Bab 7
Adeline terbangun oleh suara pintu terbuka di dini hari. Dia melihat jam beker di samping tempat tidur yang menunjukkan pukul 2.16.
Kaivan bergerak sangat pelan, seolah-olah takut membangunkan Adeline. Yang tidak dia ketahui adalah, sejak Adeline tahu dia berselingkuh, kualitas tidur Adeline menjadi sangat buruk dan dia akan terbangun hanya dengan suara sekecil apa pun.
Namun, sudah tidak ada Adeline di dalam hati Kaivan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengetahui hal sekecil ini?
Kebetulan, Adeline tidak ingin menghadapi Kaivan sekarang. Dia pun memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Kaivan membuka lemari, mengambil piamanya, dan pergi mandi. Setelahnya, terdengar suara air yang berangsur-angsur menetes di kamar mandi. Tak lama kemudian, suara air itu berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara langkah kaki datang dari jauh sebelum berhenti di samping tempat tidur.
Meskipun punggungnya menghadap Kaivan, Adeline bisa merasakan Kaivan mengangkat selimut dan berbaring miring. Saat sisi lain ranjang ikut tenggelam, kamar yang gelap ini menjadi sunyi. Begitu sunyi hingga mereka bisa mendengar napas pelan satu sama lain.
Adeline tidak lagi mengantuk dan tidak berhenti menghitung domba dalam benaknya. Dulu, ketika dia tak bisa tidur di malam hari, Kaivan akan membacakan cerita untuk membujuknya tidur. Sesekali, dia juga akan bercerita tentang masa depan.
Kaivan berkata bahwa setelah bisnisnya berhasil, dia akan membawa Adeline pindah ke apartemen dengan kaca jendela yang besar, pernikahan mereka akan digelar di pinggir pantai Maldiva, dan mereka akan memiliki dua anak di masa depan. Paling bagus apabila anak mereka adalah sepasang anak laki-laki dan perempuan ....
Pada saat itu, mereka sangat miskin dan harus tidur berdesakan di ranjang kecil di ruang bawah tanah. Namun, ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan. Tidak seperti sekarang, mereka tidak memiliki topik pembicaraan, sedangkan hati mereka juga tidak sejalan lagi meskipun mereka masih tidur di ranjang yang sama.
Jika dipikir-pikir, ini sungguh menyedihkan.
Adeline tidak tahu kapan dirinya tertidur. Ketika dia bangun, waktunya sudah hampir pukul delapan.
Mobil Adeline sedang diperbaiki sehingga dia hanya bisa naik MRT untuk pergi dan pulang bekerja selama seminggu ini. Perjalanan dari rumah ke firma hukum memakan waktu 45 menit. Biasanya, dia bangun pukul 7.20. Hari ini, entah kenapa alarmnya tidak berbunyi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Adeline keluar dari kamar dan melihat Kaivan yang mengenakan setelan jas sedang duduk sarapan di meja makan. Dia pun tercengang. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Kaivan sarapan di rumah.
Melihat Adeline berdiri terpaku di sana, Kaivan berinisiatif untuk berkata, "Ayo sarapan."
Di atas meja, terdapat cakwe dan susu kedelai. Ini merupakan kombinasi favorit Adeline dulu.
Setiap kali mereka bertengkar dulu, Kaivan akan bangun pagi keesokan harinya untuk membuat cakwe dan susu kedelai. Setelah itu, dia akan membangunkan Adeline untuk sarapan.
Cakwe yang dibuatnya berbeda bentuk dengan cakwe panjang yang dijual di luar. Yang dia buat semuanya berbentuk hati. Setiap kali melihat cakwe berbentuk hati itu, amarah Adeline akan langsung hilang.
Namun, sejak berselingkuh, Kaivan tidak pernah melakukannya lagi. Sebab, setelah bertengkar, dia biasanya akan membanting pintu dan meninggalkan Adeline sendirian sampai Adeline berinisiatif untuk mengajak berdamai.
Adeline mengira Kaivan sudah lama melupakan hal ini. Ternyata, Kaivan tidak melupakannya. Hanya saja, dia terlalu malas untuk menghiburnya seperti dulu.
