “Kalau mereka memang bersandiwara, mari kita lihat sejauh mana mereka bisa menipu kita!”
**
Di dalam lift, Elvan akhirnya melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Diva. Dia menatap wanita yang agak menunduk itu dan berkata, “Terima kasih, Diva. Karena bantuanmu–”
PLAK!
Suara tamparan keras bergema, mengejutkan Elvan yang merasakan panas di pipi kanannya. Diva menamparnya!
“Kamu–!” Baru saja ingin marah, Elvan langsung bungkam ketika melihat wajah Diva. Merah di mata dan kedua pipi wanita itu menunjukkan bahwa Diva bukan hanya malu, tapi marah dan terluka! Sebuah pemandangan yang membuat Elvan tak bisa berkata-kata!
“Apa yang kamu pikir telah kamu lakukan, Tuan Elvan Wongso!?” Diva berseru dengan amarah menyelimuti bola mata indahnya. “Bagaimana bisa kamu menciumku di depan orang banyak seperti itu!?”
“Aku ….” Elvan ingin menjawab. Akan tetapi, tatapan terluka yang Diva berikan membuatnya tak mampu bersuara.
“Aku memang memberikan penawaran untuk melakukan apa saja, tapi sudah kukatakan dengan jelas, aku tidak menjual sejengkalpun dari bagian tubuhku untuk ikut dalam permainanmu, tapi … yang barusan kamu lakukan adalah melecehkanku!” Diva mengepalkan tangannya kuat.
‘Melecehkan’, itu adalah kata yang sangat kuat. Dan jujur, Elvan merasa tindakannya tidak sampai seburuk itu. Namun, pandangan Diva membuat pria itu merasa seperti pria paling bajingan di dunia ini.
“Diva, aku–”
“Cukup, aku tidak ingin mendengar apa pun dari mulutmu itu lagi,” potong Diva.
TING!
Kebetulan, suara denting lift terdengar. Mereka telah kembali tiba di lobi hotel.
Seiring pintu lift terbuka, Diva berkata, “Dengan bantuan hari ini, kuanggap utangku kepadamu telah impas!” teriak wanita tersebut sebelum menambahkan, “Semoga kita tidak bertemu lagi!”
Usai mengatakan itu, Diva langsung keluar dari lift.
“Diva!” Elvan berniat mengejarnya, tapi wanita itu berlari begitu cepat!
Saat Elvan mencapai lobi hotel, Diva telah masuk ke dalam sebuah taksi dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Tidak sedikit pun memberikan waktu untuk Elvan berbicara dengannya lagi.
Melihat taksi yang membawa Diva melesat pergi, Elvan mengepalkan tangannya sendiri. Dia yang tidak pernah merasakan simpatik terhadap orang lain, terus dihantui oleh wajah terluka Diva. Tak hanya itu, dadanya bahkan terasa sesak saat mengingat sepasang bola mata indah yang berkaca-kaca tersebut menatap dirinya dengan penuh amarah.
Tangan Elvan menekan dadanya, merasa bingung dan agak tersiksa. ‘Perasaan apa ini …?’
Sementara itu, di dalam taksi, Diva beberapa kali mengelap bibirnya, sampai-sampai ada bagian yang berdarah. Namun, bagaimana ya … dia benar-benar sangat kesal dengan Elvan. Pria itu baru saja merebut ciuman pertamanya!
Jujur, bukan hanya karena hal itu Diva marah, tapi … juga karena Diva tanpa sadar menikmati ciuman pria tersebut!
Wangi mint yang memesona, juga sentuhan lembut yang membuat darahnya berdesir. Diva seperti tersihir oleh Elvan tadi. Dan … hal itu juga yang membuatnya merasa jijik terhadap ciuman itu … dan dirinya sendiri!
‘Satu tahun berpacaran, Nico saja belum pernah menciumku!’
Membatinkan hal itu, Diva kembali sendu. Mungkinkah alasan Nico berselingkuh adalah … karena dia terlalu menjaga kesuciannya?
Memang benar, Nico bukan hanya pernah mengajaknya berciuman, tapi juga bercinta. Akan tetapi, Diva menolaknya dengan tegas dan berkata hal-hal semacam itu hanya boleh dilakukan setelah menikah.
