Bab 5
. Ciuman
Mendengar ucapan Elvan, sontak semua orang yang duduk di meja itu terperangah, terutama Marissa beserta bibi Elvan, Nara.
“Kekasih yang baru kamu lamar?” ulang Nara dengan suara tidak suka. “Apa maksud omong kosongmu ini?”
Elvan mengabaikan pertanyaan Nara, lalu beralih pada seorang pelayan, mengisyaratkan agar segera mengambilkan kursi tambahan untuk dirinya. Setelah itu, dia menarik satu kursi kosong yang berada di sebelah sang ibu, lalu berkata pada Diva, “Duduklah di sini.”
Perlakuannya begitu lembut dan perhatian, sampai-sampai semua orang yang melihatnya kembali terbelalak tak percaya. Bahkan Marissa berujung meremas gaunnya erat dengan tidak suka.
Di sisi lain, Diva merasa canggung. Kentara dirinya tidak diterima oleh sebagian besar orang di meja tersebut, bagaimana dia bisa duduk dengan tenang!?
Namun, di saat itu sebuah tangan meraih tangan Diva. “Duduklah, Diva.”
Ternyata, itu adalah ibunda Elvan, Anita!
“Jangan begitu gugup,” ucap Anita dengan lembut seraya menarik Diva untuk duduk di sebelahnya.
“T-terima kasih, Tante …,” jawab Diva canggung.
Setelah pelayan datang dan Elvan duduk di sebelah Diva, sebuah suara terdengar berkumandang, “Elvan, bibimu tadi bertanya.” Itu adalah Hartono Wongso, kakek Elvan sekaligus pendiri LuxTech Group yang ternama!
Elvan menatap sang kakek sekilas, lalu berujung menghela napas untuk menjawab, “Diva adalah tunanganku, dan itu bukan omong kosong. Apa begitu sulit untuk menerima kenyataan ini?”
Cara bicara Elvan yang begitu ketus membuat suasana menjadi tegang, terutama untuk Diva yang jantungnya berdebar tidak karuan. Tidak bisakah pria itu memperkenalkannya dulu dengan lebih baik!?
Akhirnya, dengan usaha untuk memerankan identitas barunya dengan lebih baik, Diva pun berdiri dari kursinya dan membungkuk sedikit untuk memperkenalkan diri, “Halo, semuanya. Namaku Diva Gantari. Aku kekasih Elvan.” Dia menegapkan tubuh dan tersenyum agak canggung. “Maaf sudah datang tiba-tiba dan mengganggu waktu makan siang kalian seperti ini.”
Mendengar Diva memperkenalkan diri, jujur Elvan agak terkejut. Dia tidak menyangka wanita yang beberapa saat lalu sangat menentang idenya itu bisa berperan dengan begitu alami, layaknya seorang kekasih yang baru pertama kali dikenalkan kepada keluarganya.
Di saat ini, Anita berkata sembari meraih tangan Diva, “Astaga, Diva. Tidak perlu sungkan seperti itu. Kami tidak merasa terganggu sama sekali.” Wanita itu melirik sang ayah yang menampakkan ekspresi keruh, lalu menambahkan, “Kami hanya terkejut mendengar Elvan pertama kali memperkenalkan dirimu sebagai … kekasih yang sudah dilamar ….”
Melihat sebagian besar orang penasaran dengan identitas Diva, Anita pun kembali bertanya, “Kamu … sudah lama kenal sama El?”
“Sudah, Tante,” jawab Diva dengan usaha untuk tetap tenang.
“Berapa lama?”
“Sekitar satu tahun.”
“Satu tahun?” Suara bibi Elvan kembali terdengar. “Baru kenal satu tahun, tapi sekarang sudah dilamar?” Wanita dengan leher penuh perhiasan itu mendengus dingin. “Hebat juga kamu, Elvan. Serius atau main-main kamu?”
Mendengar ini, Elvan mendengus. “Serius atau tidak, itu urusanku dan Diva. Tidak perlu Bibi khawatirkan soal itu.” Pria itu kemudian menyesap minumannya dengan santai.
“Kamu–!”