Hal yang paling mudah berubah di dunia ini sebenarnya adalah hati manusia.
"Nggak deh, aku sudah hampir terlambat masuk kerja."
"Aku akan mengantarmu pergi seusai makan."
Adeline terdiam dan merasa ragu untuk sejenak. Kemudian, dia berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Begitu dia duduk, Kaivan meletakkan cakwe berbentuk hati di piringnya.
"Sudah lama aku nggak membuatnya. Cobalah dan lihat apa keterampilan memasakku menurun atau nggak."
Adeline menunduk dan menatap cakwe di piringnya sejenak sebelum mengambil dan menggigitnya. Cakwe itu terasa lembut dan rasanya masih sama. Hanya saja, karena pola makannya yang tidak teratur selama beberapa tahun terakhir, lambungnya menjadi lemah. Makanan seperti ini terlalu berminyak untuknya.
Melihat Adeline meletakkan cakwe itu setelah hanya satu gigitan, Kaivan pun mengerutkan kening. "Rasanya aneh, ya?"
Adeline menggeleng. "Nggak, enak kok. Tapi, aku nggak suka makan makanan yang berminyak lagi sekarang."
Tangan Kaivan yang memegang garpu mengerat dan seluruh ruang makan menjadi hening. Setelah beberapa saat, dia meletakkan garpunya.
"Jangan makan kalau terlalu berminyak. Aku akan antar kamu ke kantor dan belikan sedikit makanan untukmu dalam perjalanan nanti."
"Oke."
Baru saja mereka tiba di tempat parkir bawah tanah, ponsel Kaivan mulai berdering. Dia menolak panggilan itu beberapa kali, tetapi orang yang menelepon sangat gigih dan tidak berhenti menelepon. Adeline bahkan tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu adalah Lesya.
"Angkatlah, mungkin ada sesuatu yang mendesak."
Kaivan menoleh untuk melirik Adeline dan mengerutkan kening. Namun, Adeline tidak menatapnya, melainkan hanya menunduk menatap ujung sepatunya.
Ponsel masih berdering dan Kaivan akhirnya menjawabnya.
Terdengar isak tangis pelan dan suara perempuan yang terputus-putus dari ujung telepon, tetapi Adeline tidak mendengarnya dengan jelas. Namun, setelah mengakhiri panggilan telepon, raut wajah Kaivan menjadi jauh lebih buruk.
"Sudah terjadi sesuatu pada Lesya. Kamu naik taksi saja sendiri. Aku nggak mengantarmu lagi."
Setelah mengatakan itu dan tanpa menunggu Adeline menjawab, Kaivan berjalan cepat menuju mobilnya. Baginya, Adeline yang memakan cakwe buatannya pagi ini setara dengan sudah memaafkan perkataannya semalam. Wajar saja dia tidak ingin lanjut membuang-buang waktu untuk Adeline.
Melihat punggung Kaivan yang menghilang dengan cepat dari pandangan, di luar dugaan, Adeline malah merasa tenang. Ternyata ketika seseorang sudah tidak menaruh ekspektasi terhadap orang lain, dia tidak akan merasa terlalu sedih.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.16 ketika taksi yang ditumpangi Adeline tiba di lantai bawah firma hukum. Begitu melangkah masuk, Adeline menyadari rekan-rekannya menatapnya dengan iba. Mungkin karena mereka semua tahu apa yang terjadi di restoran semalam.
Adeline menunduk dan berjalan ke meja kerjanya tanpa ekspresi. Kemudian, dia duduk dan mulai bekerja. Tepat setelah memproses sebuah berkas, ponselnya berbunyi dan Carissa mengirimkan sebuah foto. Tepatnya, itu adalah foto Kaivan yang sedang duduk di samping tempat tidur dan menyuapi Lesya makan bubur.
Meskipun foto itu hanya menunjukkan samping wajah Kaivan, dapat dilihat bahwa dia sedang tersenyum dan menatap Lesya dengan penuh kasih sayang. Lesya juga menatapnya dan cinta di matanya hampir meluap. Cahaya matahari dari jendela menyinari mereka sehingga suasananya terlihat hangat dan harmonis.