Ah, dipikirkan kembali, sepertinya memang itu alasan Nico mengkhianatinya. Lagi pula, satu hari setelah menerima undangan pernikahan Nico dan Nadya, Diva juga sudah menerima pesan yang menyatakan semuanya.
“Bukan hanya latar belakang keluargaku yang menjadi alasan, Diva. Akan tetapi, dibandingkan dirimu, aku bisa memberikan segalanya untuk Nico. Itulah alasan dia memilihku dibandingkan gadis sok suci sepertimu!”
Mengingat hal itu, Diva menutup mata dan mengepalkan tangan. ‘Dan sekarang, ciuman pertamaku malah dicuri oleh pria yang bahkan tidak punya perasaan sama sekali padaku.’
Semakin dipikirkan, Diva menjadi semakin kesal kepada Elvan. Dia berdoa semoga tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
***
Setelah beberapa hari dari kejadian tersebut, hidup Diva berjalan seperti biasa. Dia datang ke kantor dan tampak sudah melupakan segalanya mengenai Elvan.
Baru saja duduk di kursi kantornya, tiba-tiba saja, terdapat pemberitahuan kredit masuk di aplikasi perbankan milik Diva. Nominalnya membuat Diva membelalakkan mata!
50 Juta?! Siapa yang mengirimkan uang sebanyak ini untuknya!? Apakah ada yang salah transfer?!
Namun, kemudian Diva melihat catatan pada bukti transfer tersebut.
[Ucapan terima kasih atas bantuan.]
Membaca pesan itu, Diva memiliki dugaan mengenai pengirimnya. Namun, belum sempat memastikan, tiba-tiba ponsel Diva bergetar. Nomor yang tertera di layar tidak dikenal, dan dahi Diva pun berkerut dibuatnya.
Mungkin ini nomor orang yang salah transfer?
Tanpa berpikir panjang, Diva mengangkat panggilan itu. “Halo?”
“Diva.”
Mata Diva terbelalak. Dia mengenali suara itu.
“... Elvan?”
Bab 7
. Jebakan
Terkejut dengan siapa yang menghubunginya, Diva menautkan alisnya. Dari mana pria itu mendapatkan nomor rekening dan juga nomor teleponnya?!
Sesaat Diva kebingungan, tapi kemudian, dia mengingat latar belakang Elvan yang berkuasa dan tidak lagi heran. Dengan uang, segala hal bisa dibeli dan didapatkan, termasuk informasi pribadi seseorang.
“Kenapa kamu menghubungiku?” tanya Diva ketus.
“Aku ingin memberitahukan mengenai–”
“Imbalan atas pelecehan yang kamu lakukan?” potong Diva, masih merasa marah akan hal itu.
“Diva … aku–”
“Dengar, Tuan Elvan Wongso. Aku paham niatmu, dan aku akan menerima uang tutup mulutmu. Akan kujamin apa yang terjadi beberapa hari yang lalu menjadi rahasia. Oleh karena itu, berhenti menghubungiku … karena aku tidak ingin lagi terlibat denganmu!”
PIP!
Usai mengatakan itu, Diva memutus panggilan tanpa menunggu balasan Elvan. Dia yakin pria itu akan terus mengganggunya kalau uang tersebut tidak dia terima.
Diva terlalu paham cara bermain orang-orang kalangan atas. Sama persis seperti Nico, Farha, dan juga Nadya. Mereka mengira uang mengendalikan segalanya, dan orang kecil seperti Diva … tidak pantas untuk dipusingkan.
Di saat ini, sebuah suara mengejutkan Diva.
“Pagi, Diva!”
Sapaan itu membuat Diva menoleh, melihat wajah seorang wanita muda manis yang tersenyum ke arahnya. “Pagi, Intan,” balasnya sembari tersenyum.
Intan adalah teman terdekat Diva di kantor. Sama-sama berjuang melewati masa magang untuk menjadi pegawai tetap selama tiga bulan, ditambah dengan hobi dan kesukaan yang hampir sama, Diva dan Intan pun menjadi sangat dekat.
“Diva, Kamu tahu gak sih, katanya pesta pernikahan Pak Nico beberapa hari yang lalu sedikit kacau.”