Nara–bibi Elvan–merasa sangat tersinggung. Akan tetapi, ayahnya terus memerhatikan gerak-geriknya, membuat wanita itu tidak leluasa membalas ucapan Elvan. Dia pun beralih kepada Diva.
“Kamu kenal Elvan dari mana?” tanyanya dengan tatapan tidak suka.
“Lingkaran teman, Tante. Kebetulan ada salah seorang teman Elvan yang temanku juga,” jawab Diva, masih dengan sopan.
Mendadak, di saat ini satu suara merdu menimbrung, “Lingkaran teman yang mana? Kok aku tidak tahu?”
Diva menoleh, menyadari bahwa Marissalah yang sekarang berbicara. Sejak awal, wanita itu menatapnya dengan sangat tajam. Diva tahu, pasti wanita itu sekarang sedang memakinya mati-matian dalam hati.
Belum sempat pembicaraan perjodohan dibicarakan, kedatangan Diva malah menggagalkan semuanya.
Namun, dari cara pandang Marissa terhadapnya, Diva tahu wanita itu belum menyerah dan berniat mengulik lebih jauh hubungannya dengan Elvan.
Akhirnya, Diva pun memasang senyum termanisnya dan berkata, “Memangnya semua teman Elvan, kamu harus tahu, ya? Maaf bertanya seperti ini, tapi karena Elvan belum pernah menceritakan, aku jadi belum tahu. Memang kamu siapanya Elvan?”
Mendengar balasan itu, bukan hanya Marissa, tapi semua orang di meja itu terkejut.
“Pfft ….” Suara tawa yang tertahan mengalihkan perhatian seisi meja, mereka menoleh dan melihat ternyata sosok Elvanlah yang tertawa!
Diva berpura-pura bingung. “Kenapa tertawa, Van? Kamu serius belum pernah cerita ke aku soal dia ….”
Melihat ekspresi pura-pura Diva yang begitu alami, Elvan pun tersenyum. “Dia Marissa, anak angkat bibi dan pamanku.”
Mulut Diva membentuk huruf ‘O’, lalu tampak tersenyum tak berdaya. “Ah, yang dulu katanya berniat dijodohkan denganmu, ya?”
Mendengar kata ‘dulu’, ekspresi Marissa langsung memburuk, begitu pula wajah Nara dan suaminya.
Sebaliknya, Elvan tersenyum semakin semringah, merasa sangat terhibur dengan sandiwara Diva. “Ya, yang itu,” jawabnya santai. “Akan tetapi, jangan khawatir. Itu dulu.” Dia menatap sang bibi. “Sekarang, tidak mungkin lagi.”
“Apa kamu serius?”
Perhatian semua orang beralih dari Elvan dan Diva, menuju kepada Marissa. Wanita muda itu tampak memasang wajah tidak suka dan curiga.
“Kamu serius dengan wanita ini?” tanya Marissa lagi.
Elvan memiringkan kepala. “Kamu kira aku bercanda?”
Marissa memicingkan mata. “Aku lebih curiga kamu berpura-pura.” Dia pun melirik Diva. “Pun sikapnya tidak buruk, tapi penampilannya terlewat sederhana. Bukan seperti tipemu.” Dia menatap Elvan lagi. “Oleh karena itu, aku sulit untuk percaya.”
Percakapan antara Marissa dan Elvan membuat suasana di meja itu kembali tegang. Sedangkan Diva, dia jujur lebih merasa tersinggung dibandingkan takut kepada Marissa.
Apa maksud wanita itu dia terlihat sederhana? Gaun yang dia kenakan untuk menghadiri pernikahan Nico hari ini menghabiskan hampir setengah gaji bulanannya! Ini adalah gaun termahal yang pernah Diva beli! Enak saja dibilang sederhana!
Di saat Diva sedang memikirkan hal tersebut dan memaki-maki keangkuhan Marissa dalam hati, dia mendengar Elvan mendadak berkata, “Kalau ingin bukti, mudah saja.” Pria itu menoleh ke arah Diva, lalu meletakkan tangannya di tengkuk Diva.