Kaivan tidak punya waktu untuk mengantar Adeline ke tempat kerja, tetapi punya waktu untuk pergi ke rumah sakit demi menemani wanita lain dan menyuapinya bubur. Sebenarnya, mudah untuk mengetahui apakah Kaivan mencintai seseorang atau tidak. Hanya saja, Adeline selalu menolak untuk mengakuinya dan memilih untuk mempertahankan kedamaian seperti ini.
Jari-jari Adeline yang memegang ponsel mengerat. Setelah waktu yang cukup lama, dia baru membalas pesan Carissa.
[ Pengambilan fotonya bagus juga. ]
Layar menunjukkan bahwa Carissa mengetik cukup lama, tetapi akhirnya hanya mengirim elipsis.
Adeline tidak membalas lagi. Dia membalikkan ponselnya di atas meja dan mulai bekerja. Saat hendak menulis materi, rekan kerja di meja sebelahnya tiba-tiba berseru, "Bu Adeline, cepat lihat X!"
Gerakan Adeline yang sedang mengetik di keyboard terhenti sejenak. Dia menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
Rekan kerja itu terlihat agak serbasalah. Dia menjawab, "Kamu akan tahu begitu melihatnya."
Adeline mengambil ponselnya, lalu membuka X. Pencarian populer yang menduduki peringkat pertama pun muncul di layarnya.
[ Romansa Presdir Nusa Tech ]
Setelah mengklik tautan itu, yang keluar adalah foto Kaivan yang sedang menyuapi Lesya makan bubur, seperti yang baru saja dikirim Carissa. Komentar-komentar di bawahnya penuh dengan ucapan selamat.
[ Perpaduan pria tampan dan wanita cantik sungguh memanjakan mata! ]
[ Gadis itu sekretarisnya Pak Kaivan. Hubungan mereka benar-benar mirip novel presdir mendominasi yang jatuh cinta pada orang awam! ]
[ Kapan cinta semanis ini akan datang padaku? Aku juga butuh presdir mendominasi untuk menyuapiku makan bubur waktu aku sakit! ]
...
Sangat jelas bahwa semua orang mengira Lesya adalah pacar Kaivan.
Kaivan tidak pernah mempublikasikan hubungannya dengan Adeline ke dunia luar. Selama beberapa tahun terakhir, selain teman-teman dekat Kaivan, hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka bersama. Jadi, di mata orang lain, dia selalu adalah seorang pria lajang ideal.
Bab 8
Sekarang, setelah foto dirinya dan Lesya tersebar, Lesya tentu saja menempati posisi pacar resmi Kaivan.
Jika itu dulu, Adeline pasti akan menelepon Kaivan untuk mempertanyakannya dan memintanya untuk segera mengklarifikasi hal ini. Sekarang, dia ingin melihat apa yang akan Kaivan lakukan jika dia tidak membuat keributan. Apa Kaivan akan membiarkan rumor ini menyebar luas atau keluar untuk mengklarifikasinya?
Adeline meletakkan ponselnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu melanjutkan pekerjaannya. Awalnya, dia mengira dirinya tidak akan bisa fokus bekerja hari ini. Tak disangka, selain tidak terpengaruh oleh kejadian ini, dia juga menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik.
Ketika hampir waktunya pulang kerja, Adeline membuka X. Pencarian populer pagi ini telah dihapus sepenuhnya. Baik akun pribadi Kaivan maupun akun resmi Nusa Tech tidak mengeluarkan pernyataan yang relevan.
Kaivan tidak mungkin tidak tahu bahwa tidak mengklarifikasi rumor itu setara dengan mengiakannya secara diam. Selain itu, meskipun hubungan Adeline dengan Kaivan tidak diumumkan secara resmi, tetap ada beberapa orang yang mengetahuinya.