Bisikan Intan membuat jantung Diva berhenti sesaat. Dia meletakkan ponselnya ke meja, melupakan tentang Elvan, lalu terfokus pada pembicaraannya dengan Intan.
“Oh … ya? Kok bisa?” Dia pura-pura tidak tahu, tidak ingin disangkut pautkan dengan masalah yang menurut Diva sudah lalu.
Intan menceritakan masalah yang terjadi di pernikahan Nico, bagaimana mantan pria itu datang dan menghadiahkan tikus kecil kepada kedua pengantin. Karena kaget, pengantin wanita jatuh dari panggung, diikuti dengan Nico sendiri yang berusaha menyelamatkan sang istri.
“Untung cepat diselesaikan, kalau tidak malu banget tuh pasti,” imbuh Intan mengakhiri ceritanya.
“Kamu tahu dari siapa, Tan? Seingatku nggak ada dari kita yang diundang ke acaranya, kecuali jajaran direksi?” balas Diva penasaran. Jangan-jangan ada yang mengenalinya di acara pernikahan kemarin!
“Kebetulan adikku teman dekatnya adik Pak Nico, jadi dia diundang dan lihat kejadiannya. Heboh deh pokoknya,” ucap Intan. “Apalagi istrinya Pak Nico bukan orang sembarangan. Pasti habis itu mantannya Pak Nico.”
Mendengar hal itu, Diva tersenyum kecut. ‘Ya, bukan orang sembarangan. Saking bukan sembarangannya dia bisa rebut pacar teman dekatnya sendiri!’ batinnya.
Walau Diva cukup dekat dengan Intan, tapi sesuai pesan Nico ketika mereka mulai berhubungan, tidak ada orang lain yang boleh tahu mereka berpacaran di kantor. Selaku pemimpin perusahaan, dia tidak ingin ada isu yang mengganggu nama baiknya.
‘Mengganggu nama baiknya … seharusnya sejak dia bilang itu, aku sadar dia tidak serius dengan hubungan kami,’ batin Diva dengan senyum pahit di bibir.
“Eh, eh! Cek grup sekarang!” Salah seorang teman kantor mendadak berseru keras. “Sore nanti habis balik kerja, Pak Nico ngundang kita makan-makan! Katanya mau kenalin kita ke istrinya! Lumayan nih makan enak di resto kelas atas.”
Diva yang penasaran langsung mengecek handphonenya. Benar saja, nanti akan ada acara yang sengaja dibuat oleh Nico di Restoran Ocean Sky.
“Gila, hari pertama balik dari bulan madu, langsung traktiran aja nih, Pak Bos!” ucap Intan sambil tertawa senang. Dia menatap ke arah Diva. “Kamu ikut ‘kan, Div?”
Ditanya begitu, Diva memaksakan sebuah senyum selagi menjawab, “Aku kayaknya gak ikutan deh, soalnya masih ada–”
“Ih, jangan ansos!” sahut Intan cepat. “Kamu tuh sering banget nolak ikut acara kantor! Lagian ya, jarang-jarang Pak Nico traktir kita, tahu? Dia itu kan ... pelit.” Intan tertawa setelah mengatakannya.
Nah, ternyata bukan cuma Diva saja yang berpikir Nico dan keluarganya itu pelit.
Akan tetapi, pun diiming-imingi makan gratis, Diva merasa enggan hadir di pesta itu. Bukan hanya malas bertemu mantan, tapi bisa-bisa kalau ketemu Nadya, wanita itu malah akan cari masalah dengannya.
Nggak cuma itu, kalau nanti orang-orang tiba-tiba tahu fakta orang yang mengacaukan pesta pernikahan Nico dan Nadya adalah Diva, mau ditaruh mana mukanya!? Bisa jadi bahan ghibah di kantor dia. Bakalan toxic abis lingkungan kerjanya nanti.
“Pak Nico ada undang beberapa klien penting, Div. Makanannya pasti enak!” Intan lanjut membujuk.
Mendengar hal itu, Diva termenung. ‘Klien penting?’ ulangnya dalam hati.