Kaget, Diva menautkan alis. “Elvan, apa yang–”
Tidak sempat menyelesaikan ucapannya, Diva dikejutkan dengan Elvan yang menarik kepalanya mendekat dan–
Cup!
Elvan sungguh mencium Diva di depan keluarganya!
Bab 6
. Semoga Tidak Bertemu Lagi
Ciuman hangat mendarat di bibir Diva, membuat mata wanita itu membola. Logikanya mendorong agar tangannya mendorong Elvan menjauh. Akan tetapi, instingnya mengatakan kalau dia melakukan hal itu, maka situasi akan menjadi kacau dan runyam. Alhasil, Diva hanya bisa pasrah di bawah kendali Elvan.
Melihat kejadian itu di depan mata, semua orang seolah membeku!
Bagaimana tidak? Semua anggota keluarga paham, Elvan adalah orang yang berjabat tangan dengan klien saja sebisa mungkin dihindari. Pria itu adalah seorang clean freak!
Akan tetapi, sekarang, pria yang paling menghindari bersentuhan dengan orang lain itu … berujung mencium seorang wanita?! Bukan kecupan, tapi ciuman! Untuk waktu yang cukup lama pula!
Demikian, ini adalah hal yang sangat menggemparkan!
SREET!
Di tengah keterkejutan itu, suara kursi yang bergesekkan dengan lantai terdengar. Para senior menoleh dan mendapati Marissa berdiri dari kursinya. Mata wanita muda itu berkaca-kaca, tampak sakit hati dan ingin menangis melihat pemandangan di depan mata.
“Aku permisi!” seru Marissa yang langsung meraih tasnya dan berlari keluar restoran.
Di sisi lain, paman dan bibi Elvan langsung ikut berdiri untuk mengejarnya. “Marissa!”
Sebelum pergi, bibi Elvan melirik sosok Elvan yang telah memisahkan dirinya dari Diva. “Elvan, kamu–! Haish!” Tidak bisa berkata-kata, dia pun lanjut meninggalkan tempat dan mengejar putri angkatnya itu.
Saat yakin bayangan orang-orang yang mengancam kebebasannya telah pergi, Elvan pun menjauhkan diri dari Diva dan berdiri dari kursinya. Dia menatap kakek, nenek, ayah, dan ibunya–yang masih tercengang–lalu berkata, “Karena masalah sudah selesai, aku dan Diva pamit dulu.”
Elvan menarik tangan Diva agar wanita itu berdiri bersamanya, tapi baru beberapa langkah menjauhi meja, sebuah suara menghentikannya.
“Elvan!”
Elvan menoleh, menatap sang kakek yang memanggilnya.
“Perbuatanmu hari ini …,” Hartono melirik Diva yang masih agak terbengong, lalu menatap Elvan lagi, “apa kamu tahu konsekuensinya?
Elvan memasang wajah dingin dan berkata, “Kalau memang harus menikah, aku hanya akan menikahi Diva. Bukan orang lain.”
Dalam pikiran Elvan, mengucapkan hal itu berarti dia telah memblokir niatan sang kakek untuk menikahkannya dengan gadis lain. Karena memang tidak ada niatannya untuk menikah, Elvan tidak masalah dengan hal itu.
Merasa rencananya sudah sempurna, Elvan pun lanjut berjalan pergi sambil mengenggam lengan Diva erat.
Mendengar balasan Elvan, empat orang yang ditinggalkan di restoran itu hanya bisa berakhir tercengang.
Nenek Elvan, Radiah, menatap sang suami yang masih terbengong dan berkata, “Menurutmu … apa Elvan serius?”
Di tempatnya, Hartono menggeleng. Dia yang tadinya yakin bahwa wanita yang cucunya bawa itu adalah kekasih sewaan, sekarang berakhir dibuat ragu, terlebih ketika melihat Elvan mencium Diva dan bahkan bersumpah hanya akan menikahi wanita itu.
Alhasil, Hartono hanya bisa berkata, “Aku … tidak tahu.”
Di saat ini, Anita pun menatap sang ayah dan berkata, “Ayah … masalah ini ….”