Tidak mengklarifikasi sekarang sama saja dengan mengubur ranjau untuk perusahaan Kaivan. Begitu ranjau ini meledak, itu pasti akan berdampak buruk pada citra perusahaannya. Namun, demi Lesya, dia tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Hanya saja, Adeline tidak terkejut dengan akhir seperti ini. Dia bahkan sudah menduganya. Ini sama membosankannya dengan bisa langsung menebak akhir cerita padahal baru mulai menonton sebuah film.
Selain itu, Adeline akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah lama menjadi seseorang yang tak berarti di hati Kaivan, yang juga bisa dihapus sesuka hatinya. Kaivan bahkan tidak mengakuinya sebagai pacar.
Adeline dengan tenang menyimpan ponsel dan mematikan komputer, lalu bangkit untuk pergi.
Mereka berdua melanjutkan hidup seperti sebelum Kaivan membawa Lesya ke Maldiva. Namun, kali ini Adeline tidak lagi mengungkit tentang pernikahan di hadapan Kaivan. Adeline tidak mengungkitnya, sedangkan Kaivan juga malas mengungkitnya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Selain foto Kaivan yang menyuapi Lesya makan bubur, tidak ada lagi rumor yang beredar di internet. Beberapa karyawan yang mengaku bekerja di Nusa Tech sering diam-diam mengungkapkan bahwa Kaivan sangat memanjakan Lesya. Selain mengantar jemput Lesya bekerja setiap hari, Kaivan juga sering memberinya berbagai barang mewah dan tas.
Hal-hal ini saja sudah cukup untuk membuat netizen berimajinasi tanpa henti.
Adeline menerima dua kasus dan begitu sibuk hingga tidak menyadari bahwa rumor yang ditimbulkan foto tersebut masih bergolak. Rekan-rekan lain di firma hukum mengetahuinya, tetapi tidak berani membicarakannya di depan Adeline.
Pada Jumat malam, Adeline sibuk hingga pukul enam sore dan akhirnya menyelesaikan materi sidang. Ketika meregangkan badan dan hendak pulang kerja, ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat yang menelepon adalah Kaivan, Adeline ragu sejenak sebelum menjawab, "Ada apa?"
Kaivan sudah agak tidak sabar. Dia berkata dengan suara rendah dan menekan rasa kesal, "Ibuku suruh kita pulang untuk makan malam bersama. Aku sudah tunggu di bawah perusahaanmu."
Adeline tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada ponsel. Setelah beberapa saat, dia menjawab, "Oke."
Sepuluh menit kemudian, Adeline masuk ke mobil Kaivan. Ekspresinya terlihat agak dingin. Suasana hatinya jelas sedang tidak bagus.
Setelah sibuk seharian, Adeline sangat lelah. Dia tidak tertarik untuk bertanya kenapa suasana hati Kaivan buruk. Dia hanya bersandar di kursi dan segera tertidur. Namun, tidurnya tidak lelap. Dia langsung terbangun begitu mobil Kaivan berhenti di bawah gedung apartemen Prisa Candika, ibunya Kaivan.
"Aku mau pergi beli buah. Kamu naik saja dulu."
Kaivan tidak menyahut, sedangkan Adeline juga tidak menantikan tanggapan dari Kaivan. Jadi, dia membuka pintu mobil dan langsung pergi.
Ada sebuah toko buah di pintu masuk gedung apartemen tempat Prisa tinggal. Adeline memilih beberapa macam buah kesukaan Prisa, lalu membayarnya dan berjalan pulang.
Kaivan masih belum naik, melainkan bersandar di pintu pengemudi sambil merokok. Di bawah nyala api rokok yang sesekali menyala dan meredup, raut wajahnya terlihat kabur.
Adeline berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya dengan tenang.
Setelah mendengar suara langkah kaki, Kaivan pun mematikan rokoknya dan melirik Adeline. Kemudian, dia baru berbalik dan masuk ke gedung apartemen.
Mereka berjalan dalam diam sampai ke depan pintu rumah Prisa. Sebelum mengetuk pintu, Kaivan menoleh ke arah Adeline dan berkata tanpa ekspresi, "Ibuku sudah lihat fotoku dengan Lesya di internet. Kalau nanti dia tanya lagi, kamu bilang saja itu palsu."