Kalau memang Nico mengundang klien penting, seharusnya dia akan memeringati Nadya untuk tidak macam-macam dan membuat ulah. Kalau ketahuan Nico sempat memacari Diva, orang yang berasal dari kelas menengah, bisa malu juga dia.
“Udah! Jangan kebanyakan mikir! Entar pulang aku anter juga deh, ‘kan rumah kita searah!” seru Intan, sama sekali tidak tahu bahwa alasan Diva ragu adalah karena hubungannya dengan Nico dan Nadya.
Setelah berpikir matang dan terus dibujuk Intan, akhirnya Diva pun menyerah. “Oke, oke. Aku ikut,” jawabnya sambil tersenyum tak berdaya. Dalam hati, dia membatin, ‘Seharusnya, nggak akan terjadi apa-apa, ‘kan? Cuma makan biasa aja ….’
**
Saat waktu pulang kerja pun tiba, semua orang langsung berbondong-bondong pergi ke restoran Ocean Sky, tempat Nico mengadakan acara.
Ruangan restoran yang disewa sangat besar, cukup untuk menampung banyaknya karyawan yang ikut ke acara ini. Hiasan antik dan suasana megah membuat keseluruhan acara terkesan mewah dan berkelas. Sesuatu yang sangat jarang Nico sediakan mengingat sifatnya yang pelit.
‘Sepertinya, sungguh akan ada klien penting yang hadir hari ini,’ batin Diva selagi mengunyah kudapan di pojok ruangan. Intan yang tadi meminta ditemani, tampak sedang sibuk berkeliling ke sana kemari untuk mengambil makanan dari buffet yang disediakan.
“Kuharap kali ini kamu tidak mengacau.” Suara yang sangat familier itu membuat Diva membalikkan badan, menatap wanita berambut hitam panjang dengan gaun merah menyalanya yang seksi itu.
Itu Nadya.
Diva menghela napas malas, lalu membalas dengan santai, “Tenang saja, aku sudah ikhlas kamu mengambil barang bekasku.”
Mendengar Diva merujuk pada Nico demikian, Nadya memasang wajah marah. “Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa terus sombong seperti itu!” desisnya.
Diva memutar bola matanya malas, lalu berbalik untuk menjauh dari wanita tersebut. Akan tetapi, belum ada satu langkah, suara gelas pecah memekakkan telinga.
Dengan cepat Diva menoleh, menatap Nadya yang terjatuh dengan pecahan kaca di sekelilingnya. “Ah! Sakit sekali.” Dia menatap Diva. “Diva, kenapa kamu bersikap seperti ini!? Apa salahku padamu?!”
Seruan lantang Nadya membuat setiap pasang mata di ruangan itu beralih pada Diva, menatapnya seakan dia adalah penjahat utama.
Di sisi lain, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. “Nadya!”
Itu adalah Nico.
“Nico!” panggil Nadya saat sang suami berusaha membantunya berdiri.
Melihat sang istri yang tidak berdaya, juga air mata yang menggenang di pelupuk mata Nadya, hati Nico membara. Dia menatap Diva penuh amarah. “Diva, apa yang kamu lakukan pada istri saya!?”
“Tadi saya lihat Diva mendorong istri Bapak!” seru seorang wanita berambut pendek yang berdiri tidak jauh dari sana. Itu adalah Mira, atasan langsung Diva yang tidak suka dengan kinerja baiknya.
Mendengar tudingan yang diarahkan padanya, Diva pun memasang wajah buruk. Ternyata, ini adalah balasan Nadya atas tindakan Diva mengacaukan pernikahannya.
Tangan Diva mengepal. ‘Dia … sengaja menjadikanku tokoh antagonis acara ini?’
Bab 8
. Kemunculan Elvan
Melihat perkara Diva dan Nadya, seisi ruangan langsung heboh.
“Astaga, bukannya itu Diva dari departemen data analyst? Termasuk anak baru juga ‘kan dia?”
“Iya! Berani banget dia bikin ulah! Sama istri bos pula!”
“Fix, nggak lama lagi juga dia dipecat.”
Komentar demi komentar berterbangan di seluruh penjuru ruangan, tapi tidak ada satu pun yang membela Diva. Semua hanya sibuk berspekulasi nasib buruk macam apa yang menimpanya lantaran yakin bahwa Diva yang salah, terlebih karena mengingat Nadya memiliki kedudukan lebih tinggi dari wanita itu.