Hartono menutup matanya dan berujung berkata, “Palsu atau tidak, kita akan tahu pada akhirnya.” Dia menatap ke arah kepergian Elvan. “Kalau mereka memang bersandiwara, mari kita lihat sejauh mana mereka bisa menipu kita!”
**
Di dalam lift, Elvan akhirnya melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Diva. Dia menatap wanita yang agak menunduk itu dan berkata, “Terima kasih, Diva. Karena bantuanmu–”
PLAK!
Suara tamparan keras bergema, mengejutkan Elvan yang merasakan panas di pipi kanannya. Diva menamparnya!
“Kamu–!” Baru saja ingin marah, Elvan langsung bungkam ketika melihat wajah Diva. Merah di mata dan kedua pipi wanita itu menunjukkan bahwa Diva bukan hanya malu, tapi marah dan terluka! Sebuah pemandangan yang membuat Elvan tak bisa berkata-kata!
“Apa yang kamu pikir telah kamu lakukan, Tuan Elvan Wongso!?” Diva berseru dengan amarah menyelimuti bola mata indahnya. “Bagaimana bisa kamu menciumku di depan orang banyak seperti itu!?”
“Aku ….” Elvan ingin menjawab. Akan tetapi, tatapan terluka yang Diva berikan membuatnya tak mampu bersuara.
“Aku memang memberikan penawaran untuk melakukan apa saja, tapi sudah kukatakan dengan jelas, aku tidak menjual sejengkalpun dari bagian tubuhku untuk ikut dalam permainanmu, tapi … yang barusan kamu lakukan adalah melecehkanku!” Diva mengepalkan tangannya kuat.
‘Melecehkan’, itu adalah kata yang sangat kuat. Dan jujur, Elvan merasa tindakannya tidak sampai seburuk itu. Namun, pandangan Diva membuat pria itu merasa seperti pria paling bajingan di dunia ini.
“Diva, aku–”
“Cukup, aku tidak ingin mendengar apa pun dari mulutmu itu lagi,” potong Diva.
TING!
Kebetulan, suara denting lift terdengar. Mereka telah kembali tiba di lobi hotel.
Seiring pintu lift terbuka, Diva berkata, “Dengan bantuan hari ini, kuanggap utangku kepadamu telah impas!” teriak wanita tersebut sebelum menambahkan, “Semoga kita tidak bertemu lagi!”
Usai mengatakan itu, Diva langsung keluar dari lift.
“Diva!” Elvan berniat mengejarnya, tapi wanita itu berlari begitu cepat!
Saat Elvan mencapai lobi hotel, Diva telah masuk ke dalam sebuah taksi dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Tidak sedikit pun memberikan waktu untuk Elvan berbicara dengannya lagi.
Melihat taksi yang membawa Diva melesat pergi, Elvan mengepalkan tangannya sendiri. Dia yang tidak pernah merasakan simpatik terhadap orang lain, terus dihantui oleh wajah terluka Diva. Tak hanya itu, dadanya bahkan terasa sesak saat mengingat sepasang bola mata indah yang berkaca-kaca tersebut menatap dirinya dengan penuh amarah.
Tangan Elvan menekan dadanya, merasa bingung dan agak tersiksa. ‘Perasaan apa ini …?’
Sementara itu, di dalam taksi, Diva beberapa kali mengelap bibirnya, sampai-sampai ada bagian yang berdarah. Namun, bagaimana ya … dia benar-benar sangat kesal dengan Elvan. Pria itu baru saja merebut ciuman pertamanya!
Jujur, bukan hanya karena hal itu Diva marah, tapi … juga karena Diva tanpa sadar menikmati ciuman pria tersebut!
Wangi mint yang memesona, juga sentuhan lembut yang membuat darahnya berdesir. Diva seperti tersihir oleh Elvan tadi. Dan … hal itu juga yang membuatnya merasa jijik terhadap ciuman itu … dan dirinya sendiri!
‘Satu tahun berpacaran, Nico saja belum pernah menciumku!’
Membatinkan hal itu, Diva kembali sendu. Mungkinkah alasan Nico berselingkuh adalah … karena dia terlalu menjaga kesuciannya?