"Kamu minta aku datang kemari hari ini karena mau aku bantu kamu bohongi Bibi Prisa?"
Kaivan mengangkat alisnya dan bertanya balik dengan acuh tak acuh, "Kalau nggak?"
Sambil berbicara, dia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Adeline. Raut wajahnya penuh dengan ejekan. "Adeline, jangan bilang kamu masih harapkan sesuatu yang mustahil dariku?"
Adeline mengepalkan tangannya dengan erat. Pegangan kantong plastik menempel erat ke kulitnya hingga membuat jari-jarinya terasa sakit. Rasa sakit itu seakan-akan menjalar dari jari-jarinya ke jantung sehingga bahkan jantungnya juga terasa nyeri.
Ketika keduanya terdiam, pintu di belakang Kaivan tiba-tiba terbuka dan terdengar suara Prisa.
"Kenapa kalian nggak ketuk pintu kalau sudah sampai? Cepat masuk! Makanannya sudah siap."
Kaivan berbalik dan terlebih dahulu berjalan masuk. Sementara itu, Adeline menggigit bibirnya dan mengikutinya berjalan masuk.
Prisa mengambil buah dari tangan Adeline dan berkata sambil tersenyum, "Kita akan segera jadi keluarga, buat apa kamu masih bawakan sesuatu waktu datang makan bersama?"
Adeline yang sedang mengganti sepatunya tertegun sejenak. Sepertinya, Kaivan belum memberi tahu Prisa tentang penundaan pernikahan mereka. Dia menatap Prisa dan menjawab sambil tersenyum, "Bibi, itu cuma sedikit buah kok."
"Iya. Tapi lain kali kamu datang, nggak usah beli apa-apa lagi. Ayo cuci tangan dulu. Habis itu, kita mulai makan."
Adeline mengangguk, tetapi malah diam-diam berpikir entah apakah dia masih punya kesempatan untuk datang lagi kelak.
Selama makan, Prisa tidak berhenti bertanya kepada Adeline dan Kaivan tentang persiapan pernikahan serta apakah mereka butuh bantuan.
Kaivan yang sudah kesal mendengar pertanyaan-pertanyaan itu pun menjawab dengan dingin, "Ibu, ini urusanku dan Adeline. Kamu nggak perlu khawatir."
Sejak melihat foto Kaivan bersama sekretarisnya, Prisa terus menahan amarahnya. Namun, begitu melihat ekspresi tidak sabar Kaivan, dia tidak berencana untuk menahannya lagi.
Prisa membanting sendoknya ke atas meja dan berseru marah, "Oke, aku nggak akan khawatir tentang masalah pernikahan. Kalau begitu, katakan padaku, apa yang terjadi antara kamu dan sekretarismu itu? Kamu akan segera menikah, tapi rumormu dan sekretarismu malah begitu heboh. Coba bilang, apa sebenarnya maumu!"
Suasana di dalam ruang makan seketika menjadi hening. Adeline meletakkan sendoknya tanpa suara, tetapi tidak berniat untuk menggantikan Kaivan menjelaskannya. Kaivan memang telah berselingkuh dan Adeline tidak punya kewajiban, juga tidak ingin menutupinya.
Kaivan melirik Adeline yang bersikap seolah-olah hal ini tidak berhubungan dengannya, lalu mencibir, "Ya seperti apa yang Ibu lihat. Kalau Ibu merasa kami cukup serasi, aku akan bawa dia kembali lain kali untuk temui Ibu."
Prisa sangat marah hingga wajahnya memerah. Dia mengangkat kepalanya dan langsung menampar Kaivan.
"Kaivan, apa kamu masih bisa disebut laki-laki? Waktu kamu baru mau memulai bisnismu, kamu nggak punya uang dan Adeline-lah yang tinggal bersamamu di ruang bawah tanah. Sekarang, mentang-mentang kamu sudah bisa hasilkan sedikit uang, kamu rasa dirimu sudah hebat?
