Bab 1
Pada hari ketiga setelah kematianku, Sandi Subowo menerima telepon untuk mengidentifikasi jenazah.
Dia dengan santai merangkul wanita dalam pelukannya dan berkata, "Mati ya sudah mati, kremasi dulu baru hubungi aku."
Tubuhku dimasukkan ke dalam tungku kremasi, dan setelah berubah menjadi abu, staf kembali menelepon Sandi.
Dia mendecak tidak sabar.
"Baiklah, aku segera ke sana."
Pada hari ketiga setelah kematianku, Sandi Subowo menerima telepon untuk mengidentifikasi jenazah.
Dia dengan santai merangkul wanita dalam pelukannya dan berkata, "Mati ya sudah mati, kremasi dulu baru hubungi aku."
Tubuhku dimasukkan ke dalam tungku kremasi, dan setelah berubah menjadi abu, staf kembali menelepon Sandi.
Dia mendecak tidak sabar.
"Baiklah, aku segera ke sana."
....
Ketika Sandi tiba, sudah dua jam berlalu.
Pakaiannya agak berantakan, dan ada bekas lipstik mencolok di kerahnya.
Tidak sulit untuk melihat bahwa dia baru saja turun dari "medan perang."
Setelah menemui staf, dia mencibir, "Mana abu jenazah Yulia Setiadi? Bukannya aku disuruh datang untuk mengambilnya?"
Staf memastikan identitasnya, lalu menyerahkan kotak berisi abu jenazahku kepadanya.
Sandi menerimanya dengan santai, dengan tatapan penuh ejekan.
"Ini benar-benar abu jenazah Yulia? Jangan-jangan kalian isi kotak ini dengan abu kucing atau anjing untuk menipuku?"
Staf itu sangat terkejut. "Pak Sandi, ini benar-benar abu jenazah Nona Yulia. Ada catatannya. Apa kamu ingin melihatnya?"
Sandi tersenyum tipis. "Nggak perlu, aku percaya kalian."
Aku merasa lega. Entah kenapa, meskipun aku sudah mati, jiwaku masih ada di sini.
Kupikir mungkin karena aku belum dikuburkan dengan layak.
Sekarang Sandi sudah percaya aku mati. Meskipun dia membenciku, demi kenangan masa lalu, dia seharusnya setidaknya akan menguburku, 'kan?
Namun, aku belum sempat merasa senang ketika tiba-tiba Sandi berteriak.
Kotak abu jenazahku jatuh dari tangannya, dan abuku berhamburan ke lantai.
Dia tersenyum kejam. "Maaf, tanganku licin."
Sambil berkata begitu, dia menginjak abuku dengan sol sepatunya.
Aku tertegun, menatap matanya yang penuh ejekan. Aku membuka mulutku, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.
Akhirnya, abuku sepenuhnya hilang di celah lantai, bercampur dengan debu.
Baru saat itu Sandi menarik kembali kakinya dengan puas.
Di tengah keterkejutan staf, dia berkata sambil tertawa, "Ingat, sampaikan pada Yulia, triknya kali ini memang baru, tapi tetap saja gagal."
"Beberapa hari lagi peringatan kematian ibuku. Sebaiknya dia pergi ke makam ibuku untuk menebus dosa. Kalau nggak, meskipun dia benar-benar mati, aku nggak akan segan-segan menggali jenazahnya dan mencambuknya."
Beberapa kata terakhir itu penuh dengan kebencian yang dingin, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa ngeri.
Namun, aku tahu, dia benar-benar bisa melakukannya.
Tiba-tiba aku merasa lega karena tubuhku sudah dikremasi.
Kalau tidak, pemandangan itu pasti akan sangat mengerikan.
Sebelum staf itu sempat menjawab, Sandi sudah menerima telepon dan pergi.
Anehnya, jiwaku ikut dengannya.
Aku terpaksa duduk di kursi penumpang depan, mendengarkan dia berbicara dengan seorang wanita di telepon.