Memang benar, Nico bukan hanya pernah mengajaknya berciuman, tapi juga bercinta. Akan tetapi, Diva menolaknya dengan tegas dan berkata hal-hal semacam itu hanya boleh dilakukan setelah menikah.
Ah, dipikirkan kembali, sepertinya memang itu alasan Nico mengkhianatinya. Lagi pula, satu hari setelah menerima undangan pernikahan Nico dan Nadya, Diva juga sudah menerima pesan yang menyatakan semuanya.
“Bukan hanya latar belakang keluargaku yang menjadi alasan, Diva. Akan tetapi, dibandingkan dirimu, aku bisa memberikan segalanya untuk Nico. Itulah alasan dia memilihku dibandingkan gadis sok suci sepertimu!”
Mengingat hal itu, Diva menutup mata dan mengepalkan tangan. ‘Dan sekarang, ciuman pertamaku malah dicuri oleh pria yang bahkan tidak punya perasaan sama sekali padaku.’
Semakin dipikirkan, Diva menjadi semakin kesal kepada Elvan. Dia berdoa semoga tidak akan bertemu lagi dengan pria itu.
***
Setelah beberapa hari dari kejadian tersebut, hidup Diva berjalan seperti biasa. Dia datang ke kantor dan tampak sudah melupakan segalanya mengenai Elvan.
Baru saja duduk di kursi kantornya, tiba-tiba saja, terdapat pemberitahuan kredit masuk di aplikasi perbankan milik Diva. Nominalnya membuat Diva membelalakkan mata!
50 Juta?! Siapa yang mengirimkan uang sebanyak ini untuknya!? Apakah ada yang salah transfer?!
Namun, kemudian Diva melihat catatan pada bukti transfer tersebut.
[Ucapan terima kasih atas bantuan.]
Membaca pesan itu, Diva memiliki dugaan mengenai pengirimnya. Namun, belum sempat memastikan, tiba-tiba ponsel Diva bergetar. Nomor yang tertera di layar tidak dikenal, dan dahi Diva pun berkerut dibuatnya.
Mungkin ini nomor orang yang salah transfer?
Tanpa berpikir panjang, Diva mengangkat panggilan itu. “Halo?”
“Diva.”
Mata Diva terbelalak. Dia mengenali suara itu.
“... Elvan?”
Bab 7
. Jebakan
Terkejut dengan siapa yang menghubunginya, Diva menautkan alisnya. Dari mana pria itu mendapatkan nomor rekening dan juga nomor teleponnya?!
Sesaat Diva kebingungan, tapi kemudian, dia mengingat latar belakang Elvan yang berkuasa dan tidak lagi heran. Dengan uang, segala hal bisa dibeli dan didapatkan, termasuk informasi pribadi seseorang.
“Kenapa kamu menghubungiku?” tanya Diva ketus.
“Aku ingin memberitahukan mengenai–”
“Imbalan atas pelecehan yang kamu lakukan?” potong Diva, masih merasa marah akan hal itu.
“Diva … aku–”
“Dengar, Tuan Elvan Wongso. Aku paham niatmu, dan aku akan menerima uang tutup mulutmu. Akan kujamin apa yang terjadi beberapa hari yang lalu menjadi rahasia. Oleh karena itu, berhenti menghubungiku … karena aku tidak ingin lagi terlibat denganmu!”
PIP!
Usai mengatakan itu, Diva memutus panggilan tanpa menunggu balasan Elvan. Dia yakin pria itu akan terus mengganggunya kalau uang tersebut tidak dia terima.
Diva terlalu paham cara bermain orang-orang kalangan atas. Sama persis seperti Nico, Farha, dan juga Nadya. Mereka mengira uang mengendalikan segalanya, dan orang kecil seperti Diva … tidak pantas untuk dipusingkan.
Di saat ini, sebuah suara mengejutkan Diva.
“Pagi, Diva!”
Sapaan itu membuat Diva menoleh, melihat wajah seorang wanita muda manis yang tersenyum ke arahnya. “Pagi, Intan,” balasnya sembari tersenyum.