"Kenapa sekretarismu itu bersamamu sekarang? Bukannya karena kamu sudah kaya? Kalau kamu masih semiskin dulu, menurutmu dia akan melirikmu!"
Bab 9
Dada Prisa naik turun dengan hebat karena marah. Saat menatap Kaivan, matanya dipenuhi kekecewaan.
Kaivan yang wajahnya terdapat bekas tamparan menatap Prisa dan menyahut, "Yang Ibu bilang benar. Aku bersyukur nggak bertemu dengannya waktu aku miskin. Kalau nggak, dia harus ikut menderita bersamaku."
Begitu mendengar suara itu, Adeline langsung mengepalkan tangannya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari hati ke seluruh tubuhnya. Semua kata-kata menyakitkan yang pernah diucapkan Kaivan sebelumnya tidak semenohok kata-kata ini.
Kaivan merasa kasihan pada Lesya dan takut Lesya akan menderita bersamanya. Lalu, bagaimana dengan tahun-tahun yang telah Adeline habiskan bersamanya?
'Adeline, oh Adeline, pria ini bahkan tidak ragu untuk menyakitimu. Apa kamu masih nggak mau sadar?' gumam Adeline dalam hati.
Prisa melirik Adeline dan melihat wajah pucat nan sedih Adeline. "Adeline, dia cuma ngomong kata-kata marah. Jangan dianggap serius, ya. Aku akan bantu kamu kasih pelajaran ...."
"Bibi Prisa."
Adeline menatapnya dan berujar dengan tenang, "Kamu nggak perlu menjelaskannya, aku tahu ucapannya itu tulus. Aku selalu ingin jadi menantumu, tapi sekarang, aku rasa kesempatan itu sudah melayang. Mengenai pernikahannya ... sebaiknya kita batalkan saja. Aku sudah kenyang, terima kasih untuk makan malamnya."
Adeline berdiri sambil mengambil tasnya, lalu berbalik tanpa menatap Kaivan lagi.
Prisa memelototi Kaivan yang tidak bergerak. "Kenapa kamu masih nggak mengejarnya! Sudah kubilang, aku cuma akan akui Adeline sebagai menantuku. Kalau kamu nggak mengejarnya kembali, jangan akui aku sebagai ibumu lagi!"
Saat pintu tertutup, Adeline dengan jelas mendengar suara Kaivan dari belakangnya. "Ibu, aku sudah nggak mencintainya lagi. Kenapa Ibu ngotot aku menikahinya? Kalaupun kami menikah, aku juga nggak akan putus dengan Lesya."
"Lagian, aku sudah bersama Lesya selama tiga tahun. Tapi, dia tetap menolak untuk putus dan berusaha keras menikahiku. Apa Ibu pikir dia benar-benar ingin batalkan pernikahan ini? Tadi, dia cuma mau ngancam Ibu. Jangan khawatir, dia itu macam plester paling lengket di dunia. Nggak peduli sebesar apa pun usahamu untuk menyingkirkannya, dia tetap nggak akan pergi!"
Suara Kaivan penuh dengan penghinaan dan ejekan, seolah-olah dia sangat yakin bahwa Adeline tidak akan pernah meninggalkannya. Itulah alasan kenapa dia menyakiti Adeline tanpa ragu dan khawatir.
Adeline mengedipkan matanya yang terasa panas dan pergi tanpa menoleh lagi. Kali ini, dia sudah membulatkan tekad untuk menyerah soal Kaivan. Dia telah berusaha keras menyelamatkan hubungan yang hancur ini. Jadi, tidak ada yang perlu disesalinya lagi setelah meninggalkan Kaivan.
Suasana di ruang makan masih sangat tegang.
Prisa menunjuk Kaivan dengan gemetar karena marah. "Apa itu ucapan yang layak dilontarkan seorang manusia! Kalau bukan karena Adeline, memangnya kamu bisa punya kesuksesan hari ini? Kamu sudah injak-injak ketulusan Adeline seperti ini. Kalau suatu hari nanti dia benar-benar putuskan untuk meninggalkanmu, percuma saja kamu menyesalinya!"