Aku mengenali suara itu. Itu suara Irene Subowo, anak angkat Keluarga Subowo.
Saat aku dan Sandi masih saling mencintai, Irene pernah mencariku, memintaku meninggalkan Sandi.
Aku menolak, dan dia mulai menargetkanku, menyebarkan rumor di perusahaanku dan mengerahkan orang-orang untuk menggangguku.
Ketika Sandi tahu, dia menghukum Irene dengan keras dan mengancam akan mengusirnya jika dia berani menyentuhku lagi.
Baru setelah itu, Irene akhirnya diam.
Ketika Irene menyebut namaku, ekspresi Sandi menjadi dingin.
"Kenapa menyebut dia? Menjengkelkan, dia juga nggak benar-benar mati."
"Kalau dia benar-benar mati, apa yang akan kamu lakukan?" Irene bertanya dengan nada suara penuh harap.
Aku menegang, secara refleks menoleh ke arah Sandi.
Jika itu Sandi yang dulu, jangankan kematian, melihat tanganku terluka sedikit saja sudah membuatnya sangat khawatir.
Dia pernah berkata bahwa aku adalah harta berharganya, dan dia akan menjagaku seumur hidup.
Namun sekarang, Sandi hanya tertawa dingin. "Kalau dia benar-benar mati, aku akan adakan pesta selama tiga hari tiga malam, lalu menyalakan kembang api di seluruh kota untuk merayakannya."
Bab 2
Aku membelalak tidak percaya. Baru sekarang aku sadar, Sandi ternyata membenciku sedalam ini.
Begitu bencinya sampai kematianku menjadi hal yang layak dirayakan baginya.
Namun, Sandi, aku benar-benar sudah mati, hanya saja kamu tidak percaya.
Mobil berhenti di depan sebuah toko gaun pengantin. Sandi melangkah masuk dengan langkah lebar dan cepat.
Dia terlihat begitu antusias, persis seperti hari ketika kami diam-diam menikah, lalu dia mengajakku ke toko gaun pengantin ini.
Saat itu, dia tidak sabar ingin melihatku mengenakan gaun pengantin.
Dia memelukku dengan penuh semangat, berkata bahwa aku adalah pengantin tercantik di dunia ini.
Namun kini, dia memandang Irene yang mengenakan gaun pengantin dengan tatapan lembut yang sama.
Dia menyibakkan rambut yang jatuh di telinga Irene dengan penuh perhatian, lalu berkata dengan suara lembut, "Cantik."
Irene menunduk malu-malu dan tersenyum. Ketika dia mendongak, matanya sudah penuh dengan air mata.
"Sandi, penantianku berakhir."
Aku terpana menyaksikan Irene mencium pipi Sandi.
Aku ingin segera menghentikan semua ini.
Namun, tanganku justru menembus tubuh Sandi, dan aku hanya bisa menatapnya dengan linglung saat dia menyematkan cincin ke jari tengah Irene.
Bagaimana bisa?
Kenapa harus Irene?
Bukannya Irene yang menyebabkan kematian ibu Sandi?
Sandi!
Aku membuka mulut, suara serakku dipenuhi kemarahan dan kesedihan.
Namun tubuhku terasa mati rasa. Aku hanya bisa menyaksikan semua ini dengan putus asa.
Irene dengan penuh semangat memandang cermin, lalu tiba-tiba bertanya, "Omong-omong, Sandi, dia nggak apa-apa, 'kan?"
Kita semua tahu siapa "dia" yang dimaksud.
Ekspresi Sandi berubah dingin, bahkan tampak agak jengkel.
"Bisa apa dia? Itu cuma trik kecil."
"Kalau begitu, apa kita akan mengundangnya ke pernikahan kita?"
Sandi menundukkan pandangannya, menyembunyikan emosi di dalamnya. Lalu, senyum jahat tiba-tiba muncul di sudut bibirnya.
"Tentu saja harus diundang. Dia orang penting, 'kan."