Intan adalah teman terdekat Diva di kantor. Sama-sama berjuang melewati masa magang untuk menjadi pegawai tetap selama tiga bulan, ditambah dengan hobi dan kesukaan yang hampir sama, Diva dan Intan pun menjadi sangat dekat.
“Diva, Kamu tahu gak sih, katanya pesta pernikahan Pak Nico beberapa hari yang lalu sedikit kacau.”
Bisikan Intan membuat jantung Diva berhenti sesaat. Dia meletakkan ponselnya ke meja, melupakan tentang Elvan, lalu terfokus pada pembicaraannya dengan Intan.
“Oh … ya? Kok bisa?” Dia pura-pura tidak tahu, tidak ingin disangkut pautkan dengan masalah yang menurut Diva sudah lalu.
Intan menceritakan masalah yang terjadi di pernikahan Nico, bagaimana mantan pria itu datang dan menghadiahkan tikus kecil kepada kedua pengantin. Karena kaget, pengantin wanita jatuh dari panggung, diikuti dengan Nico sendiri yang berusaha menyelamatkan sang istri.
“Untung cepat diselesaikan, kalau tidak malu banget tuh pasti,” imbuh Intan mengakhiri ceritanya.
“Kamu tahu dari siapa, Tan? Seingatku nggak ada dari kita yang diundang ke acaranya, kecuali jajaran direksi?” balas Diva penasaran. Jangan-jangan ada yang mengenalinya di acara pernikahan kemarin!
“Kebetulan adikku teman dekatnya adik Pak Nico, jadi dia diundang dan lihat kejadiannya. Heboh deh pokoknya,” ucap Intan. “Apalagi istrinya Pak Nico bukan orang sembarangan. Pasti habis itu mantannya Pak Nico.”
Mendengar hal itu, Diva tersenyum kecut. ‘Ya, bukan orang sembarangan. Saking bukan sembarangannya dia bisa rebut pacar teman dekatnya sendiri!’ batinnya.
Walau Diva cukup dekat dengan Intan, tapi sesuai pesan Nico ketika mereka mulai berhubungan, tidak ada orang lain yang boleh tahu mereka berpacaran di kantor. Selaku pemimpin perusahaan, dia tidak ingin ada isu yang mengganggu nama baiknya.
‘Mengganggu nama baiknya … seharusnya sejak dia bilang itu, aku sadar dia tidak serius dengan hubungan kami,’ batin Diva dengan senyum pahit di bibir.
“Eh, eh! Cek grup sekarang!” Salah seorang teman kantor mendadak berseru keras. “Sore nanti habis balik kerja, Pak Nico ngundang kita makan-makan! Katanya mau kenalin kita ke istrinya! Lumayan nih makan enak di resto kelas atas.”
Diva yang penasaran langsung mengecek handphonenya. Benar saja, nanti akan ada acara yang sengaja dibuat oleh Nico di Restoran Ocean Sky.
“Gila, hari pertama balik dari bulan madu, langsung traktiran aja nih, Pak Bos!” ucap Intan sambil tertawa senang. Dia menatap ke arah Diva. “Kamu ikut ‘kan, Div?”
Ditanya begitu, Diva memaksakan sebuah senyum selagi menjawab, “Aku kayaknya gak ikutan deh, soalnya masih ada–”
“Ih, jangan ansos!” sahut Intan cepat. “Kamu tuh sering banget nolak ikut acara kantor! Lagian ya, jarang-jarang Pak Nico traktir kita, tahu? Dia itu kan ... pelit.” Intan tertawa setelah mengatakannya.
Nah, ternyata bukan cuma Diva saja yang berpikir Nico dan keluarganya itu pelit.
Akan tetapi, pun diiming-imingi makan gratis, Diva merasa enggan hadir di pesta itu. Bukan hanya malas bertemu mantan, tapi bisa-bisa kalau ketemu Nadya, wanita itu malah akan cari masalah dengannya.