Ekspresi Kaivan terlihat dingin. "Kalau dia benar-benar pergi, aku pasti akan berterima kasih padanya karena akhirnya bersedia melepaskanku. Lagian, aku mencapai semua ini berkat usahaku sendiri. Tanpa dia, aku juga tetap bisa sukses."
Adeline memang sudah menemaninya di titik terendah hidupnya. Akan tetapi, Kaivan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk setelah bisnisnya sukses. Dari semua hadiah yang dia berikan kepada Adeline sekarang, mana ada yang nilainya bukan ratusan atau bahkan miliaran? Memangnya Adeline mampu membeli barang-barang mewah itu dengan uangnya sendiri?
Kaivan merasa bahwa dirinya tidak berutang apa pun pada Adeline.
"Iya, iya. Sekarang, kamu sudah hebat dan adalah bos perusahaan besar. Kamu juga nggak bersedia dengar nasihatku lagi. Kalau begitu, kamu juga nggak perlu akui aku sebagai ibumu lagi!"
Melihat Prisa yang begitu marah, Kaivan pun berdiri dan berujar, "Ibu, sekarang kamu lagi marah. Aku nggak mau bertengkar denganmu. Sampai kamu sudah tenang, aku akan datang menemuimu lagi."
"Begitu kamu keluar dari pintu ini hari ini, aku nggak akan lagi mengakuimu sebagai anakku!"
Langkah Kaivan pun terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia membuka pintu dan berjalan pergi.
Setelah meninggalkan Prisa, Kaivan langsung pergi menemui Lesya. Begitu membuka pintu, mata Lesya berkilat terkejut dan dia langsung melempar diri ke pelukan Kaivan. "Pak Kaivan, kok kamu ada di sini?"
Kaivan menangkapnya, lalu memeluk pinggangnya dan menciumnya. Seusai berciuman, Kaivan mencubit pinggangnya yang lembut dan berkata, "Aku merindukanmu, makanya aku datang kemari."
Lesya tersipu dan mengulurkan tangan untuk memukulnya. Tiba-tiba, dia melihat bekas tamparan di wajah Kaivan dan raut wajahnya langsung berubah. Dia segera menarik diri dari pelukannya dan bertanya, "Pak Kaivan, siapa yang tampar kamu? Bu Adeline?"
Saat berbicara, Lesya juga berlinang air mata dan merasa sakit hati.
Kaivan menggeleng. "Bukan."
Lesya mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya, tetapi takut melukainya. "Sakit? Aku oleskan obat, ya."
Dia berbalik untuk mencari kotak obat, tetapi ditarik kembali ke pelukan pria itu. "Nggak perlu oles obat. Begitu kamu menciumnya, aku nggak akan sakit lagi."
"Ah, kamu ini!"
Tatapan genit Lesya membuat Kaivan tergoda lagi. Dia pun langsung menggendong Lesya ke sofa, lalu suara penuh gairah segera menggema di ruang tamu.
...
Keesokan malamnya, Adeline yang baru saja keluar dari firma hukum melihat Prisa berdiri tak jauh dari pintu. Dia tidak mengenakan pakaian yang tebal, sedangkan angin bertiup kencang dan wajahnya sudah pucat karena kedinginan. Begitu melihat Adeline, dia segera tersenyum dan bergegas menghampiri Adeline.
"Adeline, Bibi mau bicara sama kamu."
Prisa selalu bersikap baik pada Adeline. Melihat wajahnya yang pucat karena kedinginan, hati Adeline pun melunak dan dia menyahut, "Ada kafe di sebelah. Ayo kita duduk di sana saja."
Melihat Adeline tidak menolak untuk berbicara dengannya, Prisa menghela napas lega dan buru-buru menjawab, "Oke."
Keduanya berjalan masuk ke kafe dan duduk di dekat jendela. Adeline memesan secangkir kopi dan secangkir susu hangat. Kemudian, dia menyodorkan susu hangat itu ke hadapan Prisa. "Bibi, minumlah yang hangat-hangat."
"Oke."
Prisa menyesap susunya dan terlihat agak malu.