Saat itu aku langsung mengerti, Sandi ingin aku menyaksikan pernikahannya dengan mata kepalaku sendiri.
Bagaimanapun, ini adalah adegan yang selama ini aku nantikan.
Dulu, karena belum mendapatkan restu dari ibunya, kami hanya menikah tanpa mengadakan pesta pernikahan.
Kemudian, pesta pernikahan pun menjadi harapan yang terlalu mewah bagiku.
Karena ibunya meninggal terkena serangan jantung dan tidak tertolong.
Pada malam saat ibunya meninggal, panggilan telepon terakhirnya adalah untukku.
Karena itu, Sandi merasa wajar mencurigai bahwa akulah yang menyebabkan kematian ibunya.
Pada hari pemakaman ibunya, Sandi memaksaku berlutut di depan makam selama sehari semalam.
Hari itu hujan sangat deras. Kami saling menatap di bawah hujan.
Matanya penuh dengan kekecewaan dan kebencian.
Dia berkata, "Yulia, mulai sekarang, kamu dan aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita mati."
Sejak saat itu, aku yang sebelumnya menjadi kekasihnya, berubah menjadi musuhnya.
Dia membenciku, mempermalukan aku, tetapi tidak mengizinkanku pergi darinya.
Bahkan dia membawa wanita lain pulang untuk bermalam.
Ketika dia melihat mataku memerah, dia hanya tertawa kecil sambil menepuk wajahku dengan mengejek, "Yulia, rasanya sakit, ya? Tapi, ini semua salahmu sendiri. Siapa yang bisa kamu salahkan?"
Aku berusaha menjelaskan, tetapi itu hanya membuat Sandi makin kejam.
Dia tidak pernah meragukan kesimpulannya, karena dia tahu ibunya tidak menyukaiku.
Bahkan ibunya pernah berkata bahwa seumur hidup aku tidak akan pernah diizinkan masuk ke rumah Keluarga Subowo.
Untuk itu, Sandi sering bertengkar dengannya, bahkan rela memutus hubungan dengan Keluarga Subowo, hanya demi bersamaku.
Namun, wanita yang dia cintai menjadi penyebab kematian ibunya.
Bagaimana mungkin Sandi bisa menerima itu?
Tak lama, Irene pun pergi.
Sandi seperti baru teringat padaku.
Dengan baik hati, dia menghapusku dari daftar hitamnya. Lalu, dengan satu tangan mengetuk-ngetuk setir, dia menekan nomorku dengan tangan yang lain.
Beberapa saat kemudian, aku melihat alisnya yang tadinya santai kini mulai berkerut.
Dia memukul setir dengan kesal untuk melampiaskan amarahnya.
"Yulia, berani-beraninya kamu nggak menjawab teleponku. Apa kamu cari mati?"
Namun, dia tidak tahu, aku bukan tidak ingin menjawab teleponnya.
Aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi.
Bab 3
Setelah setengah bulan berlalu, Sandi akhirnya kembali ke rumah kami.
Dengan kasar, dia mendorong pintu rumah sambil berteriak, "Yulia, keluar kamu sekarang juga!"
Dia membuka pintu satu demi satu, tetapi tetap tidak menemukan sosokku.
Wajah Sandi yang memang sudah suram menjadi makin gelap.
Sambil memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaanku, dia berkata dengan dingin, "Yulia, kalau mau lari, sebaiknya lari sejauh mungkin. Kalau aku berhasil menangkapmu, pasti akan kupatahkan kakimu."
Namun, wanita yang ingin dia patahkan kakinya saat ini berada tepat di depannya.
Tak lama, anak buahnya mengirimkan lokasi.
Ekspresi di wajah Sandi perlahan menjadi mengerikan. Aku memandang dengan penuh kebingungan dan baru menyadari bahwa lokasi itu adalah rumah Lukas Jiwanto.
"Pak Sandi, panggilan terakhir Ibu dilakukan ke Pak Lukas, tapi Pak Lukas bilang dia tidak pernah melihat Ibu. Kami curiga dia menculik Ibu."