Nggak cuma itu, kalau nanti orang-orang tiba-tiba tahu fakta orang yang mengacaukan pesta pernikahan Nico dan Nadya adalah Diva, mau ditaruh mana mukanya!? Bisa jadi bahan ghibah di kantor dia. Bakalan toxic abis lingkungan kerjanya nanti.
“Pak Nico ada undang beberapa klien penting, Div. Makanannya pasti enak!” Intan lanjut membujuk.
Mendengar hal itu, Diva termenung. ‘Klien penting?’ ulangnya dalam hati.
Kalau memang Nico mengundang klien penting, seharusnya dia akan memeringati Nadya untuk tidak macam-macam dan membuat ulah. Kalau ketahuan Nico sempat memacari Diva, orang yang berasal dari kelas menengah, bisa malu juga dia.
“Udah! Jangan kebanyakan mikir! Entar pulang aku anter juga deh, ‘kan rumah kita searah!” seru Intan, sama sekali tidak tahu bahwa alasan Diva ragu adalah karena hubungannya dengan Nico dan Nadya.
Setelah berpikir matang dan terus dibujuk Intan, akhirnya Diva pun menyerah. “Oke, oke. Aku ikut,” jawabnya sambil tersenyum tak berdaya. Dalam hati, dia membatin, ‘Seharusnya, nggak akan terjadi apa-apa, ‘kan? Cuma makan biasa aja ….’
**
Saat waktu pulang kerja pun tiba, semua orang langsung berbondong-bondong pergi ke restoran Ocean Sky, tempat Nico mengadakan acara.
Ruangan restoran yang disewa sangat besar, cukup untuk menampung banyaknya karyawan yang ikut ke acara ini. Hiasan antik dan suasana megah membuat keseluruhan acara terkesan mewah dan berkelas. Sesuatu yang sangat jarang Nico sediakan mengingat sifatnya yang pelit.
‘Sepertinya, sungguh akan ada klien penting yang hadir hari ini,’ batin Diva selagi mengunyah kudapan di pojok ruangan. Intan yang tadi meminta ditemani, tampak sedang sibuk berkeliling ke sana kemari untuk mengambil makanan dari buffet yang disediakan.
“Kuharap kali ini kamu tidak mengacau.” Suara yang sangat familier itu membuat Diva membalikkan badan, menatap wanita berambut hitam panjang dengan gaun merah menyalanya yang seksi itu.
Itu Nadya.
Diva menghela napas malas, lalu membalas dengan santai, “Tenang saja, aku sudah ikhlas kamu mengambil barang bekasku.”
Mendengar Diva merujuk pada Nico demikian, Nadya memasang wajah marah. “Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa terus sombong seperti itu!” desisnya.
Diva memutar bola matanya malas, lalu berbalik untuk menjauh dari wanita tersebut. Akan tetapi, belum ada satu langkah, suara gelas pecah memekakkan telinga.
Dengan cepat Diva menoleh, menatap Nadya yang terjatuh dengan pecahan kaca di sekelilingnya. “Ah! Sakit sekali.” Dia menatap Diva. “Diva, kenapa kamu bersikap seperti ini!? Apa salahku padamu?!”
Seruan lantang Nadya membuat setiap pasang mata di ruangan itu beralih pada Diva, menatapnya seakan dia adalah penjahat utama.
Di sisi lain, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. “Nadya!”
Itu adalah Nico.
“Nico!” panggil Nadya saat sang suami berusaha membantunya berdiri.
Melihat sang istri yang tidak berdaya, juga air mata yang menggenang di pelupuk mata Nadya, hati Nico membara. Dia menatap Diva penuh amarah. “Diva, apa yang kamu lakukan pada istri saya!?”
“Tadi saya lihat Diva mendorong istri Bapak!” seru seorang wanita berambut pendek yang berdiri tidak jauh dari sana. Itu adalah Mira, atasan langsung Diva yang tidak suka dengan kinerja baiknya.
Mendengar tudingan yang diarahkan padanya, Diva pun memasang wajah buruk. Ternyata, ini adalah balasan Nadya atas tindakan Diva mengacaukan pernikahannya.
Tangan Diva mengepal. ‘Dia … sengaja menjadikanku tokoh antagonis acara ini?’