Adeline tahu tujuan kedatangan Prisa, yang tak lain adalah membujuknya untuk memaafkan Kaivan. Namun, hubungan mereka benar-benar telah berakhir dan dia juga tidak berniat untuk berpaling lagi. Dia pun tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunduk sambil menyesap kopi di cangkirnya.
Melihat tampang Adeline yang patuh, Prisa kembali merasa sedih dan bersalah. "Adeline, kamu seharusnya tahu tujuan Bibi datang kemari hari ini."
Adeline mengangguk. "Bibi, kamu nggak perlu ngomong lagi. Aku dan dia memang nggak ditakdirkan untuk bersama. Aku juga nggak mau memaksakannya."
Melihat ekspresi Adeline yang tenang, Prisa merasa sedikit panik dan buru-buru meraih tangannya.
"Kamu sudah bersama Kai selama bertahun-tahun dan aku hargai semua pengorbananmu. Aku juga sudah menganggapmu sebagai putriku sejak lama. Demi aku, kasih Kai kesempatan kedua, ya?"
Adeline merasa agak tidak berdaya, "Bibi, sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan berakhir baik."
Kini, dia dan Kaivan sama-sama tidak ingin menikah. Jika memaksa untuk bersama, mereka akan menjadi pasangan yang saling membenci.
Prisa menggeleng. "Kai cuma lagi tersesat. Setelah sadar, dia akan mengerti kamu barulah orang yang paling cocok dengannya. Adeline, Bibi pernah selamatkan nyawamu. Anggap saja ini balas jasa, kamu kasih Kai satu kesempatan lagi, ya? Ini yang terakhir kalinya. Soal sekretarisnya, aku akan suruh dia tangani hal itu sebelum kalian menikah."
Prisa tidak pernah menyangka ada hari di mana dirinya akan memanfaatkan jasanya menyelamatkan nyawa Adeline untuk memaksa Adeline memberi Kaivan sebuah kesempatan. Dia tahu tindakannya agak keterlaluan, tetapi dia benar-benar tidak ingin Kaivan melewatkan gadis sebaik Adeline.
Adeline menunduk. Prisa memang pernah menyelamatkan nyawanya empat tahun lalu.
Saat itu, Adeline baru saja mulai bekerja di firma hukum dan bekerja lembur hingga pukul 12 malam setiap hari. Suatu hari sepulang kerja, dia yang kelelahan salah melihat tanda lampu lalu lintas. Dia pun melangkah maju dengan linglung dan tidak melihat sebuah truk besar melaju ke arahnya.
Di saat kritis, Prisa yang datang membawakan sup untuknya langsung menariknya kembali. Keduanya jatuh ke lantai dan truk besar itu melaju kencang melewati mereka.
Demi menyelamatkannya, Prisa pun mengalami patah tulang kaki dan dirawat di rumah sakit selama sebulan. Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak mau lagi membiarkan Adeline pulang kerja sendirian. Jadi, dia meminta Kaivan untuk menjemputnya setiap hari.
Sebelum Lesya muncul, Kaivan memang menjemputnya setiap hari. Pertama kali Kaivan tidak menjemputnya adalah di sebuah hari hujan. Kaivan bilang dirinya sedang rapat di perusahaan dan tidak bisa menarik diri. Dia pun meminta Adeline untuk pulang dengan naik taksi.
Setelahnya, Adeline baru tahu bahwa kaki Lesya tidak sengaja terkilir pada hari itu dan Kaivan tidak ingin Lesya berdesakan di dalam bus. Jadi, Kaivan berbohong padanya. Sekali terjadi, maka akan ada yang kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.
Retakan di antara mereka terasa bagaikan bola salju yang menggelinding makin besar dan akhirnya menjadi jurang yang tak terjembatani. Adeline berada di sisi ini, sedangkan Kaivan berada di sisi lain. Jalan mereka sudah berbeda sejak awal.
Adeline berhenti mengenang hal itu, lalu menatap Prisa yang memandangnya dengan penuh harap, "Bibi, meski aku memberinya kesempatan lagi, itu juga percuma saja. Kami memang sudah ditakdirkan untuk berpisah."