Sandi berkata dengan suara dingin, "Tunggu aku di sana."
Sandi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah Lukas.
Dengan wajah dingin, dia menendang pintu yang tertutup rapat.
Sekali, dua kali, dan pada tendangan ketiga, pintu terbuka.
Lukas berdiri dengan wajah tenang, tetapi ada lebam ungu di bawah matanya.
"Ada apa?"
Sandi menyeringai dingin, "Kamu menyembunyikan istriku. Menurutmu, aku ada urusan nggak?"
Lukas tetap tidak menunjukkan ekspresi, seolah-olah tidak peduli lagi pada dunia ini.
"Aku nggak menyembunyikannya. Dia sudah meninggal, dan pihak krematorium sudah memberitahumu untuk mengambil abu jenazahnya, 'kan?"
"Dia bahkan melibatkanmu untuk membantunya berakting? Heh, sepertinya Yulia benar-benar ingin menghindariku kali ini."
Sandi tidak percaya aku telah mati. Dia bersikeras berpikir ini hanyalah tipuan dariku.
Dia melongok ke dalam rumah dan berteriak, "Yulia, jangan kira dengan perlindungan Lukas, kamu bisa lolos dari kewajiban ke makam ibuku. Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu nggak keluar, jangan salahkan aku kalau bertindak kejam."
Tiga, dua, satu.
Setelah menghitung, Sandi menendang Lukas dengan keras, lalu memerintahkan anak buahnya untuk masuk dan mencariku.
Lukas terjatuh ke lantai, dan ekspresi tenangnya berubah menjadi kemarahan.
"Sandi, Yulia sudah mati. Kamu sendiri yang mengambil abu jenazahnya. Sudah lupa?"
"Dia sudah mati. Dia mati beberapa hari yang lalu."
Lukas dengan marah mencengkeram kerah Sandi, mendorongnya ke dinding.
Ekspresi Sandi sangat muram. Dia mengejek, "Di saat seperti ini, kamu masih mau sembunyikan dia. Lukas, kamu memang sangat mencintainya. Sayangnya, dia sudah hancur di tanganku. Kalau nanti aku sudah bosan, dan kamu masih menyukainya, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memberikannya padamu."
"Tapi, sekarang nggak bisa. Dia harus ke makam ibuku untuk meminta maaf. Nggak ada waktu untuk menemanimu."
Wajah Lukas memerah hingga ke leher. Dia mencengkeram kerah Sandi dengan erat sambil menggertakkan gigi, "Sandi, kamu benar-benar bajingan."
Dia tiba-tiba memukul wajah Sandi, membuat Sandi mengerang kesakitan.
Dalam sekejap, keduanya saling memukul dan bergulat satu sama lain.
Orang-orang tua dulu pernah berkata, setelah seseorang mati, dia tidak akan merasakan apa-apa lagi.
Namun, entah kenapa, aku merasa dadaku sesak, seperti akan meledak.
Meski Lukas sering berolahraga, Sandi adalah seseorang yang berlatih.
Setelah beberapa kali pukulan, Lukas terjatuh ke lantai dengan beberapa memar di wajahnya.
Aku berputar-putar dengan cemas, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lukas, lihat betapa menyedihkannya dirimu. Demi Yulia, kamu hampir mati di tanganku. Tapi dia, dia dengan tenang menikmati perlindunganmu."
"Orang seperti itu, apa layak kamu cintai?"
Lukas tertawa kecil dengan penuh ejekan, "Sandi, orang yang benar-benar menyedihkan itu kamu. Kamu bahkan bisa salah mengenali pembunuh ibumu. Kamu bahkan melukai orang yang kamu cintai. Hidupmu bahkan lebih buruk dari seekor kucing atau anjing."
"Apa maksudmu?"
Sandi mengangkat tinjunya dengan dingin.
Saat itu, suara mendesak terdengar.
"Pak Sandi, kami menemukan rekaman kecelakaan mobil Ibu, juga ... laporan otopsinya."