Menyadari betapa buruk situasinya, Diva berkata, “Istri Bapak jatuh sendiri, kenapa jadi menyalahkan saya?”
Balasan itu membuat semua orang terperangah. Sudah salah, tapi tidak mau mengaku?! Pun dia tidak salah, beraninya wanita itu secara gamblang melawan si bos?!
Dengan wajah marah, Nico membalas, “Mira jadi saksi kamu mendorong istri saya, dan kamu masih mengelak!?”
Bentakan Nico membuat Diva agak tersentak. Satu tahun berpacaran, walau tidak pernah seromantis itu, tapi pria tersebut tidak pernah bersikap kasar padanya. Sekarang, Nico malah membentaknya dan mempermalukannya di depan semua orang.
Haah … pria yang mudah dimanipulasi seperti ini, kenapa Diva bisa suka padanya dulu?
“Sayang, jangan marah-marah. Tidak enak sama semua tamu,” ucap Nadya sembari tersenyum pahit, seperti berusaha menahan tangis.
Melihat hal itu, Nico berkata dengan lembut, “Sayang, lengan kamu berdarah. Mana bisa aku diam saja kalau tahu penjahatnya siapa!” Pria itu melemparkan pandangan mematikan kepada Diva.
Alis Diva tertaut. “Saya tidak bersalah! Kalau ingin menyalahkan seseorang, salahkan istri Anda tidak berhati-hati!”
“Sudah sejauh ini, kamu masih ingin berbohong?!” tukas Nico. “Memang benar kata ibuku, ‘kelas’ bisa menunjukkan perangai seseorang! Dan kamu! Hanya wanita kelas rendah!”
Wajah Diva langsung pucat mendengar hal itu. Hatinya sakit, dan matanya agak berkaca-kaca, benar-benar bukan Nico yang selama ini dia kenal.
“Cepat panggil keamanan!” Nico berkata dengan kilatan kemarahan.
Tidak lama, petugas keamanan pun datang. “Hadir, Pak!”
“Seret wanita ini keluar!” titah Nico dengan keji.
Melirik Diva, petugas keamanan langsung menjulurkan tangan untuk mencekalnya. Akan tetapi, tepat sebelum tangan petugas keamanan menyentuh Diva, sebuah tangan lain langsung menghentikannya!
“Sekali kamu menyentuhnya, maka jangan salahkan aku mematahkan tanganmu!”
Terkejut, semua orang pun menoleh ke arah pemilik suara, mencari tahu siapa yang berani menghadang petugas keamanan yang diperintahkan Nico.
Namun, begitu melihat sosok yang membelanya, Diva langsung terperangah. “Elvan ….”
*Beberapa saat sebelumnya*
Di lorong kantor Tekno in Tower, terlihat seorang pria bertubuh tegap dengan jas hitam dan kemeja putih membalut tubuhnya, tengah berjalan beriringan dengan sekretaris pribadinya. Semua orang yang dia lewati membungkuk hormat, menunjukkan posisinya yang tinggi dan dihormati.
“Pak Elvan, nanti sore kita masih ada acara untuk menghadiri undangan pesta perayaan Nico Mahardika, apa Bapak akan hadir?” tanya Dania, sekretaris Elvan, saat mereka berjalan masuk ke ruang kerja pria itu usai sebuah meeting.
“Nico Mahardika?” Elvan mengerutkan keningnya. “Siapa?“
“Dari aplikasi ‘Keranjangku’, Pak,’ jelas Dania lagi.
“Seingatku kita tidak ada hubungan dengan ‘Keranjangku’,” balas Elvan lagi, paling tidak suka menghadiri acara ramai semacam itu.
“Ini … sebenarnya Tuan Hartono yang meminta Bapak untuk menghadirinya, menggantikan Beliau yang ada urusan penting dengan Nyonya Radiah,” jelasnya lagi.
Mendengar itu, Elvan menghela napas kasar. Dia baru ingat tentang pesan sang kakek yang mengharuskannya datang ke sebuah pesta.
“Oke, kirimkan saja alamatnya beserta detail acara, saya akan pergi sendiri untuk malam ini.”
“Baik, Pak.”
Beberapa jam setelah itu, Elvan pun pergi menuju restoran tempat pesta diadakan, Ocean Sky. Dia sengaja sampai lima belas menit lebih lambat agar tidak perlu hadir lama dalam pesta.
Melangkah masuk ke dalam ruang pesta, kehadiran Elvan langsung menarik perhatian banyak orang.
“Bukankah itu Elvan Sabil Wongso? Cucu dari Hartono Wongso, pendiri Lux Tech Group!?”
“Wah, dia tampan sekali! Persis artis!”
Komentar-komentar itu terus bertebaran, tapi Elvan tidak menggubrisnya. Matanya tengah menyapu sekeliling untuk mencari sang ‘tuan rumah’ yang mengadakan pesta agar dia bisa mengucapkan selamat dan pergi sesegera mungkin.
Namun, “misi” Elvan mendadak terhenti karena sebuah teriakan.
“Ah! Sakit sekali. Diva, kenapa kamu bersikap seperti ini!? Apa salahku padamu?!”
Mendengar nama ‘Diva’, kening Elvan langsung berkerut. Nama itu adalah nama yang beberapa waktu ini susah payah dia lupakan lantaran terus menghantui pikirannya.
Kesal, pria itu menoleh ke arah sumber suara, lalu melihat seorang wanita yang terjatuh dan juga seorang wanita lain yang berdiri dengan wajah terkejut.
Wajah wanita kedua itu adalah wajah yang sangat familier, wajah yang beberapa hari ini terus terbayang di benaknya.
Diva!
Elvan melihat bagaimana seorang pria berlari menghampiri wanita yang terjatuh di hadapan Diva. Dia mengenali pria tersebut sebagai Nico Mahadirka, pria yang mengadakan acara malam ini.
“Nadya!” teriak Nico seraya membantu istrinya berdiri. Dia kemudian menatap Diva marah. “Diva, apa yang kamu lakukan pada istri saya!?”
Bentakan yang diikuti dengan makian Nico kepada Diva langsung membuat seisi ruangan ricuh. Hal tersebut menyebabkan alis Elvan tertaut.
Sebagai orang yang telah menyelidiki sejumlah hal perihal Diva, Elvan langsung paham bahwa Nico adalah mantan kekasih yang menyelingkuhi Diva. Sedangkan Nadya, istri dari Nico, adalah sahabat baik yang mengkhianati Diva.
Namun, walau Elvan tahu mengenai semua hal ini, apa urusan permasalahan tersebut dengannya?
Tidak ingin ikut campur dalam masalah, Elvan pun hanya melipat kedua tangannya dan mendengar perdebatan panas Diva dan Nico.
“Saya tidak bersalah! Kalau ingin menyalahkan seseorang, salahkan istri Anda tidak berhati-hati!” teriak Diva dengan wajah diselimuti keyakinan.
“Sudah sejauh ini, kamu masih ingin berbohong?!” tukas Nico. “Memang benar kata ibuku, ‘kelas’ bisa menunjukkan perangai seseorang! Dan kamu! Hanya wanita kelas rendah!”
Mendengar kalimat terakhir Nico yang membuat wajah Diva berubah diselimuti ekspresi terluka, pelipis Elvan berkedut. Hatinya terasa panas dan tangannya tanpa sadar mengepal.
“Cepat panggil keamanan!” seru Nico yang kemudian mendatangkan dua petugas keamanan. “Seret wanita ini keluar!” titah Nico dengan keji.
Melihat tangan kasar petugas keamanan terjulur ke arah Diva, tubuh Elvan bergerak sendiri untuk mencengkeram lengan petugas keamanan tersebut. Hal tersebut membuat Nico terkejut dan menatap Elvan dengan wajah terkejut, langsung mengenali identitas pria tersebut.
“T-Tuan Elvan? Anda–”
Wajah Elvan tampak buruk dan diselimuti amarah mendalam. Dengan aura membunuh yang kental, pria itu berkata dengan suara dalam berbahaya, “Sekali kamu menyentuhnya, maka jangan salahkan aku mematahkan tanganmu!”